Menyelamatkan Pengetahuan Lokal, Melestarikan Alam:  Kisah Blusukan di ‘Ubud Writer and Reader Festival’

Menyelamatkan Pengetahuan Lokal, Melestarikan Alam: Kisah Blusukan di ‘Ubud Writer and Reader Festival’

Hasrat njajah deso milangkori saya sebenarnya sudah jauh turun dibandingkan dua puluh tahun lalu. Karena itulah terkadang saya merasa cukup berdiam diri di kamar kos di hari Sabtu dan Minggu. Dulu saya suka blusukan tanpa arah. Satu hal yang paling saya sukai dari aktivitas tersebut adalah ketika saya tersesat. Lucu dan tidak terlupakan.

Pertengahan Okteber lalu, tanpa sengaja saya membaca status teman yang ingin datang di Ubud Writer and Reader Festival  (UWRF). Segeralah saya bertanya ke mbah Google. Mata saya langsung berbinar karena acara tersebut diselenggarakan pada saat yang sama dengan penugasan saya ke Denpasar. Sebagaimana kalimat pertama dalam tulisan ini, banyak sekali godaan yang mengendurkan niat tersebut,. Saya pun ragu, ya atau tidak, ya atau tidak.

Keraguan yang Meyakinkan

Ada banyak pertimbangan yang membuat saya ‘maju mundur’. Ubud, lokasinya bukan di kota Denpasar, tapi di Gianyar. Saya cek di aplikasi penyedia layanan transportasi tarifnya mencapai 100 ribuan dari hotel yang saya tinggali. Harga tersebut tentu juga mencerminkan jarak yang lumayan jauh nan ngaluk-aluk.

Di sisi lain, entah bisikan dari mana, ada keyakinan bahwa saya harus ke sana. Sayang dilewatkan, begitu pikir saya. Belum tentu (atau sudah pasti, ya) tahun-tahun ke depan saya bisa mengunjungi karena jaraknya jauh dari Jakarta maupun Makassar. Sementara, ini momennya pas, pas saya ada di Denpasar.

Alasan yang cukup kuat bukan? Ternyata tidak juga, karena langsung dibantah bisikan lain, ah, di Makassar juga sering diselenggarakan “Makassar Writer Festival,” untuk apa ke Ubud.

Pertarungan bisikan itu akhirnya berakhir dengan, “Yo wis lah tak mrono” (Ya sudahlah saya kesana- red). Ubud memiliki karakter daerah yang berbeda dengan Makassar. Jadi, festival yang diselenggarakan di Ubud dan di Makassar tentu berbeda.

Niat itu ternyata masih diuji. Dini hari jelang ke Ubud, sekitar jam 03.30, betis saya terasa kram. Tidak lama, paling sekitar tiga puluh detik, tapi sempat membuat saya meringis kesakitan. Sewaktu saya coba jalan, rasa bekas-bekas kram masih ada. Wah, jangan-jangan ini isyarat supaya saya jangan ke Ubud. Setelah satu jam, rasa sakit itu pun pergi.

Jadilah pagi itu saya mbolang (menyerupai bocah petualang-red) sendiri. Niatnya, mengulang keter-blasuk-blasukan saya sekian tahun silam. Sebenarnya saya ingin naik angkutan umum, seperti bis atau angkutan kota. Sayangnya, moda transportasi ini sudah sulit ditemuan di Bali. Masyarakat lebih suka mengendarai motor untuk bepergian. Selain menghemat, banyak hal menarik yang bisa ditangkap ketika saya memakai bis atau angkutan kota.

Diskusi Lokal Rasa Internasional

Sekitar pukul 10.30 sampailah saya di lokasi. Masih sepi. Hanya beberapa orang berlalu lalang.  Saat itu sedang berlangsung program utama yang mengupas tentang local wisdom. Sekitar dua ratusan orang asyik menyimak paparan aktivis lingkungan tentang bagamana seharusnya mengelola alam.

Sebagaimana prediksi saya, kebanyakan yang hadir adalah ‘orang Inggris’, sebutan bule oleh anak saya saat ia berusia delapan tahun. Dari beberapa yang menyimak acara tersebut, hanya beberapa yang saya dapati berambut hitam seperti saya. Ini lah yang sepertinya membuat Ubud Writer and Reader Festival berbeda dengan yang diselenggarakan di Makassar.

Tentu, ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa orang Indonesia tidak memiliki minat terhadap festival tersebut. Faktor lokasilah yang menurut saya menjadi pengaruh yang cukup signifikan. Andai Festival tersebut di selenggarakan di Denpasar, saya yakin akan banyak orang Indonesia yang mengunjungi. Meski saya belum pernah datang di Writer Festival di Makassar, dari hasil ‘googlingan’ terlihat banyaknya orang Indonesia yang hadir.

Lha Ubud sendiri kan memang penduduk bule-nya banyak. Belum lagi, tidak ada bis atau angkutan umum murah meriah menuju lokasi. Jadi sangatlah wajar kalau yang datang pun kebanyakan orang asing yang tidak asing dengan Ubud. Kebalikan dengan saya, bukan orang asing yang asing dengan Ubud.

Langsung saya mengambil tempat duduk, lalu menyimak diskusi. Dari menit pertama persimakan, saya sudah dibuat bergumam, “Aha, impas sudah mbolang saya.” Para pembicara yang sedang membahas tentang local wisdom ini menyuarakan bagaimana menjaga bahasa lokal, kisah dan pengetahuan, serta memberdayakan komunitas di Indonesia. Pemahaman akan kearifan lokal diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pentignya Pengetahuan Lokal

Dalam banyak hal, masyarakat lokal memiliki pengetahuan untuk untuk mengelola alam dan sekitarnya. Sayangnya, dalam penyusunan kebijakan, pengetahuan-pengetahuan tersebut sering diabaikan. Misalnya, sebelum terjadi gempa di Palu, tanda-tanda alam seperti perubahan perilaku hewan sudah terlihat.

Leluhur memiliki pengetahuan lokal akan hal ini. Mereka juga memahami mana area-area bumi yang dapat dimanfaatkan dan mana yang dilarang. Hal ini disampaikan oleh Rukmini Toheke pendiri Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro yang bergerak dalam upaya untuk mendukung dan menguatkan peran perempuan. Rukmini juga mendorong agar pengetahuan-pengetahuan lokal untuk menjaga bumi tetap terpelihara melalui penddikan kepada generasi-generasi muda.

Pentingnya pengetahuan lokal ini juga terlihat ketika terjadi tsunami di Aceh. Saat itu ada suatu area yang jumlah korbannya sangat sedikit. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah karena masyarakat di daerah tersebut mampu mendengarkan suara alam yang merupakan pengetahuan lokal yang diturunkan antar generasi.

Menariknya, pengetahuan lokal ini justru banyak dimiliki oleh para wanita, para ibu.  Salah satu pembicara saat itu adalah Sanne Van Oort, pendiri Mother Jungle yang mendukung para ibu pada masyarakat adat untuk melestarikan pengetahuan melalui tradisi bercerita sebagai bagian dari budaya dan konservasi lingkungan.

Mother Jungle menawarkan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan baik untuk individu ataupun kelompok untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru guna membangun dunia yang lebih berkesinambungan untuk generasi masa depan.

Menurut Sanne, perempuan adat memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi agen perubahan. Mereka berhasil hidup bertahun-tahun di hutan. Dari merekalah kita dapat belajar bagaimana memanfaatkan hutan tanpa merusaknya.

Kita juga bisa belajar bagaimana mereka mengajarkan pengetahuan-pengetahuan tersebut kepada anak-anaknya secara turun temurun. Sayangnya, dalam banyak hal, tanah mereka diambil dan hak-hak dasar mereka tidak dihormati. Karena itulah, menurut Sanne, Mother Jungle mengambil peran untuk mendorong para perempuan untuk bersuara.

Menarik bukan?

Melestarikan Pengetahuan

Bagi saya yang dua hari sebelumnya baru saja mengikuti FGD tentang knowledge management systems (KMS), duduk bersama dan mendengarkan para aktivis lingkungan ini jelas memperkaya materi yang saya dapatkan. Setidaknya, pertama, saya semakin memahami mengapa kita harus melestarikan knowledge.

Kedua, sosok Sanne Van Oort menjadi menarik karena ia, yang bukan asli Indonesia, begitu termotivasi untuk mengumpulkan knowledge masyarakat adat di Indonesia. Tentu, ini menjadi refleksi tersendiri bahwa terkadang hal-hal semacam ini sering terabaikan.

Ketiga, meng-capture knowledge itu memang tidak mudah, meski juga tidak berarti tidak mungkin. Menggali informasi dari para perempuan adat tentu tidak semudah mencari jawab dari para public figure.

Dalam banyak hal, struktur masyarakat kita belum memberikan kesempatan pada perempuan untuk bersuara. Karena itulah, tantangan yang dihadapi oleh para aktivis ini adalah bagaimana melakukan pendekatan baik kepada para perempuan tersebut agar memeliki keberanian untuk berbicara.

Hal yang sama juga terjadi dalam proses ketika kita ingin meng-capture knowledge dalam suatu organisasi. Berbeda dengan konteks masyarakat adat, anggota organisasi butuh insentif lain agar mau berbagi tacit knowledge-nya untuk organisasi.

Sebagaimana juga knowledge komunitas adat yang bisa hilang jika tidak dilestarikan, knowledge organisasi juga bisa musnah seiring dengan kepergian para anggotanya baik karena pindah, pensiun, atau meninggal.

Epilog

Kembali kepada penjajahan deso milangkori saya, usai diskusi para peserta dipersilakan foto dan chitchat-an atau mengobrol dengan pembicara. Saya tetap duduk di kursi sembari berfikir untuk menanyakan sesuatu kepada pembicara. Kalaupun bertanya, saya pun belum tau apa yang yang mesti saya tanyakan. Di sisi lain, sayang kalau saya melewatkan kesempatan mengobrol dengan pembicara.

Setelah beberapa menit, saya pun maju menghampiri pembicara. Masih ada beberapa orang yang mengantri untuk berbicara dengan mereka. Saya masih belum terfikir secara jelas apa yang akan saya tanyakan. Beberapa menit pun berlalu hingga…aha… saya merasa bahwa saya harus berbicara dengannya, harus!

Tiba giliran, saya  pun memperkenalkan diri pada Sanne. Saya sampaikan bahwa saya adalah government official dan baru saja mengikuti FGD tentang KMS. Saya katakan pula bahwa apa yang dia sampaikan sangat bermanfaat sekali buat saya.

Dia sangat antusias saat saya katakan bahwa saya dari government karena hal-hal seperti apa yang dia sampaikan perlu diketahui oleh pemerintah. Tentu, agar kebijakan yang diambil juga turut mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan lokal masyarakat setempat.

Di akhir pembicaraan, saya tanyakan apakah dia bersedia diundang ke kantor suatu saat. Sure, begitu jawabnya. Yang pasti, tak lupa saya pun berselfie dengannya sebelum kami bertukar nomor handphone.

Begitulah ending kisah blusukan yang menarik dan tidak saya sangka. Hal-hal indah seperti itulah yang selalu saya percayai ketika saya ingin njajah deso milangkori, selalu ada yang baru dan menyegarkan dalam setiap kisah petualangan.***

 

 

0
0
Kemenkeu Mengajar: Menebar Inspirasi Memupuk Cinta Pada Negeri

Kemenkeu Mengajar: Menebar Inspirasi Memupuk Cinta Pada Negeri

Pagi ini aktivitas yang kulalui terasa sangat nyaman. Suara mesin yang kudengar berbeda dengan suara mesin di hari biasanya. Sesama pengendara lebih bersahabat, melambaikan tangan saling sapa, tidak ada “perang klakson”, dan tidak terdengar pula umpatan “sampah” di antara mereka.

Ya….pagi ini kulalui perjalanan dengan kapal menuju Pulau Tidung, salah satu pulau di Kepulauan Seribu untuk melaksanakan tugas sebagai relawan Kemenkeu Mengajar (KM).

Sesampai di tujuan, penduduk setempat menyambut hangat dan membantu menyandarkan kapal yang kami tumpangi. Kami pun segera turun dan bergegas ke sekolah tempat di mana kami akan mengajar.

Sekilas Tentang Kemenkeu Mengajar

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), institusi yang sarat akan prestasi dan selalu mendorong pegawainya untuk tulus mengabdi, memiliki Program Kemenkeu Mengajar yang dilaksanakan selama satu hari di sekolah dasar.

Dalam program ini relawan akan mengajarkan tentang peran dan upaya Kemenkeu dalam menjaga ekonomi negeri dan mengenalkan profesi yang ada di Kemenkeu. Relawan juga akan mengajarkan nilai-nilai dan semangat yang dibawa oleh Kemenkeu.

Kegiatan ini mengusung semangat kesukarelaan. Panitia tidak memungut biaya apa pun pada sekolah dan pegawai yang mengikuti. Relawan KM juga tidak akan mendapatkan pembayaran, baik honor maupun SPD. Biaya yang ditimbulkan atas penyelenggaraan kegiatan ini tidak dibebankan pada APBN (Non-APBN).

Program KM sudah berjalan selama tiga tahun dan dilakukan secara serentak di seluruh pelosok negeri. Minat pegawai Kemenkeu untuk menjadi relawan KM sangat tinggi. Oleh karena itu, proses rekrutmen calon relawan pun dilakukan beberapa bulan sebelum program KM dilaksanakan.

Di unit kami Program KM adalah program yang ditunggu-tunggu, termasuk saya. Pada saat apply ke sistem rekrutmen KM masing-masing calon relawan harus memiliki bahan ajar dan strategi mengajar yang menarik agar dapat terpilih sebagai relawan pengajar.

Pelaksanaan Kemenkeu Mengajar

Setelah terpilih, relawan KM kemudian dibagi dalam beberapa kelompok. Kami dikumpulkan untuk mendapat briefing dari para praktisi pendidikan termasuk dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar proses belajar-mengajar berjalan profesional dan sesuai etika yang berlaku.

Pertemuan berikutnya diserahkan kepada masing-masing kelompok yang dikoordinir oleh seorang pegawai yang ditunjuk sebagai fasilitator kelompok. Pertemuan kelompok ini dilakukan beberapa kali di luar jam kantor untuk membahas bahan ajar, pembagian kelas, sharing pengalaman dengan relawan KM tahun sebelumnya, dan berapa besarnya iuran oleh masing-masing relawan.

Iuran ini digunakan untuk pembuatan spanduk, plakat, topi lingkar, name tag, kaos, konsumsi, transportasi dan sebagainya. Fasilitator juga bertugas melakukan koordinasi dengan pihak sekolah agar kegiatan KM tidak mengganggu agenda sekolah.

Hari Senin, 22 Oktober 2018 adalah hari kami bertugas mengajar. Kegiatan dimulai dengan mengikuti upacara bendera, lalu dilanjutkan dengan bermain bersama di lapangan upacara. Selanjutnya kami memasuki kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Menurut jadwal, saya mengajar dari pagi sampai siang di kelas 1, kelas 2, dan terakhir kelas 3. Sesi pertama dimulai dengan mengenalkan diri dan membagikan topi lingkar dengan nama sebagai tanda pengenal mereka. Sebelum memulai belajar, kami pun berdoa bersama. Tak lupa saya ajak ketua kelas untuk memimpin doa yang ditujukan untuk teman kelasnya yang tidak hadir karena sakit.

Sebelum memasuki sesi berikutnya, saya berikan ice breaking sederhana. Hal ini merupakan salah satu strategi efektif untuk mengembalikan suasana belajar yang diinginkan, ketika suasana bermain di antara mereka sudah melewati dari yang seharusnya.

Satu hal yang menjadi perhatian kami adalah bahwa mengajar bukan ajang menunjukkan kehebatan kita, tetapi bagaimana membuat pembelajar menjadi hebat. Mengajar dengan cara yang menyenangkan itu baik, tetapi mengajar tidak hanya bersenang-senang.

Sesi utama yang saya sampaikan adalah pengenalan institusi Kemenkeu, khususnya bagaimana unit-unit kerja yang ada di kemenkeu dalam menjalankan tugas dan fungsinya bersinergi mengelola APBN.

Termasuk dalam hal ini sinergi dalam mengumpulkan pajak sebagai sumber penerimaan negara dan juga sinergi dalam mengatur pengeluaran/belanja negara secara efisien dan efektif dengan tetap memperhatikan sisi akuntabilitasnya.

Saya juga mengenalkan nilai-nilai Kemenkeu, bagaimana refleksi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan dapat diterapkan oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja penyampaian semua materi di atas saya kemas sesuai dengan tingkatan kelas dan umur mereka agar tujuan pembelajaran tercapai dan menciptakan suasana gembira karena diselingi permainan.

Menumbuhkan Mimpi, Membangun Kejujuran

Satu hal lagi yang cukup menarik ketika saya mencoba menggali mimpi dan cita-cita mereka serta berusaha memotivasi mereka agar dapat meraih mimpi itu. Cita-cita mereka pada umumnya sama seperti anak sebaya lainnya, yaitu dokter, polisi, tentara, pemain sepakbola dan lainnya.

Saya mencoba menjelaskan bahwa pada dasarnya cita-cita kita tak boleh dibatasi oleh keadaan. Semua Cita-cita mereka adalah baik dan dapat diraih dengan cara belajar yang tekun, berdo’a, taat kepada orang tua dan guru, selalu berbuat baik dan tidak sombong.

Kemudian saya sampaikan juga hal-hal terkait profesi yang ada di sekitar kita. Saya juga menekankan bahwa semua profesi itu baik selama dilaksanakan dengan jujur, tidak korupsi, serta selalu memberikan yang terbaik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai penutup adalah atraksi kimia laboratorium Bea dan Cukai yang dilaksanakan di halaman sekolah, penyampaian plakat/sertifikat penghargaan kepada sekolah atas partisipasinya, dan salam perpisahan.

Demikian dari kami untuk negeri.

 

 

0
0
Menyadari Keterbatasan Energi:  Kisah Perjalanan Dinas Lapangan Pertama

Menyadari Keterbatasan Energi: Kisah Perjalanan Dinas Lapangan Pertama

Pengantar

Tulisan ini saya buat bukan untuk membanggakan 12 jam perjalanan saya, bukan pula untuk menyombongkan kesempatan yang saya lalui, apalagi  untuk menampilkan ego sektoral tempat saya mengabdi.

Bukan juga untuk menggurui Anda, para pembaca, karena saya tahu bahwa ilmu saya jauh lebih cetek dari Anda. Pengalaman saya juga tidak ada seujung kuku pun dari Anda. Jadi, tulisan ini lebih kepada untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Ada hikmah yang saya rasakan saat perjalanan dinas pertama saya yang ingin saya bagi sebagai pengingat untuk saya sendiri di kemudian hari, ataupun sekedar penambah referensi dan pandangan Anda.

 Perjalanan Dinas Lapangan Pertama

Tahun 2015 adalah awal saya menjalani bakti sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di kementerian yang mengurusi bidang energi. Sebagai pegawai yang belum lama menggeluti bidang ini, ada hal menarik yang ingin saya bagi kepada Anda, ketika saya ditugaskan melakukan perjalanan dinas pertama ke lapangan.

Saya ditugasi pimpinan untuk melakukan inventarisasi  dan pemeriksaan fisik barang milik negara (BMN) di empat kabupaten di Provinsi Bengkulu. Salah satu aset BMN yang menjadi tanggung jawab tim saya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 15 kWp yang dibangun di Desa Sinar Pagi, Kecamatan Seluma Utara, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Perjalanan Menuju Desa-Desa di Seluma Utara

Desa Sinar Pagi terletak di salah satu bukit di deretan Bukit Barisan nan perkasa yang menopang Pulau Sumatera di Lempeng Eurosia. Bukit tersebut berada di perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Selatan. Desa Sinar Pagi berpenduduk sekitar 800 jiwa.

Untuk mencapai desa tersebut sangat tidak mudah. Sebelum berangkat ke lokasi, tim saya mesti menempuh waktu 90 menit dari Kota Bengkulu menuju pusat perkantoran Kabupaten Seluma, Pematang Aur untuk berkoordinasi dengan dinas terkait sebelum ke lokasi. Dari kantor dinas tersebut, kami baru bergerak menuju ke lokasi PLTS Terpusat yang dibangun menggunakan dana APBN.

Tiga puluh menit pertama perjalanan, jalan yang kami lalui masih bagus nan mulus. Sepertinya jalan tersebut adalah jalan provinsi. Selepas waktu tersebut, mulai dari ujung aspal  jalan provinsi itu hingga satu setengah jam perjalanan kemudian, jalan yang kami lalui adalah jalan berlubang dan berbatu.

Beberapa kali mobil yang kami tumpangi tidak kuat menanjak di jalan berkontur kasar tersebut sehingga kami pun harus turun dari mobil agar pengemudi dapat melewati rintangannya.

Tiba di Desa Talang Empat, bapak pengemudi menyerah untuk melanjutkan perjalanan sampai pada titik yang lebih jauh karena pertimbangan faktor keselamatan mobil serta penumpang.

Diputuskan bahwa ketua tim saya, perwakilan dari dinas daerah, dan saya sendiri yang melanjutkan perjalanan ke atas hingga ke lokasi PLTS. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan motor modifikasi kepunyaan warga setempat yang telah hafal dengan medan jalan yang mesti dilalui.

Setelah 45 menit berboncengan naik motor modifikasi di jalanan yang semakin memprihatinkan, kami diminta turun ketika melewati sebuah jembatan gantung yang dibuat dari kabel baja. Jembatan tersebut menghubungkan dua bukit yang terbelah oleh sungai. Punggung  bukit seberang jembatan adalah lokasi modul surya tersebut dibangun.

Perjalanan dari seberang sungai hingga ke Desa Sinar Pagi kami tempuh selama hampir 1 jam dengan menggunakan motor yang telah bertransformasi. Namun, saya lebih banyak berjalan mendaki bukit ketimbang menaikinya karena jalan setapak yang sangat kecil dan curam. Energi yang dibutuhkan untuk tracking tersebut rasanya sama dengan half marathon yang saya ikuti di bulan sebelumnya.

PLTS Sebagai Solusi Terbaik

Sesampainya kami di lokasi semua rasa lelah terasa hilang tak bersisa setelah mengetahui bahwa PLTS Terpusat masih dalam kondisi terawat baik dan dimanfaatkan dengan tepat oleh penduduk Desa Sinar Pagi. Mereka merasa sangat terbantu dan bersyukur atas bantuan yang memang mereka butuhkan itu.

Beberapa desa di punggung bukit hanya dihuni oleh kurang lebih 125 kepala keluarga. Secara ekonomis, sepertinya Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak bersedia membangun fasilitas listrik di desa yang dipimpin oleh seorang ibu ini. PLTS Terpusat ini lah yang saat ini menjadi solusi terbaik, meskipun seharusnya bukan menjadi solusi permanen.

PLTS ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa. Setiap kepala keluarga membayar iuran Rp20.000,00 tiap bulan untuk mendanai biaya operasional pembangkit listrik cahaya matahari ini. Salah seorang di antara mereka telah dilatih dan dididik untuk merawat dan mengoperasikan PLTS Terpusat dengan 78 battery ini. Bang Asti namanya.

Sebagai informasi, penduduk Desa Sinar Pagi rata-rata mencari nafkah dengan berkebun kopi dan tanaman produktif lainnya di sekitaran bukit tempat mereka bermukim. Ketika beristirahat di salah satu rumah penduduk, kami disuguhi kopi yang mereka petik dari kebun sendiri dan ditumbuk sendiri hingga menjadi bubuk kopi yang siap seduh.

Kemudian, kopi tersebut dihidangkan dengan air matang yang direbus dengan menggunakan kayu bakar dan sedikit gula. Menyeruput kopi sembari memandang matahari yang mulai tenggelam di balik kebun milik masyarakat, membuat saya sempat terpikir kenapa mereka tidak pindah saja ke desa yang lebih mudah diakses dengan fasilitas yang lengkap.

Bijaksana dalam Keterbatasan

Masyarakat Desa Sinar Pagi, yang saya amati, pendidikannya tidak lebih tinggi dari kita semua, tetapi telah menyadari arti penting dari energi listrik sehingga mereka menggunakannya dengan sangat bijak dan teliti dengan mengamalkan prinsip-prinsip penghematan energi.

Keterbatasan energi listrik yang mereka dapatkan, membuat mereka memilih menggunakannya pada hal-hal penting dan bermanfaat. Lampu penerangan di malam hari digunakan untuk belajar anak-anak mereka atau untuk mengisi kembali daya pada  alat komunikasi mereka.

Semua mereka lakukan dengan perhitungan dan pertimbangan yang bijak pada daya yang dapat dihasilkan oleh PLTS dan dapat mereka gunakan pada hari itu.

Saya yakin, ketika mereka mampu, mereka tidak akan tidur dengan AC yang diatur pada suhu 22 derajat celcius, tetapi lebih memilih memakai selimut tebal atau double. Mereka tidak akan lupa mematikan lampu kamar mandi ketika tidak dipakai. Mereka tidak akan lupa mematikan kulkas ketika tidak ada isinya. Ya, mereka telah terbiasa dengan kehidupan dengan supply energi listrik yang terbatas.

Epilog

Lalu, bagaimana dengan kita, termasuk saya? Apakah kita terlena dengan ketersediaan energi listrik yang melimpah dan jarang terjadi gangguan seperti yang kita rasakan? Faktanya, kondisi sebenarnya tidaklah seindah yang selama ini kita pahami. Negara kita akan kehabisan sumber energi primer untuk pembangkit listrik hanya dalam beberapa puluh tahun lagi.

Kita perlu menyadari bahwa hidup hemat energi dan efisien dalam pengunaan energi listrik adalah hal yang dapat, bahkan wajib kita lakukan bersama, dalam rangka menyelamatkan kita dari krisis energi suatu saat nanti. Walaupun mungkin hanya dapat menunda krisis beberapa puluh tahun, tetapi itu pasti sangat membantu kehidupan kita hari ini.

Hidup hemat energi itu gampang dan tidak susah dipraktikkan. Saudara sebangsa dari rekan-rekan yang hidup di Desa Sinar Pagi, Seluma, Bengkulu telah membuktikannya. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan rasa keterpaksaan untuk berhemat pada diri sendiri.

Kisah yang sederhana ini mungkin dapat  mengubah cara pandang kita tentang pentingnya memanfaatkan energi bagi kehidupan kita.

Salam.

 

 

0
0
Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

Berangkat Ke Melbourne

Pada pertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN). Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship (AAS).

Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat. Seperti yang saya alami, seorang ASN yang mengambil CLTN tidak akan mendapatkan gaji, tunjangan, dan masa kerja selama CTLN tidak akan dihitung. Masa kerja saya yang seharusnya 21 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun, baru akan saya terima 3 tahun lagi. Yang paling berat, selama cuti, tidak ada SMS Cinta dari 3355 (bagi pengguna rekening Mandiri pasti tahu isinya).

Pada umumnya ASN mengambil CLTN karena mengikuti suami/istrinya yang kuliah di luar negeri. Namun, ada juga ASN yang mengambil cuti jenis ini karena ingin merawat orang tua atau  anak yang sedang sakit. Ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja di lembaga lain (umumnya  lembaga multinasional), memulai berbisnis, atau alasan lainnya sepanjang disetujui oleh instansi tempatnya bernaung.

Bagi ASN yang sudah menduduki jabatan, maka konsekuensi dari pengambilan CLTN adalah kehilangan jabatan. Padahal, saat itu saya sudah menduduki jabatan kepala kantor. Ketika kembali aktif maka akan memulai lagi dengan posisi pelaksana. Akankah bisa kembali ke jabatan semula? Saya berserah diri pada Allah SWT.

Prosedur pengajuan CLTN yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat surat permohonan cuti dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alasan CLTN yang saya ajukan adalah mengikuti suami yang studi di Victoria University, Melbourne. Dokumen yang saya sampaikan adalah surat bahwa dia diterima kuliah (Letter of Acceptance).
  2. Surat permohonan cuti diajukan ke pejabat yang menangani kepegawaian. Di lingkungan kerja saya pejabatnya adalah Sekretaris Badan.
  3. Surat ini kemudian disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Biro SDM kementerian.
  4. Surat CLTN diproses oleh BKN dan akhirnya nota persetujuan disampaikan kepada Kementerian Keuangan.
  5. Kementerian Keuangan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa saya sedang melaksanakan CLTN untuk periode tertentu (sesuai dengan masa studi suami).

Setelah izin cuti keluar, maka saya pun terbang ke Melbourne untuk menyusul suami yang sudah berangkat 4 bulan sebelumnya. Alhamdulillah, untuk keperluan pembuatan visa untuk masuk ke Australia ditangani langsung oleh perwakilan AAS di Jakarta.

Aktivitas Keseharian di Melbourne

Selama melaksanakan cuti, saya tinggal di Melbourne mengurus anak-anak dan suami selama 24 jam tanpa pembantu. Saya sangat menikmati cuti ini karena selama ini semua urusan anak-anak saya serahkan ke asisten rumah tangga. Jarang sekali saya ikut mempersiapkan sarapan dan bekal mereka ke sekolah.

Di Melbourne saya harus menyiapkan sarapan di pagi hari, bekal makan siang, dan juga makan malam untuk keluarga. Untunglah sekolah anak-anak dimulai jam 9 pagi sehingga saya masih bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak di sekolah.

Sampai 6 bulan, saya benar-benar menikmati suasana cuti. Saya mengantar anak ke sekolah di pagi hari, lanjut berbelanja ke pasar, berbenah rumah dan memasak makan siang, lalu kembali menjemput anak. Kadang setelah mengantar anak, berdua dengan suami, saya berjalan-jalan ke pantai atau hanya berkeliling di taman-taman sekitar rumah atau sekolah anak. Kadang kala kami berdua pergi ke tempat teman di suburb lain.

Kursus Bahasa Inggris

Namun, karena terbiasa dengan aktivitas di kantor seharian penuh, saya mulai kangen dengan beragam aktivitas dari pagi hingga sore. Saya pun mulai mengikuti kursus bahasa Inggris di VU English. Suami saya adalah penerima (awardee) beasiswa AAS (Australian Award Scholarship) sehingga spouse (pasangan awardee) berhak mengikuti perkuliahan bahasa Inggris selama 5 minggu penuh. Setelah selesai dengan kegiatan kursus bahasa Inggris  maka saya memberanikan diri untuk mengambil Certificate III in early childhood education.

Sebagai seorang temporary resident, saya harus membayar penuh biaya kursus ini yang mencapai A$750, terdiri atas tuition fee A$700 dan registrasi sebesar A$50. Bagi permanent resident, mereka hanya diharuskan membayar biaya registrasi $50, tetapi biaya kursus gratis ini hanya berlaku bagi kursus yang pertama. Jika permanent resident itu mengambil kursus yang kedua dan seterusnya, mereka juga harus  membayar penuh.

Kursus diikuti bersama para permanent resident yang berasal dari berbagai bangsa. Ada Divya yang orang India, Bouakham dari Laos, Skye yang orang asli Australia, Sarita yang baru migrasi dari Pakistan, dan Grace perempuan Filipina yang baru saja menikah dengan bule Australia. Rupanya keberagaman budaya peserta menjadikan kami diminta untuk mempertunjukkan di depan kelas atau membawa makanan khas dari negara masing-masing. Pada saat diminta mempertunjukkan lagu anak-anak Indonesia, saya membawakan lagu Pelangi karya AT Mahmud.

Enam bulan berlalu dan saya pun akhirnya mendapatkan sertifikat. Sebenarnya dengan sertifikat itu, saya bisa bekerja membuka bisnis daycare di rumah dan mendapatkan penghasilan yang melebihi jumlah uang beasiswa yang diterima suami saya. Namun karena sifat  bisnis ini yang full-day dan saya dalam mode liburan, maka saya tidak menggunakan kesempatan itu.

Bekerja di Vicmart

Untuk mengisi waktu, saya mencoba bekerja di Queen Victoria Market (Vicmart) sebagai penjaga toko. Saya bekerja 3  hari dalam seminggu dari jam 08.30-14.00. Bos saya adalah seorang perempuan Vietnam yang baik hati bernama Lily. Bagaimana ceritanya saya bisa bekerja di Pasar Vicmart? Tetangga saya dimintai tolong oleh Lily untuk mencarikan teman (Indonesia) yang bisa menjaga tokonya. Kenapa mesti orang Indonesia? Rupanya para pedagang di Vicmart sangat senang karakter orang Indonesia yang mereka percayai untuk menjaga tokonya.

Orang Indonesia dinilai bekerja dengan hati, rendah hati, dan jujur. Mereka membutuhkan tiga karakter ini karena penjaga toko akan memegang uang minimal $1.000 per hari. Para pemilik toko tidak pernah menghitung jumlah barang yang terjual untuk satu hari karena mereka percaya para pegawainya yang orang Indonesia tidak akan mengambil sedolar pun uang yang dipegang dari hasil aktivitas jual-beli. Karakter inilah yang harus terus dipertahankan oleh orang Indonesia jika ingin orang Indonesia berikutnya mudah mendapatkan kerja di pasar Vicmart.

Bekerja di Vicmart menambah pergaulan saya dengan para pemilik toko di sana. Ada yang berasal dari Thailand, Skotlandia, Italia, juga China. Mereka semua sangat baik dan ramah. Jika saya tidak jaga toko satu hari saja, mereka akan menanyakan kenapa kemarin nggak masuk. Bahkan, terkadang mereka membagi makanan yang dibawa. Biasanya berupa kue-kue.

Bisnis Tempe Kecil-Kecilan

Selain bekerja di pasar, saya juga membuat dan menjual tempe segar. Ada cerita ketidakpuasan yang menjadi alasan saya mempelajari cara pembuatan tempe dan setelah berhasil saya menjual tempe segar.

Setelah beberapa minggu hidup di Melbourne, saya kangen makan tempe. Atas informasi dari teman,  saya menemukan tempe beku (frozen) di toko vegetarian. Saya baca labelnya, tempe beku itu buatan Malaysia. Lalu saya memperkirakan bahwa tempe tersebut dibuat berbulan-bulan sebelum saya beli. Juga rasanya terbilang aneh, tidak seperti rasa tempe yang biasa kita beli di Indonesia.

Mulailah saya dan suami googling tentang pembuatan tempe. Beberapa kali mencoba, akhirnya tempe pun  jadi. Ragi pun kami impor dari Surabaya, sementara kedelainya kami pakai kedelai lokal Australia. Tempe percobaan pun jadilah. Kami kemudian meng-upload-nya di WAG. Tak disangka langsung banyak pesanan dari tetangga sekitar rumah. Dari mulut ke mulut akhirnya kemampuan saya membuat tempe segar didengar orang dan banyak teman dititipi oleh teman-temannya yang di luar wilayah saya. Akhirnya tempe segar ini bisa dinikmati oleh warga Melbourne karena saya posting di media sosial.

Sambutan orang-orang Indonesia dengan adanya tempe segar ini bermacam-macam. Ada yang bilang senang banget sampai ada yang menciumi tempe tersebut, sampai saya juga akhirnya mbrebes mili (terharu). Bahkan ada orang-orang Indonesia yang tinggalnya di luar kota Melbourne sampai memesan seminggu sebelumnya, supaya ketika mereka ke Melbourne, tempenya sudah jadi.

Selain menjual tempe segar, saya juga membuat tempe mendoan, dan kering tempe. Artinya, saya memikirkan diversifikasi produk untuk menambah nilai jual. Di situlah saya memahami bahwa untuk menambah nilai jual sebuah produk ada upaya pengolahan dan bahan baku lain yang menyertai. Upaya inilah yang akhirnya menyebabkan harga jual lebih tinggi dibandingkan masih berbentuk tempe.

Dari berjualan tempe akhirnya saya banyak mengenal warga Indonesia lainnya yang tinggal di  Melbourne. Sampai sekarang pun kami  masih kontak baik melalui WA ataupun medsos. Biasanya saya dan pembeli janjian bertemu di Melbourne Central Station pada jam tertentu. Untuk pembayaran, pembeli mentransfer uangnya ke rekening suami karena saya tidak punya rekening Australia.

Begitulah hari-hari saya di Melbourne, hingga tak terasa waktu 3 tahun pun berlalu dengan cepat. Sebuah pengalaman manis yang tak akan saya lupakan. Pertengahan 2017 saya kembali ke Jakarta, berdua saja dengan si bungsu. Sementara si sulung masih tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan kelas 7, menemani bapaknya yang studinya diperpanjang karena ketiadaan supervisor.***

 

 

0
0
Tips Buat PNS:  Menambah Penghasilan Rp50 Juta Dari Usaha Sampingan Bermodalkan Rp5 Juta

Tips Buat PNS: Menambah Penghasilan Rp50 Juta Dari Usaha Sampingan Bermodalkan Rp5 Juta

Bagi sebagian PNS yang sudah cukup mapan dengan penghasilan bulanan dari kantor barangkali tidak akan terpikir untuk memulai suatu usaha. Bahkan, mereka sudah cukup puas dengan menikmati hasil bunga simpanan dari gaji yang mereka sisihkan setiap bulannya. Namun, dengan bertambahnya usia, tidakkah mereka memikirkan dan berniat untuk mengembangkan sebuah usaha sampingan yang bisa menjadi bekal di saat pensiun kelak?

 

 

Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman dan tips tentang bagaimana menambah penghasilan yang halal dan barokah di bidang properti. Tentunya, usaha sampingan ini mesti kita lakukan di luar jam kerja kantor dan disesuaikan dengan kemampuan besaran modal yang kita miliki. Latar belakang pendidikan teknik sipil dan hukum, saya akui sangat membantu usaha sampingan ini.

Kelas Modal di Bawah Rp5 Juta

Tips ini lebih tepat bagi mereka yang mempunyai bakat berdagang atau marketing. Bagaimana mungkin dengan modal Rp5 juta kita dapat menekuni dan berhasil dalam bisnis ini? Menurut pengalaman saya selama ini, yang berhasil di kelas ini adalah jenis orang yang kepepet seperti terbelit hutang dan kebutuhan ekonomi. Berikut langkah-langkah yang telah saya lakukan.

Langkah pertama yang mesti Anda lakukan adalah membeli tanah. Dalam simulasi ini, pilihan lokasi tanah saya batasi hanya untuk peruntukan permukiman. Artinya, saya mencari lokasi tanah untuk dibangun sebuah tempat tinggal. Jangan sekali-kali keliru memilih lokasinya hanya karena tergiur harga yang murah.

Saya mencari lokasi tanah yang dijual dengan luas sekitar 80 m2 sampai 250 m2 dengan bentuk memanjang menghadap jalan untuk dibangun satu unit hunian rumah dengan luas antara 75 m2 sampai 100 m2. Alternatif lainnya adalah sebidang tanah dengan bentuk melebar menghadap jalan untuk dibangun dua sampai tiga unit hunian rumah dengan luasan per unit antara 75 m2 sampai 100 m2.

Tak lupa, saya memperhitungkan juga luasan efektif tanah terbangun setelah dipotong sempadan jalan dan/atau sempadan sungai sehingga ketika saya mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tidak akan terkendala norma peraturan daerah.

Akhirnya, saya pun mendapatkan tanah dengan luasan 150 m2 yang saya bagi menjadi dua kapling, masing-masing seluas 75 m2 dengan harga Rp500 ribu per m2. Total dana yang dibutuhkan untuk memperoleh tanah tersebut sebesar Rp81,25 juta dengan rincian sebagai berikut: harga tanah sebesar Rp75 juta, pajak BPHTB 5% sebesar Rp3,75 juta, biaya notaris sebesar Rp2 juta, dan biaya pengikatan sebesar Rp500 ribu.

Langkah kedua, saya menyiapkan modal Rp5 juta. Modal tersebut biasanya saya peroleh dengan cara berhutang, menggadai, atau menyisihkan tabungan emas atau gaji yang saya miliki.

Langkah ketiga, saya menentukan harga jual per unit hunian rumah untuk tipe bangunan dan tanah 29/75 m2 sebesar Rp140 juta.

Langkah keempat, saya memasang iklan untuk menemukan calon pembeli properti yang akan saya bangun. Setelah ada pembeli yang tertarik dengan iklan hunian rumah yang saya pasang, saya melakukan perjanjian tata cara pembayaran dengan pembeli. Jika dengan cara kredit, saya melibatkan bank. Jika dengan cara tunai saya meminta tanda jadi atau pembayaran uang muka sebesar 20% dari harga rumah, yaitu sebesar Rp28 juta.

Berikutnya, saya memercayakan transaksi tersebut dengan notaris termasuk proses pemecahan sertifikat yang biayanya sekitar Rp5 juta. Anda bisa membayangkan, di posisi ini saya telah mengeluarkan modal Rp5 juta, tetapi telah mendapatkan pembayaran Rp28 juta. Keuntungan sudah di depan mata, bukan?

Langkah kelima, saya menghubungi pemilik lahan dan melakukan negosiasi pembelian. Saya memperoleh harga negosiasi dengan pemilik tanah sebesar Rp500 ribu/m2. Selanjutnya, modal awal sebesar Rp5 juta tadi saya gunakan sebagai uang muka tanda jadi dan biaya pengikatan di notaris.

Dalam waktu yang bersamaan, carilah calon pemborong yang berminat untuk membangun rumah di lahan yang sudah tersedia dengan melakukan pelelangan harga bangunan kepada pemborong. Mengapa saya putuskan demikian? Saya tidak mau mengambil risiko. Selain itu, saya meniatkan hal ini sebagai bagian dari ibadah, membantu orang lain dengan berbagi rezeki dengan mereka.

Pada waktu itu, ada pemborong yang tertarik mengerjakan hunian rumah yang saya tawarkan dengan kesepakatan harga lelang sebesar Rp58 juta. Saya melakukan perjanjian terpisah dengan pemborong tentang tata cara pembayaran. Yaitu, pembayaran  sebesar 25% dari harga lelang atau sebesar Rp14,5 juta baru saya lakukan ketika kemajuan pembangunan sudah mencapai 50%. Selanjutnya, pada saat kemajuan pembangunan sudah 100%,  disepakati pembayaran sebesar 80% dari harga lelang atau sebesar Rp46,4 juta. Sedangkan sisa pembayaran sebesar 20% atau sebesar Rp11,6 juta baru akan saya bayar setelah masa pemeliharaan selama 6 bulan oleh pemborong berakhir.

Langkah keenam, saya memperoleh pembayaran Rp140 juta dari hasil penjualan satu unit hunian rumah. Saya juga menjual satu unit hunian rumah di lahan sebelahnya dengan cara yang sama. Nah, saya tidak lupa untuk memperhitungkan kewajiban pembayaran pajak penjualan sebesar 5% atau setara dengan Rp7 juta untuk dua  unit hunian rumah.

Langkah ketujuh, tak lupa, saya melunasi pembelian tanah sebesar Rp75 juta dari hasil penjualan unit hunian rumah.

Perhitungan keuntungan yang saya peroleh dari penjualan dua unit hunan rumah sebesar Rp280 juta dikurangi biaya pembelian tanah, biaya bangunan, biaya notaris, biaya BPN, pajak dan perizinan IMB sebesar Rp225 juta adalah sebesar Rp55 juta.

Dari simulasi di atas, ternyata dengan modal Rp5 juta, kita bisa mendapat keuntungan Rp50 juta sampai Rp55 juta. Usahakan modal yang didapat dengan nonriba, agar hasil yang diperoleh lebih berkah.

Kelas Modal Rp50 Juta

Keuntungan Rp50 juta yang saya peroleh dari cara pertama, saya putar kembali untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pada cara yang kedua ini, saya melatih diri saya dan berperan sebagai pelaksana pembangunan. Di sini dibutuhkan skill orang lapangan. Jika kita berperan sebagai pelaksana pembangunan hunian rumah itu sendiri, maka keuntungan yang saya peroleh akan lebih besar lagi. Simulasi berikut saya asumsikan sama dengan cara sebelumnya di atas. Berikut langkah-langkah yang telah saya lakukan.

Langkah kesatu, saya mencari lahan tanah seluas 150 m2 dengan harga tanah Rp75 juta, pajak BPHTB 5% sebesar Rp3,75 juta, biaya notaris sebesar Rp2 juta, dan biaya pengikatan sebesar Rp500 ribu.

Langkah kedua, saya menentukan harga jual unit hunian rumah dengan tipe  29/75 m2 sebesar Rp140 juta.

Langkah ketiga, saya memasang iklan untuk menemukan calon pembeli properti berupa hunian rumah yang saya tawarkan.

Langkah keempat, saya menghubungi pemilik lahan dan melakukan negosiasi pembelian. Dalam waktu yang bersamaan, carilah calon pembeli yang berminat dengan properti tersebut.

Dengan niat berbagi rezeki, saya memutuskan untuk mencari bas borong tenaga bangunan dan mencari toko bahan material yang lebih murah. Saya juga melakukan pelelangan harga borongan tenaga kepada bas borong. Saya lebih suka mempekerjakan mandor perempuan.

Menurut pengalaman saya, mempekerjakan mandor perempuan akan lebih efisien, dan lebih produktif dibandingkan mandor laki-laki. Entah mengapa, ketika tukang bekerja ditungguin mandor perempuan, mereka lebih semangat bekerja. Tentunya hal tersebut akan menambah nilai keuntungan.

Langkah kelima, saya mendapatkan pembayaran Rp140 juta dari hasil penjualan satu unit hunian rumah. Untuk satu unit lainnya saya melakukan cara yang sama sebagaimana saya jelaskan sebelumnya. Sekali lagi, saya tidak lupa memperhitungkan pembayaran pajak penjualan sebesar 2,5% atau sebesar Rp7 juta untuk dua unit hunian rumah.

Langkah keenam, saya melunasi pembelian tanah sebesar Rp75 juta dari hasil penjualan dua unit hunian rumah.

Keuntungan yang saya peroleh sebesar Rp65 juta, yang diperoleh dari selisih harga jual dua unit hunian rumah sebesar Rp280 juta dikurangi biaya pembelian tanah, biaya bangunan, biaya notaris, biaya BPN, dan pajak dan perizinan IMB sebesar Rp215 juta.

Simpulan

Tentu saja, pengalaman yang saya bagikan kepada Anda tersebut bisa saja hasilnya tidak persis, bisa lebih banyak atau sedikit dari yang saya peroleh. Waktu yang saya perlukan untuk keseluruhan proses tersebut berkisar antara tiga sampai enam bulan. Tentu saja, hal itu sangat tergantung dari kelihaian menjual dan bernegosiasi, strategis tidaknya lahan tanah, kelangkaan bahan material, permasalahan tenaga kerja, dan hubungan kerja antara mandor dan pekerja.

Lebih dari sekedar itu, sisi lainnya dari bisnis tersebut saya juga telah ikut berkontribusi pada penerimaan pendapatan negara di sektor pajak dan membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan niat beribadah, tentunya usaha tersebut layak Anda coba. Semoga membawa barokah dan rezeki yang halal bagi kita. Semoga pengalaman dan tips ini bermanfaat bagi Anda.***

 

Catatan:

Bas borong adalah kontraktor yang bergerak dalam penyediaan jasa mandor dan tukang, tidak termasuk menyediakan bahan material. Seorang mandor yang sudah memiliki cukup modal kadang ada yang merambah (extend) menjadi bas borong.

 

 

0
0
Memilih Mundur Dari PNS

Memilih Mundur Dari PNS

Cerita ini dikirim oleh salah satu birokrat yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari instansinya dan memilih untuk berkarya di tempat lain. Sebuah kisah yang tentunya tidak untuk menjadi inspirasi bagi birokrat lainya yang mengalami hal yang kurang lebih sama, karena untuk melakukannya perlu kesungguhan hati dan perhitungan yang matang.

Namun, kisah ini menggambarkan masih adanya birokrat kita yang belum mendapatkan perhatian, penghargaan, dan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan potensi dirinya. Kisah ini justru diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi para elite birokrasi untuk dapat lebih memperhatikan para pegawainya dengan cara lebih manusiawi dan mawas diri. Mereka perlu mawas diri terhadap rasionalitas birokrasi yang rawan terjadi diskriminasi yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasinya sendiri.

—-

 

Pagi itu, sekitar setahun yang lalu, saya terbangun dari tidur dengan perasaan ingin mengundurkan diri atau mundur dari kantor instansi tempat saya bekerja. Padahal, sebelum tidur saya tidak memikirkannya sama sekali. Saat itu saya lalu teringat dengan ucapan salah satu atasan saya, sehari sebelum saya mengajukan cuti untuk liburan. Beliau berkata, “Kamu mau ambil cuti? Nggak mau tugas aja? DL-mu (penugasan luar kota dengan mekanisme perjalanan dinas) baru 16 hari ya?”

Entah mengapa saat atasan saya mengatakan hal itu, hati saya terluka. Saya mengajukan cuti karena ingin liburan, bukan karena DL baru 16 hari selama 8 bulan terakhir. Bahkan, saya tidak tahu persis tepatnya berapa hari DL karena memang saya tidak menghitungnya dan tidak terlalu ambil pusing soal itu.

Keputusan Mundur Adalah Keputusan Yang Besar

Ya, keputusan mundur dari pegawai negeri sipil (PNS) adalah keputusan yang tidak mudah. Keputusan yang kadang menjadi sebuah dilema, mengingat PNS masih  tergolong sebagai profesi idaman bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Untuk menjadi PNS saja seseorang harus melewati seleksi yang lumayan ketat dan susah, belum lagi sebagian dari pendaftar pun ada yang rela membayar mahal untuk dapat menjadi PNS.

Saya menyampaikan keinginan saya tersebut kepada ibu saya. Saat itu ibu tidak mendukung dan menyarankan saya untuk mencari beasiswa S2 karena itu jalan keluar yang lebih baik jika memang saya merasa tidak betah dan tidak bahagia berada di perantauan.

Mungkin saya terlalu kekanak-kanakan ketika hanya karena perkataan atasan saya tersebut, saya lalu ingin mengundurkan diri dari instansi tempat saya bekerja. Sejujurnya, rasa sakit hati itu juga sudah menghilang beberapa saat setelahnya. Namun, bagaimanapun juga, hal itulah yang memang menjadi pemantik keinginan mundur saya di kemudian hari. Semakin hari keinginan itu justru semakin membesar, seperti bara api yang disiram bensin.

Namun, restu Ibu yang tak kunjung datang dan lebih mendukung saya untuk mencari beasiswa S2,  sempat menyurutkan rencana saya untuk mundur. Saya kembali belajar dan mencari tahu tentang berbagai kesempatan beasiswa S2 yang tercepat.

Perasaan Tak Kunjung Membaik.

Saat saya masih berusaha mencari kesempatan melanjutkan pendidikan S2, kondisi kantor dan lingkungan tempat saya tinggal (kos) semakin terasa tidak bersahabat. Saya hampir selalu bingung apa yang harus dan akan saya lakukan setiap saya tiba di kantor. Tidak adanya pekerjaan atau tanggung jawab spesifik yang dapat saya lakukan, membuat saya selalu bingung untuk berbuat apa.

Kegiatan membaca dan mempelajari peraturan pun sepertinya sia-sia bagi saya. Jika hanya membaca tanpa dipraktikkan, maka saya akan cepat merasa bosan, seperti hanya terlihat di mata tapi tidak lanjut ke otak. Saya sepenuhnya sadar bahwa itu adalah kelemahan saya. Saya adalah tipe pembelajar dengan sistem “learning by doing”.

Saya sudah mencoba untuk membuka-buka file peraturan, belajar aplikasi, atau bahkan belajar bahasa Inggris untuk mengisi kekosongan tersebut, hitung-hitung modal untuk mendapatkan beasiswa. Namun, saya cepat bosan, seperti tidak ada motivasi atau dorongan tanggung jawab.

Pada suatu titik saya merasa sangat useless, tidak ada perkembangan pengalaman dan pengetahuan. Saya pun juga merasa kemampuan dan potensi diri saya kurang dihargai. Saya merasa bisa melakukan sesuatu, tapi tidak ada yang mendayagunakan kemampuan saya.

Beberapa teman menyarankan saya untuk meminta mutasi ke bagian lain di kantor agar kemampuan saya lebih bermanfaat, tetapi saran tersebut tidak saya lakukan karena adanya banyak pertimbangan. Salah satunya adalah saya bukan tipe orang yang senang ‘meminta-minta’, untuk meminta penugasan pun tidak saya lakukan. I am not such a person.

Mempengaruhi Kondisi Mental dan Fisik

Waktu itu, kondisi semakin memburuk saat perasaan tidak bahagia itu mulai menyerang kesehatan mental dan fisik saya. Saya sepertinya pun belum bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Saya menjadi lebih emosional, mudah marah, mudah sedih dan menangis, lebih egois, pemalas, cuek, dan tidak peduli.

Saya sering kesulitan untuk tidur, sering sakit kepala dan selalu merasa lelah. Kehidupan yang saya jalani sehari-hari tidak berkualitas sama sekali. Saya merasa sakit. Saya merasa sangat tidak bahagia dan depresi. Saya mulai khawatir dengan diri saya sendiri. Saya takut jika saya benar-benar sakit.

Saat itu, saya pikir, semua itu memang berawal dari dalam diri saya yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Setelah browsing-browsing, saya memutuskan untuk mencoba ke hipnoterapis. Hasilnya? Awalnya saya merasa lebih baik, tapi seiring berjalannya waktu, perasaan saya kembali lagi.

Restu Ibu dan Pandangan Orang

Di akhir tahun 2017, saya mudik ke rumah cukup lama. Saya menceritakan tentang teman-teman yang sudah mundur dari pekerjaannya kepada ibu. Saya juga menyampaikan rencana saya untuk tidak mundur sebelum saya mendapat pekerjaan yang baru. Alhamdulillah, ibu mengerti dan merestui. Bagi saya, restu orang tua adalah restu Allah.

Sejak itu, saya mencoba mengirimkan aplikasi lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Ada semangat tersendiri dalam diri saya. Ada masa-masa di mana saya bersemangat, tapi ada masa-masa di mana saya sangat galau karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Putus asa pun pernah, tetapi tidak menyurutkan keinginan saya untuk mundur.

Terhadap keinginan saya untuk mundur, tanggapan beberapa teman pun beragam. Ada yang memberi pandangan lain dan berusaha mengubah keputusan saya karena menurutnya dengan pindah kerja dan pindah domisili tidak serta merta saya akan merasa bahagia.

Ada juga teman yang mengaatakan bahwa saya terlalu idealis. Dari sisi itu mungkin ada benarnya karena dalam beberapa aspek kadang saya mengeluhkan beberapa kebijakan instansi yang kurang sesuai dengan prinsip dan pendapat saya.

Ada juga yang mengatakan mungkin saya kurang bersyukur, menyarankan saya untuk belajar ikhlas dan legowo. Ada di suatu titik di mana saya tidak mengerti apa yang harus saya ikhlaskan dan legowokan. Saya tidak merasa marah, dendam, atau perasaan-perasaan lainnya terhadap kondisi yang ada saat itu. Saya hanya sedih dan merasa tidak bahagia.

Saya juga sudah berusaha memperbanyak ibadah, apalagi jika perasaan sedih yang berlebihan itu tiba-tiba datang dan menghampiri setiap malam. Setelah beribadah, perasaan saya memang jadi tenang, tapi tidak serta merta rasa sedih itu kemudian menghilang.

Kelegaan Luar Biasa

Pada bulan Mei 2018, tepatnya di pertengahan bulan Ramadhan, perjuangan dan doa-doa saya selama lima bulan terakhir pun diijabah oleh Allah. Saya diterima di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rasa syukur dan bahagia saat itu tidak bisa saya ucapkan dengan kata-kata.

Saat ini, sudah berjalan sebulan saya bekerja di kantor baru. Rasa galau, sedih, useless dan sebagainya sudah tidak ada lagi. Saya senang dengan ritme pekerjaan saya sekarang. Santai, tidak dituntut deadline dan target, tapi tetap masih ada tanggung jawab dan hal yang bisa saya kerjakan selama jam kantor.

Saat saya menulis tulisan ini, saya sedang berada di hotel dalam penugasan audit di mana atasan saya hanya mengantar dua hari lalu saya bekerja sendirian di obyek audit selama empat hari ke depan. Suatu hal yang tidak pernah terjadi di instansi saya sebelumnya.

Masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ saya saat ini adalah beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan dan pegawai kantor baru, tapi saya yakin seiring berjalannya waktu pasti saya bisa. Perasaan saya memang belum sepenuhnya bahagia, tapi setidaknya perasaan saya sekarang jauh lebih baik. Saya sudah bisa hidup teratur lagi, makan sehat, olah raga, tidur cukup dan tepat waktu.

Entah kenapa walau badan lelah, tapi rasanya tidak selelah sebelumnya. Ketika bisa tidur nyenyak adalah suatu kenikmatan yang jarang saya dapatkan ketika masih berada di kantor yang lama. Bahkan saya merasa sudah tidak perlu lagi untuk ke psikolog ataupun psikiater.

Mundur adalah Pilihan

Kebahagiaan yang saya cari dengan memutuskan mundur memang belum serta merta saya dapatkan. Saya sadar, masalah internal dalam diri saya belum dapat saya selesaikan. Namun, dengan adanya kesibukan ini bisa mengalihkan perhatian dan pikiran saya. Hal itu membuat perasaan saya menjadi jauh lebih baik. Setidaknya saya lebih merasa berguna dan dihargai.

Apakah saya impulsif mengenai keputusan saya ini? Saya rasa tidak. Sebelum saya memutuskan untuk mencari pekerjaan baru, saya sudah melakukan riset ke teman-teman dan senior yang sudah keluar dengan menanyakan suka dan duka mereka ketika mencari pekerjaan dan bekerja di tempat mereka baru. Bahkan, saya juga sempat meminta pendapat dari senior yang masih bertahan di kantor. Saya juga sudah memikirkan baik-baik tentang konsekuensi yang nantinya harus saya terima.

Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan mundur dari pekerjaan. Keluar dari zona nyaman atau mencari zona nyaman adalah juga pilihan. Sebagai catatan, saya merasa sangat tidak nyaman saat saya bekerja hanya seolah ‘makan gaji buta’.

Semoga pilihan dan keputusan saya ini adalah yang terbaik bagi saya dan menurut Allah. Aamiin.***

 

 

0
0
error: