Karena Sebuah Pertandingan Hanya Menyediakan Satu Pemenang

Karena Sebuah Pertandingan Hanya Menyediakan Satu Pemenang

“Suatu hari saya bangun dan memberi alasan pada diri sendiri. Anda bisa kalah, tapi hanya untuk belajar bagaimana menang” -Romelu Lukaku-

Sumber: www.skysports.com

Prolog

Kita harus belajar tentang makna kalah dari Romelu Lukaku untuk kemudian menata diri, sebagaimana pengakuannya tentang rasa bersalah pada La Gazetta Dello Sport (detik.com, 24/9/20). Menurutnya, kalah adalah kalah itu sendiri, bukan ilusi menang, bukan pula menghibur diri dengan merasa menang. Namun, lebih dari itu, kalah bukan untuk ditangisi dan rubuh karenanya.

Lukaku merasakan betul pedih kekalahan dan rasa bersalah saat final Liga Eropa pada penghujung Agustus tahun ini melawan Sevilla. Pertandingan itu sendiri sejatinya menyajikan permainan yang seru dengan jumlah gol yang signifikan: 3-2 untuk kemenangan Sevilla.

Dilangsungkan di Rhein Energie Stadion di Cologne, Jerman, pertandingan masih berimbang 2-2 sampai menit ke-73. Dua gol Inter disarangkan oleh pinalti Lukaku dan sundulan Diego Godin. Sementara, Luuk De Jong membuat brace bagi Sevilla dengan sundulannya.

Petaka untuk Inter terjadi pada menit 74. Tendangan akrobatik Diego Carlos membobol gawang Samir Handanovic setelah sebelumnya mengenai kaki Lukaku. Andai saja bola tidak mengenai Lukaku, rasanya bola akan menuju sisi kiri luar gawang Handanovic, dan hasil akhir bisa saja berbicara lain.

Tentu saja, berandai-andai dan membayangkan bola tidak jadi masuk gawang Handanovic sangatlah mudah. Tapi tidak untuk Lukaku dan Inter Milan. Gol Diego Carlos menyegel kemenangan Sevilla, yang kemudian tentu saja berhak mengangkat trofi Liga Eropa untuk kelima kali sekaligus menegaskan dominasi dan hegemoni mereka di liga antarklub kasta kedua di benua biru ini.

Bagi Inter Milan, kegagalan ini menandai puasa mereka mengangkat trofi semenjak terakhir memiliki Coppa Italia pada musim 2010/2011. Bagi klub sebesar Inter, puasa ini terhitung lama. Tidak mengherankan, persiapan dan ambisi entrenador Antonio Conte dan publik Giuseppe Meazza demikian besar untuk memenangkan piala ini.

Penyesalan Bukan Tanpa Akhir

Sementara itu, kepedihan yang lebih dalam tentu saja dialami Lukaku. Uniknya,  rentang waktu kegagalan mengangkat trofi Liga Eropa yang dialaminya ternyata sama dengan apa yang terjadi pada Inter Milan. Terhitung sudah sekitar 10 tahun Lukaku tidak mengangkat trofi semenjak terakhir melakukannya di Anderlect, klub lamanya di Belgia.

Tapi, pedih secara personal itu tidak lebih besar dari penyesalannya karena merasa sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya gol kekalahan Inter Milan. Pada penyerahan medali juara ke-2, Lukaku menghilang entah ke mana. Pada pengakuannya, Lukaku menyebut tak mampu menanggung beban rasa bersalah itu, hingga ia tidak perlu menampakkan diri pada penyerahan medali.

Seolah tak cukup, Lukaku bukan saja tidak ikut menerima medali, dia bahkan menghilang dari sorotan publik selama 4 (empat) hari setelah final itu dilangsungkan. Jujur, rasanya agak mengherankan melihat kedirian Lukaku dengan pilihan sikapnya yang mellow ini. Tinggi, kekar, dan berperawakan sangar, Lukaku ternyata tak cukup kuat menahan terpaan sedih dan rasa bersalah.

Padahal, Conte selaku manajer tak sepatah katapun menyalahkannya. Conte dan para pemerhati olah raga ini faham, kerap ada kejutan dan kejadian yang tidak terduga dalam permainan sepak bola. Yang tak terduga itu malah kadang menjadi penentu hasil pertandingan. Dan nyatanya, tepat seperti itulah yang menimpa Lukaku cum Internazionale Milan.   

Tapi begitulah, lakon dan drama perasaan yang dialami saat sedih, kecewa, dan merasa bersalah sangat tidak mudah digambarkan. Pada Lukaku, butuh beberapa hari untuk menenangkan diri sampai kemudian dia menyatakan kalimat “suatu hari saya bangun dan memberi alasan pada diri sendiri. Anda bisa kalah, tapi hanya untuk belajar bagaimana menang”. Bagi saya, ini kalimat ajaib banget.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Setidaknya ada dua hal penting dari quote Lukaku tersebut. Pertama, kesediaan untuk menerima dan berdialog dengan diri sendiri. Sedih yang menimpanya, gloomy yang ditanggungnya, selayaknya tidur yang melenakan kesadaran diri. 4 (empat) hari tapa bratanya dari keinginan untuk menyapa dunia diakhiri dengan menasihati diri sendiri dalam sebentuk alasan untuk menerima kenyataan.

Kalah, rasa sakit itu, tidak pada tempatnya untuk diingkari. Menang dan kalah adalah bagian yang menyatu dalam sebuah pertandingan. Menang adalah sesuatu yang diinginkan sesama kontestan, namun sayangnya pertandingan hanya menyediakan satu tempat saja sebagai pemilik kemenangan. Jika kalah, mau tidak mau harus berbesar hati menerimanya.   

Memberi kesadaran akan kekalahan ini, bagi Lukaku, seperti dialog yang menggerakkan ke arah pengembangan diri yang lebih baik.  Sebuah kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, bisik aforisme klasik itu, dan ini mendasari hal penting kedua.

Pada Lukaku, setelah proses penyadaran diri selama 4 harinya, kekalahan harus diterima sebagai sportivitas dan menjadikannya sebagai sarana belajar untuk kemenangan pada pertandingan berikutnya. Dalam makna yang lebih luas, Romelu Lukaku, eks Manchester United itu, barangkali tengah mencoba menafsir bahagia di tengah kenyataan pahit kekalahan atas Sevilla.

Epilog

Boleh saja orang terpukul atas kenyataan pahit yang dihadapi, Lukaku memilih untuk bangkit dari keterpurukan. Romelu Lukaku menunjukkan pada kita perlunya untuk tetap terus tegak dan menghadapi apapun hasil dan risiko jalan kehidupan yang telah ditempuh.

Jikapun harus jatuh, kalah, dan tidak berhasil, adalah hak dan kewajiban personal kita untuk bangkit kembali dan belajar dari pengalaman masa lalu. Pun dengan semua kesulitan di tengah kondisi pandemik seperti saat ini.

Itu semua menunjukkan kenyataan dan realitas pahit yang terjadi dan harus dihadapi. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama agar mampu bangkit dan keluar dari krisis ini. Wallahu a’lam.

***

5
0
Pelajaran dari Sang Penyintas Badai Covid-19 Berat

Pelajaran dari Sang Penyintas Badai Covid-19 Berat

Analisis dan Kronologis Terpapar Covid-19

Saya telah berusaha waspada terhadap Covid-19 saat awal pandemi. Saya yang biasanya “Roker Bogor Jakarta” (rombongan penumpang kereta api Bogor-Jakarta) alias KRL lovers langsung putus hubungan dengan angkutan umum begitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan.

Saya paksakan diri saya untuk membawa mobil pribadi ke kantor meskipun lelah letih mendera karena menyetir. Untungnya seminggu hanya diwajibkan sekali ke kantor di Jakarta atau WFO (work from office).

Empat hari kerja lainnya WFH (work from home). Dua hari libur ya di rumah. Protokol Covid-19 pun saya jalankan semaksimal mungkin dengan menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan menggunakan sabun. Karena itu saya merasa aman dari terpapar Covid-19.

Karena itu timbul pertanyaan di manakah saya terpapar Covid-19?

Apakah terpapar di kantor saya?

Mari kita analisis. Lingkungan kantor saya adalah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang berkantor pusat di Jalan Dr. Wahidin 1 Jakarta Pusat.

Kantor saya menerapkan protokol Covid-19 ketat. Setiap hari hanya 15% yang boleh WFO. Karenanya seorang pegawai hanya WFO satu hari, 4 hari lainnya WFH di rumah. Setiap masuk kantor kami disemprot.

Liftnya diatur posisi berdiri, bahkan ada yang semestinya menghadap dinding. Meskipun praktik di lift ini terkadang tidak sesuai protokolnamun secara umum protokol Covid-19 di kantor saya cukup ketat.

Apakah saya terpapar Covid-19 di kantor? Bisa ya bisa juga tidak. Saya demam pertama kali 23 Juli 2020. Berdasarkan masa inkubasi 2-14 hari berarti saya terkena pada 10 Juli-21 Juli 2020. Saya WFO pada 16 Juli 2020.

Seharusnya saya WFO juga pada 22 Juli 2020 tetapi karena ada demo di depan kantor, saya yang sudah sampai di jalan depan kantor memutuskan pulang karena mobil saya tidak bisa masuk ke dalam kantor.

Apakah pada 16 Juli saya terkena di kantor? Memang beberapa  teman kantor sudah ada yang positif Covid-19 sebelumnya, namun saya tidak pernah berinteraksi dengan teman-teman kantor yang positif Covid-19.

Menurut saya kemungkinan saya terpapar dari lingkungan kantor saya sangat kecil. Alasan lainnya, beberapa teman kantor yang positif Covid-19 belum tentu terpapar dari lingkungan kantor. Oleh karena itu, kemungkinan saya terpapar dari lingkungan kantor semakin kecil.

Apakah saya terkena dari lingkungan sekitar rumah saya?

Karena kami waspada Covid-19 di lingkungan kami, begitu PSBB Kab Bogor diberlakukan, sebagai ketua DKM masjid di lingkungan kami, saya memutuskan penutupan dua kali sholat Jumat. Ini bukan keputusan mudah.

Setelah itu masjid dibuka dengan protokol: membawa sajadah sendiri, menggunakan masker, menjaga jarak, tidak salaman, dan cuci tangan menggunakan sabun.

Karena memang lingkungan saya beragam pengetahuannya soal Covid-19, maka praktiknya:

  1. membawa sajadah sendiri; mayoritas (80% jamaah) melakukannya,
  2. menggunakan  masker banyak yang abai; hanya 3-4 orang yang menggunakan masker (termasuk saya),
  3. tidak bersalaman (yang merupakan kebiasaan setelah sholat); lumayan dipatuhi, dan
  4. mencuci tangan menggunakan sabun juga berjalan.

Dengan kondisi demikian maka probabilitas saya terpapar dari lingkungan sekitar rumah ini cukup besar. Ketika WFH saya biasa melaksanakan sholat berjamaah di masjid yang ada di lingkungan sekitar rumah.

Terkadang saya juga ikut rapat-rapat masjid karena saya adalah ketua DKM Masjid Al Barokah yang ada di lingkungan sekitar rumah saya. Sesekali saya juga keluar rumah untuk membeli buah-buahan.

Aktivitas-aktivitas ini sangat memungkinkan tertular Covid-19 karena di daerah Ciomas pelaksanaan Covid-19-nya terhitung longgar pada bulan Juli 2020 tersebut. Banyak masyarakat yang belum mematuhi protokol Covid-19 terutama protokol menggunakan masker.

Bila benar saya terpapar dari lingkungan di sekitar rumah, maka ini memberikan bukti tambahan bahwa bila kita menggunakan masker tetapi berinteraksi dengan orang-orang yang tidak menggunakan masker, akan tetap berisiko tertular Covid-19.

Artinya, bila ingin aman maka kita yang menggunakan masker hendaknya berinteraksi dengan orang-orang yang juga menggunakan masker kecuali ada keadaan yang mendesak untuk kita berinteraksi dengan orang yang tidak menggunakan masker.

Pada saat saya terpapar di periode 10-21 Juli 2020 tersebut, saya terkena Covid-19 bersama-sama dengan beberapa tetangga saya. Karena itu kemungkinannya saya tertular dari lingkungan sekitar rumah saya sangat besar.

Saya dan beberapa tetangga tersebut terkena bersamaan dan merupakan kasus positif Covid-19 yang terdeteksi pertama kali di lingkungan rumah saya, maka saya menduga kami terpapar oleh OTG (orang tanpa gejala) yang berinteraksi dengan kami.

OTG ini sangat dimungkinkan karena di lingkungan kami memang banyak yang berinteraksi dengan lingkungan Jakarta saat mereka bekerja. Kemungkinan terpapar dari lingkungan sekitar rumah ini besar menurut saya. Saya ingat bahwa pada periode 10-21 Juli 2020 tersebut saya pernah melakukan rapat masjid di serambi masjid yang terbuka.

Deteksi Thypus dan Terkena Hypoxia Saat Terpapar Covid-19

Saya demam sejak tanggal 23 Juli 2020 disertai lemas tak bertenaga. Saya tidak menduga bahwa deman dan lemas tak bertenaga tersebut terkait dengan Covid-19 karena tidak ada ciri lain seperti batuk, pilek, ataupun sakit tenggorokan.

Karena itu untuk sekitar 3 hari saya hanya dirawat oleh isteri di rumah sendiri. Ketika tiga hari ternyata demam saya tidak juga reda, saya pun ke dokter praktik di Ciomas yang dekat dengan rumah.

Di sana saya diberi obat dan diminta untuk ke laboratorium untuk cek darah. Hari berikutnya saya cek darah di laboratorium Prodia dan hasilnya ternyata tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada sedikit kemungkinan terjadi thypus.

Oleh dokter yang telah melihat hasil cek darah dari Prodia, saya diminta untuk meminum obat yang telah diberikan.  Sekitar tanggal 30 Juli demam saya reda namun lemas tak bertenaga saya masih ada.

Saya pun kembali ke dokter praktik tersebut dan disarankan untuk ke rumah sakit, di-rontgen dan dicek darah kembali. Saya pun ke RS Ummi Bogor namun karena penuh akhirnya saya ke RS Melania Bogor.

Hasil rontgen di RS Melania Bogor menunjukkan paru-paru saya dalam keadaan buruk, terdapat kabut putih pada bagian bawah kedua paru-paru saya. Hasil cek darah pun mendukung hasil rontgen tersebut. PO2 saya ternyata hanya 64, menunjukkan saya terkena Hypoxia –yaitu rendahnya jaringan fungsi-fungsi tubuh menyerap oksigen dalam darah.

Timbul pertanyaan besar terkait hypoxia tersebut karena saya tidak komorbid, atau punya penyakit penyerta bawaan. Setiap tahun saya melakukan general checkup ­–yang terakhir di akhir tahun 2019 menunjukkan tidak adanya penyakit dalam tubuh saya.

Kemudian saat saya cek darah ke Prodia setelah demam tidak terdeteksi penyakit lain kecuali kemungkinan gejala thypus –itupun yang kemungkinannya sangat kecil.

Bagaimana menjelaskan kasus hypoxia yang menimpa saya? Menurut saya hal itu dapat dijelaskan dengan kemungkinan terjadinya badai sitokin.

Inti dari badai sitokin adalah adanya gangguan pada sitokin yang seharusnya memberikan sinyal secukupnya agar pasukan sistem imunitas tubuh datang. Ternyata, terjadi error dengan memberikan sinyal yang berlebihan, mengakibatkan pasukan imunitas tubuh tersebut berlebihan jumlahnya.

Sehingga, tidak hanya membasmi virus tetapi juga menyerang jaringan fungsi tubuh sendiri. Badai sitokin ini dalam kaitannya dengan Covid-19 sering berdampak negatif pada sistem pernafasan kemudian mengakibatkan hypoxia.

Berlebihannya pasukan imunitas tubuh pada diri saya setidaknya dapat dilihat dari meningkatnya jumlah leukosit hingga mencapai 21.000 dari jumlah normal sekitar 5.000-10.000. Dua kali lipat lebih jumlah leukosit yang berusaha menjalankan peran imunitas tubuh dalam menghadapi virus yang masuk ke dalam diri saya.

Strategi Bahagia untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh

Saya di-swab pertama kali pada tanggal 4 Agustus 2020 dan hasilnya keluar pada tanggal 6 Agustus 2020. Pada dini hari 6 Agustus 2020 saya dipindahkan dari RS Melania Bogor ke RSPG Cisarua karena kondisinya buruk (terjadi hypoxia pada angka PO2 64) yang bisa berakibat kematian.

Bahkan, kondisi saya sempat memburuk dengan hypoxia 55,8. Secara teoritis saya harusnya mengalami sesak nafas dan akan membutuhkan ventilator pernafasan. Itulah alasan utama saya dipindahkan ke RSPG Cisarua.

Namun ternyata, saya tidak mengalami sesak nafas karena “Happy Hypoxia Syndrome”. Padahal, sindrom ini sangat membahayakan karena pasien seolah-olah tidak merasakan kesulitan nafas meskipun kadar oksigen dalam darah yang berhasil diserap oleh jaringan-jaringan fungsi tubuhnya anjlok (hypoxia).

Hypoxia ini bila tidak diatasi segera dapat menyebabkan kematian bila tubuh pasien tidak lagi mampu dengan kondisi sedikitnya oksigen dalam darah yang mampu diserapnya tersebut.

Oleh karena itu, meskipun saya tidak kesulitan nafas tetapi saya tetap diberi selang oksigen untuk menjaga pernafasan saya. Di RSPG Cisarua saya tidak jadi diberikan ventilator pernafasan karena dengan selang oksigen yang dimasukkan ke lubang hidung tersebut sudah mencukupi.

Pada tanggal 7 Agustus 2020 saya dipindahkan ke ruang bertekanan negatif dan saat itulah saya diberitahu bahwa hasil swab test saya positif. Karenanya saya mulai mengambil sikap untuk menentukan strategi terbaik untuk diri saya.

Strategi yang saya pilih adalah strategi untuk tetap bahagia dalam menghadapi Covid-19 yang sudah menyerang saya. Strategi tersebut saya pilih karena imunitas tubuh sangat penting dan kondisi BAHAGIA saya yakini mampu meningkatkan imunitas tubuh saya.

Strategi tersebut saya tuliskan dalam tulisan pendek berjudul “Hati Yang Bahagia” dan saya share di grup-grup Whatsapp (WA). Hal ini memunculkan dukungan secara masif dari teman-teman di grup-grup WA.

Strategi bahagia  tersebut tidak mulus tentunya karena adanya halangan yang sedikit menyulitkan. Halangan itu berupa kamar bertekanan negatif yang diperuntukkan untuk saya. Kamar tersebut intinya menyedot segala infeksi dan mengganti udara dengan udara yang berkualitas terbaik.

Akan tetapi, efek samping dari sistem kamar bertekanan negatif tersebut adalah dinginnya kamar yang super-duper dinginnya seperti dinginnya udara Bromo, Dieng, atau Gunung Gede.

Saya menyebutnya sebagai kamar yang dinginnya kulkaswi, alias sedingin kulkas. Tetapi, saya berhasil mengalahkan rasa kedinginan tersebut dengan terus-menerus berinteraksi dengan dunia luar melalui WA maupun facebook.

Apa yang Membantu Recovery?

Saya berusaha mensyukuri segala sesuatu meskipun tampak sepele, untuk bisa menjalankan strategi “tetap bahagia dalam menghadapi Covid-19”. Hal ini mendatangkan tambahan nikmat-nikmat dari Allah SWT. Salah satunya, nikmatnya makanan yang disajikan oleh RSPG Cisarua –sederhana tetapi rasanya sangat pas di lidah dan lezat.

Karena saya merasa sangat terbantu dengan makanan RSPG Cisarua ini, saya pun berusaha mengapresiasi juru masak melalui tulisan saya. Dengan mengapresiasi juru masak melalui postingan di FB tersebut saya merasa bahagia karena telah berterima kasih kepada mereka yang memasak makanan lezat.

Selain makanan, yang juga membantu recovery/penyembuhan adalah dukungan dari keluarga, sahabat, dan teman-teman. Doa dan motivasi mereka dapat memberikan kebahagiaan yang meningkatkan imunitas tubuh.

Akhirnya saya dinyatakan sembuh pada tanggal 23 Agustus 2020 setelah swab test saya tanggal 13 dan 14 Agustus 2020 keluar hasilnya (hasilnya sangat lama keluarnya karena waktu itu RSPG Cisarua tidak memiliki alat Real Time PCR sendiri) dan hasil rontgen 23 Agustus 2020 menunjukkan kondisi paru-paru saya telah baik.

Cerita lengkap terkait apa yang saya alami semenjak demam hingga sembuh dari Covid-19  terdapat pada novel terbaru saya yang berjudul Gelombang Cinta & Nikmat Sang Penyintas Badai Covid-19 (HP/WA-08979560850).

Pelajaran yang Dapat Diambil

Pelajaran yang dapat diambil untuk menghadapi Covid-19 intinya adalah menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh kita. Selain makanan empat sehat lima sempurna, perlu juga makanan hati berupa bahagia untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Agar kita bisa menjaga untuk tetap bahagia maka kita harus mampu mensyukuri nikmat-nikmat sekecil apa pun, termasuk di antaranya dengan memberikan apresiasi kepada orang-orang yang telah memberikan dukungan kepada kita.

Demikian, semoga sharing saya bermanfaat dalam upaya kita menghadapi pandemi Covid-19.

1
0
Berharap Banyak kepada Kepala Sekolah di Masa Pandemi

Berharap Banyak kepada Kepala Sekolah di Masa Pandemi

Ketika pandemi covid-19 melanda dunia, negeri ini menjadi salah satu negara yang tidak bisa lolos dari sebaran virus tersebut. Sejak kemunculannya di Indonesia pada bulan Maret 2020, pandemi covid-19 memberikan dampak yang nyata dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat, tidak hanya sektor ekonomi, tetapi juga sektor pendidikan.

Dalam sekejap, pandemi “mampu” mengubah kebijakan pembelajaran. Sejumlah sekolah dari jenjang SD hingga perguruan tinggi terpaksa ditutup, yang tentunya menimbulkan sejumlah dampak bagi peserta didik maupun tenaga pengajar.

Dampak yang paling jelas terlihat atas perubahan dunia pendidikan saat pandemi adalah keefektifan proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Salah satunya dalam proses pembelajaran, tidak semua peserta didik mampu beradaptasi dengan metode pendidikan yang baru ini.

Terlebih pada jenjang sekolah dasar (SD), lantaran anak yang berada pada jenjang pendidikan ini sangat rentan akan tidak mendapatkan materi belajar yang memadai jika tidak mendapatkan pengajaran secara tatap muka dengan gurunya.

Paling tidak, sebanyak 19,7 juta peserta didik SD, 8,2 juta peserta didik SMP, masing-masing 4,4 juta peserta didik SMA dan SMK, serta 122 ribu peserta didik SLB (Kemendikbud, Dapodik 2020), yang semula belajar normal tatap  muka di sekolah berubah dratis menjadi belajar di rumah atau melalui metode belajar dalam jaringan (daring).

Sama halnya lebih dari 2,3 juta guru dan tenaga pendidik dari SD hingga SMK, termasuk guru SLB mau tidak mau merubah skenario pembelajaran dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pertanyaannya, apakah mereka sudah siap dengan berbagai tantangan dalam pembelajaran jarak jauh?

Tabel Rekapitulasi Data Pokok Pendidikan Nasional

Proses Belajar Harus Tetap Berjalan!

John Dewey, salah seorang filsuf dari Mazhab Pragmatisme dalam “The Child and The Curriculum” mengemukakaan perubahan yang terjadi dalam masyarakat pasti ada dan tak terhindarkan. Pandangan ini sebenarnya tidak terlepas dari pemikiran filsafatnya mengenai realitas yang dipandangnya selalu mengalir.

Dewey mengatakan bahwa pendidikan lantas menjadi sebuah proses pembaharuan terus-menerus demi kelangsungan masyarakat dan anggota-anggotanya melalui keterampilan, teknik, kreativitas, dan sebagainya. Sebuah pembelajaran yang terus disampaikan, dikomunikasikan seturut dengan keadaan yang dihadapi.

Kesimpulannya adalah dalam kondisi apapun, pendidikan harus tetap berjalan.

Agar kegiatan pendidikan dapat berjalan seperti biasa, pemerintah melakukan KBM dengan sistem online atau sistem daring. Di balik tuntutan kepada semua pihak untuk bisa beradaptasi dengan sistem belajar daring atau online atau sistem PJJ, tidak menutup kemungkinan timbul beberapa masalah dalam keberlangsungan proses pembelajaran.

Misalnya, peserta didik maupun tenaga pendidik diharuskan memiliki akses jaringan internet, ketersediaan sarana perangkat belajar, seperti internet maupun laptop atau HP untuk menunjang proses pembelajaran.

Selain itu, dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang tidak dapat dihindari adalah “memaksa” guru menguasai penggunaan IT (information technology), untuk memanfaatkan berbagai aplikasi pembelajaran.

Guru tak boleh asing dengan google meet, zoomgoogle classroomyoutube, media elektronik, maupun media sosial whatsapp. Tanpa mengecilkan kemampuan para guru, tidak sedikit orang tua dan guru yang masih merasakan kesulitan akan hal ini.

Belum lagi bicara akses, banyak daerah yang memiliki akses internet kurang baik atau tidak lancar. Hasilnya, banyak peserta didik yang tidak dapat belajar secara maksimal, baik dalam hal penyampaian materi pelajaran maupun penugasan yang diberikan oleh guru selama pandemi.

Kebijakan Kemendikbud

Untuk mengurangi beban guru dan peserta didik, agar pembelajaran tetap berjalan, Kemendikud pun melakukan penyesuaian pembelajaran tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 2/2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud serta SE Nomor 3/2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan.

Menurut Mas Menteri, pada Adaptasi Sistem Pendidikan selama Covid-19, sangat dibutuhkan kerja sama antara Kemenlu, Kemendikbud, dan Ketua Tim Pakar Penanganan. Hal ini dilakukan untuk mendorong para guru untuk tidak sekedar menyelesaikan semua materi dalam kurikulum.

Namun yang paling penting adalah siswa masih terlibat dalam pembelajaran yang relevan –seperti keterampilan hidup, kesehatan, dan empati.

Berbagai kebijakan lain dikeluarkan seperti pembatalan ujian nasional (UN), penyesuaian ujian sekolah, implementasi pembelajaran jarak jauh, hingga pendekatan online untuk proses pendaftaran siswa, serta Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan BOP yang fleksibel.

Grafik Jumlah Sekolah, Peserta Didik, Guru dan Tenaga Kependidikan Menurut Jenjang
(angka menunjukkan jumlah peserta didik dan guru, keadaan Agustus 2020)

Peran Kepala Sekolah

Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, terjadi pergeseran pola pembelajaran. Di antaranya, peserta didik tidak diwajibkan untuk datang ke sekolah maupun kampus untuk melaksanakan pembelajaran. Banyak sarana yang pada akhirnya diterapkan oleh guru untuk melaksanakan KBM secara jarak jauh.

Dari sisi kreativitas, baik dari guru maupun peserta didik dituntut untuk berlaku kreatif. Sebagai contoh, tidak sedikit guru membuat materi pembelajaran yang disajikan dalam bentuk video-video pembelajaran. Selain itu, banyak juga peserta didik yang mendapatkan penugasan pembuatan video pembelajaran yang menarik.

Salah satu pemeran utama dalam maju tidaknya sebuah proses pembelajaran adalah kepala sekolah (kepsek). Kepsek merupakan ujung tombak dalam keberhasilan maju atau tidaknya sebuah sekolah yang ia pimpin.

Sebagai leader, kepsek memikul tanggung jawab terhadap kenyamanan dan ketertiban lingkungan sekolah yang harus dirasakan oleh guru, peserta didik, dan orang tua; serta membangun atmosfir pendidikan yang memastikan peserta didik tetap mendapatkan pembelajaran meski di masa tanggap pandemi.

Dengan adanya keputusan yang mensyaratkan siswa dan guru melakukan pembelajaran dari rumah, mau tidak mau kepsek harus menularkan semangat perubahan kepada guru, siswa, dan orang tua secara cepat dan tepat.

Jika kepseknya kurang inovatif, bagaimana bisa memaksimalkan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah?

Dalam masa sulit ini, saatnya kepsek berperan dalam menghadapi kondisi abnormal. Sesuai tugas pokok dan fungsinya, idealnya kepala sekolah menjadi pemegang kunci pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) terlebih di masa pandemi;

  1. Selaku manajerial, dengan keluarnya SE dari Kemendikbud terkait kurikulum, sudah seharusnya kepsek membuat alur kerja yang jelas untuk guru dalam melaksanakan tugasnya. Dengan warga sekolah, kepsek harus mereviu kurikulum yang digunakan dalam kondisi darurat, melakukan gagasan dalam rencana program tahunan, dan mengembangkan manajemen partisipatif dalam pelaksanaannya.
  2. Selaku supervisor, kepsek harus melakukan pengawasan dan pemantauan kondisi pembelajaran. Merupakan tugasnya untuk mengukur kinerja guru saat memfasilitasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan media laporan tertulis guru  yang bisa diisi melalui google form. 

Kepsek juga harus proaktif masuk ketika terjadi interaksi kelas, misalnya pada whatsapp grup kelas, untuk mengetahui langsung proses PJJ yang berjalan antara guru, orang tua, dan peserta didik.

Karena kondisi darurat, Kepsek juga dapat menyusun format supervisi yang lebih sederhana, bahkan lebih sering mengajak berdiskusi para guru mulai dari pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), memetakan kurikulum BDR, hingga penilaian PJJ yang sesuai. Kepsek juga bisa meminta para guru antar mata pelajaran untuk berkolaborasi dan mengatur jadwal agar beban tugas peserta didik tidak terlalu tinggi.

Di sinilah juga tidak lepas peran aktif dinas pendidikan kabupaten/kota selaku pengelola pendidikan di jenjang SD dan SMP, serta peran dinas pendidikan provinsi selaku pengelola pendidikan jenjang SMA dan SMK, yang di era desentralisasi ini berada di bawah Pemda kabupaten/kota (SD-SMP), dan Pemprov (SMA-SMK).

 

 

Memberikan Ekstra Energi

Mengajar online artinya guru membutuhkan ekstra energi mulai menyiapkan materi, dan lain-lain, selayaknya kepsek memberikan motivasi kepada para guru agar apapun kendala dan permasalahan yang dihadapi dapat dibicarakan. Kepsek juga bisa mendorong guru untuk banyak belajar dari internet dengan mengikuti pelatihan webinar yang diadakan oleh berbagai lembaga agar dapat menambah wawasan.

Menjawab banyaknya keluhan dari para guru dan orangtua murid yang merasa sulit menyediakan kebutuhan kuota internet dalam kegiatan PJJ selama pandemi, selayaknya kepsek memberikan kucuran stimulus sebagai konsekuensi program baru.

Misalnya dengan pemasangan wifi, pemberian kuota guru dan peserta didik, pengadaan gawai untuk guru maupun perangkat lain yang dibutuhkan. Sekarang, kuota para guru pun sudah dimasukkan ke dana bos sesuai SE Mendikbud yang sudah membolehkan dana BOS untuk pembelian pulsa guru, sekolah, dan orang tua peserta didik.

Fleksibilitas terhadap dana BOS dan BOP ini telah ada dalam Permendikbud No. 19/2020 tentang Perubahan Atas Permendikbud No. 8/2020 tentang Juknis BOS Reguler. Dalam Permendikbud tersebut dijelaskan sekolah dapat menggunakan dana BOS Reguler untuk pembiayaan langganan daya dan jasa, yang mana penggunaannya tidak lagi dibatasi dari sisi persentase.

Begitupun dengan pembayaran honor untuk guru honorer, yang dianggap jauh lebih fleksibel dan tidak lagi dibatasi seperti sebelumnya, yaitu maksimal 50 persen.

Manfaatkan guru yang mampu IT, biasanya mereka adalah petugas operator data yang ada di unit sekolah. Guru yang melek IT harus mendampingi guru lain yang gagap tidak terbiasa dengan IT. Semestinya, tidak ada alasan lagi kuota sebagai penghalang bagi para guru untuk mengoperasikan aplikasi pembelajaran daring/online.

Seluruh warga sekolah tentunya sangat merindukan sekolah terutama bagi peserta didik, sekolah adalah rumah kedua bagi mereka. Orang tua pun demikian, banyak yang kewalahan karena menjadi guru dadakan di rumah bagi anaknya.

Pandemi covid-19 memang telah memberikan dampak yang dapat melemahkan aktivitas manusia. Banyak masyarakat beranggapan bahwa masa ini adalah masa sulit dan dirasakan nyata oleh setiap orang. Namun, masyarakat tidak bisa menjadikan pandemi covid-19 sebagai sebab untuk tidak melaksanakan kegiatan terutama dalam bidang pendidikan. 

Tetaplah belajar, Indonesia.
Teruslah menjaga, para Kepala Sekolah.

8
0
Laskar Jemari Responsif

Laskar Jemari Responsif

Aku beruntung saat harus diisolasi di rumah sakit seperti ini, sebab aku mampu memilih untuk selalu berbahagia. Kebahagiaanku pun selalu didukung oleh dunia maya. Keberadaan dunia maya membuatku mampu menembus isolasi ruang bertekanan negatif yang mengungkungku. Dengan dunia maya aku dapat berinteraksi dengan banyak sahabat dan membuatku merasa nikmat. Menikmati hari-hari isolasi akibat terkena Covid 19 ini.

Awal cerita ini bermula dari tes usap (swab) pertama yang kujalani di tanggal 4 Agustus 2020. Dari tes tersebut aku dinyatakan positif.  Bukan perkara mudah untukku menerimanya, karena sebelumnya aku berkeyakinan hasilnya akan negatif.

Sudah lebih dari 3 bulan aku menggunakan mobil pribadi saat berangkat dan pulang ke kantor. Aku pun selalu mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker,  menjaga jarak,  dan selalu mencuci tangan pakai sabun.  Setiap cek suhu pun selalu suhu badan rendah,  yakni di sekitar kisaran 36 derajat celcius. 

Namun, apa bisa dikata, pada akhirnya akupun terkena. Aku memilih untuk tetap bahagia menerima kenyataan.  Aku berharap pilihan hati yang bahagia ini akan membuat tubuhku tetap fit dan mampu meningkatkan imunitas tubuh hingga Covid 19 dapat terbersihkan dari tubuhku.

Apakah pilihan hati yang bahagia ini rasional?  Bagi saya, iya.  Kesedihan hanya membuat tubuh semakin ringkih,  sedang kebahagiaan memicu energi positif yang terdapat dalam tubuh.  Setidak-tidaknya itulah yang saya yakini selama ini.  Akupun sering terbantu dengan pilihan hati untuk tetap bahagia ini.

Tentu pilihan hati yang bahagia dalam menerima takdir bukanlah satu-satunya ikhtiar.  Aku tetap berikhtiar dengan mengikuti prosedur medis rumah sakit yang merawatku. Jelas, tak lupa aku selalu berdoa, serta memohon didoakan oleh orang-orang yang bersedia mendoakan.

Di tengah pilihan hati yang bahagia, akupun merasakan dukungan tak terhingga dari dunia maya. Aku begitu bersyukur banyak sobat-sobat memberikan tanda like dan komen positif terkait postinganku. Kusebut saja mereka sebagai “Laskar Jemari Responsif”.



Seberapa pentingkah like dan komen positif? Bagiku sangat penting. Menulis tentu sesuatu yang menyita waktu, pikiran, dan perasaan. Karena itu, kurasa semua penulis, termasuk aku, ingin dihargai/diapresiasi atas apa yang ditulis.

Hal itu dikarenakan sang penulis telah berusaha memberi nilai tambah pada dunia ini –sekecil apa pun gagasan yang ada. Yang penting gagasannya otentik dan merupakan ungkapan jiwa berkebajikan yang ingin memberi kontribusi, walau sekecil apa pun, untuk peradaban yang lebih baik.

Ada yang berpendapat seharusnya kita ikhlas dalam berbuat termasuk menulis tanpa mengharapkan pujian atau apresiasi dari orang lain, kecuali mengharapkan ridha Allah SWT. Menurutku pendapat ini bagus bila malaikat yang menyatakannya kehilangan sisi kemanusiaannya.

Menyukai pujian atau apresiasi yang sewajarnya tanpa “rakus pujian” yang menimbulkan kesombongan adalah manusiawi. Allah SWT tidak pernah mencela. Bahkan, Allah SWT tak segan-segan memuji hamba-Nya yang berbuat kebajikan sekecil apa pun.

Bukankah Allah SWT memuji Nabi Muhammad SAW karena memiliki akhlak mulia? Bahkan Allah SWT menyatakan dalam QS Ar Rahman, hal jazaul ihsan illal ihsan? Bahwa kebaikan pantas dibalas dengan kebaikan.

Untuk itulah tulisan yang baik, yang terdapat kebaikan di dalamnya –sekecil apa pun, pantas mendapat apresiasi. Dalam dunia maya berbentuk like dan komen positif.

Jadi, kita bisa saja menulis dan berharap mendapat like dan komen positif, tapi tetap dengan ikhlas dan mengharap ridha Allah SWT. Keikhlasan itu letaknya pada jiwa yang berkebajikan, tidak terpengaruh oleh keinginan manusiawi untuk diapresiasi perbuatannya tanpa berlebihan.



Karena itu aku berterima kasih kepada ‘Laskar Jemari Responsif’. Mereka telah membahagiakanku dengan like dan komen positifnya.

Itu meningkatkan kualitas emosiku di saat sedang terpuruk seperti ini. Itu membuatku lebih optimis dalam menghadapi Covid 19. Hal itu juga membuatkau semakin memiliki harapan besar untuk bisa segera sembuh.

Ada yang meragukan bahwa komen positif berupa doa itu relevan. Bahkan, ada sebagian yang sinis dengan mengatakan, “Memangnya Tuhan main medsos?” Aku kadang ingin tertawa bila mendapati kalimat seperti itu.

Allah SWT yang kukenal sangat mengetahui isi hati kita yang tersembunyi. Karena itu seluruh isi medsos yang tidak tersembunyi tentu Allah SWT sangat mengetahuinya. Allah SWT akan mengabulkan doa-doa yang ada dalam medsos sepanjang doa-doa tersebut tulus dipanjatkan.


Karena itu, mari kita budayakan memberi tanda like dan juga komen positif bila kita membaca suatu tulisan, terlebih tulisan yang memiliki makna.

Meskipun kadang terlihat sepele, tulisan tetap selalu bermakna dan lahir otentik dari jiwa berkebajikan. Terlebih lagi, tulisan selalu saja memiliki manfaat bagi orang lain, entah siapapun dia.

Mari tetap jaga kesehatan dan tetap bahagia.

Cisarua, 11 Agustus 2020

*Optimis sembuh Covid 19 dengan dukungan like dan komen positif sobat-sobat Laskar Jemari Responsif

6
0
Jalan Sunyi Para Pemberani

Jalan Sunyi Para Pemberani

Malam itu, kantin mess pertambangan di tengah sebuah hutan Kalimantan mulai sepi. Seorang laki-laki setengah baya mendatangi meja saya yang masih kosong dan meminta izin untuk bergabung. Saya mempersilakan dengan senang hati, dan tak lama kemudian kami pun terlibat dalam obrolan yang akan selalu saya ingat bertahun-tahun kemudian.

Siapa dia? Namanya, sebut saja, N. Ia bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan Amerika yang memasok material khusus untuk berbagai industri. Saya sendiri saat itu sedang dalam penugasan sebagai konsultan untuk implementasi UK Bribery Act (UKBA), yakni undang-undang anti-penyuapan Inggris. 

Ketika N bertanya lebih jauh mengenai pekerjaan saya, saya hanya menjawab seperlunya. Bertahun-tahun bekerja sebagai konsultan kejahatan keuangan mengajarkan saya untuk tahu diri.

Ya tahu diri, karena hampir setiap kali saya terlibat obrolan mengenai penerapan sistem anti-penyuapan pada perusahaan swasta, lawan bicara saya selalu menjawab dengan skeptis.

Frase “ini Indonesia”, “suap sudah menjadi budaya”, “bisnis memang begitu”, dan seterusnya, selalu saya dengar. 

Jadi saya benar-benar terkejut waktu N merespon, “Wah, menarik Mas. Sudah waktunya pencegahan korupsi di sektor swasta ditangani dengan lebih serius.”

Dari situlah N menceritakan pengalaman uniknya sebagai manajer di perusahaan Amerika yang wajib menetapkan US Foreign Corrupt Practices Act (FCPA). Mirip dengan UKBA, FCPA adalah undang-undang Amerika yang melarang perusahaan Amerika menyuap pejabat pemerintah di luar negeri. 

Beberapa tahun sebelumnya, menurut ceritanya, N hampir saja mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Ia mengambil keputusan itu setelah diminta memimpin tim penjualan dengan target khusus proyek -proyek pemerintah dan BUMN.

Sambil menyerahkan surat pengunduran diri, N mengatakan kepada atasannya, Direktur Pemasaran, “Boss, this is Indonesia. There’s no way you can sell to government entities without paying anything.” 

Atasannya, seorang warga negara India, memintanya duduk dan mengajaknya bicara. Direktur tersebut bercerita bahwa ia pernah berada dalam posisi yang sama sewaktu menjadi manajer penjualan di India. 

Sambil tersenyum sang bos mengatakan, “Kamu tahu India kan, kurang korup apa coba?” Tapi pada saat itu ia bersedia untuk menerima posisi tersebut karena percaya bahwa tidak semua orang bisa dibeli dengan uang. Lalu dengan gaya meyakinkan sang bos menambahkan, “Masa sih, dari seratus pintu yang kamu ketuk semuanya minta suap?”

Rupanya atasan N adalah orang yang sangat persuasif. Setelah mendengarkan paparan sang bos, N memutuskan untuk membatalkan pengunduran dirinya.

Sambil menyeruput kopinya, N mengatakan kepada saya bahwa itu adalah keputusan yang tidak pernah ia sesali. Bukan karena akhirnya berhasil mencapai target penjualan, tetapi karena pengalaman berharga yang didapatnya dari sana.

Ia melanjutkan kisahnya. Ada suatu saat ia memenangkan tender pengadaan perangkat rambu-rambu lalu lintas senilai belasan milyar di Kementerian Perhubungan. Sejak proses tender sampai dengan pekerjaan selesai, tak sepeserpun ia dimintai uang oleh counterpart-nya di Kementerian. 

Karena penasaran, suatu ketika ia menanyakan hal itu ke pimpinan proyek. Jawabannya mengejutkan, “Pak N, saya punya mimpi suatu hari nanti standar keselamatan lalu lintas di Indonesia akan sama dengan di negara-negara maju.

Cuma itu yang saya inginkan. Kalau Bapak menanyakan apa yang bisa Bapak bantu, bantu saja staf secara maksimal untuk memastikan perangkat yang sudah kita pasang ini terpelihara dengan baik.”

Di lain kesempatan lagi, ia memenangkan tender pengadaan material di sebuah bank BUMN. Hal yang sama terjadi. Tak ada “permintaan khusus” dari pejabat bank tersebut kepada pemenang tender.

Suatu hari mereka mengadakan rapat teknis dengan pihak bank di kantor bank tersebut. Ketika waktu makan malam tiba, mereka reses dari rapat untuk makan malam sebentar.

Tak ada undangan untuk fancy dinner atau jamuan. Lucunya, kedua tim tersebut kemudian bertemu secara tidak sengaja di gerobak nasi goreng di belakang kantor bank tersebut. Dan mereka membayar sendiri-sendiri makan malamnya.

Banyak cerita positif lain yang akhirnya membuka mata N – dan mata saya sendiri – bahwa kita punya banyak orang baik yang menempuh jalan sunyi ketika mereka melakukan pekerjaannya dengan penuh integritas. Bukan saja karena dianggap aneh oleh lingkungannya, melainkan juga karena tak seorangpun mengangkat cerita mereka.

Kami terus berbicara sampai larut malam, dan baru berhenti setelah pengelola kantin mengusir kami secara halus.

Sesampainya di kamar, saya tidak bisa berhenti memikirkan obrolan tadi. Selama bertahun-tahun, kita bukan hanya nrimo terhadap pandangan bahwa korupsi adalah budaya bangsa, tetapi juga membesar-besarkannya melalui obrolan dengan teman, famili, sampai sopir taksi.

Saking tidak percaya dirinya, bahkan kemajuan yang kita buat sendiri pun disikapi dengan skeptis. 

Saya ingat pada awal KPK berdiri, begitu banyak para pelaku kejahatan keuangan terkena operasi tangkap tangan. Hal itu membuat sebagian besar orang berpikir bahwa korupsi di zaman reformasi lebih gila daripada zaman orde baru (Orba), karena lebih banyak orang yang ditangkap.

Entah mengapa tidak terpikir oleh mereka bahwa fenomena itu justru disebabkan adanya penegakan hukum yang lebih efektif dibandingkan pada masa Orba.

Skeptisisme memang diperlukan untuk mencegah kita berpuas diri. Sikap ini juga merupakan prinsip dasar ketika melakukan audit/investigasi. Namun, jika konteksnya adalah merintis perubahan, skeptisme bisa membahayakan. 

Dari pengalaman saya membantu klien menerapkan sistem anti-penyuapan, masalah terbesar yang sering muncul adalah skeptisme dari para pemangku kepentingan, bahkan dari manajemen senior sendiri. 

Dalam suatu rapat, seorang CEO perusahaan asing pernah berbisik-bisik kepada saya mengatakan bahwa percuma perusahaan menerapkan sistem anti-penyuapan karena di Indonesia korupsi sudah membudaya. 

Saya membalas, 
“Beware of your own thinking. You’re the tone at the top here, what you believe can be a self-fulfilling prophecy.” 

Kepercayaan bahwa korupsi adalah budaya yang tak tersembuhkan akan menumbuhkan pesimisme, dan pesimisme akan mengakibatkan “self-fulfilling prophecy”, kegagalan yang terjadi karena kita sendiri meyakininya sejak awal. Sebaliknya, menyebarluaskan success story akan menumbuhkan optimisme yang berdampak positif pada lingkungan di sekitar kita. 

Seorang direktur dari salah satu perusahaan klien pernah menghampiri saya ketika kami sedang rehat kopi dalam suatu rapat. Ia bercerita bahwa akhir pekan sebelumnya ia diminta mewakili perusahaan menghadiri acara pernikahan anak Bupati yang membawahi area operasinya.

“Dan untuk pertama kalinya,” katanya, “Saya datang sebagai wakil perusahaan, tetapi tidak menyumbang sepeserpun.” 

Ia menyebutkan bahwa biasanya untuk keluarga kepala daerah, sumbangan perusahaan bisa mencapai belasan juta rupiah. Beberapa orang yang ikut mendengarkan obrolan kami terpana oleh “kenekatan” si bapak tersebut.

Namun, saya merasakan adanya atmosfer positif yang menular di sana. Sesuatu yang selama ini diterima sebagai budaya ternyata bisa ditumbangkan. Saya yakin, kita memiliki banyak sekali cerita tentang integritas dan keberanian yang bisa kita tularkan.

Tidak ada resep instan untuk memberantas korupsi. Di sisi lain, mengumbar skeptisisme jelas bukanlah awal yang baik. Tindakan ini bukan saja akan menghabisi rasa percaya diri kita sebagai bangsa, tetapi juga merupakan dosa besar kepada mereka yang selama ini telah merintis jalan menuju pemerintahan yang bersih.

Martin Luther King Jr. pernah mengatakan, “In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.” 

Mari hargai integritas para pemberani ini, supaya jalan mereka tak terlalu sunyi lagi.

7
0
Elegi Riang Penikmat Rapat

Elegi Riang Penikmat Rapat

…hanya menjadi penikmat itu bisa beneran nikmat
karena boleh hanya melihat asal nikmat,
kita pun juga boleh memilih untuk tak terlibat.
Menjadi penikmat itu nikmat, kalau (benar) tidak tahu dan tidak mampu,
karena hanya bisa melihat, tanpa terlibat…

Prolog

Hari ini saya berbunga-bunga, hatinya. Bahagia bersemburat bangga. Betapa tidak, pagi ini tidak biasanya saya mendapat undangan dari divisi strategis kantor yang mengurus segala macam hal penting di negeri ini. Bukan undangan fisik, maaf, Anda yang membaca tulisan ini tentunya telah berada di era kehidupan baru yang tidak senormal dulu.

Bukan juga melalui melalui segala macam alamat email, maaf, kantor kami telah melengkapi diri dengan hasil inovasi perkantoran digital yang terkini hasil dari inovasi teruji. Inovasi yang berhasil menghimpun hampir seluruh dokumen fisik, baik yang keluar atau masuk dari kantor kami, menjadi lembaran-lembaran digital yang tinggal klik lalu ‘go live’. Simpel, modern, dan hemat, serta berwawasan lingkungan.

Pun juga bukan undangan langsung sebenarnya. Karena hari ini, kebetulan atasan dari atasannya atasan saya, kebetulan sedang menghadiri rapat penting lainnya. Dengan demikian, undangan itu ‘jatuhlah’ ke laman elektonik saya, tiga empat lapis di bawah tujuan yang harusnya. Tapi apapun ‘sejarahnya’, tetap tidak mengurangi ‘keren’-nya undangan itu untuk saya, lhoh, asli!

Di tengah ‘kesibukan’ merekap dan menyusun(kan) surat di unit saya setiap hari, saya akhirnya dipercaya mewakili unit kerja saya di rapat se-strategis itu. Meskipun itu kondisi memaksa, walaupun saya tidak yakin mereka yang menunjuk saya merasa terpaksa.

Tetap keren! (mohon di baca dengan mengimajinasikan dalam rupa font ukuran 32, style bold, dan spasi center).

Menurut saya.

Menjadi Wakilnya Para Wakil yang Mewakili Perwakilan

Pada saatnya, saya sudah siap dengan berbagai materi yang diperlukan. Dari disposisi, saya mulai mencari dan mengemas berbagai informasi dan data yang kira-kira akan ditanyakan dari unit kerja kami, apa saja yang mungkin diperlukan sebagai bahan masukan rapat. Apa saja, meski tetap sebatas kemampuan saya. Langkah yang sedikit pintar, menurut pengalaman saya.

Eh, maaf, meski ada di dekat posisi terujung lajur rantai makanan, kalau dianalogikan dalam mata pelajaran biologi dulu, saya masih diberikan kemampuan melihat, mendengar, dan (sedikit) membaca untuk menyiapkan sedikit bahan bekal rapat nanti. Adalah meski hanya satu dua lembar kertas dari berkas yang tersisa di PC saya untuk bahan bacaan, dan kalau beruntung, bekal memberikan masukan. Entah strategis atau teknis, yang penting saya siap.

Iya, yang penting siap. Toh lembar disposisi yang saya lihat tadi pagi cukup luas untuk saya tafsirkan. Cukup ringkas dan padat, bahkan dari atasan atasannya atasan saya, hampir tak bertambah satu kata penjelas di kalimat instruksinya. Hanya dua kata, hadir dan wakili dengan tanda koma di antaranya dan tanda seru pada akhirnya.

Saya tak perlu bertanya lebih, saya kira itulah kelebihan beliau-beliau yang terbiasa berpikir dan bertindak strategis dan taktis. Kebiasaan yang diterapkan secara konsisten dalam kata-kata perintah. Terjemahnya, haruslah kita yang pintar mengartikan sebagai anggota yang (diharapkan) juga pintar. Sebagaimana dogma-dogma yang sering saya dengar dalam berbagai arahan dan rapat bersama.

Berani berinisiatif, penuh tindakan inovatif!

Jangan sering bertanya bagaimana menjalankannya, tapi berilah solusi untuk segera beraksi!

Kita aparatur yang harus peka terhadap dinamika masyarakat, tuntutan banyak,

harus lah cepat dan sigap!

Berpikir.

Dalam Putaran Rapat

Dan rapat di era kehidupan normal yang baru dimulai. Saling memandang layar instrumen teknologi, bersiap dengan baju rapi, dan mencoba bertahan dengan raut wajah yang tetap terjaga berkonsentrasi. Meski saya yakin, itu setengah mati.

Rapat dibuka oleh sejawat atasannya atasan saya dengan arahan pembuka yang bernas, tidak bertele-tele, dan memaparkan tujuannya dengan jelas. ‘Ini rapat penting!’ Itulah yang saya tangkap. Begitu pentingnya sehingga semua pihak, termasuk unit kerja saya, diundang untuk membahasnya.

Begitu pentingnya, sehingga layar PC saya harus digeser-geser dua atau tiga kali kalau berkeinginan melihat semua peserta yang hadir. Begitu pentingnya sehingga kami semua para peserta dikonfirmasi dan diberikan kunci masuk yang tentu tidak sembarang orang bisa memakainya sejenak sebelum rapat.

Setelah itu berbagai pemaparan pembuka disampaikan, tentang ini dan itu segala hal terkait pentingnya hal-hal penting yang dibahas dalam forum penting ini. Penting!

Sudah jelas ini rapat penting, yang syukurnya juga, saya telah berhasil membaca pesan tersebut ketika pertama kali membuka disposisi elektronik tadi pagi.

Satu putaran topik dilalui, tapi saya pikir ini belum bagian saya untuk turut berkontribusi. Meski saya paham tentang isunya, hasil dari mencuri dengar dan sedikit mendapatkan dari hasil pengarahan dalam rapat besar tempo hari. Namun demikian, dalam beberapa hal saya mempertimbangkan untuk tidak memberikan pendapat, meski beberapa kesempatan telah didapat.

Saya pikir itu bukan porsi saya, karena menyangkut pengambilan kebijakan yang bukan area saya. Sekali lagi, meski saya bisa, segala apa yang saya sampaikan mengatasnamakan unit kerja saya, nantinya akan membawa berbagai konsekuensi ke depannya. Dan itu pasti, di luar kewenangan saya.

Putaran kedua tak terasa sudah juga dilewati dan tentunya saya sangat nikmati. Perspektif-perspektif baru yang disampaikan para peserta rapat, seolah mengkonfirmasi beberapa pemikiran tentang bagaimana sebaiknya pelaksanaan topik penting dan strategis ini dijalankan.

Koordinasi lintas kewenangan, komunikasi intensif, dan rajutan-rajutan prosedur yang mendukung kebijakan, seolah menyadarkan saya betapa kecilnya kontribusi unit kerja saya selama ini. Pun juga kesadaran berbagai potensi upaya yang dapat dilaksanakan oleh unit kerja saya. Ini penting dan semakin penting!

Tapi saya harus merelakan beberapa kesempatan untuk berkontribusi, sekali lagi. Bukan soal dampak, namun kali ini tentunya berbagai hal yang sudah saya persiapkan dan serasa mencekat di tenggorokan, harus lah pelan-pelan kembali saya telan. Kali ini ide dan pemikiran saya, rasanya harus terlebih dahulu dibicarakan dengan atasan. Hampir saya terucap, namun sekelibat ingatan menghadap.

Beberapa hari lalu, saya berdebat keras dengan atasan, karena hal ini. Ada sesuatu yang saya pikir seharusnya bisa dilaksanakan, tapi entah kenapa urung terlaksana. Atasan saya masih menyimpan satu pertimbangan. Sementara untuk saya, sudah jelas baik dalam pemikiran, lisan, dan tulisan!

Masih ada dispute yang kalau saya paksakan, akan ada ‘pembunuhan’ karakter atasan saya di forum rapat ini. Dan itu pasti oleh saya, karena masukan dan pendapat pribadi saya. Saya mungkin tipe pegawai pengkhayal, tapi tetaplah loyal.

Sesi kedua pun lewat, saya kembali hanya jadi penikmat dan masih menjadi pencatat.

Tapi tentu saya tidak akan melewatkan sesi terakhir ini, karena terkait dengan hal-hal teknis yang saya banget. Iya, ini sesi saya. Berkali-kali saya tulis kalimat untuk masukan hasil dari pemikiran berbagai pelaksanaan tugas yang saya lakukan. Tentang bagaimana soal pengisian datanya, bagaimana mendapatkannya, dan tentang bagaimana menjadikan data yang dapat dibaca dan dimengerti. Itu mainan saya. Asli, saya bisa dan terbiasa.

Seperti mendung yang menggantung, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berayun menjatuhkan air. Saya sedang menyusun-nyusun kata pembuka, ketika tiba-tiba…..

“…baiklah, saya kira untuk hal-hal teknis seperti ini, agar dibicarakan di unit teknis-nya masing-masing sebelum nanti disampaikan para pimpinan, apa solusinya.

Kita catat terlebih dahulu masalahnya. Mari kita akhiri, saya kira rapatnya efektif…”

…suara sejawat atasan atasannya atasan saya tiba-tiba menyeruak di antara pembicaraan antara moderator rapat dengan beberapa pimpinan unit kerja lain, ketika mendiskusikan hal teknis yang saya banget. Rapat usai, pembahasan selesai. Sementara rangkaian kalimat calon usulan saya masih meninggalkan tanda koma.

Epilog

Apapun tetap saya nikmati, tetap saya syukuri. Meskipun tidak jadi berucap, rapat tadi sungguh bermakna bagi diri, seolah menancap menjadi penanda di hati. Perspektif, pelajaran, dan pemikiran baru ada dalam benak tertata tegak. Saya tetap terima, meski sedikit menyesal karena melewatkan beberapa kesempatan.

Kesempatan untuk menyatakan saran yang urung digunakan. Banyak pertimbangan untuk melakukan, tepat tanpa kewenangan dan delegasi yang mengikat, rasanya saya bukan orang yang tepat. Tanpa arahan dan instruksi yang jelas tentang harus melakukan apa dan berkata apa, rasanya cukup fair kalau saya memilih untuk hanya jadi penikmat rapat serta hanya menjadi pencatat.

Bersyukur karena justru timbul motivasi dan keinginan kuat. Bila nanti di posisi atasanku saat ini, tentu aku akan memberikan arahan yang tepat dan presisi ketika meminta bawahan dari bawahannya bawahan saya untuk menghadiri rapat seperti ini.

Bila nanti aku di posisi atasan atasannya atasan saya, tentu saya akan memberikan panduan yang tepat tentang bagaimana harus berpendapat pada tempat dan saat serta momentum yang tepat. Arahan yang dapat menjadi panduan yang jelas tentang bagaimana kontribusi harus diberikan, ketika seseorang ditugasi mewakili.

Arahan yang menghilangkan keraguan tepat-tidak tepat, salah-tidak salah, sesuai-tidak sesuai, yang membuat seorang wakil terantuk pada keraguan yang menggumpal. Arahan yang menguatkan, bukan membingungkan. Arahan yang memberikan kepercayaan, sebagai penghargaan.

Bersyukur lagi karena pengalaman memberikan motivasi. Andai saya jadi pengundang dan pemimpin rapat, yaitu sejawat dari atasan atasannya atasan saya, akan saya berikan peringatan pada pimpinan yang diundang, tujuan dan maksud adanya rapat, biar yang datang juga dengan bekal yang tepat.

Andai seperti sejawat atasan atasannya atasan saya, akan saya jelaskan bahwa yang dimaksud strategis itu adalah satu prioritas sehingga tidak menjadi abai atau diabaikan. Andai saya di posisi puncak akan saya koordinasikan dan komunikasikan dengan jelas apa yang kita semua akan tuju dan harapkan. Andai saya di puncak pimpinan, saya akan bicara tegas dan lugas, apa yang saya harapkan.

Tapi tentunya akan saya lakukan nanti, kalau saya diberikan mandat pada posisi itu pada saatnya.

Itu pun kalau saya tidak lupa.

…masih di Bekasi, 22 Juni 2020, waktu check out pada presensi WfH…

4
0
error: