Gambaru dan Teu Honcewang

Gambaru dan Teu Honcewang

Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang diikuti tsunami dan  meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima Jepang   beberapa waktu lalu ternyata tidak mampu memporakporandakan mental masyarakat Jepang. Tidak ada keluhan dan tidak ada tangisan sedikitpun,  yang ada adalah semangat berjuang bersama untuk menghadapi dan mengatasi bencana tersebut.

Itulah semangat GAMBARU, yakni berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Sejak usia dini, masyarakat Jepang telah dikenalkan  dengan Gambaru dan berbagai motto perjuangan sebagai aktualisasinya, seperti: “ganbatte kudasai” (berjuang lebih baik), “taihen dakedo, isshoni gambarimashoo” (saya tahu ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), dan “motto motto kenkyuu shitekudasai” (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

Dengan semangat Gambaru tersebut, wajar apabila masyarakat dunia menyaksikan kebangkitan yang super cepat dari bangsa Jepang. Hanya  dalam rentang waktu 19 tahun saja sejak Hiroshima dan Nagasaki luluh  lantak, tepatnya tanggal 1 Oktober 1964 Jepang mampu membuat  kereta api tercepat di dunia (Shinkansen) yang bisa dipacu sampai 300  km/jam, mengalahkan kereta api buatan Amerika, bangsa yang sebelumnya membombardir Jepang.

Di Indonesia, khususnya di tatar Sunda juga punya semangat seperti itu. Artinya tidak kalah heroik, namanya semangat “TEU HONCEWANG”. Jargon-jargon operasional dari semangat Teu Honcewang antara lain: “cadu mundur pantang mulang mun maksud tacan laksana” (pantang menyerah dan pantang pulang kalau maksud belum terlaksana), dan “berjuang keur lemah cai, lali rabi tur tega pati” (siap berkorban sampai mati untuk tanah air).

Demikian juga di tempat lain di setiap pelosok Nusantara, pasti ada  kearifan lokal yang menyiratkan heroisme dan nyali bangsa kita untuk berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan dalam membela kebenaran dan mempertahankan harga diri. Seperti dicontohkan oleh gelegar pekikan Bung Tomo di medan pertempuran yang paling mematikan di  Surabaya, 10 November 1945, “Merdeka atau Mati !”.

Jepang dan Indonesia sejatinya memiliki kesamaan budaya. Pondasi  kehidupannya berbasis spiritualitas, bukan rasionalitas. Bahkan di Indonesia ada lebihnya, spiritualitasnya didasarkan juga nilai-nilai agama. Misal  semangat “Jihad” di kalangan umat Islam. Jadi seharusnya Indonesia kini menjadi negara yang lebih kuat dan lebih hebat daripada Jepang. Pertanyaan besarnya, mengapa hal tersebut belum terjadi? Mari kita renungkan bersama dan mari kita buktikan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa pejuang yang bernyali elang, bukan burung pipit!

 

 

Perhatikan Kata-Katamu

Perhatikan Kata-Katamu

Oleh: ADRINAL TANJUNG*

 

Baru baru ini kita dihebohkan dengan pernyataan calon gubernur DKI Jakarta yang juga Gubernur petahana yaitu Bapak Basuki Tjahaya Purnama terkait kutipan sebuah ayat dalam Al Quran yaitu Surat Al Maidah 51. Pernyataan ini kemudian berbuntut panjang yang kemudian berujung menjadi kasus penistaan agama yang masih diproses di pengadilan hingga saat ini.

Namun tulisan ini tidak membahas terkait hal tersebut. Hanya mencoba mengingatkan kita semua,  akan pentingnya bertutur kata yang baik. Kata kata baik akan menyelamatkan kita baik hari ini maupun di masa yang akan datang. Hal ini seperti yang dilansir oleh Dale Carnegie yang mengatakan kata-kata baik yang Anda ucapkan hari ini, mungkin esok hari Anda sudah lupa, tetapi si penerima akan mengingatnya seumur hidup.

Pemilihan kata yang baik dan bijak akan menghindarkan diri kita dari segala keburukan yang ditimbulkan dari orang lain yang mendengar ucapan kita. Walaupun lidak tak bertulang, namun ia bisa lebih tajam daripada pedang. Lidah pun lebih panjang daripada jalan. Maka dari itu, berhati-hatilah dengan lidah (kata-kata).

Kata yang menyejukkan akan mendorong seseorang tergerak hati melakukan perubahan. Sebaliknya, kata-kata kasar dan tak mengenakkan hati hanya akan menjadi duri. Ia akan teringat dan terngiang dalam ingatan sampai kapan pun. Kebencian pun menjadi hal yang tak terhindarkan. Ketika kebencian telah terpatri dalam diri seseorang, maka yang akan muncul adalah kekerasan dan kerusakan.

Kata atau ucapan yang buruk juga akan mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Alam bawah sadar merupakan cikal bakal dari laku kita. Maka jika alam bawah sadar terlukai oleh kata-kata buruk, ia pun akan berperilaku menyimpang. Pasalnya, kata merupakan ucapan sekaligus doa. Artinya, apa yang kita ujarkan merupakan bagian dari pengharapan kita kepada Tuhan. Tuhan pun akan mengamini apa yang kita ucapkan.

Maka dari itu, sudah selayaknya, kata yang meluncur dari lidah, selayaknya menyembulkan semangat dan menggerakkan alam bawah sadar menuju pribadi yang unggul. Apa susahnya mengeluarkan kata bijak nan baik. Jika kita tidak mampu berkata baik, ada baiknya diam. Inilah yang kemudian memunculkan istilah “diam itu emas”. Diam akan menjadi emas ketika kita tidak mampu mengujarkan kebajikan. Namun, jika mampu berbuat baik dan menularkan kebajikan itu, maka diam bukan berarti emas. Kebajikan harus terus diujarkan dan diajarkan. Ketika kebajikan atau kejujuran tidak diajarkan, maka dunia akan dipenuhi oleh keburukan dan kebohongan.

Kata-kata bijak selayaknya menjadi mantra kehidupan. Artinya, kata bijak sudah selayaknya menjadi kebiasaan setiap manusia. Ketika hal tersebut telah menjadi kebiasaan, maka akan semakin banyak manusia bersemangat dalam mengarungi samudera luas kehidupan.

Kata bijak pun akan menjadi senjata ampuh menghadapi keangkuhan dan rumitnya kehidupan. Kata bijak menjadi tameng bagi kita dalam menghadapi kegalauan. Dengan kata kata bijak maka bisa membangkitkan semangat. Seseorang akan senantiasa, terbangun dan tergerak untuk memulai hal baru jika menghadapi masalah.

Semua itu dapat dilakukan jika setiap diri kita mampu menularkan kaidah kehidupan melalui kata-kata lembut, menyentuh dan menyejukkan, serta mengusik alam bawah sadar untuk senantiasa terbangun menatap masa depan yang lebih cerah.

Kata memang mudah kita ucapkan. Kemudahan inilah yang selayaknya kita jadikan senjata untuk berujar kebaikan tanpa harus menyakiti hati atau perasaan orang lain. Pemilihan kata yang baik dan bijak akan menghindarkan diri kita dari segala keburukan yang ditimbulkan dari orang lain yang mendengar ucapan kita.

 

*) Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan Kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan Bandung. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku, diantaranya Panduan Praktis Menyusun SOP Instansi Pemerintah, Anything is Possible, Birokrat Move On, Putar Arah Sekarang Juga dan beberapa buku profil Kepala Daerah.

Buku Gratis, Malu Ah!

Buku Gratis, Malu Ah!

Ada cerita yang perlu saya bagi hari ini sesaat sebelum boarding menuju Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau untuk melakukan perjalanan dinas. Saya mencoba menuliskan cerita ini dan semoga cerita ini tidak menyinggung siapa pun. Niat saya adalah berbagi kisah tentang bagaimana menulis buku bukanlah proses instan. Namun, perlu perjuangan, sehingga saat ada seseorang yang ingin mendapatkan buku secara gratis, tampaknya perlu berpikir ulang.

Cerita itu bermula saat saya menggelar acara soft launching buku Birokrat Menulis 1 September 2016 di sebuah rumah makan di kawasan Jakarta Selatan. Launching buku sembari menguatkan tekat untuk tetap menulis yang telah dirintis sejak sembilan tahun lalu. Acara yang direncanakan berlangsung sederhana menjadi luar biasa karena dihadiri oleh Prof Dr Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat dan Andrinof Chaniago, mantan Menteri Perencanaan Pembanguanan Nasional/Kepala Bapennas. Alhamdulillah acara tersebut lancar dan sukses.

Namun, ada sebuah cerita lanjutan setelah itu. Seorang teman yang saya kenal via sosial media yang kebetulan menyempatkan hadir menanyakan buku Birokrat Menulis. Dia sepertinya begitu menginginkan buku tersebut plus tanda tangan saya. Saya kemudian meminta dia untuk menghubungi penerbit, karena stok di tangan saya tidak banyak. Setelah menghubungi penerbit lalu disampaikan bahwa buku tersebut dijual, tidak dibagi gratis. Gratis itu memang dambaan banyak orang. Tiket gratis, hotel gratis, dan makan gratis. Ada yang bilang romantis itu artinya rokok makan gratis.

Kadang saya merasa bangga memiliki banyak penggemar di beberapa tempat. Penggemar buku-buku yang saya tulis. Walaupun tidak banyak tapi hingga hari ini sebagian penggemar itu masih suka meminta buku gratis. Itu yang kadang membuat saya heran.

Jika ditelusuri bagaimana proses menulis dan menerbitkan buku yang butuh waktu, tenaga, pikiran, dan biaya mungkin yang minta-minta buku gratis akan berpikir ulang. Untuk tidak minta buku gratis lagi.

Meminta buku gratis kepada penulis seakan membuktikan mereka tidak suka dengan dunia kepenulisan. Mereka belum menjiwai tentang bagaimana sulitnya tentang dunia tulis menulis. Pasalnya, seorang yang menjiwai literasi pasti paham betul bagaimana perjuangan untuk mendapatkan sebuah inspirasi. Saya terbiasa mencari inspirasi dengan datang ke toko buku dan membeli beberapa buku setiap bulan bahkan bisa hampir dua minggu sekali. Saya kemudian menyempatkan diri untuk membacanya di tengah menumpuknya pekerjaan kantor. Setelah itu, saya menuliskan menjadi sebuah kisah-kisah harian, saya kadang kadang perlu terbang ke Pekanbaru, Yogyakarta, Padang, Manado, Sumbawa, dan kota-kota lain. Semua itu tentu tidak gratis. Perlu biaya untuk membeli tiket pesawat dan memesan hotel. Baru kemudian saya mendapatkan inspirasi dan tempat sebagai awalan sebuah cerita.

Menulis sebuah buku itu pada dasarnya membutuhkan banyak biaya. Hanya orang yang meresapi—untuk tidak menyebut gila—saja yang mau bersusah payah dengan ini. Saat ada seseorang yang memaksa untuk mendapatkan buku secara gratis, saya pun sedih. Mengapa orang itu tidak mau menghargai sebuah proses kreatif. No free lunch, tampaknya tidak hanya berlaku di dunia politik, namun dalam dunia literasi. Pasalnya, dunia ini hanya digeluti oleh sedikit manusia yang sungguh-sungguh. Manusia yang rela mengorbankan banyak waktu untuk mencumbui setiap kata.

Jadi, kesimpulan saya, jika masih ada niat untuk meminta buku gratis baiknya niat ini dihentikan. Kasihan penulis dan penerbit yang sudah bersusah payah menulis dan memproses hingga buku tersebut terbit. Bukankah buku tersebut dicetak tidak gratis dan membutuhkan biaya yang bukan berasal dari APBN/APBD. Bahkan menurut seorang teman dari penerbit, dengan nada setengah bercanda mengungkapkan jika masih ada orang yang suka mengemis meminta buku gratis,  baiknya tetap diberi, namun perlu membawa surat keterangan miskin dari kelurahan setempat.

Bandara Soetta, 9 Oktober 2016.

 

 

Menulis Buku-Buku Sederhana Tentang Pengadaan dan Kontrak

Menulis Buku-Buku Sederhana Tentang Pengadaan dan Kontrak

Alhamdulillah telah tersebar buku-buku saya dari Sabang sampai Merauke.

Bagaimana memulai ini ?

Sebagai pegawai LKPP yang ditempatkan di Deputi Hukum, tiap hari saya harus menjawab berbagai pertanyaan dari tamu yang datang, surat, SMS, telp, email, facebook, WAG dst. Saya menganggap diri saya setiap hari ujian 100 pertanyaan mengenai pengadaan, pelaksanaan kontrak, sengketa kontrak, audit pengadaan, masalah hukum pengadaan dsb.

Kadang-kadang  pertanyaan yang ditanyakan isinya sama atau berulang, berulang ditanyakan oleh orang lain. Tentunya hal inimembuat bosan atau menjemukan bagi kita.  Dalam menghadapi hal demikian akhirnya ketemu solusi untuk negeri  ( dikaitkan dengan negeri supaya berbesar hati, hehehe …) dibuat blog mengenai pengadaan yang mudah untuk diketahui banyak khalayak. Hampir setiap hari menulis satu alinea sampai tiga alinea, bahkan lebih ( www.mudjisantosa.net).  Tulisan-tulisan saya yang sederhana, membuatnya melalui banyak diskusi dengan berbagai pihak atau teman dari LKPP, Kemenkeu, Kemen PU, berbagai Pemda, dosen, praktisi, kalangan swasta dsb, dengan cara komunikasi lewat SMS, WA dan lain-lain.

Ternyata blog yang sederhana ini sambutannya luar biasa, sekarang rata-rata perhari 1000 orang yang membuka blog ini, supaya berbesar hati, saya anggap, diri ini tiap hari mengajar 1000 orang seindonesia.

Blog ini kemudian setiap tiga bulan, tulisan-tulisannya bisa dikumpulkan menjadi satu buku, dengan buku awalnya berjudul “Mudah Pengadaan Jilid I”, sampai dengan “Mudah Memahami Pengadaan Jilid V”.  Buku-buku saya gaya tulisannya tidak terlalu serius, walau isinya sebenarnya membuat dahi berkerut atau membuat berpikir. Selanjutnya beberapa tema yang sama di tulisan blog, dapat dikumpulkan dalam satu tema buku sehingga terbit buku khusus mengenai HPS, mengenai kontrak dsb. Sampai akhir tahun 2016, buku yang dibuat sudah lebih dari 20 judul buku.

Karena tidak mengerti jalur penerbitan dan melihat prosedural penerbitan perlu waktu lama, maka buku dicetak sendiri.  Pencetakan dilakukan dengan jumlah sedikit, sehingga biaya cetak agak mahal.  Buku diedit sendiri, dicetak sendiri, dimodalin sendiri dan dijual sendiri, lengkaplah penderitaan diri. Selanjutnya kenyataan yang terjadi, banyak orang yang meminta atau membeli buku-buku saya. Bagi saya terjual satu buku saja sudah prestasi, ini malah lebih dari dugaan.

Beberapa pencetakan / penerbitan mulai menghubungi saya, sehingga bisa ketemu biaya pencetakan yang wajar. Ada yang membantu memasarkan di berbagai toko buku. Buku saya yang dijual di toko buku, tidak untung terlalu besar. Meski ditengah ratusan judul buku-buku lain, buku saya alhamdulillah habis. Kalau tidak habis, pastilah akan rugi.

Anak kedua saya, kuliah di Fakultas Ekonomi Akuntansi UI, sebagaimana anak-anak sekarang, yang akrab dengan dunia internet, anak saya ini memasarkan buku-buku saya lewat jalur internet.  Dari penjualan buku, anak saya tidak minta uang kos lagi, tidak minta biaya kuliah dsb. Cukup jualin buku bapaknya. Sekarang anak saya sudah lulus dan sudah bekerja di konsultan Internasional.

Secara pendapatan dari buku, tidaklah seberapa, namun dampaknya saya sering diundang oleh berbagai instansi dan bisa ke seluruh Indonesia.  Rata-rata setiap tiga bulan, ada buku baru yang saya terbitkan.  Banyak orang mengkoleksi buku saya dan bahkan selalu membeli setiap ada buku baru yang diterbitkan, jadi banyak orang seperti berlangganan mereka. Telah banyak buku saya hadir diberbagai perpustakaan universitas dan kantor, bahkan dijadikan referensi untuk membuat karya tulis, skripsi, tesis dan disertasi. Sebenarnya masih banyak buku yang ingin saya tulis, bagi saya mempunyai waktu luang adalah suatu kemewahan.

Semoga tulisan singkat ini menginspirasi kita semua dalam memajukan negeri ini.

 

 

Menulis Itu…

Menulis Itu…

Tak terasa, sembilan tahun perjalanan waktu saya dalam dunia literasi. Dunia membaca dan menulis yang menggerakkan saya untuk terus berbagi pengalaman melalui buku.

Perjalanan menjadi seorang penulis buku tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu saya damaikan dalam diri sendiri.

Menulis perlu menurunkan ego agar sebuah buku dapat rampung. Saat buku telah selesai ditulis pun saya perlu membaca dan membacanya lagi. Baru kemudian saya terbitkan.

Kini setelah sembilan tahun, saya beberapa kali menengok sebuah kamar di rumah yang menjejer beberapa karya saya. Ada rasa bangga dan haru terbersit di hati; banyak hal yang belum sesuai harapan. Namun, niat dan langkah untuk memulai paling tidak sudah ada.

Melalui tulisan ini saya ingin bercerita tentang proses menulis yang saya jalani selama sembilan tahun terakhir. Saya bersyukur hidup ditemani banyak teman, di banyak tempat. Dengan ketulusan mereka memotivasi dan memberi apresiasi atas kerja kecil ini. Merekalah yang selama ini membantu saya dalam membangun sebuah harapan. Harapan untuk terus berbagi cerita dan pengalaman melalui menulis.

Menulislah yang terus menguatkan perjalanan hidup saya. Saya jadi ingat sebuah pepatah lama, “Jika engkau ingin mengetahui dunia, membacalah. Jika dunia ingin mengenalmu, menulislah”.

Pepatah itu seakan menghujam dalam diri saya dan terus memotivasi saya untuk terus menulis. Di banyak kesempatan tulisan (buku) telah menjadi tali pengikat emosional (kekeluargaan). Setiap saya membagi buku di acara Bimbingan Teknis SOP yang dilaksanakan oleh Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah, banyak peserta yang kemudian memberikan komentar dan apresiasi. Mereka dengan berbagai latar belakang telah menjadi bagian dari proses kreatif ini. Mereka seringkali mengirimkan testimoni terkait buku yang saya terbitkan. Sebuah rasa yang tak dapat diuangkan.

Untuk itu, saya selalu meluangkan waktu untuk mencatat beberapa hal di dalam handphone dan kertas kecil. Kadang saya tulis lagi sendiri dalam laptop, seringkali saya meminta teman untuk menuliskannya kembali. Inilah yang saya sebut di awal, saya beruntung mempunyai banyak teman yang senantisa bersedia membantu.

Betapa indahnya hidup. Hidup dengan banyak teman dan bersanding dengan buku yang menginspirasi. Namun, seringkali kita kurang mampu bersyukur dalam memaknai hidup. Kita jarang melihat sisi-sisi baik dan indah dari kehidupan. Kita selalu menyalahkan diri sendiri dan kehidupan itu saat terlanda kegundahan dan kesulitan. Walaupun seringkali kita mau jujur, hidup ini lebih banyak senang, riang, dan gembira, dibandingkan dengan sedih, susah, dan gundah. Life is beautiful. Hidup ini indah dan menyenangkan.

Maka tataplah hari dengan penuh bahagia. Hari dan kehidupan akan menjadi indah saat kita mampu berpikir positif terhadap apa yang terjadi. Pikiran positif inilah yang akan menjadikan kita “terhormat”. Terhormat di hadapan manusia dan Tuhan Sang Pencipta.

Biarlah kenangan pahit, luka hati, pergi dari diri kita. Tak perlu membenci diri sendiri. Jika hal itu terjadi lebih baik Anda tumpahkan lewat tulisan. Karena menulis adalah sarana meluapkan emosi yang baik.

Menulis itu pun tidak untuk menggurui orang lain. Menulis adalah untuk menggurui kita sendiri. Mengingatkan kita di saat banyak peristiwa yang tak sesuai harapan; memantik kita untuk segera bangkit di kala “lelah”; dan terus berbuat kebaikan untuk meraih kehidupan yang baik.

Catatan-catatan kecil itulah yang suatu saat akan menjadi sebuah buku. Saat kita dapat menulis satu hari satu halaman, maka dalam tiga bulan kita sudah mempunyai satu naskah buku siap terbit. Mudah bukan? Kita tidak perlu harus menulis di depan computer selama dua minggu utuh. Cukup membiasakan diri menulis satu halaman terkait peristiwa yang menyapa setiap saat.

Menulis itu bukanlah perkara sulit. Merangkai kejadian melalui kata akan meningkatkan kualitas diri dan bangsa. Bangsa Indonesia akan dapat mengejar ketertinggalan dalam hal literasi. Kejar ketertinggalan, waktu terbatas dan kesempatan terbuka lebar. Selamat menulis.

 

 

Saat Memetik Telah Tiba

Saat Memetik Telah Tiba

Subuh ini di saat mentari belum beranjak dari peraduannnya, saya berdiri di samping jendela melepaskan pandangan ke halaman depan rumah. Ini memang sering saya lakukan selepas menunaikan shalat subuh menjalankan kewajiban sekaligus melepas rindu kepada Sang Pencipta. Di saat inilah terbersit keinginan untuk menghubungi dan memanggil seseorang yang dulu pernah menjadi rekan kerja saya dan sekaligus membantu dalam proses penulisan beberapa buku yang telah saya terbitkan. Memang kami akhir-akhir ini jarang bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing.

Dulu ia sering sekali berpergian bersama saya kemana-mana dan bak seorang  ajudan yang mendampingi saya kemana pun saya pergi. Saat menulis buku beberapa tokoh di daerah dialah yang mendampingi saat  berdiskusi, atau wawancara dengan tokoh-tokoh tersebut. Dia juga sering mengungkapkan kesenangannya dalam hal ini dikarenakan dia sering sekali naik mobil dinas bupati, walikota, atau gubernur. Yang ia bilang sebagai suatu keberuntungan. Saya sangat senang karena meskipun dia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bersama saya, dia bisa menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan bahkan sekarang ia sedang menjalani proses pendidikan S2 nya.

Di saat telah berbincang “ngalor ngidul” seperti ungkapan orang Jawa, ada satu kalimatnya yang benar-benar membuat saya tertegun sejenak. “Semangat bapak tertular kepada saya”, begitu katanya. Kata yang sangat sederhana namun bagi saya adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Saya tidak pernah menyangka bahwa apa yang saya lakukan selama ini begitu berarti bagi orang lain.

Irwan nama staf saya tersebut. Seseorang yang secara tidak langsung memberikan inspirasi bagi saya untuk selalu bekerja keras, mempunyai komitmen tinggi, dan mengambil pelajaran positif dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang ditemui. 30 menit sebelum keberangkatan saya ke kantor, saya menyampaikan beberapa hal kepadanya. Terutama tentang keinginan saya untuk menulis buku baru lagi. Jawaban yang singkat dan pasti dari Irwan saya dapatkan. “Ok Pak, saya siap membantu”, begitu jawabnya. Di samping itu, obrolan kami juga berlanjut dengan topik rencana saya untuk membuat acara “Meet and Greet Adrinal Tanjung 10 Tahun Berkarya”

Di awal tahun 2017 ini , saya masih teringat dengan jelas buku saya yang berjudul “Anything is Possible” yang terbit bulan Mei 2012 yang lalu. Buku yang memakan waktu hampir dua tahun proses pengerjaannya dan akhirnya terbit juga dengan segala cerita. Di bagian awal buku tersebut saya menulis Prolog “SAAT MEMETIK PASTI TIBA”.

Di awal tahun 2017 ini yang baru berjalan beberapa hari seolah-olah muncul sebuah keyakinan di dalam hati saya bahwa “Saat Memetik Telah Tiba”. Saya tidak tahu apakah ini pertanda akan suatu hal atau malah akan menjadi judul sebuah buku baru saya nanti. Ini mungkin terdengar aneh karena biasanya judul buku itu munculnya belakangan ketika isinya telah selesai dan siap dicetak. Tapi, saya tidak tahu kenapa kalimat yang saya tulis itu begitu ingin saya kembangkan menjadi sebuah buku.

Bagi saya 10 tahun terakhir ini sangatlah berarti karena mengenang masa saya berkarya di bidang tulis menulis selama satu dekade ini sama artinya dengan mengenang banyaknya tantangan, hambatan, dan kendala yang harus saya temui dan hadapi. Di saat-saat seperti itu, pernah terlintas di pikiran saya untuk melempar handuk dan mengangkat bendera putih. Tapi, hal tersebut syukurnya tidak pernah terjadi karena solusi selalu saja datang dan menghampiri di ujung-ujung pengharapan. Sekarang saya bisa membenarkan ungkapan Bob Marley yang berbunyi  “You never know how strong you are until being strong is the only choice you have” itu benar adanya.

 

 

123
error: