Bertumbuh Menjadi Kita

Bertumbuh Menjadi Kita

Tak lelah kau merawat kita

Seperti kebiasaanmu meruwat kata

Dalam puisi atau ceritera

Dalam warita seumpama nubuat

 

Kau ramu kita dengan racikan rasa

Kau dan aku menjelma harmoni

 

Tak letih kau menjaga kita

Umpama lakumu menaja rima

Dalam syair atau seloka

Dalam wiracarita semacam hikayat

 

Kau sigi kita dengan percik jiwa

Kau dan aku mewujud simponi

 

Meski kadang aku ngotot mengaku

Dan kau berkeras mendaku

Jemari tetap saling merangkul

Hati pun tak lelah bergumul

 

Sahabat katamu, bukan aku diimbuh kamu

Sahabat bagimu, saat kau dan aku bertumbuh menjadi kita

 

 

 

2
0
Jalanku Bukan Jalanku Lagi

Jalanku Bukan Jalanku Lagi

Sesekali kesalahan terjadi
Itu mungkin suatu kebetulan
Beberapa kali kesalahan terjadi
Itu mungkin keteledoran
Sering kali kesalahan terjadi
Itu mungkin telah menjadi kebiasaan

Biasakan yang benar
Bukan benarkan yang biasa
Jargon bijak ini
Gaungnya hilang ditelan deru bunyi mesin kendaraan

Cobalah tengok di perempatan
Di jam-jam sibuk
Seringkali jalanku tidak lagi kelihatan
Ditutupi oleh tubuh kendaraan

Coba tengok di jalanan sepi
Begitu menyeberang
Aku diklaksoni
Seolah aku telah salah jalan

Jalanku seharusnya jalan aman
Karena dilindungi oleh peraturan
Jalanku pakai tanda pesan
Hati-hati ada penyeberang jalan
Namun sering kali diacuhkan

Cat putih di atas aspal hitam
Seharusnya tampak kentara
Tapi kita semua seolah telah sepakat

Sepakat untuk buta
Seolah tidak melihatnya

Sepakat untuk menafikkannya
Seolah aturan ini tidak ada gunanya

Sepakat untuk mengabaikannya
Seolah dilanggar pun tidak ada hukumannya

Mendekati zebra cross
Laju kendaraan bukannya melambat
Malah sebaliknya bertambah cepat

Ketika jalanku bukan jalanku lagi
Sebagai pejalan kaki
Aku harus makin ekstra hati-hati
Cedera ringan, sedang, berat bahkan nyawa melayang
Mengintai para pejalan kaki

Ketika jalanku bukan jalanku lagi
Menghadapi dunia nyata serasa mimpi

Ketika jalanku bukanlah jalanku lagi
Aku pun bermimpi
Kapan jalan itu kembali menjadi milikku lagi

 

 

44
0
Kau Adalah

Kau Adalah

Kau adalah surga segala cinta, yang luput dari segala benci, serta dendam yang tak pernah kau pendam.

Kau adalah surga yang selalu pinta sesajian berupa puisi, yang tak muluk-muluk, sederhana lagi tulus.

Kau adalah surga yang selalu kurindukan bagai puisi bagi remaja yang sedang asyiknya jatuh cinta.

 

 

1
0
Senandung Doa Malam

Senandung Doa Malam

Senandung doa di tepi malam, suara anak-anak tak lagi terdengar selain bunyi nafas ibu yang keluar masuk melalui mulut dan hidung.  Sesekali sunyi. Berkali-kali terdengar dengkur ayah. Ibu khusyuk di sudut kamar. Sebatang lilin menyala. Jatuh sudah malam hari, tidur dalam damai.

 

 

0
0
Tangan Tak Berjari

Tangan Tak Berjari

Ketika langkah sebuah jeruji sunyi
Mengiring malam tepian hati
Di antara nada ansambel gagak
Yang turut bernyanyi di antara kegelapan

Sebuah cahaya naluri datang dan pergi
Di tengah telaga dan rawa kelam
Yang membanjiri tanah liat nan gersang
Untuk sekedar melepas nyanyian alam

Sayang kemudian raga
Melepaskan rasa tangan tak berjari
Mengendapkan tiap rintihan dosa
Di antara lumpur penghisap dan pasir pengeruk mimpi

Entahlah kapan???
Satu kesatuan tubuh
Mengikat satu bisu dalam peluh
Membungkam mulut penuh kapur
Yang tak tahu ruhnya telah rapuh
Dalam selaksa dongeng dunia yang telah sepuh

5
1
Enyahlah Kelam

Enyahlah Kelam

Sepertinya gelap tak pernah lelah

Mengaransemen memoar tentang kelam

Membuat serasa pekat setiap melodi yang mengudara

Menyayatkan rasa lewat irama yang tercipta

Menghasilkan kekosongan jiwa

Hampa….

 

Sementara terang yang dinantikan

Hanya berani mengintip dari kejauhan

Sebab kelam terlalu bersemangat untuk diminta minggat

Kukuh bertahan mengiringkan memoar tentang kelam

Dan meskipun alam berpusar membentuk kuasar

Kuasar terang yang amat terang

Namun ia terlalu jauh untuk berguna

Mengirimkan cahaya kemari pun tak kuasa

Lalu,

Kosmos di angkasa pun serta merta

Bersatu padu membentuk elegi nan satir

Hanya membuat pahit semakin getir

 

Ayolah,

Wahai terang,

Kami hampir lelah menunggumu

Menuliskan sebuah lagu nan mendayu

Supaya seluruh lapisan alam dan swargaloka

Mendengarkan ode yang kau lantunkan

Melupakan sejenak kejamnya kelam si adidaya

Rindu ini sungguh ada pada puncaknya

Kepada rangkaian partitur yang engkau mainkan

Kepada indahnya untaian kata dan nada

 

 

0
0
error: