Tak Pernah Satu, Ada Apa Denganku

Tak Pernah Satu, Ada Apa Denganku

Saat pikiranku berjalan

Kakiku diam tertahan

Lalu saat ia berlarian

Ragaku hanya mau berjalan

 

Lain waktu

Lain pula ia mengadu

 

Ketika akal ingin berhenti

Tangan kaki minta berlari

Sebaliknya,

Kala raga diam tak kemana-mana

Pikiran mengembara dan berkelana

 

Dari dulu sejak mula-mula

Selalu begitu keduanya

Berulang kali, satu, dua, tiga, dan seterusnya

Pikiran dan raga

Seolah tak mau bekerja sama

 

Kadang duluan

Kadang ketinggalan

 

Ketika sekolah

Tapi aku kuliah

Ketika kuliah

Tapi aku bekerja

 

Ketika di kantor

Aku di rumah

Ketika di rumah

Aku di kantor

 

Duh…

Ada apakah denganku

Kapan pikiran dan raga ini menyatu

Berada di tempat yang sama di suatu waktu

 

Kata orang,

Obatnya gampang

 

Fokus, konsentrasi, khusyuk dan tawaduk

Maka pikiran dan ragaku

Akan bersatu

 

Namun…

Aku telah mencoba

 

Tapi ia tak bekerja dengan sempurna

Adakah obat mujarab lainnya?

Atau memang sudah takdirnya

Harus diterima dengan lapang dada

 

Bahwa pikiranku

Dan ragaku

Takkan pernah bisa menyatu

 

 

Air Mata Gunung Sahilan

Air Mata Gunung Sahilan

pagi masih belia

ketika setitik embun mencium bibirku

tak ada daun yang gugur ketika itu

angin berdiri mematung

merangkai bait puisi di keheningan

mengenang potongan mimpi tentangmu semalam

 

ini pagi yang sama

saat lututku terasa goyah

menopang keinginan menggebu di sudut-sudut bilik

yang menyemburkan aroma kehidupan

namun perlahan dimakan rayap

 

mungkin tak ada yang tersisa

selain kenangan indah akan tubuhku

yang pernah remaja

ketika kedua tanganku kokoh merangkulmu di Kampar Kiri

sembari bernaung di bawah Rimbang Baling

kini di ujung kehidupanku

yang ada hanya air mata

 

Sengkang, 20 Juni 2018

 

 

Janji Para Bedebah

Janji Para Bedebah

Saat kuasa sudah menyandera
Bahkan jiwa menjadi niaga
Mendapatkan tahta yang penuh dengan darah

Aku tahu, engkau tahu, semua juga tahu
Kalau semua di atas kertas hanyalah jadi pembatas

Antara mimpi dan realita
Sampai sumpah dan serapah menjadi nyata

Tapi sayang maumu adalah titahmu
Tak boleh lekang oleh idealisme atau sarkasme
Katamu janjimu adalah harga dirimu, yang tak akan pernah dipalsukan oleh cawan kesombongan

Tapi bagi aku, engkau, dan semua jelata
Itu adalah sampah, yang keluar dari mulut para bedebah

Janji manis para tuan tanah, yang menghisap habis darah yang amis
Kita hidup di tengah mereka, menjadi bidak mereka mewujudkan tahta

Kita tak bisa apa-apa atas harta yang menggelora membeli semua jiwa
Sampai nanti ketika murka Yang Kuasa menjadi tsunami dari doa orang-orang yang terdzalimi

Janji mereka terkubur dalam sepi yang menyiksa, menjadi lansekap kehinaan yang tiada tara

Gondangdia, 19 Juli 2018

 

 

Cintaku Tanpa Syarat

Cintaku Tanpa Syarat

Cinta itu tumbuh saat mataku masih terpejam

Awalnya kuyakini akan ku simpan di hati

Tak kubiarkan  seorang pun mengintipnya

Tapi ketika ku terjaga

Dirimu ikut memupuk, menyiram, dan merawatnya

 

Kebahagiaan yang tak bisa kusembunyikan

Ini adalah anugrahMu

Itu yang selalu kuyakini

 

Tapi kini

Bagai petir di siang hari

Dunia seakan berhenti

Menangis pun seakan tiada arti

Usai sudah perjalanan kami

Tanpa bisa kutolak dan bertanya lagi

 

Tlah hamba jalani rencanaMu ya Allah

Sebagai takdir yang tak mungkin hamba tolak

Dan hamba hanya bisa pasrah

Beradaptasi dengan rasa sedih

Berdamai dengan rasa sakit dan perih

 

Jangan tunjukkan pada hamba

Jalan menuju pintu putus asa Mu itu

Walau tubuh semakin dingin, hampa, dan kaku

Karna cerita ini lebih pilu dibanding cerita masa remaja

Meskipun puluhan tahun berlalu masih membayang

Kini harus dilanjutkan dengan luka baru

Yang entah kapan perihnya akan hilang

 

Jangan beri hamba batas kesabaran ya Allah

Karena yang hamba butuhkan samudra kesabaran yang luas untuk hamba arungi

Karena cinta hamba ada di qalbu

Di lubuk hati yang paling dalam

Bukan di raga hamba

 

Kini kuingin mataku terpejam kembali

Agar hanya aku yang memeluk cintaku

Biarlah sang Pemiliknya yang akan menjaga

Karena tak mungkin cinta bukan dariNya

 

Dia telah mencarikan raga dan memakukan cintaku

Karena pasti memiliki gelombang yang sama

 

Bila nanti ku terjaga kembali

Pasti karena kuyakin engkau telah menjaga cintaku

dan engkau pun akan merawatnya

Bila kau tetap memaksa mataku tetap terpejam

Biarlah jalan hampa dan dingin yang kau ciptakan menjadi pilihan

 

 

Penyakit Usia Lima Puluhan

Penyakit Usia Lima Puluhan

saat kecil tak punya apa-apa

tumbuh remaja banyak cita

lulus kuliah dapat kerja

lalu membangun keluarga

memberi cucu untuk orang tua

 

begitu ‘kan biasanya?

begitu pada umumnya

 

saat kecil aku ingin ini dan itu

asal memainkan telunjuk

tanpa beban

tanpa terbesit perasaan

bagaimana susahnya orang tua mencari uang

 

saat kecil aku sakit salesma

kadang disertai batuk asma

atau terluka saat bersepeda

tapi aku tak pernah jera

meski jatuh lagi dan sakit lagi

aku tak pernah jera

karna akan selalu ada

peluk hangat orang tua

 

saat aku tumbuh remaja

waktunya eksplorasi

sambil mencari jati diri

mau jadi apa ketika besar nanti

 

saat remaja aku jerawatan

seluruh muka beruntusan

akibat memendam perasaan

pada gebetan yang punya pasangan

tapi tak apa

aku tak pernah jera mencari

cinta sejati untuk kemudian dinikahi

kalau gagal lagi?

tak apa

ada teman untuk berbagi

 

saat aku memasuki dunia kerja

prioritas berubah drastis

semua serba dikalkulasikan

semua serba dipikir matang

bisakah daftar keinginan

tak melampaui anggaran?

 

saat menerima gaji pertama

selera makan ku membabi buta

semua makanan dicoba

mumpung belum ada pantangan

mumpung belum ada masalah kesehatan

bila besok ada keluhan?

tak apa

besok lusa juga hilang

 

saat keuangan ku kian mapan

saatnya mencari istri idaman

melamar pacar yang selama ini menjadi incaran

membangun sebuah keluarga

lalu memiliki anak satu, dua, atau tiga

 

saat umur ku memasuki lima puluhan

saat uban mulai tumbuh secara perlahan

metabolisme tubuh pun berubah

badan lebih cepat merasa lelah

saatnya mengerem diri

kalau tak mau ada keluhan

 

beruntung kolesterol ku tak tinggi

beruntung tekanan darah ku tak tinggi

beruntung gula darah ku tak tinggi

beruntung asam urat ku tak tinggi

beruntung aku tak punya penyakit komplikasi

namun, sangat sedikit yang beruntung seperti ini

 

selera makan mulai kutahan

menjalani rutinitas terasa membosankan

dulu susah mencari pekerjaan

tapi sekarang, pekerjaan di tangan

malah ingin kulepaskan

 

terpikir keinginan ‘tuk pensiun dini

aku tak mau menunggu lebih lama lagi

batas usia pensiun yang tinggal bilangan jari

karna aku lelah

karna aku jengah

 

aku ingin pensiun dini

bukan karna aku telah dapat semua ingin

tapi karna aku mulai mempertanyakan

apa yang kucari dalam hidup ini?

 

bukankah begitu umumnya

penyakit usia lima puluhan?

penyakit lima puluhan

saat darah tak lagi muda

 

 

Mandalika

Mandalika

aku mencari senyum polos anak-anak
di pantaimu, Mandalika
wajah mereka memerah terpajan sinar mentari
berlari-lari mengejar turis
menjajakan pernak-pernik gelang, kalung, dan tumpukan tenun
tak kenal lelah menjemput rezekiNya

Mandalika
kecantikanmu terhampar indah
di antara pasir putih dan bebukitan hijau
birunya laut dan debur ombak
sungguh sempurna penciptaanmu
namun
engkau menyimpan banyak cerita berurai airmata

cerita tentang para nelayan
yang ingin menjaga aroma setiamu
nafas kehidupan mereka
denyut nadi harapan keluarga

cerita seorang istri yang bahagia menyambut suaminya pulang
dengan ikan hasil tangkapannya
sumber nafkah buat keluarganya

cerita seorang anak yang menangis meratapi ayahandanya
yang pulang tak bernyawa
digulung, ditelan ombak raksasa

Mandalika
masihkah kau tetap setia
memberi makna pada cinta
membuang sgala dendam kesumat
pada mereka yang meninggalkan desa
dan terlupa pulang

Mandalika
kenanganku telah terhempas di pantaimu
kurajut slalu benang-benang rindu
untuk slalu menjengukmu
menikmati pantaimu
kala senja berbinar
namun
engkau hanya membisu
diam memaku

 

 

error: