Lembur

Lembur

“Sudah mau maghrib nih, kamu gak pulang?” tanya seorang teman saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sebenarnya waktu pulang sudah lewat sejak tadi.

Aku hanya menggeleng, berusaha menjawab pertanyaannya sesingkat mungkin. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan segera. Tidak ada waktu untuk mengobrol basa-basi dengannya.

“Kamu yakin mau lembur? Udah pernah denger cerita yang beredar akhir-akhir ini, belum?” teman tersebut masih bertanya. Namun, kali ini dengan tas sudah menggantung di pundak. Siap untuk pulang.

“Cerita apa?”Aku malah balik bertanya dengan posisi badan masih asyik menghadapi tabel excel penuh angka. Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan hal yang akan dia katakan. Pasti dia mencoba menakut-nakutiku. Duh, kerjaan ini jauh lebih penting dari sekedar merasakan ketakutan karena hal yang belum tentu ada.

Dia diam sejenak. Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat ragu-ragu, menimbang-nimbang apakah akan bercerita atau tidak, hingga akhirnya berkata, “Mending gak usah tahu deh.”

Aku pun kembali asyik memandangi komputer. Syukurlah dia tidak berani menakut-nakutiku. Toh, aku juga tidak tertarik mendengar apapun yang akan dia ceritakan.

Melihat aku cuek, dia pun menambahkan, “Jangan lihat ke jendela ya. Takutnya ada yang ngintip.” Lantas dia benar-benar pulang meninggalkanku sendirian.

Dasar! Sudah bagus tadi gak mau cerita, sekarang malah bilang jangan lihat jendela segala. “Ah, begituan aja dipercaya,” ucapku dalam hati dan kembali melanjutkan aktivitas. Aku kembali bergelut dengan komputer, berusaha menyelesaikan tugas negara yang harus segera dilaporkan besok pagi. Dengan wajah seremnya “Bosku” mewanti-wantiku tadi sore sebelum dia pulang.

Satu jam setelah temanku pergi dan meninggalkanku sendirian, aku mulai merasa suhu ruangan semakin dingin. Apa karena tinggal aku sendirian ya, jadi suhunya terasa lebih dingin? Meski merasa agak aneh, aku tetap cuek dan memakai jaket untuk sedikit menghangatkan tubuh, lalu melanjutkan tugas yang masih belum selesai tersebut.

Sembari berkutat dengan komputer, sebuah pernyataan terngiang-ngiang di kepalaku. Monolog.

“Kata siapa sih Pegawai Negeri Sipil (PNS) makan gaji buta? Masih banyak loh pegawai yang tulus mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi negara.” Seperti aku contohnya.

Hehe…Sedikit memuji diri sendiri, sesekali, gak apa-apa lah ya…

Beberapa saat kemudian, di tengah keseriusan aku mengerjakan tugas dan keheningan selain suara keyboard tanda aku sedang bekerja, tiba-tiba terdengar dengan jelas suara helaan nafas panjang, “Hehhhh…”

Sontak aku menghentikan kegiatan dan menengok ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari sumber suara. Namun, sudah tidak ada orang di ruangan, kecuali aku sendiri. Lalu siapa yang menghela nafas panjang tadi?

Di tengah kebingunganku, entah kenapa, secara otomatis aku memandang ke arah jendela, tepat mengarah ke pohon beringin yang ada di samping gedung. Suasananya gelap. Terlihat tidak ada orang.

Tapi entah kenapa, rasanya seperti ada seseorang di sana yang memperhatikanku, membuat bulu roma tiba-tiba berdiri. Hawa dan aura ruangan sudah terasa tidak nyaman lagi.

Aku termenung beberapa saat. Mencoba mengacuhkan semuanya dan berusaha untuk fokus kembali menyelesaikan tugas. Namun, pikiranku sudah meracau kemana-mana.

Aku tidak bisa lagi melanjutkan tugas ini. Setelah menimbang-nimbang cukup panjang, akhirnya kuputuskan pulang, meski pekerjaan yang diwanti-wanti oleh “Bosku” tak dapat kuselesaikan.

Perasaanku mulai kalut, lebih tepatnya ketakutan. Namun, walau setakut apapun perasaan yang kurasakan, prosedur pulang tidak boleh diabaikan dan tetap harus dilakukan: matikan ac, matikan lampu, lalu kunci pintu ruangan.

Setelah beberes dengan terburu-buru, aku terkejut ketika hendak menekan tombol remote untuk mematikan AC, aku tertegun memandang AC yang jelas-jelas sudah mati. Lampu powernya terlihat sudah off.

Masih tidak percaya, aku coba menekan tombol on yang ada di remote AC dan seketika menyala. Aku pun buru-buru mematikan kembali, dan bergegas pergi. Dengan tergesa-gesa aku mengunci pintu ruangan yang sangat ingin segera kutinggalkan itu.

Dalam perjalanan pulang aku bertanya-tanya dalam hati. Kalau AC-nya sudah mati, kenapa hawanya sedingin itu dari tadi? Dan… Siapa yang mematikan AC? Seketika aku ingat, hari ini hari Kamis malam atau malam Jumat. Tepatnya Jumat Kliwon. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri.

Di sepanjang jalan pulang aku pun sempat berikir,”Masihkah aku punya pilihan untuk takut pada siapa? Apakah takut pada makhluk di seberang jendela tadi, atau pada “Bosku” sendiri. Ah, rasanya sama-sama menyeramkan.” Bulu kudukku pun kembali berdiri.

***

1
0
Birokrat yang Bermitra dengan Gunung

Birokrat yang Bermitra dengan Gunung

Halo, perkenalkan nama saya Eko, seorang pria yang gemar mendaki gunung sejak kecil hingga kini telah delapan tahun menjadi seorang pegawai negeri. Sebagaimana PNS pada umumnya, saya telah berjanji siap ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. SK Mutasi menjadi bekal saya bertualang, sekaligus menyalurkan hobi mendaki gunung menjelajah bumi pertiwi.

SK terakhir kali menempatkan saya di Kalimantan Timur. Lagi-lagi menempatkan saya di daerah yang tidak ada gunungnya, tidak ada tanda-tanda hawa sejuk khas ketinggian. Saya pernah ditempatkan di Ambon, Maluku, masih bisa mendaki Gunung Salahutu, dan sekali ke Gunung Binaiya di Pulau Seram. Di Ambon, kadang-kadang anak gunung macam saya pun bisa menjadi anak pantai, sekadar untuk menikmati alam.

Akan tetapi, Kalimantan Timur ini lain. Tidak ada gunung, jauh dari pantai, bahkan hutan juga sudah disulap menjadi lahan tambang dan kebun. Ah, nganggur lagi dong perlengkapan pendakian yang sudah saya kompliti sejak kuliah DIV beberapa tahun yang lalu. Begitulah bayangan yang terlintas di benak saya saat SK mutasi itu terbit.

Bagaimana selanjutnya? Ternyata kepindahan itu justru menghadirkan petualangan baru. Hobi saya mendaki kini tidak lagi menjadi sekedar hobi, tetapi menjadi lebih luas ke ranah profesional. Pernahkah Anda mendengar cara kerja pemandu gunung internasional? Kira-kira itulah side job yang saya rintis sekarang.

DL-nya Pemandu Gunung Internasional

Di dunia ASN kita akrab dengan istilah perjalanan dinas luar kota, disingkat DL. Jika DL-nya pegawai di kantor saya umumnya hanya lintas kota – sesekali lintas provinsi di Indonesia, maka aktivitas sebagai pemandu internasional ini dinas luarnya tidak hanya luar kota – tetapi lintas benua.

Begini, bisa jadi seseorang tinggal Australia, tapi di awal tahun ia bekerja memandu naik gunung di kawasan Amerika Selatan. Bulan Maret sampai Mei geser ke Himalaya di Asia. Selanjutnya, Juni sampai dengan Juli DL lagi ke Alaska di Amerika Utara.

Agustus di kawasan Eropa, dan di penghujung tahun ke Indonesia dan negeri ekuator lainnya – negeri-negeri yang tidak mengenal musim pendakian karena perbedaan cuaca tidak begitu ekstrim. Hebat ya? Itulah DL-nya pemandu gunung berkelas internasional, tapi jelas itu bukan saya.

Lebih tepatnya, belum. Saya belum menjadi pemandu pendakian internasional. Namun profesi itu kini kadung menjadi inspirasi. Kini saya masih sering mendaki gunung meskipun tinggal di Samarinda, ibukota Kalimantan Timur yang tak ada gunungnya. Dulu, saya pernah kecewa tidak ditempatkan di Sulawesi atau Lombok yang kaya pegunungan. Alhamdulillah sekarang kecewa itu sudah terobati.

Bukan Lagi Hobi, Tapi Passion

Lalu, kenapa saya ngotot untuk terus bisa dan sesering mungkin mendaki? ini CANDU. Sejak SD saya sudah menjadi pehobi kegiatan hiking dan trekking, walaupun jelajahnya masih sekedar ke Bukit Menoreh. SMP dan SMA saya lebih sering mendaki di sekitaran Jawa Tengah.

Hobi saya semakin menggila saat kuliah di STAN, bergabung di Kelompok Pecinta Alam STAPALA. Pengalaman Ekspedisi STAPALA mendaki Gunung Elbrus di Rusia menjadi titik kritis di mana mendaki gunung bukan lagi hobi, tapi menjadi passion. Kegilaan itu berlanjut, sampai akhirnya menggapai Puncak Carstensz di Papua dan Aconcagua di Argentina. Khusus Carstensz dan Aconcagua, keduanya saya lakukan saat sudah bekerja sebagai ASN dan mendapat restu dari organisasi.

Ekspedisi Carstensz didukung organisasi tempat saya bekerja, kebetulan bertepatan dengan ulang tahun instansi. Bangganya bisa mengibarkan bendera instansi di titik tertinggi Indonesia. Saat ekspedisi ke Aconcagua-pun juga sempat menghadap pimpinan di kantor pusat dengan agenda pamitan. Betapa senangnya kegiatan yang digemari mendapat tanggapan positif dari orang di lingkungan kita bekerja. Ini menjadi penyemangat dan membuka lebar kesempatan untuk terus berpetualang.

Pendaki gunung identik dengan carrier. Carrier yang dimaksud di sini bukan tas ransel mendaki gunung, melainkan orang yang di dalam tubuhnya sudah terjangkiti virus petualangan. Virus itu melekat mendarah daging dan disebarkan ke orang lain. Uniknya, orang lain seringkali minta ditulari virus ini dan tidak ada keinginan untuk sembuh.”

Epilog

Kembali lagi tentang profesi. Boleh dibilang saya punya dua profesi saat ini. Keduanya telah tersertifikasi dan dijalani setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) yang memadai. Selain sertifikat auditor yang saya pakai untuk kerja hari Senin sampai Jumat, seringkali Sabtu Minggu saya pakai sertifikat saya yang satu lagi. Ini sangat adil, “diklat” yang saya lakukan sejak SD di alam bebas membuahkan kompetensi yang bisa dipakai untuk kerja sambilan.

Juga faktor momentum, dunia pariwisata sedang hits. Pariwisata petualangan pun tak ketinggalan. Sesaat setelah munculnya film-film semacam “5 cm” pendakian gunung semakin digandrungi. Tidak ada lagi gunung yang sepi. Jika dulu yang mendaki gunung hanya orang tertentu, kini semua bisa dan menggandrungi.

Profesi yang berhubungan erat dengan pendakian gunung semakin tumbuh, salah satunya guide. Adalah suatu anugerah, hidup di Samarinda tapi bisa tetap melakukan pendakian di berbagai pulau di Indonesia sebagai pemandu gunung. Memang ini masih awal, baru action dua tahun ke belakang, tapi paling tidak saya tetap bisa sering naik gunung sebagaimana hobi saya.

Bagi para auditor di kantor saya, instansi pemerintah pusat, lembaga, BUMN/D, dan pemda memang adalah mitra. Akan tetapi bagi saya, gunung juga adalah mitra. Mitra bertualang, mitra berkembang. Doakan saya makin sukses ya…. Walupun ekarang sedang musim virus, libur dulu.

5
0
Antara Harap dan Takut:  Sebuah Catatan dari Magetan

Antara Harap dan Takut: Sebuah Catatan dari Magetan

Tiga minggu terakhir ini mungkin adalah tiga minggu yang luar biasa bagi sebagian besar dari kita. Anak-anak yang mendadak tidak bersekolah – mereka senang tentu saja, jajaran tenaga medis dan para pemimpin negeri yang harus bekerja serta berpikir lebih keras, ibu-ibu yang mendadak mengemban tugas tambahan menjadi guru dan ibu kantin, atau sebagian pekerja yang terpaksa harus tetap bekerja meski dalam kecemasan.

Saya juga mendadak merasa menjadi seperti Anne Frank, gadis Yahudi yang rajin menulis diary saat bersembunyi selama dua tahun lebih di belakang rak buku, di gedung tempat ayahnya bekerja saat Perang Dunia ke-II. Kita seperti tercerabut secara bersama-sama dari zona nyaman kehidupan normal kita.


Virus itu Hadir di Kota Kami, Magetan

Jujur saja, saat awal-awal berita tentang virus Corona ini berhembus, sikap saya sama seperti sebagian besar kita. Apatis dan optimis. Apalagi saya tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, yang menurut saya letaknya sudah cukup terpencil – kadang ketika ditanya orang di mana itu Magetan, saya harus menyebutkan nama kota tetangga agar mereka punya gambaran di mana kota saya berada.

Beberapa minggu yang lalu saya masih apatis karena Wuhan, asal muasal wabah ini, terlalu jauh dari Magetan. Saya optimis virus itu tak akan sampai di sini, begitu pikir saya saat itu. Tetapi nyatanya, virus itu sampai juga di Indonesia, sampai juga di Jawa Timur, di Magetan yang terpencil. Hari-hari ini adalah hari-hari yang mencekam bagi warga Magetan, setidaknya saya. Adalah sebuah kebohongan kalau saya tidak merasa cemas dengan kondisi saat ini.

Baru Jumat (20/03) lalu Bapak Bupati Magetan mengumumkan 1 orang positif, lantas pada Sabtu (21/03) bertambah 2 orang sehingga total menjadi 3 orang yang positif. Pada tanggal 22 Maret 2020 Bupati Magetan menyatakan keadaan darurat. Sampai tanggal 26 Maret 2020, posisi orang positif di Magetan sudah membengkak menjadi 9 orang.

Sebulan yang lalu, mana pernah terbayang situasi akan menjadi seperti ini. Memang beberapa daerah yang lebih dulu terjangkit, utamanya Jakarta dan sekitarnya, telah memberlakukan kebijakan Working from Home (WFH) bagi para PNS seperti saya, tapi Magetan belum.

Seminggu pertama kami masih mengikuti bimbingan teknis khusus internal kantor di kawasan Sarangan. Setelahnya, karena sedang tidak ada tugas pemeriksaan di luar, kami hanya bekerja di kantor saja untuk mereviu dokumen. Jalanan di kota kami masih lumayan ramai karena hanya dikurangi lalu lintas anak sekolah.

WFH: Ibu yang di Rumah tapi Masih Bekerja
Dua minggu belakangan ini, kantor saya telah mulai memberlakukan WFH – meskipun tidak full, karena setiap pegawai masih harus masuk kerja 2 hari dalam seminggu. Percayalah, bekerja dalam suasana seperti ini, untuk ibu bekerja seperti saya, rasanya tak jauh beda dengan saat harus dinas luar kota. Saya harus memastikan stok logistik di rumah cukup untuk semua anggota keluarga.

Bedanya jelas di masalah psikis. Sedikit banyak ada perasaan was-was yang menghantui meskipun bekerja “cuma” di kantor saja. Bagi saya, bekerja dengan mengenakan masker itu rasanya juga tak nyaman.

Meskipun kemudian ketidaknyamanan itu sirna ketika terbayang betapa beratnya menjadi tim medis yang berjuang di garda terdepan. Mereka harus bekerja dengan segala atribut pelindung diri, bukan sekedar masker. Ironisnya, saat ini atribut itu semakin susah didapat.

Kembali pada soal bekerja sembari tetap di rumah (WFH). Beberapa teman perempuan di kantor mulai mengeluhkan tentang banyaknya tugas sekolah anak-anak. Bagi ibu bekerja (dan tentunya juga bagi ibu rumah tangga), tugas tambahan menjadi guru ini agak kurang menyenangkan.

Kasus di rumah saya sendiri tidak seberat itu. Si Sulung baru duduk di kelas 1 SD, sejauh ini tugas sekolahnya tuntas dan menurut saya jumlahnya masih masuk kategori wajar. Belakangan, ustazahnya mengirimkan revisi tugas, karena menganggap tugas kemarin terlalu berat. Bagi yang tidak merasa keberatan, bisa tetap lanjut dengan catatan “kerjakan semampunya”. Aih…sungguh Ustadzah yang pengertian.

Anak-anak bagaimana? Sejauh ini mereka masih aman terkendali. Seminggu pertama masih bisa jalan pagi dan bermain dengan anak tetangga, masih ikut Taman Pendidikan Alquran (TPA), masih bisa juga shalat jama’ah di masjid dekat rumah.

Kolam ikan kami yang baru dua bulan kemarin disulap ayah mereka menjadi kolam renang mini, juga menjadi dewa penyelamat di saat seperti ini. Baru saat masuk minggu kedua, kami sebagai orang tua memberlakukan kebijakan yang lebih ketat demi keselamatan bersama.

Setelah Kabar Kesembuhan Menjadi Embun Penyejuk

Memasuki minggu ketiga, Si Kecil mulai rewel. Rupanya dia kangen naik odong-odong dan main mandi bola di alun-alun. Semalam kami terpaksa mengajaknya ke alun-alun meski hanya menumpang lewat, demi menunjukkan padanya kalau alun-alun Magetan sekarang sedang ditutup dan tak ada satu pun pedagang atau tukang mainan yang beroperasi.

Sebenarnya, tanpa ada himbauan social atau physical distancing atau apalah itu, Magetan sudah bisa dimasukkan kategori kota sepi. Sekarang setelah ada pandemi ini, suasana Magetan terutama di malam hari, menjadi jauh lebih sepi lagi.

Alhamdulillah, pada tanggal 3 April 2020 yang lalu Dinas Kesehatan Magetan mengumumkan 8 orang positif COVIS-19 yang dinyatakan sembuh (1 orang telah meninggal dunia sekitar seminggu yang lalu). Di tengah gempuran berita-berita negatif tentang Corona, kabar seperti ini ibarat embun penyejuk.

Hanya saja, saya kok jadi khawatir ketika membaca status teman kemarin bahwa Pasar Sayur Magetan sudah kembali ramai. Ada juga video ketika warga bergerombol memadati rumah pasien yang pulang karena dinyatakan sembuh. Apa kita tidak terlalu cepat menyimpulkan keadaan sudah aman?

Kasus kita sekarang jelas berbeda dengan kasus Anne Frank, di mana musuhnya jelas yaitu NAZI. Sementara yang kita hadapi sekarang ini bukan lagi organisasi yang memiliki pasukan dan aktivitas kasat mata, melainkan makhluk yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Terlebih, Pak Jubir Achmad Yurianto juga sudah mengingatkan bahwa ancaman terbesar penyebaran virus ini adalah melalui orang tanpa gejala (OTG).

“Duh Mbak, santuy dikitlah… mbok ya positive thinking… pasti kamu mau ngomong gitu kan?” Nggak apa-apa, sekalian tolong bilangin juga ke Pak Anies Baswedan dan Kang Emil untuk berpikir positif.


Menjaga Keseimbangan Rasa Harap dan Takut

Islam mengajarkan segala sesuatu harus seimbang, termasuk rasa harap dan takut. Jangan karena kita terlalu optimis, terlalu positive thinking, kita jadi terlalu santai dan serba menggampangkan keadaan. Begitu pula sebaliknya, jangan karena kita terlalu takut, kita jadi stres dan mudah panik.

Intinya sama, semua yang serba terlalu itu tidak baik. Sebenarnya, meski keadaan di dunia nyata (terkesan) tidak terlalu mengkhawatirkan, saya jauh lebih pusing ketika membaca berita-berita yang beredar saat ini.

Kebijakan pemerintah yang kata orang Jawa “isuk dele, sore tempe“, pernyataan pejabat A yang diralat pejabat B, birokrasi yang tak berkurang keruwetannya meski dalam kondisi darurat, serta data yang menurut saya “embuh” alias sangat diragukan tingkat kevalidannya.

Maaf teman, saya harus mengatakan, saat ini kita belum berada dalam kondisi baik-baik saja. Pergerakan kurva yang melandai, berita kesembuhan para pasien, dan berubahnya status zona dari merah menjadi kuning atau hijau atau warna apapun jangan dulu melenakan kita. Optimis harus, semangat wajib, tapi jangan sampai membuat kita kehilangan kewaspadaan. Fake positivity lebih berbahaya daripada real negativity.


Pesan Penutup

Hai teman, saya paham kita sudah mulai bosan #dirumahaja, sudah mulai bosan pake daster melulu, sudah kangen menghirup aroma roti dan crepes di Mall, sudah kangen ingin sungkem kepada mertua. Akan tetapi, mari bersabar lagi untuk entah beberapa pekan ke depan.

Tahan diri untuk tak keluar rumah kecuali untuk keperluan penting. Tahan diri untuk tidak mudik (patuhi fatwa MUI saja jika masih bingung dengan keputusan pemerintah. Kalaupun harus mudik, bersiaplah dikarantina).

Jika terpaksa keluar rumah, kita harus ekstra berhati-hati dan mematuhi protokol keselamatan. Yang terpenting, jangan lupa banyak-banyak berdoa, untuk diri dan keluarga kita, untuk para pemimpin kita, untuk rekan-rekan yang berjuang dalam penanganan pandemi ini, untuk para pejuang nafkah, untuk bangsa ini, dan untuk siapapun umat manusia.

Semoga pandemi ini segera berakhir. Aamiin.



2
0
Birokrat Juga Perlu Berlari

Birokrat Juga Perlu Berlari

Judul di atas bukan tentang lari dari kenyataan atau tentang berlari mengejar target kinerja ya, tapi tentang kebiasaan saya berolahraga lari. Lari santai (jogging) merupakan olahraga yang sudah saya lakukan sejak tahun 1998.

Hampir setiap pagi saya jogging mengitari Kampus STAN. Kebetulan saya tinggal di perumahan dalam kompleks kampus, atau lebih dikenal dengan nama perumahan asdos (asisten dosen). Motivasi saya untuk olahraga lari sebenarnya sangat sederhana: bingung nggak ada kegiatan di pagi hari.

Sebelumnya saya tinggal bersama orang tua di Bekasi sehingga harus berangkat pukul 5.30 agar bisa sampai kantor (STAN) pada jam 7.30. Dengan tinggal di perumahan asdos, maka waktu yang biasanya saya habiskan di jalan bisa saya manfaatkan untuk olahraga lari di jogging track yang mengelilingi gedung-gedung perkuliahan.

Kebiasaan lari itu terus saya lakukan ketika dipindahtugaskan ke kota Palembang pada tahun 2002. Setiap pagi saya berlari di Stadion Bumi Sriwijaya yang terletak dekat tempat kos. Kebiasaan berlari ini ternyata membuahkan pertemanan dengan bapak-bapak pensiunan yang juga berolahraga di stadion.

Saya berhenti dari kegiatan lari ketika menikah dan punya anak-anak kecil. Kesibukan mengurus rumah tangga, kuliah dan juga pekerjaan di kantor yang tiada henti membuat aktivitas lari ini tidak bisa dilakukan. Aktivitas lari berganti menjadi piknik bersama keluarga kecil saya di akhir pekan. Saya vakum dari kegiatan berlari selama 8 tahun (2003-2011).

Pada tahun 2011 saya dipindahtugaskan ke Cimahi, Jawa Barat. Saya tinggal berjauhan dengan keluarga kecil saya karena suami dan anak-anak tetap tinggal di Jakarta. Saya akhirnya kembali menjadi bulok (bujangan lokal) tanpa aktivitas pagi.  Hal ini membuat saya memanfaatkan waktu luang di pagi hari dengan kembali berlari.

Saat itu saya berlari di Kompleks Bukit Permata, sebuah kompleks yang letaknya dekat kantor. Aktivitas berlari di kompleks membuat saya melihat bagaimana warga memulai pagi. Bapak-bapak  yang duduk di sadel motor menunggu anak-anak bersiap berangkat sekolah, kelompok ibu-ibu yang mengerubungi tukang sayur, para pegawai toko yang sedang sarapan, atau para pedagang yang sedang mempersiapkan meja dagangan.

Pengalaman Berlari di Melbourne

Akhir tahun 2014, saya mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara selama 3 tahun karena mendampingi suami yang menempuh studi doktoral di Victoria University (VU), Melbourne. Saya tinggal di sebuah daerah yang bernama Footscray dekat Kampus Utama VU. Namun, saya mulai berlari pada tahun 2015, ketika tinggal di Jalan Smith Crescent yang terletak di pinggiran kampus VU.

Kampus Victoria University yang berlokasi di Footscray Park terletak di tepian Sungai Maribyrnong yang bermuara di Phillip Bay, di mana Pelabuhan Melbourne (Port of Melbourne) berada. Di sepanjang tepian sungai ada jalur yang diperuntukkan untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Dengan adanya jalur ini, warga dapat pergi ke arah kota baik dengan sepeda atau skuter listrik. Aktivitas seperti ini memiliki beberapa manfaat, yaitu mengurangi kemacetan, meningkatkan taraf kesehatan, mengurangi biaya transportasi dan menjadi sebuah “Gerakan Hijau.”

Jika di Indonesia saya biasa berlari di pagi hari, di Melbourne ini berbeda. Sore hari setelah bekerja di Queen Victoria Market, saya berlari hingga menjelang Maghrib. Jalur tepian sungai sangat panjang, sehingga saya bisa melakukan beberapa rute yang berbeda-beda untuk variasi.

Jika sedang bosan lari di tepian sungai, saya akan berlari di taman Footscray Park atau di area pemukiman elit Edgewater karena punya dermaga kapal pesiar (yacht) atau pemukiman lainnya. Sembari berlari biasanya saya memotret berbagai obyek menarik yang dilewati.

Bidikan saya kebanyakan bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan atau di halaman warga. Kebetulan Melbourne terletak di negara bagian Victoria yang menisbahkan dirinya sebagai State of Gardens, sehingga banyak taman dan tanaman bunga ada di mana-mana.

Selain di tepian Sungai Maribyrnong, rute favorit saya adalah Cherry Lake, Altona Melbourne. Berbeda dengan suasana sebelumnya, danau ini sepi pengunjung. Di sini dengan mudah kita bisa menemukan burung-burung yang bersarang pada pepohonan di sekeliling danau. Hanya sayang karena jarak yang lumayan jauh membuat saya sulit untuk berlari rutin di sana.

Racing di Borobudur Marathon

Kembali dari cuti panjang saya ditempatkan di kantor pusat Badan Diklat Keuangan yang terletak di Jalan Purnawarman, Jakarta Selatan. Di sini saya juga kembali melakukan aktivitas lari. Mulanya hanya mengisi kegiatan Jumat pagi (krida) dan berlari di seputaran kantor saja.

Namun, ketika membaca  ada komunitas lari Indorunners yang memiliki program TNR (Thursday Night Run) saya tertarik ikut bergabung. Kenapa saya tertarik? Karena aktivitas larinya malam (sesudah jam pulang kantor) dan berlokasi di Gelora Bung Karno (GBK) yang letaknya dekat dengan kantor.

Seminggu sekali ikut berlari (easy run) bersama mereka dan bergabung di WA grup (WAG) membuat saya lebih bersemangat dalam berlari. Dalam WAG tersebut diinformasikan jadwal TNR setiap minggu dan race (perlombaan lari jarak jauh) yang akan dilaksanakan oleh berbagai institusi di berbagai kota bahkan di berbagai negara. Saya sering membaca pengalaman teman-teman yang mengikuti race di grup tersebut.

Awal mulanya saya tidak tertarik untuk ikut race karena kegiatan ini dilaksanakan pada pagi hari. Pukul 5 pagi kita sudah harus siap di lokasi. Satu alasan yang membuat saya tidak ikut race adalah malas keluar rumah pagi-pagi di akhir pekan. Bagi saya, akhir pekan adalah saat kebebasan saya untuk bersantai di rumah pada pagi hari. Setiap hari, Senin sampai dengan Jumat, harus berjibaku dengan waktu untuk bisa berangkat ke kantor.

Saya tidak ingin menambahi kesibukan tersebut di akhir pekan hanya untuk ikut race. Namun, kemalasan itu terkikis ketika saya hadir menyaksikan Borobudur Marathon (Bormar) pada tahun 2018 lalu. Saya menyaksikan event ini karena bertepatan dengan kedatangan sahabat saya dari Melbourne ke Yogyakarta.

Melihat kegembiraan para pelari yang berhasil menyelesaikan maraton tersebut memunculkan minat saya untuk mulai ikut race. Niat yang saya pancangkan adalah menjadikan Borobudur Marathon 2019 sebagai race pertama saya.

Dengan niat tersebut, saya menambah porsi berlari setiap minggunya. Jika sebelumnya, saya hanya lari seminggu sekali, maka kini berubah menjadi lari minimal seminggu dua kali. Jarak yang ditempuh pun semakin jauh, minimal 3 Km setiap latihan.

Dalam perjalanan menuju race Borobudur Marathon, saya juga mendaftarkan diri mengikuti beberapa event untuk ‘pemanasan’. Pertama, saya mendaftar di race dalam rangka Hari Oeang (Oeang Run) 5 KM. Namun sayangnya saya tidak bisa mengikuti race ini karena sedang ada penugasan lain.

Setelah event Oeang Run, saya mempersiapkan diri untuk mengikuti event Bormar. Frekuensi lari menjadi 3 kali seminggu, yaitu Selasa pagi, Kamis malam dan Sabtu/Minggu. Saya lari pada Kamis malam bersama teman-teman dari Indorunners. Sementara di weekend saya biasa berlari sendirian, di taman kluster Discovery Bintaro atau berlari di pemukiman dekat rumah.

Sebelum even Bormar, saya mendapatkan penugasan ke Denpasar. Kebetulan saya menginap di sebuah hotel yang berada di tepi pantai Sanur, maka saya mengambil kesempatan untuk latihan lari di pantai. Lari di pasir butuh upaya yang lebih besar tapi pagi itu saya bisa mencapai jarak 4 KM. Sambil berlari, saya memotret pemandangan matahari terbit (sunrise).

Saya kembali dari Denpasar Jumat sore, beristirahat semalam dan keesokan harinya (Sabtu siang) saya sudah dalam penerbangan ke Yogya untuk menuju kota Magelang. Ketika saya duduk di kursi dalam pesawat, penumpang kanan dan kiri saya adalah sesama peserta Borobudur Marathon. Mereka ikut di kategori Half Marathon (21 KM) dan Full Marathon (42 KM). Akhirnya saya terlibat obrolan seru dengan penumpang sebelah yang sudah berkali-kali ikut race baik di dalam maupun di luar negeri.

Akhirnya, tibalah saat yang dinanti-nanti selama ini. Hari race. Peserta yang pertama kali diberangkatkan adalah pelari kategori Full Marathon pada pukul 5 pagi. Lalu 30 menit kemudian, peserta Half Marathon dilepas. Sementara peserta 10 K start pada pukul  06.10.

Borobudur Marathon diikuti oleh lebih dari 17 ribu peserta. Kategori 10 K diikuti oleh lebih dari 11 ribu peserta, salah satu di antaranya adalah bapak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Rute lari Bormar adalah di desa-desa di sekitar Candi Borobudur. Di sepanjang jalan, terasa sekali antusiasme masyarakat menyambut para pelari.

Dalam Bormar diberlakukan COT (Cut Off Time) dan COP (Cut Off Point). COT untuk kategori 10 K adalah 2 jam. Saya bisa menyelesaikan dengan waktu 1:48 sehingga mendapatkan medali 10 K Finisher. Dari 11 ribu peserta 10 K, hanya sekitar 11% yang waktunya di bawah COT.

Saya sangat bersyukur sekali, keinginan setahun yang lalu untuk ikut race pertama adalah Borobudur Marathon terkabulkan. Hal ini tak lepas dari dukungan suami tercinta yang mengizinkan istrinya ikut race yang jauh dari rumah dan bersedia menjaga kedua anak remaja kami. Bukan hanya izin, tapi juga biaya tiket menuju dan kembali dari Borobudur juga disiapkan oleh suami.

Airforce Run dan Ketagihan Berlari

Race kedua saya adalah Airforce Run yang digelar di Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusumah. Sebuah race yang menarik karena kita berlari di landasan pesawat AURI. Setelah race kita dapat berfoto di dalam pesawat atau berpose dengan Paskhas dan peralatan tempur yang dimiliki AURI. Saya ikut di kategori 5K dengan catatan waktu 47 menit.

Bagaimana rasanya setelah dua kali ikut perlombaan lari semacam ini? Ternyata, setelah dua kali mengikuti race, masih ada race lain yang saya ingin ikuti. Ah, ternyata benar candaan pelari sebelah saya di pesawat bahwa ikut race itu bikin ketagihan. Ketagihan ini membuatku bertekad akan terus berlari.

Jadi?

Berlari tidak hanya memfasilitasi saya sebagai birokrat untuk menjaga tubuh yang sehat, tapi juga menawarkan berbagai ragam pengalaman. Menikmati aktivitas warga, mengabadikan pemandangan alam yang indah, serta bertemu dengan kawan baru membuat berlari menjadi kegiatan yang mengasyikkan.

Bagaimana dengan Anda?

 

 

4

0
Flight of The Treasurer: Merantau Karena SK – Pulang Karena Cinta

Flight of The Treasurer: Merantau Karena SK – Pulang Karena Cinta

Kutuliskan kisah ini bukan untuk ditiru!

Tulisan ini sekedar menggambarkan bagaimana ketika rindu berkumpul dengan keluarga mengalahkan perhitungan lainnya. Tulisan ini merupakan  pengembangan dari status pada akun facebook saya pada tanggal 12 November 2018 ketika kami, para treasurer, masih dalam suasana berduka atas kepergian rekan sejawat yang menjadi penumpang penerbangan pesawat dari maskapai Lion Air JT-610 tanggal 29 Oktober 2018.

Saya bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), yang mempunyai unit vertikal tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebanyak 34 kantor wilayah plus 183 kantor pelayanan, yang tersebar di seluruh ibukota provinsi dan kota/kabupaten, membuat DJPb menjadi salah satu unit eselon 1 terbesar di Kementerian Keuangan.

Hal itu berarti bahwa pegawai DJPb, kita sebut saja treasurer, tersebar di seluruh wilayah NKRI, yang berarti pula bahwa sebagian besar dari mereka merantau untuk melaksanakan tugas. Di antara yang merantau tersebut (mayoritas pria) sebagiannya tidak membawa serta keluarga dengan berbagai pertimbangan.

Berjauhan secara fisik dengan keluarga tentu saja mempunyai dinamika tersendiri, terutama dalam hal komunikasi sampai menjaga komitmen. Tentu saja yang tidak kalah penting adalah waktu untuk pulang mengunjungi keluarga yang harus diatur jadwalnya secara baik.

Wahana transportasi yang digunakan untuk perjalanan pun menjadi beragam. Sebagian cukup menggunakan wahana transportasi darat, mulai dari sepeda motor, mobil, bus, dan kereta api.

Sebagian lagi dipadukan dengan wahana transportasi laut, ataupun wahana transportasi udara. Bagi yang melaksanakan tugas di unit yang sangat jauh, yang untuk pulang-pergi harus menggunakan pesawat udara, tentu tidak setiap waktu dapat mengunjungi keluarga tercinta.

Selain jadwal penerbangan dan biayanya, masa hak cuti yang dimiliki juga sangat menentukan waktu kepulangan. Cuti bersama, dan hari libur nasional yang berdampingan dengan hari libur pekanan adalah salah satu waktu favorit untuk bisa pulang menemui keluarga.

Dan inilah salah satu kisah seorang treasurer ketika pulang mengunjungi keluarga.

Kala itu, hari Jum’at di bulan Mei tahun 2012, dikeluarkan pengumuman bahwa hari Senin, 3 hari berikutnya, dinyatakan sebagai hari cuti bersama karena hari Selasa merupakan hari libur nasional keagamaan. Terbayang sudah “libur panjang” bagi kami selama 4 hari.

Alangkah bahagia jika bisa berkumpul dengan keluarga di kampung (homebase) bukan di kota tempat bertugas seorang diri. Malamnya saya menghubungi istri, menyampaikan bahwa saya ingin pulang saja agar bisa berkumpul dengan dia dan anak-anak tercinta.

Saat itu seorang teman juga berencana libur di kota lain dan akan naik pesawat paling pagi esok harinya, Sabtu. Akhirnya saya berencana ikut mengantar sekaligus mencoba mencari tiket dadakan (go show, istilahnya). Kalau dapat ya syukur, tidak dapat, ya nasib.

Sabtu pagi subuh kami berangkat ke bandara. Berbekal uang di dompet sebanyak 700 ribu rupiah, tidak bertambah karena ketika mampir di anjungan tunai mandiri (ATM) sepanjang perjalanan ternyata tidak berfungsi, saya bertekad (lebih tepatnya nekad) ingin pulang.

Tiba di bandara, saya mencoba melihat situasi bagaimana agar bisa berkomunikasi dengan petugas bagian penjualan tiket. Akhirnya melalui loket kecil saya menanyakan, apakah masih tersedia tiket penerbangan (kursi kosong)? Petugas menanyakan nama dan nomor handphone, dan berjanji  akan menghubungi saya dalam beberapa menit kemudian.

Sementara itu, teman yang saya antar sudah melakukan check-in dan menuju ruang tunggu. Saya sempat berpesan kepadanya sekiranya nanti uang yang saya pegang tidak mencukupi maka saya minta padanya dipinjami uang untuk tambahan pembayaran tiket.

Dengan H2C (bukan rumus kimia, tetapi kependekan dari harap-harap cemas) saya menantikan panggilan telepon sambil menunggu di pelataran bandara. Tak lama kemudian panggilan telepon masuk. Saya angkat telepon itu dengan segera. Ternyata dari petugas tiket yang memberitahukan bahwa hanya ada satu tiket tersisa seharga Rp 1.500.000,00.

Saya pikir tinggi sekali harganya. Saya mencoba menawar dan akhirnya sepakat dengan harga Rp 1.000.000,00. Segera mungkin saya menghubungi teman yang sudah di ruang tunggu dan berhasil mendapatkan pinjaman Rp 300.000,00 untuk melengkapi kekurangannya.

Saya kemudian segera menghubungi petugas tiket. Yang bersangkutan minta berjumpa di ruangan lain bukan di ruang tiket. Uang saya serahkan dan saya hanya mendapatkan secarik kertas boarding pass. Tidak kurang tidak lebih.

Maka saya sangat terkejut ketika ternyata pada kertas tersebut yang tertulis bukan nama saya, melainkan nama seorang wanita. Tertera juga harga tiket yang sebenarnya Rp 800.000,00.

Lebih mengejutkan lagi beberapa saat kemudian saya diminta mengikutinya masuk ke ruang tunggu lalu langsung diantarkan menuju pesawat dan kursi yang harus saya duduki. Setelah itu petugas tiket tadi berbincang sejenak dengan pramugari.

Saya sempat berpikir ajaib sekali kejadian ini. Sementara penumpang lain masih di ruang tunggu dan menantikan pemberitahuan untuk boarding, saya malah diperlakukan seperti penumpang istimewa.

Beberapa menit kemudian penumpang lain berdatangan naik ke pesawat dan duduk di kursi masing-masing, sampai akhirnya pesawat bersiap lepas landas menuju bandara pertama untuk transit. Saya hanya duduk terdiam sambil berpikir bagaimana proses boarding nanti di bandara transit?

Boarding pass saya yang berbeda dengan kartu identitas diri, bisa menimbulkan masalah. Akhirnya saya hanya bisa berdoa dan berharap  semoga penerbangan ini aman dan selamat tanpa kendala.

Pesawat pun lepas landas (take-off). Penerbangan yang mendebarkan itu dimulai. Semakin tinggi pesawat ini terbang, semakin dag-dig-dug (berdebar) jantung ini rasanya. Bermunculan berbagai pertanyaan dalam benak saya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan berbagai bayangan buruk atas penerbangan ini. Nama saya tidak tercatat sebagai penumpangnya.

Bagaimana mungkin, saya yang sejak bertugas tahun 1994 di perantauan – dan jika pulang menggunakan wahana transportasi darat yaitu bus antar-kota antar-provinsi (sebelum masa low cost carrier dalam dunia penerbangan komersil) – selalu mencantumkan nama sesuai KTP karena untuk mengantisipasi risiko yang kemungkinan terjadi.

Akan tetapi hari itu saya menggunakan wahana transportasi yang mempunyai risiko tinggi sebagai seorang penumpang gelap. Sebuah kegilaan yang baru pertama kali saya lakukan dalam hidup saya. Alasan dari itu semua adalah karena kerinduan berkumpul dengan keluarga. Dalam suasana yang semacam itu, yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan memohon keselamatan kepada Tuhan.

Pesawat telah stabil pada posisi ketinggian 33.000 kaki atau sekitar 11.000 meter di udara. Sudah menjadi rutinitas maka pramugari membagikan konsumsi berupa makanan ringan, dan disusul dengan penawaran produk-produk yang sebagian berlabel nama maskapai penerbangan. Biasanya saya membeli satu produk yang harganya masih terjangkau sebagai buah tangan untuk keluarga.

Namun saat itu, jangankan membeli produk tersebut, selembar uang pecahan senilai 1.000 rupiah saja saya tidak punya. Entah karena hal apa, ternyata pramugari justru menawarkan kepada saya untuk membeli parfum yang harganya 400.000 rupiah. Dia mengatakan bahwa harga tersebut sudah sangat rendah dibandingkan harga aslinya.

Bayangkan saja, bagaimana saya harus berulang kali menolak penawaran tersebut karena selain tidak ada lagi uang saya, parfum semahal itu bukanlah produk yang selama ini saya nikmati. Terlalu mewah bagi saya. Dalam benak saya seakan berkata, “Ah, lo kagak tau aje berapa si dompet gue sekarang.

Setelah hampir 1 jam penerbangan maka pesawat akan mendarat di bandara transit. Debaran jantung saya terasa lebih keras bukan karena prosesi pendaratan (landing) namun karena membayangkan bagaimana proses keluar dan masuk kembali ke dalam pesawat. Selama ini penumpang transit selalu harus menunjukkan KTP dan Kertas boarding pass.

Apa yang akan terjadi jika pihak keamanan bandara (AVSEC) mengetahui ada penumpang tidak terdaftar dalam penerbangan ini? Kembali, doa dan doa yang saya mohonkan kepada Allah semoga semua berjalan lancar.

Pesawat sudah berada pada posisi sempurna terparkir di appron, artinya prosesi penumpang untuk keluar dan masuk pesawat akan dimulai. Kembali H2C melanda diri ini. Pramugari memberitahukan prosedurnya.

”… Bagi penumpang yang akan melanjutkan penerbangan dengan pesawat ini menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, kami mohon untuk tetap berada dalam pesawat…,” sebuah kalimat yang terdengar sangat menyejukkan hati saya yang sedang gundah.

Kalimat-kalimat lain pun seakan tidak lagi terdengar. Hanya ucapan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha-Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang terucap diiringi dengan rasa menurunnya debaran jantung ke dalam degupan yang normal. Alhamdulillah.

Prosesi keluar dan masuk penumpang berlangsung lancar dan akhirnya pesawat kembali mengudara menuju kampung halaman tercinta. Tanpa diduga ternyata masih ada “teror kecil” yang terjadi, yaitu pramugari kembali berkali-kali menawarkan produk parfum yang sangat tinggi harganya bagi saya. Astaghfirullah.

 

 

8

0
Imaji Istanbul: Antara Islam dan Politik

Imaji Istanbul: Antara Islam dan Politik

Sebuah pepatah klasik Eropa mengatakan,
“if you want riches, go to India. If you want learning, go to Europe. But if you want imperial splendour, come to the Ottoman Empire and its capital, Istanbul”.

Pepatah tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya kemegahan Imperium Ottoman dan pesona ibukotanya, Istanbul. Istanbul benar-benar kota yang eksotis dan menyihir. Eksotisme dan sihir Istanbul sebagai bekas ibukota dua negara adidaya dunia sekaligus, Byzantium (Romawi Timur) dan Ottoman (Turki Usmani), masih terus terpancar hingga sekarang.


 

Kaisar Legendaris Perancis, Napoleon Bonaparte, bahkan pernah berujar tentang kemegahan Istanbul, “Jika dunia ini adalah satu negara, maka Istanbul yang paling pantas untuk menjadi ibukotanya”.

 

 

Terletak di tepian Selat Bosphorus yang membelah Eropa dan Asia, Istanbul pun menjadi satu-satunya kota di dunia yang berdiri mengangkangi dua benua sekaligus. Di sinilah tempat bertemunya Timur dan Barat, kota tua pusat dunia yang terkenal di masa lalu maupun di masa sekarang.

Saya dan istri berkesempatan mengunjungi Istanbul pada awal bulan November 2018 yang lalu, dalam sebuah misi perjalanan kebudayaan, pendidikan, sejarah, dan cinta tentunya. Bertolak dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, kami tiba di Bandara Internasional Sabiha Gokcen Istanbul sekitar pukul 7 malam.

Sebelumya kami sempat berkeliling Ibukota Qatar, Doha, untuk menghabiskan waktu transit seharian penuh. Bandara Sabiha Gokcen sendiri merupakan bandara internasional kedua di kota Istanbul, yang terletak di wilayah pinggiran Istanbul bagian tenggara.

Sabiha Gokcen adalah nama wanita pertama Turki yang menjadi pilot sepanjang sejarah negara itu. Sabiha Gokcen tercatat sebagai salah satu anak asuh Bapak Turki Modern Mustafa Kemal Ataturk. Sabiha Gokcen juga dikenang sebagai salah satu ikon tonggak sejarah kemodernan dan kemajuan perempuan Turki.

Setelah melewati prosesi imigrasi yang sangat mudah, kami pun keluar bandara. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Istanbul, kami tak terlalu menemukan imaji Turki yang islami sebagaimana dibayangkan pengagum Recep Teyyip Erdogan dan Adalet ve Kalknma Partisi (AKP) di Indonesia.

Kami juga tak banyak menemukan kemurungan yang berulang kali dibicarakan Orhan Pamuk (Novelis Turki Penerima Nobel Sastra 2006) sebagai jiwa Istanbul. Mungkin kami salah memilih tempat, namun di seputar hotel tempat kami menginap di dekat dermaga Eminonu, hedonisme sangat mudah terlihat.

 

 

Di Jembatan Galata, tempat di mana kami sering makan malam, berjejer restoran-restoran mewah yang dipenuhi lampu remang-remang. Tempat ini dipadati pengunjung berpakaian dandy, yang kecemerlangannya tak kalah dari orang-orang Eropa di London, Madrid, Berlin atau Paris.

Tentu gampang menemukan perempuan berhijab, tetapi jumlahnya tidak mencolok untuk ukuran negara dengan partai penguasa berbasiskan agama, yang di Indonesia banyak dianggap sebagai representasi pemerintahan Islam yang pantas diteladani.

Beberapa orang terlihat mengenakan kopiah khas Turki, fez, tetapi rasa-rasanya kebanyakan orang-orang tua yang mengenakan. Jarang anak muda yang mengenakan fez di kepalanya. Pemuda pemudi Turki lebih senang memakai pakaian modern ala Eropa.

Saat menelusuri beberapa tempat di Istanbul, bukan hal aneh melihat apa yang terjadi di mobil-mobil berkap terbuka. Public display of affection, dari sekadar berangkulan sampai berciuman, sering kali kami lihat.

Saat hangout di Jalan Istiqlal yang menjadi kawasan turis Istanbul, suasana peringatan Republic Day masih sangat terasa (peringatan Cumhuriyet Bayram atau Republic Day, 29 Oktober, untuk mengenang berdirinya Turki menjadi republik). Suara knalpot mobil, ditingkahi teriakan yang tak kami mengerti, memecah dentuman suara musik dari klub-klub malam.

 

Dari salah satu mobil dengan kap yang terbuka, sepasang anak muda mengibarkan bendera Turki sembari berciuman mesra. Tak sulit juga mencari “kehangatan” lain. Tak jauh dari kawasan bersejarah Istana Topkapi, di belakang Mesjid Biru yang indah itu, beberapa hotel memancarkan kemesuman yang tak ditutup-tutupi.

Turki adalah negara yang resminya berstatus sekuler, jadi wajar jika imaji kehidupan sekuler mudah terlihat. Tapi tak berarti suasana religius absen. Di beberapa titik sangat mudah terasa suasana tersebut. Saat waktu shalat tiba, persis seperti di Indonesia, suara azan segera menghampiri telinga di manapun kami berada.

Pada malam berikutnya, ketika kehidupan malam di seputaran Distrik Besiktas mulai berdenyut, suara azan isya terdengar di sela-sela musik yang berdentam, sesuatu yang juga akan ditemukan jika nongkrong sampai subuh di berbagai tempat hiburan malam di Indonesia.

Pada salah satu senja, kami menyambangi Uskudar, sebuah pantai yang letaknya di sisi Istanbul Asia. Sembari menikmati kesejukan udara Selat Bosphorus dan Laut Marmara, saya menyesap segelas kopi Turki yang terkenal itu. Kopi ini dijual oleh seorang bocah yang berjalan menenteng termos, hampir mirip dengan para penjual kopi di sekitar Monas.

Di sepanjang Pantai Uskudar ini, “kebeningan” wanita-wanita Turki juga sangat terasa. Sambil menunggu sang mentari terbenam, mereka duduk menikmati angin laut berdua-duan dengan pasangannya masing-masing.

 

 

Berbicara tentang korelasi sejarah Republik Turki dan Republik Indonesia, tentu tidak sulit dicarikan titik temunya. Walaupun polemik masing-masing negara berangkat dari titik pijak yang berbeda, tapi polemik itu memperlihatkan dengan baik bagaimana Turki memberikan sentuhan khas kepada kebangkitan nasionalisme Indonesia.

Turki bahkan sudah lama menjadi bahan perbincangan para aktivis pergerakan nusantara jauh sebelum era perjuangan 1940an itu. Bersama kebangkitan nasional Mesir dan kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang tahun 1905, keberhasilan Kelompok Turki Muda membebaskan Bangsa Turki dari pendudukan Sekutu menjadi dian yang ikut menyalakan semangat para aktivis pergerakan Indonesia.

Hampir semua diktat pelajaran sejarah di sekolah, dalam bagian tentang zaman pergerakan, selalu menyebut “Turki Muda” sebagai salah satu elemen penting yang ikut menyumbangkan peran dalam kebangkitan nasional Indonesia.

Saat ini, selain irisan persamaan politik dengan Partai AKP, kesukaan pada pan-islamisme ala Erdogan agaknya dipicu oleh imaji tentang semangat menghidupkan lagi kejayaan Islam dengan cara-cara modern, yang mengesankan akan kesanggupan berhadapan dengan Barat secara berani.

Ditatap dari jauh, sangat mungkin imaji tentang Erdogan dan AKP memang mewakili “semangat muda” – artinya kehendak untuk maju – Islam politik yang sedang berderap-berbaris, berbareng-bergerak.

Ia (Erdogan) bukan hanya terjepit di antara Timur dan Barat, sebagaimana semua Sultan Turki Ottoman di masa silam. Berhadapan dengan Eropa yang menekankan standar tertentu jika Turki ingin diterima Uni Eropa, dikepung persoalan Timur Tengah yang pelik dan super ribet, Erdogan dan AKP mampu terus bertahan sejak berkuasa pada awal milenium ketiga.

Saat wajah Islam di beberapa negara Timur Tengah diselimuti kemuraman, ketika intrik politik di negara-negara Arab mengemuka dan kabar hedonisme para pangeran Arab tak dapat dicegah peredarannya, Erdogan menjadi pilihan paling masuk akal bagi mereka yang rindu menyaksikan Islam (politik) berkibar dengan terhormat.

Ingatlah kata-kata Napoleon yang terkenal itu: “A leader is a dealer in hope”. Pemimpin itu adalah yang mampu memberikan harapan untuk rakyatnya, bukan yang menyatakan bangsanya akan hancur suatu hari nanti.

 

 

 

2

0
error: