Budaya Bernalar dalam Pendidikan

Budaya Bernalar dalam Pendidikan

Tulisan ini merupakan resensi dari buku yang berjudul “Kasmaran Berilmu Pengetahuan yang ditulis oleh Iwan Pranoto dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, pada tahun 2019.

Budaya bernalar adalah budaya yang menempatkan dan menghargai akal sedemikian rupa sehingga pembelajar memiliki kemerdekaan untuk mengembangkan akalnya. Dalam sistem pendidikan kita, penerapan budaya ini dinilai masih jauh dari seharusnya. Diperlukan usaha, kerelaan, dan niat bersama untuk mengembangkannya.

Upaya bersama itu dibutuhkan terutama karena pendidikan menyangkut berbagai hal mendasar dalam kebudayaan. Pendidikan adalah oksigen yang dibutuhkan oleh kebudayaan.

Pun sebaliknya, kebudayaan mewarnai pendidikan dalam berbagai aspeknya. Pendidikan menyediakan perangkat pemahaman untuk mendisiplinkan peserta didik sesuai dengan nilai dan norma yang menjadi panduan.

Namun, perangkat canggih yang disesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan perkembangan tersebut akan kehilangan daya dukung terbesarnya jika tidak ada ekosistem budaya yang menopangnya.

Nilai strategis pendidikan dan daya dukung  krusial pendidikan adalah kesatuan yang saling mendukung. Keduanya direkatkan oleh pentingnya hal mendasar, yakni  kebernalaran.

Buku ini mengajak pembaca dan semua pihak untuk merayakan dan “menjuarakan”, demikian istilah yang dipakai penulis buku ini, kemampuan bernalar sebagai esensi dan daya gerak hakiki pendidikan.

Kemerdekaan bernalar menempati posisi yang sangat  penting dalam keseluruhan makna buku ini. Kemerdekaan bernalar pada anak akan ikut menentukan wujud masa depan bangsa ini bergerak.

Kemerdekaan ini mendesak untuk diwujudkan dalam lingkungan belajar. Saat ini informasi dan perkembangan kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya HOTS (high order thinking skills) sudah jamak diketahui. Berbagai langkah penguatan dan penguasaan HOTS juga dilakukan pemerintah.

Dinamika ini selaras dengan tuntutan perkembangan yang menuntut siswa mampu berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif.  Namun demikian, dibutuhkan strategi agar lingkungan merdeka dapat terwujud dalam pengajaran.

Berbagai dokumen dan regulasi standar pengajaran sudah ada, tetapi ini masih berfokus pada prosedur administrasi mengajar, hingga guru kerap merasa tersandera dengan dokumen dan administrasi. Kondisi ini menjauhkan siswa dari inti pembelajaran, yakni dalam merawat kemerdekaan berpikir.

Dalam kaitan ini, penulis buku mengangkat pengalaman Kiran Bir Sethi di India dengan metode Design Thinkingnya. Anak, bagi Kiran, harus selalu hidup dengan mimpi dan angannya, anak tidak boleh mengimani kecil hati dan ketidakpercayaan diri.

Kiran dan buku ini menyebutnya ketidakbecusan. Maka, Kiran menekankan pentingnya semangat “aku becus”, yakni sebuah semangat yang menekankan pentingnya kepercayaan diri pada anak untuk menyelesaikan masalah dengan pemikirannya sendiri.

“Aku becus” ditempuh dengan, pertama, kelompok anak menentukan masalah di lingkungannya yang mereka rasa perlu untuk diselesaikan. Seterusnya, mereka diberi keleluasaan untuk mengkhayalkan kemungkinan jawaban untuk permasalahan tersebut.

Sesudah dirasa matang, mereka mewujudkan khayalan tadi dalam serangkaian uji coba. Cerita usaha anak-anak hingga hasil yang dicapai mereka ini dipersilahkan untuk dibagikan ke media oleh mereka sendiri.

Ide deliberatif seperti ini dalam beberapa hal sejalan dengan semangat ‘Merdeka Belajar’ yang digaungkan sejauh ini oleh pemerintah.

Dikedepankannya proses asesmen berdasar sistem penilaian  yang lebih utuh dan personal pada siswa, peringkasan 20 hal Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjadi 1 halaman, dan upaya penguatan fleksibilitas zonasi adalah bagian dari upaya untuk memperbaiki sistem yang sudah ada.

Dengan sistem penilaian yang yang lebih personal dan utuh, evaluasi terhadap capaian siswa bisa lebih mendasarkan diri pada realitas yang ada. Inilah peluang baik untuk menjalankan pendekatan budaya bernalar.

Melalui budaya tersebut, di satu sisi, siswa diberi keleluasaan untuk mengekspresikan personalitasnya. Sedangkan di sisi lain,  lembaga pendidikan diberi kewenangan yang maksimal dalam menjalankan fungsi dan perannya dalam memberi bimbingan dan pengajaran kepada siswa.    

Ditulis oleh Guru Besar Matematika di ITB (Institut Teknologi Bandung), buku ini tidak lantas kehilangan fokus dan perspektif utuh tentang pendidikan. Mengawali buku dengan pertanyaan seputar perspektif eksakta, buku ini membawa  dan mengalirkan persoalan-persoalan pendidikan hingga menyentuh berbagai hal.

Pendidikan, misalnya, dianggap gagal dalam membangun perspektif makna kejuangan yang hakiki dan toleran dalam arti sebenarnya (hal. 28), contohnya dalam pendidikan sejarah.

Dalam pelajaran sejarah, siswa dari dini dijejali pemahaman yang monolitik bahwa “kami benar mutlak, liyan salah mutlak”, secara sistematis dan formal. Pemahaman siswa tentang patriotisme akhirnya tumbuh dalam daya benci, kejuangan hasil indoktrinasi, bukan hasil proses bernalar.

Pelajaran sejarah tidak memberi ruang yang cukup untuk membangkitkan daya kritis siswa, hingga informasi dan pengetahuan yang tidak tunggal dan monolitik itu tidak tersampaikan.

Kisah Rahmat Shigeru Ono, tentara  Jepang yang membelot ke Indonesia hingga akhir hayatnya tahun kemarin, tidak menjadi bahan kajian di kelas. Padahal, kisah semacam ini bisa menjadi bahan menarik untuk diskusi yang mengedepankan nalar kritis dan sudut beragam.   

Penulis buku ini memberi banyak contoh dalam berbagai mata pelajaran lain yang tidak memberi peluang kebernalaran siswa. Pada akhirnya, buku ini melihat sudah saatnya pendidikan sebaiknya menjadi lahan subur bagi segala kebaikan bertumbuh dalam kelas.

Budaya bernalar dengan bersikap kritis, meragukan dan mengajukan pertanyaan kritis, dan mendialogkan apa yang dipahami, perlu diberikan ruang lebih luas. 

3
0
Berani Tidak Disukai:  Adler dan Obat Kekacauan Dosis Tinggi

Berani Tidak Disukai: Adler dan Obat Kekacauan Dosis Tinggi

Saya selalu merasakan sedikit kegelian ketika mendapati status sahabat atau kenalan yang mem-posting aktivitas hariannya di media sosial. Sebut saja sepasang suami istri yang sedang memasak bersama di dapur – mencoba beberapa resep baru dari Youtube, seorang istri yang menyiapkan pakaian dan sarapan untuk suaminya sebelum bekerja, atau seorang mahasiswi sedang sarapan lontong sayur sehabis lari pagi bersama keluarga atau kekasih. Mereka mengakhiri posting-annya dengan tagar #bahagiaitusederhana. Saya kemudian tergoda untuk bertanya, kira-kira bagian manakah yang membuat mereka meyakini bahwa kebahagiaan itu sederhana. Apakah karena aktifitasnya itu sendiri atau bahagia dengan posting-annya? Benarkah kebahagiaan bisa sesederhana itu?

Namun, kegelian itu mendadak berubah menjadi keyakinan setelah saya menamatkan beberapa kali buku The Courage to be Disliked atau Berani Tidak Disukai (2019) karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Meski dengan pemahaman yang belum benar-benar sempurna, saya perlahan-lahan mulai mendapatkan alasan paling masuk akal mengapa sahabat dan kenalan saya tersebut begitu percaya diri dengan tagarnya. Saya juga yakin kalau mereka lebih dulu menamatkan buku ini.

Dialog Naratif Filsuf dan Seorang Pemuda

Berani tidak disukai adalah sebuah buku tentang dialog naratif lima malam antara seorang filsuf yang meyakini bahwa dunia ini sederhana – sehingga kebahagiaan dapat diraih sekejap mata, dengan seorang pemuda yang merasa tidak puas dengan hidupnya – memandang dunia ini sebagai gumpalan kontradiksi sehingga gagasan apapun tentang kebahagiaan adalah hal yang tidak masuk akal baginya.

Dialog dua karakter pada buku ini berlangsung seperti dialog Socrates dengan murid-muridnya. Sang filsuf tidak berlagak seperti guru dogmatis yang terburu-buru untuk menghantarkan jawaban dan kepastian sebuah pemahman kepada sang pemuda. Sebagai gantinya dia memberikan ruang yang lebar dan terbuka sehingga pemuda tersebut sampai pada jawaban yang ingin dia cari melalui usahanya sendiri.

Sang pemuda juga tidak berlagak seperti murid (atau bawahan) baik-baik yang merasa “membantah” bukanlah sikap pelanggaran terhadap etika. Alih-alih, ia lebih menyerupai kaum Bani Israil yang terus mengganti pernyataan atau perintah Musa dengan pertanyaan, berulang-ulang.

Mempertanyakan adalah energi terbesar anak muda ini ketika berusaha menuntaskan lima malam dengan puluhan kebingungan. Bahkan tak jarang pertanyaan-pertanyaan tersebut acapkali terasa berlebihan. Namun, bukankah di dalam dialog-dialog Plato, Socrates mendapatkan kelakuan dan bahasa muridnya agak terlalu bebas, yang justru membuat murid-muridnya menjadi filsuf yang lebih besar dari dirinya sendiri?

Pengantar Teori Psikologi Adler

Terlepas dari persoalan dialog, sebenarnya, buku ini tak lebih dari sebuah pengantar (yang asyik) terhadap Teori Psikologi Alfred Adler. Meski tidak mudah untuk memahami Teori Psikologi Adler, setidaknya diaog naratif ini lebih enak dikonsumsi daripada buku teori akademis yang hanya ada ada di lemari perpustakaan kampus.

Konon, seseorang butuh setengah dari usianya untuk bisa benar-benar memahami Teori Psikologi Adler ini. Karena saya sudah 36 tahun saat ini, maka setidaknya butuh waktu lebih kurang 18 tahun untuk bisa benar-benar memahami dan menerapkan teori ini dengan sepenuhnya.

Itu artinya saya harus kembali memakai seragam putih merah, putih biru, dan putih abu-abu saya hanya untuk mempelajari satu bidang studi, Psikologi Adler. Anda bisa bayangkan betapa butuh waktu lama untuk menjadi seorang expert.

Alfred Adler adalah tokoh penting di dunia psikologi (selain Sigmund Freud dan Carl Jung). Ia merupakan salah satu anggota inti asli Masyarakat Psikoanalisis Vienna, yang saat itu dipimpin  oleh Freud. Gagasannya bertolak belakang dengan Freud, sehingga dia memisahkan diri dari kelompok tersebut dan mengusulkan teori “psikologi individual” yang berbasis pada teori orisinalnya sendiri.

Harus diakui bahwa saya baru mengetahui nama Alfred Adler setelah baca buku yang katanya sudah terjual lebih dari 3,5 juta eksemplar ini. Saya bahkan tidak memiliki referensi apapun tentang psikolog yang oleh Dale Carnegie digambarkan sebagai “psikolog besar yang mengabdikan hidupnya untuk meneliti manusia dan kemampuan terpendam mereka”.

Selama ini saya hanya mengenal Freud dan Jung di kelas kritik sastra ketika mempelajari Psikoanalisis di bangku kuliah dulu. Saya rasa saya harus mempertanyakan lagi nilai A yang saya dapat oleh karena nihilnya pengetahuan saya terhadap psikolog ini.

Meskipun ilmu psikologi pada intinya cenderung dikaitkan dengan Freud dan Jung, bukan berarti Adler tidak dihormati di seluruh dunia. Konon, gagasan-gagasan Adler lebih orisinal dan inovatif sehingga dikatakan lebih maju ratusan tahun dari masanya. Bahkan hari ini kita belum sungguh-sungguh berhasil memahaminya dengan sempurna.

Konsep-konsep Psikologi Baru

Pertama: Teleologi

Ada begitu banyak konsep psikologi baru yang bisa kita dapatkan dari buku 323 halaman ini. Setidaknya ada empat konsep elementer yang bisa ditarik dari buku ini.

Pertama, konsep “selalu ada sebab sebelum akibat” menjadi tidak berarti di sini. Teori psikologi Adler tidak menganggap penting masa lalu. Bagi Adler, kalau kita berfokus hanya pada sebab-sebab di masa lalu dan mencoba menjelaskan berbagai hal semata-mata melalui hubungan sebab akibat, akhirnya kita akan tiba pada “determinisme”.

Yang dinyatakan adalah bahwa masa kini dan masa depan kita sudah diputuskan oleh kejadian-kejadian di masa lalu, dan tidak dapat diubah. Sebagai gantinya, teori psikologi Adler tidak memikirkan “sebab” yang sudah lewat, tapi “tujuan” saat ini. Adler memberi istilahnya dengan teleologi. Teleologi adalah ilmu yang mempelajari tujuan dari suatu fenomena tertentu, ketimbang penyebabnya.

Dalam teleologi, kita tidak ditentukan oleh pengalaman kita, tetapi arti yang kita berikan pada pengalaman-pengalaman itu menentukan dengan sendirinya. Dengan kata lain, kita mengartikan pengalaman-pengalaman sesuai dengan tujuan kita serta makna yang kita berikan padanya.

Jika konsep ini masih menyisakan kebingungan, ada satu contoh yang mempermudah untuk memahami. Suatu hari, seorang ibu dan anak perempuannya bertengkar dengan suara nyaring. Lalu tiba-tiba telepon berbunyi.

“Halo?”

Sang ibu berbegas mengangkat gagang telepon., Suaranya masih kental dengan amarah. Sang penelepon adalah wali kelas putrinya. Segera setelah ibu menyadari itu, nada suaranya berubah menjadi sangat sopan. Lalu, selama kurang lebih lima menit berikutnya, dia melanjutkan percakapan dengan nada suara terbaiknya. Begitu menutup telepon, ekspresinya berubah dan dia langsung berteriak lagi pada putrinya.

Bagi Adler, amarah adalah alat yang bisa dikeluarkan saat diperlukan. Amarah bisa dikesampingkan ketika telepon berbunyi, dan dikeluarkan lagi setelah seseorang menutup telepon. Sang ibu tadi tidak berteriak dengan amarah yang tidak dapat dikendalikan, apapun alasannya. Dia hanya menggunakan amarah dengan suara nyaring untuk menaklukkan putrinya, dengan demikian menegaskan pendapatnya. Amarah adalah alat atau cara untuk meraih tujuan.

Kedua: Gaya Hidup

Adler lebih memilih menggunakan istilah “gaya hidup” alih-alih menggunakan konsep kepribadian atau watak. Gaya hidup di sini adalah kecenderungan berfikir atau bertindak di dalam kehidupan. Jika diartikan lebih luas, adalah konsep yang mencakup pandangan seseorang tentang dunia ini dan kehidupan.

Bagi Adler, kata kepribadian memiliki nuansa makna yang memberi kesan tidak dapat berubah. Tapi, kalau bicara tentang pandangan kita terhadap dunia itu seharusnya bisa dirubah. Contohnya, Adler tidak menggunakan istilah “Saya seorang pesimis”, namun “Saya memiliki pandangan yang pesismistis terhadap dunia ini.”

Ini artinya, seseorang berpotensi memilih kepribadiannya sesuai dengan kehendaknya sendiri. 

Bagi Adler, manusia bisa terus-menerus memilih gaya hidup mereka. Ini artinya, manusia berubah-ubah sewaktu-waktu, bahkan tanpa harus memandang lingkungannya. Manusia tidak bisa berubah hanya karena dia mengambil keputusan untuk tidak berubah.

Kondisi ini disebabkan karena manusia cenderung membiarkan keadaan apa adanya, melanjutkan hidup yang sudah dianggap praktis, sementara merubah gaya hidup hanya menyisakan ketidaknyamanan.

Ketiga: Hubungan Interpersonal

Segala persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Seseorang bisa bahagia atau sebaliknya, karena hubungan interpersonal. Seseorang bisa berada dalam kompleks inferioritas atau kompleks superioritas karena hubungan interpersonal. Inilah intisari dari teori Psikologi Adler.

Hanya dengan menjalani kehidupan seorang dirilah manusia benar-benar bisa menyingkirkan masalahnya. Hanya dengan menjadi orang satu-satunya di dunia yang menjadikan persoalan bernilai sekaligus tidak bernilai. Namun, tentu saja pemahaman ini tidak mungkin terjadi.

Makanya, bagi Adler, tidak ada masalah di luar hubungan interpersonal tadi. Memang terdengar ekstrem ketika menyatakan bahwa segala hal bermuara pada persoalan dalam hubungan interpersonal.

Konsep ini tentu saja seperti menyangkal masalah-masalah luhur kemanusiaan lainnya, seperti kekahawatiran terhadap persoalan ekonomi, politik, lingkungan, ataupun teknologi. Namun, Adler bersikukuh menyatakan bahwa tidak ada yang dinamakan kekhawatiran yang benar-benar didefenisikan oleh individu. Tidak ada kekhawatiran internal. Selalu ada bayang-bayang orang lain di balik setiap kekhawatiran yang mungkin timbul pada konteks apapun.

Selain itu, Adler juga menawarkan konsep lain yang terasa seperti metode untuk berdamai dengan diri sendiri. Misalnya, hidup bukanlah persaingan, manusia tidak harus terbelenggu dengan perasaan untuk diakui. Jangan hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, mengakui kesalahan bukan berarti kalah. Singkatnya, jika teori psikologi Adler bisa dianggap sebagi sebuah obat, maka dia adalah obat yang cukup keras.

Epilog

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, membaca teori psikologi Adler bukanlah pekerjaan yang instan. Saya acapkali merasa senasib dengan si pemuda, dengan perasaan kebingungan, kebimbangan, atau kekesalan yang sama. Akibatnya, saya harus memaksimalkan semua potensi otak dan daya jelajah pikiran untuk memahaminya.

Namun, kesukaran ini tidak membatalkan niat untuk memasukkan buku ini dalam 10 buku terbaik saya. Bagi para ASN yang bisa bertikai hanya karena tidak dilibatkan dalam project, ditikung karirnya karena tidak memiliki “orang dalam”, atau terus merasa dieksploitasi atasan, percayalah, buku ini sangat layak dijadikan koleksi dan dibaca berulang-ulang.

Ketika membuat tulisan ini saya sudah menamatkannya tiga kali dan masih saja berjuang untuk memahaminya dengan utuh. Saya tidak tahu apakah menurunnya kemampuan menyerap bacaan ini karena memang teori psikologi ini benar-benar rumit atau karena kemampuan membaca saya melemah setelah beberapa tahun ini lebih banyak membaca peraturan-peraturan produk pemerintah yang tebal dan menjemukan.

Akhir kata, selamat membaca!

4
0
Membaca Bunga Rampai Pendidikan Hafid Abbas

Membaca Bunga Rampai Pendidikan Hafid Abbas

Judul Buku            : Meluruskan Arah Pendidikan
Pengarang             : Hafid Abbas
Penerbit                 : Penerbit Buku Kompas (2019), ix + 173 hal.

Ditulis oleh guru besar bidang pendidikan, buku Meluruskan Arah Pendidikan (2019) ini kuat dalam memberikan perspektif dasar pendidikan. Diperkaya dengan wawasan dan pengalaman yang dilalui penulis, buku ini juga berisi tebaran best practices dari bermacam perkembangan dan masalah pendidikan.

Dalam konteks mengangkat isu pendidikan terkini, sesuai tema buku, berbagai tulisan dalam buku ini sudah memadai dalam beberapa hal,  hanya saja kurang untuk beberapa update. Namun demikian, dengan latar belakang selaku akademisi, birokrat, dan praktisi pendidikan sekaligus, Hafid Abbas piawai menghadirkan masalah dan isu pendidikan berdasarkan pengalamannya langsung di lapangan.

Abbas secara panjang lebar menjelaskan kegelisahannya tentang pendidikan nasional saat ini, mulai dari Ujian Nasional (h.17), guru (23), kurikulum (51-61), anggaran pendidikan (64), dan berbagai tema terkait lainnya. Cukup banyak tema yang diangkat, hingga menjadikan sudut pandang buku ini adalah semacam bunga rampai.

Isu yang Diangkat

Secara dimensi, buku ini tidak cukup tebal untuk ide dan masalah yang diangkat.  Hal lainnya, jika ada yang terasa belum begitu update dalam buku ini adalah bagaimana persinggungan pendidikan dengan perkembangan teknologi dan informasi terkini. Padahal, kita tahu persinggungan ini menjadi tema penting dan dominan dalam beberapa tahun terakhir.

Secara khusus, Abbas memberikan tekanan pada persoalan sertifikasi guru, anggaran pendidikan, dan diskursus perguruan tinggi dalam merespons tantangan pendidikan. Dalam konteks sertifikasi guru, misalnya, Abbas menilai bahwa dukungan pemerintah yang telah diberikan kepada para guru dalam bentuk pemberian tunjangan dan sertifikasi nyatanya tidak cukup memberi dampak positif dalam upaya peningkatan kapasitas dan profesionalisme mereka.

Dalam pandangan Abbas, guru lebih melihat pada materialitas tunjangan dan sertifikasi tersebut, dan, sayangnya, pada saat yang bersamaan pengelola policy lebih sering terjebak pada hal-hal administratif dalam menjalankan kebijakannya. Dengan kondisi dan sikap demikian, sertifikasi guru belum cukup memberi warna berbeda dibanding sebelum adanya sertifikasi.

Dalam konteks anggaran pendidikan, Abbas melihat bahwa ada masalah serius dalam proses penganggaran, pendanaan, dan pembiayaan pendidikan. Dengan alokasi 20 persen APBN –porsi yang sangat besar dibandingkan bidang lainnya, kualitas pendidikan nasional masih terhitung rendah dalam statistik pendidikan internasional. Terkait hal ini, salah satu yang mendapat sorotan tajam dari Abbas adalah peran perguruan tinggi yang dinilainya kurang fokus dan optimal dalam kebersamaan membangun pendidikan nasional.

Kondisi demikian membuat arah pendidikan nasional, dalam kritik Abbas, mengalami disorientasi serius. Jelas, kondisi ini menjadi tantangan besar dan mebutuhkan koreksi bersama menuju arah yang lurus dan benar. 

 

Menjauhkan Pendidikan Dari Kepentingan Sektoral

Yang menarik dalam buku ini di antaranya adalah sikap kritis Abbas tentang pengeloaan pendidikan nasional dari sudut pelakunya. Pelaku dalam hal ini adalah insan dan pejabat yang mendapat amanat untuk menukangi kebijakan.

Bagi Abbas, pengelolaan pendidikan haruslah diserahkan pada orang yang berkompeten. Memakai cara pandang pemikir Pendidikan Paolo Freire, Pendidikan hanya akan berjalan dengan semestinya jika dipegang dan dikelola oleh orang yang memang berkompeten untuk itu, diterima semua kalangan yang terlibat, dan karenanya bukan hanya soal dominasi kalangan tertentu.

Pada sekitar tujuh dekade lampau, Freire sudah merisaukan bahwa sumber kesenjangan sosial, keterbelakangan, dan kemiskinan, adalah kesalahan dalam mengelola pendidikan (h.142). Freire tegas menolak keterlibatan dan intervensi kepentingan politik dalam pendidikan karena akan menjauhkan pendidikan dari proses penyadaran fundamental dan terisolasi dari kehidupan nyata yang dihadapi masyarakat. 

Dalam pandangan dan kritik lebih lanjutnya, Hafid Abbas lantang mengatakan persoalan pengelolaan pendidikan bukanlah persoalan tentang NU atau Muhammadiyah! (h.145)

Problem dan solusi pendidikan bukan dihadirkan dengan kepentingan sesaat yang diwakili kelompok tertentu dan mengabaikan lainnya. Nilai dasar pengelolaan pendidikan  adalah mengenai profesionalisme dan kapasitas insan pengelolanya, demi memajukan pembangunan pendidikan itu sendiri.

Abbas menekankan sudut pandang ini dengan menyertakan rekomendasi tentang Guru dari ILO-Unesco tahun 1966 yang menyatakan bahwa semua jabatan di dunia pendidikan (kepala sekolah, guru, penilik, kepala dinas, hingga menteri) adalah bagi mereka yang mengerti pendidikan dan guru.

Dalam konteks ini, nilai dasar yang disuarakan oleh Abbas adalah bagaimana menghentikan pendidikan sebagai alat kepentingan politik, golongan, dan individu. Pendidikan harus tampil sebagai garda terdepan dalam pembangunan bangsa dan negara dengan mengedepankan profesionalitas dan kapabilitas dalam mengelolanya.

Sebagai catatan, buku ini mengalami sedikit masalah dalam membingkai ritme tulisan yang ada di dalamnya. Karir akademik penulis banyak dihabiskan di UNJ hingga menjadi Wakil Rektor, eselon I di Kemenkumham, menjadi Ketua Komnas HAM, dan berbagai jabatan profesional terkait pendidikan dan literasi di luar negeri. 

Sehingga, mengikuti karir dan profesi penulisnya, buku ini agak “larut” dalam menjelaskan tentang masalah pendidikan nasional dikaitkan dengan persoalan HAM, misalnya. Pendidikan tentang HAM tentu penting, tapi tiadanya pembahasan tentang tantangan teknologi dan informasi pada saat yang bersamaan tentu meninggalkan masalah tentang linkage dan konteks kekinian.

Epilog

Bukan untuk membandingkan kualitas cara pandang dan perspektif pemikiran, namun buku ini tidak sekuat kumpulan tulisan alm Dawan Rahardjo dkk., Keluar dari Kemelut Pendidikan Nasional (1997), misalnya.

Buku yang ditulis belasan tahun yang lalu itu hadir dengan dimensi yang lebih utuh dan lengkap sebagai perspektif dengan telaah filosofis, pedagogis, dan praksis lapangan.  Buku ini sudah mengidentifikasi bahwa persoalan globalitas, teknologi, dan pada akhirnya penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) akan menjadi tema sentral. Kelak kemudian hari, tema-tema itu terbukti menjadi perhatian serius pemerintahan Jokowi saat ini.   

Namun, sekali lagi, walaupun ritme seperti itu menjadi sedikit kekurangan, buku ini tetap menawarkan diri menjadi bahan bacaan konstruktif dalam upaya memikirkan dan membangun solusi atas masalah dan kritik pendidikan yang diajukan dalam buku ini.  

2
0
Pengalaman Haji Seorang Auditor

Pengalaman Haji Seorang Auditor

Haji  adalah  ibadah  yang  memerlukan  pelibatan  semua  aspek  yang dimiliki oleh orang Islam,  mulai dari kekuatan fisik, finansial dan psikis.  Jika ketiga aspek ini tidak dimiliki oleh seorang muslim, maka ibadah ini tidak dapat dilaksanakan.

Ibadah  haji  merupakan  rukun Islam  kelima yang sarat dengan makna dan spiritualitas.  Haji juga merupakan ibadah yang supra monumental dalam kehidupan umat Islam. Banyak pengalaman spiritual yang dialami oleh orang Islam sebagaimana  yang sering  kita dengar langsung dari cerita atau kisah orang Islam yang  selesai  menunaikan ibadah  haji.

Tentu  pengalaman  yang dialami   oleh   seseorang   akan   berbeda   dengan lainnya.   Aneka   ragam pengalaman  spiritual  yang dialami oleh seorang dalam  melaksanakan ibadah haji tentu dapat menjadi sebuah ibrah (pelajaran) yang sangat berharga sedemikian rupa sehingga mampu mengasah keimanan dan ketakwaan seseorang serta dapat menentukan pelestarian  “kemabruran  haji” dalam konteks relegiusitas dan perilaku etik-sosial.

Dengan meminjam istilah Ali  Syari’ati  dalam  bukunya: “Hajj :  Reflection on its Rituals” menyatakan bahwa haji adalah “sebuah simbol”, bagaikan samudera  tak  bertepi,  yang  sarat  dengan   makna  spiritual  yang  sangat mendalam di balik ritual simboliknya, semakin  mendalam  engkau  menyelami lautan  ini,  maka semakin jauh engkau berada dari tepiannya.

Prosesi Thawaf, Sa’i, Wukuf di  Arafah,  Mabit di Musdzalifah dan Mina, serta lempar jamarat misalnya, semuanya  tidak hanya sekedar gerakan atau amalan yang hampa, tetapi hakekatnya adalah simbol yang memiliki makna spiritual yang mendalam. Belum lagi ditambah dengan pengalaman spritual seseorang dalam melaksanakannya yang tentu memiliki arti tersendiri dalam diri seseorang.

Buku “Pengalaman  Haji Seorang Auditor” ini adalah salah satu dari contoh pengalaman spirutualitas  yang  dialami  oleh  sang penulis, H. Sumitro, di  sela-sela  pelaksanaan  prosesi ibadah  haji,  bahkan  sejak dimulai  dari  niat yang kuat dan  bulat dari  penulis untuk menunaikan ibadah haji.

Oleh karena itu, aspek spiritualitas yang terkandung dalam pengalaman pribadi penulis yang begitu menorehkan kenangan manis dan indah  tentu  sangat  menarik  untuk  dibaca  dan  dinikmati.  Sudah barang tentu, yang diharapkan tidak hanya sekedar membaca dan menikmati, tetapi lebih  dari itu,  yang lebih  penting adalah menemukan dimensi atau sisi-sisi spiritualitas  yang dapat dijadikan sebagai titik balik memaknai spiritulitas haji dengan segala ritualnya.

Dengan demikian, kita akan merasakan betapa nikmatnya sebuah ajaran agama Islam yang dilakukan di tanah suci, di tempat dan di waktu-waktu mustajabah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata apapun.

 

Sinopsis ini adalah cuplikan dari kata pengantar buku, oleh Prof. Dr. H. Nizar Ali, M. Ag. (Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada Kementerian Agama Republik Indonesia).

 

Penerbit: Samudera Biru, Yogyakarta.

Harga buku; Rp 75.000

Pemesanan hubungi: Rani (089656446031)

 

 

 

1

0
Menantang Kemampuan Manusia Dengan Ketabahan

Menantang Kemampuan Manusia Dengan Ketabahan

Artikel ini merupakan resensi dari sebuah buku yang berjudul: “Grit: Kekuatan Passion dan Kegigihan”, yang ditulis oleh Angela Duckworth dan diterjemahkan oleh Fairano Ilyas. Buku ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018.

Prolog

Orang bijak berkata bahwa manusia dilahirkan setara. Lalu mengapa ada orang yang bergelimang prestasi, sementara yang lain terpuruk dalam kegagalan? Untuk menjawab pertanyaan itu seringkali kita rawan terjebak pada naluri primitif, yaitu menyalahkan kepemilikan bakat alami.

Artinya, kita sama saja mengatakan bahwa sukses tidaknya seseorang sudah ditentukan sejak lahir oleh Tuhan. Apabila nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan, lalu untuk apa manusia berusaha dan bekerja keras? Betapa fatalisnya pendapat itu. Angela Duckworth menentang pemikiran semacam itu.

Meruntuhkan Mitos Bakat Alami Manusia

Dalam bukunya berjudul “Grit: Kekuatan Passion dan Kegigihan”, Duckworth menyarankan agar kita membuang jauh keyakinan bahwa bakat alami merupakan penentu utama kesuksesan manusia. Duckworth menyitir Nietzsche bahwa keyakinan tentang bakat alami manusia super itu tidak lain adalah sihir yang menipu kita.

Duckworth memaklumi jamaknya orang yang percaya pada mitos bakat alami. Ini lantaran orang sukses jarang menampilkan perjuangan-perjuangannya dalam meraih prestasi.

Akhirnya para penonton melihatnya sebagai manusia super yang terlahir berbakat dan sukses. Ibarat kita sedang melihat Lionel Messi menggiring bola dan bergumam, “Ia sungguh berbakat, ia adalah alien”. Pada saat yang sama kita mengesampingkan porsi latihan yang telah dilalui Messi.

Keyakinan tentang bakat alami berbahaya bagi orang yang merasa dirinya berbakat, begitupun bagi orang yang merasa dirinya kurang berbakat.

Bagi orang yang merasa dirinya berbakat, keyakinan tentang bakat alami akan membuatnya sombong. Ia akan terlena sehingga malas berlatih untuk memelihara bakatnya itu.

Sedangkan bagi orang yang merasa dirinya kurang berbakat, keyakinan tentang bakat alami akan membuat dirinya minder dan pesimis. Akhirnya tidak ada semangat lagi untuk terus mengasah ketrampilan.

Duckworth percaya bahwa keyakinan tentang bakat alami merupakan bibit dari suatu kegagalan. Oleh karena itu sejak awal buku ini tampak jelas bahwa Duckworth ingin sekali meruntuhkan mitos tersebut.

Lalu apa tawaran Duckworth? Bagi Duckworth, keberhasilan sangat ditentukan oleh grit atau ketabahan. Seseorang yang tabah adalah orang yang mampu mempertahankan hasratnya pada bidang kegiatan tertentu meskipun ia gagal berkali-kali.

Orang yang tabah tidak pernah menghindari kegagalan, melainkan ia punya kemampuan mengendalikan diri ketika kegagalan itu datang. Orang yang tabah adalah orang yang mau terus berlatih demi hasratnya untuk meraih cita-cita jangka panjang.

Bagaimana Mempertahankan Hasrat?

Hasrat bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil dari suatu proses sosial. Dengan demikian hasrat harus terus dipupuk agar tetap menyala dalam jiwa manusia. Menurut Duckworth, cara memupuk hasrat bisa dilakukan dengan 6 hal.

Pertama, mengenali minat. Kita harus mencoba berbagai macam kegiatan untuk mengenali minat kita. Setelah minat itu ditemukan, kita harus meneguhkan niat untuk mencapai prestasi tinggi di bidang tersebut.

Kedua, latihan terencana. Kita tidak akan berprestasi tanpa menerapkan latihan yang terencana dan konsisten. Latihan terencana dirancang untuk mangasah ketrampilan setiap hari. Latihan terencana dapat meningkatkan kemampuan kita pada bidang minat tertentu.

Ketiga, meredefinisi tujuan. Sebuah tujuan yang baik dapat memupuk hasrat kita dalam menggeluti minat tertentu. Duckworth menyarankan agar tujuan kita bermakna luas. Artinya tujuan tidak hanya untuk memuaskan diri sendiri, tetapi juga untuk memuaskan masyarakat luas.

Keempat, harapan. Kegagalan pasti menyakitkan. Namun hanya orang yang memiliki harapan yang mampu bangkit dari kegagalan.

Kelima, menentukan mentor atau pendamping. Dalam memperjuangkan sesuatu, manusia memerlukan masukkan dan dukungan. Seorang pendamping yang baik akan terus mengobarkan semangat pantang menyerah.

Keenam, berorganisasi. Organisasi adalah mesin sosial terbaik yang mampu menyatukan berbagai orang dalam sebuah semangat, tujuan, dan cita-cita. Berorganisasi dapat menjaga minat, mengobarkan naluri berkompetisi, dan semangat untuk terus berlatih.

Manfaat Ketabahan

Kobaran hasrat pada gilirannya akan menumbukan ketabahan dalam diri seseorang. Ketabahan menjadikan seseorang bekerja dan berlatih keras. Ketabahan membuat orang tertantang untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya.

Ketabahan memotivasi orang untuk berdiri bangkit kembali jika kegagalan datang mendera. Ketabahan membuat orang fokus pada suatu keterampilan. Ketabahan merupakan alasan mengapa orang mau berkorban demi cita-cita jangka panjang. Ketabahan adalah kunci kesuksesan.

Oleh karena itu Duckworth memperkenalkan konsep tentang Indeks Ketabahan. Indeks ini telah diuji coba pada berbagai institusi pendidikan dan perusahaan.

Indeks ini menjelaskan mengapa seseorang dapat menyelesaikan pendidikannya, sementara yang lain tidak. Indeks ini juga menjelaskan mengapa seseorang berprestasi tinggi, sedangkan yang lain terpuruk dalam kegagalan.

Duckworth berhasil membuktikan bahwa ketabahan tidak berhubungan dengan bakat alami—yang sering diasosiasikan dengan Intelegence Question (IQ).

Jika IQ menentukan prestasi, mengapa orang dengan IQ yang sama, bisa memiliki nasib yang berbeda? Atau mengapa orang dengan IQ rendah, bisa lebih berprestasi daripada orang yang punya IQ tinggi?

Dalam bukunya, Duckworth menyajikan banyak bukti ini. Beberapa orang yang kita kenal seperti ilmuwan Charles Darwin, CEO JP Morgan, pendiri Shopify, pendiri Amazon.com, ataupun aktor Will Smith. Mereka itu adalah para teladan ketabahan yang memiliki tingkat IQ biasa-biasa saja.

Epilog

Anda belum terlambat untuk memulai sebab ketabahan dapat dilatih. Duckworth berhasil meyakinkan pembaca bahwa modal bakat dan uang saja tidak cukup untuk mencapai sukses.

Lebih dari itu, kemampuan menghadapi tantangan, terus melakukan latihan, dan bangkit dari kegagalan adalah modal yang paling berharga. Ketabahan merupakan aset psikologis penting yang mengantarkan kita menuju prestasi.***

 

 

0

0
Resensi Buku Budaya Kinerja: Sebuah Upaya Revitalisasi Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik

Resensi Buku Budaya Kinerja: Sebuah Upaya Revitalisasi Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik

Percayakah Anda bahwa implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang efektif dapat memperbaiki karakter generasi muda?

Sebagaimana saya, Anda pun juga pasti merasakan kegalauan melihat potret generasi muda saat ini. Generasi masa kini yang sering juga disebut dengan anak zaman now dianggap sebagai generasi yang rapuh, mudah terombang-ambing, dan lebih senang membuang-buang waktu demi sekadar eksis di media sosial. Lebih parah lagi, anak-anak muda ini juga dianggap tidak memiliki karakter, sulit diajak untuk berfikir serius, dan masih ada sejumlah atribut negatif lainnya. Seburuk itu kah?

Jika ya, lalu di mana peran dunia pendidikan kita? Adakah sesuatu yang salah dengan strategi pendidikan generasi muda ini?

Buku yang ada di hadapan Anda saat ini hendak menawarkan sebuah strategi perbaikan kualitas pelayanan publik, termasuk dalam hal perbaikan karakter generasi muda, dengan melakukan revitalisasi SAKIP. Buku ini memberikan gambaran bagaimana implementasi SAKIP yang efektif turut berkontribusi dalam mewujudkan tujuan pembangunan, khususnya pada level pemerintahan daerah.

Sistem akuntabilitas kinerja selama ini lebih dianggap sebagai sebuah kewajiban formal dalam rangka penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP), yang saat ini berubah nama menjadi laporan kinerja. SAKIP sering dipandang sebelah mata baik oleh legislator maupun kepala daerah.

Dalam proses penyusunan anggaran, misalnya, fokus pembahasan lebih kepada deretan angka-angka, dari pada target kinerja yang ingin dicapai. Bagi tim penyusun, laporan kinerja juga sering dianggap sebagai beban.

Rendahnya perhatian terhadap SAKIP ini bisa jadi disebabkan karena kurangnya pemahaman atas potensi sistem akuntabilitas ini untuk perbaikan negeri. Padahal implementasi SAKIP yang efektif tak hanya bisa memperbaiki karakter anak zaman now, melainkan juga meningkatkan kesejahteraan petani, mewujudkan kenyamanan kota, mengurangi tingkat kerusakan lingkungan, serta menumbuhkan integritas penyelenggara negara.

Keterhubungan antara SAKIP dengan segenap potensinya untuk memecahkan permasalahan negeri ini sering kali tidak dikenali. Beberapa pertanyaan berikut, sering tidak menjadi fokus perhatian dalam membangun sistem akuntabilitas ini: Bagaimana SAKIP dapat mengurangi tingkat kecelakaan yang disebabkan oleh banyaknya anak-anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor. Bagaimana SAKIP dapat mengurangi kecanduan anak-anak terhadap gawai. Adakah hubungan implementasi SAKIP dengan sikap masyarakat yang kini dianggap makin intoleran?

Kontribusi SAKIP pada pemecahan masalah-masalah di atas sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh cara pandang kita terhadapnya. Jika SAKIP hanya dipandang semata sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sub-sub sistem, dari dokumen perencanaan hingga laporan kinerja, maka dampak implementasi SAKIP terhadap pemecahan masalah di atas tidak akan terlihat. Oleh karena itu, SAKIP seharusnya dipandang sebagai falsafah organisasi yang menggerakkan seluruh anggota organisasi untuk mencapai tujuan. Untuk itu, perlu dibangun suatu kultur atau budaya yang berorientasi pada kinerja, atau biasa disebut sebagai performance-driven culture.

Inti dari performance-driven culture adalah bagaimana melibatkan seluruh pegawai dalam proses perbaikan kinerja. Sistem akuntabilitas kinerja hendaknya juga harus mengedepankan aspek pembelajaran atau learning, bukan pemberian sanksi atas ketidakberhasilan pencapaian target kinerja. Iklim dialogis yang sehat harus dibangun oleh pimpinan agar informasi kinerja menjadi topik bahasan sehari-hari yang dapat mendorong kreativitas dan inovasi pegawai.

Buku revitalisasi SAKIP ini merupakan adaptasi dari disertasi saya yang berjudul: The Use of Performance Information by Local Government Managers: Indonesian Case Studies. Buku ini merupakan adaptasi, bukan terjemahan dari disertasi tersebut. Sebagian besar gagasan yang tertuang dalam buku ini merupakan findings atau temuan saat melakukan penelitian pada tiga organisasi perangkat daerah (OPD) pada dua pemerintah daerah (pemda) di Indonesia.

Kajian literatur yang mendalam selama saya menjadi mahasiswa doktoral juga memberikan banyak inspirasi tentang penerapan manajemen kinerja yang efektif di beberapa negara. Findings hasil penelitian serta kajian literature tersebut kemudian dianalisis kembali dan diterjemahkan dalam bahasa yang segar, agar memudahkan pemahaman bagi para praktisi untuk melakukan revitalisasi sistem akuntabilitas kinerja di unit kerja masing-masing.

Buku revitalisasi SAKIP ini terdiri dari enam bagian. Sebagai pembuka, bagian pertama akan membahas perkembangan implementasi atas pemanfaatan informasi kinerja di beberapa negara. Di Indonesia pemanfaatan informasi kinerja mengejawantah dalam SAKIP. Beberapa pertanyaan yang dapat dijawab dalam bagian pertama ini di antaranya adalah: Sejauh mana tingkat kematangan penerapan SAKIP di negara-negara maju? Apakah mereka juga mengalami masalah yang sama dengan apa yang dihadapi instansi pemerintah di Indonesia? Apa saja kah permasalahan yang dihadapi sehingga hasi evaluasi SAKIP pada tingkat pemerintah daerah di negeri kita menunjukkan hasil yang masih jauh dari harapan?

Pada bagian kedua Anda akan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana membangun budaya organisasi yang berorientasi pada kinerja. Studi kasus di beberapa negara terkait membangun budaya organisasi akan di paparkan pada bagian ini sebagai referensi agar SAKIP dapat memberikan efek yang lebih dahsyat. Termasuk dalam hal ini adalah langkah-langkah yang ditempuh menuju organisasi yang berorientasi pada kinerja.

Pemahaman tentang bagaimana menjadikan SAKIP sebagai falsafah hidup membawa konsekuensi terhadap strategi fasilitasi yang tidak sekedar berfokus pada penyusunan dokumen, tapi bagaimana menghidupkan sebuah sistem. Menindaklanjuti hal ini, Kementerian PANRB perlu menyusun strategi agar perubahan signifikan dalam perbaikan kualitas pelayanan publik dapat dicapai melalui implementasi SAKIP yang efektif. Apa saja strategi yang bisa ditempuh? Jawabannya akan dapat Anda temukan di bagian kedua dari buku ini.

Selanjutnya, efektifitas SAKIP dalam peningkatan kinerja instansi pemerintah juga dipengaruhi oleh peran para pemangku kepentingan. Bagian tiga akan menjelaskan tentang peran tersebut dalam kaitannya dengan konsep modal sosial yang juga dipercaya sebagai salah satu faktor keberhasilan pembangunan daerah. Masyarakat, legislator, LSM serta media memiliki peran yang besar dalam mendorong pemerintah daerah dalam meningkatkan kinerja instansi pemerintah. Untuk itu, membangun hubungan yang kuat dengan para pemangku kepentingan, termasuk dalam lingkup internal, menjadi hal yang tak bisa dinafikan. Ulasan tentang pentingnya membangun modal sosial internal, modal sosial masyarakat, serta modal sosial dalam keluarga yang sangat berpengaruh terhadap kinerja akan Anda dapatkan pada bagian ini.

Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang modal sosial, contoh nyata juga akan dipaparkan dalam bagian ini. Menurut Coleman (1988) hubungan antara orang tua dan anak sangat menentukan prestasi anak di sekolah. Coleman mengambil contoh John Stuart Mill yang dididik oleh ayahnya secara langsung untuk menggambarkan bagaimana modal sosial yang terbangun mampu membentuk kapasitas intelektual anak.

Dalam konteks SAKIP, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah menyadari pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Hal ini terlihat dari salah satu target kinerja yang ingin dicapai, yaitu meningkatkan jumlah keluarga yang terlibat dalam pendidikan anak. Semakin kuat modal sosial yang terbangun dari aktivitas interaksi orang tua dan anak akan semakin besar kontribusinya terhadap pencapaian kinerja Kemendikbud.

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia salah satunya juga disebabkan karena masih minimnya infrastruktur dan fasilitas yang mendukung pembelajaran. Target Standar Pelayanan Minimal (SPM) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat bagi banyak pemda. Mobilisasi modal sosial masyarakat dapat menjadi salah satu strategi percepatan pencapaian SPM. Penjelasan akan hal ini dapat Anda dapatkan pada tulisan yang berjudul Modal Sosial Keluarga dan Peran Masyarakat dalam Peningkatan Kinerja. Mengintegrasikan modal sosial dalam implementasi SAKIP dapat turut berkontribusi dalam mengatasi problematika kids zaman now sebagaimanan disinggung pada paragraf awal dalam tulisan ini.

Pada bagian keempat, Anda akan mendapati bagaimana membangun kesadaran birokrat dengan mendayagunakan SAKIP. Tulisan pertama pada bagian ini menegaskan pentingnya menetapkan IKU yang tepat dalam meningkatkan kapasitas birokrat. Hasil riset terkait pemanfaatan intangible asset, i.e. sumberdaya manusia, sering mengabaikan peran pegawai dalam penyusunan strategi. Bahkan, aspek SDM ini sering terlewatkan dalam penetapan indikator kinerja. Padahal, menetapkan indikator kinerja yang tepat terkait kapabilitas SDM memberikan landasan yang kuat dalam perbaikan kualitas layanan.

Tulisan kedua dalam bagian dua ini akan memberikan contoh nyata, berdasarkan pengalaman saya, bagaimana indikator kinerja dapat berpengaruh terhadap kapabilitas pegawai hingga kemudian berdampak pada kualitas layanan yang diberikan. Dalam hal ini, penetapan IKU yang tepat harus dibarengi dengan strategi penetapan kegiatan yang relevan agar dapat memberikan dampak terhadap kualitas layanan.

Teknologi Informasi ternyata juga memegang peranan penting dalam upaya peningkatan kinerja. Dalam implementasi SAKIP, teknologi informasi juga dibutuhkan agar memberikan manfaat yang maksimal. Pada bagian ke lima, Anda akan mendapati bagaimana mesin pengukur kinerja digunakan dalam manajemen toilet di Bandara Changi, Singapura. Anda juga akan mendapatkan bagaimana database yang dibangun oleh salah satu community health center atau puskesmas di Australia dapat memonitor kesehatan gigi anak-anak.

Di bagian terakhir, buku ini menawarkan strategi pemanfaatan informasi kinerja dengan menetapkan indikator kinerja yang tepat. Literatur tentang manajemen kinerja menunjukkan bahwa dalam banyak hal informasi kinerja tidak memberikan dampak terhadap perbaikan pelayanan publik karena kualitas indikator kinerja yang kurang memadai.

Pada bagian keenam, tips dan trik menetapkan indikator kinerja akan dipaparkan. Salah satu kriteria indikator yang tepat ini adalah relevansi indikator kinerja dengan apa yang diukur. Agar dapat memotivasi para penyedia layanan publik, indikator kinerja juga harus memenuhi kriteria ownership atau kepemilikan. Pemenuhan atas kriteria ini dapat mendorong para sekretaris atau kepala bidang agar lebih bertanggung-jawab terhadap target kinerja yang dicapai. Hasil penelitian pada tiga OPD di Indonesia menunjukkan bahwa kriteria ini belum dipenuhi.

Indikator kinerja juga akan lebih dapat menarik perhatian jika dalam penetapannya turut memerhatikan suara masyarakat. Pelibatan masyarakat dalam penetapan indikator kinerja dapat mendorong instansi pemerintah untuk berfokus pada hal-hal yang menjadi permasalahan bersama. Selain itu, teknik semacam ini juga akan meningkatkan legitimasi pemerintah dihadapan masyarakat.

Dalam tulisan terakhir pada bagian ini diuraikan pentingnya menggunakan indikator proses sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja. Memang benar, indikator outcome dapat meningkatkan kualitas akuntabilitas kinerja. Hanya saja, mengandalkan pada outcome tanpa memerhatikan proses hanya akan menyebabkan instansi dan SDM abai terhadap kualitas layanan publik yang diberikan.***

 

 

1

0
error: