Al Khawarizmi dan Keterampilan Abad 21

Al Khawarizmi dan Keterampilan Abad 21

Gelaran Application of International Conference and Communication Technologies (AICT) di Tashkent, Uzbekistan (7-9/10 2020) terasa tidak memiliki gaung yang kuat. Padahal, acara ini didukung penuh oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), lembaga pengamat dan praktisi rekayasa listrik dan elektronika terbesar di dunia. Salah satu poin pentingnya, acara ini secara khusus didedikasikan untuk menghormati warisan keilmuan saintis besar Islam, Muhammad bin Musa Al Khawarizmi.

Sayangnya, pandemi Covid-19 menghalangi kehadiran para ilmuwan, peneliti, dan pebisnis teknologi komunikasi menghadiri apa yang penyelenggara acara tersebut namai sebagai ziarah saintifik (scientific pilgrimage) ke makam dan jejak karya Al Khawarizmi di Khiva, sebuah distrik tak jauh dari Bukhara dan Samarkand.

Kunjungan ini diharapkan menguatkan kembali memori kolektif tentang peran ilmuwan muslim tersebut terutama dalam sumbangsihnya dalam bidang algoritma. Setelah 1200 tahun kehadiran dan kontribusinya, ziarah saintifik tersebut merupakan upaya bersama untuk terus menjaga semangat dan capaian yang diraihnya.

Sumbangsih Al Khawarizmi

Kita tahu kontribusi Al Khawarizmi semudah membuat narasi perjalanan diksi dan makna Aljabar, Algebra, hingga terkini Algoritma. Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (2002) secara eksplisit menilai Al-Khawarizmi sebagai salah satu sarjana saintifik muslim terhebat dengan pengaruhnya yang sangat luas.

Di negara-negara Barat, Al-Khawarizmi dikenal dengan sebutan Al Goritmi, Al Gorizmi, Al Cowarizmi, dan sebutan lainnya. Al Khawarizmi lahir sekitar tahun 780 M di Khawarizm, di daerah Khiva di Uzbekistan.

Sumber: idntimes.com

Pada masanya, Asia Tengah dan sekitarnya berada  pada masa kekuasaan Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah.  Pada masa keemasan Abbasiyah, Baghdad dikenal dengan keberadaan dan peran Bait Al Hikmah sebagai  pusat penelitian, penerjemahan buku ke dalam bahasa Arab, dan publikasi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh para cendekiawan muslim. Penghargaan dan apresiasi terhadap Al Khawarizmi setidaknya bisa dilihat dari dua hal.

Pertama, keterjagaan rekognisi atas kontribusi dan pengakuan karya Al Khawarizmi. Derajat pengakuan tersebut bukan hanya penting untuk mendudukkan peran dan sumbangsihnya bagi sains, tetapi juga bagi upaya saling menghargai perkembangan budaya dan peradaban. Upaya dan kehendak seperti ini sering terperangkap pada sikap saling klaim sepihak dan menutup mata pada peran dan kontribusi pihak lain.

Kedua, sebagaimana peradaban, sains adalah juga tentang dialektika dan daur pemikiran. Apresiasi terhadap Al Khawarizmi menegaskan bahwa perkembangan teknologi komunikasi terkini yang banyak bertumpu pada Algoritma banyak berhutang pada akal budi Al Khawarizmi sebagi pencetus dan perekayasanya. Dialektika dan daur pemikaran dalam konteks tersebut mengandaikan betapa luas dan dalam cakupan ide dan pemikiran saintifik di dalamnya.  

Pandangan seperti ini sejalan dengan apa yang disampaikan Abdul Salam, iIlmuwan muslim pertama peraih Nobel Fisika. Dalam banquet speech penyerahan Nobel pada Desember 1979, dengan mendasari ucapannya pada QS Al Muluk:3, Salam mengatakan bahwa semakin dalam upaya pencarian yang dilakukan, semakin dalam pesona dan keajaiban sains yang ditemukan.

Abdul Salam dan AICT 2020 seperti ingin meneguhkan satu hal penting, bahwa bukanlah terutama sekali tentang seberapa banyak terobosan ilmiah yang diperlukan oleh perkembangan peradaban.

Namun, lebih dari itu, juga tentang budaya dan lingkungan yang membuat berbagai capaian tersebut mungkin dilakukan dengan menyebarkan dan mendorong metode yang mencari dan menghormati pengetahuan dan pembelajaran baru. Semangat Salam sungguh tepat, dan 1200 tahun sumbangan Al Khawarizmi dalam teknologi komunikasi membuktikan hal tersebut.  

Warisan Al Khawrizmi: Berpikir Komputasional

Jejak dan ide Al Khawarizmi tentang algoritma, kini berkembang dengan pesatnya. Algoritma bukan hanya mendasari berkembangnya rupa-rupa perkembangan teknologi termutakhir semacam Internet of Things (IoT) hingga Machine Intelligent System, tapi juga mempengaruhi standar keterampilan manusia.  

Berbagai ahli menemukan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, bekerja sama, berpikir kreatif, dan computational thinking sebagai keterampilan abad 21. Berpikir komputasi adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah, merancang sistem, dengan mengambil konsep dasar seorang ahli teknologi informasi berpikir dalam memecahkan masalah.

Kemampuan ini meliputi empat hal, yakni dekomposisi, pengenalan pola,  abstraksi, dan  algoritma. Mulai tahun 2012, Inggris telah mulai menerapkan apa yang dikatakan mereka sebagai computer science pada struktur pembelajaran akademik siswa, menyusul kemudian berbagai negara lain.  

Dalam lingkup yang lebih spesifik, pemerintah telah mulai melakukannya, setidaknya mulai pada awal 2019, dengan meluncurkan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi.

Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menekankan pada pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).  Sistem Zonasi dijalankan guna memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan.

Upaya ini ditempuh di antaranya karena rendahnya kemampuan siswa dalam merespon perkembangan standar soal dan metode pemecahan masalah. Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2018 (Republika,5/12/2019) menunjukkan bahwa sebanyak 40 persen siswa Indonesia masih berada di bawah kemampuan minimal yang diharapkan.

Secara umum, hanya siswa di wilayah DKI Jakarta dan Yogyakarta yang mampu mendekati nilai rata-rata yang digariskan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) selaku pengampu PISA.

Kondisi ini tentu memerlukan respon yang cepat, konstruktif, dan terarah. Kemampuan berpikir secara komputasional bisa menjadi solusi untuk membangun cara berpikir siswa yang kritis, analitis, dan mengembangkan kerja sama.

Meskipun cara berpikir ini dikatakan tidak menjadikan individu sebagai kepanjangan tangan sepenuhnya dari kecerdasan mesin dan kehilangan jati diri kemanusiaannya, resiko negatif tetap membayangi.

Berpikir komputasional akan bersandingan erat dengan kecerdasan mesin yang lazim dikenal dengan artificial intelligent dan internet of things (IoT). Sebagaimana keajaaban yang dibayangkan Salam, ketakjuban pada kecerdasan mesin juga bisa melenakan.

Padahal, salah satu pesan dasar dari capaian Al Khawarizmi tentang aljabar dan temuan hebatnya yang lain adalah perlunya individu untuk memaknai “al-sifr” (kosong atau hampa).

Dalam kitab hisab al-jabr wa al-muqabala, Al Khawarizmi dengan indah menggambarkan lingkaran kehidupan sebagai al sifr, sebuah derajat kekosongan diri yang mengambil jarak dari nafsu kemanusiaan.

Derajat seperti itu mengembalikan harkat manusia pada makna asali tentang ketiadaaan, disertai kesadaran kekuasaan Ilahi sebagai yang memiliki ketiadaan tersebut.  Berpikir komputasional, dengan demikian, eloknya dilihat dan dijalankan dengan menyertakan perspektif al sifr.  

5
0
Pak Doktor itu Bernama Shahrukh Khan

Pak Doktor itu Bernama Shahrukh Khan

Sampai saat ini, saya belum bisa menyukai film-film Bollywood. Karena itu, mohon maaf buat para penyukanya. Jadinya, saya tak bisa menyebutkan dan meyakini judul film India secara spesifik sebagai film yang sepenuhnya saya ketahui –untuk, katakanlah, direviu. Dalam pandangan saya, film India itu aneh dan penuh kejanggalan: mulai dari bangun cerita, ekspresi akting, dan bagaimana mereka bertutur.

Dari skenarionya, film India ya begitu-begitu saja. Kontras antara si miskin-kaya, baik hati – jahat, buruk rupa – rupawan, begitu mudah ditemukan. Jembatan dan ramuan konflik dalam alur ceritanya tak akan jauh dari hal-hal utopia. Dalam menjelaskan dan bicara, gaya dan gesture mereka dengan menggerak-gerakkan tangan dan mimik muka yang berlebihan kadang malah bikin mangkel ati saja.  

Yang lebih mengesalkan, dari sekian banyak film India yang selintas saya lihat, tarian selalu menjadi bagian dari film. Mungkin, tarian malah menjadi semacam kewajiban dari sebuah film India.

Rasanya, bintang film India wajib bisa menari, baik aktris maupun aktornya. Untuk segala momen cerita, mereka wajib menari untuk merayakannya. Sedih ya menari, biasa juga menari, apalagi sedang dalam suka cita.

Yang suka bikin bengong –dalam skenario romansa, misalnya, para artis itu berjoget habis-habisan tiada tara. Saking intensnya, semak belukar dan pepohonan kadang menjadi salah satu objek duet tarian mereka, seolah mereka adalah pasangan hidup yang dapat diajak menari sesuka hati.

Sementara itu, pasangan sesungguhnya –yang adalah makhluk hidup juga, tengah menari nun jauh di sana. Kadang saya berpikir dan bertanya secara berlebihan, apa sebenarnya daya tarik flora di India hingga mampu membuat para artis terlihat seakan lupa ingatan memuja mereka dalam tari-tarian.

Menemukan SRK

Pemahaman saya terhadap film India sepenuhnya dicetak televisi di tanah air, sepenuhnya sesuai selera produser dan aba-aba pengiklan. Kondisi seperti ini bisa menjadikan penilaian yang timpang, dan saya sadari itu.

Kesimpulan sementara dan sangat sembrono: para produser dan para pengiklan itu penggemar mimpi di siang bolong dalam drama hitam putih hidup, dan mereka sangat menyukai joget dan tarian untuk mengkhidmati apapun itu.

Waktu berjalan. Penilaian terhadap film India dan aktornya mulai bergeser saat melihat film Slumdog Millionaire dan Hotel Mumbai. Meski bukan produksi Bollywood, film yang dibintangi Dev Patel itu mendorong saya untuk melihat aktor dan perfilman India lebih jauh.

Ada juga film Chennai Express-nya Shakh Rukh Khan yang menarik perhatian saya, setelah banyak disebut pengamat film sebagai film India yang bagus. Secara global, artis mereka juga makin agresif tampil dan mendapat pengakuan. Sebutlah misalnya Priyanka Chopra, yang belakangan banyak terlibat dalam film Hollywood.

Di antara itu, saya lebih mengenal Shah Rukh Khan lewat performa dan afirmasinya dari sudut lain. Sebelumnya, saya memang berpikir dia aktor biasa saja, dalam artian figur publik sebagaimana aktor film India lainnya.

Jika di India, lagi-lagi sesuai prasangka saya, perfilman mereka diwakili dalam gemerlap dan kekekaran badan pada Salman Khan, Hritik Roshan, Amir Khan, Ajay Devgan, dan aktor lainnya. Maka, setidaknya pada Shah Rukh Khan, saya meyakini anggapan menilai mereka hanya dari kekekaran badan dan tarian aduhai itu tidak tepat.

Pada Shakh Rukh Khan (SRK), saya tahu tumbuhnya kabajikan dan kata-kata indah dan kuat yang tetap terjaga, mekar, dan disemai dalam gemerlap dan mimpi siang bolong yang ditawarkan Bollywood. Saya menemukan keyakinan itu dalam pidatonya yang bernas dan kuat di Edinburgh University pada 2015 dan TED Talk pada 2017.

Bisa jadi, masih banyak afirmasi pandangan-pandangannya tentang hidup dan apa yang mesti dicapai di dalamnya dalam bentuk pidato atau semacamnya dari SRK. Namun, pada dua pidato SRK itu saya mencukupkan diri untuk menilainya dari sisi yang lain. Semoga saya tidak berlebihan dalam memberikan penilaian tentang SRK dengan bahan terbatas.  

Hadapi dan Nikmati Hidup

Di Edinburgh University, SRK tidak sedang melakukan promo filmnya. SRK memberikan sambutan sebagai Doctor (Honoris Causa) dalam sebuah kuliah umum di depan civitas academica Universitas Edinburgh. Diberikan penghargaan Doktoral oleh sebuah lembaga pendidikan prestisius,  dengan sendirinya sudah menjelaskan kontribusi SRK dalam bidang keilmuan dan kemanusiaan.

Dalam pidatonya, SRK banyak mengambil hikmah dan kebajikan dari film-film yang dibintanginya. Dengan bahasa Inggris yang fasih  dan mengalir, saya tahu SRK tidak tengah melafalkan apa yang dihafalkannya sebagai teks pidato.

Ia juga tidak sedang membaca ulang script skenario film yang mungkin dengan mudah disampaikan ulang olehnya. SRK juga bukan sedang meng-casting diri sebagai motivator dan jagoan how-to dalam hidup. SRK berkata dengan tulus dan jujur.

Pidatonya, entah di Edinburgh maupun TED Talk di Kanada, adalah amalgamasi spektrum hidup yang berasal dari kedalaman nilai spiritual India dan konteks selebritas Bollywood, dengan tema utama tentang pelajaran hidup dan apa yang kita perjuangkan di dalamnya.

SRK mengemas pidatonya dengan campuran atas hikmah yang dipetiknya –di antaranya dari film “Deewana”, “Dil Se”, “Kal Ho Na Ho”,  “Kuch Kuch Ho Ta Hai”, serta film-film lainnya bersama nilai etis dan spiritualitas India. 

Perjalanan hidup adalah sebuah upaya yang sangat panjang jika mengenai jarak tempuh, berupa taman keindahan saat menikmati pesonanya, dan semangat untuk terus tegak ketika jatuh. Orang kadang lebih sering menemui hal-hal yang di luar keinginan dan kehendak diri dalam menjalani perjalanan itu.

Di sinilah pilihan untuk menyesali perjalanan tersebut, kadang dipilih orang dengan tidak memberi penghargaan yang selayaknya terhadap apa yang sudah ditempuh. Padahal, “Hidup penuh dengan keajaiban”, kata SRK. 

“Apa yang menjadi keajaiban itu adalah hal-hal kecil hingga besar yang tidak pernah kita sadari sebagai karunia, dan selalu lupa untuk kita hormati”, tuturnya.

“Jika sedang jatuh, orang laksana masuk dalam kotak gelap”, imbuh SRK. “Namun demikian, jangan pernah menyerahkan hidup untuk diam dalam kotak itu. Jangan biarkan kotak tersebut membatasi (semangat hidup)”, paparnya. Dalam gelap itu, rasa takut pasti datang menyertai.

“Takut gagal, takut sendiri, takut tidak sukses, ada di antaranya. Untuk semua itu, tak ada nilai lain yang dibutuhkan kecuali keberanian. Keberanian untuk keluar dari kotak gelap itu memastikan segala sesuatunya akan baik-baik saja. Namun, jika rasa takut yang menjadi pilihan, maka yang kita bayangkan salah akan menjadi salah”, pungkas SRK.

SRK: Nilai Terdalam Kemanusiaan

Lewat orasinya, Shakh Rukh Khan, seorang aktor, muslim, penyanyi, dan penari Hindi ternama itu seperti ingin mengatakan bahwa nilai terdalam dari kemanusiaan dan berbagai perjuangan di dalamnya adalah berani dan terus berusaha.

Kalaupun ada kegagalan di dalamnya, nilai utamanya adalah usaha dan berani yang tumbuh. Hidup, dalam spektrum  itu, hanya mengenai membela usaha dan berani berjuang, karena gagal dan sukses bukan kita penentunya dan tidak usah risau dengan ukuran-ukuran manusiawinya.

Dalam konteks lain, saya melihat orasi SRK pada titik ini adalah semacam mind games. SRK sadar siapa yang ada di depannya saat dia berpidato saat itu, juga banyak orang yang akan mendengar atau melihat setelahnya dalam bentuk rekaman.

Orang-orang itu bukan tidak tahu atau baru mendengar hal yang disampaikan oleh SRK. Ia hanya masuk dari sisi lain: menggedor bawah sadar orang dengan sebuah pidato yang keren dan penuh kepercayaan diri.

Saya meyakini, kemampuan SRK tidak datang dengan tiba-tiba atau muncul dengan sendirinya. Sebagai laku personal dalam memandang kehidupan, sukses-gagal dalam menjalaninya, dan ketenaran yang direngkuhnya, ia hadir dan berinteraksi dengan sekitarnya.

Epilog: Menyimpulkan dan Mempertanyakan

Konteks sosial seperti ini sejalan dengan makalah menarik berjudul Religion-Based Decision Making in Indian Multinationals: A Multi-faith Study of Ethical Virtues and Mindsets (2017) yang ditulis oleh Christopher Chan dan Subramaniam Ananthram –yang menyebutkan bahwa nilai-nilai etis yang berasal dari ajaran spiritual India mempengaruhi secara mendalam pada diri para eksekutif korporasi dan perusahaan terkemuka India.  

Pengaruh nilai spiritual India disebutkan mendorong para eksekutif dan korporasi terkemuka India untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, empati, keadilan, keterbukaan, kesadaran diri, transendensi, kebajikan, dan nilai mendasar lainnya. Afirmasi dan penilaian Chan dan Ananthram mungkin melangit dan penuh bunga.

Akan tetapi, sudut kritis akhirnya terpancing dalam sebentuk pertanyaan semacam:

Jika nilai-nilai etis dan kebajikan
telah terinternalisasi sedemikian jauh dalam konstruksi sosial masyakat India, bahkan dan terutama dalam
jajaran eksekutif dan perusahaan terkemuka India, mengapa isu sosial – politik – agama yang berbau ketimpangan
dan penindasan terhadap
minoritas muslim masih marak terjadi
hingga hari ini di negeri
itu?

Jika penghargaan terhadap kemanusiaan
adalah sesuatu yang asali dan fundamental di India, serta
apresiasi dan laku publik juga tinggi di sana,
mengapa tindakan pemerkosaan dan
pelecehan seksual terhadap perempuan
demikian tinggi
di India?

Ah, sebentar ya. Untuk sementara, saya ingin menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jika memungkinkan, semoga nantinya ada kesempatan menulis tema terkait. Saat ini, saya hanya ingin menikmati kepedean SRK dan bagaimana nilai dan kebajikan India mengalir deras dari orasi-orasinya.

Namun, maaf, tidak untuk tariannya.

2
0
Bernostalgia Dengan Mike Tyson: Manifestasi Spritualitas

Bernostalgia Dengan Mike Tyson: Manifestasi Spritualitas

Beberapa hari terakhir ramai diberitakan akan kembalinya Mike Tyson ke ring tinju. Dalam footage latihan tinju yang ditampilkan di media sosial, Tyson masih terlihat begitu seram dan kuat dengan daya pukulan dan gestur pick a boo-nya. Dengan kombinasi itu, Tyson adalah juara dunia sejati dengan gaya boxer terbaik hingga kini. Banyak pengamat menilai, beberapa bulan berlatih sudah cukup mengembalikan Tyson untuk menundukkan Deontay Wilder atau Tyson Fury, juara dunia tinju IBF, WBC, dan WBA saat ini.

Mungkin berlebihan dalam usia 53 tahun Tyson sekarang, ia kembali berlatih untuk pertandingan amal dalam upaya menyumbang korban pandemi Covid-19. Tapi begitulah Mike Tyson, seorang legenda hidup yang lekat dalam memori.

Tentang Mike Tyson, saya jadi teringat televisi hitam putih bermerek Sharp yang ditempatkan di pojok ruangan rumah kami, di bawah lampu bohlam kuning 5 watt. Barang itu menemani kami, yakni saya, bapak, dan beberapa teman untuk menonton Mike Tyson berlaga.

Hari Ahad itu adalah hari pertandingan tinju internasional. Saya harus nekat bolos atau mangkir jam pelajaran, karena Ahad adalah hari bersekolah kami di madrasah tsanawiyah. Sedangkan pertandingan tinju digelar sekitar jam 10 pagi.

Televisi itu jugalah yang mengenalkan saya pada sosok Mike Tyson dan Evander Holyfield di kelas berat, Julio Cesar Chavez, Sugar Ray Leonard, Thomas Hearns di Kelas Welter dan penjelajah, juga tentu saja Felix Trinidad.

Dulu, sekitar pertengahan 80 sampai awal 90-an, olah raga tinju masih terasa ramai dengan berbagai sensasi dan prestasi para petarungnya. Sekarang, mau tidak mau perhatian olah raga adu jotos agak terbagi dengan keberadaan World Wresting Federation (WWF) ataupun  Ultimate Fighting Championship (UFC) tempat Habib Nurmagomedov dan Conor McGregor menebar sensasi. Bisa jadi inilah salah satu alasan mengapa tinju tidak lagi sesemarak dulu.

Siapa Mike Tyson?

Bagi saya, bisa jadi “sepi”nya tinju saat ini karena tidak ada lagi Mike Tyson atau penggantinya yang sepadan. Tyson selayaknya natural born killer, petarung sejati dari sejak dilahirkan.

Dalam sebuah buku yang berjudul Mike Tyson, My Undisputed Truth, My Autobiography (2013), Tyson menjelaskan tentang siapa dirinya sesungguhnya. Besar di Catskill, kawasan ghetto di Brooklyn, Tyson dikenal sebagai tukang kelahi yang sulit ditandingi. Karakter kerasnya sudah terlihat sejak kecil. Rodney, abang kandung berselisih lima tahun darinya, kerap jadi korban kekesalan dan amarahnya.

Rodney cenderung pendiam. Sehingga, ajakan-ajakan untuk nyolong roti di toko makanan datang dan berasal dari Tyson. Jika menolak, Tyson tak segan mengumbar amarahnya ke Rodney.

Namun, meski keras pada abangnya, Tyson adalah pembela sejati untuk kebenaran. Sayang, kebenaran itu menurut yang diyakininya saja. Dengan watak kerasnya, mudah saja membayangkan kelahi dan pertarungan jalanan di Brooklyn yang mengikutsertakannya, juga kriminalitas. Dalam pengakuannya, pada umur 12 tahun, Tyson sudah 29 kali ditangkap polisi karena tindakan kriminal dan perkelahiannya.

“Aku tak terkalahkan,” sombongnya pada orang-orang sekitarnya. Dalam berkelahi, kemampuannya untuk menghindari serangan lebih cepat dari serangan lawannya.

Dalam menyerang, sekali pukul sudah cukup membuat lawannya tersungkur, kalau perlu sampai semaput. Untuk segala yang tidak mampu menandinginya, dengan pongah Tyson menilai dirinya adalah “Alexander The Great” modern.

Kekuataan pukulannya memang sudah menakutkan dari remaja, sekaligus mengkhawatirkan ayahnya, Jimmy Kirkpatrick Jr. Kekhawatiran yang sangat beralasan karena perangai beringas dan tidak bisa diatur Tyson.

Jimmy berusaha keras mencari jalan keluar hingga akhirnya takdir menemukan Tyson dengan Cus d’Amato. Cus adalah orang yang memberi koridor cara bertarung dalam tinju kepada Tyson, membuatnya jadi mesin petarung yang sangat menakutkan lawan-lawannya kelak.

Constantin D’Amato nama lengkapnya. Lelaki tua asal Italia ini membuka lembaran baru Tyson. Brett McKay dalam The Warrior Monk Philosophy of  Trainer Cus D’Amato: the 5 Strategic Principles That Turned Mike Tyson into A World Champion (2019), menuturkan betapa gelut dan adu jotos di atas ring tinju bukan hanya tentang seseorang dengan kekuatan fisik tak terperi.

Bertinju  bukan hanya sekedar bertanding, lalu menang, uang datang, dan selesai. Namun, Brett menjelaskan bahwa dalam melatih Tyson, Cus menjalankan strategi yang banyak dijalankan para pendeta dengan penguasaan dan pengendalian dirinya atas hawa nafsu.

Para pendeta yang biasa menyepi itu sengaja mengasingkan diri, menjauhi keramaian, dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang diyakini. Semua itu ditempuh untuk tujuan akhir berupa pencapaian spiritualitas tertinggi dengan zat yang serba Maha.

Manifestasi Spiritualitas

Di tangan Cus, spiritualitas para pendeta itu dimanifestasikan dalam disiplin diri yang tinggi pada Tyson. Laku disiplin ini dijalankan dengan ketat pada Tyson tidak dengan sebuah komunikasi yang frontal. Cus pada akhirnya mendaulat Tyson menjadi anak angkatnya. Dengan status itu, waktu demi waktu bersama Tyson bisa lebih akrab dan hangat.

Cus menjalankan lima strategi berlatih yang intens untuk membentuk Tyson baru. Pertama, sepenuhnya fokus pada misi. Cus ingin Tyson tidak membagi lagi waktunya untuk nyolong roti di toko atau memalak orang di tengah jalanan Brooklyn.

Yang dilakukan hanyalah berlatih dan berlatih di gym kecil di kawasan Catskill. Disiplin yang tinggi untuk berlatih membuat Tyson memiliki body goal sempurna sebagai petarung sangar. Tidak heran jika dia dijuluki Iron Mike kelak.

Kedua, membaca dan belajar untuk memperluas wawasan dan membangun sikap hidup. Mungkin tidak banyak yang tahu, Cus d’Amato bisa membentuk Tyson remaja untuk dekat dengan buku. Tulisan Ernest Hemingway, Vyodor Dovtoyevsky, Frederick Nietzche dan penulis lain dilahapnya di sela latihan di gym. Disebutkan, buku Dumas, The Count of Monte Cristo adalah buku favoritnya.

Ketiga, mengontrol pikiran dan realitas. Pada Tyson, Cus menekankan pentingnya menguasai pikiran sendiri agar tidak mudah dipengaruhi sekitar. Dalam kaitan ini, disebutkan bahwa Cus percaya akan kekuatan telepati pikiran, dimana kontrol atas pikiran sekarang akan menentukan kesuksesan nantinya.

Keempat, jadikan yang nyaman menjadi tidak nyaman di atas ring. inilah filsafat penghancuran musuh yang ditekankan pada Tyson. Segala yang terlihat enak dan nyaman pada musuh harus dihancurkan dengan segala daya. Letih, bagi Cus, 90% di antaranya hanyalah soal psikologi. Oleh karena itu, bertarung di atas ring adalah soal mengerahkan segala yang dimampu dalam diri.

Kelima, Belajar untuk mengontrol dan menggunakan rasa takut. Saya kutip sepenuhnya pendangan Cus tentang rasa takut:

“Fear is the greatest obstacle to learning. But fear is your best friend. Fear is like fire. If you learn to control it, you let it work for you. If you don’t learn to control it, it’ll destroy you and everything around you.

Like a snowball on a hill, you can pick it up and throw it or do anything you want with it before it starts rolling down, but once it rolls down and gets so big, it’ll crush you to death.


So one must never allow fear to develop and build up without having control over it, because if you don’t you won’t be able to achieve your objective or save your life.”

Ketakutan adalah hambatan terbesar untuk belajar. Tapi ketakutan adalah teman baikmu. Ketakutan seperti api. Jika Anda belajar mengendalikannya, ia akan bermanfaat untuk Anda. Jika Anda tidak belajar mengendalikannya, itu akan menghancurkan Anda dan semua yang ada di sekitar Anda.

Seperti bola salju di atas bukit, Anda dapat mengambilnya dan melemparkannya atau melakukan apa pun yang Anda inginkan sebelum bola itu mulai menggelinding. Begitu bola itu menggelinding dan menjadi besar, itu akan menghancurkan Anda sampai mati.

Jadi seseorang tidak boleh membiarkan rasa takut untuk berkembang tanpa kendali, karena bisa membuat Anda tidak akan dapat mencapai tujuan ataupun menyelamatkan hidup Anda.

Cus menyadari tetap ada potensi rasa takut dalam diri manusia, pun Tyson. Ungkapan Cus tersebut menempatkan rasa takut dalam dua sisi manusiawinya. Namun jika seseorang mampu mengelola rasa takut dengan baik, hal itu bisa menjadi modal yang dahsyat untuk menggerakkan potensi kekuatan fisik yang mampu merobohkan apapun di depannya.

Kesalahan dan Kedewasaan

Dengan pola dan filosofinya dalam melatih, Cus telah membentuk Tyson menjadi ‘mesin pembunuh’ yang sulit dihentikan. Sayang, Cus meninggalkan Tyson selamanya sebelum Tyson paripurna sebagai atlet adu jotos dengan lingkaran kehidupan yang demikian keras.

Setahun setelah Cus meninggal, Tyson menjadi juara dunia tinju termuda dalam sejarah hingga kini. Tyson berumur 20 tahun kala itu dengan sederet rekor mengalahkan petinju petinju besar: Leon Spinks, Larry Holmes, Trevor Berbicks, Shannon Briggs, dan lain-lain.

Andai Cus masih bisa mendampingi Tyson, saya yakin Tyson bisa meminalisir diri dengan falsafah yang ditanamkannya. Cus bisa menjadi living legend dalam diri Tyson untuk menghindari skandalnya dengan Desiree Washington yang menjadi awal mula kehancuran karirnya.

Andai Cus masih bisa mendampingi, Tyson tidak akan tergoda dengan gelimang uang Don King yang menjerumuskannya dalam kehidupan jetset yang menggerogoti insting membunuhnya, hingga ia tak perlu memakai cara curang untuk mengalahkan Evander Holyfield.

Namun, saya masih melihat sisi sportif dan pengakuan atas segala kesalahan yang dilakukannya. Dalam penutup otobiografinya, dengan tenang dia menjelaskan gambar-gambar perjalanan karirnya. Di antaranya adalah insiden gigit telinga yang dilakukannya ke Holyfield.

Sangat mungkin, pengakuan itu merupakan bagian dari kedewasaannya, dengan menjadikan masa lalu yang pahit sebagai bagian pelajaran dan pengakuan diri. Bisa jadi, itu adalah bekas ajaran Cus pada Tyson untuk mengakui realitas yang ada di sekitarnya dengan jantan, bahkan jika itu adalah rasa bersalah.

Cus, dengan demikian, adalah belahan jiwa sesungguhnya pada diri Mike Tyson. Dia memberi pelajaran penting tentang bagaimana mengontrol diri agar tidak menjadi berlebihan dengan emosi dan kekuatan diri, mengarahkan potensi tersebut menjadi kekuatan dan energi positif.

2
0
Dietmar Hopp, Pengejar Mimpi yang Dibenci

Dietmar Hopp, Pengejar Mimpi yang Dibenci

Pada suatu malam, saya sedang tidak bisa tidur, hingga akhirnya terpikir untuk mencari tayangan pertandingan sepak bola saja di televisi. Akhirnya, bertemulah saya dengan salah satu channel yang sedang menayangkan pertandingan Bundesliga, antara tuan rumah Hoffenheim melawan Bayern Munich.

Kala itu, pertandingan sedang dihentikan di sekitar menit 75. Tentu saya penasaran apa yang terjadi? Karena biasanya, pertandingan dihentikan karena terjadi kerusuhan suporter, atau kondisi lapangan yang tidak mendukung pertandingan tetap dilakukan.

Setelah beberapa menit, pertandingan kembali dilakukan. Anehnya, kedua kesebelasan malah saling mengumpan bola, seluruh pemain bahkan sampai kiper pun berkumpul di tengah lapangan! Tentu bukan hal yang lazim terjadi di sepak bola profesional.

Sumber: threeatthebackweb.wordpress.com

Kamera lebih sering menyorot sesosok pria di pinggir lapangan, seseorang yang sudah terlihat tua. Belakangan saya baru tahu sosok tersebut adalah Dietmar Hopp, pemilik klub Hoffenheim. Lantas kenapa sosok itu yang jadi sorotan? Di sinilah ceritanya.

Klub Sepak Bola Level Kecamatan

Pertandingan itu dihentikan oleh wasit yang memimpin jalannya laga karena melihat pendukung Munich selaku tamu membentangkan spanduk besar yang berisi singgungan yang tidak pantas kepada pemilik Hoffenheim.

Sebagai bentuk solidaritas klub, akhirnya disepakati kedua tim tidak melanjutkan pertandingan dengan permainan normal. Kedua tim membalas protes atas tindakan tidak pantas yang dilakukan pendukung tim tamu.

Usut punya usut, ternyata kejadian ini bukan yang pertama. Pada beberapa pertandingan, pendukung tim lawan dari Hoffenheim juga melakukan hal yang sama. Bisa dibilang, Hoffenheim dan pemilik klubnya merupakan musuh bersama sebagian besar pendukung tim lawan.

Mengapa Hoffenheim, khususnya Dietmar Hopp dibenci? Hal itu tidak lepas dari perjalanan kilat klub tersebut yang menjelma dari klub amatir menjadi klub yang disegani di Bundesliga, hanya dalam waktu 18 tahun.

Turn-und Sportgemeinschaft 1899 Hoffenheim e.V., atau singkatnya disebut TSG 1899 Hoffenheim merupakan klub profesional asal Jerman yang ber-homebase di Hoffenheim, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sinsheim, Negara Bagian Baden-Württemberg.

Iya, pembaca tidak salah baca kok, Hoffenheim memang merupakan klub sepak wilayah bola level kecamatan – dulunya, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 3000 orang. Pada awalnya didirikan pada tahun 1899 sebagai klub gimnastik, Hoffenheim mulai terbentuk menjadi klub sepakbola pada tahun 1945.

Pada awal 1990-an, klub ini adalah tim amatir lokal yang bermain di divisi delapan Baden-Württemberg A-Liga, dan terus merangsek naik, hingga pada tahun 1996 tim itu mampu bersaing di Verbandsliga Nordbaden (V), divisi enam di level Liga Jerman.

Bergabungnya Alumni yang Suka Bermimpi

Pada awal tahun 2000, Dietmar Hopp, seorang miliarder co-founder dari perusahaan software terkemuka SAP, membeli klub tersebut. Banyak orang menyebut kedatangan Hopp sebagai ‘kembalinya sang alumni’ karena memang di masa mudanya dulu, Hoffenheim merupakan klub di mana Hopp tergabung.

Meskipun karirnya lebih bersinar ketika menjadi pengusaha, tetapi kecintaannya terhadap Hoffenheim tidak pernah pudar. Itulah yang menjadi alasannya membeli klub masa kecilnya itu.

Kontribusinya menghasilkan efek yang nyata. Di tahun yang sama, Hoffenheim berhasil dipromosikan ke divisi keempat Oberliga Baden-Württemberg. Satu tahun kemudian, Hoffenheim kembali promosi ke Regionalliga Süd (Divisi Tiga).

Meskipun mereka menempati urutan ke-13 pada musim pertama mereka di Regionalliga, tetapi kemudian meningkat secara signifikan pada tahun berikutnya, posisi kelima. Pada tahun-tahun awal kepemilikannya tersebut, Hopp berinvestasi dengan membangun fasilitas pelatihan yang canggih.

Lalu, Ia juga membangun pengembangan pemain muda di level akademi muda, dari mulai usia di bawah 12 hingga di bawah 19 tahun. Pada titik ini, Hopp percaya bahwa klub telah memperoleh fondasi dan stabilitas yang diperlukan agar klub dapat promosi ke 2.Bundesliga nantinya.

Pada tahun 2006, klub itu berusaha untuk meningkatkan kualitas pasukan dan staf teknisnya dengan mendatangkan pemain dengan pengalaman di level Bundesliga. Di antaranya Jochen Seitz dan Tomislav Marić, dan talenta muda seperti Sejad Salihović.

Di level manajer, Hopp menunjuk Ralf Rangnick, yang selama ini telah melatih tim Bundesliga seperti sebagai SSV Ulm 1846, VfB Stuttgart, Hannover 96 dan Schalke 04, untuk kontrak lima tahun.

Investasi tersebut terbayar pada musim 2006-07 dengan promosi klub ke-2 Bundesliga setelah menduduki peringkat kedua di Regionalliga Süd. Musim 2007-08 adalah musim pertama Hoffenheim mampu sampai pada level tertinggi Liga Jerman, setelah hanya bermain di 2 Bundesliga selama satu musim.

Hopp tidak tanggung-tanggung berinvestasi. Pada tahun 2007, ketika Hoffenheim masih berlaga di divisi kedua, ia membangun stadion baru berkapasitas lebih dari 30 ribu penonton, sebagai pengganti stadion sebelumnya yang bernama Dietmar-Hopp-Stadion yang berkapasitas enam ribu penonton.

Awalnya, rencana pembangunan stadion baru bernama Rhein-Neckar-Arena itu sempat dicibir karena dibangun dengan kapasitas yang terlalu besar. Bahkan penduduk Hoffenheim pun hanya sekitar tiga ribu penduduk, 10% dari kapasitas stadion itu. Akan tetapi hal itu tidak membuat Hopp ragu untuk menggelontorkan dana sekitar enam puluh juta euro.

Ia yakin bahwa nantinya Hoffenheim akan menjadi kebanggaan tidak hanya penduduk Hoffenheim saja, tetapi penduduk di sekitarnya bahkan di level dunia.

Di level tertinggi Liga Jerman, posisi Hoffenheim cukup stabil, beberapa kali berada di papan atas liga, hingga lolos ke Liga Champion. Sebuah pencapaian yang mencengangkan untuk ukuran klub yang belum lama promosi.

Hoffenheim dan Kapitalisme Jerman Barat?

Nah, sampai sejauh cerita ini mengalir, sudah terjawab kan mengapa village club ini dibenci? Nyatanya, prestasi Hoffenheim belum disambut penerimaan yang baik dari seluruh pihak. Cibiran masih datang, terutama dari beberapa pendukung klub pesaing di Bundesliga yang melabeli klub dengan sebutan kasar “corporate whores”.

Kritik ini terutama muncul dari klub yang berasal dari bekas Jerman Timur, di mana terdapat klub dengan jumlah pendukung yang lebih besar, tetapi tidak didukung dengan kekuatan finansial yang besar. Mereka memandang Hoffenheim sebagai lambang sifat tidak adil dari kapitalisme Jerman Barat.

Dalam sepakbola Jerman, masalah tradisi memang membawa banyak beban. Klub akan sering disebut oleh komentator, pemain, dan jurnalis sebagai “Traditionsverein”, menjadi lencana kehormatan.

Sebaliknya, klub-klub seperti Hoffenheim, dan yang terakhir RB Leipzig, serta pada tingkat lebih rendah, FC Ingolstadt, pada umumnya diejek sebagai klub “plastik” yang sering dicaci-maki oleh pendukung tim lawan, dan bahkan oleh pelatih dan manajer.

Yang terbaru adalah tindakan yang tidak pantas dari pendukung Munich, meneriaki Hopp dengan sebutan “Son of a Bitch”. Sebuah hal yang lucu mengingat Munich adalah klub penguasa tunggal Bundesliga selama puluhan tahun.

Mereka pun ternyata terusik dengan kemunculan dan keberadaan Hoffenheim. Sebelumnya, pendukung Dortmund melakukan aksi tak terpuji yang sama. Dengan ‘bergabungnya’ dua pendukung klub ini, maka alasan kebencian berlatar belakang soal kapitalisme menjadi tidak relevan lagi. Munich dan Dortmund merupakan dua klub raksasa Jerman yang memiliki dukungan keuangan yang kuat pula.

Penutup

Bagi saya, kebencian dengan alasan tradisi sangat tidak relevan, terutama karena upaya yang dilakukan oleh Hopp tidak bisa dibilang instan. Hopp dengan sabar membangun stabilitas di Hoffenheim, memikirkan segala sisi untuk mendukung lahirnya Hoffenheim sebagai klub yang disegani di negaranya.

Hopp menunjukkan cintanya terhadap klub masa kecilnya, klub yang ada di tanah kelahirannya, dengan mimpi yang diekstraksi menjadi visi. Masa, hal semanis ini kemudian dibenci?

Menurut Anda bagaimana pembaca?

2
0
Refleksi Dari Jakarta:  Menengok Kinerja Udi Hartoko Mewujudkan Sebuah Desa Wisata

Refleksi Dari Jakarta: Menengok Kinerja Udi Hartoko Mewujudkan Sebuah Desa Wisata

Suatu hari saat di perjalanan pulang dari Puncak ke Jakarta, adik saya bertanya, “Mbak, ngapain sih orang Jakarta rela macet-macetan di hari libur Sabtu Minggu begini cuma buat lihat pegunungan?” Mungkin baginya, weekend escape yang kami lakukan ini tidak cukup menyenangkan. Dalam benaknya seperti bermunculan banyak tanya, “Mengapa hanya untuk sebuah pemandangan desa, asrinya pegunungan, persawahan dan udara yang sejuk, kami harus menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan uang?”

Padahal di kampung halaman kami suasana seperti ini merupakan barang publik yang dapat dinikmati setiap hari, hingga kadang lupa disyukuri. Adik saya lupa, bahwa sekarang saya sudah bukan lagi orang desa. Saya sudah menjadi orang Jakarta. Bagi kami warga ibukota, kemacetan dalam hitungan jam bukanlah suatu masalah. Toh, sesampainya di tujuan wisata rasa lelah itu akan terbayarkan seketika.

Sejak meninggalkan Kabupaten Malang tiga belas tahun lalu, saya baru menyadari betapa berharganya kenikmatan hidup di desa yang asri. Bagaimana tidak, di Jakarta, jutaan manusia berkumpul menghasilkan karbondioksida dan asap kotor di jalanan setiap harinya.

Udara yang menyengat dengan kisaran suhu rata-rata 29-31 derajat celcius di siang hari, 24 derajat celcius di malam hari, dan ditambah lagi dengan tuntutan hidup di ibu kota, membuat warganya lebih rentan terhadap tekanan.

Tren Weekend Escape Warga Perkotaan

Jakarta adalah kota dengan tingkat stres tertinggi di Indonesia, nomor 18 dari 150 kota di dunia yang diteliti oleh Zipjet. Kegelisahan dan stres warganya telah berkontribusi terhadap kemerosotan kesehatan mental mereka. Skor survei yang dilakukan pada tahun 2017 tersebut didasarkan pada tingkat kepadatan penduduk, polusi udara, kemacetan jalan raya, dan angka kriminalitas.

Tidak mengherankan jika kemudian sebagian dari warganya mencoba refreshing dengan cara ‘melarikan diri’ sejenak ke kota-kota penyangga agar dapat mendapatkan pemandangan yang lebih segar. Bogor, Bandung, dan Serang adalah beberapa kota yang menjadi tujuan mereka.

Pola weekend escape yang menawarkan penduduk perkotaan untuk menikmati suasana pegunungan dan pedesaan seperti yang kami lakukan, juga menjadi kebutuhan warga kota terbesar kedua di Indonesia, yakni Surabaya.

Salah satu daerah tujuan yang menarik perhatian adalah Kota Malang  yang disangga oleh Kota Batu dan Kabupaten Malang. Di kota itulah saya lahir dan dibesarkan, sebelum akhirnya pada tahun 2004 saya memutuskan untuk mengikuti arus urbanisasi dengan alasan pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan.

Wilayah Malang memang memiliki keindahan alam yang sempurna, yaitu dataran tinggi hingga gunung yang membentang mulai dari Gunung Kawi, Arjuno, Kelud, hingga Semeru. Ada juga wisata ala perkotaan dengan mal-mal di pusat kota, gurun pasir di pegunungan Bromo, hingga pantai di bagian selatan yang terkenal dengan ombaknya.

Namun demikian, bagi seorang putra daerah dari pelosok nggunung seperti saya, Kabupaten Malang belum cukup memikat untuk menahan saya berhijrah ke Jakarta. Tingkat upah petani yang kecil dan minimnya pilihan pekerjaan untuk para sarjana di pedesaan, mau tidak mau membuat kami memilih untuk bertualang di ibukota. Bagi saya lebih baik tinggal di Jakarta, menjadi PNS dengan gaji berjuta-juta, meskipun kami harus menghadapi kejamnya ibukota.

Inisiatif Udi Hartoko

Tidak demikian dengan apa yang dipikirkan oleh seorang Udi Hartoko, Kepala Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Udi bukanlah seorang sarjana. Dia hanya alumni sekolah setingkat SMA. Namun, motivasinya luar biasa. Udi ingin tetap tinggal di desa dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi tanah kelahirannya.

Udi terpilih menjadi kepala desa pada tahun 2011. Dalam beberapa tahun sejak kepemimpinannya, Desa Pujon Kidul yang dahulu tertinggal dibandingkan desa-desa lain di kecamatan Pujon, kini menjadi buah bibir.

Diawali dengan kucuran dana desa sebesar 60 juta, Udi menginisiasi pembangunan objek wisata baru yang bertemakan, “Kembali ke Desa, Kembali ke Persawahan, dan Kembali Menyatu dengan Alam”. Tak tanggung-tanggung, seluruh aparat dan warga desa dilibatkan sebagai perencana, pelaku, dan penerima manfaat dari program desa wisata itu.

Konsep yang dibawa Udi sebenarnya sangat sederhana. Dia menciptakan desa wisata yang ramah wisatawan dengan menyediakan rumah makan (cafe), wahana berkuda dan motor, penginapan, produk pertanian dan peternakan, yang disempurnakan dengan keberadaan alam persawahan dan pegunungan Pujon Kidul. Dalam bahasa milenial, tempat wisata ini biasa disebut instagramable.

Berdayakan Pemuda

Ide sederhana menciptakan kafe, yang dalam bahasa lokalnya disebut warung kopi ini, berhasil merangkul anak muda putus sekolah untuk menjadi pekerja wisata. Mulai tukang parkir, ticketing, guide, sampai penjaga berbagai wahana di desa wisata dilakukan oleh anak-anak muda penduduk lokal. Mereka kini menjadi produktif, tidak lagi menganggur atau terpaksa ‘kabur’ meninggalkan desa mencari kerja.

Tak butuh waktu lama hingga desa wisata Pujon Kidul berubah menjadi destinasi wisata baru yang terkenal di seputar Malang. Keberhasilan mewujudkan desa wisata tak lepas dari kiprah sang kepala desa dalam memberdayakan kreativitas para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus-kampus di Kota Malang. Maklumlah, selain sebagai kota wisata, Malang juga terkenal sebagai kota pelajar.

Udi juga berupaya untuk menarik dukungan finansial dan promosi dari salah satu bank plat merah terbesar di Indonesia. Berbagai aliran dana dari pemerintah kabupaten hingga kementerian di Jakarta pun makin deras mengucur ke sana.

Desa Pujon Kidul dianggap menjanjikan kemajuan dan kebanggaan. Hasilnya, cita-cita sang kepala desa yang awalnya dianggap mimpi, bahkan ditertawakan oleh warganya sendiri, telah menjadi kenyataan. Desa wisata Pujon Kidul telah menyabet berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan internasional sebagai sebuah desa yang berdaya. Masyarakatnya, tentu saja merasa gembira.

Kemajuan Pujon Kidul

Pujon Kidul memang bukanlah desa di mana saya dibesarkan. Namun, kecamatan kami bertetangga. Dari rumah orangtua saya di Kecamatan Ngantang, hanya dibutuhkan 20 menit berkendara ke sana. Menyaksikan kemajuan Pujon Kidul saat ini, saya pun turut bangga. Sudah berkali-kali televisi dan media massa meliput kemajuan desa yang satu ini.

Sungguh pantas jika dikatakan bahwa desa ini telah menemukan potensinya dan berhasil menggunakannya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Para petani dan peternak sapi masih tetap bekerja dengan giat setiap hari, seperti biasa sejak bertahun-tahun yang lalu.

Hanya saja, kali ini mereka menjadi seperti aktor-aktor dalam sebuah film layar lebar berukuran panoramic. Layar itu lebih keren dari layar bioskop karena ia membentang nyata dan tak terbatas dalam beberapa derajat pandangan ke depan.

Sejauh mata manusia memandang di segala penjuru arah akan tampak pemandangan luar biasa. Pemandangan itu adalah film tentang pedesaan dengan background hijaunya persawahan, pegunungan, dan sejuknya udara. Film seperti ini belum bisa diproduksi industri perfilman yang paling canggih sekalipun. Karena ia nyata, ciptaan Tuhan sang Maha Pencipta. Film itu berjudul, “Bahagianya Hidup di Desa”.

Karena keindahannya yang alami, Desa Pujon Kidul dengan cafe sawahnya mempunyai daya tarik tersendiri. Orang-orang dari kota berduyun-duyun mengunjungi desa itu, memesan makanan ndeso yang dimasak sendiri oleh para ibu rumah tangga, ber-selfie ria bersama bunga-bunga, naik kuda atau motor KLX menyusuri pematang sawah.

Kegiatan lain yang tak kalah mengasyikkan adalah ngobrol langsung dengan para petani padi dan apel, serta membeli susu sapi yang diolah lagi oleh ibu-ibu PKK. semua itu adalah aktivitas yang memberi sensasi tersendiri bagi warga kota yang berkunjung ke sana. Untuk menikmati itu semua, pengunjung cukup membayar uang parkir dan membeli kupon makan.

Setiap tamu akan disambut dengan senyuman hangat dari warga. Meskipun berada di bagian timur pulau Jawa, kabupaten Malang masih bagian dari suku Jawa. Penduduknya masih menjunjung unggah-ungguh dan menawarkan keramahan kepada siapa saja.

Kreatif Kelola Dana Desa

Luar biasa! Sebagai seorang auditor pengawasan keuangan negara, saya berdecak kagum pada siapa pun yang berhasil mengubah Pujon Kidul menjadi seperti hari ini. Pasalnya, hanya diawali dengan dana 60 juta rupiah saja, tanpa harus studi banding jauh-jauh ke luar pulau bahkan luar negeri, tanpa rapat anu-ini-anu-itu, tanpa bimtek apalagi konsultansi yang menelan dana berjuta-juta, dan hanya diawaki oleh kepala desa dan warganya sendiri, reformasi besar-besaran di tingkat desa itu telah benar-benar terjadi.

Sang kepala desa memang hanya tamatan SMA, tapi berkat niatnya yang tulus proyek aktualisasi dirinya telah menginspirasi desa-desa lain di seluruh negeri. Prestasinya jauh melebihi kehebatan disertasi seorang doktor di bidang ilmu tata wilayah pada umumnya.

Pengelolaan dananya juga jauh lebih efektif dan efisien daripada sebuah program rutin bulanan kementerian di Jakarta, yang direncanakan dan dikelola oleh para sarjana ataupun pascasarjana. Kadang kala, fakta semacam ini membuat kami merasa tertampar, lalu speechless, tak bisa berkata-kata.

Menteri PDTT mengatakan bahwa ada 74.754 desa di seluruh Indonesia. Jika saja setiap desa berhasil mengenali apa kebutuhannya, apa kekuatannya, dan bersatu padu bekerja sama untuk menggunakan dana desa yang mereka terima, maka saya sangat optimis akan hadir desa-desa lain di Indonesia dengan prestasi yang sama dengan desa wisata Pujon Kidul. Bahkan, mungkin desa-desa tersebut bisa jauh lebih hebat lagi. Kepemimpinan kepala desa adalah kata kuncinya.

Rata-rata 60% kepala desa di negara kita hanya alumni sekolah dasar. Namun, hal itu bukan lagi masalah. Bukankah kisah kesuksesan Pujon Kidul mengajarkan kepada kita bahwa yang terpenting adalah niat baik sang pemimpin untuk maju?

Jika merasa kurang kreatif, kepala desa masih punya banyak cara untuk berkreasi. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan anak-anak muda di desa. Memanfaatkan jasa mahasiswa KKN juga diperbolehkan. Bahkan, saat ini telah ada tenaga pendamping penggunaan dana desa yang diamanahi oleh Kementerian PDTT untuk mengawal akuntabilitas dan kinerja dana desa di seluruh Indonesia.

Epilog

Kepala desa memiliki peran yang strategis dalam membangun desa. Pengelolaan dana desa yang efektif terbukti dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan kerja dan mencegah laju urbanisasi. Yang terpenting, dana desa harus benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat desa, bukan digunakan untuk kepentingan pribadi aparat desanya.

Kalau sampai itu tidak terjadi, tak terbayangkan betapa riweuhnya KPK, auditor negara, dan aparat penegak hukum yang harus menangani praktik korupsi uang negara dalam bentuk dana desa yang telah dialirkan ke puluhan ribu desa di seluruh Indonesia.

Lebih dari itu, cita-cita mulia menyejahterakan rakyat Indonesia dimulai dari desa akan semakin jauh dari asa. Maka, tak bisa ditawar lagi, semuanya harus berangkat dari hati. Berangkat dari niat yang tulus untuk membangun negeri. Dimulai dari desa, dimulai dari saat ini juga. Udi Hartoko telah memberi bukti kepada kita semua.***

 

 

0

0
Nyanyian Sendu Murdiyanto: Sosok “Oemar Bakri” Yang Gigih Melawan Korupsi

Nyanyian Sendu Murdiyanto: Sosok “Oemar Bakri” Yang Gigih Melawan Korupsi

Foto Pak Guru Murdiyanto (dok.: Ilham)

——————————————————-

 

Guru dalam filosofi Jawa merupakan akronim dari “digugu lan ditiru” atau orang yang dipercaya dan diteladani. Kepercayaan dan keteladanan tersebut tidak sekedar dikaitkan dengan tanggung jawabnya dalam mengajarkan siswa tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Namun lebih jauh, guru juga diharapkan menjadi sosok teladan dalam penegakan moral, etika, dan integritas termasuk kontribusinya dalam pemberantasan korupsi.

Keberanian melawan praktik korupsi dan berbagai kecurangan yang terjadi di dunia pendidikan menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi seorang guru. Tugas yang tidak ringan dan penuh dengan risiko. Wajar saja apabila kebanyakan orang berpikir beribu kali untuk menjadi seorang “whistleblower” dan membongkar indikasi adanya tindak korupsi atau kecurangan di tempat kerjanya.

Murdiyanto, yang akrab dipanggil “Pak Mur,” merupakan salah satu dari segelintir sosok guru yang memiliki keberanian melakukan perlawanan terhadap praktik “busuk” yang berlangsung di tempatnya bekerja. Pria yang lahir bertepatan dengan “hari pahlawan” 59 tahun yang lalu itu merupakan salah satu contoh guru yang berani melawan praktik kecurangan.

Pak Guru Murdiyanto adalah tokoh dibalik pengungkapan kasus pungutan liar atas tunjangan sertifikasi guru yang menghebohkan masyarakat di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya.

Praktik pungli yang disamarkan dengan isilah “tali asih” tersebut berlangsung mulai penghujung 2009 hingga pertengahan 2010. Murdiyanto menjelaskan kronologis kejadian pungli ini sebagai berikut:

“…kami diminta untuk menyetorkan sejumlah uang kepada oknum pejabat Dinas Pendidikan Sukoharjo sebesar Rp600.000,00 (enam ratus ribu) per orang, …..setiap guru yang menerima tunjangan sertifikasi guru dikenakan potongan sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu) per bulan. ……Uang sejumlah tersebut dibayarkan sekaligus untuk periode satu tahun pada saat rapelan tunjangan sertifikasi diterima. Jumlah guru bersertifikasi di wilayah Sukoharjo pada saat itu mencapai 1.200 orang lebih” (Wawancara, 3 Juni 2015)

Ironisnya, pada saat Murdiyanto berjuang membongkar kasus pungli ini ke ruang publik, dukungan dari para rekan guru yang menjadi korban pungli justru “meredup.” Para korban pungli memilih bungkam dan tutup mulut (silence) ketika dimintai keterangan oleh DPRD. Kondisi ini merupakan fenomena yang jamak disebut sebagai bystander effect (efek pengamat).

Fenomena itu menggambarkan semakin banyak orang yang ada di sebuah tempat kejadian, akan semakin kecil kemungkinan orang-orang membantu seseorang yang sedang berada dalam situasi darurat di tempat kejadian itu (Sarwono & Meinarno, 2009)

Dampaknya, Murdiyanto harus berjuang sendirian menghadapi berbagai tekanan sosial berupa resistensi, perlawanan balik, interogasi, dan teror dari para pelaku kecurangan (wrongdoer) maupun pihak-pihak tertentu.

Murdiyanto pernah mendapat tekanan dari beberapa elit pejabat daerah untuk mencabut pernyataan yang pernah dilakukannya di depan anggota DPRD dan para wartawan. Murdiyanto juga harus mengalami tragedi “dikucilkan” atau dipindahtugaskan ke sekolah terpencil.

Potongan lirik lagu Oemar Bakrie yang dipopulerkan oleh Iwan Fals berikut ini, Oemar Bakri…Oemar Bakri pegawai negeri, Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi, Jadi guru jujur berbakti memang makan hati” mengilustrasikan nasib naas yang harus dialami Murdiyanto sebagai seorang guru yang berani menegakkan kejujuran dan melawan ketidakadilan.

Pada awalnya, Murdiyanto tidak mendapatkan respon serius dari aparat penegak hukum. Kondisi ini tidak membuatnya putus asa. Murdiyanto terus melakukan gerilya dan turun ke jalan untuk mendapatkan kepercayaan dan dukungan publik.

Berbekal bukti serta pengalaman pungli yang dialaminya secara langsung, Murdiyanto menceritakan kasus tersebut kepada salah satu koleganya yang menjadi anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo. Dengan pendekatan persuasif yang terus dilakukan kepada koleganya itu, Murdiyanto didaulat untuk memberikan kesaksian pada acara hearing di sebuah forum pertemuan angggota DPRD dengan para pegawai dan guru tidak tetap.

Kesaksian Murdiyanto, yang didukung beberapa orang yang pada akhirnya mau memberikan kesaksian, di depan forum DPRD menjadi trending topic serta memunculkan banyak respon dan reaksi publik. Keesokan harinya, kasus pungli ini menjadi “headline” di berbagai media massa dan perbincangan hangat masyarakat di wilayah eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya.

Setelah melalui perjuangan panjang yang penuh dengan berbagai rintangan, dukungan publik semakin besar. Kekuatan tersebut berhasil mendesak aparat penegak hukum untuk melanjutkan proses penyelidikan dan penyidikan dan berujung pada dijebloskannya beberapa oknum pungli ke balik jeruji penjara.

Keberanian dan kepercayaan diri Bapak dari tiga orang anak ini banyak terbentuk dari pengalamannya berorganisasi. Sejak muda, Murdiyanto aktif di berbagai kegiatan kepemudaan bahkan pernah ditunjuk menjadi ketua atau koordinator gabungan lembaga swadaya masyarakat (LSM) se-kabupaten Sukoharjo dengan nama “Dewan Masyarakat Sukoharjo”.

Kepedulian Murdiyanto dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi khususnya di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya mendorong dirinya dan beberapa aktivis anti korupsi membentuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama “Peduli Sukoharjo”.

Murdiyanto seringkali mengkritisi berbagai kebijakan dan mengungkap praktek penyimpangan dan kecurangan yang terjadi di wilayah Sukoharjo. Permasalahan yang dibongkar Murdiyanto tidak hanya seputar dunia pendidikan.

Beberapa kasus lain yang pernah diungkap ke publik adalah kasus penyimpangan yang terjadi di lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukoharjo dan kasus pengadaan kendaraan roda dua di lingkungan DPRD Sukoharjo.

Keberanian Murdiyanto dalam melawan ketidakadilan dan berbagai kecurangan telah lama dilakukannya yaitu sejak awal menjadi guru CPNS di SMP Negeri 2 Bumiayu Brebes pada tahun 1987. Pria yang memiliki istri sesama guru ini diangkat menjadi guru CPNS terhitung sejak Maret 1986.

Murdiyanto menjalani penempatan pertama kali atau penugasan sebagai guru di SMP Negeri 2 Bumiayu Brebes hingga tahun 1989. Murdiyanto dipindahtugaskan ke SMP N 1 Sukoharjo karena terjadi gesekan antara dirinya dengan kepala sekolah SMPN 2 Brebes.

Pengalaman Murdiyanto lainnya adalah pernah menemukan dan melaporkan adanya praktik kecurangan berupa mark up harga dan manipulasi jumlah barang dalam setiap pengadaan perlengkapan dan peralatan sekolah yang dilakukan oleh oknum kepala sekolah SMPN 1 Sukoharjo. Murdiyanto melaporkan kecurangan-kecurangan tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan kabupaten Sukoharjo.

Pada tahun 2006, Murdiyanto kembali mengalami mutasi ke SMP Mojolaban Sukoharjo yang berlokasi jauh dan terpencil. Menurut penuturan Murdiyanto, kepindahannya ke SMP Mojolaban Sukoharjo ada kaitannya dengan sikap dan pendiriannya yang dinilai sering berseberangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bupati Sukoharjo pada saat itu.

Atas kerja keras dan dedikasinya yang tinggi sebagai seorang pendidik, Murdiyanto kemudian mendapatkan amanah sebagai kepala sekolah di SMP Mojolaban Sukoharjo. Perjalanan karir membawa Murdiyanto mengemban tugas sebagai kepala sekolah SMP Negeri 1 Bulu Sukoharjo sejak 14 Januari 2011 hingga sekarang.

Integritas menjadi prinsip hidup yang dipegang teguh Murdiyanto. Hal itu tampak dari respon spontan yang sering ditunjukkannya setiap kali melihat praktik kecurangan dan ketidakadilan terjadi di sekitarnya.

“Motivasi itu mengalir dari dalam diri saya, ketika mengetahui adanya ketidakbenaran, otomatis saya akan langsung berontak,” demikian ungkapan Murdiyanto dengan tegas dan lugas.

Menurut penjelasan Murdiyanto, salah satu faktor yang membentuk integritas dalam dirinya adalah penanaman nilai-nilai positif yang dilakukan orang tuanya. Ayahnya seorang petani dan mantan pejuang kemerdekaan yang turut mengangkat senjata pada masa penjajahan Jepang banyak mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada dirinya.

Murdiyanto selalu mengingat dan memegang teguh prinsip hidup yang diajarkan ayahnya untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran.

Menurut penuturan Murdiyanto, dalam berbagai kesempatan ayahnya selalu mengingatkan,“Jangan biasakan berbohong, karena itu pangkal kehancuran. Janganlah takut kepada siapa pun, takutlah pada Allah”.

Pondasi agama juga ikut memengaruhi integritas Murdiyanto. Pondasi agama diperoleh Murdiyanto melalui pendidikan, baik formal maupun dari kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Secara formal, Murdiyanto juga mendapatkan pendidikan guru agama (PGA) dan pendidikan guru agama tingkat atas (PGAA). Pria yang memiliki cita-cita sebagai guru sedari kecil ini meraih gelar sarjana filsafat pendidikan islam pada tahun 1984.

Kisah heroik tentang keberanian sang “oemar bakri” (Murdiyanto) menjadi inspirasi dan teladan bagi para guru lainnya maupun birokrat lainnya. Keberanian bersuara dan menyuarakan kebenaran penting dilakukan.

Hal ini disebabkan ketidakpedulian dan bungkamnya orang-orang baik yang mengetahui adanya kejahatan juga memberikan andil pada hancurnya sebuah sistem atau organisasi, sebagaimana disinyalir oleh Edmund Burke (1729-1797) yang menyatakan bahwa “The only thing necessary for the triumph of evil is the goodman to do nothing” (satu-satunya yang perlu untuk kemenangan kejahatan adalah orang-orang baik yang berdiam diri).

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.

SELAMAT HARI GURU 25 NOVEMBER 2017!

 

 

1

0
error: