Menajamkan Ingatan Pendidikan Kita

by | May 6, 2026 | Sosok | 0 comments

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan mengingat Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh sentral dalam sejarah pendidikan Indonesia, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Tanggal kelahiran beliau, 2 Mei 1889, telah menjadi simbol lahirnya gagasan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai subjek utama pembelajaran, bukan sekadar objek kebijakan.

Jejak hidup Ki Hajar cukup akrab di benak publik. Lahir sebagai Raden Mas Soewardi Suryaningrat di Yogyakarta, ia memperoleh pendidikan Barat sejak dini, dari Europeesche Lagere School hingga STOVIA, meski tidak menamatkannya.

Ketertarikannya pada isu sosial dan politik membawanya aktif di Budi Utomo, lalu berlanjut ke Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Tulisan terkenalnya, “Als Ik Een Nederlander Was” (1913), menjadi tonggak penting dalam sejarah perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. Kritiknya yang tajam berujung pada pengasingan ke Belanda.

Namun justru dari fase itu, arah perjuangannya mengalami pematangan. Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1919, ia memilih jalur pendidikan sebagai strategi jangka panjang untuk membangun kesadaran dan kemandirian bangsa.

Pilihan tersebut diwujudkan melalui pendirian Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922. Lembaga ini bukan hanya institusi pendidikan, melainkan juga ruang pembentukan karakter, kebudayaan, dan kesadaran kebangsaan. Di sinilah gagasan pendidikan Ki Hajar menemukan bentuk yang lebih konkret dan berkelanjutan.

Dalam keseluruhan perjalanan itu, terdapat satu sosok yang hadir secara konsisten, meskipun tidak selalu mendapat sorotan yang sama, yakni Sutartinah. Ia menikah dengan Ki Hajar pada tahun 1907, jauh sebelum berbagai fase penting dalam perjalanan intelektual dan perjuangan Ki Hajar berlangsung.

Kehadiran Sutartinah dapat dipahami sebagai bagian dari lingkungan terdekat yang turut menyertai proses tersebut. Ia mendampingi dalam berbagai fase, termasuk masa pengasingan di Belanda, sebuah periode yang tidak sederhana, baik secara sosial maupun psikologis.

Dalam sejumlah catatan, ia juga berperan menjaga komunikasi dan memberikan dukungan, baik secara emosional maupun praktis.

Peran seperti ini memang tidak selalu tampil di permukaan. Namun dalam banyak hal, justru di situlah letak pentingnya. Gagasan besar tidak hanya lahir dari individu, tetapi juga dari lingkungan yang memungkinkan gagasan itu tumbuh, diuji, dan dipertahankan.

Setelah kembali ke Indonesia dan menekuni dunia pendidikan secara lebih serius, keberadaan lingkungan pendukung tersebut tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Taman Siswa tidak berdiri sebagai karya individual semata, melainkan sebagai hasil kerja kolektif yang menjaga nilai dan arah gerakan pendidikan itu sendiri.

Menariknya, ketika Ki Hajar wafat pada tanggal 26 April 1959, kesinambungan itu tidak terputus. Sutartinah tetap melanjutkan peran dalam menjaga keberlangsungan Taman Siswa, sekaligus aktif dalam ruang publik yang lebih luas.

Keterlibatannya dalam Kongres Perempuan Indonesia 1928 menjadi salah satu penanda kontribusinya dalam penguatan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa.

Gambaran ini menunjukkan bahwa sejarah pendidikan Indonesia sesungguhnya dibentuk oleh berbagai peran yang saling melengkapi. Ada tokoh yang tampil di depan sebagai penggagas, ada pula yang bekerja di belakang memastikan kesinambungan. Keduanya memiliki kontribusi yang sama penting dalam membangun fondasi pendidikan.

Dalam konteks birokrasi hari ini, pelajaran tersebut tetap relevan. Pendidikan tidak hanya soal kebijakan, regulasi, atau figur pemimpin. Ia juga tentang ekosistem, tentang bagaimana berbagai peran, baik yang terlihat maupun tidak, bekerja bersama menjaga arah dan kualitas proses pendidikan.

Sering kali, perhatian kita terlalu terpusat pada figur atau program unggulan, sementara aspek pendukung kurang mendapat perhatian yang memadai. Padahal, keberhasilan pendidikan justru sangat ditentukan oleh konsistensi, kesinambungan, dan kerja kolektif yang berlangsung sehari-hari.

Hari Pendidikan Nasional dapat menjadi momentum untuk menajamkan kembali cara pandang tersebut. Mengingat peran Sutartinah dalam konteks ini bukanlah upaya menggeser posisi Ki Hajar Dewantara, melainkan melengkapi pemahaman kita tentang bagaimana pendidikan tumbuh dan berkembang.

Dengan demikian, peringatan ini tidak berhenti pada seremonial atau pengulangan narasi yang sama setiap tahun. Ia dapat menjadi ruang refleksi untuk melihat pendidikan secara lebih utuh, sebagai proses yang melibatkan banyak peran, dijaga bersama, dan diwariskan lintas generasi.

Pendidikan bukan hanya tentang siapa yang dikenang, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai itu terus dihidupkan melalui kerja bersama. Di situlah esensi pendidikan menemukan relevansinya, termasuk dalam praktik birokrasi yang melayani masyarakat hari ini.

0
0
Wurianto Saksomo ♥ Active Writer

Wurianto Saksomo ♥ Active Writer

Author

PNS pada Pemkab Ngawi, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post