Bernostalgia Dengan Mike Tyson: Manifestasi Spritualitas

Bernostalgia Dengan Mike Tyson: Manifestasi Spritualitas

Beberapa hari terakhir ramai diberitakan akan kembalinya Mike Tyson ke ring tinju. Dalam footage latihan tinju yang ditampilkan di media sosial, Tyson masih terlihat begitu seram dan kuat dengan daya pukulan dan gestur pick a boo-nya. Dengan kombinasi itu, Tyson adalah juara dunia sejati dengan gaya boxer terbaik hingga kini. Banyak pengamat menilai, beberapa bulan berlatih sudah cukup mengembalikan Tyson untuk menundukkan Deontay Wilder atau Tyson Fury, juara dunia tinju IBF, WBC, dan WBA saat ini.

Mungkin berlebihan dalam usia 53 tahun Tyson sekarang, ia kembali berlatih untuk pertandingan amal dalam upaya menyumbang korban pandemi Covid-19. Tapi begitulah Mike Tyson, seorang legenda hidup yang lekat dalam memori.

Tentang Mike Tyson, saya jadi teringat televisi hitam putih bermerek Sharp yang ditempatkan di pojok ruangan rumah kami, di bawah lampu bohlam kuning 5 watt. Barang itu menemani kami, yakni saya, bapak, dan beberapa teman untuk menonton Mike Tyson berlaga.

Hari Ahad itu adalah hari pertandingan tinju internasional. Saya harus nekat bolos atau mangkir jam pelajaran, karena Ahad adalah hari bersekolah kami di madrasah tsanawiyah. Sedangkan pertandingan tinju digelar sekitar jam 10 pagi.

Televisi itu jugalah yang mengenalkan saya pada sosok Mike Tyson dan Evander Holyfield di kelas berat, Julio Cesar Chavez, Sugar Ray Leonard, Thomas Hearns di Kelas Welter dan penjelajah, juga tentu saja Felix Trinidad.

Dulu, sekitar pertengahan 80 sampai awal 90-an, olah raga tinju masih terasa ramai dengan berbagai sensasi dan prestasi para petarungnya. Sekarang, mau tidak mau perhatian olah raga adu jotos agak terbagi dengan keberadaan World Wresting Federation (WWF) ataupun  Ultimate Fighting Championship (UFC) tempat Habib Nurmagomedov dan Conor McGregor menebar sensasi. Bisa jadi inilah salah satu alasan mengapa tinju tidak lagi sesemarak dulu.

Siapa Mike Tyson?

Bagi saya, bisa jadi “sepi”nya tinju saat ini karena tidak ada lagi Mike Tyson atau penggantinya yang sepadan. Tyson selayaknya natural born killer, petarung sejati dari sejak dilahirkan.

Dalam sebuah buku yang berjudul Mike Tyson, My Undisputed Truth, My Autobiography (2013), Tyson menjelaskan tentang siapa dirinya sesungguhnya. Besar di Catskill, kawasan ghetto di Brooklyn, Tyson dikenal sebagai tukang kelahi yang sulit ditandingi. Karakter kerasnya sudah terlihat sejak kecil. Rodney, abang kandung berselisih lima tahun darinya, kerap jadi korban kekesalan dan amarahnya.

Rodney cenderung pendiam. Sehingga, ajakan-ajakan untuk nyolong roti di toko makanan datang dan berasal dari Tyson. Jika menolak, Tyson tak segan mengumbar amarahnya ke Rodney.

Namun, meski keras pada abangnya, Tyson adalah pembela sejati untuk kebenaran. Sayang, kebenaran itu menurut yang diyakininya saja. Dengan watak kerasnya, mudah saja membayangkan kelahi dan pertarungan jalanan di Brooklyn yang mengikutsertakannya, juga kriminalitas. Dalam pengakuannya, pada umur 12 tahun, Tyson sudah 29 kali ditangkap polisi karena tindakan kriminal dan perkelahiannya.

“Aku tak terkalahkan,” sombongnya pada orang-orang sekitarnya. Dalam berkelahi, kemampuannya untuk menghindari serangan lebih cepat dari serangan lawannya.

Dalam menyerang, sekali pukul sudah cukup membuat lawannya tersungkur, kalau perlu sampai semaput. Untuk segala yang tidak mampu menandinginya, dengan pongah Tyson menilai dirinya adalah “Alexander The Great” modern.

Kekuataan pukulannya memang sudah menakutkan dari remaja, sekaligus mengkhawatirkan ayahnya, Jimmy Kirkpatrick Jr. Kekhawatiran yang sangat beralasan karena perangai beringas dan tidak bisa diatur Tyson.

Jimmy berusaha keras mencari jalan keluar hingga akhirnya takdir menemukan Tyson dengan Cus d’Amato. Cus adalah orang yang memberi koridor cara bertarung dalam tinju kepada Tyson, membuatnya jadi mesin petarung yang sangat menakutkan lawan-lawannya kelak.

Constantin D’Amato nama lengkapnya. Lelaki tua asal Italia ini membuka lembaran baru Tyson. Brett McKay dalam The Warrior Monk Philosophy of  Trainer Cus D’Amato: the 5 Strategic Principles That Turned Mike Tyson into A World Champion (2019), menuturkan betapa gelut dan adu jotos di atas ring tinju bukan hanya tentang seseorang dengan kekuatan fisik tak terperi.

Bertinju  bukan hanya sekedar bertanding, lalu menang, uang datang, dan selesai. Namun, Brett menjelaskan bahwa dalam melatih Tyson, Cus menjalankan strategi yang banyak dijalankan para pendeta dengan penguasaan dan pengendalian dirinya atas hawa nafsu.

Para pendeta yang biasa menyepi itu sengaja mengasingkan diri, menjauhi keramaian, dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang diyakini. Semua itu ditempuh untuk tujuan akhir berupa pencapaian spiritualitas tertinggi dengan zat yang serba Maha.

Manifestasi Spiritualitas

Di tangan Cus, spiritualitas para pendeta itu dimanifestasikan dalam disiplin diri yang tinggi pada Tyson. Laku disiplin ini dijalankan dengan ketat pada Tyson tidak dengan sebuah komunikasi yang frontal. Cus pada akhirnya mendaulat Tyson menjadi anak angkatnya. Dengan status itu, waktu demi waktu bersama Tyson bisa lebih akrab dan hangat.

Cus menjalankan lima strategi berlatih yang intens untuk membentuk Tyson baru. Pertama, sepenuhnya fokus pada misi. Cus ingin Tyson tidak membagi lagi waktunya untuk nyolong roti di toko atau memalak orang di tengah jalanan Brooklyn.

Yang dilakukan hanyalah berlatih dan berlatih di gym kecil di kawasan Catskill. Disiplin yang tinggi untuk berlatih membuat Tyson memiliki body goal sempurna sebagai petarung sangar. Tidak heran jika dia dijuluki Iron Mike kelak.

Kedua, membaca dan belajar untuk memperluas wawasan dan membangun sikap hidup. Mungkin tidak banyak yang tahu, Cus d’Amato bisa membentuk Tyson remaja untuk dekat dengan buku. Tulisan Ernest Hemingway, Vyodor Dovtoyevsky, Frederick Nietzche dan penulis lain dilahapnya di sela latihan di gym. Disebutkan, buku Dumas, The Count of Monte Cristo adalah buku favoritnya.

Ketiga, mengontrol pikiran dan realitas. Pada Tyson, Cus menekankan pentingnya menguasai pikiran sendiri agar tidak mudah dipengaruhi sekitar. Dalam kaitan ini, disebutkan bahwa Cus percaya akan kekuatan telepati pikiran, dimana kontrol atas pikiran sekarang akan menentukan kesuksesan nantinya.

Keempat, jadikan yang nyaman menjadi tidak nyaman di atas ring. inilah filsafat penghancuran musuh yang ditekankan pada Tyson. Segala yang terlihat enak dan nyaman pada musuh harus dihancurkan dengan segala daya. Letih, bagi Cus, 90% di antaranya hanyalah soal psikologi. Oleh karena itu, bertarung di atas ring adalah soal mengerahkan segala yang dimampu dalam diri.

Kelima, Belajar untuk mengontrol dan menggunakan rasa takut. Saya kutip sepenuhnya pendangan Cus tentang rasa takut:

“Fear is the greatest obstacle to learning. But fear is your best friend. Fear is like fire. If you learn to control it, you let it work for you. If you don’t learn to control it, it’ll destroy you and everything around you.

Like a snowball on a hill, you can pick it up and throw it or do anything you want with it before it starts rolling down, but once it rolls down and gets so big, it’ll crush you to death.


So one must never allow fear to develop and build up without having control over it, because if you don’t you won’t be able to achieve your objective or save your life.”

Ketakutan adalah hambatan terbesar untuk belajar. Tapi ketakutan adalah teman baikmu. Ketakutan seperti api. Jika Anda belajar mengendalikannya, ia akan bermanfaat untuk Anda. Jika Anda tidak belajar mengendalikannya, itu akan menghancurkan Anda dan semua yang ada di sekitar Anda.

Seperti bola salju di atas bukit, Anda dapat mengambilnya dan melemparkannya atau melakukan apa pun yang Anda inginkan sebelum bola itu mulai menggelinding. Begitu bola itu menggelinding dan menjadi besar, itu akan menghancurkan Anda sampai mati.

Jadi seseorang tidak boleh membiarkan rasa takut untuk berkembang tanpa kendali, karena bisa membuat Anda tidak akan dapat mencapai tujuan ataupun menyelamatkan hidup Anda.

Cus menyadari tetap ada potensi rasa takut dalam diri manusia, pun Tyson. Ungkapan Cus tersebut menempatkan rasa takut dalam dua sisi manusiawinya. Namun jika seseorang mampu mengelola rasa takut dengan baik, hal itu bisa menjadi modal yang dahsyat untuk menggerakkan potensi kekuatan fisik yang mampu merobohkan apapun di depannya.

Kesalahan dan Kedewasaan

Dengan pola dan filosofinya dalam melatih, Cus telah membentuk Tyson menjadi ‘mesin pembunuh’ yang sulit dihentikan. Sayang, Cus meninggalkan Tyson selamanya sebelum Tyson paripurna sebagai atlet adu jotos dengan lingkaran kehidupan yang demikian keras.

Setahun setelah Cus meninggal, Tyson menjadi juara dunia tinju termuda dalam sejarah hingga kini. Tyson berumur 20 tahun kala itu dengan sederet rekor mengalahkan petinju petinju besar: Leon Spinks, Larry Holmes, Trevor Berbicks, Shannon Briggs, dan lain-lain.

Andai Cus masih bisa mendampingi Tyson, saya yakin Tyson bisa meminalisir diri dengan falsafah yang ditanamkannya. Cus bisa menjadi living legend dalam diri Tyson untuk menghindari skandalnya dengan Desiree Washington yang menjadi awal mula kehancuran karirnya.

Andai Cus masih bisa mendampingi, Tyson tidak akan tergoda dengan gelimang uang Don King yang menjerumuskannya dalam kehidupan jetset yang menggerogoti insting membunuhnya, hingga ia tak perlu memakai cara curang untuk mengalahkan Evander Holyfield.

Namun, saya masih melihat sisi sportif dan pengakuan atas segala kesalahan yang dilakukannya. Dalam penutup otobiografinya, dengan tenang dia menjelaskan gambar-gambar perjalanan karirnya. Di antaranya adalah insiden gigit telinga yang dilakukannya ke Holyfield.

Sangat mungkin, pengakuan itu merupakan bagian dari kedewasaannya, dengan menjadikan masa lalu yang pahit sebagai bagian pelajaran dan pengakuan diri. Bisa jadi, itu adalah bekas ajaran Cus pada Tyson untuk mengakui realitas yang ada di sekitarnya dengan jantan, bahkan jika itu adalah rasa bersalah.

Cus, dengan demikian, adalah belahan jiwa sesungguhnya pada diri Mike Tyson. Dia memberi pelajaran penting tentang bagaimana mengontrol diri agar tidak menjadi berlebihan dengan emosi dan kekuatan diri, mengarahkan potensi tersebut menjadi kekuatan dan energi positif.

1
0
Dietmar Hopp, Pengejar Mimpi yang Dibenci

Dietmar Hopp, Pengejar Mimpi yang Dibenci

Pada suatu malam, saya sedang tidak bisa tidur, hingga akhirnya terpikir untuk mencari tayangan pertandingan sepak bola saja di televisi. Akhirnya, bertemulah saya dengan salah satu channel yang sedang menayangkan pertandingan Bundesliga, antara tuan rumah Hoffenheim melawan Bayern Munich.

Kala itu, pertandingan sedang dihentikan di sekitar menit 75. Tentu saya penasaran apa yang terjadi? Karena biasanya, pertandingan dihentikan karena terjadi kerusuhan suporter, atau kondisi lapangan yang tidak mendukung pertandingan tetap dilakukan.

Setelah beberapa menit, pertandingan kembali dilakukan. Anehnya, kedua kesebelasan malah saling mengumpan bola, seluruh pemain bahkan sampai kiper pun berkumpul di tengah lapangan! Tentu bukan hal yang lazim terjadi di sepak bola profesional.

Sumber: threeatthebackweb.wordpress.com

Kamera lebih sering menyorot sesosok pria di pinggir lapangan, seseorang yang sudah terlihat tua. Belakangan saya baru tahu sosok tersebut adalah Dietmar Hopp, pemilik klub Hoffenheim. Lantas kenapa sosok itu yang jadi sorotan? Di sinilah ceritanya.

Klub Sepak Bola Level Kecamatan

Pertandingan itu dihentikan oleh wasit yang memimpin jalannya laga karena melihat pendukung Munich selaku tamu membentangkan spanduk besar yang berisi singgungan yang tidak pantas kepada pemilik Hoffenheim.

Sebagai bentuk solidaritas klub, akhirnya disepakati kedua tim tidak melanjutkan pertandingan dengan permainan normal. Kedua tim membalas protes atas tindakan tidak pantas yang dilakukan pendukung tim tamu.

Usut punya usut, ternyata kejadian ini bukan yang pertama. Pada beberapa pertandingan, pendukung tim lawan dari Hoffenheim juga melakukan hal yang sama. Bisa dibilang, Hoffenheim dan pemilik klubnya merupakan musuh bersama sebagian besar pendukung tim lawan.

Mengapa Hoffenheim, khususnya Dietmar Hopp dibenci? Hal itu tidak lepas dari perjalanan kilat klub tersebut yang menjelma dari klub amatir menjadi klub yang disegani di Bundesliga, hanya dalam waktu 18 tahun.

Turn-und Sportgemeinschaft 1899 Hoffenheim e.V., atau singkatnya disebut TSG 1899 Hoffenheim merupakan klub profesional asal Jerman yang ber-homebase di Hoffenheim, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sinsheim, Negara Bagian Baden-Württemberg.

Iya, pembaca tidak salah baca kok, Hoffenheim memang merupakan klub sepak wilayah bola level kecamatan – dulunya, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 3000 orang. Pada awalnya didirikan pada tahun 1899 sebagai klub gimnastik, Hoffenheim mulai terbentuk menjadi klub sepakbola pada tahun 1945.

Pada awal 1990-an, klub ini adalah tim amatir lokal yang bermain di divisi delapan Baden-Württemberg A-Liga, dan terus merangsek naik, hingga pada tahun 1996 tim itu mampu bersaing di Verbandsliga Nordbaden (V), divisi enam di level Liga Jerman.

Bergabungnya Alumni yang Suka Bermimpi

Pada awal tahun 2000, Dietmar Hopp, seorang miliarder co-founder dari perusahaan software terkemuka SAP, membeli klub tersebut. Banyak orang menyebut kedatangan Hopp sebagai ‘kembalinya sang alumni’ karena memang di masa mudanya dulu, Hoffenheim merupakan klub di mana Hopp tergabung.

Meskipun karirnya lebih bersinar ketika menjadi pengusaha, tetapi kecintaannya terhadap Hoffenheim tidak pernah pudar. Itulah yang menjadi alasannya membeli klub masa kecilnya itu.

Kontribusinya menghasilkan efek yang nyata. Di tahun yang sama, Hoffenheim berhasil dipromosikan ke divisi keempat Oberliga Baden-Württemberg. Satu tahun kemudian, Hoffenheim kembali promosi ke Regionalliga Süd (Divisi Tiga).

Meskipun mereka menempati urutan ke-13 pada musim pertama mereka di Regionalliga, tetapi kemudian meningkat secara signifikan pada tahun berikutnya, posisi kelima. Pada tahun-tahun awal kepemilikannya tersebut, Hopp berinvestasi dengan membangun fasilitas pelatihan yang canggih.

Lalu, Ia juga membangun pengembangan pemain muda di level akademi muda, dari mulai usia di bawah 12 hingga di bawah 19 tahun. Pada titik ini, Hopp percaya bahwa klub telah memperoleh fondasi dan stabilitas yang diperlukan agar klub dapat promosi ke 2.Bundesliga nantinya.

Pada tahun 2006, klub itu berusaha untuk meningkatkan kualitas pasukan dan staf teknisnya dengan mendatangkan pemain dengan pengalaman di level Bundesliga. Di antaranya Jochen Seitz dan Tomislav Marić, dan talenta muda seperti Sejad Salihović.

Di level manajer, Hopp menunjuk Ralf Rangnick, yang selama ini telah melatih tim Bundesliga seperti sebagai SSV Ulm 1846, VfB Stuttgart, Hannover 96 dan Schalke 04, untuk kontrak lima tahun.

Investasi tersebut terbayar pada musim 2006-07 dengan promosi klub ke-2 Bundesliga setelah menduduki peringkat kedua di Regionalliga Süd. Musim 2007-08 adalah musim pertama Hoffenheim mampu sampai pada level tertinggi Liga Jerman, setelah hanya bermain di 2 Bundesliga selama satu musim.

Hopp tidak tanggung-tanggung berinvestasi. Pada tahun 2007, ketika Hoffenheim masih berlaga di divisi kedua, ia membangun stadion baru berkapasitas lebih dari 30 ribu penonton, sebagai pengganti stadion sebelumnya yang bernama Dietmar-Hopp-Stadion yang berkapasitas enam ribu penonton.

Awalnya, rencana pembangunan stadion baru bernama Rhein-Neckar-Arena itu sempat dicibir karena dibangun dengan kapasitas yang terlalu besar. Bahkan penduduk Hoffenheim pun hanya sekitar tiga ribu penduduk, 10% dari kapasitas stadion itu. Akan tetapi hal itu tidak membuat Hopp ragu untuk menggelontorkan dana sekitar enam puluh juta euro.

Ia yakin bahwa nantinya Hoffenheim akan menjadi kebanggaan tidak hanya penduduk Hoffenheim saja, tetapi penduduk di sekitarnya bahkan di level dunia.

Di level tertinggi Liga Jerman, posisi Hoffenheim cukup stabil, beberapa kali berada di papan atas liga, hingga lolos ke Liga Champion. Sebuah pencapaian yang mencengangkan untuk ukuran klub yang belum lama promosi.

Hoffenheim dan Kapitalisme Jerman Barat?

Nah, sampai sejauh cerita ini mengalir, sudah terjawab kan mengapa village club ini dibenci? Nyatanya, prestasi Hoffenheim belum disambut penerimaan yang baik dari seluruh pihak. Cibiran masih datang, terutama dari beberapa pendukung klub pesaing di Bundesliga yang melabeli klub dengan sebutan kasar “corporate whores”.

Kritik ini terutama muncul dari klub yang berasal dari bekas Jerman Timur, di mana terdapat klub dengan jumlah pendukung yang lebih besar, tetapi tidak didukung dengan kekuatan finansial yang besar. Mereka memandang Hoffenheim sebagai lambang sifat tidak adil dari kapitalisme Jerman Barat.

Dalam sepakbola Jerman, masalah tradisi memang membawa banyak beban. Klub akan sering disebut oleh komentator, pemain, dan jurnalis sebagai “Traditionsverein”, menjadi lencana kehormatan.

Sebaliknya, klub-klub seperti Hoffenheim, dan yang terakhir RB Leipzig, serta pada tingkat lebih rendah, FC Ingolstadt, pada umumnya diejek sebagai klub “plastik” yang sering dicaci-maki oleh pendukung tim lawan, dan bahkan oleh pelatih dan manajer.

Yang terbaru adalah tindakan yang tidak pantas dari pendukung Munich, meneriaki Hopp dengan sebutan “Son of a Bitch”. Sebuah hal yang lucu mengingat Munich adalah klub penguasa tunggal Bundesliga selama puluhan tahun.

Mereka pun ternyata terusik dengan kemunculan dan keberadaan Hoffenheim. Sebelumnya, pendukung Dortmund melakukan aksi tak terpuji yang sama. Dengan ‘bergabungnya’ dua pendukung klub ini, maka alasan kebencian berlatar belakang soal kapitalisme menjadi tidak relevan lagi. Munich dan Dortmund merupakan dua klub raksasa Jerman yang memiliki dukungan keuangan yang kuat pula.

Penutup

Bagi saya, kebencian dengan alasan tradisi sangat tidak relevan, terutama karena upaya yang dilakukan oleh Hopp tidak bisa dibilang instan. Hopp dengan sabar membangun stabilitas di Hoffenheim, memikirkan segala sisi untuk mendukung lahirnya Hoffenheim sebagai klub yang disegani di negaranya.

Hopp menunjukkan cintanya terhadap klub masa kecilnya, klub yang ada di tanah kelahirannya, dengan mimpi yang diekstraksi menjadi visi. Masa, hal semanis ini kemudian dibenci?

Menurut Anda bagaimana pembaca?

2
0
Refleksi Dari Jakarta:  Menengok Kinerja Udi Hartoko Mewujudkan Sebuah Desa Wisata

Refleksi Dari Jakarta: Menengok Kinerja Udi Hartoko Mewujudkan Sebuah Desa Wisata

Suatu hari saat di perjalanan pulang dari Puncak ke Jakarta, adik saya bertanya, “Mbak, ngapain sih orang Jakarta rela macet-macetan di hari libur Sabtu Minggu begini cuma buat lihat pegunungan?” Mungkin baginya, weekend escape yang kami lakukan ini tidak cukup menyenangkan. Dalam benaknya seperti bermunculan banyak tanya, “Mengapa hanya untuk sebuah pemandangan desa, asrinya pegunungan, persawahan dan udara yang sejuk, kami harus menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan uang?”

Padahal di kampung halaman kami suasana seperti ini merupakan barang publik yang dapat dinikmati setiap hari, hingga kadang lupa disyukuri. Adik saya lupa, bahwa sekarang saya sudah bukan lagi orang desa. Saya sudah menjadi orang Jakarta. Bagi kami warga ibukota, kemacetan dalam hitungan jam bukanlah suatu masalah. Toh, sesampainya di tujuan wisata rasa lelah itu akan terbayarkan seketika.

Sejak meninggalkan Kabupaten Malang tiga belas tahun lalu, saya baru menyadari betapa berharganya kenikmatan hidup di desa yang asri. Bagaimana tidak, di Jakarta, jutaan manusia berkumpul menghasilkan karbondioksida dan asap kotor di jalanan setiap harinya.

Udara yang menyengat dengan kisaran suhu rata-rata 29-31 derajat celcius di siang hari, 24 derajat celcius di malam hari, dan ditambah lagi dengan tuntutan hidup di ibu kota, membuat warganya lebih rentan terhadap tekanan.

Tren Weekend Escape Warga Perkotaan

Jakarta adalah kota dengan tingkat stres tertinggi di Indonesia, nomor 18 dari 150 kota di dunia yang diteliti oleh Zipjet. Kegelisahan dan stres warganya telah berkontribusi terhadap kemerosotan kesehatan mental mereka. Skor survei yang dilakukan pada tahun 2017 tersebut didasarkan pada tingkat kepadatan penduduk, polusi udara, kemacetan jalan raya, dan angka kriminalitas.

Tidak mengherankan jika kemudian sebagian dari warganya mencoba refreshing dengan cara ‘melarikan diri’ sejenak ke kota-kota penyangga agar dapat mendapatkan pemandangan yang lebih segar. Bogor, Bandung, dan Serang adalah beberapa kota yang menjadi tujuan mereka.

Pola weekend escape yang menawarkan penduduk perkotaan untuk menikmati suasana pegunungan dan pedesaan seperti yang kami lakukan, juga menjadi kebutuhan warga kota terbesar kedua di Indonesia, yakni Surabaya.

Salah satu daerah tujuan yang menarik perhatian adalah Kota Malang  yang disangga oleh Kota Batu dan Kabupaten Malang. Di kota itulah saya lahir dan dibesarkan, sebelum akhirnya pada tahun 2004 saya memutuskan untuk mengikuti arus urbanisasi dengan alasan pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan.

Wilayah Malang memang memiliki keindahan alam yang sempurna, yaitu dataran tinggi hingga gunung yang membentang mulai dari Gunung Kawi, Arjuno, Kelud, hingga Semeru. Ada juga wisata ala perkotaan dengan mal-mal di pusat kota, gurun pasir di pegunungan Bromo, hingga pantai di bagian selatan yang terkenal dengan ombaknya.

Namun demikian, bagi seorang putra daerah dari pelosok nggunung seperti saya, Kabupaten Malang belum cukup memikat untuk menahan saya berhijrah ke Jakarta. Tingkat upah petani yang kecil dan minimnya pilihan pekerjaan untuk para sarjana di pedesaan, mau tidak mau membuat kami memilih untuk bertualang di ibukota. Bagi saya lebih baik tinggal di Jakarta, menjadi PNS dengan gaji berjuta-juta, meskipun kami harus menghadapi kejamnya ibukota.

Inisiatif Udi Hartoko

Tidak demikian dengan apa yang dipikirkan oleh seorang Udi Hartoko, Kepala Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Udi bukanlah seorang sarjana. Dia hanya alumni sekolah setingkat SMA. Namun, motivasinya luar biasa. Udi ingin tetap tinggal di desa dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi tanah kelahirannya.

Udi terpilih menjadi kepala desa pada tahun 2011. Dalam beberapa tahun sejak kepemimpinannya, Desa Pujon Kidul yang dahulu tertinggal dibandingkan desa-desa lain di kecamatan Pujon, kini menjadi buah bibir.

Diawali dengan kucuran dana desa sebesar 60 juta, Udi menginisiasi pembangunan objek wisata baru yang bertemakan, “Kembali ke Desa, Kembali ke Persawahan, dan Kembali Menyatu dengan Alam”. Tak tanggung-tanggung, seluruh aparat dan warga desa dilibatkan sebagai perencana, pelaku, dan penerima manfaat dari program desa wisata itu.

Konsep yang dibawa Udi sebenarnya sangat sederhana. Dia menciptakan desa wisata yang ramah wisatawan dengan menyediakan rumah makan (cafe), wahana berkuda dan motor, penginapan, produk pertanian dan peternakan, yang disempurnakan dengan keberadaan alam persawahan dan pegunungan Pujon Kidul. Dalam bahasa milenial, tempat wisata ini biasa disebut instagramable.

Berdayakan Pemuda

Ide sederhana menciptakan kafe, yang dalam bahasa lokalnya disebut warung kopi ini, berhasil merangkul anak muda putus sekolah untuk menjadi pekerja wisata. Mulai tukang parkir, ticketing, guide, sampai penjaga berbagai wahana di desa wisata dilakukan oleh anak-anak muda penduduk lokal. Mereka kini menjadi produktif, tidak lagi menganggur atau terpaksa ‘kabur’ meninggalkan desa mencari kerja.

Tak butuh waktu lama hingga desa wisata Pujon Kidul berubah menjadi destinasi wisata baru yang terkenal di seputar Malang. Keberhasilan mewujudkan desa wisata tak lepas dari kiprah sang kepala desa dalam memberdayakan kreativitas para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus-kampus di Kota Malang. Maklumlah, selain sebagai kota wisata, Malang juga terkenal sebagai kota pelajar.

Udi juga berupaya untuk menarik dukungan finansial dan promosi dari salah satu bank plat merah terbesar di Indonesia. Berbagai aliran dana dari pemerintah kabupaten hingga kementerian di Jakarta pun makin deras mengucur ke sana.

Desa Pujon Kidul dianggap menjanjikan kemajuan dan kebanggaan. Hasilnya, cita-cita sang kepala desa yang awalnya dianggap mimpi, bahkan ditertawakan oleh warganya sendiri, telah menjadi kenyataan. Desa wisata Pujon Kidul telah menyabet berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan internasional sebagai sebuah desa yang berdaya. Masyarakatnya, tentu saja merasa gembira.

Kemajuan Pujon Kidul

Pujon Kidul memang bukanlah desa di mana saya dibesarkan. Namun, kecamatan kami bertetangga. Dari rumah orangtua saya di Kecamatan Ngantang, hanya dibutuhkan 20 menit berkendara ke sana. Menyaksikan kemajuan Pujon Kidul saat ini, saya pun turut bangga. Sudah berkali-kali televisi dan media massa meliput kemajuan desa yang satu ini.

Sungguh pantas jika dikatakan bahwa desa ini telah menemukan potensinya dan berhasil menggunakannya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Para petani dan peternak sapi masih tetap bekerja dengan giat setiap hari, seperti biasa sejak bertahun-tahun yang lalu.

Hanya saja, kali ini mereka menjadi seperti aktor-aktor dalam sebuah film layar lebar berukuran panoramic. Layar itu lebih keren dari layar bioskop karena ia membentang nyata dan tak terbatas dalam beberapa derajat pandangan ke depan.

Sejauh mata manusia memandang di segala penjuru arah akan tampak pemandangan luar biasa. Pemandangan itu adalah film tentang pedesaan dengan background hijaunya persawahan, pegunungan, dan sejuknya udara. Film seperti ini belum bisa diproduksi industri perfilman yang paling canggih sekalipun. Karena ia nyata, ciptaan Tuhan sang Maha Pencipta. Film itu berjudul, “Bahagianya Hidup di Desa”.

Karena keindahannya yang alami, Desa Pujon Kidul dengan cafe sawahnya mempunyai daya tarik tersendiri. Orang-orang dari kota berduyun-duyun mengunjungi desa itu, memesan makanan ndeso yang dimasak sendiri oleh para ibu rumah tangga, ber-selfie ria bersama bunga-bunga, naik kuda atau motor KLX menyusuri pematang sawah.

Kegiatan lain yang tak kalah mengasyikkan adalah ngobrol langsung dengan para petani padi dan apel, serta membeli susu sapi yang diolah lagi oleh ibu-ibu PKK. semua itu adalah aktivitas yang memberi sensasi tersendiri bagi warga kota yang berkunjung ke sana. Untuk menikmati itu semua, pengunjung cukup membayar uang parkir dan membeli kupon makan.

Setiap tamu akan disambut dengan senyuman hangat dari warga. Meskipun berada di bagian timur pulau Jawa, kabupaten Malang masih bagian dari suku Jawa. Penduduknya masih menjunjung unggah-ungguh dan menawarkan keramahan kepada siapa saja.

Kreatif Kelola Dana Desa

Luar biasa! Sebagai seorang auditor pengawasan keuangan negara, saya berdecak kagum pada siapa pun yang berhasil mengubah Pujon Kidul menjadi seperti hari ini. Pasalnya, hanya diawali dengan dana 60 juta rupiah saja, tanpa harus studi banding jauh-jauh ke luar pulau bahkan luar negeri, tanpa rapat anu-ini-anu-itu, tanpa bimtek apalagi konsultansi yang menelan dana berjuta-juta, dan hanya diawaki oleh kepala desa dan warganya sendiri, reformasi besar-besaran di tingkat desa itu telah benar-benar terjadi.

Sang kepala desa memang hanya tamatan SMA, tapi berkat niatnya yang tulus proyek aktualisasi dirinya telah menginspirasi desa-desa lain di seluruh negeri. Prestasinya jauh melebihi kehebatan disertasi seorang doktor di bidang ilmu tata wilayah pada umumnya.

Pengelolaan dananya juga jauh lebih efektif dan efisien daripada sebuah program rutin bulanan kementerian di Jakarta, yang direncanakan dan dikelola oleh para sarjana ataupun pascasarjana. Kadang kala, fakta semacam ini membuat kami merasa tertampar, lalu speechless, tak bisa berkata-kata.

Menteri PDTT mengatakan bahwa ada 74.754 desa di seluruh Indonesia. Jika saja setiap desa berhasil mengenali apa kebutuhannya, apa kekuatannya, dan bersatu padu bekerja sama untuk menggunakan dana desa yang mereka terima, maka saya sangat optimis akan hadir desa-desa lain di Indonesia dengan prestasi yang sama dengan desa wisata Pujon Kidul. Bahkan, mungkin desa-desa tersebut bisa jauh lebih hebat lagi. Kepemimpinan kepala desa adalah kata kuncinya.

Rata-rata 60% kepala desa di negara kita hanya alumni sekolah dasar. Namun, hal itu bukan lagi masalah. Bukankah kisah kesuksesan Pujon Kidul mengajarkan kepada kita bahwa yang terpenting adalah niat baik sang pemimpin untuk maju?

Jika merasa kurang kreatif, kepala desa masih punya banyak cara untuk berkreasi. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan anak-anak muda di desa. Memanfaatkan jasa mahasiswa KKN juga diperbolehkan. Bahkan, saat ini telah ada tenaga pendamping penggunaan dana desa yang diamanahi oleh Kementerian PDTT untuk mengawal akuntabilitas dan kinerja dana desa di seluruh Indonesia.

Epilog

Kepala desa memiliki peran yang strategis dalam membangun desa. Pengelolaan dana desa yang efektif terbukti dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan kerja dan mencegah laju urbanisasi. Yang terpenting, dana desa harus benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat desa, bukan digunakan untuk kepentingan pribadi aparat desanya.

Kalau sampai itu tidak terjadi, tak terbayangkan betapa riweuhnya KPK, auditor negara, dan aparat penegak hukum yang harus menangani praktik korupsi uang negara dalam bentuk dana desa yang telah dialirkan ke puluhan ribu desa di seluruh Indonesia.

Lebih dari itu, cita-cita mulia menyejahterakan rakyat Indonesia dimulai dari desa akan semakin jauh dari asa. Maka, tak bisa ditawar lagi, semuanya harus berangkat dari hati. Berangkat dari niat yang tulus untuk membangun negeri. Dimulai dari desa, dimulai dari saat ini juga. Udi Hartoko telah memberi bukti kepada kita semua.***

 

 

0

0
Nyanyian Sendu Murdiyanto: Sosok “Oemar Bakri” Yang Gigih Melawan Korupsi

Nyanyian Sendu Murdiyanto: Sosok “Oemar Bakri” Yang Gigih Melawan Korupsi

Foto Pak Guru Murdiyanto (dok.: Ilham)

——————————————————-

 

Guru dalam filosofi Jawa merupakan akronim dari “digugu lan ditiru” atau orang yang dipercaya dan diteladani. Kepercayaan dan keteladanan tersebut tidak sekedar dikaitkan dengan tanggung jawabnya dalam mengajarkan siswa tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Namun lebih jauh, guru juga diharapkan menjadi sosok teladan dalam penegakan moral, etika, dan integritas termasuk kontribusinya dalam pemberantasan korupsi.

Keberanian melawan praktik korupsi dan berbagai kecurangan yang terjadi di dunia pendidikan menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi seorang guru. Tugas yang tidak ringan dan penuh dengan risiko. Wajar saja apabila kebanyakan orang berpikir beribu kali untuk menjadi seorang “whistleblower” dan membongkar indikasi adanya tindak korupsi atau kecurangan di tempat kerjanya.

Murdiyanto, yang akrab dipanggil “Pak Mur,” merupakan salah satu dari segelintir sosok guru yang memiliki keberanian melakukan perlawanan terhadap praktik “busuk” yang berlangsung di tempatnya bekerja. Pria yang lahir bertepatan dengan “hari pahlawan” 59 tahun yang lalu itu merupakan salah satu contoh guru yang berani melawan praktik kecurangan.

Pak Guru Murdiyanto adalah tokoh dibalik pengungkapan kasus pungutan liar atas tunjangan sertifikasi guru yang menghebohkan masyarakat di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya.

Praktik pungli yang disamarkan dengan isilah “tali asih” tersebut berlangsung mulai penghujung 2009 hingga pertengahan 2010. Murdiyanto menjelaskan kronologis kejadian pungli ini sebagai berikut:

“…kami diminta untuk menyetorkan sejumlah uang kepada oknum pejabat Dinas Pendidikan Sukoharjo sebesar Rp600.000,00 (enam ratus ribu) per orang, …..setiap guru yang menerima tunjangan sertifikasi guru dikenakan potongan sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu) per bulan. ……Uang sejumlah tersebut dibayarkan sekaligus untuk periode satu tahun pada saat rapelan tunjangan sertifikasi diterima. Jumlah guru bersertifikasi di wilayah Sukoharjo pada saat itu mencapai 1.200 orang lebih” (Wawancara, 3 Juni 2015)

Ironisnya, pada saat Murdiyanto berjuang membongkar kasus pungli ini ke ruang publik, dukungan dari para rekan guru yang menjadi korban pungli justru “meredup.” Para korban pungli memilih bungkam dan tutup mulut (silence) ketika dimintai keterangan oleh DPRD. Kondisi ini merupakan fenomena yang jamak disebut sebagai bystander effect (efek pengamat).

Fenomena itu menggambarkan semakin banyak orang yang ada di sebuah tempat kejadian, akan semakin kecil kemungkinan orang-orang membantu seseorang yang sedang berada dalam situasi darurat di tempat kejadian itu (Sarwono & Meinarno, 2009)

Dampaknya, Murdiyanto harus berjuang sendirian menghadapi berbagai tekanan sosial berupa resistensi, perlawanan balik, interogasi, dan teror dari para pelaku kecurangan (wrongdoer) maupun pihak-pihak tertentu.

Murdiyanto pernah mendapat tekanan dari beberapa elit pejabat daerah untuk mencabut pernyataan yang pernah dilakukannya di depan anggota DPRD dan para wartawan. Murdiyanto juga harus mengalami tragedi “dikucilkan” atau dipindahtugaskan ke sekolah terpencil.

Potongan lirik lagu Oemar Bakrie yang dipopulerkan oleh Iwan Fals berikut ini, Oemar Bakri…Oemar Bakri pegawai negeri, Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi, Jadi guru jujur berbakti memang makan hati” mengilustrasikan nasib naas yang harus dialami Murdiyanto sebagai seorang guru yang berani menegakkan kejujuran dan melawan ketidakadilan.

Pada awalnya, Murdiyanto tidak mendapatkan respon serius dari aparat penegak hukum. Kondisi ini tidak membuatnya putus asa. Murdiyanto terus melakukan gerilya dan turun ke jalan untuk mendapatkan kepercayaan dan dukungan publik.

Berbekal bukti serta pengalaman pungli yang dialaminya secara langsung, Murdiyanto menceritakan kasus tersebut kepada salah satu koleganya yang menjadi anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo. Dengan pendekatan persuasif yang terus dilakukan kepada koleganya itu, Murdiyanto didaulat untuk memberikan kesaksian pada acara hearing di sebuah forum pertemuan angggota DPRD dengan para pegawai dan guru tidak tetap.

Kesaksian Murdiyanto, yang didukung beberapa orang yang pada akhirnya mau memberikan kesaksian, di depan forum DPRD menjadi trending topic serta memunculkan banyak respon dan reaksi publik. Keesokan harinya, kasus pungli ini menjadi “headline” di berbagai media massa dan perbincangan hangat masyarakat di wilayah eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya.

Setelah melalui perjuangan panjang yang penuh dengan berbagai rintangan, dukungan publik semakin besar. Kekuatan tersebut berhasil mendesak aparat penegak hukum untuk melanjutkan proses penyelidikan dan penyidikan dan berujung pada dijebloskannya beberapa oknum pungli ke balik jeruji penjara.

Keberanian dan kepercayaan diri Bapak dari tiga orang anak ini banyak terbentuk dari pengalamannya berorganisasi. Sejak muda, Murdiyanto aktif di berbagai kegiatan kepemudaan bahkan pernah ditunjuk menjadi ketua atau koordinator gabungan lembaga swadaya masyarakat (LSM) se-kabupaten Sukoharjo dengan nama “Dewan Masyarakat Sukoharjo”.

Kepedulian Murdiyanto dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi khususnya di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya mendorong dirinya dan beberapa aktivis anti korupsi membentuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama “Peduli Sukoharjo”.

Murdiyanto seringkali mengkritisi berbagai kebijakan dan mengungkap praktek penyimpangan dan kecurangan yang terjadi di wilayah Sukoharjo. Permasalahan yang dibongkar Murdiyanto tidak hanya seputar dunia pendidikan.

Beberapa kasus lain yang pernah diungkap ke publik adalah kasus penyimpangan yang terjadi di lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukoharjo dan kasus pengadaan kendaraan roda dua di lingkungan DPRD Sukoharjo.

Keberanian Murdiyanto dalam melawan ketidakadilan dan berbagai kecurangan telah lama dilakukannya yaitu sejak awal menjadi guru CPNS di SMP Negeri 2 Bumiayu Brebes pada tahun 1987. Pria yang memiliki istri sesama guru ini diangkat menjadi guru CPNS terhitung sejak Maret 1986.

Murdiyanto menjalani penempatan pertama kali atau penugasan sebagai guru di SMP Negeri 2 Bumiayu Brebes hingga tahun 1989. Murdiyanto dipindahtugaskan ke SMP N 1 Sukoharjo karena terjadi gesekan antara dirinya dengan kepala sekolah SMPN 2 Brebes.

Pengalaman Murdiyanto lainnya adalah pernah menemukan dan melaporkan adanya praktik kecurangan berupa mark up harga dan manipulasi jumlah barang dalam setiap pengadaan perlengkapan dan peralatan sekolah yang dilakukan oleh oknum kepala sekolah SMPN 1 Sukoharjo. Murdiyanto melaporkan kecurangan-kecurangan tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan kabupaten Sukoharjo.

Pada tahun 2006, Murdiyanto kembali mengalami mutasi ke SMP Mojolaban Sukoharjo yang berlokasi jauh dan terpencil. Menurut penuturan Murdiyanto, kepindahannya ke SMP Mojolaban Sukoharjo ada kaitannya dengan sikap dan pendiriannya yang dinilai sering berseberangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bupati Sukoharjo pada saat itu.

Atas kerja keras dan dedikasinya yang tinggi sebagai seorang pendidik, Murdiyanto kemudian mendapatkan amanah sebagai kepala sekolah di SMP Mojolaban Sukoharjo. Perjalanan karir membawa Murdiyanto mengemban tugas sebagai kepala sekolah SMP Negeri 1 Bulu Sukoharjo sejak 14 Januari 2011 hingga sekarang.

Integritas menjadi prinsip hidup yang dipegang teguh Murdiyanto. Hal itu tampak dari respon spontan yang sering ditunjukkannya setiap kali melihat praktik kecurangan dan ketidakadilan terjadi di sekitarnya.

“Motivasi itu mengalir dari dalam diri saya, ketika mengetahui adanya ketidakbenaran, otomatis saya akan langsung berontak,” demikian ungkapan Murdiyanto dengan tegas dan lugas.

Menurut penjelasan Murdiyanto, salah satu faktor yang membentuk integritas dalam dirinya adalah penanaman nilai-nilai positif yang dilakukan orang tuanya. Ayahnya seorang petani dan mantan pejuang kemerdekaan yang turut mengangkat senjata pada masa penjajahan Jepang banyak mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada dirinya.

Murdiyanto selalu mengingat dan memegang teguh prinsip hidup yang diajarkan ayahnya untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran.

Menurut penuturan Murdiyanto, dalam berbagai kesempatan ayahnya selalu mengingatkan,“Jangan biasakan berbohong, karena itu pangkal kehancuran. Janganlah takut kepada siapa pun, takutlah pada Allah”.

Pondasi agama juga ikut memengaruhi integritas Murdiyanto. Pondasi agama diperoleh Murdiyanto melalui pendidikan, baik formal maupun dari kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Secara formal, Murdiyanto juga mendapatkan pendidikan guru agama (PGA) dan pendidikan guru agama tingkat atas (PGAA). Pria yang memiliki cita-cita sebagai guru sedari kecil ini meraih gelar sarjana filsafat pendidikan islam pada tahun 1984.

Kisah heroik tentang keberanian sang “oemar bakri” (Murdiyanto) menjadi inspirasi dan teladan bagi para guru lainnya maupun birokrat lainnya. Keberanian bersuara dan menyuarakan kebenaran penting dilakukan.

Hal ini disebabkan ketidakpedulian dan bungkamnya orang-orang baik yang mengetahui adanya kejahatan juga memberikan andil pada hancurnya sebuah sistem atau organisasi, sebagaimana disinyalir oleh Edmund Burke (1729-1797) yang menyatakan bahwa “The only thing necessary for the triumph of evil is the goodman to do nothing” (satu-satunya yang perlu untuk kemenangan kejahatan adalah orang-orang baik yang berdiam diri).

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.

SELAMAT HARI GURU 25 NOVEMBER 2017!

 

 

1

0
Mengenal Politik Populisme Tuan Guru Bajang di Nusa Tenggara Barat

Mengenal Politik Populisme Tuan Guru Bajang di Nusa Tenggara Barat

Baru-baru ini Tuan Guru Bajang mengalami perlakuan diskriminatif di Singapura. Perlakuan diskriminatif ini kemudian mendorong kemarahan masyarakat (termasuk di Nusa Tenggara Barat) yang meminta agar pelaku diskriminasi itu dikenakan sanksi hukum. Mengingat kurang dikenalnya Tuan Guru Bajang dalam kancah nasional, tulisan ini akan mengenalkan siapa Tuan Guru Bajang melalui perspektif politik populisme.

—-

 

Berbicara soal populisme, maka kita akan dihadapkan pada pertanyaan siapa aktor dan bagaimana perannya dalam merumuskan kebijakan terhadap kepentingan rakyat. Konsep populisme dalam praktiknya sebenarnya bukanlah barang baru dalam realitas kehidupan sosial kita. Ketika populisme itu kita definisikan sebagai pola perilaku atau karakter kepemimpinan yang dekat dan selalu berpihak pada kepentingan rakyat dengan segala bentuk kerja dan program yang benar-benar untuk kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat, maka ribuan tahun bahkan jutaan tahun lalu populisme dalam dimensi sosialnya telah dipraktikkan oleh para pemimpin umat (para nabi). Orang-orang suci tersebut, menanamkan nilai-nilai idealisme hidupnya dengan mendedikasikan hampir seluruh hidupnya bagi kepentingan kebaikan, kebenaran, dan kesejahteraan rakyat (baca: umatnya).

Sebagai contoh adalah Umar Bin Khatab sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjabat sebagai khalifah pada tahun 13 H atau tahun 634 M. Dalam praktik kepemimpinannya sebagai seorang khalifah (pemimpin umat), Umar Bin Khatab telah mempraktikkan bagaimana kepemimpinan populisme itu bekerja secara semestinya. Ketika rakyatnya mengalami kelaparan akibat krisis ekonomi, sang khalifah secara langsung turun ke lapangan melihat kondisi rakyatnya. Bahkan, ketika mendapati rakyatnya yang miskin dia tak segan untuk membawakan gandum dengan dipikulnya sendiri. Ia menjadi pemimpin sederhana yang dicintai rakyatnya. Praktik kepemimpinan populisme seperti kebijakan yang melindungi dan memprioritaskan kesejahteraan bagi kaum fakir, miskin, dan anak yatim piatu dalam pemerintahannya adalah bentuk nyata bahwa populisme secara empiris telah lama ada dalam realitas kehidupan sosial politik kita.

Sebelum kita dapat mengkaji populisme dalam sebuah proses demokrasi, dalam hal ini bagaimana politik populisme dipraktikkan dalam pola kepemimpinan Muhammad Zainul Majdi dalam kapasitasnya sebagai Gubernur NTB, kita perlu membuat batasan yang jelas tentang apa itu populisme.

Dewasa ini para ilmuwan sosial, belum menemukan satu definisi tunggal bagaimana mengartikan apa itu populisme. Meminjam istilah Margareth Canovan (1999) bahwa “`populism’ is a notoriously vague term”, dalam konteks ini pendefinisian terhadap populisme mengalami arti yang masih samar-samar. Namun demikian Canovan menyebutkan bahwa untuk memahami populisme sebagai sebuah fenomena politik dalam masyarakat, maka kita bisa menganalisisnya dari perspektif ideologi dan konten kebijakan dari gerakan populis dan berkonsentrasi pada pertimbangan struktural. Populisme dalam masyarakat demokratis modern bisa dijadikan sebagai media pembanding masyarakat terhadap dua struktur kekuasaan antara ide-ide yang dominan dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Model struktural ini pada gilirannya menentukan kerangka karakteristik legitimasi populisme sebagai gaya politik dan suasana hati.

Ernesto Laclau mendefinisikan bahwa populisme sebagai gerakan politik multi-kelas dan supra-kelas yang hadir dalam momen politik rapuhnya hegemonik kekuatan politik dominan sehingga memberi peluang munculnya struktur kesempatan politik baru bagi gerakan politik akar rumput yang dipimpin oleh pemimpin kharismatik untuk mengartikulasikan wacana radikal anti-kemapanan. Menurut kamus Bahasa Indonesia, populisme diartikan sebagai paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil.

Christa Deiwiks dalam artikelnya “populism” (2009), menyebutkan dua aspek penting ketika mengkaji tentang populisme, pertama, fokus pada orang atau pribadi orang tersebut dan juga kedaulatannya yang melekat pada dirinya, dan kedua adalah aspek pertentangan yang dia sebut sebagai antagonisme antara pribadi orang tersebut dengan struktur kuasa yang berada di luar dari dirinya, seperti elit dalam demokrasi perwakilan, orang asing, dan sebagainya.

Selanjutnya Christa Deiwiks kemudian menyebutkan 3 (tiga) faktor yang menyebabkan lahirnya populisme. Pertama, adalah karena kondisi sosial ekonomi yang buruk atau adanya krisis yang terus berulang. Kedua, masalah ketidakpastian dari lembaga-lembaga politik yang diduga terkait dengan atau bahkan menyebabkan munculnya populisme. Dan ketiga, adanya pemimpin kharismatik mengadopsi gaya tertentu dan retorika yang memiliki karakteristik sebagai sebuah gerakan populis.

Berangkat dari batasan populisme Christa Deiwiks di atas, maka penulis  mencoba mengkaji tentang konsep populisme Muhammad Zainul Majdi dalam kepemimpinannya sebagai gubernur di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan untuk mengetahui latar belakang pembentuk politik populisme Muhammad Zainul Majdi dalam membangun NTB.

Siapa Tuan Guru Bajang?

Tuang Guru Bajang terlahir dengan nama Muhammad Zainul Majdi. Ia adalah putra ketiga dari pasangan HM Djalaluddin SH, seorang pensiunan birokrat Pemda NTB dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, yang merupakan putri dari TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW) dan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain. Ia lahir di Pancor, Selong Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 31 Mei 1972.

Sebutan Tuan Guru Bajang adalah gelar ulama muda yang disematkan padanya dari masyarakat Sasak. Masa mudanya sebagian besar dihabiskan di bangku pendidikan agama Islam. Ia memulai pendidikan dasar di SDN 3 Mataram (sekarang SDN 6 Mataram). Pada tingkat SLTP, ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Nahdlatul Wathan Pancor, lulus dalam 2 tahun, dan melanjutkan pada Madrasah Aliyah di yayasan yang sama tahun 1991.

Sebelum melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, di tahun 1991-1992, Majdi mengikuti program menghafal Al-Qur’an di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun. Pada tahun 1992, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo. Tahun 1996 ia lulus meraih gelar Lc. Selanjutnya, ia meraih gelar Master of Art (M.A.) dengan predikat “jayyid jiddan”. Artinya, ia lulus dengan predikat “sangat baik”, satu tingkat di bawah “cemerlang” atau “excellent”.

Pendidikan Strata Tiga (S3) dilanjutkan pada jurusan dan universitas yang sama. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Said Muhammad Dasuqi dan Prof. Dr. Ahmad Syahaq Ahmad ia menyelesaikan disertasinya dengan judul “Studi dan Analisis terhadap Manuskrip Kitab Tafsir Ibnu Kamal Basya dari Awal Surat An-Nahl sampai Akhir Surat Ash-Shoffat”. Pada tanggal 8 Januari 2011, ia lulus dengan predikat “martabah el-syaraf el ula ma`a haqqutba” atau “summa cumlaude”, suatu predikat tertinggi di dunia akademik di atas predikat “magna cumlaude”.

Proses pendidikan yang banyak dihabiskan di sekolah yang berbasis Islam serta berlatar belakang keluarga yang merupakan pendiri Nahdlatul Wathan (NW) memberikan karakter khas pribadi Majdi, yang tentunya nanti berdampak pada perilaku dan pemikirannya dalam kehidupan sosial.

Karakter khas itu membuat Majdi tampil sebagai seorang intelektual “nan religius”. Karakter ini bisa dilihat kemudian sebagai “idiologi” yang tanpa sadar membentuknya dan termanifestasikan dalam kepemimpinannya ketika menjadi gubernur. Sebagai contoh, pendekatan kebijakan pemerintahannya selalu bertendensi kepada kepentingan rakyat dan memiliki basis logika religius.

Berangkat dari latar belakang ideologis yang religius, sebagai contoh lagi, pada periode pertama menjadi gubernur (2008-2013), Majdi mengubah slogan NTB dari “Bumi Gora” menjadi “Bumi Qur’an”, dengan membumikan Qur’an pada anak-anak melalui pendidikan.

Prestasi Nyata

Nama seperti Muhammad Zainul Majdi begitu terisolasi dari pemberitaan media. Padahal kalau kita lihat secara objektif apa yang telah dilakukan oleh Muhammad Zainul Majdi dalam kapasitasnya sebagai Gubernur dalam membangun dan memajukan Nusa Tenggara Barat bangkit dari ketertinggalan adalah sebuah prestasi yang luar biasa yang kemudian membuat kita percaya bahwa ternyata masih ada sosok pemimpin yang memiliki prestasi dan visi serta karya nyata yang baik bagi pembangunan dan kemajuan masyarakat. Salah satu karakter kepemimpinan populis sang gubernur termuda di Indonesia adalah konsistensinya dalam memperjuangkan aspirasi dan kesejahteraan masyarakat NTB.

Konsistensi idealisme itu kemudian membawa dampak yang signifikan bagi kemajuan ekonomi masyarakat. Karenanya, sejak tahun 2009 atau di awal kepemimpinannya menjadi gubernur NTB, ia juga telah menorehkan banyak prestasi berupa berbagai penghargaan nasional bahkan internasional.

Pusaran Politik

Pada tahun 2007, Muhammad Zainul Majdi terpilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatun Wathan (PBNW) Pancor.  Melalui organisasi ini, ia aktif memberikan tausyiah di masyarakat. Ia kemudian menjadi dekat dengan jamaah wirid, jama’ah hizib, dan jama’ah tarekat. Pengajian ini adalah medium yang sangat efektif untuk menyampaikan hal-hal yang terkait pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan lain-lain.

Majdi tidak hanya terhubung pada lingkarannya saja (warga NW), tetapi juga lintas suku (Sasak, Samawa, Mbojo), lintas bahasa, dan lintas keyakinan, yang terbangun beriringan dengan aktivitas dakwah yang dijalankannya. Ia tak segan-segan terjun ke pelosok-pelosok desa di Lombok dan Sumbawa.

Pada tahun 2004, oleh Yusril Ihza Mahendara yang juga Ketua Majelis Syuro PBB yang begitu kagum dengan kepribadian Tuan Guru Bajang karena kepribadiannya yang bersahaja, maka melalui Partai Bulan Bintang Muhammad Zainul Majdi diusung sebagai menjadi calon anggota DPR dan kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI untuk periode 2004-2009 dari daerah pemilihan NTB.

Ditengah perjalanannya sebagai anggota DPR, tahun 2008 Muhammad Zainul Majdi dicalonkan sebagai gubernur berpasangan dengan Badrul Munir (seorang birokrat daerah) pada pemilihan Gubernur NTB periode 2008-2013 yang didukung Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di usianya yang masih muda (36 tahun) itu sang Tuan Guru terpilih menjadi gubernur NTB dengan perolehan suara mencapai 36 persen.

Dalam posisinya sebagai Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi kemudian terpilih sebagai Ketua DPD Partai Demokrat (PD) NTB 2011-2015. Zainul terpilih secara aklamasi dalam Musda II Partai Demokrat NTB yang berlangsung di Grand Legi Hotel, Mataram, Lombok, pada tanggal 3 April 2011. Bagi Tuan Guru konsep politik santun adalah hal yang paling mendasar dalam kepemimpinan politik.

Selanjutnya pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2013-2018, Muhammad Zainul Majdi kembali mengikuti kontestasi elektoral sebagai calon Gubernur NTB. Muhammad Zainul Majdi berpasangan dengan Muhammad Amin (TGB-Amin) yang didukung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PDIP, PPP, PAN, Partai Gerindra, dan PKB.  Pada pemilu yang dilaksanakan pada 13 Mei 2013, pasangan TGB-Amin dinyatakan menang oleh KPU dengan raihan suara 1.038.642 pemilih atau 44,36 persen suara.

Politik Populisme Tuan Guru Bajang

Di tengah kondisi masyarakat NTB yang mengalami keterpurukan ekonomi, Muhammad Zainul Majdi hadir untuk mengambil peran sebagai seorang pemimpin, bukan sebagai seorang penguasa. Sebagai seorang pemimpin ia memiliki kepentingan untuk bagaimana mensejahterakan masyarakatnya melalui kebijakan dan program yang benar-benar untuk kemaslahatan rakyat NTB. Kebijakan dan program yang berpihak pada rakyat itulah jalan politik populisme Tuan Guru Muhammad Zainul Majdi dalam memimpin Provinsi NTB untuk maju mengejar ketertinggalan. Aktualisasi kebijakan populisme itu terlihat dari program unggulan yang ditujukan bagi peningkatan ekonomi masyarakat NTB, salah satunya adalah Program Lumbung Bersaing.

Program Lumbung Bersaing ini adalah bentuk manifestasi konsep idiologis Muhammad Zainul Madji dalam kapasitasnya sebagai Gubernur yang kemudian dituangkan dalam visi-misi pemerintah Provinsi NTB, yang berlandaskan pada 5 (lima) nilai dalam membangun Nusa Tenggara Barat, yakni: Kerja Keras, Kesungguhan, Komitmen, Kebersamaan, dan Keberpihakan kepada rakyat.

Politik populisme yang dipraktikkan Tuan Guru Bajang dalam kepemimpinan di NTB tampak jelas dari pola kebijakan pemerintahan dalam membangun NTB. Kehadiran Program Lumbung Bersaing adalah program yang tujuannya adalah untuk pengentasan kemiskinan masyarakat sekaligus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat NTB.

Secara sosiologis, politik populisme Tuan Guru Bajang terbentuk karena faktor kultural. Faktor kultural adalah faktor lingkungan sosial di mana ia dibesarkan dalam kehidupan keluarga, yang memegang teguh konsep dan nilai-nilai religiusitas serta dipengaruhi pola pendidikan Islam. Hal ini yang kemudian membentuk sisi ideologisnya yang religius, yang melihat bahwa kehidupan dan kepemimpinan adalah pengabdian dan keberpihakan pada kepentingan rakyat sebagai bagian dari ibadah sosialnya. Point penting dari nalar legitimasi politik Muhammad Zainul Majdi dipentas politik NTB adalah tidak terbentuk karena pragmatisme kekuasaan, atau karena pengaruh basis modal kapital yang kuat tapi lebih disebabkan oleh nilai-nilai idiologis yang terbentuk secara sosial melalui struktur pendidikan dan kultur lingkungan sosial yang Islami.

 

 

0

0
Selamat Jalan Prof. Agus Dwiyanto, Sang Pencetus Pemimpin Perubahan

Selamat Jalan Prof. Agus Dwiyanto, Sang Pencetus Pemimpin Perubahan

Sebuah catatan kecil mahasiswa bimbingan*  Prof Agus Dwiyanto.

Pagi itu, di teras nan asri rumah kediaman Profesor Agus Dwiyanto, saya berbincang dengan beliau atas undangan via WhatsApp dalam rangka bimbingan penulisan disertasi saya. Dengan gaya yang santai dan suasana yang rileks, beliau banyak memberikan arahan tentang konten dan konsep yang harus saya pahami dalam menulis disertasi. Beliau pun menaruh perhatian khusus sekaligus harapan cukup tinggi terhadap penelitian saya. Hal itu mampu menambah bekal dan mempertebal kepercayaaan diri saya. Beberapa kali saya diundang ke kediaman beliau, beberapa kali juga beliau selalu menyempatkan diri untuk bercerita dan membagi pengalamannya kepada saya. Sebuah peristiwa yang sungguh ‘mewah’ buat saya.

Cerita tentang kegelisahan akan birokrasi, kritik beliau terhadap reformasi birokrasi, keluhan beliau tentang birokrasi yang sangat rule based, hingga kisah beliau dalam menjumpai berbagai peristiwa saat beliau memimpin Lembaga Administrasi Negara (LAN) di tahun 2013-2015. Beberapa saya telah mendapatinya di buku-buku karangan beliau yang menjadi favorit saya, namun mendengarkan beliau bercerita nuansanya menjadi sangat otentik, cair, bisa langsung mendiskusikannya dengan beliau.

Ada buku yang sangat istimewa buat saya, yaitu buku yang berjudul “Memimpin Perubahan di Birokrasi Pemerintah”. Buku ini belum lama terbit dan baru saja dilakukan bedah buku di Jakarta dan Jogja. Buku inilah buku terakhir yang berhasil beliau terbitkan. Menjadi istimewa karena selain isinya yang menggugah, juga karena saya berkesempatan lebih dulu mendengarkan isinya sebelum buku diterbitkan.

Sementara, beliau pernah utarakan jika sedang berkonsentrasi menyusun sebuah buku tentang regulasi vs etika di birokrasi, yang entah saat ini telah sampai dimana proses penyusunannya. Bocoran isinya adalah tentang keprihatinan beliau pada didewakannya aturan yang justru sering menjebak kita untuk melupakan etika. Juga kesalahan pemikiran jika tidak melanggar aturan berarti telah beretika. Bahkan kami pernah sampai pada kesimpulan diskusi bahwa berintegritas bukan berarti tidak pernah melanggar aturan. Begitu sebaliknya, pernah melanggar aturan tidak lalu berarti tidak berintegritas. Integritas lebih dari sekedar pelanggaran aturan, karena aturan seringkali dibuat hanya sebagai cara bukan untuk mencapai tujuan. Sedangkan sejak dulu kita hanya diajari taat pada aturan, bukan diajari bagaimana membiasakan diri berperilaku etis. Banyak sekali pimpinan dan juga ASN yang merasa berintegritas dengan cara jalan pintas, yaitu sekedar menghindari pelanggaran aturan sementara perilakunya sering tidak mengindahkan etika. Beberapa contoh kongkrit pernah kami kumpulkan dan untuk sementara biarlah saya simpan di ingatan saya.

Adapun beberapa catatan kecil diskusi kami yang juga telah tertulis dalam buku beliau, sebagai berikut:

Paradigma dalam Birokrasi

Beliau pernah berkisah, dan lalu dituangkan dalam salah satu subbab di buku terakhirnya, yaitu tentang penerapan birokrasi weberian di instansi pemerintah.

“Tanpa disadari selama ini ASN telah dijajah oleh nilai-nilai yang terkandung dalam birokrasi ala Weber. Kebiasaan membangun pola hubungan vertikal, keseragaman, formalisasi, spesialisasi sebagaimana diajarkan dalam birokrasi tipe ideal ala Weber telah memiliki kekuatan normatif. Seolah begitulah seharusnya birokrasi itu dikelola. Praktik berbeda dari ajaran birokrasi weberian dianggap sebagai sesuatu yang keliru dan harus dihindari”.

Birokrasi hendaknya direformasi dengan menggusur nilai-nilai weberian yang selama ini mendominasi pola pikir dan perilaku ASN. Meskipun perubahan budaya menjadi bagian dari area perubahan dalam kebijakan reformasi birokrasi nasional, tetapi tidak pernah dijelaskan bagaimana kebijakan reformasi birokrasi akan melakukan perubahan. Nilai, pola pikir, perilaku, dan tradisi mana yang akan dirubah belumlah jelas, dan belum ada tanda-tanda adanya penerimaan paradigma baru. Begitu beliau sampaikan dalam mengkritik kebijakan reformasi birokrasi selama ini.

Namun beliau pernah bercerita, harapan reformasi birokrasi pernah menuju kepada jalan yang benar tatkala kementrian PAN dan RB dipimpin oleh Bapak Azwar Abubakar dan adanya Bapak Eko Prasojo sebagai wakil menteri. Bahkan saking berharapnya beliau, sampai-sampai beliau membuat sebuah artikel yang dimuat di harian The Jakarta Post.

Revolusi mental yang ada saat ini pun tidak lepas dari kritik beliau. Revolusi mental yang ada saat ini, sedang pada tahap revolusi iklan. Ratusan miliar telah dihabiskan untuk membuat dan memasang iklan di berbagai media, namun hal itu tidak akan mampu menghidupkan akal dan pikiran serta merubah perilaku para ASN. Revolusi mental seharusnya dilakukan dengan cara transformasi budaya dengan paradigma baru. Tindakan kongkrit untuk berani meninggalkan mental penguasa dan mentradisikan sikap dan perilaku sebagai pelayan dalam kegiatan pemerintahan.

Pemimpin perubahan

Pernah beliau sampaikan, seorang pemimpin harus berani berpikir dan bertindak di luar kotak hitam yang selama ini berlaku di institusinya. Mempunyai kemauan dan kemampuan memahami situasi birokrasi yang stagnan lalu memunculkan gagasan perubahan. Beliau meyakini perubahan dalam birokrasi harus dilakukan dengan masif, dan pemimpin seharusnya mengambil sikap kritis dan berani bertindak termasuk dalam kondisi tekanan sekalipun.

Mendobrak kemapanan harus dibudayakan, para ASN terutama pemimpin di birokrasi hendaknya tidak lagi berpangku tangan dan menyerah pada status quo, bekerja dengan cara-cara lama. Paradigma baru dan tindakan perubahan harus segera dilakukan.

Hal itulah yang mendorong beliau untuk merubah gaya dan cara diklatpim. Diklatpim bentuk baru hasil gagasan beliau, yang menurut saya inilah capaian dan sumbangan penting beliau untuk birokrasi Indonesia, adalah sebuah diklat dengan konsep proyek perubahan. Diklatpim adalah pendidikan dan pelatihan pimpinan bagi seorang birokrat yang menjabat pada eselon 4, 3, 2, dan 1. Diklat ini tidak lagi dilakukan hanya di dalam kelas dengan seorang widyaiswara sebagai pusat perhatian alam semesta, lalu menghasilkan sebuah karya tulis sebagai obyek penilaian sekaligus syarat kelulusan. Diklat bentuk baru ini dilakukan secara on-off, yaitu terdapat tahapan seorang peserta diklat mendapatkan materi di kelas, dan pada tahapan lain peserta melakukan sebuah proyek perubahan di instansi masing-masing, lalu kembali ke kelas untuk mempresentasikan hasilnya. Sebuah proyek perubahan, bertujuan memahami permasalahan, merancang, dan melakukan perubahan yang berdampak pada seluruh pemangku kepentingan dalam jangkauan masing-masing peserta. Hambatan dan tekanan lingkungan yang kemungkinan dihadapi menjadi tantangan tersendiri bagi peserta untuk memicu mereka berpikir kritis dan bertindak keluar dari paradigma lama.

Beliau berkeyakinan, kemampuan seseorang dalam melakukan proyek perubahan dapat memiliki efek bola salju. Memberikan kepercayaan pada diri peserta dan pemangku kepentingan bahwa perubahan  dapat dilakukan, dan memiliki manfaat. Apa yang dulu dibayangkan sulit diwujudkan, ternyata sekarang dapat dilakukan. Kepercayaan diri ini membangun optimisme baik pada agen perubahan maupun pada lingkungan sekitar terlebih pada pemangku kepentingan yang lebih luas.

Perubahan ini pun telah banyak terjadi di LAN, mulai dari rampingnya struktur kedeputian sampai kepada cara kerja yang berhasil guna. Beliau pun mencontohkan, jika sebelumnya LAN memerlukan waktu lima tahun untuk melakukan pembaharuan diklatpim, maka pada saat kepemimpinan beliau, pembaharuan diklatpim dengan konsep pemimpin perubahan dapat dilakukan dalam waktu kurang dari enam bulan. Beliau ungkapkan, jika usaha pembaharuan itu dilakukan dengan cara lama, yaitu rutinitas dan rule based tentu hasilnya tidak akan seperti diklatpim saat ini.

Karena kondisi kesehatan beliau lah akhirnya beliau harus mengundurkan diri di kancah praktis birokrasi sebagai Ketua LAN, lalu kembali mengabdikan dirinya menjadi pengajar di Universitas Gadjah Mada.

Banyak gagasan beliau yang tidak tertulis dalam artikel singkat ini, namun saya merasa dua hal tersebut adalah sangat mendasar yang perlu saya bagikan, sekaligus membuat saya selalu mengingat beliau.

Kini beliau telah tiada di saat usianya menjelang 61 tahun, menyisakan kepedihan di antara harapan, menyisakan tangis di antara gemerlapnya bintang. Terimakasih Prof Agus Dwiyanto, telah bersedia menjadi pembimbing saya, telah bersedia mendengarkan gagasan dan keluh kesah saya, dan telah bersedia menceritakan banyak hal kepada saya.

Semoga harapanmu akan birokrasi dengan paradigma baru segera terwujud.

Meskipun engkau tidak lagi dapat menyaksikannya, tapi namamu akan selalu ada dalam sejarah perubahan birokrasi di negeri tercinta.

Selamat jalan Pak Agus Dwi….

 

 

0

0
error: