Cerita ini dikirim oleh salah satu birokrat yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari instansinya dan memilih untuk berkarya di tempat lain. Sebuah kisah yang tentunya tidak untuk menjadi inspirasi bagi birokrat lainya yang mengalami hal yang kurang lebih sama, karena untuk melakukannya perlu kesungguhan hati dan perhitungan yang matang.

Namun, kisah ini menggambarkan masih adanya birokrat kita yang belum mendapatkan perhatian, penghargaan, dan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan potensi dirinya. Kisah ini justru diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi para elite birokrasi untuk dapat lebih memperhatikan para pegawainya dengan cara lebih manusiawi dan mawas diri. Mereka perlu mawas diri terhadap rasionalitas birokrasi yang rawan terjadi diskriminasi yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasinya sendiri.

—-

 

Pagi itu, sekitar setahun yang lalu, saya terbangun dari tidur dengan perasaan ingin mengundurkan diri atau mundur dari kantor instansi tempat saya bekerja. Padahal, sebelum tidur saya tidak memikirkannya sama sekali. Saat itu saya lalu teringat dengan ucapan salah satu atasan saya, sehari sebelum saya mengajukan cuti untuk liburan. Beliau berkata, “Kamu mau ambil cuti? Nggak mau tugas aja? DL-mu (penugasan luar kota dengan mekanisme perjalanan dinas) baru 16 hari ya?”

Entah mengapa saat atasan saya mengatakan hal itu, hati saya terluka. Saya mengajukan cuti karena ingin liburan, bukan karena DL baru 16 hari selama 8 bulan terakhir. Bahkan, saya tidak tahu persis tepatnya berapa hari DL karena memang saya tidak menghitungnya dan tidak terlalu ambil pusing soal itu.

Keputusan Mundur Adalah Keputusan Yang Besar

Ya, keputusan mundur dari pegawai negeri sipil (PNS) adalah keputusan yang tidak mudah. Keputusan yang kadang menjadi sebuah dilema, mengingat PNS masih  tergolong sebagai profesi idaman bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Untuk menjadi PNS saja seseorang harus melewati seleksi yang lumayan ketat dan susah, belum lagi sebagian dari pendaftar pun ada yang rela membayar mahal untuk dapat menjadi PNS.

Saya menyampaikan keinginan saya tersebut kepada ibu saya. Saat itu ibu tidak mendukung dan menyarankan saya untuk mencari beasiswa S2 karena itu jalan keluar yang lebih baik jika memang saya merasa tidak betah dan tidak bahagia berada di perantauan.

Mungkin saya terlalu kekanak-kanakan ketika hanya karena perkataan atasan saya tersebut, saya lalu ingin mengundurkan diri dari instansi tempat saya bekerja. Sejujurnya, rasa sakit hati itu juga sudah menghilang beberapa saat setelahnya. Namun, bagaimanapun juga, hal itulah yang memang menjadi pemantik keinginan mundur saya di kemudian hari. Semakin hari keinginan itu justru semakin membesar, seperti bara api yang disiram bensin.

Namun, restu Ibu yang tak kunjung datang dan lebih mendukung saya untuk mencari beasiswa S2,  sempat menyurutkan rencana saya untuk mundur. Saya kembali belajar dan mencari tahu tentang berbagai kesempatan beasiswa S2 yang tercepat.

Perasaan Tak Kunjung Membaik.

Saat saya masih berusaha mencari kesempatan melanjutkan pendidikan S2, kondisi kantor dan lingkungan tempat saya tinggal (kos) semakin terasa tidak bersahabat. Saya hampir selalu bingung apa yang harus dan akan saya lakukan setiap saya tiba di kantor. Tidak adanya pekerjaan atau tanggung jawab spesifik yang dapat saya lakukan, membuat saya selalu bingung untuk berbuat apa.

Kegiatan membaca dan mempelajari peraturan pun sepertinya sia-sia bagi saya. Jika hanya membaca tanpa dipraktikkan, maka saya akan cepat merasa bosan, seperti hanya terlihat di mata tapi tidak lanjut ke otak. Saya sepenuhnya sadar bahwa itu adalah kelemahan saya. Saya adalah tipe pembelajar dengan sistem “learning by doing”.

Saya sudah mencoba untuk membuka-buka file peraturan, belajar aplikasi, atau bahkan belajar bahasa Inggris untuk mengisi kekosongan tersebut, hitung-hitung modal untuk mendapatkan beasiswa. Namun, saya cepat bosan, seperti tidak ada motivasi atau dorongan tanggung jawab.

Pada suatu titik saya merasa sangat useless, tidak ada perkembangan pengalaman dan pengetahuan. Saya pun juga merasa kemampuan dan potensi diri saya kurang dihargai. Saya merasa bisa melakukan sesuatu, tapi tidak ada yang mendayagunakan kemampuan saya.

Beberapa teman menyarankan saya untuk meminta mutasi ke bagian lain di kantor agar kemampuan saya lebih bermanfaat, tetapi saran tersebut tidak saya lakukan karena adanya banyak pertimbangan. Salah satunya adalah saya bukan tipe orang yang senang ‘meminta-minta’, untuk meminta penugasan pun tidak saya lakukan. I am not such a person.

Mempengaruhi Kondisi Mental dan Fisik

Waktu itu, kondisi semakin memburuk saat perasaan tidak bahagia itu mulai menyerang kesehatan mental dan fisik saya. Saya sepertinya pun belum bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Saya menjadi lebih emosional, mudah marah, mudah sedih dan menangis, lebih egois, pemalas, cuek, dan tidak peduli.

Saya sering kesulitan untuk tidur, sering sakit kepala dan selalu merasa lelah. Kehidupan yang saya jalani sehari-hari tidak berkualitas sama sekali. Saya merasa sakit. Saya merasa sangat tidak bahagia dan depresi. Saya mulai khawatir dengan diri saya sendiri. Saya takut jika saya benar-benar sakit.

Saat itu, saya pikir, semua itu memang berawal dari dalam diri saya yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Setelah browsing-browsing, saya memutuskan untuk mencoba ke hipnoterapis. Hasilnya? Awalnya saya merasa lebih baik, tapi seiring berjalannya waktu, perasaan saya kembali lagi.

Restu Ibu dan Pandangan Orang

Di akhir tahun 2017, saya mudik ke rumah cukup lama. Saya menceritakan tentang teman-teman yang sudah mundur dari pekerjaannya kepada ibu. Saya juga menyampaikan rencana saya untuk tidak mundur sebelum saya mendapat pekerjaan yang baru. Alhamdulillah, ibu mengerti dan merestui. Bagi saya, restu orang tua adalah restu Allah.

Sejak itu, saya mencoba mengirimkan aplikasi lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Ada semangat tersendiri dalam diri saya. Ada masa-masa di mana saya bersemangat, tapi ada masa-masa di mana saya sangat galau karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Putus asa pun pernah, tetapi tidak menyurutkan keinginan saya untuk mundur.

Terhadap keinginan saya untuk mundur, tanggapan beberapa teman pun beragam. Ada yang memberi pandangan lain dan berusaha mengubah keputusan saya karena menurutnya dengan pindah kerja dan pindah domisili tidak serta merta saya akan merasa bahagia.

Ada juga teman yang mengaatakan bahwa saya terlalu idealis. Dari sisi itu mungkin ada benarnya karena dalam beberapa aspek kadang saya mengeluhkan beberapa kebijakan instansi yang kurang sesuai dengan prinsip dan pendapat saya.

Ada juga yang mengatakan mungkin saya kurang bersyukur, menyarankan saya untuk belajar ikhlas dan legowo. Ada di suatu titik di mana saya tidak mengerti apa yang harus saya ikhlaskan dan legowokan. Saya tidak merasa marah, dendam, atau perasaan-perasaan lainnya terhadap kondisi yang ada saat itu. Saya hanya sedih dan merasa tidak bahagia.

Saya juga sudah berusaha memperbanyak ibadah, apalagi jika perasaan sedih yang berlebihan itu tiba-tiba datang dan menghampiri setiap malam. Setelah beribadah, perasaan saya memang jadi tenang, tapi tidak serta merta rasa sedih itu kemudian menghilang.

Kelegaan Luar Biasa

Pada bulan Mei 2018, tepatnya di pertengahan bulan Ramadhan, perjuangan dan doa-doa saya selama lima bulan terakhir pun diijabah oleh Allah. Saya diterima di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rasa syukur dan bahagia saat itu tidak bisa saya ucapkan dengan kata-kata.

Saat ini, sudah berjalan sebulan saya bekerja di kantor baru. Rasa galau, sedih, useless dan sebagainya sudah tidak ada lagi. Saya senang dengan ritme pekerjaan saya sekarang. Santai, tidak dituntut deadline dan target, tapi tetap masih ada tanggung jawab dan hal yang bisa saya kerjakan selama jam kantor.

Saat saya menulis tulisan ini, saya sedang berada di hotel dalam penugasan audit di mana atasan saya hanya mengantar dua hari lalu saya bekerja sendirian di obyek audit selama empat hari ke depan. Suatu hal yang tidak pernah terjadi di instansi saya sebelumnya.

Masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ saya saat ini adalah beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan dan pegawai kantor baru, tapi saya yakin seiring berjalannya waktu pasti saya bisa. Perasaan saya memang belum sepenuhnya bahagia, tapi setidaknya perasaan saya sekarang jauh lebih baik. Saya sudah bisa hidup teratur lagi, makan sehat, olah raga, tidur cukup dan tepat waktu.

Entah kenapa walau badan lelah, tapi rasanya tidak selelah sebelumnya. Ketika bisa tidur nyenyak adalah suatu kenikmatan yang jarang saya dapatkan ketika masih berada di kantor yang lama. Bahkan saya merasa sudah tidak perlu lagi untuk ke psikolog ataupun psikiater.

Mundur adalah Pilihan

Kebahagiaan yang saya cari dengan memutuskan mundur memang belum serta merta saya dapatkan. Saya sadar, masalah internal dalam diri saya belum dapat saya selesaikan. Namun, dengan adanya kesibukan ini bisa mengalihkan perhatian dan pikiran saya. Hal itu membuat perasaan saya menjadi jauh lebih baik. Setidaknya saya lebih merasa berguna dan dihargai.

Apakah saya impulsif mengenai keputusan saya ini? Saya rasa tidak. Sebelum saya memutuskan untuk mencari pekerjaan baru, saya sudah melakukan riset ke teman-teman dan senior yang sudah keluar dengan menanyakan suka dan duka mereka ketika mencari pekerjaan dan bekerja di tempat mereka baru. Bahkan, saya juga sempat meminta pendapat dari senior yang masih bertahan di kantor. Saya juga sudah memikirkan baik-baik tentang konsekuensi yang nantinya harus saya terima.

Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan mundur dari pekerjaan. Keluar dari zona nyaman atau mencari zona nyaman adalah juga pilihan. Sebagai catatan, saya merasa sangat tidak nyaman saat saya bekerja hanya seolah ‘makan gaji buta’.

Semoga pilihan dan keputusan saya ini adalah yang terbaik bagi saya dan menurut Allah. Aamiin.***

 

 

Poltergeist ♥ Associate Writer

Seorang adventurer dan pecinta novel detektif yang terkenal galak dan judes tapi easy going, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung karena suka makan dan jalan-jalan. Baginya kebahagiaan adalah tujuan hidup tanpa mengabaikan prinsip-prinsip yang dipegang.

error: