Tangan Tak Berjari

Tangan Tak Berjari

Ketika langkah sebuah jeruji sunyi
Mengiring malam tepian hati
Di antara nada ansambel gagak
Yang turut bernyanyi di antara kegelapan

Sebuah cahaya naluri datang dan pergi
Di tengah telaga dan rawa kelam
Yang membanjiri tanah liat nan gersang
Untuk sekedar melepas nyanyian alam

Sayang kemudian raga
Melepaskan rasa tangan tak berjari
Mengendapkan tiap rintihan dosa
Di antara lumpur penghisap dan pasir pengeruk mimpi

Entahlah kapan???
Satu kesatuan tubuh
Mengikat satu bisu dalam peluh
Membungkam mulut penuh kapur
Yang tak tahu ruhnya telah rapuh
Dalam selaksa dongeng dunia yang telah sepuh

3
0
Enyahlah Kelam

Enyahlah Kelam

Sepertinya gelap tak pernah lelah

Mengaransemen memoar tentang kelam

Membuat serasa pekat setiap melodi yang mengudara

Menyayatkan rasa lewat irama yang tercipta

Menghasilkan kekosongan jiwa

Hampa….

 

Sementara terang yang dinantikan

Hanya berani mengintip dari kejauhan

Sebab kelam terlalu bersemangat untuk diminta minggat

Kukuh bertahan mengiringkan memoar tentang kelam

Dan meskipun alam berpusar membentuk kuasar

Kuasar terang yang amat terang

Namun ia terlalu jauh untuk berguna

Mengirimkan cahaya kemari pun tak kuasa

Lalu,

Kosmos di angkasa pun serta merta

Bersatu padu membentuk elegi nan satir

Hanya membuat pahit semakin getir

 

Ayolah,

Wahai terang,

Kami hampir lelah menunggumu

Menuliskan sebuah lagu nan mendayu

Supaya seluruh lapisan alam dan swargaloka

Mendengarkan ode yang kau lantunkan

Melupakan sejenak kejamnya kelam si adidaya

Rindu ini sungguh ada pada puncaknya

Kepada rangkaian partitur yang engkau mainkan

Kepada indahnya untaian kata dan nada

 

 

0
0
Aku dan Dia

Aku dan Dia

Tahun lalu aku berkaca
Kukenali wajah yang ada di sana
Rupa kami tak beda
Bahkan jantung pun berdetak sama

Hari ini ku pandangi lagi kaca itu
Kaca sama yang kulihat tepat setahun lalu
Ada bayang di sana

Tapi itu bukan dia
Dia tak lagi sama
Bukan karena buramnya kaca
Atau karena bertambahnya usia
Aku tahu ada yang beda, tapi apa?

Aku lalu bertanya padanya,
“Ada apa, apa yang membuatmu berubah?”
Kemudian dia menjawab,
“Tanya saja pada dirimu”

Aku menunjuk
Dia pun memberi isyarat dengan jari telunjuk
Aku marah
Dia pun membalas marah
Aku teriak
Dia balas tak kalah galak

Aku mulai frustasi pada bayangan sendiri
“Kamu itu aku!” teriak ku
“Dan aku adalah kamu!” teriak ku lagi

Kali ini dia merespon tenang
Serupa isyarat damai yang memancing obrolan
Dia menyinggung soal harta yang jumlahnya sepadan
Menurutnya, dia sangat mudah membantu sesama
Sementara aku kerap berkata uang yang dipunya tidak seberapa

“Ah, padahal nominalnya sama,”
sindirnya lagi
Suaranya pelan nyaris seperti bisikan
Tapi membuat detak jantung tak karuan
Dan mukaku merah padam

Sekarang aku tahu apa yang membuat dia beda
Bukan soal usia atau buramnya kaca
Tapi ini soal berbagi harta
Tentang dia yang ringan tangan
Sementara aku selalu perhitungan

Aku ingin seperti dia
Aku ingin aku adalah dia
Seperti yang pernah aku lihat
Pada kaca setahun lalu

 

 

1
0
Dan Lidahnya

Dan Lidahnya

Aruna dan Ratna,
Dua persona yang membagi drama
Sama-sama menggulirkan cerita
Tentang bagaimana lidahnya mengecap rasa
Tentang bagaimana lidahnya berkisah duka
Demi simpati dari pemirsa

Aruna dan lidahnya
Mengulirkan kisahnya di layar sinema
Mengusung kisah romantika
Dibungkus jelajah kuliner nusantara
Sayangnya….
Kisah Aruna tersisih begitu saja
Kalah pamor dari cerita horor dan cinta remaja
Sungguh kasihan si Aruna

Sementara….
Ratna dan lidahnya
Yang semula sekedar bercerita pada rekannya
Tentang sebuah kejadian teraniaya
Menjadi obrolan di mana-mana
Menjadi bahan cacian makian tingkat dewa
Tapi ketika terkuak kebenarannya
Bahwa cerita itu hanya bualan semata
Dia dibuang, dicampakkan begitu saja
Sungguh kasihan si Ratna

Merekalah wanita Indonesia
Dua persona yang berkisah dengan lidahnya
Lidah yang sama-sama menghantarkan lara
Sungguh kasihan keduanya
Aruna dan Ratna

 

 

0
0
Duka Di Lembah Palu

Duka Di Lembah Palu

Jumat sore itu

Senja kelabu

Tragedi pilu di kota Palu

Takkan lekang dari memoriku

 

Jumat terakhir bulan September

Dan goncangan 7,4 skala Richter

Bumi berguncang sangat kencang

Tanah serasa ombak bergelombang

 

Ribuan nyawa melayang

Terkubur dan menghilang

Tanpa celah masa untuk berontak

Lembah Palu yang indah

Seketika luluh lantak

 

Gempa dan tsunami

Datang tanpa permisi

Tiada yang kuasa berlari

Menyisakan duka dalam hati

Pada mereka,

Yang masih bernyawa

Yang kehilangan saudara dan keluarga

 

Guncangan masih terasa

Tak ada senggang waktu  untuk menyangka

Saat laut mengganas menelan daratan

Menghempas impian dan harapan

 

Mayat berserakan di bibir pantai

Jeritan tangis menyayat hati

Menyandera jiwa pendengarnya

Ibu kehilangan anaknya

Anak kehilangan ibunya

 

Di kaki gunung beratap langit biru

Seorang ibu nanar menatapku

Seolah berkata, tolong aku

Hancur rumahku

Hilang suami dan anakku

Mengharu biru perasaanku

Terguncang pula batinku

 

Aku tak berdaya

Diam seribu bahasa

Kuremas genggam tanganku

Menyaksikan penderitaan saudaraku

 

Meski bantuan terus hadir

Derai air mata tak henti mengalir

Luka itu tak kunjung redam

Trauma itu membekas dalam

 

Wahai Tuhan pemilik jagat raya

PeringatanMu sungguh nyata

Bahwa kami telah menumpuk dosa

 

Saat kami lupa ajal adalah kehendak-Mu

Engkau memperlihatkan kekuasaan-Mu

Menguji kami agar selalu mengingat-Mu

Bahwa segalanya adalah milik-Mu, kehendak-Mu

 

Yaa Allah yang Maha Berkuasa

Ampunkan kami atas segala rasa jumawa

Yang teracuni kesenangan dunia

Dan membuat kami lupa

Akan hakikat hidup di dunia

 

Hanya pada-Mu kami meminta

Untuk memberi kesembuhan atas luka

Dan kembali bangkit pasca bencana

 

Wahai saudara-saudaraku di Palu

Dukamu adalah dukaku

Tangismu adalah tangisku

Kehilanganmu adalah kehilanganku

 

Maka….

Biarlah sang waktu meredam luka

Dan ilahi memberikan kelapangan hati

Ayo bangkit menjemput asa

Mari kembali berdiri lagi

 

Tetap berjuang untuk kita semua

Yang masih ada dan bernyawa

Menghidupkan lagi kota kita

Yang sempat mati suri

Paluku, Palumu, Palu kita bersama

 

 

0
0
Kaya Ilusi

Kaya Ilusi

Inilah aku sang kaya raya

Bergelimang harta dalam impian

Inilah aku sang kaya raya

Hanya dalam ilusi, dalam mimpi

 

Kutengok investor saham yang sukses

Kesabarannya mengagumkan

Kehati-hatiannya menghasilkan

Dari saham Astra, Aqua, dan sebagainya

 

Sekali tanam dan menunggu dengan setia

Bertahun-tahun lamanya

Uang sebiji beranak pinak menjadi banyak

Berkali lipat menjadi puluhan, ratusan,

Bahkan ribuan,

Benar-benar menghasilkan

Atas nama kesabaran

 

Sungguh hebat luar biasa

Itulah kaya yang sebenarnya

Buah dari ketelitian dan keuletan

 

Bukan permainan jual dan beli saham seketika

Lalu putus asa begitu saja

Karena jauhnya fakta dan cita-cita

 

Dari mereka yang sungguh kaya

Aku belajar untuk legawa

Bahwa pada hakikatnya

Tak ada kaya yang tiba-tiba

Semua ada prosesnya

Semua ada waktunya

 

Kekayaan membutuhkan kesabaran

Keuletan ketelatenan

Bukan kaya secara instan

Bukan kaya jadi-jadian

Bukan sekedar dalam khayalan

 

 

0
0
error: