Reviu Hasil Penjurian Kompetisi Video Pendek Birokrat Menulis 2018

Reviu Hasil Penjurian Kompetisi Video Pendek Birokrat Menulis 2018

Sebagai film maker yang bacaannya cenderung ke barang jadi seperti naskah/skenario, kadang saya merasa malas dan tidak paham ketika membaca tulisan para birokrat ataupun akademisi. Mungkin, otak saya yang gak nyandak. Tulisan dengan dilatarbelakangi cuplikan-cuplikan teori, ataupun statement keren kadang malah bikin saya bingung.

Namun, setelah mencermati gagasan-gagasan yang tertuang di tulisan Birokrat Menulis, bagi saya pribadi, kepala ini terasa tercerahkan untuk menuangkan ke dalam ide-ide cerita film yang kreatif dan lebih nakal. Terlebih pada empat tulisan yang dijadikan inspirasi kompetisi video pendek dalam rangka ulang tahun Pergerakan Birokrat Menulis. Saya merasakan sesuatu berbeda dengan empat tulisan itu karena gaya bahasanya yang ringan. Saya melihat ada banyak kandungan ide yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih lanjut.

Intisari dari empat tulisan tersebut dapat saya ringkas sebagai berikut:

Dari gaya bahasanya yang mudah dipahami tersirat banyak dramatik scene dan ide cerita yang luar biasa. Kesimpulannya, tulisan itu sudah mengandung ide kritis yang dapat diwujudkan dalam ide cerita yang memadukan unsur-unsur dramatik film.

Dalam menilai sebuah kompetisi film pendek atau sering juga disebut video pendek, juri juga bertindak sebagaimana penonton. Penonton pasti mempunyai persepsi akan sebuah makna yang muncul dari visual yang mereka lihat. Untuk menilai visual yang membentuk persepsi tersebut, Josep M Boog dalam bukunya The Art of Watching Films, memaparkan tentang seni menonton film meliputi:

  1. Tema dan Tujuan
  2. Standar Elemen Dramatikal
  3. Elemen Visual
  4. Dialog dan Efek Suara
  5. Skor Musik
  6. Akting
  7. Gaya Penyutradaraan

Berdasarkan unsur pembentuk estetika film tersebut di atas, penilaian secara sinematografi pada kompetisi video pendek yang digelar oleh Pergerakan Birokrat Menulis kali ini lebih ditekankan pada:

NoKriteria PenilaianPenilaian/Komentar
1.Ide cerita dan kesesuaian pesan yang disampaikan.Kreativitas dalam menceritakan realita dari sudut pandang yang berbeda (teknik sinematografi).
Kejelasan pesan yang disampaikan melalui film yang dibuat.
Kesesuaian antara judul film dengan cerita dan pesan yang akan disampaikan.
2.Visualisai dan teknik pengambilan gambar.Kreativitas dalam pengambilan gambar meliputi sudut kamera, pencahayaan, ruang dan waktu.
Kesesuaian elemen gambar dan suara yang ditampilkan dengan tuntutan cerita.
3.Penggunaan ilustrasi musik, suara karakter, atau voiceover.Kreativitas dalam menggunakan unsur audio untuk memberikan informasi secara jelas serta memberikan suasana (mood) dalam film.
4.Teknik editing dan alur cerita. Pola alur penceritaan serta teknik editing dalam penyusunan gambar dan suara.
Kreativitas dalam memadukan unsur video dan audio dalam menyusun alur cerita berdasarkan informasi dan realita yang diperoleh menjadi sesuatu yang menarik untuk ditonton.

Selanjutnya, terdapat  empat karya yang mengikuti kompetisi tersebut dan secara sah masuk dalam penilaian dewan juri, yaitu:

  1. Peduli Sahabat
  2. Kartu Identitas Anak
  3. Anti Korupsi Sejak Dalam Pikiran
  4. Koin Untuk Joni

Berikut reviu masing-masing peserta kompetisi yang bisa saya sampaikan:

“Peduli Sahabat

Video ini menceritakan tentang perjalanan tim produksi mengunjungi Desa Perajen Jaya. Salah satu desa yang terletak di pinggiran sungai Musi Sumatera Selatan. Sebuah desa yang pelayanan infrastrukturnya masih kurang memadai.

Sayang sekali format video yang dibuat masih jauh dari format film pendek. Tayangan ini lebih cenderung pada liputan yang diiringi musik dan diperkuat dengan caption/text grafis. Melihat karya ini jadi teringat akan gaya film dokumenter awalan Nanook of The North, sebuah film perjalanan yang mengisahkan cara hidup sebuah suku di daerah Kanada waktu silam.

Sayangnya, video Peduli Sahabat ini lebih kuat pada pencitraan tim produksinya yang in frame di dalam layar daripada memvisualkan subjek dengan inti permasalahanya, yang jika dieksplorasi dengan  benar dan menggunakan pendekatan cara story telling yang pas, mungkin film ini bisa menarik hati penontonnya untuk bisa lebih peduli dan empati terhadap buruknya layanan infrastruktur yang terjadi di sana.

“Kartu Identitas Anak

Video ini menceritakan tentang pentingnya pembuatan KIA dan informasi tata caranya. Karya ini cenderung mengarah pada format reportase. Tidak ada dramatik scene yang dimainkan di sini karena lebih pada pendekatan jurnalistik.

Namun, sebagai tindakan persuasif akan pentingnya mengurus dan pemutakhiran akan data kependudukan, hal itu patut diapresiasi usahanya. Respon terhadap minimnya informasi proses layanan KIA divisualisasikan dalam format reportase sangat menolong bagi penonton yang membutuhkan. Sebagai media informasi sangat cocok, tetapi jika diarahkan pada penilaian unsur-unsur film masih kurang tepat.

“Koin Untuk Joni

Video ini menceritakan tentang kegalauan seorang bapak yang bekerja di bagian layanan kepegawaian CPNS. Anaknya sakit sehingga membutuhkan biaya operasi. Pilihan untuk mencari uang dengan cara haram dan tetap berjuang untuk mencari solusi menjadi pemicu konflik di film ini.

Sebagai tayangan audio visual, karya ini cukup mendekati format film: adanya akting pemain, dialog antar karakter, scoring musik, dan elemen dramatikal. Hal tersebut tampak pada cerita yang memunculkan  situasi awal, problem yang muncul, tindakan yang diambil, klimak, dan ada endingnya.  Namun, masih terdapat beberapa kelemahan artistik yang kurang mendukung karakter tokoh. Misalnya, kostum dan artistik rumah yang dipakai oleh “penyuap” kurang mendukung derajat dan profesinya sebagai apa dan siapa.

“Anti Korupsi Sejak Dalam Pikiran

Video ini menceritakan tentang refleksi personal akan inspirasinya terhadap tokoh guru Murdiyanto yang berjuang menghadapi pungli dan korupsi di birokrasi pendidikan di Sukoharjo. Dalam karya ini muncul unsur-unsur film di antaranya akting pemain yang banyak memainkan gerak-gerik ekspresif. Dialog dan efek suara sekaligus scoring musik diwujudkan dalam permainan narasi yang dihiasi dengan alunan musik berusaha bersatu mengarahkan persepsi penontonnya. Unsur-unsur film muncul dengan saling mendukung secara dramatik, tidak berusaha mendominasi satu sama lain, ataupun memperkosa cerita.  Pandai memanfaatkan footage koruptor yang sedang viral, dan barangkali memang dihadirkan untuk memprovokasi.

Kesimpulannya, dari empat karya terdapat dua buah video yaitu “Koin Untuk Joni” dan “Anti Korupsi Sejak Dalam Pikiran” mendapat penilaian lebih apabila dilihat dari sudut pandang pemakaian unsur-unsur sebuah film.

Dari segi  ide cerita, dalam mengadaptasi tulisan yang ada sesuai kerangka acuan kompetisi video pendek yang dirumuskan oleh Pergerakan Birokrat Menulis, ke empat video tersebut sudah berusaha menampilkan yang terbaik. Hanya saja keempatnya kurang memainkan unsur dan pendekatan dalam penyampaian pesan melalui format video/film pendek (bisa drama ataupun non drama).

Terima kasih.

 

 

Refleksi Satu Tahun Birokrat Menulis:  Menyikapi Perilaku Korup, Ketidakefisienan dan Ketidakefektifan Birokrasi, serta ‘Kelabilan’ Kualitas Layanan Publik

Refleksi Satu Tahun Birokrat Menulis: Menyikapi Perilaku Korup, Ketidakefisienan dan Ketidakefektifan Birokrasi, serta ‘Kelabilan’ Kualitas Layanan Publik

Oleh:  Tim Editor

————————

Prolog

Pada tahun 2017, rezim Jokowi memasuki tahun ketiga pemerintahannya. Bisa dibilang, inilah pemerintahan murni sipil pertama yang dipilih melalui proses demokrasi Indonesia. Sebab, rakyat memilihnya secara langsung.

Kemudian, berbeda dengan SBY, Jokowi tidak memiliki latar belakang militer. Ia berlatar belakang tukang kayu dan pengusaha mebel. Karenanya, keberhasilannya memimpin Indonesia akan menjadi batu loncatan (milestone) apakah kepemimpinan murni sipil ini akan berlangsung terus (sustainable) atau rakyat akan merindukan kembali kepemimpinan militer di Pemilu 2019.

Sayangnya, di tengah keberhasilan Jokowi membangun infrastruktur fisik, kita masih memiliki banyak kekecewaan atas kinerjanya. Yang paling mengemuka adalah ketidakmampuan Jokowi dalam memimpin birokrasi mengatasi kriminal jalanan yang begitu masifnya di Indonesia.

Tindakan kriminal ini dilakukan tidak saja oleh aparat yang berseragam, tetapi juga oleh masyarakat sipil. Sebagai contoh, dalam skala Jakarta, birokrasi sepertinya ‘impoten’ dalam mengatasi kriminal terorganisasi (organised crimes), yaitu para preman yang mengendalikan trotoar yang digunakan untuk berjualan secara liar di Tanah Abang.

Kemudian, dalam skala nasional, kita bisa melihat para preman ternyata masih mendominasi pemerasan terhadap sopir truk di lintas darat Sumatera. Aparat kepolisian pun ikut-ikutan memeras para sopir tersebut. Terdapat dugaan, para preman juga berbagi hasil dengan para aparat kepolisian. Padahal, kepala kepolisian kita kini adalah seorang jenderal yang dikenal intelek dan sangat mendorong birokrasi yang bersih di kepolisian.

Tindakan kriminal yang endemik itu sepertinya memiliki imunitas walaupun Jokowi telah membentuk tim sapu bersih pungutan liar. Artinya, harapan menciptakan birokrasi yang bersih dan berdaya masihlah sekedar jargon. Birokrasi belum terlepas dari tindakan kriminal dan tidak berdaya mengatasi tindakan kriminal itu sendiri.

Menjadi pertanyaan penting, memasuki satu abad Indonesia merdeka pada tahun 2045 nanti, apakah bangsa kita mampu melepaskan diri dari cap sebagai bangsa primitif? Setelah tiga per empat abad Indonesia merdeka, ternyata kita masih dikenal sebagai bangsa primitif oleh bangsa di negara maju.

Sebagai contoh, jika kita bandingkan dengan negara maju, kita masih sangat tertinggal jauh dari segi pelayanan publik. Pelayanan publik kita masih berbelit dan tidak jelas. Kemudian, masih banyak pelayanan publik yang meminta rakyat untuk datang langsung secara fisik. Kalaupun ada yang sudah online, ternyata pelayanan itu masih juga memiliki tambahan proses birokrasi yang rumit.

Lihatlah contoh pelayanan Imigrasi. Walaupun sudah online, tetap saja kita mesti mengikuti antrian untuk difoto dan diwawancarai. Belum lagi pelayanan eKTP. Setelah skandal korupsi yang melibatkan begitu banyaknya politisi itu, Jokowi sepertinya tidak berdaya bagaimana menuntaskan persoalan eKTP ini.

Saat ini, begitu banyak rakyat yang tidak memiliki eKTP. Mereka sekarang mengandalkan surat keterangan, yang di jaman Orde Baru dikenal sebagai resi. Artinya, dalam urusan identitas kependudukan ini kita sedang mengalami kemunduran total.

Sementara itu, profesional birokrasi pun semakin dimarginalisasi. Di tengah euforia demokrasi, ‘profesi’ politisi  di Indonesia kini begitu mendominasi. Sayangnya, tanpa kompetensi yang cukup, mereka sering mengintervensi proses birokrasi dan merendahkan peran birokrat.

Jika saja kita mau memberdayakan kembali profesional birokrasi dan menempatkan mereka sejajar dengan posisi politisi, kemungkinan Indonesia akan semakin baik dan dapat menuju masyarakat modern. Pemberdayaan profesional birokrasi dapat dimulai dengan membiasakan mereka menulis.

Kebiasaan menulis ini akan semakin mencerdaskan para birokrat. Kemudian, mereka tidak mudah besar kepala dengan ide-idenya. Sebab, setiap pemikirannya akan diuji oleh publik dari tulisannya yang dipublikasi secara terbuka. Dengan demikian, implementasi ide-idenya itu telah melalui proses ‘validasi’ yang matang.

Itulah sebabnya, kami membentuk Pergerakan Birokrat Menulis ini. Tidak terasa Pergerakan ini telah berusia satu tahun. Untuk sebuah pergerakan yang bercita-cita memberi andil bagi terwujudnya perubahan birokrasi menjadi lebih humanis dan bernilai bagi publik, setahun merupakan usia yang masih sangat muda.

Meskipun demikian, Pergerakan Birokrat Menulis yang beranggotakan para profesional dan pemerhati birokrasi ini telah berhasil menggandeng paling tidak 41 penulis serta mampu menghasilkan minimal 137 karya tulisan, atau rata-rata 11 – 12 tulisan per bulannya.

Data tersebut tentu sangat menggembirakan. Ini menunjukkan pada dasarnya ada keinginan dan potensi menulis para birokrat. Menariknya lagi, tulisan tersebut banyak lahir setelah terinspirasi dari debat di sebuah grup WhatsApp Pergerakan Birokrat Menulis.

Memasuki tahun 2018, kami, Tim Editor, mencoba menyajikan sebuah refleksi atas satu tahun pergerakan ini. Anggaplah tulisan ini sebagai sebuah akuntabilitas kami terhadap publik pembaca.

Kami berharap, artikel ini dapat menjadi bahan renungan dan dasar pijakan atas perjuangan Pergerakan Birokrat Menulis pada masa-masa berikutnya, terutama untuk tulisan yang akan dipublikasi di tahun 2018.

Rekapitulasi Tulisan

Pergerakan Birokrat Menulis memiliki visi “mencetak birokrat cerdas, kritis, dan menginspirasi melalui tulisan demi perbaikan birokrasi yang bersih, efisien, efektif, berdaya, melayani, dan akuntabel”.

Berangkat dari visi tersebut, pada awalnya kami membagi tulisan dalam 5 kategori, yaitu Birokrasi Bersih, Birokrasi Efisien-Efektif, Birokrasi Melayani, Birokrasi Akuntabel, dan Birokrasi Berdaya. Terkecuali Birokrasi Berdaya, sedikit banyak, sebenarnya kategori penulisan itu diinspirasi oleh ide gerakan Reformasi Birokrasi yang digawangi oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Seiring berjalannya waktu, kategori tulisan pun kami kembangkan menjadi 12 kategori, yaitu dengan menambah kategori Refleksi Birokrasi, Politik, Pengalaman/Perjalanan, Literasi, Motivasi, Sosok, dan Sastra. Penambahan kategori ini lebih disebabkan adanya pertimbangan bahwa terdapat beberapa penulis yang memang memiliki ketertarikan dalam kategori tersebut.

Sebenarnya, tidak mudah mengelompokkan tulisan yang masuk ke dalam salah satu kategori tersebut. Sebab, tidak semua tulisan dapat dikelompokkan dalam satu kategori. Beberapa tulisan mempunyai kaitan dengan lebih dari satu kategori. Karenanya, pengelompokan tulisan ke dalam berbagai kategori itu kami lakukan lebih berdasarkan fokus utama tulisan. Artinya, pengkategorian ini mesti dilihat secara longgar.

Dari 12 kategori itu, di tahun 2017 tulisan yang dipublikasi paling banyak pada kategori Birokrasi Efisien-Efektif, yaitu sebanyak 31 tulisan. Secara rinci, jumlah tulisan yang terpublikasi menurut kategorisasi penulisan adalah sebagai berikut:

No.Kategori Jumlah
1.Birokrasi Efisien-Efektif31
2.Refleksi Birokrasi24
3.Birokrasi Bersih15
4.Motivasi14
5.Birokrasi Berdaya13
6.Literasi8
7.Perjalanan/Pengalaman8
8.Birokrasi Melayani6
9.Politik6
10.Birokrasi Akuntabel4
11.Sosok4
12.Sastra4

Selanjutnya, kami akan mengulas beberapa tulisan yang terpublikasi terkait dengan berbagai kategori tersebut.

Birokrasi Efisien-Efektif

Tidaklah mengejutkan jika tulisan yang mendominasi masih terkait birokrasi efisien-efektif  mengingat isu efisiensi dan efektivitas dalam organisasi publik di Indonesia, sebagaimana juga di negara berkembang lainnya, masih menjadi isu utama. Kita masih memiliki tantangan besar atas birokrasi yang buruk, yaitu tidak efisien dan tidak efektif.

Sebanyak 31 tulisan pada kategori ini membahas berbagai persoalan sistem manajemen (management systems) birokrasi dengan cakupan spektrum yang luas. Beberapa tulisan yang membahas ketidakefisienan bisa kita temukan pada “post-Soeharto: praktik delusi matematika efisiensi sektor publik” (Marudut Napitupulu), “inefisiensi adalah korupsi legal” (Moch. Soedarno), dan “konsekuensi ketidakefisienan ritual pelantikan pejabat fungsional” (Aniska Utama).

Tulisan lainnya mempertanyakan ketidakefektifan yang terjadi dalam mengelola pemerintahan, seperti “mempertanyakan peran auditor internal dalam mengelola risiko korupsi di lingkungan pemerintah daerah” (Setya Nugraha), “refleksi kekalahan KPK: bertindaklah cepat senyap dan tepat” (Atas Yudha Kandita), serta “kegagalan pembangunan Indonesia yang berbasis rasionalitas daripada altruistik” (Darnoto).

Tidak sedikit penulis yang berusaha memberikan masukan perbaikan agar para pemimpin birokrasi sektor publik dapat lebih efisien dan efektif dalam menjalankan tugas-tugasnya, seperti tulisan “terobosan dalam upaya fleksibilitas pengadaan BLUD bidang kesehatan” (Atas Yudha Kandita), “integrasi sistem: solusi atas ketidakhematan berbagai pelaporan keuangan pemerintah daerah” (Massaputro Delly), dan “berbagi target kinerja dan insentif dalam mencapai target penerimaan pajak” (Khusnaini), serta “memerankan kembali auditor sektor publik dalam memberantas korupsi di Indonesia dengan menemukan kembali (reinventing) audit kinerja” (Iwan Novarian Sutawijaya).

Tema senada juga dijumpai pada tulisan “mengintegrasikan sistem perpajakan, sistem sosial, dan sistem ketenagakerjaan di Indonesia” (Rudy M. Harahap) yang juga dipublikasi di detik.com dan “lelang cepat sebagai inovasi pengadaan” (Mudjisantosa).

Kemudian, “bagaimana idealnya kepemimpinan Jokowi mengubah budaya organisasi sektor publik Indonesia” (Ardeno Kurniawan), “gerakan efisiensi, disiplin nilai, dan budaya organisasi kementerian keuangan” (Lucky Akbar), “menjalankan pemerintahan, di mana pengungkitnya?” (Sri Budi Santoso), serta “konvergensi dan reformasi public procurement laws di negara-negara Uni Eropa” (Murwantoro Soecipto).

Untuk memperkaya tulisan bertemakan birokrasi efisien-efektif ini, kami melihat pembahasan dan penelaahan secara mendalam dan lebih spesifik perlu dilakukan. Misalnya, kita belum mengetahui sejauh mana sebenarnya efektivitas program pengentasan kemiskinan dan manfaatnya bagi masyarakat, serta kendala yang dihadapi.

Ide-ide terkait tema ini dapat juga mengacu pada program-program yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hal ini menurut kami perlu ditulis sebagai sarana untuk melihat capaian pemerintahan Jokowi dalam memenuhi janji pelayanan publiknya.

Refleksi Birokrasi

Beberapa tulisan di kategori ini banyak mengajak pembaca untuk melakukan perenungan kembali atas permasalahan dalam birokrasi, seperti  “menggugat mitos opini WTP audit BPK” (Mutia Rizal) yang juga dipublikasi di KataData dan “menggugat kembali hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan” (Beny Amran), serta “bergeming, flegmatis, dan mangkus dalam birokrasi kita” (Hananto Widhiatmoko).

Kemudian,  “orang baik kenapa koq korupsi, sebuah proposisi tujuh faktor penyebabnya” (Haryono Umar), “antara cinta dan karir: Refleksi Film La La Land” (Rudy M. Harahap), “pembangunan untuk siapa: Pelajaran dari kisah perjuangan petani Kendeng” (Ryan Agatha), “APIP dalam pusaran kriminalisasi” (Eko Hery Winarno), dan “proyek perubahan, quo vadis?” (Eko Hery Winarno).

Terdapat beberapa tulisan reflektif terkait dengan operasi tangkap tangan (OTT) dan perbaikan institusi KPK serta kelembagaan pemberantasan korupsi, seperti “obat mujarab OTT KPK: Mengembalikan nilai-nilai dan keteladanan pendiri bangsa” (Mariman Darto) dan  “kontemplasi peran KPK: Future OTT vs visi KPK” (Syaiful Hifni).

Juga, “adaptasi kompetensi dan profesionalisme KPK sebagai antisipasi keniscayaan perubahan lingkungan” (Syaiful Hifni) dan “maraknya operasi tangkap tangan KPK, sebuah indikasi kesemuan beragama masyarakat Indonesia” (Moch. Soedarno).

Tulisan dalam kategori ini juga memuat ‘gugatan’ atas kemapanan birokrasi yang sangat Weberian dan melestarikan kultur paternalistik, yang keduanya telah mengakar kuat selama ratusan tahun di Indonesia.

Tulisan-tulisan seperti ini telah dinikmati pembaca lewat karya-karya Mutia Rizal, yang berjudul “birokrasi ala La La Land”,  “instrumen itu bernama fingerprint”, “menetralisasi rasionalitas birokrasi” dan “wasiat atasan kepada anak buah menghadapi budaya birokrasi kita yang sungguh hebat”.

Birokrasi Bersih

Beberapa tulisan bertemakan Birokrasi Bersih mengupas berbagai persoalan integritas dan kejadian korupsi di negeri ini, yaitu “bisakah kita berintegritas” (Jalu Wredo), “parodi THR penutup Ramadhan” (Moch. Soedarno), “fairness, transparansi, dan profesionalisme dalam pengadaan barang jasa, dahulu dan kini” (Moch. Soedarno), dan “tercelanya perilaku suap” (Moch. Soedarno).

Juga tulisan “the e-KTP scandal: have we learned anything about corruption?” (Kanti Pertiwi) yang juga dipublikasi di blog Indonesia at Melbourne, “maraknya operasi tangkap tangan KPK, memperdebatkan kembali makna integritas dan etika” (Mutia Rizal), “merdeka itu adalah ketika tidak ada korupsi lagi” (Joko Pitono), serta “Dilematika whistleblower birokrat, pahlawan atau pengkhianat” (Ilham Nurhidayat).

Tulisan lain yang mencoba menawarkan perspektif berbeda dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi adalah “rahasia lonjakan peringkat indeks persepsi korupsi Grenada, dapatkah kita belajar darinya” (Betrika Oktaresa) dan “peran profesi audit dan akuntansi dalam mendeteksi kecurangan manajemen laba” (Haryono Umar).

Selain itu, terdapat tulisan “penegakan hukum yang korup dan kompleksitas sistem pengadaan barang dan jasa publik di Indonesia, gagasan sederhana penanganannya” (Rudy M. Harahap), “tone of the top, atmosfer etis dari pimpinan instansi” (Evan Evianto), “mencegah korupsi dengan transparansi” (Darnoto), dan “whistleblower dari dimensi etika dan budaya organisasi” (Ardeno Kurniawan).

Tulisan yang berusaha mengajak para birokrat menjadi semakin bersih ini masih sangat dibutuhkan. Sebab, untuk mendorong efisiensi dan efektivitas birokrasi, kita membutuhkan birokrat yang bersih, yang tentunya berintegritas.

Motivasi

Tulisan yang dapat memotivasi profesional birokrasi ternyata cukup banyak. Beberapa artikel yang mencoba mengisi tema ini adalah seperti yang ditulis oleh Adrinal Tanjung (menulis adalah menyembuhkan diri sendiri, perhatikan kata-katamu, saat memetik telah tiba, serta refleksi tahun 2017, anything is possible) dan Herman Suryatman (gambaru dan teu honcewang).

Demikian juga tulisan oleh Andi P. Rukka (diklat itu bernama puasa), Atas Yudha Kandita (taubatan nasuha para birokrat akan bermakna kemenangan), dan Muhammad Kasman (menjadi profesional birokrasi yang proaktif).

Tulisan bertema motivasi tersebut sangat menggugah para profesional birokrasi untuk terus menulis dan kritis terhadap lingkungannya. Tulisan motivasi mampu menjadi oase yang memberikan kesejukan di tengah lelah dan terik birokrasi yang terkadang membuat kita pesimis.

Bagi birokrat, tulisan motivasi dapat membakar kembali semangat mereka untuk tetap menancapkan keinginan dan harapan agar dapat terus bergerak dan membuat perubahan untuk negeri ini.

Ke depan, tulisan-tulisan bertema motivasi ini perlu diperbanyak, terlebih lagi terkait bagaimana menjaga semangat juang birokrat agar tidak padam ditelan kelelahan melihat kondisi yang ada.

Birokrasi Berdaya

Kategori yang satu ini berusaha menampung gagasan cerdas untuk memberdayakan para profesional birokrasi melawan dominasi politisi, seperti “menempatkan kembali birokrasi profesional sebagai penyeimbang politisi” (Rudy M. Harahap) yang juga dipublikasi di detik.com, “bebaskan birokrasi dari politisi” (Andi P. Rukka), dan “ketunanetraan politik warga, sumber permasalahan bangsa” (Andi P. Rukka).

Beberapa tulisan mempersoalkan ketidakberdayaan para profesional birokrasi menghadapi “kriminalisasi” atas birokrasi itu sendiri, khususnya pada kriminalisasi pengadaan barang dan jasa yang mendera mereka. Beberapa tulisan tersebut ditulis oleh Aisyah Mun’im (surat terbuka untuk jaksa dan hakim yang menjeruji kawan kami Palupi), Atas Yudha Kandita (menolak kriminalisasi PBJ), dan Rahmad Daulay (paradigma statis dan intervensi yang dapat berujung pada kriminalisasi).

Ternyata, ketidakberdayaan birokrasi juga disebabkan lemahnya kompetensi profesional birokrasi. Hal ini digambarkan oleh Joko Pitono dalam tulisan ”menyelamatkan lembaga keagamaan dari pragmatisme oligarki”, “superioritas uang melalui reformasi manajemen pengadaan barang  dan jasa” dan “kekacauan birokrasi yang tidak kompeten”, serta oleh Aisyah Mun’im  dalam tulisan “nasib fungsional pengelola PBJ, siapa peduli?”

Beberapa penulis juga mengangkat soal keberanian “bersuara” birokrat atas berbagai ketidakberesan di lingkungan birokrasi. Misalnya,  tulisan ini diangkat oleh Ilham Nurhidayat (birokrat penyeru kebenaran, kenapa harus takut?), Bergman Siahaan (menumbuhkan birokrat yang kritis dan membangun), dan Andi P. Rukka yang menggugat organisasi serikat pekerja birokrasi dalam “memberdayakan birokrasi, apa kabar KORPRI-ku?”

Literasi

Tulisan bertema literasi mencoba untuk membuka wawasan literasi para profesional birokrasi. Meskipun tulisan-tulisan tersebut tidak menyajikan teknik menulis beserta teori-teori yang melandasinya, tetapi mereka mampu memperluas cakrawala kita mengenai dunia literasi.

Dalam kategori ini Pratiwi Retnaningdyah banyak memberikan sumbangan tulisan, antara lain “torehkan kisah literasimu”, “perlunya penulisan reflektif bagi birokrat”, dan “bagaikan pedang bermata-dua”. Sementara itu, Rudy M. Harahap mengajak kita untuk menulis (para birokrat menulislah!).

Nur Ana Sejati mencoba memberi argumentasi kenapa penting birokrat menulis dengan artikel “mengapa menulis?”, sedangkan Dody Hutabarat mempertanyakan literasi birokrat dengan tulisan “benarkah birokrat jarang menulis?”.

Untuk menjawab berbagai kesulitan para profesional birokrasi dalam menulis, maka ke depan sebaiknya ada penulis yang dapat memberikan pengalaman berupa teknik-teknik menulis kepada para pembaca. Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana menulis narasi, deskripsi, eksposisi, atau argumentasi. Sebuah tulisan yang barangkali berbentuk panduan menulis akan sangat bermanfaat bagi para penulis pemula.

Perjalanan/Pengalaman

Beberapa birokrat yang sedang menjalani tugas belajar di luar negeri maupun sedang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri mencoba berbagi pengalaman dengan kita melalui tulisannya. Herman Suryatman mengisahkan pengalamannya menikmati layanan transportasi di negeri Kanguru lewat tulisannya “belajar dari Sydney tentang infrastruktur kota yang ramah dan humanis”.

Demikian juga Betrika Oktaresa dalam tulisan “Nottingham City Transport, sebuah benchmark transportasi kota” dan “sebuah refleksi mengambil pelajaran dari sistem pendidikan dasar di negeri Ratu Elizabeth”. Sementara itu, Nur Ana Sejati mengusung tulisan “interaksi multikultural dengan tari kelinci, tari soyong, dan bakso.”

Tulisan-tulisan serupa akan semakin menarik jika perjalanan atau pengalaman tersebut juga memuat pengalaman hidup penulis tentang bagaimana praktik terbaik di instansinya agar dapat ditiru pada instansi sektor publik lainnya.

Begitu juga tulisan-tulisan tentang gambaran sosial budaya masyarakat di sekitarnya yang dapat mempengaruhi efektivitas birokrasi, tampaknya juga perlu diperbanyak.

Birokrasi Melayani

Meskipun pelayanan publik masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintahan Jokowi, anehnya tidak banyak penulis yang menyoroti aspek ini. Gambaran nyata pelayanan publik yang masih “labil” hanya tampak dari dua penulis, yaitu oleh Jalu Wredo (sepotong potret layanan publik di Indonesia) dan Hananto Widhiatmoko (illogical bureaucrazy: Peraturan kependudukan kita).

Namun, tulisan yang dipublikasi tidak hanya memotret buruknya pelayanan publik kita, tetapi juga memberikan ide perbaikan, seperti pada tulisan “meningkatkan kualitas layanan dengan H.E.A.T strategy” (Nur Ana Sejati) dan “meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pemetaan proses bisnis” (Adrinal Tanjung).

Penulis lainnya, Setya Nugraha, menyoal tentang siapa yang mengawasi jalannya pelayanan publik kita lewat tulisannya berjudul “pengawasan pelayanan publik tanggung jawab siapa?”.

Penulisan pada tema ini sepertinya harus terus digalakkan, mengingat labilnya pelayanan publik kita. Selain pelayanan publik yang dulunya buruk dan kemudian menjadi baik, seperti layanan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan nomor pokok wajib pajak (NPWP), kita juga menemui pelayanan publik yang di masa lalu cukup mudah kini semakin buruk pelayanannya, seperti eKTP dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Karenanya, fokus penulisan akan lebih menarik jika diarahkan pada ulasan tentang penyebab kelabilan pelayanan publik tersebut.

Selain itu, tema Birokrasi Melayani sepertinya perlu diperluas. Tulisan agar tidak hanya berfokus pada pelayanan yang melibatkan ‘seller’ dan ‘buyer’, di mana masyarakat bertindak sebagai pelanggan.

Akan tetapi, tema ini juga mestinya mengulas posisi warga negara yang berhak mendapatkan public good berupa pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang nyaman dan aman, hubungan yang harmonis antar masyarakat, serta layanan-layanan yang mengharuskan pemerintahan Jokowi melahirkan kebijakan publik yang sesuai dengan harapan masyarakat.

Politik

Tidaklah aneh jika politik merupakan tema yang belum banyak ditulis, meskipun sebenarnya para profesional birokrasi merasakan aura dan dampak dramatis politisasi birokrasi. Namun demikian, beberapa penulis telah mempersoalkan tentang buruknya proses rekrutmen pemimpin politik (political leaders), seperti Eko Hery Winarno lewat tulisannya “mereformasi proses seleksi pemimpin politik” dan Massaputro Delly dengan tulisannya “kaderisasi partai politik, upaya mengatasi pemimpin instan”.

Penulis yang lain menyoal konsekuensi negatif praktik pilkada yang diadopsi dari sistem demokrasi liberal, seperti tulisan Kamrin Jama (Pilkada lahan subur kapitalisme) dan Dody Hutabarat (memahami perilaku politik di Indonesia).

Mengingat semakin dinamisnya perpolitikan di negeri ini, tampaknya akan semakin menarik ke depannya jika para penulis mampu mengangkat berbagai fakta di lapangan, terutama di daerah, tentang bagaimana peran para politisi mempengaruhi kinerja profesional birokrasi, termasuk tentang netralitas  aparatur sipil negara (ASN) dan juga aparatur militer dan kepolisian. Intervensi politisi ini perlu ditulis sehingga kita memiliki evidence yang cukup dan bukan sekedar anekdot ataupun rumor.

Birokrasi Akuntabel

Sedikit sekali penulis yang menulis tema ini. Namun, Rudy M. Harahap telah mulai menulis dengan judul “the challenge after the Indonesia local elections” yang juga dipublikasi di New Mandala. Ia mengajak kita memberikan perhatian terhadap akuntabilitas para wakil rakyat dan pemimpin politik setelah mereka terpilih, bukan hanya sibuk memberikan perhatian sebelum mereka terpilih.

Kemudian, Betrika Oktaresa mencoba membahas tentang akuntabilitas pengelolaan dana desa melalui tulisannya “meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dana desa melalui optimasi komunikasi risiko oleh Kepolisian Republik Indonesia”.

Ke depan, tema-tema tulisan yang membahas soal akuntabilitas harus diperbanyak lagi mengingat masalah kita hari ini banyak terkait dengan isu akuntabilitas. Tema terkait peningkatan akuntabilitas kinerja yang menjadi bagian dari agenda reformasi birokrasi perlu untuk diulas.

Misalnya, sejauh manakah sistem yang telah dikembangkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi telah berkontribusi terhadap akuntabilitas kinerja? Dari sisi individu birokrat, tema-tema terkait akuntabilitas bisa menjadi sajian hangat. Di antaranya, kepada siapakah birokrat harus berakuntabilitas? Atasan, publik, atau politisi?

Sosok

Kategori ini merupakan tulisan tentang potret seorang profesional birokrasi yang dianggap telah atau sedang melakukan berbagai perubahan di sektor publik. Nilai-nilai, pandangan, dan aksi sang tokoh telah disajikan dalam beberapa tulisan yang diramu sedemikian apik oleh Adrinal Tanjung (mengenal sosok Rini Widyantini: Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian PAN dan RB) dan Mutia Rizal (selamat jalan sang pencetus pemimpin perubahan: Sebuah catatan kecil mahasiswa bimbingan Prof Agus Dwiyanto).

Selain itu, terdapat juga tulisan Kamrin Jama (mengenal politik populisme Tuan Guru Bajang di Nusa Tenggara Barat) dan Ilham Nurhidayat (nyanyian sendu Murdiyanto, sosok Oemar Bakri yang gigih melawan korupsi).

Sepertinya, penulisan tema Sosok ini mesti juga diperbanyak dengan mengedepankan tokoh-tokoh profesional birokrasi dari berbagai instansi pemerintahan di daerah. Anda tentu ingin membaca kisah seorang birokrat yang bertugas di perbatasan atau nun jauh di pedalaman, bukan?

Sastra

Ternyata, tidak banyak birokrat yang mampu menulis sastra. Tema sastra kami siapkan agar profesional birokrasi memiliki olah rasa (batin) dan tidak hanya sekedar olah pikir semata. Tulisan ini mesti disajikan dalam bentuk puitis, tetapi tetap kritis.

Syukurnya, beberapa penulis telah mengisi ceruk tema penulisan ini, seperti Lucky Akbar (manusia seribu satu rupa, seribu satu jiwa), Andi P. Rukka (rezekiku ada padamu), dan Yudisrizal (lamunan di suatu sore: Mengenang 30 tahun lalu dan 30 tahun lagi).

Sayangnya, belum banyak yang mencoba menulis sastra dalam bentuk lainnya seperti cerpen, komik, atau lainnya. Kami menantikan birokrat yang bisa menyumbang tulisan pada kategori ini.

Epilog

Demikianlah, para pembaca. Selama satu tahun ini para birokrat dan penggiat Pergerakan Birokrat Menulis telah menghasilkan beragam karya. Kami berharap Anda dapat memberikan komentar terhadap refleksi satu tahun Pergerakan Birokrat Menulis ini.

Tentu saja, manfaat karya-karya itu baru bisa dirasakan jika semakin banyak yang membaca tulisan Pergerakan Birokrat Menulis ini, terutama sekali para birokrat dan pengambil kebijakan, termasuk para pemimpin politik.

Pada akhir tahun 2017, terdapat tiga momen penting yang menandai adanya kemajuan berarti bagi pergerakan, yaitu terjalinnya kerjasama dengan Kumparan.com, penyegaran laman birokratmenulis.org., serta penerbitan buku perdana.

Salah satu situs berita online terkemuka di Indonesia, Kumparan.com, bersedia menjalin kerjasama dengan Pergerakan Birokrat Menulis untuk menjadi ‘stasiun relay’ atas tulisan yang ditayangkan di laman birokratmenulis.org.

Kerjasama yang terjalin adalah kerjasama konten dengan fasilitas Really Simple Syndication (RSS), yang berarti, kumparan.com akan memuat secara otomatis setiap tulisan yang di-publish oleh birokratmenulis.org. Dengan demikian, tulisan pada pergerakan ini nantinya dapat dinikmati oleh lebih banyak pembaca.

Laman birokratmenulis.org yang Anda nikmati saat ini, telah mengalami banyak perubahan dari sebelumnya. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk mempermudah, mempercepat akses, serta memanjakan mata para pembaca.

Selain itu, pergerakan telah berhasil menerbitkan sebuah buku perdana yang berjudul “Bagaimana Saya Menulis?”, sebuah buku yang berisi pengalaman dan perjalanan menulis para penggiat awal pergerakan. Buku yang telah selesai proses cetak ini direncanakan meluncur pada awal tahun 2018. Seluruh hasil penjualan buku akan digunakan seluruhnya untuk menunjang kegiatan pergerakan selanjutnya.

Kami berharap, semoga di masa datang semakin banyak penulis yang bersedia berkontribusi, dan semakin berwarna pula ide yang terungkap lewat rangkaian kata di Pergerakan Birokrat Menulis.

Pada gilirannya nanti, Pergerakan Birokrat Menulis semakin dapat mematangkan posisinya sebagai salah satu elemen bangsa yang keberadaannya bermanfaat bagi publik.

Terima Kasih Kumparan

Terima Kasih Kumparan

Berawal dari surat terbuka yang kami posting pada laman Kumparan yang berjudul “Surat Terbuka Untuk Jaksa dan Hakim yang Menjeruji Kawan Kami, Palupi”, tim Kumparan mengundang tim Birokrat Menulis. Surat tersebut berisi dukungan kepada seorang birokrat yang sedang menjalani proses hukum atas “tugas negara” yang ia laksanakan.

Pasca posting surat terbuka tersebut, tim Kumparan menghubungi tim Birokrat Menulis dan menawarkan sebuah kerjasama. Kerjasama tersebut berupa kepercayaan yang diberikan kepada Birokrat menulis untuk tampil lebih aktif pada layanan jurnalisme masyarakat yang mereka sediakan.

Kami diundang secara khusus datang ke kantor Kumparan. Di sana, tim Birokrat Menulis yang diwakili oleh Adrinal Tanjung dan Ryan Agatha mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai seluk-beluk Kumparan serta kerjasama yang mereka tawarkan.  Tim Kumparan memperlakukan kami layaknya investor karena mereka menjawab segala pertanyaan yang kami ajukan seperti tentang bisnis proses dan struktur kepengurusan Kumparan.

(Foto dok. BM: Suasana Pertemuan Tim Birokrat Menulis dengan Tim Kumparan)

Inti kerjasama yang kami sepakati adalah bahwa Kumparan memberikan label kepada Birokrat Menulis berupa sebuah akun verified pada layanan jurnalisme masyarakat. Akun tersebut sejajar dengan akun Swaonline, Caknun, Media Center Kemenkumham hingga akun politisi sekelas Fahri Hamzah. Dengan memiliki akun verified ini, Kumparan berharap Birokrat Menulis bisa “berbicara” lebih banyak tentang perbaikan birokrasi di negeri ini.

(Foto dok.BM: Tak ketinggalan, kami ikut mengabadikan suasana kantor Kumparan)

Tentu saja kerjasama ini merupakan penghargaan besar bagi Birokrat Menulis yang baru berdiri kurang dari setahun. Kerjasama ini menggambarkan kepercayaan yang besar atas kredibilitas Birokrat Menulis selama ini.

(Foto Dok. BM: Redaktur Senior Kumparan, Yusuf Arifin (paling kiri) ikut menemani pembahasan kerja sama ini)

Terima kasih Kumparan atas kepercayaannya terhadap kami. Di tengah gegap-gempita tumbuhnya jurnalisme masyarakat di era demokrasi, Kumparan masih memberikan ruang bagi dunia birokrat untuk bersuara. Sebuah ruang bagi birokrat untuk mengekpresikan ide-ide dan pemikirannya secara cerdas, kritis, dan menginspirasi melalui tulisan. Ikuti kami di https://Kumparan/birokrat-menulis.

(Dilaporkan oleh: Ryan Agatha).

 

 

Birokrat Menulis Goes to KPK

Birokrat Menulis Goes to KPK

Hari Selasa tanggal 21 November 2017, perwakilan pergerakan Birokrat Menulis (BM) mendapatkan kesempatan di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memaparkan proposal penelitian. Proposal tersebut adalah bagian dari kompetisi yang diselenggarakan oleh KPK bekerjasama dengan Universitas Paramadina.

Kompetisi yang dimulai sejak bulan Oktober lalu diikuti oleh lebih dari 700 partisipan. Perwakilan BM berhasil menembus 15 besar dan melaju di babak presentasi. Nantinya akan terpilih 10 besar yang dinyatakan berhak melakukan penelitian.

Proposal penelitian dari Birokrat Menulis, yang diwakili oleh Mutia Rizal dan Ilham Nurhidayat, mengambil tema tentang perjuangan para whistleblower menghadapi kultur paternalistik di birokrasi pemerintahan. Semoga proposal yang ditawarkan dapat diterima oleh tim seleksi untuk dapat diwujudkan dalam sebuah penelitian.

***

McDonaldisasi Birokrasi dan (i)Rasionalitas Weberian

McDonaldisasi Birokrasi dan (i)Rasionalitas Weberian

Diskusi Publik MAP Corner-Klub MKP, Fisipol, Universitas Gadjah Mada.

Selasa, 22 Agustus 2017

Birokrat Menulis diundang oleh kampus UGM sebagai narasumber dalam diskusi publik pada Hari Selasa lalu, tanggal 22 Agustus 2017. Diskusi yang diselenggarakan setiap hari selasa ini digagas oleh sebuah komunitas bernama MAP Corner – Klub MKP, sebuah komunitas kritis yang didirikan oleh mahasiswa bersama beberapa akademisi Magister Administrasi Publik dan Magister Kebijakan Publik Fisipol UGM.

Diskusi yang dilakukan di lobi Kampus Magister Administrasi Publik (MAP) UGM sore itu kebanyakan dihadiri oleh para mahasiswa MAP dan MKP baik di jenjang s1, s2, maupun s3, dan beberapa mahasiswa dari kampus lain. Selain itu tampak beberapa birokrat dari Kabupaten Sleman maupun Kota Yogyakarta hadir untuk meramaikan diskusi. m

Mutia Rizal, mewakili Birokrat Menulis sebagai narasumber menyampaikan beberapa hal untuk memantik diskusi:

Max Weber seorang sosiolog Jerman, memiliki pemikiran yang berpengaruh besar dalam kehidupan sosial umat manusia. Konsepnya mengenai tindakan sosial maanusia berkembang luas, termasuk dalam kehidupan di birokrasi. Pemikiran Weber disebut sebagai penanda munculnya modernitas dengan adanya asas rasionalitas dalam tindakan.

Bagi Max Weber, birokrasi tipe ideal lebih unggul daripada struktur otoritas tipe tradisional dan karismatik. Birokrasi ini didasarkan pada hukum dan keputusan rasional, tindakan aparat dan pemimpin didasarkan pada pengetahuan rasional dan keahlian.

Rasionalisasi birokrasi modern adalah, proses administrasi dalam kegiatan birokrasi itu hanya dapat menjadi efisien, rutin, dan nonpartisan apabila cara kerja organisasi dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai cara kerja sebuah mesin untuk mencapai efisiensi, ouput standar, dan kepastian.

Konsep rasionalitas weber dalam birokrasi memiliki tiga prinsip penting yaitu formalisasi, instrumentalime, dan otoritas legal-rasional.

Formalisasi dimaksudkan sebagai konsep yang menggambarkan sejauh mana aturan, norma, prosedur, regulasi, instruksi, komunikasi, dan pelaksanaan tugas ada dalam wujud tertulis (written form). Segala bentuk formalisasi tersebut dirancang untuk mengarahkan dan mengendalikan perilaku orang (role makes the person). Implikasi negatif dalam birokrasi adalah organisasi menjadi cenderung kaku dan tidak adaptif.

Intrumentalisme, adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa organisasi itu mirip suatu alat atau mesin yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika kita mengatakan sesuatu itu instrumen, kita melihat itu sebagai sebagai “satu alat ke suatu tujuan” (a means to an end). Weber memandang jabatan, prosedur, dan pola interaksi tidak hanya sebagai bagian pembentuk organisasi saja. Lebih dari itu,  mereka dikategorikan sebagai alat (instruments) untuk mencapai tujuan besar organisasi (ends). Implikasi negatif dari instrumentalisme adalah terjadinya penyalahgunaan tujuan, dan menjadikan alat sebagai tujuan.

Otoritas legal-rasional, yaitu otoritas yang sah (legitimate) didasarkan pada jabatan formal (dan karena itu legal, sah secara hukum tertulis). Dengan legalitas formal tersebut, anggota organisasi menjadi tidak memiliki pilihan lain, selain harus mematuhi aturan pemegang otoritas.  Implikasi negatif dari otoritas legal-rasional ini adalah adanya dominasi berlebihan, jarak kekuasaan menjadi lebar, dan terjadinya kepatuhan buta.

Weber juga menyebut birokrasi terkurung dalam sangkar besi (iron cage). Kurungan itu disebabkan oleh adanya berbagai rasionalitas yang menghasilkan berbagai aturan serba formal, kaku, dan dominan yang mengelilingi birkorasi.

Salah satu dampak rasionalitas yang penting adalah terjadinya alienasi (keterasingan) bagi individu dalam kehidupan birokrasi. Segala macam rasionalitas akhirnya membentuk seperangkat nilai-nilai maupun perilaku tertentu yang justru seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang. Pada saat itulah individu menjadi terasing di dunia birokrasi.

Dengan rasionalitas ini pula mengakibatkan kultur informal sulit masuk dalam kehidupan birokrasi, karena dianggap tidak rasional dan kurang memenuhi syarat sebagai instrumen dalam pencapaian tujuan.

Adapun McDonaldisasi yang diperkenalkan oleh George Ritzer, sosiolog Amerika, merupakan sebuah afirmasi dari rasionalitas Weber. Ritzer mengatakan bahwa aspek kehidupan sosial manusia telah mengalami McDonaldisasi, yaitu segala perilaku kita selalu mengandung unsur efisiensi, kalkulasi, prediksi, dan kontrol, layaknya sebuah restoran cepat saji McDonald. Hal ini sangat relevan dengan kehidupan di birokrasi.

Dalam kehidupan birokrasi, efisiensi, kalkulasi, prediski dan kontrol selalu membayangi setiap sendi birokrasi. Hal itu tampak jelas terlihat dari sistem penganggaran, sistem kerja, sistem kinerja, dan juga sistem pengendalian dalam birokrasi.

Yang menarik dari konsep McDonaldisasi adalah adanya irasionalitas dalam rasionalitas, yaitu dampak negatif dari adanya sebuah rasionalitas. Sebagai contoh sederhana dalam kehidupan birokrasi, sering kita melihat pelayan birokrasi yang tidak ramah dalam melayani masyarakat akibat tuntutan efisiensi, adanya kemacetan lalu lintas saat pagi hari dan sore hari akibat semua pegawai berangkat dan pulang saat bersamaan berdasarkan waktu yang ditentukan.

Hal menarik lain dari McDonaldisasi adalah adanya paradoksial dari prinsip Mcdonaldisasi.

Pertama, Inginnya efisien, justru perilaku dan hasilnya tidak efisien. Sebagai contoh nyata yaitu adanya persyaratan pertanggungjawaban yang berlebihan karena keiginan efisien dan pelaksanaan keuangan yang terkendali. Sampai-sampai Presiden mengeluhkan bahwa PNS kerjanya hanya mengurus Surat Pertanggungjawaban (SPJ).

Kedua, proses dan produk inginnya terkalkulasi, namun ternyata justru input, proses  dan output tidak dapat terkalkulasi dengan baik. Salah satu akibat yang terpampang nyata adalah adanya permasalahan hutang luar negeri untuk mendanai berbagai program pemerintah yang telah terkalkulasi. Hutang  yang semakin bertambah dinilai oleh sebagian masyarakat justru sebagai sebuah kegagalan kalkulasi pemerintah.

Ketiga, keinginan memprediksi kebutuhan masyarakat justru menimbulkan banyaknya keluhan di masyarakat. Masyarakat belum merasakan kebutuhannya terpenuhi dan terlayani dengan baik. Kebutuhan masyarakat selalu bergerak dan birokrasi seringkali gagal memahami kebutuhan masyarakat tersebut.

Keempat, keinginan birokrasi untuk mengendalikan (to control) perilaku aparat masih jauh dari harapan. Terjadinya kegiatan pungutan liar, banyakanya kasus korupsi, serta keluhan Menteri PAN dan RB tentang PNS bekerja hanya untuk absen, menandai gagalnya birokrasi mengendalikan seluruh aparatnya.

Diskusi diwarnai oleh berbagai pertanyaan dan pendapat sebagai berikut:

  • Kita tidak bisa menyalahkan rasionalisasi, karena kita tidak bisa menghindari rasionalisasi tersebut sebagai tanda era modern. Yang peerlu kita waspadai adalah efek buruk dari rasionalisasi. Sistem yang dibuat di birokrasi pun adalah hasil rasionalisasi, mungkin salah satu jalan keluarnya adalah sistem birokrasi yang lebih demokratis.
  • Keterasingan tidak saja dirasakan oleh aparat di intern birokrasi, masyarakat di luar birokrasi pun merasakan hal yang sama. Sebagai contoh seorang yang datang ke kantor instansi pemerintah sering diabaikan dan dianggap tidak penting, meskipun tujuannya untuk meminta layanan publik yang menjadi haknya.
  • Rasionalisai berlebihan dapat menciptakan dominasi. Untuk itu apakah lebih baik jika kita belajar dari street level birokrat, pada tataran ini kita menyadari bahwa di level bawah, mereka memiliki otonomi yang bisa jadi mampu melawan dominasi.
  • Aturan dibuat untuk mengatur perilaku aparat, apakah ini salah? Tidak, namun aturan adalah produk dominasi yang jika kita tidak kritis maka justru akan menghambat potensi para aparat. Himbauan agar aparat memiliki komitmen dengan pelaksanaan aturan adalah wacana dominasi yang cenderung anti resitensi.
  • Kita tidak bisa menafikkan rasionalisasi, bahkan di negara maju yang tingkat penympangannya relatif rendah tetap melaksanakan birokrasi dengan penuh rasionalitas. Namun perbedaannya di negara itu demokrasi mampu bersanding dengan baik dengan rasionalisasi.
  • Salah satu kelemahan kita dalam membaca permasalahan di birokrasi adalah kita menganggap bahwa kehidupan birokrasi seperti ruang hampa, tidak berhubungan dengan sistem yang lain. Padahal birokrasi kita sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi dan politik di sebuah negara. Untuk itu, perlu kiranya kita semakin kritis terhadap lingkungan luar di sekitar birokrasi.
  • Capaian kinerja optimal di birokrasi sulit untuk kita ukur, karena kebutuhan masyarakat selalu bergerak. Sehingga tipe ideal birokrasi weberain tidak pernah terwujud. Salah satu kelemahan birkrasi yang ingin mengikuti tipe idela tersebut adalah selalu menyamakan dan menyeragamkan perilaku aparat di seluruh instansi, padahal sifat, fungsi, dan kultur setiap instansi bisa saja berbeda jauh.
  • Kultur di birokrasi bisa dibentuk dengan menerapkan birokrasi yang lebih demokratis. Hal itu bisa dilakukan dengan cara memperlonggar dominasi dan menerima nilai-nilai kearifan lokal masuk dalam kultur birokrasi.

Pada sesi terakhir diskusi, dapat ditarik kesimpilan bahwa:

  • Birokrasi tidak dapat terbebas dari weberian, tapi mengkombinasikan rasionalisasi lama dengan prinsip baru tentang network dan demokrasi. Tidak pula berarti tidak ada dominasi, tapi lebih pada organisasi dan manajemen menjadi demokratis. Perlu diciptakan diskursus baru untuk mendukung proses demokratisasi di birokrasi.
  • Prinsip demokrasi selama ini sulit dilaksanakan karena dianggap membahayakan struktur vertikal, pengembangan network menjadi tidak dinamis, hanya akan membuat fragmentasi dalam rangka kompetisi. Selain itu otoritas dan perintah tidak lagi dapat menjadi solusi.
  • Tiga hal yang perlu menjadi refleksi agar birokrasi lebih manusiawi dan bernilai, yaitu tentang power, freedom, dan culture.
  • Dalam power, perlu kiranya mengurangi dominasi dengan cara memperkecil jarak kekuasaan. Hirarki struktural hendaknya sebagai pembagian tugas saja, bukan sebagai sarana untuk mendominasi aparat. Birokrasi hendaknya tidak anti resistensi, karena resistensi selalu akan ada, dan justru diperlukan untuk membangun kehidupan dinamika birokrasi yang bermartabat.
  • Kebebasan (freedom), akan lebih baik jika dimaknai sebagai potensi bukan sekedar otonomi. Karena jika sebagai otonomi, akan berpeluang menjadi anarki. Jika sebagai potensi justru dapat menjadi kekuatan bagi aparat dalam menyalurkan potensi kekampuan yang dimiliki.
  • Dalam hal culture di birokrasi, hendaknya waspada terhadap kesesatan simbolisasi yang melahirkan identitas tertentu. Jika terjadi hal demikian, nilia-nilai mulia yang ingin dibangun justru akan memudar, akan terganti dengan simbolisasi yang penuh hipokrisi.
Mari Mendobrak Mitos Opini WTP Badan Pemeriksa Keuangan

Mari Mendobrak Mitos Opini WTP Badan Pemeriksa Keuangan

(Pernyataan Sikap ‘Pergerakan’ Birokrat Menulis)

Oleh : Tim Redaksi Birokrat Menulis

 

Banggakah Anda jika mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK? Kecewakah Anda jika mendapatkan opini Disclaimer dari BPK?

——–

Di level diskursus birokrasi pemerintahan, audit keuangan (atau audit atas laporan keuangan) banyak dipersepsikan sebagai kegiatan pemeriksaan keuangan yang komprehensif, yaitu untuk menemukan penyimpangan dan pengidentifikasian tindakan koruptif.

Masyarakat umum dan banyak birokrat juga belum paham betul dengan kebenaran sifat audit keuangan. Mereka mempersepsikan jika opini hasil audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) maka pengelolaan keuangan telah dinyatakan bersih dari penyimpangan. Masih banyak yang terpana ketika sebuah instansi pemerintah mendapatkan opini WTP, tetapi tiga bulan kemudian beberapa pejabat di instansi tersebut tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Meski telah dijelaskan oleh Ketua BPK, banyak yang belum memahami bahwa maksud audit keuangan hanyalah untuk memeriksa penyajian angka-angka di laporan keuangan, utamanya terkait kesesuaiannya dengan standar akuntansi, kepatuhan terhadap peraturan dan kelemahan sistem pengendalian intern, dan bukan untuk memeriksa kebenaran material, apalagi kinerja sebuah instansi pemerintah.

Jika menilik arti dan manfaat sebenarnya dari kegiatan audit keuangan, maka pengertian audit keuangan tidak akan ‘semencekam’ yang banyak dibayangkan masyarakat. Audit keuangan adalah kegiatan pemeriksaan yang fungsinya untuk memberikan pendapat atas kewajaran suatu penyajian informasi laporan keuangan. Artinya, pemeriksaan ditujukan untuk melihat kualitas ‘informasi akuntansi’ yang dibandingkan dengan prinsip akuntansi dan standar yang berlaku umum.

Secara teoritis mestinya audit keuangan tidak mencekam seperti yang dibayangkan selama ini. Sayangnya, praktik audit ini di Indonesia, terutama yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), telah berubah menjadi begitu mencekamnya. Hal ini karena beberapa auditor BPK telah berimprovisasi dalam melakukan pemeriksaan di lapangan dan akhirnya memberi kesan menakutkan bagi instansi yang diaudit. Karena menakutkan dan mencekam inilah lalu masyarakat awam berharap lebih banyak atas audit laporan keuangan. Semacam gayung bersambut, terjalinnya improvisasi auditor dengan ekspektasi masyarakat.

Begitu juga dengan manfaat. Laporan keuangan yang telah diaudit dianggap telah mampu diandalkan dan bermanfaaat menjadi bahan pengambilan keputusan yang baik. Namun demikian, pengambilan keputusan ternyata belum banyak memanfaatkan laporan hasil audit keuangan ini. Bahkan, pemangku kepentingan tertentu masih kesulitan melakukan interpretasi terhadap arti dari laporan keuangan. Kebanyakan para pemangku kepentingan hanya membaca judul dari pernyataan opini apakah ‘WTP’ atau tidak. WTP kesannya adalah auditor telah memberikan stempel “approved”.

Ketidakpahaman pemangku kepentingan, masyarakat, maupun sebagian birokrat ini dapat dimaklumi mengingat berbagai pihak telah membangun dan membentuk sendiri mitos ritual audit keuangan ini. Ya, audit keuangan sebenarnya tidak lebih dari sebuah ritual yang dilakukan jika sebuah instansi memiliki laporan keuangan. Ritual yang seolah harus dijaga agar mitos pengelolaaan keuangan yang bersih mampu diraih.

Mitos tidak dapat terbangun dengan sendirinya. Ada upaya tertentu dari berbagai pihak untuk membuat sebuah penanda menjadi makna tertentu yang mengakar kuat di masyarakat. Mitos bukan konsep atau ide, tetapi merupakan suatu cara pemberian arti.

Mengacu kepada konsep mythologies, sebuah buku yang ditulis oleh Roland Barthes, mitos mengenal tiga unsur, yaitu: penanda, petanda, dan tanda. Laporan audit sebagai penanda, sedangkan opini sebagai petanda. Sedangkan tanda adalah hubungan antara penanda dan petanda yang mempunyai arti khusus, yang bisa jadi arti tersebut adalah tata kelola keuangan yang baik.

Dalam hal ini, mitos yang dibangun terhadap opini laporan audit keuangan adalah tata kelola keuangan yang baik. Pemaknaan ‘baik’ pun dapat mengalami reduksi di sana sini. ‘Baik’ menurut auditor adalah sesuai dengan standar. ‘Baik’ menurut instansi bisa jadi adalah telah tertib dan bebas kesalahan administrasi. ‘Baik’ menurut masyarakat bisa jadi adalah tata kelola yang bersih dari penyimpangan. Banyaknya pergeseran makna karena interpretasi yang berbeda ini lah yang kemudian melahirkan mitos. Sebuah kebenaran yang dianggap nyata, tetapi belum tentu dapat dibuktikan.

Selama ini, mitos tersebut telah dipelihara dan dibiarkan mengalami reduksi maknanya di sana sini. Seperti halnya pohon beringin, yang arti denotatifnya adalah pohon besar dan rindang, ia telah mengalami pergeseran makna menjadi pohon keramat yang menyimpan cerita mistis, atau sebagian juga mereduksi makna sebagai pohon yang penuh dengan rahmat dan rezeki. Pergeseran makna ini tidak terlepas dari budaya setempat yang melingkupinya.

Demikian pula opini dari hasil audit keuangan. Pergeseran makna dari kesesuaian dengan standar menjadi gambaran tata kelola keuangan yang bersih, lalu terjadi reduksi makna sebagai prestasi. Pada saat prestasi menjadi makna baru bagi hasil audit keuangan, maka tidak heran jika kemudian banyak instansi pemerintah yang berlomba untuk meraihnya, bahkan terkadang menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Pemaknaaan sebagai prestasi sangat erat kaitannya dengan budaya atau rezim aturan yang menyelimuti birokrasi di Indonesia. Prestasi yang diraih lalu erat dikaitkan dengan prestasi mematuhi aturan dan standar.

Reduksi makna ini bukan hanya bermain pada tataran ucapan dan komunikasi, tetapi telah masuk pada tataran praktik dan legitimasi. Di level pemegang otoritas pemerintahan, opini hasil audit telah dilegitimasi menjadi instrumen kekuasaan dengan adanya pemberian penghargaan bagi instansi pemerintah yang telah berhasil merebut opini WTP.

Dengan menjadikannya sebagai instrumen legitimasi, maka ditengarai pemberian persetujuan anggaran menjadi lebih mudah dan sekaligus sebagai sarana menormalisasi politik anggaran. Legitimasi ini melanggengkan mitos bahwa opini hasil audit keuangan WTP sebagai sebuah prestasi yang membanggakan. Di lain pihak, legitimasi atas mitos prestasi ini juga berfungsi mengukuhkan budaya kepatuhan di lingkungan birokrasi. Artinya, semakin instansi pemerintah ingin memperoleh prestasi tersebut, semakin perlu menaikkan kadar kepatuhan terhadap aturan dan standar.

Di lain sisi, budaya kepatuhan terhadap aturan yang melanggengkan mitos tersebut tidak bebas dari permasalahan. Standar dan aturan formal adalah produk dari rasionalitas Weberian yang menganggap kegiatan birokrasi akan efektif dan efisien jika segala sesuatunya dibentuk dan ditentukan dengan sebuah standar dan aturan. Yang dituntut oleh standar dan aturan ini adalah kepatuhan. Namun, seringkali, kepatuhan yang berlebihan melupakan kepatutan. Nilai-nilai luhur dan etika kemudian terpinggirkan.

Dalam beberapa kasus penyusunan maupun penggunaaan anggaran, secara standar dan aturan telah benar, tetapi secara substansi bisa jadi hal tersebut tidak sesuai dengan kepatutan yang ada di masyarakat. Sebagai contoh, sebuah acara rapat koordinasi sebuah instansi yang memakan biaya ratusan juta telah diselenggarakan di sebuah kota tertentu seolah tidak menyalahi aturan, tetapi ternyata pemilihan waktu dan tempat rakor tersebut disesuaikan dengan adanya perhelatan mantu salah seorang pejabat di instansi itu. Ini suatu kegiatan yang tidak melanggar kepatuhan, tetapi tidak sesuai dengan asas kepatutan. Banyak pegawai kelas bawah yang sebenarnya merasa terusik dengan ketidakpatutan tersebut.

Rezim kepatuhan terhadap standar dan aturan telah disuburkan oleh audit keuangan BPK. Instrumentalisme semakin tumbuh subur. Aturan dan standar yang tadinya dimaksudkan hanya sebagai sarana mengatur kini semakin meningkat derajatnya menjadi tujuan. Semua berlomba-lomba mengejar prestasi opini audit BPK dan sering melupakan tujuan dasar meningkatkan nilai layanan publiknya.

Banyak telah dijumpai cerita mundurnya pejabat pengadaan akibat dari ketakutan dari jeratan hukum dan aturan karena rezim kepatuhan yang terus ditumbuhkan. Cerita keampuhan efek audit keuangan ini pun sebenarnya sejalan juga dengan cerita kriminalisasi pejabat ataupun pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Semuanya tentang tumbuh suburnya rezim aturan dan standar.

Standar juga memiliki efek negatif terhadap efisiensi, sebuah tujuan yang sebenarnya ingin disasar oleh birokrasi itu sendiri. Terjadi paradoks di sini. Dengan semangat pemenuhan aturan agar instansi mendapatkan opini WTP, maka semua instansi semakin ketat menerapkan prosedur, terutama prosedur keuangan. Pertanggungjawaban bahkan disasar sampai pada rincian detil, berkas pertanggungjawaban terkadang perlu dibuat berlembar-lembar, dan tanpa makna.

Karenanya, terjadi inefisiensi waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Sementara itu, di lain hal, terjadi gelombang teknologi informasi yang sebenarnya mampu membuat cara bekerja lebih efisien lagi. Bahkan, standar akuntansi pun terlihat tertinggal dari pesatnya kemajuan teknologi. Pantas saja jika Presiden Jokowi pun sempat mengeluh bahwa prestasi PNS, bawahannya itu, hanyalah berhasil mengurus SPJ.

Pemenuhan terhadap standar juga menjadikan semua bentuk pelayanan publik menjadi sama. Jenis maupun bentuk pelayanan pubik yang tertuang dalam laporan keuangan hasil audit menjadi seragam di mata standar. Jika semuanya menjadi sama dan seragam, maka fleksibilitas menjadi tergerus. Padahal, fleksibilitas berupa diskresi kadang diperlukan untuk kecepatan pemenuhan pelayanan publik.

Audit sebagai sebuah ritual telah didukung dengan pembentukan mitos akan memproduksi ritual-ritual baru dalam praktik birokrasi. Dalam kapasitasnya sebagai teknik kekuasaan, audit keuangan benar-benar menunjukkan tajinya. Dengan audit, perilaku institusi pemerintah menjadi terbentuk, cenderung mengamankan institusinya dari kesalahan yang kemungkinan mampu dideteksi oleh audit.

Kini audit keuangan telah menjadi sebuah mekanisme pengawasan yaang bersifat panoptikon. Pengawasan yang diskontinyu, tetapi efeknya kontinyu. Karena, setiap pegawai — terutama di bagian keuangan dan administrasi — menjadi cenderung menerapkan prosedur ketat terhadap urusan keuangan dan administrasi. Mereka selalu dihantui oleh kesalahan administrasi dan pemenuhan standar akuntansi hanya untuk mengejar mitos bernama prestasi, sebuah logika yang seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Laporan keuangan dengan predikat WTP mestinya bukan barang yang perlu diperjuangkan berlebihan, apalagi dimitoskan menjadi prestasi.

Ibarat membuka warung makan, makanan siap saji sudah semestinya tersaji, tidak perlu diperjuangkan lagi apalagi dianggap prestasi. Prestasi seharusnya diukur pada seberapa mampu makanan yang disajikan tadi berdampak pada kesehatan pelanggan yang menikmatinya.

Perlu ada keberanian dari auditor, terutama auditor BPK, dan kita semua untuk merombak ritual audit ini, yang seharusnya tidak perlu semencekam itu. Perlu keberanian bagi instansi yang diaudit untuk terkadang rela dianggap tidak ber ‘prestasi’ karena tidak mendapat predikat WTP, tetapi tetap memiliki nilai bagi masyarakat.

Perlu keberanian dari pemegang otoritas pemerintahan, utamanya Presiden, untuk tidak lagi melegitimasi mitos opini WTP audit BPK. Yang kita perlukan adalah otoritas pemerintahan menciptakan mitos baru untuk menggeser sekedar ‘budaya kepatuhan’ menjadi ‘budaya kepatutan’ akan pemenuhan kinerja pelayanan publik. Dengan demikian peradaban birokrasi kita mampu bergerak menuju peradaban baru yang lebih bermakna.

 

Jakarta, 29 Mei 2017

 

 

 

12
error: