Membayangkan Transportasi Kita Layaknya di Melbourne

Membayangkan Transportasi Kita Layaknya di Melbourne

Pengantar

Transportasi publik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kesan ketidaknyamanan. Sebagai contoh, penuh sesak karena melebihi daya angkut, banyak pencopet, kumuh, bau, tidak tertib, kebut-kebutan, dan tidak dapat diandalkannya jadwal adalah sederet atribut yang sering kita dengar. Bahkan, kondisi transportasi publik seperti ini masih kita rasakan di Jakarta hampir setiap harinya.

Syukurnya, beberapa tahun belakangan ini transportasi publik di Jakarta sudah mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Perubahan ini diawali dengan keberadaan busway yang melayani penumpang dengan nyaman dan tertib.

Kemudian, kereta commuter line yang mengubah total cara kerjanya juga mulai terlihat hasilnya. Sebagai contoh, kereta ini sudah memberlakukan gate untuk tiket, pintu kereta selalu tertutup, serta tidak lagi ditemui penumpang yang duduk di atap kereta demi menghindari pemeriksaan karcis.

Tahapan perbaikan di bidang transportasi publik lainnya yang sedang berlangsung di Jakarta adalah pembangunan mass rapid transit (MRT) dan light rapid  transit (LRT) yang akan melayani penumpang dalam jumlah yang lebih banyak. Perubahan ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan penyediaan layanan transportasi publik di Jakarta dari kota-kota besar lainnya di dunia. Tentu saja, perubahan ini adalah kemajuan yang layak untuk diapresiasi.

Untuk menginspirasi lagi pengembangan transportasi di Indonesia agar lebih maju, kali ini saya ingin berbagi cerita bagaimana layanan transportasi publik di Melbourne, Australia, dijalankan. Soalnya, tiga tahun saya tinggal di Melbourne telah memberikan saya kesempatan untuk merasakan kenyamanan transportasi publik di sana.

Kualitas transportasi publik di Melbourne ini tidak bisa dilepaskan dari lima elemen utama, yaitu otoritas pengelolaan, moda transportasi, jaringan infrastruktur, akses terhadap penyandang disabilitas, dan perilaku pengguna.

Otoritas Pengelolaan

Otoritas pengelolaan transportasi publik di negara bagian Victoria dipegang oleh Public Transport Victoria (PTV).  Otoritas ini merupakan bagian dari pemerintah negara bagian yang memiliki tugas mengelola semua transportasi publik di negara bagian Victoria. Mereka sekaligus bertindak sebagai lembaga perlindungan konsumen di bidang transportasi.

PTV memiliki fungsi memperbaiki transportasi publik di Victoria. Cara yang mereka tempuh adalah dengan memperbaiki koordinasi antara moda-moda transportasi yang ada, membangun perluasan jaringan transportasi, dan mengaudit aset-aset transportasi publik. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab mempromosikan transportasi publik sebagai sebuah alternatif yang lebih baik dibandingkan bepergian dengan mobil pribadi.

Moda Transportasi yang Terintegrasi

Transportasi publik di Melbourne hampir sama dengan beberapa kota besar dunia lainnya, yaitu memiliki moda transportasi kereta api, bus, dan tram. Ketiga jenis moda transportasi ini terintegrasi satu sama lain, baik dalam hal penggunaan kartu maupun lokasinya. Sebagai contoh, pengguna transportasi publik di sana menggunakan kartu Myki yang dapat digunakan di ketiga jenis moda transportasi.

Integrasi ini juga dapat dilihat dari lokasi. Sebagai contoh, di sekitar stasiun kereta api tempat saya tinggal ada halte bus dan halte tram yang akan mengantarkan saya dari stasiun terdekat ke daerah-daerah sekitarnya. Dengan demikian, saya tidak perlu menggunakan mobil pribadi untuk tiba di rumah.

Kereta api yang melayani penduduk Melbourne dan sekitarnya ini dioperasikan oleh Metropolitan Trains (Metro Trains). Menurut data tahun 2016, panjang track kereta api di sana adalah 830 kilometer dengan 16 jurusan yang mengangkut penumpang sebanyak 235,4 juta orang dari 218 stasiun.

Namun, permasalahan yang kurang nyaman di Metro Trains adalah banyaknya perlintasan sebidang yang menimbulkan kemacetan lalu lintas dan juga risiko kecelakaan antara kereta dan mobil. Sisi baiknya, PTV terus berusaha mengurangi perlintasan sebidang ini dengan membangun underpass atau flyover.

Di Melbourne, bus digunakan oleh penduduk untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Bus ini dimiliki oleh 13 independent operator, 346 trayek yang menempuh jarak 114,3 kilometer, dan mengangkut 122,5 juta penumpang. Meskipun operator ini berbeda, pengendalian transportasi tetap berada di bawah PTV.

Kenyamanan moda transportasi jenis bus ini terlihat dari ukuran bus yang besar yang dilengkapi dengan mesin pendingin ruangan. Penumpang pun naik dan turun di halte yang dilengkapi dengan jadwal kedatangan dan rute. Tiket pun sudah terintegrasi dengan moda transportasi lainnya.

Jadwal kedatangan pun hampir selalu tepat sehingga kita bisa merencanakan kegiatan dengan tepat. Tak hanya itu, pengemudi juga sopan, tertib, dan sangat membantu penumpang, khususnya penumpang dengan disabilitas dan ibu-ibu yang membawa stroller ataupun troli belanja.

Pengelolaan tram di sana hanya dilakukan oleh 1 operator saja, yaitu Yarra Trams. Jumlah rute yang dijalani adalah 24 dengan panjang double track mencapai 250 km. Tram ini mengangkut 203,8 juta penumpang, dengan jumlah halte sebanyak 1.761 buah.

Di beberapa area, tram ini memiliki jalur tersendiri sehingga mobilitas pun lancar. Namun, banyak pula jalur tram memiliki jalur yang sama dengan jalan kendaraan lain sehingga sering menimbulkan kemacetan lalu lintas. Hal ini terjadi karena lebar jalan yang terbatas.

Jaringan Infrastruktur

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memiliki otoritas dalam penyediaan jaringan infrastruktur transportasi public di sana. Perbedaan peran keduanya terletak pada kemampuan menyediakan jaringan infrastruktur yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka mendanai pembangunan jaringan.

Jaringan infrastruktur transportasi publik sendiri di Victoria meliputi jalan untuk bus—termasuk bus jarak jauh dan bus regional—kereta, dan tram sepanjang 2.964,2 km. Panjang track kereta api adalah 830 kilometer yang terbentang ke seluruh penjuru Melbourne dan daerah penyangganya. Track kereta api di sana dibuat ke segala arah.

Titik utamanya adalah stasiun besar (Flinders Station) yang dipecah ke Barat (North Melbourne). Dari sini, track lalu dipecah lagi menjadi 2 jurusan ke Utara (Upfield) dan Barat (Footscray). Sesampai di Footscray, track tersebut dipecah lagi menjadi ke Barat (Newport) dan Utara (Sunshine). Dari Barat (Newport), jalur ini dipecah menjadi 2 arah, yaitu ke Selatan (Williamstown) dan Barat (Werribee).  Dengan demikian, seluruh area tercakup oleh pelayanan kereta (lihat Gambar).

Ramah kepada Penyandang Disabilitas

Satu hal yang menarik dari transportasi publik di Melbourne dan sekitarnya adalah besarnya perhatian terhadap para penyandang disabilitas karena pengelola transportasi publik sangat memperhatikan kebutuhan mereka. Lantai bus di sana bisa diturunkan sehingga para penyandang disabilitas yang menggunakan tongkat dapat naik dengan mudah.

Jika penumpang menggunakan kursi roda, supir bus akan turun dan membuka pelat penghubung antara bus dan lantai halte. Selanjutnya, pengguna kursi roda akan naik melalui jembatan penghubung. Di dalam bus, juga disediakan ruang yang cukup untuk kursi roda. Ruang ini terletak di belakang supir bus. Umumnya, ruang ini ditandai dengan kursi berwarna oranye dan gambar kursi roda.

Untuk kereta api, pengguna kursi roda dilayani di gerbong pertama. Masinis akan turun dan membuka jembatan penghubung antara lantai peron dan kereta. Area di dalam gerbong pertama itu ditandai dengan gambar kursi roda di lantainya. Ketika penumpang disabilitas hendak turun, masinis akan membuka kembali jembatan penghubung itu. Emplasemen untuk keluar dan masuk peron juga dibuat dalam bentuk ramp yang memudahkan mobilitas penyandang disabilitas.

Perilaku Pengguna

Selain infrastruktur, elemen lainnya terletak pada perilaku pengguna. Latar belakang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sejarah membentuk perilaku pengguna di kota tersebut.

Dalam hal kebersihan, ada aturan yang dibuat untuk memastikan tidak ada penumpang yang membuang sampah (littering). Jika ada pengguna yang melanggar, mereka akan dikenakan denda.

Menariknya, tidak ada petugas kebersihan yang stand by di jalur transportasi publik. Namun demikian, tindakan vandalisme sering juga dialami. Sebagai contoh, masih ada tangan-tangan jahil yang mencoret-coret bangku dan jendela media transportasi di sana.

Transportasi publik di Melbourne juga tidak bisa lepas dari masalah free-rider (alias penumpang gelap), terutama di tram dan bus di mana tidak ada gate yang harus dilalui penumpang, seperti halnya di stasiun kereta.

Untuk mencegahnya, masing-masing operator menyiapkan authorised officer yang memastikan setiap penumpang membayar pelayanan mereka. Mereka bisa melakukan inspeksi kapan pun dan di mana pun. Terkadang, para petugas ini memakai seragam formal, tetapi sering juga mereka berpakaian seperti penumpang lainnya.

Jika ada penumpang yang tertangkap karena tidak memiliki Myki atau menyalahgunakan Myki, mereka akan dikenakan denda yang lumayan besar, yaitu $238, atau sekitar Rp2.380.000. Biasanya yang mereka langgar adalah kartu concession.

Di sana, pemegang kartu concession berhak membayar 50% lebih murah dari tarif yang seharusnya. Menurut peraturan, kartu concession ini hanya berlaku bagi pencari suaka, anak-anak, siswa sekolah, mahasiswa S-1, pemegang health care card, pensiunan, pemegang senior card, penduduk usia di bawah 60 tahun dan memegang pension card dengan kode DSP atau CAR, dan veteran perang atau janda veteran perang. Namun, banyak juga mereka yang tidak berhak malah menggunakan kartu concession ini.

Pelanggaran lain adalah penumpang tidak tap in pada saat mereka naik bus atau tram. Ketika mereka tidak tap in di mesin yang ada di setiap bus dan tram, mereka menggunakan fasilitas ini tanpa  membayar. Tindakan ini jelas merugikan operator bus dan tram karena pembayaran yang mereka terima dari PTV berdasarkan jumlah penumpang yang tap in di mesin.

Penutup

Biaya transportasi publik di Melbourne memang lumayan mahal. Jika perjalanan memakan waktu kurang dari 2 jam, ongkosnya bisa mencapai $4.3 (atau Rp43.000). Kalau sudah lebih dari 2 jam, maka ongkosnya menjadi $8.6 (bagi yang tidak berlangganan). Namun, bagi penumpang yang berlangganan selama sebulan atau seminggu, tarif per hari menjadi lebih murah.

Saya dan suami menyiasati persoalan tarif transportasi yang mahal ini dengan menggunakan 1 kartu Myki secara bersama. Saya menggunakan kartu Myki di pagi hari untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Sore hari, kartu itu dipakai oleh suami saya untuk kuliah karena kebetulan jadwal kuliahnya sore sampai malam. Dengan demikian, kami bisa menghemat biaya perjalanan per hari sebesar $8.6 untuk 2 orang.

Walaupun ongkos ini lumayan mahal untuk ukuran saya, keberadaan transportasi publik di Melbourne telah membantu mobilitas saya dari rumah ke Queen Victoria Market sebagai sales promotion girl (SPG) kaos souvenir.

Transportasi publik ini juga ramah untuk kantong seorang istri mahasiswa seperti saya ketika mengantarkan saya ke Direct Factory Outlet (DFO) berburu barang diskonan dan ke Melbourne Central Station mengirim tempe pesanan teman-teman seantero Melbourne.***

 

 

Melintas Benua Berkat Membaca dan Menulis Karya Ilmiah

Melintas Benua Berkat Membaca dan Menulis Karya Ilmiah

Pengantar

Ada banyak cara untuk tiba di benua biru, Eropa. Mulai dari menang undian, dibayarin teman, menjadi orang kaya berlimpah harta, atau dengan cara mendapatkan sponsor untuk pergi. Kalau saya, semuanya diawali dengan membaca, lalu menulis.

Sudah tentu di balik itu semua ada ikhtiar tanpa putus asa dan doa yang senantiasa dipanjatkan, dan ketentuan dari Yang Maha Baik yang mengizinkan saya bisa berkelana belasan ribu kilometer jauhnya.

Belum Suka Membaca

Jika diingat-ingat sepak terjang saya menulis, terutama tulisan ilmiah, tidak mengesankan sama sekali. Saat masih bersekolah di diploma 3 (D3) saya mengakhirinya dengan menulis karya tulis ala kadarnya. Paling-paling yang masih terus eksis adalah hobi menulis saya yang tidak ilmiah semacam status Facebook, diary, atau cerpen yang sejak kecil sudah menjadi hobi. Itupun kadang saya lakukan, kadang tidak.

Kalau membaca? Duh, saya baru membaca sebuah buku hanya jika kakak atau suami bisa meyakinkan saya bahwa buku itu bagus sekali. Selain itu, jika ada tugas kuliah atau ujian yang memaksa, saya baru membaca materi.

Pembimbing yang Menginspirasi

Kebiasaan itu sedikit berubah ketika saya mulai menulis skripsi di jenjang sekolah diploma 4 (D4). Seorang pembimbing yang tidak pernah saya incar karena belum pernah diajar oleh beliau, telah menginspirasi saya.

Sang pembimbing itu adalah hasil rekomendasi oleh beberapa dosen, entah apa alasannya. Mungkin karena mereka sudah mempunyai feel bahwa saya akan cocok dengan beliau. Bersama Ayu, si gadis Bali, kami akhirnya menjadi bimbingan beliau.

Proses penulisan skripsi hingga sidang di bawah bimbingan beliau diwarnai dengan fluktuasi semangat mengingat beberapa minggu menjelang sidang, saya melahirkan anak kedua kami, Adnan. Ada kalanya saya berkonsultasi kepada beliau dengan membawa anak saya, bahkan didampingi orang tua dan suami di kampus Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) di Purnawarman. Benar, itu pengalaman saya yang tak akan terlupa.

Pembimbing saya waktu itu menyayangkan jika saya berhenti belajar sampai D4 saja. Pesannya, saya harus sekolah tinggi-tinggi, tak peduli saya seorang wanita. Bahkan, katanya, anak-anak akan bangga mempunyai ibu yang cerdas dan berwawasan luas.

Yang mengejutkan, suatu ketika beliau meminta saya mengikuti sebuah konferensi ilmiah internasional di Malang, sebagai salah satu pemateri. Beliau mendaftarkan materi skripsi saya yang dirangkum menjadi makalah.

Setahun lebih sejak kembali bekerja pasca D4, keinginan saya untuk kuliah lagi menjadi menggebu-gebu. Itu terjadi secara bersamaaan pada saat suami lulus S2 dan banyak teman seangkatan D4 yang sudah berangkat ke Inggris dengan beasiswa S2.

Namun, saya harus mencari kampus di dalam negeri karena kondisi anak-anak yang belum bisa ditinggalkan. Pada saat itu, skema kuliah yang paling masuk akal adalah melalui beasiswa LPDP meski saya sempat pesimis bisa diterima.

Pada kesempatan pertama saya gagal melalui sebuah interview yang dipenuhi dengan kegalauan tentang target masa depan saya selanjutnya. Kegagalan itu membuat saya sempat down selama beberapa hari.

Namun, saya bangkit lagi untuk mendaftar kembali di kesempatan berikutnya. Dengan persiapan yang lebih matang, alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2016 saya resmi menjadi awardee LPDP untuk tingkat S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).

O iya, peristiwa itu terjadi pada hampir dua tahun sejak saya lulus D4, saat telah lahir anak kami yang ketiga, Maryam. Percaya atau tidak, selain ingin belajar lagi, motivasi saya meneruskan sekolah lagi adalah demi untuk merawat anak-anak yang semuanya sedang memasuki masa balita. Tiga orang balita dengan selisih usia masing-masing 15 bulan.

Mulai Nikmat Membaca

Menjadi mahasiswa S2 di UI memaksa saya untuk benar-benar banyak membaca. Salah satu mata kuliah tentang penulisan ilmiah bahkan mensyaratkan jurnal-jurnal level peraih nobel sebagai acuan dalam menulis kerangka ilmiah makalah. Padahal, bahasanya tingkat “dewa”.

Perlahan tapi pasti, saya pun terbiasa membaca ilmiah hingga pada suatu ketika kepala program studi di kampus meminta saya menulis makalah untuk sebuah konferensi ilmiah di Malaysia. Wah, ini akan jadi pengalaman pertama kali saya “dilepas” tanpa pembimbing.

Tentu saja ada sedikit bumbu drama dalam penulisan makalah untuk konferensi di Malaysia ini karena saya menyusunnya bersama 2 orang teman kuliah yang punya sudut pandang dan cara bekerja yang berbeda.

Alhamdulilah, satu lagi pengalaman berharga saya peroleh. Di konferensi ilmiah itu, saya bisa bergabung dengan para profesor, mahasiswa doktoral, peneliti, dan kadang-kadang masih ada juga mahasiswa S2 atau S1 yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Yang jelas semuanya punya semangat yang sama untuk membangun networking akademis.

Dan tentu saja, saya harus berbicara mempresentasikan makalah saya dalam bahasa Inggris. Begitu pun ketika kami bergaul. Ada semacam perasaan rindu untuk melakukan daily conversation berbahasa Inggris yang terlampiaskan di forum itu.

Di sekolah saya sebelumnya tidak pernah sekalipun dikondisikan untuk bercakap-cakap secara rutin dengan bahasa Inggris, bahkan ketika S2 di UI saat itu. Semua ini ternyata membuat saya ketagihan untuk selalu mengikuti konferensi.

Tak lama setelah konferensi di Malaysia, saya didaulat lagi untuk mengikuti konferensi internasional di kampus sendiri, dimana mayoritas pesertanya mahasiswa S2 UI yang sudah menyelesaikan tesisnya. Ternyata, justru di event ini untuk pertama kalinya saya ditempa dengan kritik dari reviewer yang cukup pedas  tentang masih kacaunya metodologi analisis saya.

Para reviewer ini adalah para pengajar di UI. Mungkin karena didasari oleh tingginya sense of belonging terhadap kualitas karya ilmiah mahasiswanya. Yang jelas, kritik yang membangunlah yang mereka sampaikan.

Kemudian, proses penulisan tesis yang benar-benar “project” saya sendiri pun dimulai. Lelah tubuh karena harus kesana kemari mencari bahan dan data sambil menggendong anak. Sesekali airmata pun menetes mewarnai pengumpulan data, review jurnal, dan mencermati isi buku. Hingga pada akhirnya saya berhasil menulis sesuatu. Bagaimanapun saya menikmatinya.

Pergi Ke Eropa

Tulisan itu saya kirimkan ke sebuah lembaga riset bergengsi, Eurasia Business and Economic Society (EBES), yang berkantor di Istanbul, Turki. Accepted! Saya mendapat undangan resmi untuk presentasi di acara mereka yang selalu keliling dunia setiap tahunnya. Kali ini acaranya berlangusng di ibukota Jerman, Berlin.

Dengan LPDP sebagai sponsornya, meskipun tidak semua biaya bisa dicover, saya bersemangat untuk berangkat. Saya yakin kesempatan tak akan datang dua kali. Ditambah lagi sang suami mengizinkan saya pergi dengan senang hati. Bahkan, dia rela kerepotan merawat anak-anak selama saya pergi.

Sponsor lain yang sebenarnya menjadi sponsor utama kali ini adalah ibu saya, Bu guru Dra. Suparti. Beliau adalah seorang guru SD yang sejak kecil tak pernah berhenti menanamkan harapan pada saya. Ibu, doa ibu hanya bisa saya balas dengan doa seorang anak untuk ibunya, dan tentu saja memenuhi harapannya.

Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 2018 untuk pertama kalinya saya menghirup udara Eropa, menginjakkan kaki di Bandara Schiphol, Amsterdam. Dalam banyak hal saya akui kita kalah banyak dari mereka, dan karena itu kita harus melupakan dendam masa lalu dan banyak belajar dari mereka.

Pada tanggal 22 Mei 2018, setelah transit di Belanda, saya akhirnya tiba di acara utama petualangan di Eropa ini, yaitu EBES Conference di Berlin. Baru kali ini konferensi yang saya ikuti dimana mayoritas pesertanya berwajah asing, sebut saja bule. Mereka datang dari Amerika, Polandia, Turki, Jerman, Cekoslowakia, Jepang, Korea, Inggris, Spanyol, Romania, dan lain-lain.

Kendati saya merasa senang berada di antara mereka, challenging lebih tepatnya, ternyata tak bisa dielakkan lagi bahwa secara psikologis saya tetap merasa nyaman berada di antara sesama orang Indonesia, para profesor dan doktor dari Jawa, dari Solo tepatnya. Lalu, obrolan pun mendadak menjadi berbahasa Jawa.

Sudah jauh-jauh ke Jerman, ngobrolnya tetap memakai bahasa ibu. Bahkan, ketika diumumkan paper terbaik dalam konferensi itu, mengejutkan dan membanggakan sekali adalah karya orang Jawa (eh, Indonesia). Beliau seorang dosen ITB yang sedang studi S3 di Belgia dan senior di LPDP juga. Wow!

Tibalah saatnya tanggal 24 Mei 2018, hari dimana saya mendapat jadwal presentasi. Hanya seorang teman yang jadi co-author saya yang berwajah familiar di situ. Sisanya, bule! Berkat sifat deadliner yang kambuhan, kali ini saya baru menyelesaikan bahan presentasi 1 jam sebelum “show time”.

Satu jam sisanya saya pakai buat mandi, sibuk memilih baju dan perjalanan naik kereta bawah tanah dari hostel tempat saya menginap ke lokasi konferensi di FOM University of Applied Science, Berlin. Simulasi presentasi, yang selalu saya lakukan pada konferensi-konferansi sebelumnya, tidak sempat saya lakukan.

Namun, alhamdulilah, penjelasan saya cukup bisa diterima. Audiens bertepuk tangan ketika saya akhiri presentasi, setelah dua orang bertanya tentang latar belakang dan metode ekonometrik yang saya gunakan. Setidaknya, kali ini saya merasa pantas membawa pulang sertifikat dari penyelenggara.

Penutup

Serangkaian proses ini pada hakikatnya berkaitan satu sama lain, kompleks, dan terstruktur. Satu hal penting yang menjadi syarat utama adalah: membaca!

Petualangan di benua Eropa takkan terjadi jika saya tidak mau membaca, yaitu membaca kesempatan, membaca suasana, membaca papan petunjuk peta, membaca isi pikiran orang lain, membaca bahasa tubuh, dan tentu saja membaca jurnal-jurnal. Apa yang telah saya baca tidak pernah saya sia-siakan untuk tidak menulisnya. Membaca dan menuliskannya menjadi satu paket kegiatan ‘gila’ saya selanjutnya dan untuk seterusnya.

Jadi, pilih yang mana, jalan-jalan ke Eropa setelah jadi orang kaya atau seperti saya: karena membaca?

 

 

My “Eska”, My Adventure: Bungkus Airmatamu!

My “Eska”, My Adventure: Bungkus Airmatamu!

Selain kelanjutan pertarungan Luffy melawan Big Mom di Wholecake Island, ada juga desas-desus kabar surat keputusan (baca: eska) mutasi tempat yang membuat jantung saya dag dig dug minggu-minggu ini.

Seperti halnya alur cerita dalam serial One Piece karangan Eiichiro Oda yang tak bisa ditebak, eska mutasi itu pun sama. Keduanya sama-sama mengejutkan. Jika serial One Piece selalu mampu menghibur, eska mutasi malah bisa membuat berlinang-linang air mata.

Padahal, ia hanyalah beberapa lembar kertas dengan bahasa yang kaku. Akan tetapi, ia memiliki kedigdayaan yang dapat membuat haru-biru melebihi drama Korea.

Suka atau tidak suka, mutasi tempat adalah sebuah keniscayaan yang akan dialami dan terus dialami oleh para birokrat. Sebab, wilayah Indonesia yang membentang luas adalah ‘medan perang’ bagi mereka yang mengecap diri sebagai abdi negara.

Karenanya, para birokrat yang dibesarkan dengan cara sipil harus mau menerima perintah mutasi tempat layaknya seorang tentara. Mereka mesti mau melangkah gagah menenteng koper, menempuh perjalanan baru, dan menyambut ketidakpastian dengan tangan terbuka.

Selamat tinggal kampung halaman. Bungkus air matamu di sini. Kampung halaman sudah ada dalam sanubari, tempat kenangan masa kecil dan barisan para mantan bersemayam.

Bagi birokrat yang sudah berkeluarga, pindah lokasi penugasan juga sudah seperti acara bedol desa. Kerepotan demi kerepotan harus mereka jalani dengan dada selapang-lapangnya.

Langkah awalnya, mereka harus menentukan barang apa yang perlu dibawa pindah, mana yang bisa dijual, mana yang harus dihibahkan, dan mana yang harus dibuang ke tempat sampah.

Memilah dan memilih barang ini tentu bukan pekerjaan singkat. Setelah beberapa tahun menetap, seminimalis apa pun tempat yang ditinggali mereka, tetap saja akan menyimpan bergudang barang.

Setelah teridentifikasi mana barang yang dibawa dan mana yang tidak, kini saatnya packing. Pertama, para birokrat harus merapat ke toko kelontong terdekat untuk membeli kardus ukuran raksasa.

Kardus (perusahaan) rokok adalah pilihan ideal. Selain ukurannya besar, kardus tersebut juga berbahan tebal. Jika ada kelonggaran budget, bolehlah mereka membeli ‘kontainer’ dari plastik agar lebih praktis dan ciamik.

Sambil mengepak barang ke dalam kardus yang telah tersedia, kini saatnya birokrat mencari jasa ekspedisi yang murah meriah sambil berburu tiket penerbangan atau kapal laut kelas ekonomi.

Meskipun para birokrat mendapatkan uang pindah dari negara, itu tak lantas bisa dipakai untuk foya-foya. Uang pindah harus dibelanjakan sebijak mungkin supaya ada sedikit tersisa untuk bekal mengontrak di tempat baru.

Segala kerepotan dengan tumpukan benda mati ternyata belum cukup. Jika sang birokrat memiliki buah hati yang sudah sekolah, maka pekerjaan bertambah lagi, yaitu mengurus kepindahan sekolah si buah hati.

Di negara yang segalanya serba administratif ini, mengurus pindah sekolah tentu bukan hal mudah. Perlu izin dan rekomendasi dari banyak pihak, perlu waktu, tenaga, dan biaya tentu saja.

Aneh memang, sekedar beda kabupaten, kota, atau provinsi saja, urusan  pindah sekolah bisa begitu ribet-nya. Padahal, daerah-daerah ini masih sama-sama Indonesia. Ya, mau bagaimana lagi, ribet ndak ribet harus tetap dilakoni. Toh demi masa depan.

Bagi birokrat jomblo, bujang lokal maupun antar kota dalam provinsi, pindah tugas secara teknis tidak terlalu merepotkan. Mereka tak punya pasangan dan anak-anak dengan segala urusan yang maha penting. Barang bawaan juga relatif lebih sedikit, satu dua koper juga sudah cukup.

Hanya saja, bagi jomblowan dan jomblowati yang sedang pedekate, pindah tugas tentu menjadi semacam kiamat kecil.  Perjuangan mereka mendekati ‘target’ selama berbulan-bulan yang telah menguras tabungan dan perasaan, tampaknya akan sia-sisa.

Jarak akan membuat usaha pendekatan semakin berat. Gimana nggak berat. Lha, wong ketemu muka saban hari saja doi belum tentu mau jadian. Apalagi ketemunya cuma via whatsapps atau bigo.

Gebetan yang sudah hampir tergenggam bisa hilang digondol maling. Jika sudah begitu, sang birokrat jomblo kemungkinan besar akan mengalami demam tinggi lantaran pusing beradaptasi di tempat baru, ditambah pusing ditinggal gebetan. Akhirnya puluhan butir paracetamol dan tisu jadi pelariannya.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, ya ndak semua birokrat jomblo setragis itu sih nasibnya. Ada juga beberapa dari mereka yang justru gembira mendapatkan eska mutasi layaknya anak-anak balita menyambut hari raya. Para birokrat jomblo yang bahagia ini kemungkinan ada dua jenis.

Pertama, jenis yang sudah mentok menjalin hubungan. Mereka sudah berusaha mati-matian membuat akun tinder, instal kamera 360, dan susah-susah kredit (sepeda motor) Ninja untuk mengerek penampilan, tetapi masih saja nihil hasilnya.

Mereka hampir putus asa berguru ke Nella Kharisma untuk belajar ajian Jaran Goyang, Semar Mesem, hingga Semar Mendhem. Mereka tak juga mendapat pasangan karena terjebak friedzone, timezone, dan zone-zone yang lain.

Bagi Birokrat jomblo jenis demikian, penempatan di tempat baru agaknya menjadi angin segar. Ya, siapa tahu di tempat baru ini ada manusia “khilaf” yang mau dijadikan pasangan.

Jenis yang kedua ialah para birokrat jomblo yang memiliki jiwa petualang. Mereka ini biasanya pede dengan slogan “My Eska, My Advanture”. Birokrat jomblo jenis ini adalah orang-orang yang berpikiran kelewat positif.

Mereka itu melihat kesulitan berpindah tugas ke tempat baru sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Penempatan di tempat baru ini akan membuat mereka bertemu dengan orang-orang baru dan gebetan baru.

Gebetan yang sudah ‘dikoleksi’ selama ini tentunya tetap mereka jaga, sedangkan di tempat baru itu mereka membuka radar lebar-lebar untuk mendapatkan gebetan tambahan.

Pepatah yang mereka pegang: “Di mana bumi dipijak, disitu benih ditanam.” Tidak salah memang jika mereka mencari gebetan sebanyak mungkin. Ini layaknya portofolio investasi “don’t put all of your eggs in one basket”. Artinya, jangan letakkan seluruh telurmu cintamu pada satu gebetan.

Di tempat lama mereka memiliki gebetan, di tempat baru pun demikian. Ajaran yang mereka pegang: Biarlah nanti waktu yang akan menjawab siapa gebetan yang pantas diboyong ke pelaminan.

Ini memang tampak kejam dan tidak adil. Namun, seperti kata Virus dalam film 3 Idiots besutan Rajkumar Hirani: “Everything is fair in love and war”. Bukan begitu, Mblo?

Terlepas dari status perjombloan dan hepi tidaknya di atas, eska mutasi harus tetap dijalani. Sebab, para birokrat sejak awal telah menyadari bahwa seluruh wilayah NKRI ini adalah sebuah rumah besar yang harus kita rawat dan jaga.

Di mana pun kita berada, di situ rumah kita. Siapa pun yang kita temui di sana, apa pun suku dan agama mereka, mereka semua adalah saudara kita.

Memang, terkadang sulit bertahan dengan penghasilan standar nasional, tetapi kita harus menanggung biaya hidup yang bervariasi di tiap daerah. Belum lagi urusan jarak mudik, asmara, dan kesulitan hidup lain, yang mungkin tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Tsaaah..

Terkadang, mungkin kita berpikir bahwa apa yang kita dapat tak sebanding dengan apa yang kita lakukan. Mungkin, kita berpikir kesusahan hidup di antah berantah sana tidak sepadan dengan penghasilan yang kita terima.

Mungkin semua pikiran itu benar. Mungkin memang benar adanya. Namun, bukankah itu arti dari sebuah pengabdian? Bukankah ketidaksebandingan itulah yang membedakan para birokrat dengan para pekerja biasa? Bukankah mengabdi itu memang berarti kita harus rela memberi lebih banyak daripada menerima?

Lagipula, pindah ke tempat baru, ke tempat jauh nan terpencil di sana tidaklah selalu buruk. Ya, seperti cara pandang birokrat jomblo jenis kedua tadi.

Pindah ke tempat yang terpencil bagi mereka akan memberikan jeda dari tempo kehidupan kota yang cepat. Hari-hari ini adalah di mana kita bisa menikmati berkendara di jalanan sepi tanpa mendengar bunyi klakson dan makian yang memanaskan telinga.

Hari-hari di saat kita bisa menatap bukit gunung hijau sambil menghirup udara segar bebas polusi. Hari-hari tatkala beban kerja tak seberat di kantor pusat. Hari-hari di mana akan ada banyak waktu untuk beribadah, mengecilkan perut, atau menggali bakat terpendam.

Saya akhirnya teringat tulisan Stephen R. Covey dalam The 8th Habit. Menurutnya, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Hal-hal yang terjadi dalam hidup kita mungkin memang berada di luar kemampuan kita, uncontrollabe.

Kita tak bisa menentukan dengan pasti apa yang akan terjadi esok atau hari ini. Akan tetapi, kita memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana menyikapi kejadian tersebut.

Sama halnya dengan eska mutasi tadi, kita mungkin tak mampu menentukan ke mana kita akan pindah, tetapi kita mempunyai pilihan bagaimana menyikapi kepindahan tersebut.

Seberat apa pun, kuatkan hati dan langkah! Anggap saja itu semua adalah pengalaman dan petualangan dalam hidup. Ingat, My Eska, My adventure. Bungkus air matamu!

Ingatlah juga senantiasa akan sumpah jabatan yang telah terucap di hadapan Tuhanmu. Ada tugas yang harus kita laksanakan. Ada bakti yang harus kita tunaikan. Ada orang-orang baru dan mungkin gebetan baru yang menunggu.

Pahitnya eska mutasi jangan sampai melalaikan kita dari rasa syukur. Sebab, bisa jadi kehidupan yang kita keluhkan setiap hari adalah kehidupan yang justru dimimpikan oleh banyak orang.

Begitu kan, Mblo?

***

 

 

Integrasi Sistem Informasi Kepegawaian dan Sistem Manajemen Dokumen: Pengalaman Sebuah Instansi Sektor Publik yang Dapat Dikembangkan oleh Badan Kepegawaian Negara

Integrasi Sistem Informasi Kepegawaian dan Sistem Manajemen Dokumen: Pengalaman Sebuah Instansi Sektor Publik yang Dapat Dikembangkan oleh Badan Kepegawaian Negara

Pengantar Redaksi

Kali ini, Redaksi Birokrat Menulis menerima tulisan yang mengangkat pengalaman seorang perancang dan analis sistem informasi sebuah instansi sektor publik dalam membangun sistem informasi kepegawaian di organisasinya. Keterlibatannya yang jatuh-bangun dalam pengembangan sistem informasi di organisasinya patut menjadi pelajaran penting bagi organisasi sektor publik di Indonesia.

 

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang didukung dengan regulasi tentang e-government (e-gov), hampir seluruh organisasi sektor publik di Indonesia berlomba-lomba mengembangkan sistem informasi di organisasinya masing-masing.

Pengembangan sistem informasi tersebut merupakan investasi yang sangat berharga dan membutuhkan usaha (effort) yang besar pula. Di sini, penulis akan menguraikan pengalaman pengembangan sistem informasi kepegawaian (human resource information system) di organisasi penulis, yaitu sebuah instansi sektor publik.

Pengembangan sistem informasi ini secara radikal dimulai dengan membangun basis data (database) dengan aplikasi Sistem Pengelolaan Data Pegawai (Sispedap). Aplikasi Sispedap ini merupakan salah satu subsistem dari sistem informasi kepegawaian yang sangat strategis.

Sebab, keberadaan basis data kepegawaian yang kuat dan akurat dapat mendukung berbagai subsistem sistem informasi kepegawaian lainnya, termasuk subsistem di luar sistem informasi kepegawaian. Hampir seluruh subsistem suatu sistem informasi organisasi publik akan terkait dengan data pegawai. Sebagai contoh, dalam penugasan dinas, tentu ia akan membutuhkan data pegawai. Begitu pula terkait dengan penggunaan anggarannya.

Tanpa basis data kepegawaian yang kuat dan akurat, organisasi sektor publik tidak akan mungkin membangun subsistem lainnya secara terintegrasi. Oleh karena itu, Sispedap telah menjadi prioritas utama dalam pengembangan sistem informasi di lembaga tersebut.

Fakta Sejarah

Pengembangan aplikasi Sispedap tidak terlepas dari sejarah panjang jatuh-bangunnya pengembangan sistem informasi di lembaga tersebut. Pengembangan ini dimulai sejak tahun 1992 (lihat diagram berikut). Sampai dengan saat ini pun pengembangannya masih terus berjalan.

Gambar. Sejarah Panjang Pengembangan Sispedap

 

Dari sejarah panjang pengembangan basis data kepegawaian sebagaimana terlihat pada Gambar, terlihat bahwa pada tahun 1992 dan tahun 1996 telah terjadi kegagalan pengembangan sistem.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut, yaitu:

  • Ego sektoral satuan kerja dan individunya, terutama sekali pengembangan tidak melibatkan secara langsung personil inti dari pemilik sistem (system owner), dalam hal ini unit Biro Kepegawaian dan Organisasi;
  • Pendekatan pengembangan menggunakan top-down approach;
  • Tidak ada transfer of knowledge dari pengembang kepada pemilik sistem, termasuk tidak adanya regenerasi;
  • Pengembangan basis data kepegawaian hanya untuk kebutuhan sesaat dan tidak berkelanjutan; dan
  • Pengembangan basis data tidak mempertimbangkan kebutuhan subsistem yang lain, belum mengantisipasi perubahan regulasi, dan belum mengantisipasi perubahan teknologi informasi.

Kemudian, pengembangan berlanjut pada 1994, 2001, dan 2007. Pengembangan tahun 2007 yang diimplementasikan tahun 2008 inilah yang kemudian dikenal dengan Sispedap seperti saat ini.

Pengembangan ini disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, di mana pada tahun 1994 rerangka kerja aplikasi dan basis datanya masih berbasis DOS (dBASE III+), tahun 2001 berbasis client-server, dan tahun 2007 berbasis web.

Pengembangan konten basis data juga dilaksanakan secara berkelanjutan, di mana data master tetap menggunakan konten basis data yang lama (sejak tahun 1994), sedangkan data histori kepegawaian terus dilengkapi tahun 2001 dan 2007.

Menariknya, faktor keberhasilan pengembangan tahun 1994, 2001, dan 2007 merupakan kebalikan dari faktor kegagalan pengembangan tahun 1992 dan 1996. Intinya, keberhasilan pengembangan ini merupakan perpaduan antara pendekatan bottom-up approach dengan tetap memperhatikan pendekatan top-down approach.

Walaupun telah berhasil, upaya perbaikan sistem ini terus-menerus dilakukan secara berkesinambungan. Aspek yang dikembangkan adalah terkait dengan pengelolanya, aplikasi, dan teknologinya.

Upaya ini mirip dengan filsafat bangsa Jepang, “Kaizen”, yang bermakna bahwa perbaikan mesti dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi rutin juga dilakukan dengan pendekatan SWOT.

Dari evaluasi ini, kemudian diketahui kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) Sispedap. Dari evaluasi ini, kemudian telah dilakukan beberapa upaya, seperti:

  • Pembuatan dokumentasi pengembangan;
  • Pembuatan regulasi yang berisi tentang otorisasi dan standard operating procedure (SOP);
  • Pelatihan terhadap SDM pengembang dan operator Sispedap di seluruh satuan kerja terus-menerus, termasuk rekonsiliasi data;
  • Penyediaan fitur layanan data query yang bisa mendukung sistem lain;
  • Pelaksanaan kuis tentang Sispedap kepada pegawai serta memberi penghargaan kepada satuan kerja terbaik dalam mengelola Sispedap; dan
  • Penunjukan generasi penerus dalam pengembangan Sispedap.

Kami juga mengikutksertakan Sispedap dalam lomba inovasi pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Kementerian PAN dan RB. Syukurnya, Sispedap termasuk dalam 99 Besar Inovasi Pelayanan Publik.

Integrasi Sispedap dan DMS

Ada hal yang tidak kalah pentingnya untuk saya kemukakan di sini. Dalam pengembangan Sispedap tahun 2007 itu, kami melakukan pengembangan bersamaan dengan gerakan digitalisasi dokumen kepegawaian secara besar-besaran.

Pada waktu itu, seluruh hardcopy dokumen kepegawaian di-scan dalam bentuk portable document format (pdf). Kemudian, dokumen digital tersebut di-upload ke server sistem manajemen dokumen (document management system) atau DMS yang dikelola oleh satuan kerja yang menangani sistem dan teknologi informasi.

Perkembangan terbaru, selain dapat di-upload ke server DMS, dokumen digital tersebut juga bisa di-upload melalui Sispedap. Namun, integrasinya tetap terjadi, yaitu dokumen digital pegawai tetap tersimpan secara otomatis di server DMS.

Dengan adanya server Sispedap yang terintegrasi dengan server DMS, ketika pemerosesan administrasi kepegawaian dokumen fisik pegawai kini tidak perlu lagi dikirim ke kantor pusat. Dokumen ini cukup di-scan di unit asal pegawai. Kemudian, dokumen digital ini di-upload secara online ke server DMS di kantor pusat melalui aplikasi Sispedap bersamaan dengan entri dan updating data terkait.

Contohnya, surat pemberitahuan Kenaikan Gaji Berkala (KGB). Setiap selesai proses surat pemberitahuan KGB, dokumen fisiknya langsung di-scan oleh satuan kerja asal pegawai. Kemudian, dokumen digital hasil scan ini bersama data terkait dimutakhirkan di Sispedap dan secara otomatis melalui Sispedap dokumen digital ini ter-upload ke server DMS.

Manfaat Integrasi Sispedap dan DMS

Ternyata, banyak hal yang bisa diefisiensikan dengan integrasi Sispedap dan DMS. Contohnya, efisiensi biaya kertas, efisiensi biaya tinta printer, dan efisiensi biaya pengiriman dokumen fisik.

Tentunya, tanpa integrasi Sispedap dan DMS, kita bisa membayangkan begitu besarnya biaya yang mesti dikeluarkan instansi dan pegawai instansi publik tersebut setiap tahunnya karena kantornya tersebar di berbagai provinsi. Kami berhasil melakukan penghematan yang signifikan dengan integrasi Sispedap dan DMS ini.

Menariknya lagi, pengembangan aplikasi Sispedap ini sejalan dengan ruh Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan semangat menggapai visi-misi grand design reformasi birokrasi pada lembaga tersebut.

Itu mungkin sebabnya instansi kami barusan mendapatkan peningkatan remunerasi setelah melalui evaluasi dari beberapa lembaga terkait. Kemungkinan, beberapa lembaga ini melihat upaya nyata instansi kami dari keberadaan sistem yang terintegrasi ini.

Sispedap Bertahan Lama

Sebelum pengalaman ini penulis tutup, perlu penulis bercerita sedikit tentang percakapan telepon penulis dengan programmer sebuah perusahaan yang pernah ikut terlibat dalam pembangunan Sispedap. Percakapan ini terjadi sekitar tahun 2013, atau 5 tahun sejak implementasi Sispedap tahun 2008.

Percakapan tersebut muncul karena di internal kami kadang mengalami kesulitan teknis ketika memodifikasi Sispedap. Untuk mengatasi ini, biasanya penulis menghubungi programmer tersebut agar mendapatkan ide atau alternatif solusi.

Ketika menjawab telepon, programmer itu bertanya, “Masalah teknis yang akan Pak Eka tanyakan ini terkait dengan aplikasi apa, Pak Eka ?”

Saya jawab, “Ini berkaitan dengan aplikasi Sispedap”

Di seberang telepon sana, dengan nada terkejut, programmer tersebut bertanya, “Sispedap masih dipakai oleh kantor Pak Eka?”

Saya jawab, “Iya, masih. Memangnya kenapa?”

Ia menjawab dengan kagum. Katanya, “Hebat Sispedap itu Pak Eka. Biasanya, yang terjadi adalah suatu aplikasi yang sudah dibangun di instansi pemerintah itu tidak bertahan lama. Paling umurnya sekitar 3 atau 4 tahun. Biasanya lagi, instansi pemerintah bikin proyek baru lagi, yang seringnya malah mengulangi aplikasi yang sama lagi”.

Dari percakapan ini dan cerita dari teman-teman programmer perusahaan swasta yang pernah terlibat dalam pengembangan aplikasi instansi pemerintah, memang begitulah yang terjadi dalam pengembangan sistem informasi di sektor publik, yaitu aplikasi yang dikembangkan di suatu instansi publik cenderung tidak bertahan lama. Instansi publik sering mengeluarkan belanja aplikasi lagi. Itulah kenapa belanja teknologi informasi instansi publik cenderung boros.

Hebatnya lagi, saat ini Sispedap kami itu sudah berusia 10 tahun sejak diimplementasikan tahun 2008. Sampai saat ini, kami tidak pernah lagi mengadakan proyek sejenis karena cukup stabilnya aplikasi tersebut. Kalaupun dimodifikasi, itu dilakukan oleh tim pengembang internal kami.

Epilog

Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis memiliki beberapa pandangan. Pertama, pengawalan dalam pengembangan sistem informasi di sektor publik harus terus-menerus dilakukan, terutama dalam peningkatan kualitas SDM pengembang internal beserta pengelolanya di masing-masing satuan kerja dan upgrade teknologi informasi.

Kedua, pengalaman ini bisa ditiru pada skala nasional oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Misalnya, BKN bisa mengintegrasikan server DMS dengan sistem informasi kepegawaian nasional sehingga BKN tidak perlu lagi meminta hardcopy berkas kepegawaian dari setiap instansi publik.

Bayangkan, setiap proses kenaikan pangkat saat ini harus melampirkan dokumen-dokumen fisik, seperti SK Kenaikan Pangkat sebelumnya. Padahal, setiap SK Kenaikan Pangkat pasti ada tembusannya ke BKN. Pada tahun 2015, BKN juga telah melaksanakan Pendataan Ulang PNS (PUPNS) yang mengharuskan setiap pegawai melampirkan dokumen-dokumen kepegawaiannya.

Dengan adanya tembusan dokumen tersebut, BKN mestinya bisa melaksanakan digitalisasi dokumen kepegawaian secara besar-besaran di kantor mereka yang nantinya akan tersimpan di server DMS mereka dan terintegrasi dengan Sistem Aplikasi Pelayanan Kepegawaian (SAPK) yang telah dikelola oleh mereka saat ini.

Ketiga, BKN juga harus dapat mensinkronisasikan data pegawai yang ada pada masing-masing instansi publik di Indonesia sehingga tidak ada lagi duplikasi entri data pegawai. Misalnya, apabila suatu instansi publik telah memutakhirkan data pegawainya, mestinya secara otomatis data pegawai yang ada di BKN juga ikut termutakhirkan. Begitu juga sebaliknya. Sinkronisasi data ini dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi web services yang sudah menjadi standar saat ini.

Keempat, ada satu faktor keberhasilan yang tidak kalah pentingnya dalam pengembangan sistem informasi di lembaga ini, yaitu faktor “kesabaran dan keikhlasan”. Faktor ini merupakan tacit knowledge yang sulit diartikulasikan menjadi explicit knowledge karena setiap individu mempunyai tingkat kesabaran dan keikhlasan yang berbeda-beda. Faktor inilah yang membuat Sispedap bertahan sampai 10 tahun.

Penulis membayangkan jika saja kita memiliki kesabaran dan keikhlasan dalam pengembangan sistem informasi di sektor publik Indonesia, kita akan mampu menopang pemerintah dalam mewujudkan “Pemerintahan Kelas Dunia” sesuai dengan visi grand design reformasi birokrasi nasional.***

 

*) Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman penulis mengawal pengembangan sistem informasi kepegawaian di instansi penulis sejak tahun 1994 sampai dengan saat ini. Tentunya, tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan tempat penulis bekerja.

 

 

Kesan Pertama yang (Tidak) Menggoda: Catatan Perjalanan Dinas Saya

Kesan Pertama yang (Tidak) Menggoda: Catatan Perjalanan Dinas Saya

Beberapa tahun yang lalu, pernah populer istilah ‘kesan pertama begitu menggoda’ yang dipakai sebagai jargon iklan sebuah produk parfum pria. Istilah itu saya coba munculkan kembali. Saya pinjam di sini untuk menggambarkan cerita yang ingin saya sampaikan. Namun, dengan sedikit perubahan, menjadi ‘kesan pertama yang (tidak) menggoda’.

Begini kronologinya. Pagi itu, seperti biasa, cuaca cerah dan langit terlihat indah tanpa balutan mendung (kalimat ini harus saya pakai untuk menciptakan suasana cerita pendek di tulisan ini, he he he ...).

Saya pun menyambut hari pertama masuk kantor dengan penuh semangat. Saya berangkat ke kantor dengan langkah tegap. Demi menjaga kesehatan saya sejak usia muda, saya putuskan berjalan kaki menuju kantor.

Ralat, sebenarnya kesehatan bukan alasan yang utama, tetapi karena saya memang belum mempunyai kendaraan (pembaca boleh tertawa, kalau tega).

Karena masih pegawai baru, kami belum ditempatkan di suatu unit tertentu. Kami hanya dikumpulkan di ruang perpustakaan kantor. Setiap hari kami ngantor di ruangan itu sambil menunggu-nunggu penugasan pertama kali kami.

Pagi itu, ada seorang bapak senior yang mendatangi ruangan, lalu memanggil salah satu teman saya sesama anak baru. Tanpa perlu punya analisis tajam pun saya bisa memprediksi kalau dia akan dapat tugas perjalanan dinas pertamanya.

Saya iri setengah mati! Saya kapan? Ini diskriminasi namanya! Apa semua ini karena saya lebih rupawan? (Monolog saya dalam hati, yang jelas mengada-ada.)

Satu orang, dua orang, tiga orang dipanggil, hingga hanya saya sendirian di ruangan itu. Oke, saya pastikan ini karena saya orang Jawa. Ini rasialis namanya, mentang-mentang teman-teman saya asalnya dari … upps, dari Jawa juga ternyata.

Eh, tapi tidak berarti ini bukan diskriminasi, lho! Pokoknya ini enggak adil. Saya bakal laporin ke Komnas Perlindungan Anak.

Tunggu dulu! Semesta ternyata masih melindungi atasan saya dari ancaman laporan saya itu. Panggilan untuk saya akhirnya datang juga. Untuk mempermudah penggambaran dan penjelasan, mari kita panggil saja bapak itu dengan nama Rawon.

“Mas, minggu depan kita tugas ya. Mengingat ini penugasan pertama, biar bapak saja yang bikin surat tugasnya,” jelas Pak Rawon tenang.

Karena saya terlalu antusias, saya sampai lupa mengontrol suara saya. “Baik, Pak!” jawab saya yang malah mirip orang membentak. Saya mulai panik, takut kalau gara-gara ini saya batal diajak. Belum habis rasa panik saya, Pak Rawon kembali berbicara.

“Berat ini, Mas. Harus siap-siap ya. Kita tugas perjalanan dinas ke Kabupaten Lingga,” katanya.

“Baik, Pak,” jawab saya sedikit lebih pelan.

Jujur ketika itu saya tidak pernah mendengar ada kabupaten itu, apalagi tahu di mana lokasinya.

Selesai briefing singkat dengan Pak Rawon, saya kembali ke ruangan. Sebelumnya, saya sudah dibekali dengan pedoman kerja yang isinya langkah-langkah apa aja yang akan saya lakukan nanti di sana. Dengan semangat membara, saya lahap lembar demi lembar … dan saya tertidur.

***

Begitu saya terbangun, tiba-tiba saya teringat Kabupaten Lingga. Penasaran, saya coba buka google maps. Saya coba ketik ‘Kabupaten Lingga’, dan kemudian … muncullah gambar pulau-pulau kecil di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Masyaallah, perasaan gue kok enggak enak ya. Nih pulau kok kecil-kecil amat ya, keluh saya dalam hati.

Saya mendadak pucat. Seumur hidup, satu-satunya laut yang pernah saya lihat itu cuma laut selatan di Parangtritis. Itu pun, bapak saya pernah cerita kalau dulu saya takut dengan ombak.

Cerita punya cerita, saya takut gara-gara dulu saya mengira buih-buih ombak itu panas, seperti air mendidih. Cerdas, kan? Ternyata, dari kecil bakat analisis saya memang sudah muncul … dengan cara yang aneh.

Kembali ke soal Kabupaten Lingga, ada sedikit kabar baik yang diberi tahu ke saya. Kami berangkat naik pesawat. Denger berita ini, saya langsung sujud syukur, alhamdulillah.

***

Hari keberangkatan pun tiba. Semalam saya lumayan nyenyak tidurnya. Berita soal naik pesawat itu membuat saya jauh lebih tenang. Namun, kabar soal pesawat itu cuma penenang sementara saja.

Bukan karena pesawatnya tidak ada, tetapi masalahnya pesawat yang akan kami tumpangi itu ternyata pesawat kecil bertenaga baling-baling. Makin menyeramkan, pesawat yang berkapasitas 25 orang itu cuma diisi oleh lima orang.

Perjalanan dinas yang durasinya sekitar dua jam, buat saya serasa dua hari, lama banget. Herannya, bukan saya saja yang takut, ternyata ketua tim saya, Pak Rawon, juga sama takutnya.

“Mas, ngeri ya. Saya ini takut naik-naik pesawat, apalagi yang kecil gini.”

“Iya..ya Pak. Saya juga baru pertama kali naik pesawat begini.”

Obrolan yang sama sekali tidak membantu, malahan makin memperparah keadaan.

Hati saya senang bukan kepalang, akhirnya pesawat pun mendarat di bandara. Saya selamat! Sayangnya, kebahagiaan saya cuma sesaat saja. Saya baru diinformasikan oleh pak ketua tim kalau kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan “pong-pong”.

Pong-pong adalah sebutan untuk kapal yang dipakai sebagai alat transportasi penyeberangan antar pulau. Oh, pasti kapal-kapal Feri kayak buat nyebrang dari Banyuwangi ke Bali itu. Monolog saya menenangkan hati. Atau mungkin kapal-kapal kayu kecil-kecil seperti perahu di pantai selatan?

Saya mulai deg-degan. Atau jangan-jangan getek? Rasanya, saat ini saya ingin kejang-kejang. Sambil menghela napas, menelan ludah, dan menahan kentut, saya melangkah gontai masuk mobil menuju pelabuhan pong-pong itu.

Lucunya lagi, saat bermobil menuju pelabuhan, Pak Rawon juga mengeluhkan bahwa ia takut melakukan perjalanan dengan mobil ini.

“Jalannya sempit mas, mana kanan-kiri jurang gitu. Salah dikit, selesai kita, Mas,” ujarnya tanpa menjaga perasaan saya yang juga semakin takut.

Belum habis rasa takut itu, hati saya tergerus ketika menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, ternyata pong-pong itu sejenis kapal kayu yang digerakkan oleh mesin boat. Lebarnya sekitar 1,5 meter dan panjangnya 3 meter. Intinya, terlalu imut dan unyu untuk disebut kapal.

Sewaktu berlayar di laut, naudzubillah ngerinya. Bagi yang jago berenang kalian tetep tidak akan bisa jumawa. Soalnya, sepanjang perjalanan hanya hamparan laut yang terlihat. Perenang sekelas Michael Phelps pun belum tentu bisa selamat jika kecemplung di sini.

Parahnya lagi, ombak waktu itu bukan main tingginya. Saya sampai tak bisa berkata-kata, pasrah, lemas, dan mengerut.

Bagi kalian yang suka wahana permainan di Dufan, saya sarankan mending naik pong-pong aja karena lebih seru dan dijamin menantang. Bukan menantang adrenalin, tetapi menantang maut.

“Saya ini ngeri naik beginian. Di tengah laut kita ‘meregang nyawa’, apalagi mesinnya cuma satu gini. Kalau mati gimana ya,” kata Pak Rawon memecah keheningan.

“Iya … ya, Pak, saya juga ngeri.” Serius, yang ini saya memang ngeri betulan.

Yang saya lihat di sekitar cuma ada pulau-pulau kecil yang kelihatannya tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tiba-tiba, saya benci sekali dengan ketua tim saya ini karena apa yang dia katakan benar-benar terjadi.

Mesin pong-pongnya mati. Saya lirik ke ketua tim saya, raut mukanya berubah makin pucat, sudah mirip zombie yang belum makan seminggu.

Pikiran saya sudah ke mana-mana. Inikah akhir perjalanan saya? Hilang di lautan begini? Mana enggak ada sinyal. Saya kan mau nge-tweet dulu sebelum saya tiada, biar tetap eksis di sosmed.

Beruntung, Tuhan masih memberi saya kesempatan buat tetep nge-snapchat atau nge-vlog di Instagram, eh, buat tetap hidup maksudnya. Mesin bisa hidup lagi, dan perjalanan berlanjut. Saya bahagia sekali, kalau tidak ada Pak Rawon, mungkin sudah saya cium itu mas-mas nahkodanya, ehhh.

***

Tanpa perlu didebatkan, saya langsung mengalami pengalaman yang luar biasa di perjalanan dinas pertama saya. Naik tiga alat transportasi yang lain daripada yang lain. Akan tetapi, satu hal yang bisa saya petik sebagai pelajaran, seberat apa pun medan yang harus ditempuh, akan sangat berat kalau ketua timnya si bapak ini.

Kenapa? Coba kita runut, ternyata bapak ini takut naik apapun. Pesawat dia takut, perjalanan darat dia takut, eh di laut pun dia takut. Lengkap sudah. Gara-gara ini juga, buat saya, kesan pertama itu tidak menggoda. Enggak lagi-lagi deh, bos, ampuuuuun!!!

Padahal, Kabupaten Lingga ini sebenarnya menarik. Di sinilah tempat kelahiran Kerajaan Melayu, kerajaan yang perkembangannya luar biasa. Wilayah kekuasaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi meliputi juga Singapura dan Malaysia.

Kabupaten Lingga ini bahkan punya julukan ‘bundo tanah Melayu’, yang artinya ibu dari budaya Melayu. Kenapa? Karena kerajaan pertama Melayu, ya di Lingga ini. Sederhananya, kalau tidak ada Kerajaan Melayu di Lingga ini, bisa jadi tidak akan ada Singapura dan Malaysia sekarang. Jadi, tidak heran budaya melayu kental banget di daerah ini, termasuk bahasanya.

***

Interaksi Multikultural Dengan Tari Kelinci, Tari Soyong, dan Bakso

Interaksi Multikultural Dengan Tari Kelinci, Tari Soyong, dan Bakso

Minggu 19 November 2017 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah di Moreland Primary School (MPS). Hari itu sekolah menyelenggarakan fete atau festival dengan tema multicultural festival. Anak-anak ini akan menampilkan dua tarian, Tari Kelinci (Bunny Dance) dan Tari Soyong (Soyong Dance).

Multicultural festival atau Carnival of culture yang diselenggarakan oleh MPS adalah event dua tahunan yang dimaksudkan sebagai salah satu strategi mengumpulkan dana untuk pembiayaan sekolah. Ya, sama halnya sekolah di Indonesia, sekolah-sekolah di sini juga mengalami kesulitan pendanaan. Fete adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk mendapatkan dana untuk membiayai kebutuhan sekolah.

Bagi citizen, permanent resident, dan para pemegang visa tertentu seperti saya yang kebetulan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia, memang tidak perlu membayar mahal. Di awal tahun tiap anak membayar 350 dollar. Jumlah yang sangat tidak signifikan dibandingkan teman-teman internasional student yang tidak disponsori pemerintah Australia.

Awalnya, saya pikir tidak akan ada biaya lain lagi selain membayar iuran tersebut. Rupanya saya salah. Kegiatan-kegiantan ekstra ternyata mengharuskan orang tua murid harus membayar, semisal excursion, sleepover di sekolah, tambahan pelajaran seperti renang, musik, dan pelajaran life education. Tidak terlalu besar, tapi cukup sering juga.

Carnival of culture atau fete yang diselenggarakan sekolah anak saya, Amira dan Ayla, juga salah satu upaya sekolah untuk menambah biaya infrastruktur. Dua tahun lalu menurut pihak sekolah uang hasil event digunakan untuk perbaikan play ground dan taman.

Bagi orang tua murid Indonesia, kami sangat senang menyambut event tersebut. Dua tahun lalu komunitas Indonesia di MPS mendapat kesempatan untuk menampilkan tari Saman dan memperkenalkan sate. Tahun ini komunitas Indonesia juga mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Indonesia dan mempromosikan masakan Indonesia.

Alhamdulillah, di antara mahasiswa Indonesia yang ada di sini ada yang memiliki keahlian menari. Namanya mbak Fitriana Murriya, ibu dokter dari Jogja yang sedang mengambil program PhD di Melbourne University. Alhasil, untuk mempersiapkan kemeriahan fete, anak-anak pun berlatih setiap minggu selama hampir dua bulan. Tari yang dipilih adalah Tari Kelinci (Bunny Dance) dan Tari Soyong (Soyong Dance). Kedua tari tersebut sangat pas dengan karakter anak-anak.

Tak hanya anak-anak, ibu-ibu pun juga turut memeriahkan dengan mempersiapkan gemufamire dance yang sedang marak di tanah air. Sejujurnya, bukanlah hal yang mudah bagi orang tua di sini untuk sekedar menyisihkan waktu meski hanya dua jam untuk berlatih atau sekedar mengantarkan anak. Tapi, untuk memeriahkan fete dan sekaligus memperkenakan budaya dan masakan Indonesia rasanya sayang untuk disia-siakan kesempatan emas ini.

Begitulah…tanggal 19 November 2017 pun tiba. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Para bunny-bunny pun lincah melompat-lompat di panggung. Begitu juga dengan big girls yang menarikan Tari Soyong terlihat begitu gemulai menggerakkan tangan dan memainkan kipasnya.

Bagaimana dengan kami para orang tua murid? Kami pun bergembira beramai-ramai ber-gemufamire. Setelah itu dilanjutkan dengan aktivitas melayani pengunjung dengan bakso yang sudah dipersiapkan sehari sebelumnya. Cukup dengan empat dollar, mie bakso yang dilengkapi pangsit goreng pun terasa sangat lezat dinikmati di minggu siang sembari menyaksikan Sicilian Folk Dance dari Italia, Tari Saman Bhineka, Indigeneous Music, Indian Music, Band Anak MPS, serta koor anak-anak grade 1/2.

Hari itu, Tari Kelinci, Tari Soyong dan bakso menemani kemeriahan multicultural festival yang menampilkan makanan dari berbagai negara, antara lain dari India, Jerman, Chile, Ethiopia, Libanon, dan Vietnam. Bangga rasanya jadi orang Indonesia.

 

12
error: