Membangun Impian Literasi di SMPN 8 SATAP Sintang, Sebuah Sekolah Terpencil di Kalbar

Membangun Impian Literasi di SMPN 8 SATAP Sintang, Sebuah Sekolah Terpencil di Kalbar

Banyak perpustakaan sekolah belum memperoleh tempat terhormat di lingkungannya, biasanya tersembunyi di belakang, pojokan, dan kurang strategis.  Belum lagi koleksi buku yang terbatas menyebabkan siswa enggan untuk menghabiskan waktu membaca, serta  koleksi buku yang kurang menarik.

Padahal, kehadiran perpustakaan sekolah diharapkan mampu meningkatkan literasi atau minat baca dari warga sekolah. Perpustakaan yang dimaksud ialah tempat yang layak untuk membaca, nyaman, serta mampu melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk membangkitkan potensi disesuaikan dengan kegemaran, hobi, kesenangan, dan kebiasaan dari buku bacaan.

Charles W. Elliot, seorang tokoh pendidikan AS (1834-1926), mengatakan: “Mau tahu siapa teman paling setia, tidak cerewet, gampang ditemui, sekaligus guru nan bijak dan sabar? Dialah buku.”

Menjadi pengalaman tersendiri di akhir tahun 2019 lalu saya mengunjungi salah satu SMP di tengah pedalaman perut pulau Kalimantan. Saya cukup antusias ketika mendapat kesempatan untuk berkenjung ke daerah yang mendapat julukan Bumi Senetang ini. Selain belum sekalipun ke Sintang, sebagai peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud ada rasa keingintahuan mengenai potret pendidikan di daerah terpencil.

Dari bibir dermaga sungai Melawi yang bermuara ke sungai Kapuas di Kota Sintang, sebuah sampan atau disebut perahu klotok, pak Yohanes selaku Kepala SMPN 8 Satu Atap (SATAP) Sintang siap menemani menuju desa Mungguk Bantok Kecamatan Sintang.

Dibutuhkan waktu tempuh perjalanan sungai sekitar 1 jam 20 menit menuju SMP yang dituju. Ketika saya bertanya, mengapa tidak dengan motor saja? Jujur, bagi saya menjadi ‘kengerian’ tersendiri mengarungi perahu klotok dengan sungai yang lebar ini.

Menurut pak Yohanes, jauhnya jarak   tempuh dari pusat kota menuju sekolah kurang lebih 30 kilometer, infrastruktur jalan tanah yang rusak parah terlebih jika musim hujan sulit untuk lewat jalur darat. Jangankan roda empat, roda dua saja tidak memungkinkan. Selain jalan yang rusak juga harus membelah beberapa jalur sungai yang tidak ada jembatan.

Masalah Klasik Pendidikan di Daerah Terpencil

Sehari sebelumnya saya bertemu dengan ibu Ernawati selaku Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sintang. Beliau menceritakan, ada banyak permasalahan yang dihadapi dalam rangka pemerataan  pendidikan di Kabupaten Sintang, selain keadaan geografis yang sulit dijangkau.

Sedangkan permasalahan lainnya antara lain motivasi masyarakat mengikuti  pendidikan  yang  belum  maksimal,  kualifikasi  guru  yang  belum  sesuai,  sarpras sekolah, pendistribusian  guru  yang  belum merata,  dan  pendanaan pendidikan yang  belum  memadai.  

“Kebanyakan anak-anak di daerah terpencil lebih senang membantu orang tuanya di ladang dibandingkan untuk melanjutkan pendidikannya. Dan itu menjadi tugas dan tantangan kami,” ungkap bu Ernawati.

Profil SMPN 8 SATAP

SMPN 8 SATAP Sintang merupakan salah satu potret sekolah di daerah 3-T (Terluar, Tertinggal, dan Terdepan) yang saya kunjungi. Upaya pemerintah mendirikan sekolah satu atap (SATAP) merupakan solusi bagi pendidikan di daerah kepulauan atau daerah 3-T.

Jenis sekolah ini juga memudahkan masyarakat mendapatkan layanan pendidikan dasar dan menengah. SMPN 8 SATAP memiliki 7 tenaga pengajar yang mengayomi sekitar 70 siswa terbagi dalam 3 rombongan belajar (rombel) tersebar dari kelas 7 hingga kelas 9, serta memiliki 1 ruang perpustakaan.

Mewujudkan Literasi Sekolah

Ketika melihat suasana dan situasi pembelajaran di sekolah, pengamatan saya tertarik kepada sebuah ruangan kelas yang disulap sebagai ruang perpustakaan. Jika bicara tahapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), jangan dulu bicara tahap pembelajaran dan pengembangan di sini, dengan keterbatasan sarana baca seperti buku dan bacaan yang memadai.

Artinya, melaksanakan tahap pembiasaan saja sudah sangat bagus. Seperti yang disampaikan pak Kepsek, “Kami belum mengarah ke tahap pengembangan, melakukan tahap pembiasaan literasi saja sudah bagus.”

GLS merupakan usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali).

Sebagai gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen, upaya yang ditempuh misalnya pembiasaan membaca peserta didik, seperti kegiatan 15 menit membaca. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran

Seakan tidak mau pasrah dengan keadaan, pak Yohanes menceritakan ada keinginan mengembangkan perpustakaan sekolah, meski sulitnya akses internet dan ketersediaan buku-buku bacaan pengayaan atau non teks pelajaran menjadi kendala bagi sekolah untuk mewujudkan literasi di sekolah.

“Terkadang kepsek dan guru ada yang menitip buku bacaan baik buku murah jika ada teman yang pergi ke Pontianak,” kenang pak Kepsek. Harapannya tidak hanya dimanfaatkan warga sekolah tapi bisa dimanfaatkan sebagai bahan bacaan oleh masyarakat sekitar.

Selain lokasinya di daerah terpencil dan sulitnya akses internet, saya menyimpulkan untuk mewujudkan harapan tersebut, keberadaan bahan bacaan penunjang dan pengayaan sangat dibutuhkan oleh sekolah. Jika diamati, dengan koleksi terbatas, selama ini pemanfaatan perpustakaan sekolah hanya tempat penyimpanan buku teks pelajaran. Siswa datang, pinjam, dan mengembalikan pada jam pelajaran.  

Kehadiran perpustakaan memang diharapkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Padahal, dengan banyak membaca buku non pelajaran, selain buku teks utama di sekolah, diharapkan siswa dapat memiliki pola pikir dan wawasan yang lebih luas.

Bedanya buku teks dengan buku penunjang /pengayaan, buku teks adalah buku yang disusun berdasarkan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah. Materinya yang disajikan di dalamnya adalah materi pembelajaran di kelas, bisa juga dilengkapi dengan soal-soal. Jadi, buku pendidikan jenis ini berisi materi-materi yang dominan untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik secara akademis atau lebih ke buku pelajaran.

Sedangkan buku pengayaan biasanya diterbitkan dalam bentuk buku-buku motivasi, ensiklopedia, buku keterampilan prosedural, atau buku dengan materi pengetahuan, teknologi, dan seni. Materi buku pengayaan lebih beragam dibandingkan buku teks.

Buku pengayaan umumnya tidak disusun berdasarkan kurikulum yang ada, namun isi buku pengayaan menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan pendidikan. Sebagai buku penunjang atau pelengkap, biasanya digunakan oleh siswa sebagai buku tambahan materi untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Materinya  menggunakan bahasa yang sederhana dan menarik, disajikan dalam bentuk deskripsi, ilustrasi, dan gambar-gambar kreatif. Bentuk buku pengayaan misalnya bacaan umum: komik, cerpen, majalah, novel; buku motivasi seperti biografi, kesejarahan; buku keterampilan misalnya cara merajut, beternak, menjahit dan lain-lain; dan buku pengetahuan misalnya pelajaran atau buku trik-trik belajar.

Perpustakaan Ideal

Idealnya, perpustakaan mampu menyediakan tempat yang nyaman, suasana yang menyenangkan bagi pengunjung atau warga sekolah. Suasana yang menyenangkan dapat menarik minat kita yang pada awalnya ‘ogah’ datang ke perpustakaan menjadi suka datang ke perpustakaan.

Bisa saja, sebagai langkah awal, terlebih dahulu perpustakaan harus mampu menyodorkan daya tarik bagi pengunjung. Sebagai misalnya melengkapi koleksi buku dari berbagai jenis dengan beragam bentuk, seperti buku, jurnal, hasil penelitian, skripsi, tesis, koran, majalah dan sebagainya.

Sesuai dengan fungsi perpustakaan sebagai penyedia dan sebagai sumber belajar, sebuah perpustakaan yang dikelola dengan manajemen yang baik, di lingkungan yang mendukung akan mampu menciptakan suasana dan kondisi yang nyaman untuk belajar. Atau dengan kata lain, sebuah perpustakaan yang ideal akan mampu menumbuhkan minat baca bagi para pengunjung atau orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.

Mungkin tidak hanya di SMPN SATAP 8 juga di sekolah lain,  banyak koleksi buku ‘cuma’ berisi buku-buku teks pelajaran. Namun untuk menambah koleksi juga bukan merupakan hal yang mudah. Salah satu kelemahan utama perpustakaan adalah masalah pengelolaan dan minimnya pengadaan bahan bacaan  karena hal ini terkait pendanaan.

Saat ini pemerintah telah melakukan kebijakan misalnya melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). BOS merupakan program pemerintah pusat untuk membantu pendanaan biaya operasional sekolah yang bisa digunakan untuk administrasi kegiatan sekolah, penyediaan alat-alat pembelajaran, pembayaran honor, pengembangan perpustakaan, pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dan lain-lain.

Saat ini pembelian buku teks dan buku nonteks telah diatur dan dapat dilakukan maksimal 20 persen dari dana BOS regular yang diterima sekolah. Jadi, sekolah tidak lagi fokus menyiapkan infrastruktur sekolah karena ada yang lain dapat dibeli seperti buku.

Misalnya, besaran dana BOS reguler tahun 2020, untuk siswa SMP/MTs Rp.1,1 juta/tahun/ siswa. Sederhananya, jumlah total siswa di SMP terdapat 70 siswa x Rp. 1,1 juta = Rp.77 juta x 20%, berarti sekolah dapat menggunakan sekitar Rp.15,4 juta untuk pengadaan dan pembelian buku.

Sebagai fasilitas pendidikan, perpustakaan merupakan salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian oleh pengelola pendidikan. Sarana pendidikan mencakup semua fasilitas yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, seperti: gedung, ruangan belajar atau kelas, alat-alat atau media pendidikan, meja, kursi, dan sebagainya.

Sedangkan fasilitas/prasarana adalah yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti: halaman, kebun atau taman sekolah, maupun jalan menuju ke sekolah.

Agar semua fasilitas tersebut memberikan kontribusi yang baik bagi jalannya proses pendidikan, perlu pengelolaan manajemen sekolah yang baik pula. Di antaranya perencanaan, pengadaan, inventarisasi, penyimpanan, penataan, penggunaan, dan yang tidak kalah penting pemeliharaan.

Epilog: Alternatif Perbaikan

Untuk tercapainya tujuan tersebut, diperlukan banyak pihak yang saling mendukung dan melengkapi baik pemerintah daerah, masyarakat, serta warga belajar, sehingga harapan memperoleh sebuah perpustakaan yang diimpikan dapat tercapai.

Diperlukan ”political will” dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarkat sehingga terpenuhi dari segi anggaran maupun manajemen pengelolaan yang baik di sekolah untuk mewujudkan perpustakaan yang memiliki ruang menarik, layanan yang baik, dan koleksi yang variatif, yang menjadi sebuah nilai lebih bagi sebuah perpustakaan.

Ada beberapa hal yang dapat disiasati untuk mendukung hal tersebut, misalnya;

  • pembelian buku-buku murah saat pameran, atau bekerjasama dengan penerbit lokal agar mendapat diskon sebagai harga promosi, tidak hanya menguntungkan bagi perpustakaan sekolah namun juga menguntungkan pihak penerbit karena semakin dikenal,
  • setiap kegiatan siswa sekolah yang menghasilkan karya berupa buku, majalah, maupun karya-karya lain yang berupa tulisan dapat disimpan atau dipajang di perpustaan atau di ruang-ruang sekolah karena hal ini juga bagian dari literasi,
  • Sesuai dengan kewenangan pengelolaan satuan pendidikan atau pengelolan sekolah yang dibawah pemerintah daerah (dinas pendidikan) maka Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan dapat memaksimalkan perpustakaan daerah misalnya pelatihan manajemen bagi pengelolaan perpustakaan sekolah, pengadaan pameran buku murah dan lain-lain.

Dengan demikian mewujudkan impian sebuah perpustakaan sekolah yang ideal tentunya tidak hanya dambaan teman-teman di SMPN 8 SATAP Sintang, namun tentunya semua siswa di Indonesia.

Bagi pembaca Birokrat Menulis yang memiliki kelebihan koleksi buku bacaan dan berhasrat menyumbangkan buku buku bacaan bagi anak-anak SMP di daerah tertinggal dan terpencil ini ke SMPN 8 Satu Atap Desa Mungguk Bantok Kec. Sintang, Kab. Sintang Prov. Kalbar., Silakan menghubungi penulis via alamat email dan WA yang tersedia.

0
0
Menjadi Literat di Tengah Pandemi

Menjadi Literat di Tengah Pandemi

Saat ini dunia sedang menghadapi masalah bersama, Covid-19. Begitu hebatnya pandemi ini mempengaruhi hidup manusia sehingga diangkat menjadi tema besar dalam peringatan hari Pendidikan Nasional. “Belajar dari Covid-19” menjadi tema peringatan tahun ini.

Harusnya, Covid-19 tak berhenti menjadi tema saja. Darinya kita bisa belajar apa saja. Salah satunya dalam hal peningkatan kemampuan literasi. Tulisan ini terinspirasi dari paparan salah seorang pembicara dalam webinar dengan tema “Bangkit dari Pandemi dengan Literasi”.

Tahun 2015 Word Economic Forum (WEF) mengeluarkan sebuah dokumen yang berjudul Visi Baru Pendidikan.  Dokumen setebal 32 halaman tersebut berisi mengenai kemampuan yang diperlukan siswa pada abad ke 21. Kemampuan tersebut dibagi menjadi tiga komponen utama.

Bersama dengan kompetensi dan kualitas karakter, literasi menjadi salah satu kemampuan yang perlu dimiliki siswa pada abad ini.  Literasi dasar adalah kemampuan siswa menerapkan keterampilan inti untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Literasi dasar ini di dalamnya mencakup literasi membaca menulis, literasi berhitung, literasi ilmiah, literasi teknologi informasi dan komunikasi, literasi  finansial, literasi budaya, dan kewarganegaraan.

Pandemi dan Literasi

Jelas sekali bahwa pandemi ini mendorong kita untuk meningkatkan kemampuan, baik itu dalam membaca, menulis, maupun berhitung. Berapa banyak jumlah tulisan baik ilmiah maupun nonilmiah yang lahir karena terinspirasi akan Covid-19.  Berbagai macam tulisan yang mengupas luas virus ini dari berbagai sudut, aspek, dan sisi membanjiri lini masa – terutama melalui platform media sosial. 

Saking banyaknya tulisan, acapkali sulit dibedakan mana kebenaran dan kebohongan. Tulisan populer yang membuat kita makin takut, lebih tepatnya aware, tak kalah banyak dibandingkan tulisan yang cenderung menyepelekan Covid-19 ini. Literasi ilmiah mengenai Covid-19 juga tak kalah mengalir deras.

Kita yang awalnya tak mafhum tentang virus, menyamakan virus dengan bakteri, kini lebih paham akan watak dan karakteristik makhluk yang satu itu. Tulisan sanggahan atas hoax yang terlanjur beredar luas memaksa kita untuk lebih jeli mencermati setiap statement yang dikeluarkan oleh seseorang. Tidak menelan mentah-mentah suatu argumen.

Biasanya, tulisan sanggahan yang baik menyertakan sumber yang jelas kredibilitasnya. Kita juga makin kaya wawasan dengan mencoba memahami masalah dari berbagai macam sudut pandang.

Masih teringat jelas kasus karyawan bergaji 80 juta per bulan yang akhirnya harus kolaps menghadapi pandemi ini. Cicilan rumah dan mobil yang mencapai angka milyaran sontak membuat kita tersadar bagaimana cara kita memperlakukan cashflow keuangan kita. Kasus lain adalah seorang artis yang pusing memikirkan cicilan rumah akibat hilangnya sejumlah jadwal manggung.

Maka, hari ini banyak masyarakat tersadar bahwa gemerlapnya kehidupan artis di media sosial tak segemerlap cicilan rumah mereka. Kita seperti tersadar bahwa dunia dipenuhi dengan ketidakpastian, sehingga menyadarkan arti pentingnya sebuah perencanaan. Khususnya perencanaan dalam hal keuangan.

Bagaimana kita membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Aset dan liabilitas. Apakah kita perlu membeli mobil? Apakah mobil yang kita beli termasuk aset atau liabilitas? Bahkan ada iklan unik yang memberikan bunga 0% untuk pembelian mobil bagi tenaga kesehatan sebagai bentuk penghormatan karena pandemi Covid-19 ini.

Semua pihak boleh mengambil sikap dari suatu keadaan. Akan tetapi keputusan harusnya tetap di otak dan hati kita bukan di nafsu dan gengsi kita. Sesuatu yang direncanakan saja bisa gagal apalagi yang tidak direncanakan. Kita tidak cukup menyiapkan diri menghadapi cerahnya hari, namun juga bersiap tegar menghadapi petir badai yang menghampiri.

Kebiasaan Baru dalam Teknologi Informasi

Pandemi ini juga memunculkan kebiasan-kebiasaan baru dalam hal teknologi informasi. Merasa familiar dengan Tiktok ataupun Podcast? Sederet kata-kata yang dulu tak begitu kenal kini sangat dekat dengan telinga kita.  Betul sekali, Tiktok menjadi salah satu pelarian masyarakat yang dipaksa harus berada di rumah.

Bahkan konon kabarnya, saham aplikasi ini melesat seiring melesatnya juga jumlah penderita Covid-19. Lalu Berbondong-bondong orang membuat konten YouTube dan membuat podcast. Kini pertanyaannya apakah kita cukup puas menjadi konsumen ataupun penikmat dari konten-konten tersebut? Ataukah kita memaksa diri untuk menjadi aktor dan menjadi produktif dengannya. Apakah aktivitas kita di bidang teknologi informasi ini memberi dampak bagi kita apalagi masyarakat?

Literasi dalam hal teknologi informasi harusnya membuat orang menghasilkan konten yang produktif. Produktif di sini tak cukup menghasilkan uang saja. Lebih jauh lagi, bermanfaat dan berdampak baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Utamanya di tengah kondisi pandemi ini, di mana banyak orang yang terdampak buruk atasnya. Tak jarang kita temui konten tak baik ataupun kontroversial yang ujungnya hanya mendulang viewer yang banyak.

Mengubah Budaya

Dahulu masyarakat tidak terbiasa menggunakan masker dalam kondisi sehat apalagi sakit. Kini dalam kondisi sehat pun kita dengan penuh kesadaran memakai masker.  Dahulu masyarakat cenderung abai dengan pola hidup sehat, kini kebiasaan mencuci tangan menjaga kebersihan menjadi tuntutan.

Dahulu membawa bekal makan dianggap kurang laki, sekarang para lelaki membawa bekal makan dari istri dengan pasrah hati. Hal ini berlaku secara keseluruhan bagi warga negara Indonesia maupun dunia. Pandemi ini memaksa kita merubah budaya kita dalam kehidupan keseharian kita. Memaksa kita meningkatkan kemampuan kita dalam menyikapi perubahan yang terjadi di dunia.

Ada hal yang menarik dari hasil penelitian WEF mengenai tingkat literasi di berbagai negara di dunia.  Kesimpulan umum menunjukkan bahwa negara dengan pendapatan yang lebih tinggi memiliki tingkat literasi yang lebih baik. Vietnam muncul sebagai anomali, tingkat literasi negara ini sama baiknya dengan Jerman bahkan lebih baik dari Perancis.

Tampaknya tingkat ekonomi tak menjadi satu-satunya faktor penentu tingkat literasi. Artinya masih tinggi harapan untuk memperbaiki tingkat literasi kita walau kita termasuk negara lower-middle income, sekasta dengan Vietnam.

Epilog

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Kita tidak bisa menghindar dari efek pandemi ini. Namun, kita bisa memilih penyikapan yang terbaik dalam menghadapinya.  Terlalu sayang ketika pandemi Covid-19 ini kita biarkan begitu saja tanpa membuat kita bertumbuh mendewasa.

Semua orang mengalami Covid-19 tapi tidak semua orang bisa memaknainya.  Memaknai dalam artian bahwa pandemi Covid-19 ini mampu membuat kita menjadi bangsa yang literat atau puas dengan hanya mengalaminya saja. Kini tinggal bagaimana penyikapan kita terhadap peristiwa ini. Semua kembali kepada pilihan kita masing-masing.

3
0
Menghidupkan Budaya Akademik di Organisasi Publik

Menghidupkan Budaya Akademik di Organisasi Publik

Banyak pertanyaan dari kolega terkait bagaimana menumbuhkan semangat menulis dan belajar di tengah padatnya agenda kerja. Pertanyaan lain juga muncul bagaimana mungkin di organisasi pemerintahan (organisasi publik) anda bisa bebas menulis dan tetap mengembangkan budaya kritis?

Berbagai pertanyaan di atas menjadi menarik dan sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Di negeri ini, budaya literasi sangat rendah. Bahkan hasil riset CSIS (2018), di hampir semua kalangan, terutama generasi milenial, budaya menulis sangat rendah.

Mendengar  pertanyaan dari para kolega dan dilatarbelakangi oleh konteks yang tepat, saya merasa terprovokasi untuk menulis artikel singkat ini. Tentu dengan sebuah pengharapan, semoga bermanfaat dan menambah semangat para jiwa yang tidak ingin dilupakan sejarah.

Sebuah Observasi

Tidak hanya di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur  (PKP2A) III LAN Samarinda saja budaya menulis dan baca begitu rendah. Dari total pegawai 49 orang, tidak sampai 10 persennya yang pergi ke perpustakaan setiap harinya untuk mencari literatur dan membacanya sebagai referensi untuk membaca fenomena sosial yang berkembang liar di Kalimantan maupun di Indonesia.

Jelas hal ini berpengaruh terhadap budaya menulis. Padahal, mimpi saya dengan menambah jumlah koleksi terbaru buku-buku berbobot, kegiatan membaca dan menulis menjadi habit.

Dengan demikian, sebagai lembaga kajian, sudah selayaknya personil PKP2A III LAN Samarinda aktif mengisi jurnal-jurnal terakreditasi baik nasional maupun internasional, dan setiap hari artikel pendek bisa menghiasi media cetak lokal maupun level nasional.

Tidak hanya di PKP2A III LAN Samarinda saja budaya literasi dan menulis rendah. Di level pemerintah daerah lebih parah. Wajar jika, untuk melaporkan kegiatan pemerintahan, pemerintah daerah harus membayar mahal jurnalis sekaligus membeli halaman media cetak untuk menyampaikan pesan.

Hasrat Menulis ASN

Padahal betapa pentingnya mengembangkan budaya menulis di kalangan birokrat. Tidak sekedar melaporkan kegiatan kepemerintahan, namun untuk berbagai tujuan penting lainnya seperti sosialisasi kebijakan, saran kebijakan, mencari terobosan atau solusi, dan tentu yang lebih penting dari itu adalah untuk memmengaruhi opini publik sekaligus sebagai wahana pencerahan.

Sulit dipungkiri, hasrat menulis sangat dipengaruhi oleh persepsi individual penulis. Khususnya di kalangan pegawai pemerintah, keinginan menulis lebih dilatarbelakangi oleh harapan dapat digunakan sebagai angka kredit atau kebutuhan administratif.

Terhadap fenomena seperti ini saya sangat paham dan tidak terlalu risau. Bagi saya ini adalah awal bagi terbukanya kesadaran baru menulis dan akan menstimulir keinginan pegawai untuk membaca dan terus membaca demi menggali lebih banyak ide.

Hal ini pun terjadi pada pejabat fungsional Widyaiswara dan Peneliti PKP2A III LAN. Pilihan tujuan administrasi dalam menulis tetap lebih baik daripada ini tidak sama sekali. Apresiasi pada kolega saya ini untuk terus menjaga konsistensi dalam menulis tetap harus dijaga dan dirawat.

Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi Almarhum Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA (Mantan Kepala LAN 2012-2015), selalu mengingatkan saya untuk terus memelihara budaya akademik.

“Sebagai lembaga think tank-nya pemerintah dalam bidang pembaharuan administrasi negara, LAN harus terus menjaga dan memelihara budaya akademik (academic culture). Dan saya merasa gagal melakukan reformasi LAN ini karena belum mampu menghadirkan budaya akademik”, tegas Pak Agus dalam sebuah forum diskusi di PKP2A III LAN Samarinda pada awal tahun 2015.

Budaya Akademik

David D. Dill, Profesor Emeritus Kebijakan Publik, Universitas North Carolina, dalam sebuah artikel yang berjudul “The Management of Academic Culture Revisited: Integrating Universities in Enterprenueral”, mengatakan bahwa secara umum budaya akademik tidak berbeda dengan budaya organisasi.

Kedua budaya tersebut memiliki fungsi sebagai identitas organisasi atau dimaksudkan untuk meningkatkan loyalitas dan produktivitas pegawai menghadapi tantangan perubahan yang semakin cepat.

David D. Dill dalam artikelnya menjelaskan bahwa budaya akademik dalam sebuah organisasi setidaknya meliputi budaya disiplin dan budaya profesi akademik.

Budaya disiplin/budaya tertib merupakan nilai dasar setiap orang, organisasi, dan juga bangsa. Bangsa yang menjadikan disiplin sebagai nilai utamanya akan lebih maju dalam segala hal.

Finlandia, Jepang dan Singapura adalah contoh negara-negara maju yang membangun negerinya dengan budaya disiplin yang sangat tinggi dan penuh dengan komitmen.

Pada lingkup organisasi publik, kedisiplinan berperan penting dalam proses mengelola kinerja organisasi. Tidak hanya soal kuantitas kinerja, tetapi juga kualitas, ketepatan waktu dan biaya. Kedisiplinan inilah yang melahirkan budaya atau budaya organisasi yang ideal.

Menurut pandangan Prof. Heru Nugroho, Guru Besar FISIP UGM, budaya profesi akademik ditandai oleh meningkatnya kualitas akademik dan komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para akademisi.

Para akademisi terlihat lebih mementingkan nilai-nilai pengetahuan bukan pragmatis, banyak melakukan penelitian yang hasilnya sangat dirasakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi.

Baik dalam pandangan Dill dan Nugroho, organisasi publik lebih prospektif dan berpeluang menghidupkan budaya akademik. Hal ini bisa dipahami karena karakteristiknya.

Di organisasi publik, dukungan sumber daya dan sarana dan prasarana, keluangan waktu untuk mengembangkan budaya akademik lebih besar jika dibandingkan dengan di sektor dunia usaha.

Di samping itu, organisasi publik memiliki tujuan yang ideal sebagai pelayanan masyarakat, di mana dalam proses pengembangan pelayanannya sangat didukung oleh program dan dukungan anggaran yang cukup. Sebagai contoh, pengembangan dapat kita lihat pada pengiriman ASN untuk sekolah, program benchmarking dan studi banding, dan lain sebagainya.

Sementara di sektor swasta, karena tujuan didirikannya adalah untuk mencari profit, segala aktivitasnya selalu terbatas apalagi dalam pengembangan budaya akademik.

Namun pertanyaannya adalah, kenapa Amazon dan Facebook dapat sukses menghidupkan budaya akademik?

Belajar dari Amazon dan Facebook

Dalam sebuah artikel yang berjudul “What My Time at Amazon Taught Me About Company Culture”, Pieter Kemps menguraikan pengalaman menariknya selama bekerja di Amazon Web Services (AWS).

Menurutnya, ada tiga budaya perusahaan yang Kemps amati selama di AWS, antara lain,  terciptanya prinsip kepemimpinan, merekrut karyawan dengan tepat, serta membangun ekosistem internal yang berkembang dengan cepat.

Keberhasilan Amazon, menurut Kemps, sebagian besar terletak pada “ritual” mereka dalam membimbing karyawan mereka sehari-hari dengan cara menyingkirkan proses dan menggantikannya dengan prinsip kepemimpinan yang disiplin.

Sementara, Facebook membangun budaya perusahaannya melalui pendirinya, Mark Zuckerberg, yang berani menjadikan dirinya sebagai role model dalam menumbuhkan budaya akademik.

Zuckerberg, meski telah mencapai puncak ketenaran dan menjadi the maker of history, meminjam istilah Bung Karno, tidak pernah menghentikan semangatnya untuk terus belajar. Dan ini menjadi prinsip hidupnya yang dapat mengubah dirinya dan dunia.

Mengutip HaloMoney.co.id dari berbagai sumber, dua kekuatan penting Zuckerberg dalam membangun budaya akademik, yakni, pertama, menjadikan membaca sebagai kebiasaan (make reading a habit).

Di tahun 2015, Zuckerberg menantang dirinya sendiri. Katanya, “Membaca sebuah buku baru setiap minggu dengan menekankan pembelajaran tentang ragam kebudayaan, kepercayaan, sejarah, dan teknologi.”

Dia melanjutkan, “Anda bisa mengeksplor sebuah topik dari buku-buku dan membenamkan diri Anda sendiri lebih dari media apa pun saat ini. Jika Anda belum menjadi pembaca yang konsisten, sebaiknya Anda memulainya hari ini.”

Kedua, belajar keterampilan baru (learn a new skill). Zuckerberg berani mengambil tantangan belajar bahasa Mandarin. Pidatonya mengejutkan dunia karena menggunakan bahasa mandarin dengan lancar dalam acara dengan sebuah grup mahasiswa di Beijing.

Kefasihannya dalam berbahasa Mandarin ini membuat Zuckerberg mampu mempengaruhi kalangan akademi Cina dan komunitas bisnis, termasuk regulator di China.

 

Tanggung Jawab Siapa

Menghidupkan budaya akademik di organisasi publik adalah sebuah keniscayaan. Saya, Anda, dan kita semua memiliki tanggung jawab itu, justru pada saat budaya literasi kita sangat rendah, dan saat di mana hari ini hasrat menulis berada di titik nyaris nol.

Pemerintah juga sudah seharusnya memberi ruang lebih banyak bagi terbangunnya budaya kritis dan mendorong budaya akademis. Sayang sekali. keberhasilan pemerintah yang seharusnya bisa disebarkan untuk mempengaruhi publik ternyata harus terparkir di ruang-ruang hampa arsip perkantoran.

Padahal, sebagaimana dilakukan Amazon dan Facebook, pemerintah bisa membuka ceruk potensi yang tak terlihat sebelumnya dengan terus mendorong semangat belajar warga dan membuka pikiran agar warga tetap kritis.

Sebab, daya kritis adalah bagian terpenting dari merawat negeri ini agar tidak diisi oleh pasukan “ABS” (Asal Bapak Senang) atau “Yes Man” yang pasti tidak akan merubah apa-apa.

Epilog

Budaya akademik akan membuka pikiran dan horizon masa depan. Tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk masa depan peradaban manusia dan bangsa. Bagi pemerintah, tentu budaya akademik sangat penting karena bisa membantu lahirnya berbagai terobosan penting yang mendukung ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge driven economy).

Menghidupkan budaya akademik berarti membuka ruang pegawai, warga bangsa dan seluruh insan cendekia untuk selalu membuka pikiran terhadap hal-hal baru yang belum diketahui.

Saya bersyukur meskipun dengan power coercive approach, yakni menjadikan artikel di media massa (elektronik/ cetak) dan jurnal terakreditasi sebagai salah target sasaran kinerja pegawai (SKP), seluruh pegawai PKP2A III LAN Samarinda kini mampu menulis.

Setidaknya kolega kami sering menyebut PKP2A III LAN Samarinda paling beda. Sebutan itu mungkin muncul karena hidupnya budaya akademik di sana.

 

 

0

0
Mungkinkah PNS Menulis di Tengah Kesibukan?

Mungkinkah PNS Menulis di Tengah Kesibukan?

Mengapa Anda masih mengalami kesulitan dalam menulis?

Ada dua penyebabnya, yaitu kurangnya kemampuan teknis penulisan dan ketiadaan waktu menulis Tulisan ini hendak membahas ke dua hal tersebut. Kemampuan teknik penulisan yang diperlukan adalah kemampuan menulis efektif dan kemampuan menghindari jebakan-jebakan yang ada pada saat menulis.

Menulis Efektif

Kemampuan menulis efektif pada dasarnya adalah kemampuan membuat tulisan yang variatif. Seseorang yang memiliki kemampuan ini, ia dapat meramu kalimat tunggal dengan kalimat majemuk, kalimat langsung dengan kalimat tak langsung, kalimat berita dengan kalimat tanya ataupun kalimat perintah, dan berbagai macam variasi lainnya. Kemampuan menulis efektif ini akan membuatnya menyukai kalimat-kalimat yang disusunnya sehingga ia akan termotivasi oleh tulisannya sendiri, atau self motivated.

Jika Anda seorang birokrat, Anda akan termotivasi menulis apabila Anda memiliki kemampuan menulis efektif, meskipun Anda disibukkan oleh pekerjaan. Namun demikian, Anda masih akan mengalami kesulitan menulis apabila Anda tak mampu menghindari jebakan-jebakan yang ada pada saat menulis.

Jebakan Yang Ada Pada Saat Menulis

Ada empat jebakan dalam menulis, yaitu: Jebakan Teko Kosong, Jebakan Peran Rangkap, Jebakan Jalan Tiada Ujung, dan Jebakan Parit.

  • Jebakan Teko Kosong

Menulis itu menyampaikan sesuatu yang Anda miliki, bisa berupa ide ataupun data. Jika tidak ada “sesuatu” dalam kepala Anda, maka tidak ada yang bisa Anda tulis. Ibarat teko kosong, Anda berusaha menuangkan isinya, tetapi hanya kehampaan yang Anda dapati, atau yang keluar hanya angin.

Banyak yang mengira dengan berpikir keras saat menulis ide akan berdatangan. Itulah yang dinamakan Jebakan Teko Kosong. Yang benar, Anda harus memiliki isi tekonya terlebih dahulu. Selanjutnya kapan pun Anda mau, Anda akan mampu menuangkannya dan memenuhi gelas yang Anda inginkan. Karena itu, saya heran kalau ada yang bertanya,”Pak Dedhi kok bisa menulis kapan saja dan di mana saja?” Sebab, bila Anda mempunyai sesuatu, maka waktu dan tempat sudah tidak lagi jadi faktor utama.

Karena itu, fokuslah pada isi kepala dan hati Anda. Pepatah Arab mengatakan “Al ilmu fis sudur laa fi suthur”. Ilmu itu apa yang ada dalam dada, bukan yang ada dalam buku. Perbanyaklah isi kepala dan hati Anda dengan pengalaman, membaca buku, ngegoogling, dan lainnya. Selamat mengisi teko Anda!

  • Jebakan Peran Rangkap

Dalam menulis ada dua peran yang perlu Anda perhatikan. Satu, peran sebagai penulis, dan kedua, peran sebagai editor. Kedua peran tersebut jangan dirangkap dalam waktu bersamaan. Kalau ini dilanggar, maka Anda akan terkena Jebakan Peran Rangkap.

Penulis itu berperan menulis, mengungkapkan isi kepala dan hati ke dalam tulisan. Anda tak perlu berpikir tentang PUEBI, atau pikiran-pikiran lainnya seperti  ingin membuat tulisan yang krispi, bergizi, dan terhidang menarik. Pikiran-pikiran itu adalah tugas editor yang berperan mengedit. Jadi, Anda harus memisahkan antara peran menulis dan peran mengedit.

Ketika Anda sedang menulis dan cenderung menghapus-hapus tulisan karena kurang puas, maka sebenarnya Jebakan Peran Rangkap telah terjadi. Maju-mundur, maju-mundur, tapi tidak cantik.

Bila hal itu terjadi di masa lalu, maka sang penulis akan dikelilingi oleh sampah kertas yang diremas-remas dan dibuang di lantai.  Bukan karya yang dihasilkan, tetapi waktu yang terbuang percuma. Seharusnya, menulis itu ya menulis saja. Jangan mikirin apa-apa kecuali menuangkan ide.

Kalau tidak boleh mengedit, bagaimana tulisan Anda bisa bagus? Ingat, bukan Anda tak boleh mengedit, tetapi jangan mengedit pada saat Anda menulis.

Untuk mengedit, ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan. Pertama, yang menulis Anda, dan yang mengedit orang lain. Ini pernah saya lakukan di buku saya kedua. Saya menulis, dan yang mengedit Karlina VOA yang tinggal di Washington DC. Kebetulan waktu saya ke negeri Paman Sam, saya bersedia menjadi narasumber yang diwawancarainya untuk VOA. Mungkin karena itu, ketika saya minta bantuan kepadanya untuk mengedit buku saya, ia bersedia dan free.

Kedua, Anda yang menulis dan Anda pula yang mengedit, tetapi Anda lakukan keduanya pada waktu yang berbeda. Saya melakukan cara kedua ini di buku-buku saya selain di buku kedua. Caranya, Anda menulis dulu sampai naskah selesai. Jangan terburu menghakimi tulisan Anda. Tulis saja apa adanya, dan  jangan mikirin ada apanya.

Setelah selesai, Anda bisa beralih menjadi editor dan harus menghakimi tulisan itu sebagai tulisan “orang lain”. Yang tidak pas dibuang, yang kurang pas diperbaiki, dan yang sudah pas dibiarkan. Di sinilah Anda berusaha keras agar tulisan yang Anda tulis harus ada apanya, krispi, bergizi, dan terhidang menarik.

Jebakan Teko Kosong dan Jebakan Peran Rangkap dapat terjadi pada jenis tulisan apa saja, baik tulisan panjang seperti skripsi, tesis, disertasi, dan novel, maupun tulisan pendek seperti artikel atau puisi. Khusus untuk tulisan panjang ada lainnya yang menanti, yaitu Jebakan Jalan Tiada Ujung dan Jebakan Parit.

Selanjutnya, saya akan menjelaskan kedua jenis jebakan tersebut.

  • Jebakan Jalan Tiada Ujung

Jebakan ini ada dalam menulis tulisan panjang seperti novel, skripsi, tesis, dan disertasi. Tanpa perencanaan matang, tulisan panjang bisa membuat Anda kehilangan arah. Bahkan, Anda bisa tersesat bagai memasuki sebuah labirin, sehingga tulisan Anda tidak kelar-kelar. Karena itu, Anda harus membagi-bagi tulisan dalam poin-poin besar dari awal hingga akhir.

Dalam dunia akademik, Jebakan Jalan Tiada Ujung sudah diberikan jalan keluarnya dengan membuat outline atau proposal sebelum menulis. Itulah arah jalan penulisan. Sepanjang mahasiswa dan dosen pembimbing mematuhi outline tersebut, maka skripsi, tesis, dan disertasi akan dapat dituntaskan.

Kalau Anda akan menulis nonakademik seperti novel, Anda perlu merancang outline juga agar tidak terjebak dalam Jebakan Jalan Tiada Ujung. Setidak-tidaknya plotnya sudah tergambar dengan jelas, bagaimana mengawali cerita, dan bagaimana mengakhiri cerita. Tentu saja plot ini fleksibel dengan perubahan minor, tetapi harus dicegah dari perubahan mayor. Jika terjadi perubahan mayor, itu tandanya Anda kurang matang dalam merencanakan penulisan. Maka, Anda harus berlatih merencanakan, karena gagal merencanakan itu berarti merencanakan kegagalan.

  • Jebakan Parit

Jebakan Parit juga terjadi dalam menulis tulisan panjang seperti novel, skripsi, tesis, dan disertasi yang biasanya ditulis dalam beberapa bab atau bagian. Setiap bab biasanya mempunyai satu tema tersendiri dan merupakan satu kesatuan utuh, meskipun bab itu merupakan bagian dari satu buku. Bab Pendahuluan akan berbeda dengan Bab Metodologi, dan seterusnya. Demikian juga dalam novel, suatu bab biasanya sudah dapat dinikmati secara utuh, meskipun ia menjadi bagian dari novel secara keseluruhan.

Karena itu ada jebakan saat Anda menyelesaikan satu bab seolah-olah Anda telah menyelesaikan semuanya. Inilah yang membuat Anda tidak mampu melanjutkan tulisan. Saat Anda berada di ujung bab, Anda jatuh dalam suatu parit yang dalam hingga membuat Anda susah keluar dari parit. Jadi, berhati-hatilah karena ada parit di antara bab yang satu dengan bab yang lain. Anda harus mampu menghindarinya.

Cara menghindari Jebakan Parit ada 2. Mari Anda bayangkan di depan Anda ada parit sedalam 3 meter yang tidak bisa Anda langkahi begitu saja. Tapi, Anda harus melompatinya, meskipun lebarnya satu meter lebih. Apa yang harus Anda lakukan?

Pertama, Anda harus ancang-ancang, berlari, dan hap, Anda melompati, menjauhi parit, dan selanjutnya Anda boleh berhenti untuk istirahat. Anda tidak bisa berhenti di pinggir parit yang dalam itu lalu berharap bisa melompatinya tanpa ancang-ancang.

Jadi cara menghindari Jebakan Parit dalam menulis adalah jangan pernah mengakhiri suatu bab lalu berhenti. Itu berarti Anda masuk ke dalam parit dan akan sulit bangkit. Kecuali, Anda sudah menjadi penulis hebat. Selesaikan bab itu, lalu tulislah bab berikutnya beberapa paragraf lalu silakan berhenti.

Cara kedua, bila Anda tidak memilik tenaga untuk berlari dan melompati parit, maka berhentilah beberapa meter sebelum bibir parit. Anda bisa beristirahat sebentar. Bila tenaga Anda sudah pulih, Anda bisa mengambil ancang-ancang, berlari, dan melewatinya.

Kalau tak cukup waktu untuk menulis hingga 2-3 paragraf bab berikutnya, berhentilah di 2-3 paragraf sebelum akhir dari bab yang sedang Anda tulis. Saat ada waktu, Anda dapat menuntaskan bab tersebut hingga berlanjut ke bab selanjutnya, minimal 2-3 paragraf. Dengan begitu, Anda terhindar dan selamat dari Jebakan Parit.

Menulis dalam Keterbatasan Waktu

Ketika Anda siap untuk memulai menulis, misalnya menulis sebuah novel, Anda perlu waktu untuk menuliskannya. Sayangnya tidak semua dari kita memiliki waktu untuk menulis, termasuk saya. Setiap pagi saya berangkat bekerja usai Subuh dan baru jam delapan malam saya sampai di rumah. Sementara itu, Sabtu-minggu adalah waktu untuk keluarga. Oleh karena itu, harus ada terobosan untuk memanfaatkan waktu yang tersedia.

Kebetulan, saya naik kereta api (commuter line) dari jam 6.00 wib hingga jam 7.30 wib. Saya manfaatkan waktu perjalanan itu untuk menulis novel. Di commuter line, saya tidak bisa membuka laptop karena jarang sekali mendapat tempat duduk, sehingga perlu media untuk menulis dalam keadaan berdiri. Saya pikir twitter dengan 140 karakternya dapat membantu saya.

Saya menulis novel menggunakan media twitter. Saya twit setiap hari (Senin-Jumat) sekitar 20 twit. Dengan menuliskan di media twitter, beberapa follower saya biasanya ikut menyimak. Sering mereka menyemangati saya untuk menulis bila saya sedang malas menulis. Hal itu menjadikan saya konsisten menulis setiap hari kerja.

Sisi lain dari keterbatasan 140 karakter twitter juga membantu saya untuk hanya menge-twit  hal-hal yang menarik saja. Ini membuat saya benar-benar harus memikirkan gagasan-gagasan terbaik dan menyajikan yang terbaik agar follower yang mengikuti twittwit  saya tetap tertarik untuk mengikutinya. Sisi lainnya lagi, dengan keterbatasan 140 karakter, saya harus berhemat kata. Di sinilah kemampuan menggunakan diksi menjadi sangat penting.

Setelah twit  terkumpul hingga 1.700 twit-2.000 twit, saya unduh ke laptop dan lalu saya edit. Saat mengedit inilah saya reka ulang lagi ceritanya. Kadang, untuk mengedit saya menggunakan waktu keluarga saya (Sabtu-Minggu). Tentu saja setelah saya minta ijin isteri. Bila dia berkenan saya mengedit, tetapi bila dia tidak berkenan maka saya mencari waktu lain. Seperti saat saya bertugas keluar kota, saya bisa mengedit tulisan di hotel atau saat di pesawat terbang.

Alhamdulillah, saya berhasil menulis novel di tengah keterbatasan waktu saya. Saat ini saya berhasil menyelesaikan tiga novel, yaitu Allah Itu Dekat, Cinta di Titik Nol, dan Pusaran Tawaf Cinta. Ingin rasanya saya membuat novel keempat dan seterusnya. Namun, saat ini saya harus fokus menyelesaikan disertasi saya. Mudah-mudahan disertasi saya kelar tahun ini dan di tahun 2019 saya bisa menulis novel kembali. Saya akan menerapkan teknik unik menulis di twitter saat berangkat kerja menggunakan commuter line sebagai cara saya menulis novel.

Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati masalah waktu. Anda bisa menggunakan apa saja yang penting Anda kreatif menemukan media yang membuat Anda bisa menulis di setiap tempat dan setiap waktu. Apalagi bila Anda memiliki waktu luang untuk menulis. Menulislah, karena menulis itu berarti membuat jejak sejarah.***

 

 

2

0
Torehkan Kisah Literasimu

Torehkan Kisah Literasimu

Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil antri makan, sambil makan, bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang. Kami mendesak diri melampaui limit normal untuk menemukan limit baru yang jauh lebih tinggi (Fuadi, 2009).

Kutipan di atas saya ambil dari novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi (2009). Novel penuh inspirasi ini kaya dengan penuturan dan gambaran Alif tentang bagaimana kegiatan membaca dan menulis berkelindan dengan indahnya dalam kesehariannya sebagai anak pesantren di Pondok Madani.

Kisah tentang bagaimana seseorang mulai belajar dan kemudian mencintai dunia buku dan tulisan semakin banyak kita jumpai di dunia maya. Mulai dari status update di media sosial sampai blog entry banyak bertebaran kisah tentang buku dan menulis dalam kehidupan penulisnya. Di blog saya ini bahkan saya mengkhususkan diri menulis tentang literasi, yakni dunia membaca dan menulis berbagai ragam teks.

Kata literasi memang tidak lagi asing. Bila beberapa tahun yang lalu orang masih bertanya apa itu literasi, sekarang ini bahkan ibu-ibu RT di tempat saya sudah bisa langsung menggunakan istilah Gerakan Literasi ketika saya mengajak ibu-ibu PKK untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat di RT kami. Saya cuma bilang, ‘ayo buat taman baca buat warga RT.’ Mereka merespon positif dan sudah langsung menggunakan frase ‘demi gerakan literasi.’ Tampaknya Gerakan Literasi Sekolah dalam bentuk kegiatan 15 menit membaca di sekolah anak-anak mereka sudah mulai membentuk pola pikir baru di antara para orang tua.

***

Karena kita sudah akrab dengan kisah-kisah tentang buku dan tulisan, mari kita mulai mengenal istilah akademiknya. Dalam berbagai kajian tentang Literacy Studies, kisah seperti ini disebut dengan Literacy Narrative. Apa ya terjemahannya dalam Bahasa Indonesia? Naratif Literasi? Kisah Literasi? Untuk sementara saya memilih menggunakan istilah Kisah Literasi. Rasanya terdengar lebih manis.

Kisah literasi biasanya ditulis oleh para penulis untuk memerikan perjalanan mereka mengenal tulisan, kapan mulai suka membaca buku, mulai menulis, tantangan yang dihadapi, cerita suka duka tentang membaca dan menulis. Kisah seperti ini membuat para pembaca lebih mengenal sosok penulis. Kisah literasi juga menjadi salah satu bentuk tugas menulis yang kerap diberikan di kelas-kelas Bahasa. Para siswa atau mahasiswa biasanya diminta menuliskan tentang pengalaman dan perasaan mereka tentang banyak hal yang terkait dengan buku dan tulisan.

Kisah literasi adalah kisah tentang buku dan tulisan yang kita tulis dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal ini, kita tidak hanya mengacu pada kegiatan membaca dan menulis sebagai keterampilan bahasa yang dapat diukur dengan berbagai standar penilaian. Kisah literasi adalah kisah perjalanan hidup seseorang yang menuliskannya, kisah tentang perubahan identitas di mana buku dan tulisan menjadi bagian penting. Kisah literasi dapat mengungkapkan bagaimana seseorang memosisikan dirinya dalam hal kelas sosial, status pendidikan, dan ekonomi. Kisah literasi juga dapat menjadi pembuktian bagaimana buku, tulisan, dan bahkan teks audiovisual dapat mengubah citra diri seseorang.

Konsep Figured World, Positional Identity, dan Figurative Identity yang diusung oleh Dorothy Holland dkk. dapat dengan cantik dikawinkan dengan dunia literasi. Riya Rizqi, salah seorang mahasiswa S2 Unesa bimbingan saya baru saja menyelesaikan tesis tentang Literacy Narratives and Students’ Identities. Dari kisah literasi yang ditulis dalam Bahasa Inggris sederhana oleh siswa SMP di Lamongan, Riya berargumen bahwa kehadiran buku, kegiatan membaca, dan gurunya sendiri membuat siswa mengubah cara pandang tentang diri mereka sendiri. Pada awalnya mereka memandang diri mereka sebagai ‘bad reader and bad writer.’ Setelah berproses dengan berbagai kegiatan di mana buku dan tulisan banyak dihadirkan, mereka mulai berani menilai diri sebagai ‘good reader and good writer.’

Sekali lagi, kisah literasi bukanlah kisah melulu tentang kesuksesan bergulat dengan teks yang mungkin diwakili oleh deretan angka. Kisah literasi yang membebaskan penulisnya untuk berekspresi akan menjadi kisah yang reflektif dan berperan membentuk atau mengembangkan karakter penulis dan juga pembacanya. Dalam hal ini, kisah literasi banyak bertebaran di karya sastra dan budaya populer seperti film. Novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri sarat dengan kisah kedekatan batin tokoh Ashoke dengan seorang pengarang besar dari Rusia, Nikolai Gogol, melalui koleksi cerpen yang dia punyai. Dengan latar belakang budaya masyarakat India diaspora, novel ini mengantarkan pembaca kepada perjalanan identitas hibrid dengan artifak literasi (buku, majalah, iklan, pendidikan tinggi di LN, dll.) sebagai katalisator perubahan identitas diri.

Berbicara tentang proyek menulis kisah literasi, saya ingin menyebutkan dua buku karya alumni Unesa sebagai proyek yang luar biasa. Pena Alumni (2013) dan Boom Literasi (2014) amat dinamis menampilkan kisah literasi para penulisnya yang berasal dari beragam latar belakang profesi. Dua buku ini bahkan terbit saat gempita literasi belum segempar sekarang ini. Seharusnya kedua buku ini layak cetak ulang.  Meski proyeknya nirlaba, alias tidak cari untung (bahkan urunan), kualitas tulisan-tulisannya patut diacungi jempol.

 

Buku terbaru yang saya tulis bersama mbak Sofie Dewayani, Suara dari Marjin (2017) juga diwarnai dengan kisah literasi. Dalam buku ini, kami menggunakan istilah Trajektori Literasi. Di bab 2 dan 3, secara terpisah mbak Sofie dan saya berkisah tentang bagaimana mulanya kami suka membaca dan menulis, dan bagaimana dunia literasi ini membawa kami pada minat mengkaji kisah literasi anak-anak jalanan dan buruh migran Indonesia di Hong Kong. Pendek kata, buku Suara dari Marjin adalah buku tentang kisah literasi, tidak hanya tentang komunitas anak jalanan dan BMI Hong Kong, namun juga kedua penulisnya.

***

 

Kisah literasi dapat diungkapkan oleh siapa saja, mulai siswa yang baru belajar mengarang dan mulai menyukai buku sampai penulis terkenal. Mulai dari mahasiswa anyar sampai para profesor. Bahkan para birokrat pun perlu menuliskan kisah literasi mereka.

Salah satu contoh birokrat yang menuliskan kisan literasinya adalah sahabat saya mas Billy Antoro. Mas Billy adalah salah satu staf di Setjen Dikdasmen. Sahabat saya ini juga diamanahi sebagai Sekretaris Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud, di mana saya juga tergabung di dalamnya. Mas Billy tertib mencatat dan merekam sepak terjang Satgas GLS sebagai tim. Bahkan dia juga meminta kami para anggota Satgas untuk ‘melaporkan’ kegiatan literasi di kampus dan komunitas yang kami lakukan di luar tugas bersama. Mas Billy sendiri juga rutin berbagi cerita kegiatan literasinya di rumah dan di komunitas. Sebagian besar catatan dan refleksi literasi ini telah dituliskan di buku Gerakan Literasi Sekolah dari Pucuk sampai Akar. Buku ini diterbitkan oleh Kemdikbud dan diluncurkan saat Festival Literasi Sekolah pada tanggal 27-29 Oktober 2017. Buku ini bisa diunduh di laman Kemdikbud.

Langkah mas Billy sebagai bagian dari dunia birokrasi menunjukkan bahwa mas Billy menulis tidak hanya sebagai bagian dari tugas birokrasinya. Lebih dari itu, mas Billy telah menjadi seorang sponsor literasi. Dengan kata lain, sebuah program dan pelaksanaan kebijakan akan terasa lebih membumi, bermakna, dan berdaya di tangan seorang staf (notabene juga birokrat) yang melakoni sendiri kebijakan yang dikawal. Sebagai seorang aktivis literasi, sosok staf seperti mas Billy jadi lebih paham tantangan yang dihadapi dan berbagai kesempatan yang tersedia di lapangan dalam implementasi kebijakan. Hal ini menjadi modal penting dalam proses monitoring, evaluasi dan tindak lanjut sebuah kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah.

Contoh lain dari birokrat yang menulis adalah Prof. Muchlas Samani, mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya. Pak Muchlas, begitu saya memanggil beliau,  rutin menulis di blog, http://muchlassamani.blogspot.co.id. Saya termasuk pembaca setia tulisan-tulisan beliau tentang dunia pendidikan. Sudah banyak buku yang beliau terbitkan, bahkan sejak beliau belum menjabat sebagai Direktur Ketenagaan Dikti dan kemudian menjadi Rektor Unesa ke-9 di periode 2010-2015.

Buku beliau yang terbaru kuat nafas literasinya, yakni literasi teknologi informasi. Judul bukunya juga provokatif, Semua Dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?. Buku yang maknyus ini, meskipun bukan murni kisah literasi, menegaskan bahwa dunia pendidikan abad ke 21 bukanlah hanya sekedar memanfaatkan teknologi digital, namun harus dibarengi dengan kompetensi akademik, sosial, dan kultural agar sekolah dapat menghasilkan pembelajar yang literat. Dengan kata lain, kisah literasi yang bermuatan kegelisahan dan alternatif solusi masalah akan bermakna lebih dari sekedar curhat dan kontemplasi diri. Buku ini diterbitkan oleh Unesa University Press dan bebas diunduh di sini.

Saya yakin masih banyak lagi birokrat atau pejabat struktural yang rajin dan tertib menulis. Yang perlu saya garis bawahi tentang kisah literasi adalah tulisan tentang bagaimana dunia literasi menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Kisah literasi berbeda dari tulisan tentang sebuah topik tertentu. Nah, kisah literasi, atau dalam bahasa aslinya, literacy narrative, dapat menjadi salah satu bidang garapan Gerakan Birokrat Menulis. Saya yakin apabila semakin banyak birokrat menuliskan kisah literasi mereka, saya yakin mereka akan lebih banyak melakukan refleksi diri dan tidak mudah mencari alasan atau pembenaran dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Yang lebih penting lagi, kisah literasi akan menjadi catatan abadi yang ditorehkan di tonggak peradaban bangsa kita sebagai bangsa literat. Tanpa ada kisah literasi, tidak akan ada kajian tentang kisah literasi. Sebaliknya, dengan semakin banyak kisah literasi, akan semakin beragam pula kajian tentang kisah-kisah tersebut dalam membentuk narasi besar gerakan literasi bangsa kita.

Maka dari itu, torehkan kisah literasimu!

(Surabaya, 21 November 2017)

 

0

0
Para Birokrat, Menulislah!

Para Birokrat, Menulislah!

Membaca buku Pramudya Ananta Toer pada generasi saya adalah ‘barang haram’. Sebab, walaupun lebih mendekati sosialisme (socialism), pada generasi saya pemikiran Pram lebih diidentikkan sebagai komunisme (communism). Sementara itu, bagi generasi saat ini, membaca buku Pram bukanlah barang haram. Kebanyakan mereka sudah terbiasa memperdebatkan isi buku-buku Pram di perkuliahan ataupun di warung kopi.

Setelah buku Pram boleh beredar, saya sempat membaca bukunya yang berjudul “Korupsi”. Dari buku ini, saya bisa memahami sejarah korupsi di birokrasi, yang sangat relevan dengan keseharian saya. Misalnya, saya dapat memahami kenapa generasi birokrat sebelum saya (walaupun masih berlanjut sampai saat ini) menganggap bahwa menerima komisi dari kontraktor atau supplier itu adalah hal yang sah-sah saja.

Pada buku itu, Pram menguraikan bagaimana powerful-nya kepala kantor pemerintahan di masa setelah kemerdekaan. Setelah kemerdekaan tahun 1945, kantor pemerintahan banyak diisi oleh mantan pejuang kemerdekaan. Mereka ditunjuk memimpin kantor pemerintahan umumnya sebagai kompensasi perjuangannya memerdekakan Indonesia dan melawan kolonialis, dan bukan karena hasil seleksi kompetensi (competency assessment), seperti kita kenal saat ini.

Kemudian, tanpa akuntabilitas yang jelas, mereka para kepala kantor ini boleh membelanjakan anggaran kantornya sesuka hatinya. Para kepala kantor ini juga dapat merekrut pegawai berdasarkan pertimbangan pribadinya. Pegawai kantor pemerintah ini kemudian dikenal sebagai pegawai ‘honorer’. Untuk membiayai pegawai honorer ini, kepala kantor mengumpulkan komisi dari para supplier. Karena itu, potongan komisi pada waktu itu adalah hal yang wajar dan ‘dikelola’ langsung oleh kepala kantor.

Dalam buku itu, Pram menceritakan kebiasaan seorang kepala kantor pemerintahan yang ‘kebablasan’.  Alih-alih untuk membiayai kepentingan kantor, ternyata uang hasil potongan komisi itu digunakan oleh kepala kantor untuk membiayai istri mudanya di daerah Bogor. Pada waktu itu, adalah lazim banyak pejabat pemerintahan menyimpan istri mudanya di daerah Bogor, karena lokasinya yang berjauhan dari pusat keramaian.

Kebiasaan ini berlanjut terus sampai menjelang berakhirnya Orde Baru, yang kemudian kita mengenal istilah ‘dana taktis’ atau ‘dana non-budgeter’. Dana ini awalnya dikelola untuk membiayai pengeluaran kantor yang tiba-tiba. Sebab, lokasi kantor pemerintahan banyak yang berjauhan dari kantor kas negara. Saat itu, transfer antar bank real-time tentu belum dikenal. Karenanya, untuk kepentingan darurat, setiap kantor mesti memiliki dana taktis.

Itulah sebabnya kemudian tidak aneh jika banyak kantor-kantor kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang mempunyai rekening bank tersendiri untuk mengelola dana taktis. Dana taktis ini dikelola bertahun-tahun dan ‘diserahterimakan’ ke pemimpin kantor berikutnya. Ketika diakumulasi jumlahnya, nilainya bisa miliaran rupiah untuk satu kantor saja.

Sampai kemudian, akhirnya pemerintah –  dengan para reformer-nya dari Kementerian Keuangan – mengusulkan konsep ‘single account’. Intinya, konsep ini mengarahkan berbagai organisasi publik di Indonesia hanya boleh memiliki rekening bank yang ‘terintegrasi’ dengan rekening Kementerian Keuangan sebagai bendahara umum negara (state treasury). Konsep ini pun kemudian menjadi euforia di lingkungan pemerintah daerah.

***

Itulah manfaat membaca buku Pram bagi saya. Membaca buku Pram membuka wawasan saya kenapa korupsi begitu kompleksnya di Indonesia. Dari buku Pram, kita sebagai birokrat bisa belajar mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini dengan pendekatan historis.

Di sisi lain, Pram juga mengingat kita untuk terus menulis. Nasehatnya berikut ini banyak menjadi figura di Internet:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Intinya Pram mengajak kita untuk terus menulis. Kita perlu menulis agar tidak hilang dari catatan sejarah. Baginya, menulis adalah bekerja untuk menuju keabadian. Terlalu naïve, memang. Namun, Pram juga mengingatkan:

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.

Peringatan Pram tersebut menjadi relevan, baik terhadap mereka yang merasa kaum intelektual (cerdik-pandai) maupun mereka yang merasa termarginalisasi karena menganggap dirinya sebagai orang bodoh atau kaum non-intelektual.

Menjadi penting untuk memperbincangkan, siapa sebenarnya kaum intelektual atau cerdik-pandai itu? Apakah mereka yang masih mahasiswa saja? Apakah mereka yang bisa menulis secara cerdas?

Bagaimana kemudian dengan mereka yang dulunya mahasiswa dan kini menjadi birokrat? Apakah mereka bukan lagi kaum cerdik-pandai?

Bagi saya, kaum intelektual itu tidak hanya mereka yang masih menjadi mahasiswa. Bukan juga orang seumuran saya yang kembali menjadi mahasiswa ini. Bagi saya, kaum intelektual adalah juga para birokrat yang mau terus mendorong perubahan.

Kita bisa melihat, misalnya, Budi Utomo itu dibentuk oleh profesional birokrasi. Mereka kebanyakan para dokter pribumi. Para profesional birokrasi ini membentuk pergerakan (movement)  untuk mendorong perubahan dan melawan ketidakadilan terhadap kolonialis. Karenanya, mereka adalah kaum intelektual pada masa itu.

Belakangan ini, para birokrat juga sering bersuara dalam mendorong good governance, baik yang menyandang posisi pejabat fungsional, pejabat struktural, atau pelaksana biasa di kantornya masing-masing. Melalui media sosial, mereka berani menyuarakan ketidakadilan dan diskriminasi.

Sebagai contoh, terdapat beberapa birokrat yang menulis tentang kebijakan mutasi di organisasinya yang tidak adil. Kemudian juga mereka memperdebatkan tentang apakah Ahok korupsi atau tidak dalam kasus Rumah Sakit Sumber Waras. Bahkan, mereka terlibat memperdebatkan soal penggerebekan pabrikan beras oleh kepala kepolisian dan seorang menteri!

Mereka itu berusaha memberikan tekanan demi perubahan melalui tulisannya, terlepas apakah kita memandang mereka melakukan itu karena afiliasi politik mereka atau karena isu-isu itu memancing kepedulian mereka.

Intinya, mereka ingin mendorong perubahan pada organisasi dan negaranya agar menjadi lebih baik.  Karenanya, mereka para birokrat ini juga kaum intelektual karena mereka berani terus mendorong perubahan melalui tulisan-tulisannya.

Karena itu, masihlah relevan memperhatikan peringatan Pram. Kita mestinya tidak ingin mengulangi kesalahan dengan memandang orang lain lebih pintar atau lebih bodoh dari kita.

Kita sebagai birokrat adalah juga kaum intelektual. Untuk itu, kita para birokrat harus terus menulis agar dapat mendorong perubahan dan tidak hilang dari catatan sejarah.

Selamat menulis di Pergerakan Birokrat Menulis!

 

 

0

0
error: