Refleksi ASN Dua Generasi: Antara Milenial dan Kolonial

Refleksi ASN Dua Generasi: Antara Milenial dan Kolonial

Refleksi Generasi Pertama

Kumandang adzan maghrib mengiringi laju kereta Senja Utama dari Stasiun Balapan dengan tujuan terakhir Stasiun Pasar Senen Jakarta, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Di sana lah aku berada. Setelah pengumuman kelulusan sekolah menengah atas (SMA) – dengan bermodalkan restu ibu dan bapak – aku mencoba peruntungan mendaftar di sebuah perguruan tinggi di ibukota.

Kampus itu bernama STAN, kependekan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, milik Kementerian Keuangan. Sekolah kedinasan yang mencetak para aparatur dan abdi negara yang nantinya ditugaskan di seluruh penjuru nusantara.

Pembentukan Jiwa Pengabdian

Jiwa pengabdian orang tuaku sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pendidik di sekolah dasar rupanya mengalir ke diriku. “Melanjutkan semangat pengabdian kedua orang tua”, jawaban itulah yang aku sampaikan pada saat tes wawancara untuk menjadi calon mahasiswa STAN. Alhamdulillah, membawa berkah sehingga aku akhirnya diterima sebagai mahasiswa STAN pada tahun 1990.

Di tengah ancaman hantu “Drop Out” aku berhasil lolos pada setiap tahapan. Semester demi semester terlewati hingga aku berhasil menamatkan pendidikan Ajun Akuntan. Setelah 2 tahun praktek kerja, nasib baik berpihak padaku. Aku lolos seleksi masuk Diploma IV (D-IV) dan menjalani pendidikan 2 tahun berikutnya untuk meraih gelar Akuntan.

Berbekal semangat Garuda di Dadaku, pengabdian tidak boleh berhenti karena ruang dan waktu. Kata- kata tersebut menghipnotis serta mengiringi setiap langkahku dalam menunaikan tugas selaku ASN.

Satu surat keputusan atau SK, disambung dengan SK-SK lainnya, berisi pengangkatan sebagai auditor, kenaikan pangkat dan mutasi ke berbagai daerah telah aku jalani lebih dari 12 tahun lamanya.

Di tengah kebanggaanku sebagai auditor dalam mengemban tugas di bidang “Assurance dan Consulting“, pimpinan memberiku amanah tugas baru yang lebih besar. Aku diberi tanggung jawab sebagai struktural pengelola keuangan. Dalam melaksanakan penugasan tersebut, berbagai tantangan dapat kuatasi. Perlahan aku menjawab sebuah pertanyaanku sendiri,

“Rasa pengabdian itu seperti apa?”

Ah, terlalu panjang untuk menceritakan kepada kalian, tentang bagaimana rasanya pengabdian. Yang jelas bisa kuceritakan ialah bahwa seringkali pengabdian itu bermakna harus keluar dari comfort zone atau zona kenyamanan.

Kesempatan Menikmati “Indomie Nusantara”

Seperti halnya berganti jenis ragam penugasan maupun berpindah ke tempat tugas yang baru, perlu ekstra energi untuk terus belajar mengenal lingkungan pekerjaan baru yang sangat dinamis. Terkadang, penugasan ini mengharuskanku berpisah dengan keluarga. Namun selalu ada kesempatan menikmati setiap menu “Indomie Rasa Nusantara”.

Sebuah contoh nyata pengabdian dalam tugas sebagai struktural itu terasa pada saat gempa 30 September 2009 di Sumatera Barat. Di tengah kegundahan para pegawai yang tidak bisa bekerja karena kantor telah runtuh, kami para punggawa harus berpikir keras untuk mengatasi kondisi yang ada.

Alhamdulillah, atas arahan pimpinan, dengan berbagai jalan kami pun bisa merombak rumah dinas menjadi kantor darurat sehingga pelaksanaan tupoksi tidak terhenti. Itulah jiwa pengabdian sejati – bahwa stake holder lebih membutuhkan layanan kita di tengah kondisi darurat pasca gempa.

Tanpa terasa kini sudah lebih dari 10 tahun melaksanakan tugas di jabatan struktural. Berbagai kuliner di beberapa daerah sudah pernah kunikmati. Apa yang sudah dijalani adalah berorientasi pengabdian dan memenuhi pesan orang tua agar tetap “Eling lan Waspodo“. Eling adalah ingat kepada Yang Maha Kuasa dan Waspada adalah berhati-hati dalam bekerja.

Refleksi Generasi Kedua, Surat Resign dari Si Milenial

Aku terhenyak mendapati sebuah surat permohonan untuk resign dari Satrio, seorang milenial di kantorku. Tak lama, surat itu kukirimkan kembali padanya melalui WA sebagai bentuk klarifikasi. Sungguh mengagetkan, mengingat kabar terakhir Satrio bermohon izin hanya untuk cuti mendampingi istri di Kota Bakwan.

Sesekali kulihat apakah pesan WA itu sudah dibacanya. Sebagai pejabat yang berwenang mengelola kepegawaian di kantorku, berita macam ini memang sedikit memunculkan kekhawatiran. Pesan WA itu rupaya sengaja tak dibukanya, tetapi pada akhirnya kami bertemu ba’da sholat dhuhur di masjid kantor.

Maka kemudian sebuah obrolan serius tapi santai kujalani dengan Satrio. Suasanyanya pas, di sebuah saung di samping kantin ditemani secangkir kopi Toraja. Aku mulai menggali informasi lebih detail terkait surat resign yang diajukan Satrio.

Cerita lengkapnya dimulai saat Satrio mengikuti sebuah pendidikan dan pelatihan (Diklat) Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di Bogor beberapa waktu yang lalu. Satrio berada satu kelas dengan teman baru dari unit kerja lain. Mereka ngobrol-ngobrol hingga akhirnya Satrio memperoleh tawaran untuk pindah kerja di Bagian Teknologi Informasi sebuah perusahaan holding perdagangan yang berkantor pusat di Jakarta.

Tawaran pekerjaan ini cukup menggiurkan. Gaji yang ditawarkan mendekati angka Rp20 juta perbulan, 3 kali lipat dari penghasilan yang diterima Satrio saat ini. Harus diakui memang bahwa selain penghasilannya jauh lebih kecil, pekerjaannya saat ini mengharuskan Satrio siap dimutasi atau berpindah-pindah tempat di seluruh Indonesia.

Berbekal argumentasi itu dan keinginan untuk pengembangan karir lebih optimal di tempat bekerja yang baru, pada akhirnya Satrio memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ceritapun mengalir, keinginan untuk resign yang semula hanya spontan pada akhirnya menantangnya sebagai seorang milenial berbekal potensi keahlian dan usia yang masih fresh di dunia kerja. Uji nyali, katanya.

Masa percobaan kerja berlangsung selama 3 bulan. Satu bulan pertama sudah dijalaninya. Rupanya pengalaman awal ini semakin memantapkan langkah Satrio untuk resign dari ASN. Meskipun satu bulan percobaan tersebut hanya memanfaatkan surat cuti mendampingi istri melahirkan.

Aku cukup terkaget juga dengan kenekadan Satrio. Peristiwa itu begitu cepat terjadi dan tidak terinfokan bagaimana kondisi sebenarnya. Yang kupahami, pertimbangan atasan ketika menyetujui cuti karena alasan (kemanusiaan) mendampingi istri yang melahirkan bayi kembar ternyata tidak akuntabel.

Aku terkaget lagi dengan prospek imbalan take home pay yang relatif cukup besar telah menantinya di liuar sana. Take home sebesar itu melebihi penghasilan ASN yang mempunyai masa kerja lebih dari 27 tahun. Sedangkan saat ini masa kerja Satrio baru berkisar 5 tahun.

Resign adalah One Way Ticket yang Tak Bisa Dibatalkan

Secara normatif aku memberikan nasehat agar Satrio memikirkan secara matang risiko mendatang atas keputusan resign itu. Keputusan ini seperti halnya beli tiket “one way” untuk sebuah perjalanan hidup yang tidak mungkin bisa diralat lagi setelah adanya Surat Keputusan.

Pertanyaanku selanjutnya, apakah keputusan tersebut sudah mendapat restu orang tua? Terakhir, aku menasehati Satrio agar mengikuti proses resign sesuai dengan prosedur instansi, yaitu untuk tetap aktif berkantor sampai dengan permohonan diproses di kantor pusat dan terbit surat keputusan resmi.

Kekagetanku pada keputusan Satrio kemudian juga mendorongku mencoba menganalis etos kerja dan ekspektasi gen milenial dengan pendekatan zaman di mana generasi kami hidup, khususnya masa muda masing-masing. Perbedaan zaman inilah yang menyebabkan keputusan kami berbeda atas dua hal: ketetapan hati untuk menjadi ASN dan ketetapan hati untuk bertahan sebagai ASN atau justru mengundurkan diri (resign).

Bagiku periode tahun 90-an ketika sedang awal masa kuliah, aku adalah “Generasi Wesel”. Generasi di mana mahasiswa harus menanti kiriman uang lewat wesel yang hanya bisa dicairkan di kantor pos. Uang itu lalu masuk dompet dan dijajakan dengan beberapa pilihan: makan sambil nongkrong di warung, membeli buku bekas di Pasar Senen, membeli tiket di biro perjalanan, atau membeli baju di pasar Blok M.

Sedangkan Gen Millenial hidup di jaman e-Money. Kiriman uang dari orang tua diberikan lewat transfer rekening. Order makanan dilakukan lewat Go-food, membeli tiket trasportasi lewat Traveloka, membeli baju lewat Shopee, membeli buku lewat toko online. Semua serba online, serba praktis. Tak mengherankan jika generasi ini tidak cukup tahan atau telaten menjalani proses yang cukup rumit.

“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Menurut pengamatanku, pepatah tersebut tidak lagi berlaku di Zaman Now, zamannya generasi millenial. Prinsip dasar ASN pengabdian pada negara sudah bergeser menjadi filosofi tentang passion. Mereka, gen milenial, hidup di zaman edan, zaman yang menggembar-gemborkan comfort zone.

Epilog

Perbedaan zaman antara generasi wesel dengan generasi e-Banking tentunya berdampak pada orientasi dan lifestyle. Jika generasi wesel berorientasi pada pengabdian dan cenderung “Nrimo ing pandum” tanpa menghitung seberapa besar penghasilan akan diterima, yang penting cukup untuk hidup dengan pola sederhana.

Maka gen milenial berbeda orientasinya. Milenial lebih ingin “menikmati hidup” pada posisi comfort zone. Bentuknya ialah dengan modern lifestyle, traveling dan kuliner. Padahal upaya-upaya aktualisasi diri ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pada akhirnya, kepada gen milenial yang masih tetap memilih bertahan sebagai punggawa ASN, aku ingin berpesan. Bahwa untuk mendukung lifestyle kalian tentunya harus dipikirkan usaha sampingan selain pekerjaan kantoran.

Akan tetapi, jangan lupa bahwa anda telah berjanji mengabdi pada negeri ini. Kalau generasiku boleh mengajari, ingin kukatakan, “Sesulit apapun keadaannya tetaplah berusaha menjadi ASN yang profesional dan berintegritas”.

Salam Kolonial!

4
0
Sebuah Catatan Kecil: Menjadi Seorang Peneliti

Sebuah Catatan Kecil: Menjadi Seorang Peneliti

Menjadi peneliti, atau memilih profesi menjadi seorang peneliti, adalah satu di antara sekian banyak hal yang tak pernah terbersit dalam rencana hidup saya di masa lalu. Meskipun harus diakui juga bahwa di masa lalu itu saya tidak benar-benar merencanakan cita-cita saya ingin jadi apa kelak jika sudah dewasa.

Kalaupun ada kilasan bayangan masa depan, yang saya inginkan ketika itu adalah menjadi seperti ayah saya, seorang anggota kepolisian. Begitu tak jelasnya rencana hidup saya di masa itu, bahkan saya bisa menggambarkannya melalui estafet tangga pendidikan yang saya pernah lalui berikut ini;

  • TK Bhayangkari,
  • lanjut SD negeri,
  • masuk SMP favorit berkat bakat sepak bola,
  • menyambung ke STM jurusan mesin produksi,
  • lalu merasa mendapat pencerahan dan ikut SPMB mengambil jurusan sosiologi.

 

Pencarian Jati Diri

Saat masa kuliah sebetulnya rancangan masa depan saya juga belum benar-benar tergambar. Saat itu kehidupan lebih saya jalani sebagai seorang yang berada dalam euforia ketercerahan, tetapi belum menemukan rumusan yang gamblang untuk bagaimana membuatnya menjadi kejelasan akan cita-cita di masa depan.

Saat itu saya mengisi hari-hari dengan berbagai kegiatan sporadis kemahasiswaan, yang belum pula saya kaitkan dengan perencanaan matang mengenai masa depan.

Sejenak saya sedikit menyesali akan dinamika pada masa-masa itu yang seolah tak serius memikirkan masa-masa kini. Pada akhirnya saya mencoba menginsafi diri. Mungkin itu adalah kisah klasik yang harus saya lalui sebelum akhirnya saya menemukan diri saya, hingga kemudian saya memiliki arah dan cita-cita hidup yang jelas terkait peran dan profesi apa yang akan saya pilih.

Semua butuh proses, begitu pula dengan ketercerahan yang juga ternyata memiliki tingkatan tahapan. Untuk itu saya bersyukur bahwa perjalanan masa lalu itu, meski terengah dan tak berpasti arah, akhirnya mengantarkan saya pada diri saat ini yang memiliki tekad dan komitmen untuk terus maju dan berubah menuju sebuah tujuan diri yang lebih baik.

Saya Menjadi Peneliti

Adalah menjadi seorang peneliti yang pada saat ini saya pilih untuk menjadi profesi. Perjalanan dalam menujunya bukanlah jalan yang terencana baik dan sistematik. Akan tetapi biarlah ia-nya menjadi semacam pit stop­ ­bagi seorang pembalap Formula 1 (F1) untuk mengisi bahan bakar dan mengganti komponen kendaraan yang tak lagi berperforma prima.

Karenanya saya merasa inilah saatnya bangkit dan memacu segala ketertinggalan di masa lalu. Inilah titik tolak untuk lompatan hidup yang lebih jauh; to become a researcher…

Semua bermula pada sekitar 3 bulan terakhir di tahun 2013, saat saya mendapatkan informasi mengenai seleksi nasional penerimaan PNS. Pada saat itu, saya betul-betul tidak berniat untuk mengikuti seleksi, hingga saya dipaksa oleh ibu saya untuk mendaftar.

Maka setelah melakukan sedikit riset pada jabatan maupun instansi yang akan dilamar, akhirnya saya memilih 2 opsi yang paling eligible untuk saya pilih. Yang pertama adalah formasi jabatan peneliti pada unit penelitian di sebuah kementerian, dan yang kedua sebuah jabatan yang saya terlupa namanya pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Setelah mengisi lengkap aplikasi via laman on line, lalu dilanjutkan dengan menyiapkan semua berkas fisik yang dibutuhkan, pada hari Jum’at 4 Oktober 2013, saya kirimkan aplikasi lamaran. Pengiriman lamaran ini terjadi saat momen jelang deadline-nya, yaitu hari Senin tanggal 7 Oktober 2013.

Kemudian cerita berlanjut dengan dua tahapan seleksi yang harus saya lewati untuk menjadi seorang peneliti. Pada ujian seleksi pertama bernama Tes Kemampuan Dasar (TKD).

Saya pastikan bahwa saya dapat mengerjakannya dengan cukup baik. Saya bersaing dengan sekitar 90-an orang pelamar lain yang memperebutkan satu formasi sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya (Puslitbangbud).

Selesai mengikuti TKD, berlalu beberapa masa yang saya terlupa durasinya. Namun jika dikira-kira mungkin hanya dalam berbilang pekan, saya mendapat berita pengumuman akan lolosnya nama saya untuk dapat mengikuti tes berikutnya, yakni Tes Kemampuan Bidang (TKB).

Tes kali ini mengambil tempat di gedung F lantai 5 kompleks sebuah kementerian di Senayan, Jakarta. Dari jumlah peserta tes pertama sekitar 90-an pesaing, pada tes kedua ini telah tersaring hingga hanya sekitar 10 hingga 15 orang. Dalam tes kedua ini lagi-lagi saya merasa cukup percaya diri bahwa saya dapat mengerjakannya dengan baik.

Setelah berlalu beberapa periode waktu, dimulai dari pengiriman dokumen lamaran pada tanggal 4 Oktober, lalu dua tahapan tes yang diselenggarakan sekitar bulan November dan Desember, tibalah masa pengumuman penerimaan.

Meski sempat tidak ada informasi yang jelas mengenai kapan pengumuman tersebut dirilis, akhirnya pada hari Rabu malam tanggal 26 Februari 2014, saat saya iseng membuka laman panitia seleksi nasional penerimaan PNS, saya dapatkan sebuah pengumuman hasil penerimaan yang menyertakan nama saya di dalamnya.

Sempat bergetar perasaan saya saat mendapati nama saya muncul pada lembar pengumuman tersebut, seolah seperti tak percaya bahwa saya akan diterima bekerja sebagai pegawai di salah satu institusi pemerintahan di negeri ini.

Selanjutnya, melalui kisah perjalanan yang unplanned seperti itu kemudian menjadi lah saya seorang peneliti. Pertanyaan yang harus dijawab berikutnya adalah, “Apakah menjadi peneliti nantinya akan menjadi sebuah keterpaksaan, atau justru menjadi sebuah passion baru yang digeluti dengan sungguh-sungguh?”

Jawaban atas pertanyaan ini begitu penting, mengingat perjalanan karir ke depan masih cukup panjang. Tak elok rasanya jika peran karir dijalankan dengan terpaksa. Dengan kata lain haruslah benar-benar dijalani dengan niat untuk melaksanakan tugas dengan baik, terlebih ekosistem yang dimasuki adalah dunia penelitian, sebuah dunia yang begitu menantang untuk dijelajahi.

Seni Menjadi Peneliti

Menjadi peneliti merupakan sebuah pilihan profesi yang harus dijalani dengan segenap kesadaran dan tekad. Di antara 140-an pilihan jabatan fungsional, peneliti adalah salah satunya.

Menjadi peneliti atau bergelut di dunia penelitian merupakan sebuah domain karir yang meniscayakan akan dinamika yang tinggi. Untuk bisa menjadi seorang peneliti dibutuhkan usaha yang tidak sederhana.

Andaipun telah menggapai status sebagai seorang yang menduduki jabatan fungsional peneliti, untuk tetap bertahan dalam memegang jabatannya pun dibutuhkan usaha yang penuh perjuangan.

Oleh karenanya dunia penelitian –sebagaimana saya sebut di atas- adalah sebuah dunia yang penuh tantangan untuk kita jelajahi. Ketika kita sudah memulainya, akan ada banyak hal baru yang menanti untuk kita nikmati sebagai seorang peneliti.

Seorang peneliti adalah sosok yang idealnya memiliki karakteristik positif yang khas yang mungkin tidak harus dimiliki oleh jenis profesi lainnya. Hal ini tercermin di antaranya dari sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan para peneliti;

“Seorang peneliti boleh salah, akan tetapi ia tidak boleh berbohong”.

Dalam ungkapan ini pula tersirat pesan bahwa peneliti harus selalu memiliki curiosity yang tinggi yang ia ejawantahkan dalam pekerjaannya.

Ia, peneliti, mesti selalu mencoba bertanya, mendalami, dan berusaha mendapatkan jawaban atas segala hal yang ia terima sebagai sesuatu yang dianggap taken for granted.

Dalam upaya menjawab rasa curiosity itulah mungkin seorang peneliti mendapatkan kesimpulan jawaban yang kurang tepat, yang karenanya ia harus memiliki sifat open mind untuk diberi masukan dan evaluasi oleh orang lain.

Sejalan dengan itu, upayanya untuk membuktikan kebenaran dan kebijaksanaan yang menjadi titik landasan melakukan penelitian, harus berjalan dengan salah satu asas karakter yakni kejujuran. Seorang peneliti harus menjunjung tinggi nilai kejujuran ini dalam menjalankan pekerjaannya.

Sebagai seorang yang memainkan peran sebagai “detektif kebenaran”, seorang peneliti memiliki otoritas untuk nantinya membuat “sabda kebenaran” yang akan diamini dan dijadikan pegangan oleh khalayak ramai.

Maka bagi seorang peneliti wajar jika dalam proses melaksanakan berbagai tahapan penelitiannya terjadi kesalahan. Hanya saja, sekali lagi, tetap saja ia tidak boleh berbohong dalam apapun bagian dari proses dan hasil penelitiannya. Haram hukumnya bagi seorang peneliti untuk berdusta atau memanipulasi data dan temuan penelitiannya.

Menjadi seorang peneliti membuat seseorang senantiasa hidup dalam orientasi kebaruan. Stagnasi bagi seorang peneliti berarti mati. Kematian yang bukan hanya berarti ketercerabutan ruh dari jasad, tapi juga pemberhentian status sebagai seorang peneliti. Kematian bagi peneliti berarti karya dan prestasi yang basi.

Maka seorang peneliti adalah sosok pribadi yang harusnya memiliki filosofi hidup bertumbuh. Ia tidak bisa melewatkan waktunya dengan berlalu begitu saja tanpa ada pengetahuan, keterampilan, atau juga sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang.

Epilog

Seorang peneliti menyadari bahwa ada langit di atas langit. Dengan kata lain, dalam menjalankan kariernya ia selalu merasa tidak cukup untuk menyatakan berhenti dalam menggapai langit demi langit di atasnya.

Oleh karenanya seorang peneliti tak boleh merasa puas dengan kualifikasi yang saat ini ia miliki. Terkhusus dalam dimensi kualifikasi pendidikan, seorang peneliti harus selalu memiliki gejolak untuk meraih tingkatan paling tinggi dalam pengetahuan.

Kalaupun di zaman ini manusia menjadikan capaian tingkat pendidikan sebagai suatu ukuran, maka seorang peneliti tak pantas jika hanya berpredikat sebagai sarjana. Ia harus terus menempuh berbagai program pendidikan yang memungkinkannya untuk meraih titel tertinggi dalam kualifikasi pendidikan.

Tak hanya itu, jika pun ia sukses menggapai kualifikasi tertinggi dalam tangga pendidikan formal, ia juga tak berhak untuk merasa cukup dalam menuntut ilmu. Ia harus tetap merasa ‘kurang’, sehingga masih harus terus belajar. Ia memiliki semboyan bahwa belajar adalah pekerjaan yang melekat seiring usia dan kesadaran sebagai anak manusia.

Seorang peneliti memiliki misi suci peradaban. Yakni bahwa ia harus memiliki suatu keyakinan bahwa peneliti adalah profesi pembuka jalan peradaban sebuah masyarakat. Maka seorang peneliti haruslah mereka yang memiliki mentalitas terdepan dalam menyongsong perubahan menuju kebaikan, baik bagi diri juga bagi seluruh umat manusia.

 

 

3
0
Milenial, Tapi Betah Jadi ASN: Kenapa Tidak?

Milenial, Tapi Betah Jadi ASN: Kenapa Tidak?

Generasi milenial identik dengan anak muda yang susah diatur. Banyak penelitian yang membuktikan hal ini. Namun, seperti biasa, pasti ada anomali atas hasil setiap penelitian. Tentang karakter milenial ini, salah satu anomalinya adalah saya.

Terlahir pada range mulai tahun 1980-an, saya juga tergolong milenial. Generasi milenial ini sedang menjadi mayoritas angkatan pekerja produktif di Indonesia. Dominasi milenial dalam angkatan kerja tidak terkecuali juga menjangkau wilayah birokrasi pemerintahan.

Lulus dari sekolah kedinasan pada tahun 2011, saya disahkan menjadi aparat sipil negara (ASN) pada sebuah instansi pemerintah pusat di tahun 2012. Kalau dihitung-hitung, pengalaman saya di birokrasi bisa dibilang masih sedikit.

Dalam masa enam tahun mengabdi, 2 tahun saya gunakan untuk menempuh tugas belajar strata satu. Saya pun sempat mencicipi penempatan tugas di Provinsi Sulawesi Selatan, dilanjutkan ke Provinsi Kalimantan Selatan dalam jangka waktu enam tahun tersebut.

Pengalaman pengabdian saya memang belum terlampau banyak, akan tetapi saya merasa sangat bersyukur karena pengalaman baru telah sempat saya nikmati, yaitu pengalaman mempelajari budaya yang jauh berbeda dari daerah kelahiran saya.

Periode enam tahun bisa dibagi menjadi tiga tahap: penempatan pertama, tugas belajar, kemudian dilanjut penempatan kedua. Penempatan pertama ialah di bumi anging mamiri.

Penempatan pertama itu menjadi sebuah momen yang tak terlupakan. Untuk kali pertama saya naik pesawat ke sebuah kota jauh di sana, kota yang berbeda zona waktu dengan orang tua di kampung halaman dan memisahkan kami dengan laut yang membentang.

Naluri berpetualang saya masih sangat tinggi. Terlebih sebagian besar teman seangkatan saya masih belum berkeluarga, sehingga kapanpun ada di antara kami berinisiatif untuk jalan-jalan, yang lain akan menyambut dengan sigap, “Mari mari”.

Terlebih lagi, core business instansi saya bukanlah pelayanan yang mensyaratkan “duduk diam” di depan laptop di dalam kantor. Pekerjaan kami justru mengharuskan banyak perjalanan, dari satu wilayah ke wilayah lain, umumnya masih dalam satu provinsi.

Bahagia? Pastinya. Kapan lagi jalan-jalan ke tempat baru, mencicipi makanan khasnya, mengenal kehidupan sosial dan tata kota yang baru, tetapi seluruh biayanya dibayari oleh pemerintah? Begitu polos memang pikiran saya waktu itu, masa awal-awal masuk birokrasi, saat belum tahu apa itu Loan, Asian Development Bank (ADB) atau worldbank.

Tahun ketiga kerja, terbuka kesempatan baru untuk menikmati hidup sebagai pegawai sekaligus mahasiswi, yaitu menjalani tugas belajar. Beruntungnya, instansi tempat saya bekerja membuka kesempatan beasiswa sebesar-besarnya dalam jenjang strata satu. Sebenarnya program beasiswa ini bukan hanya untuk pegawainya sendiri. Akan tetapi, justru mayoritas penerimanya adalah pegawainya sendiri, termasuk saya.

Februari 2015, petualangan saya di universitas pun dimulai. Dari sini saya merasa betapa beruntungnya saya pernah merasakan kuliah di sekolah kedinasan. Betapa kedisiplinan, integritas dalam mengerjakan tugas dan ujian, serta pola pikir nerimo atas semua prosedur, menjadi modal penting dalam meraih gelar S1.

Januari 2018 menjadi saat mutasi kedua. Lepas dari tugas belajar, saya ditempatkan kembali. Ternyata, tetap di area Waktu Indonesia Tengah (WITA), tetapi bergeser pulau ke Kalimantan. Saya ditugaskan tetap di bidang yang sama dengan lokasi sebelumnya, tetapi dengan budaya kerja dan lingkungan yang berbeda pula.

Saat awal datang ke perwakilan ini, sudah ada setidaknya 5 orang yang mengajukan mutasi ke Pulau Jawa. Pengajuan tersebut menggunakan berbagai alasan, yang utama adalah keluarga. Sempat terpikir apakah ada yang salah di Kalimantan Selatan yang indah ini, kok belum ada lima tahun sudah pada mau pindah. Ya, ternyata mayoritas mereka terpisah dengan yang terkasih di seberang pulau (baca: Jawa).

Di Kalsel, dinamika dunia kerja berubah. Selain harus lebih paham aturan, kami para pegawai juga harus paham teknologi. Mulai dari database, script, sampai troubleshooting untuk setiap kasus harus kami pahami. Saya merasa sangat terseok dalam hal teknologi, tapi beruntunglah ada “teman sebelah” yang sangat sabar mengajari. Teman saya ini telaten menjawab semua pertanyaan di sela-sela coding untuk googleplay nya.

Tahun 2019, terjadi mutasi besar-besaran ke kantor-kantor perwakilan di Pulau Jawa dari berbagai daerah lain. Termasuk di kantor kami. Entah sudah berapa orang yang dimutasi menuju pulau tersebut, tanpa diimbangi mutasi sebaliknya dari Jawa ke luar Jawa.

Menurut saya, mutasi itu memberi kebahagiaan bagi yang pulang, memberikan tantangan dan godaan ke yang masih di perantauan. Disebut tantangan karena personil di kantor yang ditinggalkan berkurang tapi target kinerja tidak berubah, sementara di sisi lain dituntut untuk meningkatkan kompetensi.

Terlebih lagi, profesi kami selaku auditor internal pemerintah mengharuskan kami tahu banyak hal. Pada masa awal-awal berdinas, bisalah menghindari tanggung jawab penugasan yang sulit, dengan alasan masih anggota tim. Akan tetapi dengan adanya mutasi, mau tidak mau “yang tersisa” harus bisa diperankan menjadi Ketua Tim atau bahkan level di atasnya.

Peran yang berbeda ini bukanlah sesuatu hal yang mudah, tetapi harus dilaksanakan. Mulai cara berkomunikasi yang baik dengan pihak eksternal, diskusi terkait penugasan dengan teman sejawat dan membahas permasalahan yang ditemui dengan atasan.

Belum lagi, terkait merumuskan rekomendasi strategis atas akar permasalahan yang dihadapi auditee, yang macam-macam bentuknya. Kadangkala urusan dengan mereka berbuntut masalah hukum. Pada momen-momen ini jiwa milenial cenderung tidak mau mengalah dan mau cepat terlihat hasilnya.

Ego yang besar, merasa ngerti teknologi sehingga kadang beranggapan program audit yang ada tidak efektif dan efisien. Cepat bosan dengan penugasan yang ada, pengen cepat ganti ke tema penugasan lain, semua itu membuat kami kadang kurang sabar dalam segala hal. Buntutnya, konflik dengan yang lain, biasanya atasan atau senior.

Perbedaan antara harapan dan kenyataan yang ada di dunia birokrasi ini tidak sedikit pula menimbulkan godaan untuk keluar dari zona birokrasi. Tawaran kerja di swasta dengan iming-iming apresiasi atas setiap prestasi, sudah banyak direngkuh oleh teman seangkatan yang lain.

Tak mengherankan kemudian jika saya mendengar ada kawan yang memilih resign dari ASN untuk menjadi pegawai swasta atau mendalami proyek start up. Kabar-kabar semacam ini bukan lagi menjadi postingan aneh atau mengagetkan dalam WhatsApp Group (WAG) saya.

Dengan dinamika ini kemudian timbul pertanyaan, apakah saya akan seperti kawan-kawan yang lain itu? Hmmm… Untuk sekarang ini, dengan yakin saya menjawab “TIDAK”. Saya masih merasa nyaman di lingkungan saya tanpa merasakan adanya integritas yang terkikis.

Saya merasa masih bisa berekspresi tanpa harus berakhir tanpa tugas dan fungsi (tusi). Barangkali, apresiasi menjadi ASN memang tidak sebesar yang diperoleh di swasta atau saat kita punya aplikasi di google play.

Tantangan untuk menekan ego dan emosi pun masih di level “Baru-baca-buku-Filosofi Teras”. Tawaran beasiswa sepertinya bisa menjadi penawar ego diri. Atau mungkin mutasi ke Jawa bisa menjadi solusi?

Jadi, aku memang milenial, tapi aku betah jadi ASN.
Begitu ceritaku. Bagaimana denganmu?

3
0
Kisah Inspiratif Seorang Pramubhakti: Setelah 30 Tahun Mengabdi

Kisah Inspiratif Seorang Pramubhakti: Setelah 30 Tahun Mengabdi

“Pak. Kalau diizinkan, saya mau pindah. Saya ingin menempati ruko sambil membuka usaha”, kalimat yang diucapkan Buyung dengan intonasi pelan itu tak pelak mengagetkan saya.

“Buyung kok bisa beli ruko ya?”, pikiran saya mendadak menerawang dengan kalkulasi harga ruko. Pastinya mahal, seperti dituliskan di brosur-brosur. Pada umumnya harga ruko-ruko ini mencapai ratusan juta bahkan milyaran Rupiah. Tentu tidak bisa masuk di nalar kalau dihubungkan dengan penghasilan bulanan Buyung, seorang pegawai honorer.

Honor atau gaji sebagai petugas kebersihan kurang lebih Rp. 2 juta perbulan. Sedangkan biaya hidup sehari-hari boleh dibilang tidak murah. Masih bersyukur kalau jumlah penghasilan tersebut bisa mencukupi pengeluaran sejak gajian di awal bulan sampai akhir bulan.

Saya sebenarnya merasa berat untuk mengizinkan buyung pindah dari komplek rumah dinas yang telah  dia tempati lebih dari 10 tahun. Saya membayangkan nantinya kalau buyung tidak lagi tinggal di kompleks, siapa lagi yang akan bersih-bersih lapangan tenis dan taman di komplek perumahan itu.

Apalagi, kegiatan lain yang ditangani buyung secara rutin ialah membersihkan mushola komplek. Ketika bulan Ramadhan, dia bahkan lebih sibuk lagi mempersiapkan hidangan buka puasa. Buyung sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari keseharian perumahan dinas kami.

Mengenal lebih jauh tentang Buyung

Buyung kecil menghabiskan waktunya di Dusun Tacipi, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Selepas lulus dari sekolah menengah pertama (SMP) dia merantau ke kota Makassar dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Usai menamatkan  pendidikan pada tahun 1989, Buyung memasukan lamaran pekerjaan di berbagai perusahaan dan instansi. Lebih dari lima tempat dia datangi. Rupanya nasib baik melabuhkannya di Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulawesi Selatan sebagai petugas kebersihan dengan honor sekitar 25 ribu Rupiah perbulan kala itu.

Meskipun bertugas hanya sebagai petugas kebersihan, pria sederhana yang nama aslinya “Ridwan” ini selalu ringan tangan membantu setiap pegawai yang meminta bantuan kepadanya. Kerja keras dia jalani demi untuk mengejar cita-citanya bekerja di Kota Anging Mamiri. Belasan kali  buyung mencoba peruntungannya untuk mendaftar calon pegawai negeri sipil (CPNS), tapi belum berhasil juga.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam bekerja. Di sela-sela waktunya bekerja, Buyung mencoba menambah penghasilan dengan menyediakan Indomie bagi pegawai yang enggan keluar kantor untuk makan siang. Karena banyak permintaan dari pegawai bapak-bapak, Buyung menyediakan rokok juga.

Ketekunan buyung dalam bekerja dan sifat ringan tangan yang dia miliki membuat para pegawai senang dan merasa terbantu sehingga rejeki lebih pun mengalir ke kantongnya.

Romansa Buyung dan Keyakinannya tentang Rejeki

Suatu ketika, Buyung mengatakan bahwa dia akan melamar gadis yang masih berkuliah semester 6. Usianya terpaut 16 tahun, jauh lebih muda dari Buyung.

Wah ini baru surprise, pikir saya, calon istri buyung Mahasiswi.

Selidik punya selidik Buyung ini memang luar biasa. Ternyata sejak calon istrinya masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah atas (SMA) Buyung lah yang membiayai sekolahnya, dengan honor yang dia terima sebagai petugas kebersihan. Dengan penghasilan “sebesar” itu Buyung masih bisa menyisihkan biaya sekolah dan biaya kuliah untuk gadis pujaan hatinya.

Buyung percaya akan prinsip “rejeki itu kakinya empat”, semakin dikejar dia akan lari lebih cepat. Namun, dengan ketekunan dan kejujuran dalam bekerja, rejeki itu justru akan datang sendiri pada kita. Semangatnya tidak pernah pudar meskipun sudah hampir 30 tahun bekerja sebagai honorer saja. Buyung tak pernah kecewa dengan statusnya, tetapi bahkan memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja.

Buyung pun sempat belajar mengemudi mobil hingga akhirnya mahir mengendarainya. Dengan keahlian Buyung ini kantor merasa terbantu ketika sedang banyak tamu yang datang. Buyung diperankan sebagai driver cadangan.

Suatu ketika istri buyung sudah lulus sarjana. Bagi orang lain mungkin akan kesulitan mencarikan pekerjaan. Karena sikap buyung yang ringan tangan menolong pegawai, akhirnya sang istri pun dapat kerja di perusahaan daerah air minum (PDAM) atas pertolongan orang lain yang mengenal Buyung lewat jejaring pertemanannya.

Alhamdulillah setelah istrinya bekerja ekonomi buyung semakin membaik. Dari penghasilan istrinya, keluarga kecil Buyung bisa mengalokasikan untuk membeli rumah yang bisa dikembangkan menjadi tempat usaha (ruko). Hingga akhirnya, dia lontarkan kalimat yang mengagetkan saya di atas.

Epilog

Kisah Buyung memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga. Di saat orang lain selalu berhitung secara matematis tentang pemenuhan kebutuhan hidup, dengan kesederhanaannya yang antimainstream, Buyung justru menunjukkan bahwa kerja keras, kesungguhan, dan keikhlasan pada akhirnya mengantarkannya mencapai cita-cita.

Bagi sebagian besar orang, minimnya penghasilan sering menjadi kendala mencapai cita-cita. Tak hanya itu, motivasi dalam bekerja pun sering kali tergadaikan manakala mendapati angka-angka di slip gaji seolah tak akan mencukupi kebutuhan hidup.

Kisah Buyung telah mematahkan mitos-mitos ketidakmungkinan. Satu lagi, kisah Buyung juga menunjukkan bahwa jiwa pengabdian yang tetap terjaga telah mengantarkannya mendapatkan kehidupan yang layak.

Saya pun hanya bisa tercenung, “Andai seluruh ASN negeri ini memiliki jiwa seperti Buyung, mungkin kita akan mendapati Indonesia yang lebih indah dan menyejahterakan.”

 

 

3
0
BEING A MOM: Which One is Better, to Take Unpaid Leave, to Resign, or…?

BEING A MOM: Which One is Better, to Take Unpaid Leave, to Resign, or…?

Prolog

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat diskusi dengan salah satu teman yang belum lama ini menjadi seorang ibu. Dia adalah seorang aparatur sipil negara (ASN), sama seperti saya dulu.

Setelah cuti melahirkannya berakhir, teman saya ini kembali ngantor, tetapi hanya setengah hari. Dia menolak banyak penugasan yang umumnya harus dikerjakan oleh pegawai pada posisinya. Yang ia kerjakan hanyalah menyusun laporan bulanan, sebuah tugas administratif yang biasanya dapat diselesaikan dalam satu atau dua hari.

Temanku ini memutuskan untuk bekerja seperti itu karena tidak ingin melewatkan setiap perkembangan anaknya. Dengan alasan itu pula ia memilih untuk tidak menitipkan anaknya pada “mbak” ataupun menitipkan bayinya ke Day Care.

Ketika pagi dia berangkat kantor, anaknya dirawat oleh suaminya. Siang hari ketika suaminya berangkat kerja, dia pulang untuk menemani anaknya. Mereka bergantian mengasuh anak.

Dilema integritas?

Setelah saya pancing dengan beberapa pernyataan (tentu saja saya menghindari pernyataan yang sifatnya men-judge), keluarlah statement dari dia:

“Cuma kadang muncul juga sih jiwa-jiwa idealis integritas saya, merasa tidak enak jika sering kabur dan tidak bekerja. Apalagi jika bertemu dengan atasan, saya merasa tidak enak menjadi bawahan yang mengatur atasan. Tapi, jika mengingat kalau kerja harus meninggalkan anak dengan orang lain, perasaan itu langsung lenyap”.

Lalu, pernyataannya ini mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri. Saya pernah mengungkapkannya sebagai salah satu alasan saya memilih keluar dari ASN. Yaitu, saya merasakan perasaan yang tidak enak, ketika saya berangkat kantor hanya untuk memenuhi kewajiban absensi tapi “doing nothing”, which is bukan karena kemauan saya sendiri sejujurnya.

Setiap kali berada di kantor saya merasa stress, pulang ke kosan pun useless rasanya. Perasaan saya pun tak kunjung membaik. Lalu saya bertanya-tanya sendiri “Pantaskah saya mendapatkan gaji sebesar itu dengan kontribusi yang saya berikan? Tidakkah ini semacam membuang uang negara dengan sia-sia?”

Dengan sebuah pertanyaan senada yang saya sampaikan padanya, teman saya pun menjawab, “Iya, tidak tenang rasanya. Kadang terpikir gaji yang saya terima itu halal atau tidak?”

And then, she asked me, “In your opinion, which one is better, to take unpaid leave or to resign?”

To Take Unpaid Leave or To Resign?

Saya tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Betapa tidak, saya saja belum menikah dan belum punya anak. Saya belum pernah merasakan bagaimana beratnya meninggalkan anak dengan orang lain untuk bekerja.

Dalam bayangan saya (dan calon suami), jika saya punya anak nanti, saya memang tidak akan menitipkan pada “mbak” tapi akan menitipkannya di Day Care. Tentu saja dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi.

Namun, saya berusaha untuk menjawab bagaimana jika saya berada di posisi dia. Jika memang bisa taking unpaid leave, ya why not? At least, jika kita sudah siap bekerja lagi, kita masih punya kaki. Apalagi bekerja sebagai ASN.

Saya juga menyarankan selama the unpaid leave – cuti di luar tanggungan negara (CLTN) – dia bisa sambil usaha yang bisa dikerjakan dari rumah. Jika emang sudah yakin dengan usahanya, ya sudah lanjut resign saja.

Tapi, bagaimana jika ia tidak dibolehkan CLTN? Ya, resign saja dengan menerima segala konsekuensinya. Ini pendapat saya sebagai seorang single idealis yang belum dihadapkan dengan posisi sebagai seorang ibu dan seorang istri.

Tentu saja saya akan berusaha mengerti jika kondisi (keuangan) keluarga juga sangat berpengaruh. Tapi apakah hal tersebut dapat dijadikan pembenaran?

Bagaimana jika unpaid leave or resign tidak disetujui?

Karena masih merasa penasaran dengan solusinya, pembahasan tersebut saya sampaikan kepada calon suami saya. Membahas masalah semacam ini rasanya penting juga buat persiapan masa depan kami. Lebih-lebih karena dia juga seorang ASN.

Calon suami saya berpendapat bahwa tidak semudah itu pejabat mengizinkan orang untuk mengambil cuti di luar tanggungan Negara (CLTN) atau bahkan mengizinkan pengunduran diri sebagai ASN.

Sebaliknya, mereka bisa jadi akan menawarkan solusi untuk memindahkan dia ke bidang/bagian yang pekerjaannya rutin, yang tidak perlu keluar kota, atau bahkan akan tetap mengizinkan pegawainya untuk tidak berada di kantor asal presensinya aman.

Jika saya berada di posisi teman saya, pindah ke bagian/bidang lain pun bukan solusi karena pilihannya dia adalah setengah hari pulang untuk merawat anaknya selagi suaminya pergi bekerja. Perasaan tidak enak itu pun akan tetap ada. Tidak menyelesaikan masalah.

Saya akan tetap defence dengan keputusan saya. Saya akan menyampaikan pendapat saya:

“Jika Bapak/Ibu mengijinkan saya untuk CLTN ataupun mengundurkan diri, itu berarti Bapak/Ibu menghemat pengeluaran negara tapi jika membiarkan saya tetap menjadi ASN dengan kontribusi minim, berarti Bapak/Ibu (secara kasarnya) merugikan negara.”

Bagaimana tidak merugikan negara jika tetap membayar gaji pegawai yang kontribusinya tidak sesuai? Walau kita semua paham, asalkan presensi terpenuhi, hal tersebut tidak dapat dibawa ke ranah kerugian negara.

Bagaimana jika saya menjadi pejabat?

Jika saya menjadi pejabat, saya mungkin akan menjadi pejabat yang akan dibenci para ibu. Mungkin para ibu-ibu ASN yang membaca tulisan saya ini, mereka akan berdalih “ah, belum pernah jadi ibu juga kamu, ga usah sok idealis deh!”.

Yes, I know. Apa itu akan mengubah pendapat saya? Saya tidak akan menyalahkan ataupun membenci “mereka” yang melakukannya. Saya akan tetap berusaha untuk mengerti bagaimana di posisi mereka.

Lalu bagaimana jika suatu hari nanti anak buah saya, seorang ibu, menolak penugasan yang saya berikan dan setiap hari selalu kabur (hampir setengah waktu kerja) dari kantor dengan alasan anak masih kecil tidak bisa ditinggal? Saya akan menawarkan pilihan, pindah ke bagian/bidang yang tidak perlu penugasan keluar kota tapi terdapat pekerjaan rutin yang ada setiap hari (dengan syarat pekerjaan tersebut harus selesai pada waktunya) atau take the unpaid leave.

Epilog

Dalam pembahasan kali ini, tentu saja saya tidak sedang menilai mana yang lebih baik antara menjadi ibu pekerja kantoran atau menjadi ibu rumah tangga. Saya hanya memberikan pendapat mengenai ibu pekerja kantoran yang juga memiliki kewajiban layaknya ibu rumah tangga. Menurut saya, sebagai perempuan kita harus dapat mengambil sikap atas keputusan yang telah kita ambil.

Jika kita memutuskan untuk menjadi pekerja kantoran, kita harus siap dengan konsekuensi tidak dapat melihat tumbuh kembang anak kita setiap detiknya karena kita juga mempunyai tanggung jawab lain di tempat kerja kita. Jika kita memutuskan untuk dapat melihat tumbuh kembang anak kita setiap detiknya, ya kita harus berani meninggalkan tanggung jawab yang lain dan harus siap dengan segala konsekuensinya.

Ah iya, satu lagi, ada statement yang diungkapkan teman saya tersebut “Aku kalo pulang ke rumah kadang jadi emosian dan sensi banget. Mungkin karena dilema itu juga kali ya? Emak stress, anak juga rewel”.

Akhir kata, mohon maaf jika pendapat saya dalam tulisan ini mungkin menyentil beberapa pihak. Setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing. Setiap orang mempunyai prinsip/pandangannya masing-masing. Semoga yang telah diputuskan dan menjadi pilihan adalah yang terbaik dengan segala konsekuensinya.

 

 

3
0
Perlunya Sikap Profesional dan Konsisten Dalam Berkarya

Perlunya Sikap Profesional dan Konsisten Dalam Berkarya

Dalam kehidupan yang semakin ketat dengan persaingan di segala lini, kita tidak boleh selalu bersikap santai atau bahkan menanti-nanti urusan yang bisa diselesaikan dengan segera. Mungkin bisa jadi hal tersebut akan mengganggu kita dalam bekerja maupun belajar.

Sikap seperti itu harus sudah dibuang jauh-jauh karena sangat tidak baik dan cenderung membuat kita menyepelekan hal yang gampang. Jangan sampai kita menyepelekan apapun yang kita lakukan.

Terkadang kesuksesan terlihat dari jejak orang tersebut melangkah. Jika salah langkah, maka habislah sudah. Hingga penyesalan pun akan menghampiri di kemudian hari. Penyesalan yang datang akan sangat disesali dan tidak akan berubah kalau tidak segera bertaubat di awal langkah.

Sikap yang saya sebutkan tadi adalah sikap yang berkaitan erat dengan profesionalisme dalam melakukan suatu hal, entah itu dalam pekerjaan atau dalam hal belajar untuk menggapai cita-cita. Sedangkan untuk dapat bersikap profesional diperlukan sebuah konsistensi, yaitu untuk dapat terus menerus berlaku profesional dan sekaligus mengembangkan diri. Bagi saya dua hal itu adalah komponen penting untuk menggapai kesuksesan.

Kesuksesan di sini tidak selalu berkaitan dengan ukuran materi. Lebih luas dari itu, kesuksesan ialah pencapaian yang sudah diperoleh semasa hidup atau semasa umur yang selalu dipijaki di setiap tahunnya.

Ketepatan waktu adalah bentuk profesionalisme

Salah satu contoh sederhana tentang profesionalisme dan konsistensi adalah kehadiran tepat waktu. Terkadang kita sangat sulit untuk datang ke tempat kerja tepat pada waktu yang telah disepakati. Lalu, kita menyiapkan berbagai alasan supaya menjadi benteng agar tidak dimarahi oleh atasan. Padahal, berbagai alasan tersebut merupakan bentuk pengabaian sikap profesional.

Budaya tidak profesional seperti itu masih selalu ada di sekitar kita dan sepertinya berlangsung secara turun temurun. Belum lagi jika karyawan yang datang terlambat tadi juga bertindak tidak tahu aturan dalam bekerja. Tentu saja sikap tidak profesional akan semakin menjadi dan tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga merugikan orang-orang di sekitarnya.

Hal tersebut harus dibasmi dengan membangkitkan kesadaran diri. Salah satu caranya ialah dengan menghubungkan profesionalisme dengan keyakinan agama.

Dalam ajaran agama Islam misalnya, sikap profesional dan konsisten telah menjadi prinsip dalam melaksanakan ibadah sholat lima waktu. Selain wajib dikerjakan alias konsisten, sholat wajib lima waktu sangat dianjurkan untuk disegerakan. Dalam hal ini, Allah SWT sangat meyukai hambanya yang profesional dan konsisten dalam beribadah kepada-Nya.

Perlu ditanamkan sejak dini

Oleh sebab itu, sikap profesional dan konsisten sebaiknya dikedepankan dalam pendidikan sejak dini. Jika sikap tersebut sudah ditanamkan sejak kecil, maka akan semakin mudah mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari bagi kelak ketika anak-anak telah dewasa.

Akan tetapi yang harus diingat ialah bahwa sebaiknya konsistensi dan profesionalisme dididik dengan pendekatan kesadaran, bukan keterpaksaan. Sebab, jika dipaksakan maka penerapannya akan sulit. Kebiasaan tepat waktu juga tidak akan berlangsung jangka panjang karena tidak datang dari hati yang ikhlas.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sebagian dari kita merasa risih dan tidak menaruh hormat jika melihat seseorang yang tidak professional. Namun, sebagian lagi akan memakluminya.

Menurut hemat saya, jika ada orang yang demikian, ajaklah dengan tutur kata yang baik untuk selalu mengedepankan profesionalisme, jangan justru dijauhi. Sebab, semakin kita jauhi dia, semakin dia akan cenderung menjadi tidak profesional dan berakibat merugikan lebih banyak orang.

Teladan kesuksesan berkat profesionalisme dan konsistensi

Saya mempunyai dua orang ternama yang dapat dijadikan contoh tentang profesionalisme dan konsistensi. Mereka adalah Cristiano Ronaldo dan Liu Yi Fei.

Cristiano Ronaldo, pemain bola terkenal dari Portugal, telah menyabet berbagai trofi dan penghargaan sejak berseragam Sporting Lisbon hingga Juventus. Hal ini ia capai berkat kerja keras dan tentu saja sikap profesional dan konsisten di berbagai kesempatan.

Cristiano selalu berlatih dengan keras di luar lapangan dan konsisten dengan makanan yang sehat. Ini adalah salah satu bagian penting dalam upaya menjaga profesionalitas dan konsistensi untuk menjadi pesepak bola ternama. Tidak mengherankan jika ia kemudian berhasil mengantungi lima penghargaan Ballon D’Or.

Sama halnya dengan Liu Yi Fei, artis Tiongkok yang memiliki nama Amerika dengan sebutan Crystal Liu. Yi Fei selalu menjaga profesionalitas dan konsistensinya dengan selalu berlatih menyanyi dan berakting untuk menjadi semakin baik dari hari ke hari.

Xixi, panggilan akrabnya, tidak hanya lihai dalam beradu akting tapi juga mempunyai suara yang sangat bagus. Beberapa lagu soundtrack di filmnya ia nyanyikan sendiri. Beberapa di antaranya telah membawanya mendunia, misalnya lagu-lagu di album “All My Words”. Begitupun dengan single “Mayonaka No Door” dan “Fang Fei Mei Li”, cukup familiar di kalangan penikmat genre musiknya.

Karena profesionalisme dan tingkat konsistensi yang tinggi, Liu Yi Fei akhirnya dipilih dari sekian banyak artis Tiongkok untuk memerankan Mulan, film live action yang digagas oleh Disney. Film ini direncanakan tayang pada bulan Maret 2020.

Demikian, dua contoh tentang profesionalisme dan konsistensi yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Semoga menjadi inspirasi untuk kita semua.

 

 

2
0
error: