Diklat Itu Bernama Puasa

Diklat Itu Bernama Puasa

Birokrasi merupakan salah satu aset bangsa yang terpenting. Pelaksana dari setiap kebijakan yang dihasilkan oleh negara untuk kepentingan rakyat. Sayangnya, birokrasi Indonesia masih dihinggapi berbagai macam penyakit yang membuat kontibusinya terhadap bangsa tidak maksimal. Dalam moment Bulan Suci Ramadhan ini, saya mencoba mengulas manfaat ibadah puasa bagi peningkatan kualitas pribadi seorang birokrat dalam membangun bangsa. Dengan harapan bisa dijadikan
sebagai bahan renungan.

—–

Di samping terjebak masalah yang bersumber dari dalam seperti rendahnya kualitas akibat proses rekrutmen, dan tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang minim, birokrasi kita juga mengalami berbagai masalah yang bersumber dari luar, seperti terbelit kasus suap atau jual beli jabatan, dipolitisasi, dikriminalisasi dan sebagainya.

Terbaru, dua kasus ‘razia’ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kemendes PDTT dan Kejati Bengkulu seolah mempertegas kondisi tersebut. Itulah sepenggal episode miris dari cerita tentang pekerja birokrasi di negeri ini. Meskipun keberadaannya sangat dibutuhkan oleh negara, tetapi mereka juga menjadi alamat dari berbagai label buruk.

Upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas birokrasi telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Berawal dari reformasi politik di tahun 1998 yang menjadi pemicunya. Sayangnya, hingga hampir mencapai dua dasa warsa, hasil nyata reformasi birokrasi tersebut masih jauh panggang dari api. Jangankan untuk menjadikannya sebagai birokrat profesional penyeimbang politisi, untuk sekedar mencapai kedisiplinan yang normatif saja masih sulit. Malah, dari hari kehari manajemen birokrasi makin jauh terjerumus dalam belitan rezim aturan yang tak berujung.

Perangkat pendisiplinan berupa absensi fingerprint yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu idola pimpinan instansi. Tetapi kinerja PNS secara keseluruhan tetap tidak banyak berubah. Apakah ini gejala yang menunjukkan lemahnya program reformasi birokrasi kita? Ataukah karena perangkat-perangkat pendisiplinan itu tidak bekerja dengan baik?

Dalam momen istimewa bulan suci Ramadhan ini, sebuah proses diklat (pendidikan dan pelatihan) disediakan Allah secara gratis, sebagai salah satu instrumen pendisiplinan diri. Diklat itu bernama puasa. Diklat ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM, dan bisa diakses di mana saja. Pilihannya, apakah Anda mau memanfaatkannya atau tidak?

Dalam Al Qur’an, Allah berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah:183).

Puasa bermakna menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, atau tidak melakukan segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar, hingga matahari terbenam. Hasil dari diklat sebulan bernama ibadah puasa itu adalah mewujudkan insan yang bertakwa.

Konsep takwa ini sangat kompleks. Menurut Fazlur Rahman (1983), takwa itu berarti melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Di sini takwa dijelaskan keberadaannya berupa rasa takut yang muncul terhadap akibat-akibat perbuatan yang akan diterima, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Secara sederhana, takwa juga berarti kehati-hatian dalam menjalani hidup. Menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan, agar tidak menimbulkan akibat buruk bagi diri sendiri dan bagi orang lain yang ada hubungannya dengan diri kita. Akibat buruk ini tidak bisa sekedar ditelaah melalui kecerdasan intelektual. Akan tetapi juga dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Tidak hanya melalui nilai-nilai rasionalitas, akan tetapi juga nilai altruistik.

Prinsip kehati-hatian di dalam takwa bersifat aktif. Takwa menjadikan manusia aware terhadap apapun. Bahkan termasuk untuk urusan paling mendasar sekalipun. Di sini jelas terlihat bahwa hasil akhir dari takwa adalah manusia yang terjaga dari berbagai keburukan, baik yang datang dari dirinya sendiri, maupun yang datang dari luar dirinya. Dan yang paling utama, manusia tersebut tidak menjadi bencana bagi orang lain atau bagi lingkungannya.

Konsep takwa dalam agama kaffah ini, dengan demikian, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia bisa muncul lewat tutur kata yang santun. Juga bisa lewat makanan atau nafkah yang halal. Takwa juga bisa mengejawantah dalam kejujuran dan sifat qanaah (merasa cukup), dan juga dalam menyikapi kemewahan dan jabatan tinggi.

Pertanyaan kritisnya, mengapa puasa bisa menjadikan kita bertakwa?

Dalam ritual puasa, kita berlatih mengendalikan kebutuhan paling penting dalam hidup. Kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Tetapi karena keimanan kepada Allah, maka kita melakukannya dengan penuh kesungguhan. Tanpa harus diawasi, tanpa perlu dikarantina. Dengan mengendalikan kebutuhan tersebut, akan terbentuk karakter pribadi yang kuat. Tidak gampang tergoda atau terjerumus hanya karena bujukan atau rayuan dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Puasa juga melatih kita untuk berhemat. Dengan puasa kita menyadari, bahwa ternyata selama ini kita makan melebihi daripada apa yang sebenarnya kita butuhkan. Di luar bulan puasa kita biasa makan lebih dari tiga kali, tetapi di bulan suci ini, ternyata kita masih bisa hidup walaupun makan dan minum kita lebih sedikit dari biasanya. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata selama ini kita terlalu banyak mengejar harta benda. Orang berpuasa, dengan demikian mampu mengikis sifat tamak dan serakah dalam dirinya.

Terakhir, puasa menumbuhkan empati. Pada saat kita berpuasa, kita diajarkan untuk turut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak bisa menikmati makanan secara rutin. Kalau puasa kita pasti bertemu makanan di saat berbuka, di tempat lain ada orang yang tak tahu kapan waktunya berbuka, atau akankah mereka sempat berbuka. Kepada merekalah empati kita tumbuh sehingga ada keinginan berbagi.

Orang yang berpuasa, bekerja memenuhi kebutuhan dirinya secara halal, baik cara memperolehnya maupun substansinya, tanpa merugikan orang lain. Orang yang berpuasa itu membiarkan nafkah terdistribusi secara wajar dan alami ke segala arah, tanpa dibelokkan ke tempat yang tidak semestinya.

Orang berpuasa itu tidak akan menguasai sumber daya tertentu dan mengambil seluruh manfaatnya tanpa menyisakan bagi orang lain. Orang berpuasa itu adalah tidak membuat dan menggunakan aturan untuk melegalkan perampasan atas hak orang lain.

Pendek kata, orang berpuasa itu menyelamatkan kehidupan, memakmurkan dan menyejahterakan, serta mendorong perbaikan, di manapun ia berada. Jadi, mengapa kita tak mencoba, apa diklat ini bekerja atau tidak terhadap birokrasi?

Wallahu a’lam bish shawaab.

 

 

0
0
Cara Jitu Mengatasi Problematika Pemerintahan

Cara Jitu Mengatasi Problematika Pemerintahan

Pemerintahan adalah serangkaian kegiatan berupa keputusan maupun tindakan yang sistemik dan terstruktur untuk mengelola sumberdaya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehebat apapun tata kelola pemerintahan, apabila kesejahteraan masyarakatnya tidak beranjak atau pergerakannya lambat maka patut diduga pemerintahan itu gagal.

Keterbatasan sumber daya dalam mengelola pemerintahan bukanlah alasan bagi pemimpin pemerintahan untuk berkelit. Karena sumpah jabatan dan karena eksistensinya sebagai yang terutama dari yang utama (primus interpares), pemimpin pemerintahan harus mampu menggerakan roda pemerintahan untuk mengejar ketertinggalan dan mewujudkan semua harapan masyarakat. Seberat apapun permasalahan yang dihadapi, pemimpin pemerintahan harus mampu memberikan solusi.

Pertanyaannya, bagaimana mengatasi problematika pemerintahan yang kompleks di tengah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya manusia, alam, keuangan maupun yang lainnya? Sebuah pertanyaan substansial yang bisa kita jawab dengan pendekatan yang sederhana tapi mengena, yakni dengan cara mencari pengungkitnya.

Ibarat sebuah truk dengan beban 8 ton, tidak mungkin diangkat dengan alat yang lain kecuali dengan dongkrak yang beratnya hanya 5 kg. Kecil tapi bisa mengungkit yang besar. Demikian juga dalam mengatasi berbagai permasalahan pemerintahan, tidak sepatutnya kita menghambur-hamburkan anggaran di tengah kesulitan ekonomi. Kita harus mampu menemukan pengungkitnya.

Mulailah dengan menentukan satu masalah inti yang akan dijadikan pengungkit. Apabila masalah inti dapat diatasi maka masalah lainnya secara bertahap akan terurai dan pada akhirnya akan terselesaikan. Bisa jadi masalah inti yang dijadikan pengungkit tersebut bukanlah masalah besar, mungkin hanya masalah kecil tapi berdampak besar. Karena itu patokan utama dalam menentukan masalah inti adalah pengaruhnya, sejauh mana masalah tersebut mempengaruhi maupun dipengaruhi masalah lainnya.

Dalam sebuah sistem, termasuk sistem sosial, tidak ada permasalahan yang berdiri sendiri. Setiap persoalan selalu dan saling berkelindan erat dengan yang lainnya. Problematika pemerintahan adalah bagian dari permasalahan sosial. Janganlah berpikir parsial, melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang. Berpikirlah sistemik, satu persoalan dengan yang lainnya pasti ada benang merah. Satu dengan yang lainnya pasti saling terhubung. Mengungkit masalah inti, sejatinya mengangkat dan menyelesaikan permasalahan lainnya. Itulah cara jitu mengatasi problematika pemerintahan. (Jatinangor, Sabtu  11/03).

 

 

0
0
Indahnya Berpemerintahan

Indahnya Berpemerintahan

Mengelola pemerintahan itu sejatinya bukan hanya mudah, tetapi juga indah, selama kita melakukannya dengan melibatkan hati dan penuh cinta. Laksana sejoli yang sedang memadu cinta, bawaannya gembira, rela berkorban, berani mengambil resiko dan sarat kreativitas. Serasa dunia milik berdua, begitu kata pujangga.

Pun demikian dalam berpemerintahan. Tatkala pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan mengasihi, maka akan tumbuh gairah untuk saling menjaga dan menguatkan. Semua komponen akan gembira menjalani peran masing-masing walaupun banyak kesulitan, rakyat akan rela berkorban untuk suksesnya pembangunan, demikian juga dengan pemimpin akan merasa bangga mengambil resiko tertinggi demi kesejahteraan rakyatnya.

Jangan ditanya urusan kreativitas. Hadirnya hati dan cinta dalam berpemerintahan akan menstimulasi imajinasi pemimpin dan rakyatnya untuk melahirkan karya terbaik. Bahkan hal yang tidak mungkin sekalipun, dengan kreativitas bersama akan menjadi kenyataan. Terobosan-terobosan “gila” yang diluar nalar sekalipun akan bermunculan untuk mengejar kertinggalan.

John Kotter dalam bukunya “The Heart of Change” menyampaikan bahwa 70 % organisasi yang melakukan perubahan mengalami kegagalan karena hanya menggunakan “otak”, tanpa melibatkan “hati”. Hal tersebut bisa dipahami karena setiap perubahan, terlebih perubahan radikal, pasti membutuhkan energi lebih dan kesadaran ekstra.

Logika dengan kalkulasi dan keterukurannya tidak mungkin memenuhi hal demikian. Hanya hati yang bisa menjawabnya karena kedalaman rasa tidak ada batasnya. Disanalah kita akan menemukan indahnya berpemerintahan, disaat pemimpin dan rakyatnya memiliki energi lebih dan kesadaran ekstra karena hati dan cinta hadir diantara mereka.

 

 

0
0
Gambaru dan Teu Honcewang

Gambaru dan Teu Honcewang

Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang diikuti tsunami dan  meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima Jepang   beberapa waktu lalu ternyata tidak mampu memporakporandakan mental masyarakat Jepang. Tidak ada keluhan dan tidak ada tangisan sedikitpun,  yang ada adalah semangat berjuang bersama untuk menghadapi dan mengatasi bencana tersebut.

Itulah semangat GAMBARU, yakni berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Sejak usia dini, masyarakat Jepang telah dikenalkan  dengan Gambaru dan berbagai motto perjuangan sebagai aktualisasinya, seperti: “ganbatte kudasai” (berjuang lebih baik), “taihen dakedo, isshoni gambarimashoo” (saya tahu ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), dan “motto motto kenkyuu shitekudasai” (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

Dengan semangat Gambaru tersebut, wajar apabila masyarakat dunia menyaksikan kebangkitan yang super cepat dari bangsa Jepang. Hanya  dalam rentang waktu 19 tahun saja sejak Hiroshima dan Nagasaki luluh  lantak, tepatnya tanggal 1 Oktober 1964 Jepang mampu membuat  kereta api tercepat di dunia (Shinkansen) yang bisa dipacu sampai 300  km/jam, mengalahkan kereta api buatan Amerika, bangsa yang sebelumnya membombardir Jepang.

Di Indonesia, khususnya di tatar Sunda juga punya semangat seperti itu. Artinya tidak kalah heroik, namanya semangat “TEU HONCEWANG”. Jargon-jargon operasional dari semangat Teu Honcewang antara lain: “cadu mundur pantang mulang mun maksud tacan laksana” (pantang menyerah dan pantang pulang kalau maksud belum terlaksana), dan “berjuang keur lemah cai, lali rabi tur tega pati” (siap berkorban sampai mati untuk tanah air).

Demikian juga di tempat lain di setiap pelosok Nusantara, pasti ada  kearifan lokal yang menyiratkan heroisme dan nyali bangsa kita untuk berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan dalam membela kebenaran dan mempertahankan harga diri. Seperti dicontohkan oleh gelegar pekikan Bung Tomo di medan pertempuran yang paling mematikan di  Surabaya, 10 November 1945, “Merdeka atau Mati !”.

Jepang dan Indonesia sejatinya memiliki kesamaan budaya. Pondasi  kehidupannya berbasis spiritualitas, bukan rasionalitas. Bahkan di Indonesia ada lebihnya, spiritualitasnya didasarkan juga nilai-nilai agama. Misal  semangat “Jihad” di kalangan umat Islam. Jadi seharusnya Indonesia kini menjadi negara yang lebih kuat dan lebih hebat daripada Jepang. Pertanyaan besarnya, mengapa hal tersebut belum terjadi? Mari kita renungkan bersama dan mari kita buktikan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa pejuang yang bernyali elang, bukan burung pipit!

 

 

0
0
Perhatikan Kata-Katamu

Perhatikan Kata-Katamu

Oleh: ADRINAL TANJUNG*

 

Baru baru ini kita dihebohkan dengan pernyataan calon gubernur DKI Jakarta yang juga Gubernur petahana yaitu Bapak Basuki Tjahaya Purnama terkait kutipan sebuah ayat dalam Al Quran yaitu Surat Al Maidah 51. Pernyataan ini kemudian berbuntut panjang yang kemudian berujung menjadi kasus penistaan agama yang masih diproses di pengadilan hingga saat ini.

Namun tulisan ini tidak membahas terkait hal tersebut. Hanya mencoba mengingatkan kita semua,  akan pentingnya bertutur kata yang baik. Kata kata baik akan menyelamatkan kita baik hari ini maupun di masa yang akan datang. Hal ini seperti yang dilansir oleh Dale Carnegie yang mengatakan kata-kata baik yang Anda ucapkan hari ini, mungkin esok hari Anda sudah lupa, tetapi si penerima akan mengingatnya seumur hidup.

Pemilihan kata yang baik dan bijak akan menghindarkan diri kita dari segala keburukan yang ditimbulkan dari orang lain yang mendengar ucapan kita. Walaupun lidak tak bertulang, namun ia bisa lebih tajam daripada pedang. Lidah pun lebih panjang daripada jalan. Maka dari itu, berhati-hatilah dengan lidah (kata-kata).

Kata yang menyejukkan akan mendorong seseorang tergerak hati melakukan perubahan. Sebaliknya, kata-kata kasar dan tak mengenakkan hati hanya akan menjadi duri. Ia akan teringat dan terngiang dalam ingatan sampai kapan pun. Kebencian pun menjadi hal yang tak terhindarkan. Ketika kebencian telah terpatri dalam diri seseorang, maka yang akan muncul adalah kekerasan dan kerusakan.

Kata atau ucapan yang buruk juga akan mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Alam bawah sadar merupakan cikal bakal dari laku kita. Maka jika alam bawah sadar terlukai oleh kata-kata buruk, ia pun akan berperilaku menyimpang. Pasalnya, kata merupakan ucapan sekaligus doa. Artinya, apa yang kita ujarkan merupakan bagian dari pengharapan kita kepada Tuhan. Tuhan pun akan mengamini apa yang kita ucapkan.

Maka dari itu, sudah selayaknya, kata yang meluncur dari lidah, selayaknya menyembulkan semangat dan menggerakkan alam bawah sadar menuju pribadi yang unggul. Apa susahnya mengeluarkan kata bijak nan baik. Jika kita tidak mampu berkata baik, ada baiknya diam. Inilah yang kemudian memunculkan istilah “diam itu emas”. Diam akan menjadi emas ketika kita tidak mampu mengujarkan kebajikan. Namun, jika mampu berbuat baik dan menularkan kebajikan itu, maka diam bukan berarti emas. Kebajikan harus terus diujarkan dan diajarkan. Ketika kebajikan atau kejujuran tidak diajarkan, maka dunia akan dipenuhi oleh keburukan dan kebohongan.

Kata-kata bijak selayaknya menjadi mantra kehidupan. Artinya, kata bijak sudah selayaknya menjadi kebiasaan setiap manusia. Ketika hal tersebut telah menjadi kebiasaan, maka akan semakin banyak manusia bersemangat dalam mengarungi samudera luas kehidupan.

Kata bijak pun akan menjadi senjata ampuh menghadapi keangkuhan dan rumitnya kehidupan. Kata bijak menjadi tameng bagi kita dalam menghadapi kegalauan. Dengan kata kata bijak maka bisa membangkitkan semangat. Seseorang akan senantiasa, terbangun dan tergerak untuk memulai hal baru jika menghadapi masalah.

Semua itu dapat dilakukan jika setiap diri kita mampu menularkan kaidah kehidupan melalui kata-kata lembut, menyentuh dan menyejukkan, serta mengusik alam bawah sadar untuk senantiasa terbangun menatap masa depan yang lebih cerah.

Kata memang mudah kita ucapkan. Kemudahan inilah yang selayaknya kita jadikan senjata untuk berujar kebaikan tanpa harus menyakiti hati atau perasaan orang lain. Pemilihan kata yang baik dan bijak akan menghindarkan diri kita dari segala keburukan yang ditimbulkan dari orang lain yang mendengar ucapan kita.

 

*) Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan Kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan Bandung. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku, diantaranya Panduan Praktis Menyusun SOP Instansi Pemerintah, Anything is Possible, Birokrat Move On, Putar Arah Sekarang Juga dan beberapa buku profil Kepala Daerah.

0
0
Buku Gratis, Malu Ah!

Buku Gratis, Malu Ah!

Ada cerita yang perlu saya bagi hari ini sesaat sebelum boarding menuju Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau untuk melakukan perjalanan dinas. Saya mencoba menuliskan cerita ini dan semoga cerita ini tidak menyinggung siapa pun. Niat saya adalah berbagi kisah tentang bagaimana menulis buku bukanlah proses instan. Namun, perlu perjuangan, sehingga saat ada seseorang yang ingin mendapatkan buku secara gratis, tampaknya perlu berpikir ulang.

Cerita itu bermula saat saya menggelar acara soft launching buku Birokrat Menulis 1 September 2016 di sebuah rumah makan di kawasan Jakarta Selatan. Launching buku sembari menguatkan tekat untuk tetap menulis yang telah dirintis sejak sembilan tahun lalu. Acara yang direncanakan berlangsung sederhana menjadi luar biasa karena dihadiri oleh Prof Dr Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat dan Andrinof Chaniago, mantan Menteri Perencanaan Pembanguanan Nasional/Kepala Bapennas. Alhamdulillah acara tersebut lancar dan sukses.

Namun, ada sebuah cerita lanjutan setelah itu. Seorang teman yang saya kenal via sosial media yang kebetulan menyempatkan hadir menanyakan buku Birokrat Menulis. Dia sepertinya begitu menginginkan buku tersebut plus tanda tangan saya. Saya kemudian meminta dia untuk menghubungi penerbit, karena stok di tangan saya tidak banyak. Setelah menghubungi penerbit lalu disampaikan bahwa buku tersebut dijual, tidak dibagi gratis. Gratis itu memang dambaan banyak orang. Tiket gratis, hotel gratis, dan makan gratis. Ada yang bilang romantis itu artinya rokok makan gratis.

Kadang saya merasa bangga memiliki banyak penggemar di beberapa tempat. Penggemar buku-buku yang saya tulis. Walaupun tidak banyak tapi hingga hari ini sebagian penggemar itu masih suka meminta buku gratis. Itu yang kadang membuat saya heran.

Jika ditelusuri bagaimana proses menulis dan menerbitkan buku yang butuh waktu, tenaga, pikiran, dan biaya mungkin yang minta-minta buku gratis akan berpikir ulang. Untuk tidak minta buku gratis lagi.

Meminta buku gratis kepada penulis seakan membuktikan mereka tidak suka dengan dunia kepenulisan. Mereka belum menjiwai tentang bagaimana sulitnya tentang dunia tulis menulis. Pasalnya, seorang yang menjiwai literasi pasti paham betul bagaimana perjuangan untuk mendapatkan sebuah inspirasi. Saya terbiasa mencari inspirasi dengan datang ke toko buku dan membeli beberapa buku setiap bulan bahkan bisa hampir dua minggu sekali. Saya kemudian menyempatkan diri untuk membacanya di tengah menumpuknya pekerjaan kantor. Setelah itu, saya menuliskan menjadi sebuah kisah-kisah harian, saya kadang kadang perlu terbang ke Pekanbaru, Yogyakarta, Padang, Manado, Sumbawa, dan kota-kota lain. Semua itu tentu tidak gratis. Perlu biaya untuk membeli tiket pesawat dan memesan hotel. Baru kemudian saya mendapatkan inspirasi dan tempat sebagai awalan sebuah cerita.

Menulis sebuah buku itu pada dasarnya membutuhkan banyak biaya. Hanya orang yang meresapi—untuk tidak menyebut gila—saja yang mau bersusah payah dengan ini. Saat ada seseorang yang memaksa untuk mendapatkan buku secara gratis, saya pun sedih. Mengapa orang itu tidak mau menghargai sebuah proses kreatif. No free lunch, tampaknya tidak hanya berlaku di dunia politik, namun dalam dunia literasi. Pasalnya, dunia ini hanya digeluti oleh sedikit manusia yang sungguh-sungguh. Manusia yang rela mengorbankan banyak waktu untuk mencumbui setiap kata.

Jadi, kesimpulan saya, jika masih ada niat untuk meminta buku gratis baiknya niat ini dihentikan. Kasihan penulis dan penerbit yang sudah bersusah payah menulis dan memproses hingga buku tersebut terbit. Bukankah buku tersebut dicetak tidak gratis dan membutuhkan biaya yang bukan berasal dari APBN/APBD. Bahkan menurut seorang teman dari penerbit, dengan nada setengah bercanda mengungkapkan jika masih ada orang yang suka mengemis meminta buku gratis,  baiknya tetap diberi, namun perlu membawa surat keterangan miskin dari kelurahan setempat.

Bandara Soetta, 9 Oktober 2016.

 

 

0
0
error: