Aku dan Dia

Aku dan Dia

Tahun lalu aku berkaca
Kukenali wajah yang ada di sana
Rupa kami tak beda
Bahkan jantung pun berdetak sama

Hari ini ku pandangi lagi kaca itu
Kaca sama yang kulihat tepat setahun lalu
Ada bayang di sana

Tapi itu bukan dia
Dia tak lagi sama
Bukan karena buramnya kaca
Atau karena bertambahnya usia
Aku tahu ada yang beda, tapi apa?

Aku lalu bertanya padanya,
“Ada apa, apa yang membuatmu berubah?”
Kemudian dia menjawab,
“Tanya saja pada dirimu”

Aku menunjuk
Dia pun memberi isyarat dengan jari telunjuk
Aku marah
Dia pun membalas marah
Aku teriak
Dia balas tak kalah galak

Aku mulai frustasi pada bayangan sendiri
“Kamu itu aku!” teriak ku
“Dan aku adalah kamu!” teriak ku lagi

Kali ini dia merespon tenang
Serupa isyarat damai yang memancing obrolan
Dia menyinggung soal harta yang jumlahnya sepadan
Menurutnya, dia sangat mudah membantu sesama
Sementara aku kerap berkata uang yang dipunya tidak seberapa

“Ah, padahal nominalnya sama,”
sindirnya lagi
Suaranya pelan nyaris seperti bisikan
Tapi membuat detak jantung tak karuan
Dan mukaku merah padam

Sekarang aku tahu apa yang membuat dia beda
Bukan soal usia atau buramnya kaca
Tapi ini soal berbagi harta
Tentang dia yang ringan tangan
Sementara aku selalu perhitungan

Aku ingin seperti dia
Aku ingin aku adalah dia
Seperti yang pernah aku lihat
Pada kaca setahun lalu

 

 

Dan Lidahnya

Dan Lidahnya

Aruna dan Ratna,
Dua persona yang membagi drama
Sama-sama menggulirkan cerita
Tentang bagaimana lidahnya mengecap rasa
Tentang bagaimana lidahnya berkisah duka
Demi simpati dari pemirsa

Aruna dan lidahnya
Mengulirkan kisahnya di layar sinema
Mengusung kisah romantika
Dibungkus jelajah kuliner nusantara
Sayangnya….
Kisah Aruna tersisih begitu saja
Kalah pamor dari cerita horor dan cinta remaja
Sungguh kasihan si Aruna

Sementara….
Ratna dan lidahnya
Yang semula sekedar bercerita pada rekannya
Tentang sebuah kejadian teraniaya
Menjadi obrolan di mana-mana
Menjadi bahan cacian makian tingkat dewa
Tapi ketika terkuak kebenarannya
Bahwa cerita itu hanya bualan semata
Dia dibuang, dicampakkan begitu saja
Sungguh kasihan si Ratna

Merekalah wanita Indonesia
Dua persona yang berkisah dengan lidahnya
Lidah yang sama-sama menghantarkan lara
Sungguh kasihan keduanya
Aruna dan Ratna

 

 

Duka Di Lembah Palu

Duka Di Lembah Palu

Jumat sore itu

Senja kelabu

Tragedi pilu di kota Palu

Takkan lekang dari memoriku

 

Jumat terakhir bulan September

Dan goncangan 7,4 skala Richter

Bumi berguncang sangat kencang

Tanah serasa ombak bergelombang

 

Ribuan nyawa melayang

Terkubur dan menghilang

Tanpa celah masa untuk berontak

Lembah Palu yang indah

Seketika luluh lantak

 

Gempa dan tsunami

Datang tanpa permisi

Tiada yang kuasa berlari

Menyisakan duka dalam hati

Pada mereka,

Yang masih bernyawa

Yang kehilangan saudara dan keluarga

 

Guncangan masih terasa

Tak ada senggang waktu  untuk menyangka

Saat laut mengganas menelan daratan

Menghempas impian dan harapan

 

Mayat berserakan di bibir pantai

Jeritan tangis menyayat hati

Menyandera jiwa pendengarnya

Ibu kehilangan anaknya

Anak kehilangan ibunya

 

Di kaki gunung beratap langit biru

Seorang ibu nanar menatapku

Seolah berkata, tolong aku

Hancur rumahku

Hilang suami dan anakku

Mengharu biru perasaanku

Terguncang pula batinku

 

Aku tak berdaya

Diam seribu bahasa

Kuremas genggam tanganku

Menyaksikan penderitaan saudaraku

 

Meski bantuan terus hadir

Derai air mata tak henti mengalir

Luka itu tak kunjung redam

Trauma itu membekas dalam

 

Wahai Tuhan pemilik jagat raya

PeringatanMu sungguh nyata

Bahwa kami telah menumpuk dosa

 

Saat kami lupa ajal adalah kehendak-Mu

Engkau memperlihatkan kekuasaan-Mu

Menguji kami agar selalu mengingat-Mu

Bahwa segalanya adalah milik-Mu, kehendak-Mu

 

Yaa Allah yang Maha Berkuasa

Ampunkan kami atas segala rasa jumawa

Yang teracuni kesenangan dunia

Dan membuat kami lupa

Akan hakikat hidup di dunia

 

Hanya pada-Mu kami meminta

Untuk memberi kesembuhan atas luka

Dan kembali bangkit pasca bencana

 

Wahai saudara-saudaraku di Palu

Dukamu adalah dukaku

Tangismu adalah tangisku

Kehilanganmu adalah kehilanganku

 

Maka….

Biarlah sang waktu meredam luka

Dan ilahi memberikan kelapangan hati

Ayo bangkit menjemput asa

Mari kembali berdiri lagi

 

Tetap berjuang untuk kita semua

Yang masih ada dan bernyawa

Menghidupkan lagi kota kita

Yang sempat mati suri

Paluku, Palumu, Palu kita bersama

 

 

Kaya Ilusi

Kaya Ilusi

Inilah aku sang kaya raya

Bergelimang harta dalam impian

Inilah aku sang kaya raya

Hanya dalam ilusi, dalam mimpi

 

Kutengok investor saham yang sukses

Kesabarannya mengagumkan

Kehati-hatiannya menghasilkan

Dari saham Astra, Aqua, dan sebagainya

 

Sekali tanam dan menunggu dengan setia

Bertahun-tahun lamanya

Uang sebiji beranak pinak menjadi banyak

Berkali lipat menjadi puluhan, ratusan,

Bahkan ribuan,

Benar-benar menghasilkan

Atas nama kesabaran

 

Sungguh hebat luar biasa

Itulah kaya yang sebenarnya

Buah dari ketelitian dan keuletan

 

Bukan permainan jual dan beli saham seketika

Lalu putus asa begitu saja

Karena jauhnya fakta dan cita-cita

 

Dari mereka yang sungguh kaya

Aku belajar untuk legawa

Bahwa pada hakikatnya

Tak ada kaya yang tiba-tiba

Semua ada prosesnya

Semua ada waktunya

 

Kekayaan membutuhkan kesabaran

Keuletan ketelatenan

Bukan kaya secara instan

Bukan kaya jadi-jadian

Bukan sekedar dalam khayalan

 

 

Masih Adakah Inovasi di Birokrasi?

Masih Adakah Inovasi di Birokrasi?

Sudut-sudut mataku berkerut mengekspresikan rasa syukur di hati. Itulah mikro ekspresi yang melengkapi senyuman yang berasal dari nurani. Aku bahagia. Kutatap selembar keputusan dari LIPI. Ya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga yang diberi kewenangan untuk menentukan penemuan baru.

Kubaca keputusan Kepala LIPI selaku Ketua Tim Penilai Penemuan Baru yang Bermanfaat bagi Negara. Surat itu bernomor 357/J/2012. Aku tak menyangka. LIPI ternyata menyatakan penemuanku yang berjudul “Metode Penemuan Jenis Hukuman Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan” sebagai penemuan baru yang bermanfaat bagi negara dengan kategori “sangat bermanfaat”.

Aku baca lagi: sangat bermanfaat. Padahal targetku hanya pada kategori: bermanfaat. Jadi, ini melebihi ekspektasiku.

Sebetulnya aku hanya ingin membuktikan bahwa negeriku adalah negeri yang menghargai inovasi, termasuk inovasi dari PNS-nya. Teringat aku ketika suatu saat ada PNS lain yang mengatakan bahwa suatu temuan inovatif dapat diajukan menjadi temuan yang bermanfaat bagi negara.

Bila temuan itu dapat dikategorikan “bermanfaat”, maka PNS yang bersangkutan mendapat kenaikan pangkat pilihan dipercepat satu tahun. Sedangkan untuk kategori “sangat bermanfaat”, maka kenaikan pangkat pilihannya dapat dipercepat dua tahun, dan bila “luar biasa” maka dapat dipercepat tiga tahun.

“Jadi, Pak Dedhi bisa mengajukan ke LIPI,” kata seorang teman.

“O ya? Benarkah?” kataku.

“Ya, tentu melalui pengujian sebelum ditetapkan sebagai penemuan baru yang bermanfaat bagi negara”, sambung temanku.

Aku dapat merasakan kesungguhan perkataan temanku itu. Tiba-tiba aku ingin membuktikan bahwa inovasi dalam birokrasi di negeriku ini memang dihargai. Dengan susah payah kutempuh jalan untuk mengajukan penemuanku tersebut. Jalan berliku pun kulalui. Namun, tak mengapa. Aku ingin mewariskan sesuatu untuk PNS-PNS muda agar kelak mereka mempercayai bahwa negeri ini adalah negeri yang menghargai inovasi.

Semua bermula dari salah satu advisor dari International Monetary Fund (IMF). Robert Cortesy, kami biasa memanggilnya Mr. Bob, merekomendasikan kepada Menteri Keuangan agar dibuat Table of Sanctions dalam prosedur penjatuhan hukuman disiplin. Mr. Bob merekomendasikan hal tersebut karena ada ketidakseragaman hukuman disiplin yang dijatuhkan atas kesalahan yang sama. Lalu, Menkeu mendisposisikannya kepada inspektur jenderal untuk diselesaikan, lalu didisposisikan lagi ke inspektur, dan seterusnya hingga sampai ke aku yang bertugas menindaklanjuti rekomendasi tersebut. Aku melongo.

Aku memang pemikir. Namun, rasanya tugas itu terlalu berat untukku. Masih banyak pegawai yang lebih pantas menerima tugas tersebut. Mas Henra, atasanku, mencoba meyakinkan bahwa aku mampu mengerjakannya. Mas Henra pun tak lelah memotivasi.

“Coba kamu bikin, Dedh. Nanti kita diskusikan”, begitu katanya.

Menanggapi kesungguhan Mas Henra, aku tak bisa menjawab selain, ”Baik Mas, aku akan mencobanya.”

Lalu, aku pun tenggelam dalam kegalauan. Kucoba baca peraturan pemerintah yang mengatur mengenai hukuman disiplin saat itu. Kulihat ada kewajiban yang diatur dari a sampai dengan z, lalu larangan dari a sampai dengan r. Kujumlah: semuanya 34. Bagaimana bila aku kombinasikan? Dalam matematika, ‘kombinasi’ menggambarkan banyaknya cara untuk membuat himpunan bagian  dengan jumlah anggota tertentu dari anggota-anggota suatu himpunan.  Rumusnya: C=n!/(r!(n-r)!).  Misalnya untuk membuat himpunan bagian dengan dua huruf dari huruf-huruf a, b, c berarti 3!/(2!(3-2)!), hasilnya 3. Hasilnya, ab, bc, ca.

Aku coba kombinasikan dua jenis pelanggaran dari 34 kewajiban/larangan. Hasilnya ada 561 kemungkinan jenis hukuman. Aku kombinasikan lagi untuk tiga jenis pelanggaran dari 34, hasilnya 5.984. Aku terus kombinasikan empat jenis pelanggaran dari 34, hasilnya 4.6376. Dari kombinasi dua, tiga, dan empat saja sudah kuhasilkan 50 ribuan lebih kombinasi. Aku tak berani meneruskannya. Aku prediksi jumlah kombinasi keseluruhan bisa mencapai 500 ribu kombinasi lebih.

Aku terdiam. Dalam keramaian kantor, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Bagaimana aku mampu meredam kegundahanku? Kegalauan mulai menjalari hatiku dan tak mau padam.

Table of Sanctions menghantuiku!

Bagaimana aku mampu menyelesaikan Table of Sanctions yang akan berisi ratusan ribu kemungkinan? Sungguh tak mungkin. Namun, tugas ini harus kuselesaikan. Imajinasi liarku pun terus berpikir tanpa henti.

Berhari-hari aku menyendiri. Hampir saja aku menyerah. Hanya saja, rasa penasaran membuatku memikirkan sesuatu yang tak biasa. Sebuah metode melintasi waktu, berlari-lari, lalu hinggap dalam benakku. Awalnya lamat-lamat, kemudian semakin nyata dalam pikiranku. Aha, aku menemukan sebuah metode!

Aku pun bersemangat mewujudkannya. Dengan bekal laptop kutuangkan metode tersebut dalam file-ku. Aku terus mengetak-ketik menuangkan gagasan dari ketiadaan. Senyum mulai memenuhi wajahku bercampur dengan kerut dahi keseriusan. Kukerjakan dengan penuh semangat hingga tuntas.

“Bagaimana, Dedh?” tanya Mas Henra dengan senyum keabangannya.

Mas Henra sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Ia seorang penyabar dan memahami anak buahnya. Itu membuatku merasa betah membantu pekerjaannya.

Table of Sanctions sulit diwujudkan, Mas, tapi….“

Mas Henra menatapku tajam, ”Tapi apa…?”

Wajah Mas Henra tampak penasaran. Ia ingin aku segera melanjutkan. Maka kulanjutkan kalimatku, “Tapi aku menemukan metode lain yang dapat menggantikannya.”

“O ya?” ujar Mas Henra mulai tersenyum mendengar penjelasanku. Senyumannya tampak jelas di bibirnya, “Ok, metode lain pun boleh. Bisa kamu jelaskan?”

Lalu aku pun menjelaskan metode yang aku temukan. Mas Henra mendukungku dan mengajukannya ke pimpinan. Tak disangka, pimpinan sangat mendukung temuanku. Maka, segera dibentuklah tim untuk membuat metode yang kuajukan menjadi lebih detail.

Akhirnya metode itu pun siap. Ketika kusampaikan kepada Mr. Bob, IMF Advisor itu, ia berkomentar tak masalah bila metodenya berbeda dengan Table of Sanctions asal fungsinya sama. Tentu, kutegaskan bahwa metode itu memiliki fungsi yang sama dengan Table of Sanctions, tetapi cara kerjanya saja yang berbeda.

Mr. Bob mengangguk-angguk dan mengapresiasi, “Good Job!

Bahkan, Mr. Bob tertarik untuk mendiseminasikan ke negara-negara yang menjadi tanggung jawabnya seperti negara-negara di Afrika. Menurutnya metode yang kami ajukan bagus. Rasanya sulit dibayangkan kebahagiaanku saat itu. Tak ada Table of Sanctions, metodeku pun jadi!

Metode itu pun kemudian direncanakan akan dipresentasikan di hadapan Inspektur Jenderal sebelum dinyatakan secara resmi digunakan. Siapa yang harus mempresentasikan? Aku hanyalah PNS yang masih staf. Sudah semestinya yang mempresentasikannya adalah Inspektur, atau setidak-tidaknya satu tingkat di bawah Inspektur.

Tiba-tiba aku dipanggil.

Aku masuk ke ruang Inspektur dengan segudang tanda tanya.

Aku duduk dengan agak tegang.

Pak Hadi, inspektur yang memimpin di unit aku bekerja, bertanya, “Dik Dedhi berani mempresentasikan metode itu di depan inspektur jenderal?”

Kulihat Pak Hadi kurang begitu nyaman dengan keadaan saat itu. Ia tahu bahwa presentasi di hadapan inspektur jenderal terlalu berat untukku. Ia sebetulnya lebih menyukai pejabat senior satu tingkat di bawahnya yang melakukannya, tetapi tak ada yang berani. Karena itu ia bertanya dengan sangat hati-hati, tidak memaksa. Pak Hadi orang yang sangat lembut.

”Sebaiknya pejabat-pejabat senior yang mempresentasikannya,” jawabku sambil melihat para pejabat senior yang berada di sekitar Pak Hadi. Para pejabat senior tidak ada yang menyanggupi. Suasana menjadi canggung dan membuatku bingung. Lalu, terpaksa aku berkata, “Tapi, saya siap bila ditugaskan untuk presentasi”.

Dengan berat hati Pak Hadi menugaskanku. Di hari-H aku pun presentasi di hadapan inspektur jenderal yang bertitel doktor. Dag dig dug luar biasa hatiku saat itu karena baru pertama kali aku presentasi di depan pejabat eselon I.  Ingin rasanya segera mengakhiri presentasi tersebut. Batinku berbisik, wajar juga bila para pejabat seniorku menolak ditugasi mempresentasikannya.

“Ini dari mana referensinya?” selidik inspektur jenderal.

Aku kaget.

“Ti..ti..tidak ada, Pak,” jawabku tergagap dengan jujur.

Aku khawatir inspektur jenderal marah.

Ternyata tidak.

Ok, kalau ini memang idemu, ya tidak masalah,” Kata Inspektur Jenderal. Ia lalu menambahkan, ”Tapi, kalau kamu mengambil ide orang lain harus kamu cantumkan dalam referensi.”

Benar juga komentar itu. Kita harus menghargai karya orang lain, tidak melakukan plagiat. Kejujuran itu penting.

Aku lega tidak dimarahi oleh inspektur jenderal.

Kemudian inspektur jenderal berkomentar, ”Ini baik untuk Kementerian Keuangan. Jangan dalam bentuk keputusan inspektur jenderal, tapi jadikan dalam bentuk keputusan Menteri Keuangan.”

Aku melongo.

Sungguh ini apresiasi yang di luar dugaanku. Membuat peraturan inspektur jenderal saja baru mau pertama kali aku mengerjakannya. Ini membuat peraturan dengan suatu keputusan menteri? Alamak, bagai  mimpi saja rasanya!

Akhirnya, dengan senang hati kami selesaikan keputusan menteri yang mengatur mengenai metode itu. Menteri merespon dengan cepat. Tak perlu menunggu lama keputusan pun terbit.

***

Aku terjaga dari lamunanku.

Dengan keputusan kepala LIPI yang sekarang ada ditanganku ini aku segera ke Biro Sumber Daya Manusia di Kementerian Keuangan. Kuajukan kenaikan pilihan naik pangkat dua tahun dipercepat. Biro Sumber Daya Manusia Kementerian Keuangan pun juga sudah mengajukannya ke instansi yang berwenang.

Tak terkira bahagianya aku saat itu. Kementerian Keuangan memang sangat mengapresiasi segala inovasi yang dilakukan oleh keluarga besarnya. Itulah enaknya bila menteri berasal dari kalangan profesional. Rasanya, aku berharap bisa membuktikan bahwa negeri ini respek terhadap inovasi.

Bahagia menghiasi hari-hariku.

***

Aku menunggu.

Aku menunggu kenaikan pangkat pilihan karena penemuan baru yang bermanfaat untuk negara. Kini, dunia akan melihat betapa negeri ini menghargai inovasi terhadap para PNS-nya. Membayangkan semua itu membuatku mensyukuri menjadi PNS.

Tapi apa yang terjadi?

Setahun berlalu.

Bertahun-tahun berlalu.

Apa?

Mandeg.

Usulan dari kementerian tempatku bekerja tak menembus dinding kokoh yang tak ramah inovasi. Tidak juga ada keputusan kenaikan pangkat yang menjadi hakku. Rasa jengkel pun meremukredamkan harapanku.

Hingga akhirnya aku naik pangkat bukan karena penemuanku yang dikategorikan sangat bermanfaat itu, tapi naik pangkat karena angka kreditku telah tercapai. Aku naik pangkat bukan karena inovasi yang kulakukan. Aku naik pangkat karena hal yang biasa saja.

Ah, rasanya ingin aku meluapkan emosi kesal yang menggelegak di dalam jiwaku! Ingin rasanya berteriak atas kezaliman itu! Begitulah bila kewenangan dimainkan dengan seenaknya sendiri dengan jargon yang diusung: bila bisa dipersulit mengapa dipermudah?

Maka bila kau tanyakan kepadaku tentang inovasi birokrasi di negeri ini, maafkan bila aku menjawabnya dengan terus terang: inovasi birokrasi telah mati.***

 

 

Tak Pernah Satu, Ada Apa Denganku

Tak Pernah Satu, Ada Apa Denganku

Saat pikiranku berjalan

Kakiku diam tertahan

Lalu saat ia berlarian

Ragaku hanya mau berjalan

 

Lain waktu

Lain pula ia mengadu

 

Ketika akal ingin berhenti

Tangan kaki minta berlari

Sebaliknya,

Kala raga diam tak kemana-mana

Pikiran mengembara dan berkelana

 

Dari dulu sejak mula-mula

Selalu begitu keduanya

Berulang kali, satu, dua, tiga, dan seterusnya

Pikiran dan raga

Seolah tak mau bekerja sama

 

Kadang duluan

Kadang ketinggalan

 

Ketika sekolah

Tapi aku kuliah

Ketika kuliah

Tapi aku bekerja

 

Ketika di kantor

Aku di rumah

Ketika di rumah

Aku di kantor

 

Duh…

Ada apakah denganku

Kapan pikiran dan raga ini menyatu

Berada di tempat yang sama di suatu waktu

 

Kata orang,

Obatnya gampang

 

Fokus, konsentrasi, khusyuk dan tawaduk

Maka pikiran dan ragaku

Akan bersatu

 

Namun…

Aku telah mencoba

 

Tapi ia tak bekerja dengan sempurna

Adakah obat mujarab lainnya?

Atau memang sudah takdirnya

Harus diterima dengan lapang dada

 

Bahwa pikiranku

Dan ragaku

Takkan pernah bisa menyatu

 

 

error: