Birokrat Menulis, Mengapa Tidak?

Birokrat Menulis, Mengapa Tidak?

Jika anda ingin mengenal dunia, membacalah. Jika anda ingin dikenal dunia, menulislah!
(Armin Martajasa)

 

Menulis, dalam era komunikasi dan teknologi yang serba canggih saat ini, merupakan instrumen komunikasi yang paling ampuh dalam mengirimkan pesan, memberikan pemahaman sekaligus meningkatkan citra profesionalisme pegawai terhadap organisasinya.

Dengan menulis yang baik, akan terjadi transfer of knowlegde yang baik. Knowledge transfer itu sendiri merupakan sebuah prasyarat sebuah organisasi – termasuk organisasi pemerintahan – untuk terus bertransformasi menjadi sebuah organisasi yang profesional, yaitu yang mampu mendukung pengembangan kompetensi baik bagi para personilnya maupun bagi organisasi tersebut sebagai sebuah kesatuan.

Bagi penulis, seorang birokrat yang mengabdikan diri dalam bidang pengawasan intern pemerintah, menulis menjadi sebuah aktivitas wajib bagi profesi pengawasan. Dalam institusi kami, setiap bentuk penugasan dari sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban tidak bisa dilepaskan dari tulisan.

Ya. Menulis bagi auditor atau pengawas memang menjadi bentuk representasi dari kegiatan profesinya. Salah satunya dalam hal mendokumentasikan setiap detil pekerjaan. Suatu hari – misalnya, bisa jadi catatan-catatan sederhana yang dibuat itu akan menjadi bukti penting di pengadilan.

Selain itu, dalam hal output hasil pengawasan, menulis juga akan memberikan manfaat secara tepat sasaran. Karena pihak-pihak yang dikomunikasikan akan dapat lebih memahami posisi masing-masing dan dapat segera membenahi kondisi yang dirasakan kurang baik dari hasil pengawasan ini.

 

 

Birokrasi dan Kekakuan Dalam Penulisan

Sebagai birokrat, kita seringkali berada dalam lingkungan yang serba formal dan protokoler, termasuk dalam hal menulis. Maka tulisan yang dibuat para birokrat pun cenderung kaku. Banyak digunakan kata-kata formal dan penghalus seperti kata-kata ‘sehubungan’, ‘dalam rangka’, ‘sekiranya’, ‘perkenan’, dan sebagainya.

Tidak mengherankan jika kemudian banyak kita temukan kalimat-kalimat yang panjang dan membosankan dalam laporan di area birokrasi. Satu paragraf bisa lebih dari lima baris dengan hanya satu kalimat. Membuat sesak nafas orang yang membacanya.

Kerangkanya pun dibakukan lagi dalam pedoman semisal Tata Naskah Dinas. Kekakuan ini seringkali menjadi implikasi adanya template yang sudah dijadikan standar. Katanya, guna memudahkan kompilasi.

Tidak ada yang salah dengan standar penulisan. Memang seperti itulah birokrasi. Birokrasi adalah mesin dalam organisasi. Kekakuan itu menjadi wajar. Karena, birokrasi cenderung menginginkan keseragaman, standarisasi, dan kontrol, guna memudahkan mobilisasi arah komando.

Tapi bagaimana dengan menulis bebas yang membutuhkan improvisasi dan tidak memiliki pedoman baku? Di sini lah, karena dunia yang berbeda, birokrat seringkali angkat tangan. Maka, birokrat yang cenderung kaku perlu berlatih dan kembali membiasakan diri untuk menulis. Yaitu, mempelajari bukan saja bagaimana teknik dan tips menulis yang cepat dan baik, tetapi juga kesalahan apa saja yang sering dijumpai dalam penulisan.

Sebagai contoh di organisasi yang menaungi penulis, para pegawai BPKP pun harus dapat memberikan manfaat dari hasil pengawasan yang dilakukannya kepada masyarakat luas. Menulis menjadi wahana berbagi dan menunjukkan eksistensi kontribusi bagi negeri.

Meskipun begitu, komunikasi melalui penulisan kepada umum, baik sebagai berita maupun sebagai kolom opini, haruslah tetap berpegang pada koridor peraturan yang berlaku dalam posisi pegawai selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS).

 

 

Manfaat Menulis Bagi Pengembangan Profesi dan Karir

Selain menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar, menulis bermanfaat juga bagi pengembangan karir pegawai itu sendiri. Untuk pejabat fungsional auditor (PFA) misalnya, pengumpulan angka kredit untuk unsur “Pengembangan Profesi” dapat diperoleh lebih cepat.

Apabila dipenuhi dengan cara mengikuti Program Pelatihan Mandiri (PPM) di kantor untuk 8 poin yang diperlukan sebagai syarat kenaikan pangkat, itu berarti memerlukan waktu terkumpul antara 20 bulan sampai dengan 80 bulan, atau lebih dari 6 tahun.

Karena setiap penyelenggaraan PPM yang sebulan sekali atau paling banyak sebulan empat kali itu, hanya diganjar angka kredit 0,1 poin per PPM. Maka, tidak sedikit PFA yang terganjal kenaikan pangkatnya karena persoalan ini.

Padahal, dengan menulis yang dipublikasikan di media massa, pengumpulan 8 poin tersebut dapat tercukupi dengan 4 buah tulisan saja. Sesuai pedoman penilaian angka kredit, setiap tulisan yang terpublikasikan diganjar angka kredit 2 poin untuk unsur “Pengembangan Profesi”. Andaikan setiap bulan saja PFA dapat mempublikasikan tulisannya, maka waktu yang diperlukan hanya 4 bulan.

Selain bermanfaat untuk karir jabatan fungsional, kemahiran menulis pun juga diperlukan untuk kenaikan karir struktural, baik untuk promosi ke Eselon 2, maupun ke Eselon 1. Pasalnya, pada setiap seleksi jabatan tersebut, penulisan makalah menjadi mata ujian wajib yang ditetapkan Panitia Seleksi (Pansel).

Hal ini menuntut peserta seleksi untuk secara cepat dapat menuangkan permasalahan dan solusinya secara terstruktur, logis, dan dapat diterima oleh pansel dalam sebuah tulisan. Dengan penguasaan penulisan yang baik, maka bagi pegawai, kemungkinan kenaikan karir secara struktural itu pun semakin terbuka.

 

 

Mengimbangi Kemampuan Menulis dan Lisan

Memiliki kemampuan menulis itu memang penting. Namun demikian, kemampuan penulisan selayaknya harus juga diimbangi dengan kemampuan lisan. Karena, tidak semua pribadi menguasai keduanya. Ada yang tulisannya bagus, tetapi begitu bicara tergagap-gagap seperti orang yang sedang berkumur. Atau sebaliknya.

Maka, pegawai yang memiliki kemahiran tulisan maupun lisan itu niscaya dapat senantiasa diandalkan dalam setiap penugasan, bahkan meningkatkan kemungkinan untuk dapat diberikan amanah sebagai pimpinan.

Dalam situasi reformasi birokrasi yang menuntut diterapkannya sistem merit saat ini, memiliki pimpinan yang cakap – salah satunya ditandai dengan kemampuan menulis dan berbicara – telah menjadi sebuah kewajiban.

Maka, bersama tulisan ini saya ingin mengajak kita semua – khususnya Anda yang berada dalam birokrasi. Menulislah, karena menulis itu merupakan kebutuhan kita semua.

Wahai birokrat, menulislah!

 

 

Substansi artikel ini telah ditayangkan dalam laman Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Barat dengan judul “Menulis, Mengundang Pengembangan Karir”.

http://www.bpkp.go.id/kalbar/berita/read/23978/0/Menulis-Mendukung-Pengembangan-Karir.bpkp

0
0
Titik Balik Itu Adalah Berdamai Dengan Diri Sendiri

Titik Balik Itu Adalah Berdamai Dengan Diri Sendiri

Turun dari busway, bergegas saya melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan pulang. Secara otomatis sudut mata saya menangkap sosok seorang pemuda difabel yang sedang berjalan. Tak ada yang terlalu khusus sebenarnya, hanya saja pemuda ini berjalan dengan cukup pelan karena kaki kirinya menggunakan kaki palsu.

Sambil menunggu lampu berganti menjadi merah, sempat saya lirik dia, mungkin berumur kurang dari 30 tahun. Saya beranikan untuk menyapanya, “Malam mas, baru pulang kerja ya?” Sapaan saya bergayung sambut, sehingga beberapa menit kemudian kami terlibat obrolan ringan sepanjang jalan.

Entah kenapa, terlintas ide untuk mengajak ngopi pemuda tersebut di kedai kopi sederhana yang kami lewati. Ajakan saya direspons positif sehingga melahirkan tulisan kisah nyata saya bertemu pemuda difabel ini. Namanya Wahyu, pemuda berusia 25 tahun kelahiran Tulungagung, Jawa Timur.

“Delapan tahun lalu, beberapa hari setelah saya berulang tahun yang ke-17, saya mengalami kecelakaan motor,” demikian tuturnya.

“Saya naik motor dengan cukup kencang, tetapi mendadak di depan saya ada mobil yang tiba-tiba berhenti sehingga memaksa saya membanting motor ke kiri jalan. Malangnya, di sebelah kiri jalan tersebut terdapat sebuah mobil pick up yang sedang berhenti. Kecelakaan pun tak dapat dihindarkan.

Maka itulah awal kisah saya menjadi seorang pemuda difabel. Sempat saya memiliki harapan untuk pulih ketika mengira kaki saya hanya patah. Namun, tidak tahu mengapa kaki saya malah mengalami pembusukan. Dokter terpaksa memutuskan untuk melakukan amputasi atas kaki kiri saya (lutut ke bawah) yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.

Sedih dan down rasanya memulai lembaran kisah hidup dengan kaki palsu, sesuatu yang jauh berbeda dari cita-cita saya sebagai layaknya seorang pemuda normal. Tak cukup kuat mental untuk menghadapi kondisi ini di kota kelahiran saya di Tulungagung, saya putuskan pindah ke kota lain. Terpilihlah untuk pindah ke kota Yogyakarta.

Di Yogya, saya masuk ke sebuah SMA swasta di kawasan Jetis. Setahun pertama di Yogya, saya masih belum bisa menerima kondisi saya dan cenderung untuk menutup diri. Rasa kecewa dan penyesalan atas peristiwa kecelakaan yang berkepanjangan membuat saya tidak bersemangat untuk melakukan banyak kegiatan.”

Cerita dari Wahyu saya sambut lagi dengan pertanyaan, “Apa mas Wahyu pernah menerima bullying dengan kondisi saat itu?” Sebenarnya tidak, tetapi mungkin saya terlalu sensitif untuk menanggapi komentar teman-teman.

Sampai pada suatu saat, sahabat saya memberikan sebuah buku yang berjudul “Start with Why” karya Simon Sinek. Buku tersebut menginspirasi dan mendorong saya untuk melakukan eksplorasi diri saya, siapakah saya, mengapa saya sekarang berbeda dengan teman-teman.

Saya mulai merenungkan mengapa kecelakaan itu terjadi, mengapa kondisi saya sekarang berbeda dengan orang-orang yang normal. Melalui proses sang waktu, saya terbawa pada sebuah kesadaran hingga mulai mengenali diri sendiri dan menerima seutuhnya diri saya. Hasilnya, perlahan mental saya mulai bangkit dan menganggap kondisi difabel ini adalah sebuah takdir yang harus saya jalani.

“Kalau boleh tahu, kenapa mas Wahyu berhasil melewati masa-masa sulit dan menuju titik balik untuk bangkit kembali?”, tanya saya setelah menyeruput kopi. Sambil menghela nafas seperti mengingat sesuatu, mas Wahyu menuturkan bahwa dukungan keluarga dan sahabat dekat menjadi kekuatan yang sangat berarti.

“Orang tua saya mendorong saya untuk ikhlas dan rajin beribadah, menyemangati saya di saat ‘grafik’ semangat saya menurun. Demikian juga, dua sahabat saya yang benar-benar mengetahui peristiwa kecelakaan di Tulungagung waktu itu, selalu memberikan support melalui komunikasi yang intens.

Syukur banget, beberapa kali saya juga bertemu dengan orang-orang difabel yang bernasib sama atau bahkan dengan kondisi yang lebih buruk. Ini membuat saya semakin menyadari bahwa nasib orang berbeda-beda. Ternyata saya tidak sendirian.

Kekuatan ilahi, peran keluarga dekat, dan sahabat memang sangat penting. Akan tetapi, saya tahu bahwa titik balik adalah kesadaran mengenali kondisi saya sedalam-dalamnya, yang justru berasal dari dalam diri saya sendiri.” Wahyu mengatakan kalimat terakhir itu dengan penuh penghayatan.

“Maksudnya bagaimana mas?”, sergahku meminta penegasan.

“Faktor luar memang sangat membantu, tapi motivasi untuk bangkit itu berasal dari diri saya sendiri”, Wahyu menyatakan dengan tegas. “Kesadaran bahwa saya berbeda dan unik dengan kondisi yang saya punya membuat saya berdamai dengan diri saya sendiri, sekaligus menjadi titik balik bagi saya untuk bangkit kembali.

Titik balik ini, membuat saya lebih antusias dan melakukan eksplorasi untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang difabel. Ternyata, ada banyak kisah yang membuat saya semakin bersemangat bahwa kondisi difabel bukan sesuatu yang patut dikasihani, tetapi justru menjadi kebanggaan tersendiri. Dengan pemahaman yang tepat maka difabilitas justru membuat percaya diri”, tutur Wahyu dengan berbinar.

“Berarti sekarang ngga malu lagi dong mas Wahyu dengan kondisi ini?”, tanya saya dengan santai.

“Jelas tidak dong. Saya sekarang bekerja di perusahaan start up di kawasan Blok M dan sedang menyelesaikan kuliah saya di sebuah universitas di Jakarta. Saya ambil jurusan International Business Management. Kalau dulu saya cenderung menutupi kaki palsu saya, sekarang justru saya bangga dan tidak ada rasa malu sedikitpun terhadap ketidaksempurnaan saya ini.”

“Wow keren”, respons saya setelah menerima aura positif dari mas Wahyu. “Satu lagi mas, apa rencana ke depan mas Wahyu?”, tanya saya dengan antusias.

“Tidak muluk muluk, saya hanya ingin mempunyai social impacts ke masyarakat. Soal jurusan kuliah, saya ingin belajar bisnis lebih dalam lagi.” Jawaban Wahyu menutup sesi ngopi saya bersama dengan seorang pemuda difabel yang bangkit kembali dari keterpurukan.

Hmmm, penulis jadi teringat pada sepenggal lagu, “Jangan menyerah”-nya d’Masiv,

Tak ada manusia yang terlahir sempurna.
Jangan kau sesali, segala yang telah terjadi.
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.
Tetap jalani hidup ini., melakukan yang terbaik.

Penulis meyakini pertemuan dengan mas Wahyu bukan sebuah kebetulan. Ada ‘mutiara mahal’ kehidupan yang ingin disampaikan oleh Sang Pemilik Hidup, “Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan.” Ketika derita dan cobaan melanda, pengenalan akan diri sendiri membawa kepada kita sebuah titik balik kebangkitan, yaitu saat kita berdamai dengan diri kita sendiri.

8

0
Memantrai Hati Menengok Memori

Memantrai Hati Menengok Memori

“Ya Allah, saya ikhlas jika saya gagal dalam seleksi beasiswa ini, tapi saya mohon sembuhkan Ayah saya”

Kalimat itu adalah sepenggal bagian dari doa yang saya panjatkan kepada Tuhan YME, sang Pemilik Semesta, ketika menunggu ayah saya yang sedang dalam kondisi kritis karena penyakit jantungnya.

Waktu itu, saya sedang menunggu panggilan wawancara sebagai rangkaian proses seleksi beasiswa untuk program S2 yang saya ikuti. Seingat saya, saya terus berdoa dengan permintaan yang sama, berharap kesembuhan bagi ayah.

Ketika itu saya terus memupuk yakin, bahwa ayah saya akan diberikan kesembuhan, dan saya siap mengubur mimpi saya berkuliah di luar negeri. Ayah saya lebih penting, karena kepadanya saya selalu bisa menjadi Betrika yang manja, yang selalu dijaga, meski sudah berusia tak lagi remaja.

Hari berganti, sampai akhirnya Sang Khalik memutuskan untuk memberikan cerita yang berbeda dari asa. Ayah saya pergi untuk selamanya. Kala itu, tentu batin dan raga ini terpukul tak terhingga, rasa sedih menyayat hati.

Namun, jauh di dalam hati, rasa amarah lebih banyak mendominasi. Saya tidak terima ayah saya diambil begitu saja, “Kenapa permintaan saya tak didengar oleh-Nya?!”

Setelahnya, menjalani langkah ini terasa tak mudah. Terlebih ketika rasa rindu terus menumpuk memenuhi hati, rasanya justru menyayat dan mencabik menyakiti diri. Ayah selalu ada, memberi teladan bukan paksaan, memberi arahan bukan aturan. Ketika Ayah sudah tak ada, saya hilang arah, tak tahu jalan.

Mengingatnya memberikan kebahagiaan, tetapi diiringi dengan semakin menancapnya luka. Mengingatnya pun menghadirkan ketidakhadiran, the presence of absence. Sebuah kerinduan pada seseorang atau sesuatu yang kita kasihi, tetapi kita tahu kita tidak akan pernah bisa mengalami lagi.

Dari kondisi inilah saya menemukan sebuah kata, Saudade. Kata yang menjadi judul sebuah lagu karya Kunto Aji, seorang sahabat sejak masa remaja saya dulu di Jogja.

Saya sering dengar, ketika kita mendengarkan sebuah lagu, mungkin saja masing-masingnya akan memiliki penerimaan yang berbeda. Interpretasi yang tak sama. Bagi saya, Saudade seakan menceritakan bagaimana ayah saya membisikkan kepada saya segala pesan dan tauladannya.

“Jadi, jadi

Besar dan bestari

Serap, serap

Yang baik untukmu

Oh disana

Berdirilah engkau

Dengan senyuman

Dan keping harapan

Di belakang

Tempatmu bersandar

Tanganku terbuka

Kapanpun kau ingat

Pulang”

Lirik ini bagi saya menggerusi emosi. Pada awalnya meyakinkan saya jika ayah selalu ada untuk saya, memberi semangat untuk terus mengejar mimpi dan harapan. Namun, pada akhirnya realita memberi tanda yang berbeda, ayah sudah tiada. Saya tak tahu kemana saya harus pulang.

Bagaimana saya mencoba menjalaninya? Saya menekannya kuat-kuat. Menekan rindu sekuat yang saya mampu. Tapi jauh di dalam hati, saya tahu saya hanya mencoba untuk menipu.

Sampai kemudian saya memasuki fase pilu membiru, sebuah fase yang bagi penerimaan saya adalah tentang berdamai dengan luka, melihatnya dari cara yang berbeda. Mengonversi kerinduan yang semula luka menjadi pelega dahaga, rindu.

“Tak ada yang seindah matamu

Hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu

Hanya lautan

Tak tergantikan

Oh…

Walau kita

Tak lagi saling

Menyapa”

Bagi saya, berbeda dengan Saudade, lagu ini adalah pesan saya untuk ayah, tentang rasa hormat penuh rindu. Bait yang menceritakan tentang masih banyak hal yang belum bisa disampaikan, akan memberikan rasa yang berbeda ketika saya sudah berdamai dengan kenangan yang ada, bukan pada lukanya.

“Masih banyak yang belum sempat

Aku katakan… Padamu

Masih banyak yang belum sempat

Aku sampaikan… Padamu”

Ketika damai itu telah ada, saya merasakan lirik di atas dengan sisi pandang yang berbeda. Saya melihatnya sebagai sebuah penerimaan bahwa masih banyak hal yang belum sempat saya sampaikan kepada ayah.

Namun, itu justru menjadi janji bagi saya untuk terus berjuang, untuk membuktikan bahwa anaknya bisa. Ayah tentu tak ingin melihat anaknya terus-menerus tak menerima, bahkan terus menyalahkan Sang Pencipta. Bukan, bukan itu yang ayah damba.

Setiap perjuangan memiliki dua peluang hadirnya sisi akhir cerita yang berbeda. Saya pun meyakini bahwa yang saya jalani ini tidak mudah, tak juga berarti tak bisa dilalui. Kegagalan seringkali menyapa ketika asa sedang besar-besarnya.

Dan biasanya, kegagalan demi kegagalan itu datang beruntun tak terpisah hadirnya. Tentu akan muncul sebuah pertanyaan yang cenderung menjadi dakwaan, bagi diri sendiri,

“Hanya itu mampumu?”

Lagi-lagi, sebuah lagu Kunto Aji seakan memberikan sapaan hangatnya bagi saya, bagi kita yang sudah terus berjuang.

“Tenangkan hati

Semua ini bukan salahmu

Jangan berhenti

Yang kau takutkan takkan terjadi

Yang dicari, hilang

Yang dikejar, lari

Yang ditunggu

Yang diharap

Biarkanlah semesta bekerja

Untukmu”

Setiap usaha dan perjuangan memiliki bagian-bagiannya sendiri. Ada yang merupakan kuasa kita, tentang seberapa kita berusaha dan memahami caranya, dan ada bagian lain yang berada di luar jangkauan kita, milik Yang Kuasa. Yang terpenting adalah kita mengasihi diri kita, memberikan apresiasi pada jiwa dan raga kita yang telah berusaha.

Pada akhirnya, tiga lagu dari Album Mantra ini seakan menjadi saksi perjalanan saya yang tak mudah. Sebagai pengiring, bukan obat, karena kenangan bukan untuk kita hilangkan, tetapi perlu diberikan teman sejalan. Setelah kehilangan, kehilangan sosok teladan dan kehilangan pedoman keyakinan. Hingga akhirnya menemukannya lagi, meskipun belum sepenuhnya.

Tentu saja, lirik yang indah dalam lagu-lagu itu tak akan begitu bermakna tanpa alunan musik sebagai penghantarnya. Terutama pada lagu rehat yang menggunakan solfeggio frequency 396 Hz, yang dipercaya dapat mengeluarkan pikiran negatif.

Frekuensi ini diyakini dapat membebaskan dan membersihkan perasaan bersalah yang seringkali hinggap ketika berhadapan dengan suatu masalah. Bagi saya, lagu-lagu ini tentu telah ‘dimasak’ dengan cara, bumbu, dan komposisi yang tepat, hingga mampu memberikan pesan yang luar biasa.

Kembali, saya bukan manusia yang punya banyak pemahaman dan pengetahuan tentang musik yang mendalam, tetapi dalam lagu-lagu ini, kita mampu merasa dan menikmatinya dengan sederhana. Sesederhana kita mau berdamai dengan diri sendiri dalam menengok memori.

Mari memantrai hati.

8

0
Karena Sebenarnya Semua Orang Bisa Menulis

Karena Sebenarnya Semua Orang Bisa Menulis

Judul di atas adalah statement yang saya kutip dari ucapan salah seorang narasumber pelatihan kepenulisan yang saya ikuti hari itu, 4 Oktober 2019. Mengambil lokasi salah satu ruang diskusi di perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, training kepenulisan artikel ilmiah ini menghadirkan dua pembicara yang – menurut saya – sangat mumpuni di bidangnya.

Statement di atas memang benar adanya. Sebab disadari atau tidak, setiap orang di zaman milenial ini pada umumnya bisa membaca, yang karenanya ia pasti bisa menulis. Namun akan bermakna lain jika yang dimaksud bisa menulis adalah suatu praktik kepenulisan yang mengikuti kaidah-kaidah tertentu.

Kaidah ini adalah standar yang sudah baku dan menjadi suatu kebiasaan bagi seseorang yang menulis, baik untuk tulisan berjenis fiksi maupun non-fiksi. Dalam pengertian yang kedua inilah kemudian masalah tentang kepenulisan mengemuka. Tidak semua insan yang melek huruf memiliki kemampuan menulis yang baik, sesuai kaidah, dan lagi konsisten dalam melakukannya.

Menulis, Aktivitas Keseharian Kita Semua

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: mengapa menulis dalam pengertian khusus tersebut begitu sulit dilakukan. Mengapa di antara sebagian besar insan yang melek literasi, mereka tidak mampu menjadikannya sebagai suatu praktik menulis yang sesuai kaidah dan dilakukan dalam sebuah wujud kebiasaan yang konstan?

Sejumlah seminar maupun pelatihan mengambil tema kepenulisan ini begitu menjamur dan laris manis dihadiri oleh khalayak, baik yang berbayar, maupun yang free. Kesemuanya diadakan demi suatu tujuan untuk membangun motivasi dan pemahaman agar kita memiliki kemampuan dan kebiasaan dalam praktik kepenulisan.

Event yang saya ikuti sendiri mengambil tajuk “Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah”, sebuah event yang meski tak berbayar tetapi kualitasnya memuaskan karena sarat akan pengetahuan dan sharing pengalaman yang mencerahkan.

Melalui statement yang dijadikan judul di atas, pembicara pertama mencoba menguatkan kepercayaan diri kita untuk menulis dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan positif untuk selalu kita lakukan. Beliau melanjutkan paparan penjelasan akan statement tersebut dengan beberapa contoh mengenai betapa inherennya aktivitas menulis dalam keseharian kita.

“Bukankah setiap kita memiliki smartphone yang sebagian besarnya merupakan program maupun fitur yang mengharuskan kita untuk menulis?”, ujar beliau.

Berbagai kebiasaan yang dilakukan orang tua kita di masa lalu pun sebetulnya juga merupakan aktivitas yang merupakan bagian dari praktik kepenulisan, seperti mencatat pengeluaran rumah tangga, membuat daftar barang yang akan dibeli, menulis memo untuk anggota keluarga, dan lain sebagainya.

Hal tersebut menandaskan kembali fakta akan sebuah tradisi menulis yang sudah seyogyanya kita kembangkan dalam keseharian hidup kita. Karenanya, saya pun ikut meyakini bahwa setiap kita pasti bisa menulis.

Menulis Artikel Ilmiah

Sekedar menulis sembarang tulisan sudah merupakan suatu praktik dan kebiasaan yang sangat baik. Menulis apapun selagi hal yang ditulis tersebut bermakna positif adalah sebuah kebajikan yang hendaknya dilestarikan. Akan tetapi, jika kebiasaan dan keahlian menulis ini telah cukup mumpuni hendaknya dikembangkan untuk jenis artikel ilmiah.

Menulis artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk praktik kepenulisan yang hendaknya menjadi target dan tujuan pengembangan kebiasaan kepenulisan kita. Pembicara kedua pada training itu pun mengupas berbagai sub-tema mengenai tujuan menulis artikel ilmiah, dan bagaimana kiat menuliskannya.

Materi disampaikan secara interaktif dan diselingi dengan ice breaking yang menggugah minat untuk terus stay tune mengikuti alur penjelasan. Dalam paparannya, pembicara kedua menyampaikan pengalamannya dalam proses kepenulisan. Meski masih sangat muda, beliau sudah menghasilkan 6 karya berbentuk buku dan sejumlah tulisan yang sudah, maupun belum diterbitkan dalam berbagai jurnal, baik nasional maupun internasional.

Berbagai kasus atau masalah penting yang menjadi sorotan, maupun hal-hal sederhana yang menarik dari keseharian hidup kita berhasil didokumentasikannya dalam cerita. Beliau menjadikan contoh topik apa saja yang bisa dijadikan sebuah judul karya ilmiah.

Setelah itu, pembicara kedua ini melanjutkan penjelasannya dengan memaparkan seperti apa sistematika karya ilmiah yang baik, kemudian secara khusus menjelaskan mengenai sisi novelty atau kebaruan dalam sebuah karya ilmiah. Terutama jika karya ilmiah tersebut adalah sebuah hasil penelitian.

Berharap Pelatihan yang Lebih Lama

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB di saat pembicara kedua terpaksa menghentikan paparan materinya yang tampaknya belum lagi selesai. Hari ini adalah hari Jumat yang terbatas waktunya. Sedangkan dalam event pelatihan kepenulisan ini pada akhir sesi bagi peserta perlu disediakan waktu untuk menulis.

Pembicara mempersilakan tulisan dengan topik apapun dengan merujuk pada paparan materi selama dua sesi pelatihan itu. Rangkaian acara kemudian diakhiri dengan pengumpulan karya para peserta yang nantinya akan dinilai dan diberikan hadiah berupa buku dari penyelenggara.

Saya menikmati pelatihan itu. Sayangnya, menurut hemat saya tampaknya tak cukup jika pelatihan menulis semacam ini diselenggarakan hanya dalam waktu 3 jam. Seharusnya acara berlangsung setidaknya dalam satu hari, dilanjutkan dengan membentuk grup alumni pelatihan. Dari sana, komunitas ini menjadi sarana untuk memelihara semangat menulis, sekaligus dapat diisi dengan berbagai rencana positif untuk membangun tradisi kepenulisan.

Tabik!!!

3

0
Refleksi ASN Dua Generasi: Antara Milenial dan Kolonial

Refleksi ASN Dua Generasi: Antara Milenial dan Kolonial

Refleksi Generasi Pertama

Kumandang adzan maghrib mengiringi laju kereta Senja Utama dari Stasiun Balapan dengan tujuan terakhir Stasiun Pasar Senen Jakarta, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Di sana lah aku berada. Setelah pengumuman kelulusan sekolah menengah atas (SMA) – dengan bermodalkan restu ibu dan bapak – aku mencoba peruntungan mendaftar di sebuah perguruan tinggi di ibukota.

Kampus itu bernama STAN, kependekan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, milik Kementerian Keuangan. Sekolah kedinasan yang mencetak para aparatur dan abdi negara yang nantinya ditugaskan di seluruh penjuru nusantara.

Pembentukan Jiwa Pengabdian

Jiwa pengabdian orang tuaku sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pendidik di sekolah dasar rupanya mengalir ke diriku. “Melanjutkan semangat pengabdian kedua orang tua”, jawaban itulah yang aku sampaikan pada saat tes wawancara untuk menjadi calon mahasiswa STAN. Alhamdulillah, membawa berkah sehingga aku akhirnya diterima sebagai mahasiswa STAN pada tahun 1990.

Di tengah ancaman hantu “Drop Out” aku berhasil lolos pada setiap tahapan. Semester demi semester terlewati hingga aku berhasil menamatkan pendidikan Ajun Akuntan. Setelah 2 tahun praktek kerja, nasib baik berpihak padaku. Aku lolos seleksi masuk Diploma IV (D-IV) dan menjalani pendidikan 2 tahun berikutnya untuk meraih gelar Akuntan.

Berbekal semangat Garuda di Dadaku, pengabdian tidak boleh berhenti karena ruang dan waktu. Kata- kata tersebut menghipnotis serta mengiringi setiap langkahku dalam menunaikan tugas selaku ASN.

Satu surat keputusan atau SK, disambung dengan SK-SK lainnya, berisi pengangkatan sebagai auditor, kenaikan pangkat dan mutasi ke berbagai daerah telah aku jalani lebih dari 12 tahun lamanya.

Di tengah kebanggaanku sebagai auditor dalam mengemban tugas di bidang “Assurance dan Consulting“, pimpinan memberiku amanah tugas baru yang lebih besar. Aku diberi tanggung jawab sebagai struktural pengelola keuangan. Dalam melaksanakan penugasan tersebut, berbagai tantangan dapat kuatasi. Perlahan aku menjawab sebuah pertanyaanku sendiri,

“Rasa pengabdian itu seperti apa?”

Ah, terlalu panjang untuk menceritakan kepada kalian, tentang bagaimana rasanya pengabdian. Yang jelas bisa kuceritakan ialah bahwa seringkali pengabdian itu bermakna harus keluar dari comfort zone atau zona kenyamanan.

Kesempatan Menikmati “Indomie Nusantara”

Seperti halnya berganti jenis ragam penugasan maupun berpindah ke tempat tugas yang baru, perlu ekstra energi untuk terus belajar mengenal lingkungan pekerjaan baru yang sangat dinamis. Terkadang, penugasan ini mengharuskanku berpisah dengan keluarga. Namun selalu ada kesempatan menikmati setiap menu “Indomie Rasa Nusantara”.

Sebuah contoh nyata pengabdian dalam tugas sebagai struktural itu terasa pada saat gempa 30 September 2009 di Sumatera Barat. Di tengah kegundahan para pegawai yang tidak bisa bekerja karena kantor telah runtuh, kami para punggawa harus berpikir keras untuk mengatasi kondisi yang ada.

Alhamdulillah, atas arahan pimpinan, dengan berbagai jalan kami pun bisa merombak rumah dinas menjadi kantor darurat sehingga pelaksanaan tupoksi tidak terhenti. Itulah jiwa pengabdian sejati – bahwa stake holder lebih membutuhkan layanan kita di tengah kondisi darurat pasca gempa.

Tanpa terasa kini sudah lebih dari 10 tahun melaksanakan tugas di jabatan struktural. Berbagai kuliner di beberapa daerah sudah pernah kunikmati. Apa yang sudah dijalani adalah berorientasi pengabdian dan memenuhi pesan orang tua agar tetap “Eling lan Waspodo“. Eling adalah ingat kepada Yang Maha Kuasa dan Waspada adalah berhati-hati dalam bekerja.

Refleksi Generasi Kedua, Surat Resign dari Si Milenial

Aku terhenyak mendapati sebuah surat permohonan untuk resign dari Satrio, seorang milenial di kantorku. Tak lama, surat itu kukirimkan kembali padanya melalui WA sebagai bentuk klarifikasi. Sungguh mengagetkan, mengingat kabar terakhir Satrio bermohon izin hanya untuk cuti mendampingi istri di Kota Bakwan.

Sesekali kulihat apakah pesan WA itu sudah dibacanya. Sebagai pejabat yang berwenang mengelola kepegawaian di kantorku, berita macam ini memang sedikit memunculkan kekhawatiran. Pesan WA itu rupaya sengaja tak dibukanya, tetapi pada akhirnya kami bertemu ba’da sholat dhuhur di masjid kantor.

Maka kemudian sebuah obrolan serius tapi santai kujalani dengan Satrio. Suasanyanya pas, di sebuah saung di samping kantin ditemani secangkir kopi Toraja. Aku mulai menggali informasi lebih detail terkait surat resign yang diajukan Satrio.

Cerita lengkapnya dimulai saat Satrio mengikuti sebuah pendidikan dan pelatihan (Diklat) Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di Bogor beberapa waktu yang lalu. Satrio berada satu kelas dengan teman baru dari unit kerja lain. Mereka ngobrol-ngobrol hingga akhirnya Satrio memperoleh tawaran untuk pindah kerja di Bagian Teknologi Informasi sebuah perusahaan holding perdagangan yang berkantor pusat di Jakarta.

Tawaran pekerjaan ini cukup menggiurkan. Gaji yang ditawarkan mendekati angka Rp20 juta perbulan, 3 kali lipat dari penghasilan yang diterima Satrio saat ini. Harus diakui memang bahwa selain penghasilannya jauh lebih kecil, pekerjaannya saat ini mengharuskan Satrio siap dimutasi atau berpindah-pindah tempat di seluruh Indonesia.

Berbekal argumentasi itu dan keinginan untuk pengembangan karir lebih optimal di tempat bekerja yang baru, pada akhirnya Satrio memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ceritapun mengalir, keinginan untuk resign yang semula hanya spontan pada akhirnya menantangnya sebagai seorang milenial berbekal potensi keahlian dan usia yang masih fresh di dunia kerja. Uji nyali, katanya.

Masa percobaan kerja berlangsung selama 3 bulan. Satu bulan pertama sudah dijalaninya. Rupanya pengalaman awal ini semakin memantapkan langkah Satrio untuk resign dari ASN. Meskipun satu bulan percobaan tersebut hanya memanfaatkan surat cuti mendampingi istri melahirkan.

Aku cukup terkaget juga dengan kenekadan Satrio. Peristiwa itu begitu cepat terjadi dan tidak terinfokan bagaimana kondisi sebenarnya. Yang kupahami, pertimbangan atasan ketika menyetujui cuti karena alasan (kemanusiaan) mendampingi istri yang melahirkan bayi kembar ternyata tidak akuntabel.

Aku terkaget lagi dengan prospek imbalan take home pay yang relatif cukup besar telah menantinya di liuar sana. Take home sebesar itu melebihi penghasilan ASN yang mempunyai masa kerja lebih dari 27 tahun. Sedangkan saat ini masa kerja Satrio baru berkisar 5 tahun.

Resign adalah One Way Ticket yang Tak Bisa Dibatalkan

Secara normatif aku memberikan nasehat agar Satrio memikirkan secara matang risiko mendatang atas keputusan resign itu. Keputusan ini seperti halnya beli tiket “one way” untuk sebuah perjalanan hidup yang tidak mungkin bisa diralat lagi setelah adanya Surat Keputusan.

Pertanyaanku selanjutnya, apakah keputusan tersebut sudah mendapat restu orang tua? Terakhir, aku menasehati Satrio agar mengikuti proses resign sesuai dengan prosedur instansi, yaitu untuk tetap aktif berkantor sampai dengan permohonan diproses di kantor pusat dan terbit surat keputusan resmi.

Kekagetanku pada keputusan Satrio kemudian juga mendorongku mencoba menganalis etos kerja dan ekspektasi gen milenial dengan pendekatan zaman di mana generasi kami hidup, khususnya masa muda masing-masing. Perbedaan zaman inilah yang menyebabkan keputusan kami berbeda atas dua hal: ketetapan hati untuk menjadi ASN dan ketetapan hati untuk bertahan sebagai ASN atau justru mengundurkan diri (resign).

Bagiku periode tahun 90-an ketika sedang awal masa kuliah, aku adalah “Generasi Wesel”. Generasi di mana mahasiswa harus menanti kiriman uang lewat wesel yang hanya bisa dicairkan di kantor pos. Uang itu lalu masuk dompet dan dijajakan dengan beberapa pilihan: makan sambil nongkrong di warung, membeli buku bekas di Pasar Senen, membeli tiket di biro perjalanan, atau membeli baju di pasar Blok M.

Sedangkan Gen Millenial hidup di jaman e-Money. Kiriman uang dari orang tua diberikan lewat transfer rekening. Order makanan dilakukan lewat Go-food, membeli tiket trasportasi lewat Traveloka, membeli baju lewat Shopee, membeli buku lewat toko online. Semua serba online, serba praktis. Tak mengherankan jika generasi ini tidak cukup tahan atau telaten menjalani proses yang cukup rumit.

“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Menurut pengamatanku, pepatah tersebut tidak lagi berlaku di Zaman Now, zamannya generasi millenial. Prinsip dasar ASN pengabdian pada negara sudah bergeser menjadi filosofi tentang passion. Mereka, gen milenial, hidup di zaman edan, zaman yang menggembar-gemborkan comfort zone.

Epilog

Perbedaan zaman antara generasi wesel dengan generasi e-Banking tentunya berdampak pada orientasi dan lifestyle. Jika generasi wesel berorientasi pada pengabdian dan cenderung “Nrimo ing pandum” tanpa menghitung seberapa besar penghasilan akan diterima, yang penting cukup untuk hidup dengan pola sederhana.

Maka gen milenial berbeda orientasinya. Milenial lebih ingin “menikmati hidup” pada posisi comfort zone. Bentuknya ialah dengan modern lifestyle, traveling dan kuliner. Padahal upaya-upaya aktualisasi diri ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pada akhirnya, kepada gen milenial yang masih tetap memilih bertahan sebagai punggawa ASN, aku ingin berpesan. Bahwa untuk mendukung lifestyle kalian tentunya harus dipikirkan usaha sampingan selain pekerjaan kantoran.

Akan tetapi, jangan lupa bahwa anda telah berjanji mengabdi pada negeri ini. Kalau generasiku boleh mengajari, ingin kukatakan, “Sesulit apapun keadaannya tetaplah berusaha menjadi ASN yang profesional dan berintegritas”.

Salam Kolonial!

5

0
Sebuah Catatan Kecil: Menjadi Seorang Peneliti

Sebuah Catatan Kecil: Menjadi Seorang Peneliti

Menjadi peneliti, atau memilih profesi menjadi seorang peneliti, adalah satu di antara sekian banyak hal yang tak pernah terbersit dalam rencana hidup saya di masa lalu. Meskipun harus diakui juga bahwa di masa lalu itu saya tidak benar-benar merencanakan cita-cita saya ingin jadi apa kelak jika sudah dewasa.

Kalaupun ada kilasan bayangan masa depan, yang saya inginkan ketika itu adalah menjadi seperti ayah saya, seorang anggota kepolisian. Begitu tak jelasnya rencana hidup saya di masa itu, bahkan saya bisa menggambarkannya melalui estafet tangga pendidikan yang saya pernah lalui berikut ini;

  • TK Bhayangkari,
  • lanjut SD negeri,
  • masuk SMP favorit berkat bakat sepak bola,
  • menyambung ke STM jurusan mesin produksi,
  • lalu merasa mendapat pencerahan dan ikut SPMB mengambil jurusan sosiologi.

 

Pencarian Jati Diri

Saat masa kuliah sebetulnya rancangan masa depan saya juga belum benar-benar tergambar. Saat itu kehidupan lebih saya jalani sebagai seorang yang berada dalam euforia ketercerahan, tetapi belum menemukan rumusan yang gamblang untuk bagaimana membuatnya menjadi kejelasan akan cita-cita di masa depan.

Saat itu saya mengisi hari-hari dengan berbagai kegiatan sporadis kemahasiswaan, yang belum pula saya kaitkan dengan perencanaan matang mengenai masa depan.

Sejenak saya sedikit menyesali akan dinamika pada masa-masa itu yang seolah tak serius memikirkan masa-masa kini. Pada akhirnya saya mencoba menginsafi diri. Mungkin itu adalah kisah klasik yang harus saya lalui sebelum akhirnya saya menemukan diri saya, hingga kemudian saya memiliki arah dan cita-cita hidup yang jelas terkait peran dan profesi apa yang akan saya pilih.

Semua butuh proses, begitu pula dengan ketercerahan yang juga ternyata memiliki tingkatan tahapan. Untuk itu saya bersyukur bahwa perjalanan masa lalu itu, meski terengah dan tak berpasti arah, akhirnya mengantarkan saya pada diri saat ini yang memiliki tekad dan komitmen untuk terus maju dan berubah menuju sebuah tujuan diri yang lebih baik.

Saya Menjadi Peneliti

Adalah menjadi seorang peneliti yang pada saat ini saya pilih untuk menjadi profesi. Perjalanan dalam menujunya bukanlah jalan yang terencana baik dan sistematik. Akan tetapi biarlah ia-nya menjadi semacam pit stop­ ­bagi seorang pembalap Formula 1 (F1) untuk mengisi bahan bakar dan mengganti komponen kendaraan yang tak lagi berperforma prima.

Karenanya saya merasa inilah saatnya bangkit dan memacu segala ketertinggalan di masa lalu. Inilah titik tolak untuk lompatan hidup yang lebih jauh; to become a researcher…

Semua bermula pada sekitar 3 bulan terakhir di tahun 2013, saat saya mendapatkan informasi mengenai seleksi nasional penerimaan PNS. Pada saat itu, saya betul-betul tidak berniat untuk mengikuti seleksi, hingga saya dipaksa oleh ibu saya untuk mendaftar.

Maka setelah melakukan sedikit riset pada jabatan maupun instansi yang akan dilamar, akhirnya saya memilih 2 opsi yang paling eligible untuk saya pilih. Yang pertama adalah formasi jabatan peneliti pada unit penelitian di sebuah kementerian, dan yang kedua sebuah jabatan yang saya terlupa namanya pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Setelah mengisi lengkap aplikasi via laman on line, lalu dilanjutkan dengan menyiapkan semua berkas fisik yang dibutuhkan, pada hari Jum’at 4 Oktober 2013, saya kirimkan aplikasi lamaran. Pengiriman lamaran ini terjadi saat momen jelang deadline-nya, yaitu hari Senin tanggal 7 Oktober 2013.

Kemudian cerita berlanjut dengan dua tahapan seleksi yang harus saya lewati untuk menjadi seorang peneliti. Pada ujian seleksi pertama bernama Tes Kemampuan Dasar (TKD).

Saya pastikan bahwa saya dapat mengerjakannya dengan cukup baik. Saya bersaing dengan sekitar 90-an orang pelamar lain yang memperebutkan satu formasi sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya (Puslitbangbud).

Selesai mengikuti TKD, berlalu beberapa masa yang saya terlupa durasinya. Namun jika dikira-kira mungkin hanya dalam berbilang pekan, saya mendapat berita pengumuman akan lolosnya nama saya untuk dapat mengikuti tes berikutnya, yakni Tes Kemampuan Bidang (TKB).

Tes kali ini mengambil tempat di gedung F lantai 5 kompleks sebuah kementerian di Senayan, Jakarta. Dari jumlah peserta tes pertama sekitar 90-an pesaing, pada tes kedua ini telah tersaring hingga hanya sekitar 10 hingga 15 orang. Dalam tes kedua ini lagi-lagi saya merasa cukup percaya diri bahwa saya dapat mengerjakannya dengan baik.

Setelah berlalu beberapa periode waktu, dimulai dari pengiriman dokumen lamaran pada tanggal 4 Oktober, lalu dua tahapan tes yang diselenggarakan sekitar bulan November dan Desember, tibalah masa pengumuman penerimaan.

Meski sempat tidak ada informasi yang jelas mengenai kapan pengumuman tersebut dirilis, akhirnya pada hari Rabu malam tanggal 26 Februari 2014, saat saya iseng membuka laman panitia seleksi nasional penerimaan PNS, saya dapatkan sebuah pengumuman hasil penerimaan yang menyertakan nama saya di dalamnya.

Sempat bergetar perasaan saya saat mendapati nama saya muncul pada lembar pengumuman tersebut, seolah seperti tak percaya bahwa saya akan diterima bekerja sebagai pegawai di salah satu institusi pemerintahan di negeri ini.

Selanjutnya, melalui kisah perjalanan yang unplanned seperti itu kemudian menjadi lah saya seorang peneliti. Pertanyaan yang harus dijawab berikutnya adalah, “Apakah menjadi peneliti nantinya akan menjadi sebuah keterpaksaan, atau justru menjadi sebuah passion baru yang digeluti dengan sungguh-sungguh?”

Jawaban atas pertanyaan ini begitu penting, mengingat perjalanan karir ke depan masih cukup panjang. Tak elok rasanya jika peran karir dijalankan dengan terpaksa. Dengan kata lain haruslah benar-benar dijalani dengan niat untuk melaksanakan tugas dengan baik, terlebih ekosistem yang dimasuki adalah dunia penelitian, sebuah dunia yang begitu menantang untuk dijelajahi.

Seni Menjadi Peneliti

Menjadi peneliti merupakan sebuah pilihan profesi yang harus dijalani dengan segenap kesadaran dan tekad. Di antara 140-an pilihan jabatan fungsional, peneliti adalah salah satunya.

Menjadi peneliti atau bergelut di dunia penelitian merupakan sebuah domain karir yang meniscayakan akan dinamika yang tinggi. Untuk bisa menjadi seorang peneliti dibutuhkan usaha yang tidak sederhana.

Andaipun telah menggapai status sebagai seorang yang menduduki jabatan fungsional peneliti, untuk tetap bertahan dalam memegang jabatannya pun dibutuhkan usaha yang penuh perjuangan.

Oleh karenanya dunia penelitian –sebagaimana saya sebut di atas- adalah sebuah dunia yang penuh tantangan untuk kita jelajahi. Ketika kita sudah memulainya, akan ada banyak hal baru yang menanti untuk kita nikmati sebagai seorang peneliti.

Seorang peneliti adalah sosok yang idealnya memiliki karakteristik positif yang khas yang mungkin tidak harus dimiliki oleh jenis profesi lainnya. Hal ini tercermin di antaranya dari sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan para peneliti;

“Seorang peneliti boleh salah, akan tetapi ia tidak boleh berbohong”.

Dalam ungkapan ini pula tersirat pesan bahwa peneliti harus selalu memiliki curiosity yang tinggi yang ia ejawantahkan dalam pekerjaannya.

Ia, peneliti, mesti selalu mencoba bertanya, mendalami, dan berusaha mendapatkan jawaban atas segala hal yang ia terima sebagai sesuatu yang dianggap taken for granted.

Dalam upaya menjawab rasa curiosity itulah mungkin seorang peneliti mendapatkan kesimpulan jawaban yang kurang tepat, yang karenanya ia harus memiliki sifat open mind untuk diberi masukan dan evaluasi oleh orang lain.

Sejalan dengan itu, upayanya untuk membuktikan kebenaran dan kebijaksanaan yang menjadi titik landasan melakukan penelitian, harus berjalan dengan salah satu asas karakter yakni kejujuran. Seorang peneliti harus menjunjung tinggi nilai kejujuran ini dalam menjalankan pekerjaannya.

Sebagai seorang yang memainkan peran sebagai “detektif kebenaran”, seorang peneliti memiliki otoritas untuk nantinya membuat “sabda kebenaran” yang akan diamini dan dijadikan pegangan oleh khalayak ramai.

Maka bagi seorang peneliti wajar jika dalam proses melaksanakan berbagai tahapan penelitiannya terjadi kesalahan. Hanya saja, sekali lagi, tetap saja ia tidak boleh berbohong dalam apapun bagian dari proses dan hasil penelitiannya. Haram hukumnya bagi seorang peneliti untuk berdusta atau memanipulasi data dan temuan penelitiannya.

Menjadi seorang peneliti membuat seseorang senantiasa hidup dalam orientasi kebaruan. Stagnasi bagi seorang peneliti berarti mati. Kematian yang bukan hanya berarti ketercerabutan ruh dari jasad, tapi juga pemberhentian status sebagai seorang peneliti. Kematian bagi peneliti berarti karya dan prestasi yang basi.

Maka seorang peneliti adalah sosok pribadi yang harusnya memiliki filosofi hidup bertumbuh. Ia tidak bisa melewatkan waktunya dengan berlalu begitu saja tanpa ada pengetahuan, keterampilan, atau juga sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang.

Epilog

Seorang peneliti menyadari bahwa ada langit di atas langit. Dengan kata lain, dalam menjalankan kariernya ia selalu merasa tidak cukup untuk menyatakan berhenti dalam menggapai langit demi langit di atasnya.

Oleh karenanya seorang peneliti tak boleh merasa puas dengan kualifikasi yang saat ini ia miliki. Terkhusus dalam dimensi kualifikasi pendidikan, seorang peneliti harus selalu memiliki gejolak untuk meraih tingkatan paling tinggi dalam pengetahuan.

Kalaupun di zaman ini manusia menjadikan capaian tingkat pendidikan sebagai suatu ukuran, maka seorang peneliti tak pantas jika hanya berpredikat sebagai sarjana. Ia harus terus menempuh berbagai program pendidikan yang memungkinkannya untuk meraih titel tertinggi dalam kualifikasi pendidikan.

Tak hanya itu, jika pun ia sukses menggapai kualifikasi tertinggi dalam tangga pendidikan formal, ia juga tak berhak untuk merasa cukup dalam menuntut ilmu. Ia harus tetap merasa ‘kurang’, sehingga masih harus terus belajar. Ia memiliki semboyan bahwa belajar adalah pekerjaan yang melekat seiring usia dan kesadaran sebagai anak manusia.

Seorang peneliti memiliki misi suci peradaban. Yakni bahwa ia harus memiliki suatu keyakinan bahwa peneliti adalah profesi pembuka jalan peradaban sebuah masyarakat. Maka seorang peneliti haruslah mereka yang memiliki mentalitas terdepan dalam menyongsong perubahan menuju kebaikan, baik bagi diri juga bagi seluruh umat manusia.

 

 

5

0
error: