Cintaku Tanpa Syarat

Cintaku Tanpa Syarat

Cinta itu tumbuh saat mataku masih terpejam

Awalnya kuyakini akan ku simpan di hati

Tak kubiarkan  seorang pun mengintipnya

Tapi ketika ku terjaga

Dirimu ikut memupuk, menyiram, dan merawatnya

 

Kebahagiaan yang tak bisa kusembunyikan

Ini adalah anugrahMu

Itu yang selalu kuyakini

 

Tapi kini

Bagai petir di siang hari

Dunia seakan berhenti

Menangis pun seakan tiada arti

Usai sudah perjalanan kami

Tanpa bisa kutolak dan bertanya lagi

 

Tlah hamba jalani rencanaMu ya Allah

Sebagai takdir yang tak mungkin hamba tolak

Dan hamba hanya bisa pasrah

Beradaptasi dengan rasa sedih

Berdamai dengan rasa sakit dan perih

 

Jangan tunjukkan pada hamba

Jalan menuju pintu putus asa Mu itu

Walau tubuh semakin dingin, hampa, dan kaku

Karna cerita ini lebih pilu dibanding cerita masa remaja

Meskipun puluhan tahun berlalu masih membayang

Kini harus dilanjutkan dengan luka baru

Yang entah kapan perihnya akan hilang

 

Jangan beri hamba batas kesabaran ya Allah

Karena yang hamba butuhkan samudra kesabaran yang luas untuk hamba arungi

Karena cinta hamba ada di qalbu

Di lubuk hati yang paling dalam

Bukan di raga hamba

 

Kini kuingin mataku terpejam kembali

Agar hanya aku yang memeluk cintaku

Biarlah sang Pemiliknya yang akan menjaga

Karena tak mungkin cinta bukan dariNya

 

Dia telah mencarikan raga dan memakukan cintaku

Karena pasti memiliki gelombang yang sama

 

Bila nanti ku terjaga kembali

Pasti karena kuyakin engkau telah menjaga cintaku

dan engkau pun akan merawatnya

Bila kau tetap memaksa mataku tetap terpejam

Biarlah jalan hampa dan dingin yang kau ciptakan menjadi pilihan

 

 

Penyakit Usia Lima Puluhan

Penyakit Usia Lima Puluhan

saat kecil tak punya apa-apa

tumbuh remaja banyak cita

lulus kuliah dapat kerja

lalu membangun keluarga

memberi cucu untuk orang tua

 

begitu ‘kan biasanya?

begitu pada umumnya

 

saat kecil aku ingin ini dan itu

asal memainkan telunjuk

tanpa beban

tanpa terbesit perasaan

bagaimana susahnya orang tua mencari uang

 

saat kecil aku sakit salesma

kadang disertai batuk asma

atau terluka saat bersepeda

tapi aku tak pernah jera

meski jatuh lagi dan sakit lagi

aku tak pernah jera

karna akan selalu ada

peluk hangat orang tua

 

saat aku tumbuh remaja

waktunya eksplorasi

sambil mencari jati diri

mau jadi apa ketika besar nanti

 

saat remaja aku jerawatan

seluruh muka beruntusan

akibat memendam perasaan

pada gebetan yang punya pasangan

tapi tak apa

aku tak pernah jera mencari

cinta sejati untuk kemudian dinikahi

kalau gagal lagi?

tak apa

ada teman untuk berbagi

 

saat aku memasuki dunia kerja

prioritas berubah drastis

semua serba dikalkulasikan

semua serba dipikir matang

bisakah daftar keinginan

tak melampaui anggaran?

 

saat menerima gaji pertama

selera makan ku membabi buta

semua makanan dicoba

mumpung belum ada pantangan

mumpung belum ada masalah kesehatan

bila besok ada keluhan?

tak apa

besok lusa juga hilang

 

saat keuangan ku kian mapan

saatnya mencari istri idaman

melamar pacar yang selama ini menjadi incaran

membangun sebuah keluarga

lalu memiliki anak satu, dua, atau tiga

 

saat umur ku memasuki lima puluhan

saat uban mulai tumbuh secara perlahan

metabolisme tubuh pun berubah

badan lebih cepat merasa lelah

saatnya mengerem diri

kalau tak mau ada keluhan

 

beruntung kolesterol ku tak tinggi

beruntung tekanan darah ku tak tinggi

beruntung gula darah ku tak tinggi

beruntung asam urat ku tak tinggi

beruntung aku tak punya penyakit komplikasi

namun, sangat sedikit yang beruntung seperti ini

 

selera makan mulai kutahan

menjalani rutinitas terasa membosankan

dulu susah mencari pekerjaan

tapi sekarang, pekerjaan di tangan

malah ingin kulepaskan

 

terpikir keinginan ‘tuk pensiun dini

aku tak mau menunggu lebih lama lagi

batas usia pensiun yang tinggal bilangan jari

karna aku lelah

karna aku jengah

 

aku ingin pensiun dini

bukan karna aku telah dapat semua ingin

tapi karna aku mulai mempertanyakan

apa yang kucari dalam hidup ini?

 

bukankah begitu umumnya

penyakit usia lima puluhan?

penyakit lima puluhan

saat darah tak lagi muda

 

 

Mandalika

Mandalika

aku mencari senyum polos anak-anak
di pantaimu, Mandalika
wajah mereka memerah terpajan sinar mentari
berlari-lari mengejar turis
menjajakan pernak-pernik gelang, kalung, dan tumpukan tenun
tak kenal lelah menjemput rezekiNya

Mandalika
kecantikanmu terhampar indah
di antara pasir putih dan bebukitan hijau
birunya laut dan debur ombak
sungguh sempurna penciptaanmu
namun
engkau menyimpan banyak cerita berurai airmata

cerita tentang para nelayan
yang ingin menjaga aroma setiamu
nafas kehidupan mereka
denyut nadi harapan keluarga

cerita seorang istri yang bahagia menyambut suaminya pulang
dengan ikan hasil tangkapannya
sumber nafkah buat keluarganya

cerita seorang anak yang menangis meratapi ayahandanya
yang pulang tak bernyawa
digulung, ditelan ombak raksasa

Mandalika
masihkah kau tetap setia
memberi makna pada cinta
membuang sgala dendam kesumat
pada mereka yang meninggalkan desa
dan terlupa pulang

Mandalika
kenanganku telah terhempas di pantaimu
kurajut slalu benang-benang rindu
untuk slalu menjengukmu
menikmati pantaimu
kala senja berbinar
namun
engkau hanya membisu
diam memaku

 

 

Senyum Yang Kurindu

Senyum Yang Kurindu

di tepi kawah yang berpijar
izinkan kukenang kembali senyummu
meski aku gagal memilikinya

kurangkai sosokmu di benakku
kubiarkan terikat di dalam angan
agar aku tetap bisa memelukmu

dadaku sesak direjam kehilangan
sepi mengabut di mataku
sukma serasa tercabut dari tubuh

oh… alangkah curang rindu ini
aku tak sanggup menepisnya
meski telah kubenam di sela pepohonan

nyanyi pilunya tetap terdengar
sayup jauh di dalam hutan
seperti gemercik air di lembah yang menganga

petak sawah yang menguning
membangkitkan kenangan akan jemarimu
yang memainkan bulir-bulir padi

aku hanya ingin pergi
melayari laut yang biru
mengenang lebih banyak senyum
yang pernah kau sunggingkan
kalau pun tak bisa memilikinya lagi
setidaknya
kau pernah tersenyum untukku

cukuplah itu

 

 

Bukan Penampilan yang Menyelamatkanku

Bukan Penampilan yang Menyelamatkanku

Saat itu, tak seperti dulu
Semuanya serba kaku
Atasan dan teman menjauhiku
Aku serasa di tempat yang baru

Tak sepatah pun kata menyapa
Hanya tatapan penuh curiga
Senyum terpaksa pun kutrima
Seolah aku makhluk hina
Bak pelaku tindakan tercela

Ya
Ini bukan salah siapa-siapa
Telah tersiar berita
Aku memiliki harta
Yang buat orang geleng kepala

Tim pemeriksa datang dari pusat
Aku begitu terperanjat
Mereka bergerak cepat
Bagai harimau siap melompat
Agar isu liar ini tak merambat

Aku tlah berada di ruang rapat
Namun serasa di ruang sidang darurat
Kemarin aku sehat
Kini segala penyakit terasa mau kumat
Bumi yang kuinjak bagai mau kiamat

Sepuluh jariku berpeluk erat
Kakiku sesekali berpindah tempat
Mukaku tertunduk pucat
Dahiku terlipat
Ruangan ini terasa dingin sangat

Anda si Fulan itu?
Kenapa dipanggil, Anda tahu?
Anda pegawai baru?
Istri Anda bekerja?
Anak Anda berapa?
Pertanyaan pancingan dilontarkan sang pemeriksa
Namun arahnya bisa kutebak
Aku tak berharap terjebak

Mobil Anda baru?
Kontan, tanpa cicilan mengharu biru?
Bagaimana bisa?
Dari mana uangnya?
Pasti dari penggelapan!
Aku merasa dipojokkan
Buat perasaanku tertekan

Ruangan besar itu terasa sempit
Setiap jawabanku dianggap berkelit
Teh manis pun terasa pahit
Mengapa menjelaskan hal yang sederhana terasa sulit

Sebuah mobil baru
Dibelikan kakak untuk ibu
Atas namaku
Ini tak banyak orang tahu
Aku memulai pembelaanku

Mobil itu buat berjaga-jaga
Andai ibu tiba-tiba jatuh sakit
Mobil itu selalu siap siaga
Mengantarkan ibu ke rumah sakit
Itu pembelaanku berikutnya

Aku tahu
Dari awal mereka ragu
Karna penampilanku bak seorang ustaz
Jenggot terpelihara begitu lebat
Topi haji pun putih mengkilat

Aku yakin
Mereka kini ragu
Tanpa bukti awal yang kuat
Dan penjelasan yang tak kubuat-buat
Semoga aku selamat
Dari tuduhan yang sangat berat

Tahun demi tahun berlalu
Tuduhan itu bagai angin lalu
Seperti ada tetapi sesungguhnya tiada
Tak jelas lagi kelanjutan prosesnya
Sungguh aku merasa lega

Kakak mengingatkanku
Bukan penampilan yang menyelamatkanku
Namun, tak melakukan hal yang dituduhkan tlah membebaskanku
Jaga selalu akhlakmu
Pesannya selalu padaku

***

 

 

Potret

Potret

Aku lihat

Ia tengah menyiapkan kameranya

Untuk memotret wajah pemerintah

 

Aku ragu

Ia akan mampu menampakkan fakta sebenarnya

Setelah kusaksikan lensa yang ia pilih

 

Aku yakin

Ia hanya akan mampu mengambil gambar pembangunan

Dalam bentuk jalan dan jembatan

Yang pengerjaannya berkesinambungan

 

Aku percaya

Ia hanya akan memotret wajah kesejahteraan

Dari total pertumbuhan produk domestik bruto

Angka-angka kemiskinan dan pengangguran

 

Aku sangsi

Ia akan mampu menemukan

Tangisan orang yang kehilangan tanah

Tergerus atas nama investasi dan kemajuan ekonomi

 

Aku skeptis

Ia akan mampu mengetahui

Di mana orang hilang, diciduk, dan terciduk

Dituduh radikal dan teroris

Yang membawa, lalu sengaja menjatuhkan ijazah dan kartu identitasnya

Seolah-olah titisan narkissos yang terlalu bangga pada nilai-nilainya

 

Aku berharap

Ia akan mengganti lensa itu dengan lensa tele

Yang dapat menangkap kegagapan dan keputusasaan

 

Satu dalil baru yang bergerak merayap

Di antara selokan, gang, atau lorong-lorong

Diam-diam atau tidak diam-diam

Yang dicurigai mengganti pemerintah

Menjadi mimpi buruk penguasa

Karena berisi monster ciptaan R.L. Stine

 

Siapapun yang subversif diduga titisan monster itu

Lalu ramai-ramai pikiran dibungkam

Dan dimasukkan ke penjara

Seolah-olah segala hal di dunia

Bisa dininabobokan dengan segera

 

 

Hanya tersisa suara-suara bodoh

Heboh dengan nada dasar sama

Tak berbeda dengan masa menteri penerangan tempo dulu

 

Aku lantas memahami

Sebuah potret bisa terlihat buram, bisa sebaliknya

Bisa diatur pula kontras dan saturasinya

Dan segala hal yang dicipta dari lensa kameranya

Tak akan lebih baik dari lensa hati

Yang diberikan Tuhan Yang Maha Mengetahui

(2018)

 

 

error: