Coto Makassar Warisan Ibu

Coto Makassar Warisan Ibu

Lebaran dengan hidangan Coto Makassar? Sudah tradisi. Ya, itulah tradisi dalam keluarga kecil kami. Hidangan khas Sulawesi Selatan itu adalah menu utama setiap lebaran. Hidangan khas lebaran yang biasanya disediakan secukupnya, sekedar pelengkap yang jarang benar disentuh. Mungkin pelancong yang berkunjung ke kota kami hanya menganggap coto ini makanan khas daerah – seperti pada umumnya, tapi bagi keluarga kecil kami coto ini sungguh istimewa.

Keseruan itu berawal dari balik layar proses memasaknya. Kamilah sekeluarga yang meracik bumbu, memasak, dan kemudian menghidangkannya. Kata ibu, resepnya didapat dari nenek, tapi konon sudah dimodifikasi oleh ibu sendiri. Beberapa keluarga dekat yang sudah mengenali kebiasaan kami itu, biasanya langsung mampir segera sesudah shalat Ied bubar. Tidak jarang mereka memujinya sebagai saingan berat dari Warung Coto terkenal yang ada di kota kecil kami.

Karena kehidupan ekonomi kami pas-pasan, maka hari lebaran adalah saat kami bisa menikmati Coto Makassar sampai puas. Di hari-hari biasa, kami jarang makan coto. Walaupun ada segelintir warung di beberapa sudut kota kecil kami, tapi kami kadang tidak punya cukup uang untuk membelinya.

Jika pun kebetulan ayah punya uang, biasanya yang dibeli cuma satu porsi, tapi kuahnya kami minta agar diperbanyak, supaya kami sekeluarga bisa kebagian.

Itulah sebabnya, momen hari lebaran selalu menjadi istimewa, karena kami dapat menikmati Coto Makassar sepanjang hari. Begitu ingin, tinggal ambil mangkuk, sendok, lalu campur sendiri di dapur.

Begitulah setiap tahun, sejak aku masih kecil, kebiasaan itu sudah berlangsung dalam keluarga kami. Saat usiaku sudah cukup untuk bisa membantu-bantu, aku pun mulai dilibatkan oleh Ibu. Awalnya hanya menuruti perintah ibu atau kakak sulungku yang juga laki-laki. Tapi seiring dengan pertambahan usiaku, aku mulai kebagian tugas yang kemudian secara tetap menjadi spesialisasiku.

Menurutku itulah tugas yang paling menyedihkan, karena dalam melakukannya, aku harus berurai air mata. Mengupas dan mengiris halus bawang merah. Kakakku yang sudah lebih cakap, bertugas menyanggrai kacang tanah, ketumbar, dan merica.

Tugas itu tidak ringan, dibutuhkan energi yang cukup besar serta kehati-hatian yang tinggi. Ketiga bahan itu harus matang dengan sempurna, agar cita rasa coto terjaga. Sementara itu adik perempuanku bertugas mengupas lengkuas dan sereh. Terkadang dalam melakukan tugasnya itu, ia mengupas pula sedikit kulit tangannya.

Tugasnya bermandikan darah, begitu kami berseloroh setiap kali tangannya terluka.

Sedangkan adik bungsuku, karena masih belum bisa mengerjakan tugas tertentu, kadang hanya muncul sesekali dan kemudian menghilang kembali karena tidak tahu mau melakukan apa.

Sehari menjelang lebaran, aktivitas rutin itu dimulai. Usai shalat subuh, ayah dan ibu sudah ke pasar untuk membeli kulit ketupat terbaik. Juga beberapa kerat daging dan jeroan sapi, serta berbagai macam bahan yang akan dibuat sebagai bumbu. Saat mereka pulang, sepeda motor butut ayah akan tampak penuh karena beliau terbenam di antara kulit ketupat.

Usai berganti baju, ibu mulai mengisi kulit ketupat dengan beras yang telah dibersihkan dan direndamnya sejak sebelum subuh. Kemudian dimasaknya dengan sebuah panci berukuran besar. Bahan bakarnya adalah kayu kering yang dikumpulkan dari tepi hutan atau bekas bahan bangunan yang sudah tidak terpakai.

Satu pekerjaan selesai. Tinggal menjaga agar apinya tetap menyala dan sesekali menambahkan air jika air di dalam panci menguap. Ayahlah yang mendapat tugas itu. Biasanya jika kakakku selesai menyelesaikan salah satu tugas, ia akan turun membantu ayah.

Prosesi pembuatan coto dimulai. Pertama-tama ibu memilah jeroan dan daging sapi untuk dibersihkan. Jeroan harus dicuci berkali-kali dengan air biasa, lalu terakhir dengan air kapur untuk menghilangkan bau tidak sedap yang biasa menyertainya. Selanjutnya, daging dan jeroan itu direbus sampai matang dengan menggunakan panci tanah. Konon rasa coto kurang nikmat jika menggunakan panci aluminium, begitu kata ibu.

Daging dan jeroan yang sudah matang kemudian diangkat dan ditiriskan. Sementara air kaldu hasil rebusannya disimpan untuk nanti jadi kuah coto. Kacang, ketumbar, dan merica disangrai satu persatu sampai matang. Lengkuas, sereh dan bawang putih dikupas lalu dipotong-potong dalam ukuran yang kecil agar nantinya mudah dihaluskan.

Bawang merah, setelah dikupas, dibagi menjadi dua. Yang satu bagian diiris halus, sedangkan sisanya dibiarkan bulat-bulat. Bawang merah yang sudah diiris nantinya akan digoreng dan dijadikan sebagai bahan pelengkap, ditaburkan bersama-sama dengan irisan daun bawang dan seledri di atas mangkuk berisi coto.

Kacang, merica, dan ketumbar yang sudah disangrai kemudian ditumbuk halus. Demikian pula bahan bumbu yang sudah dikupas. Karena jumlahnya cukup banyak, maka penumbukan dilakukan sedikit demi sedikit agar tekstur bumbunya jadi halus dan mudah dicampur.

Tugas ini cukup berat dan butuh waktu yang cukup lama. Kami anak-anak secara bergiliran menumbuk dengan alu yang terbuat dari kayu yang berat. Ibu mengawasi kami dan menjaga kualitas hasil tumbukan kami itu dengan saksama.

Yang membuat tugas itu menjadi lebih berat adalah karena kami semua dalam keadaan berpuasa, ba’da dhuhur hingga menjelang Ashar adalah masa-masa paling sulit.

Kantuk yang tidak tertahankan, belum lagi persediaan energi dari karbohidrat yang kami santap saat sahur mulai menipis. Alu yang sudah berat pun terasa makin berat.

Kadang-kadang, pada saat yang sama, ibu juga sudah mulai mendesak kami untuk menambah kekuatan. Ibu sendiri bertugas menggoreng bawang merah yang sudah diiris halus. Jika ibu sudah mendesak agak keras, kadang kami protes dan usul untuk bertukar tugas dengan ibu. Tetapi ibu akan segera menolak. Kata Ibu, menggoreng bawang merah ada seninya, tidak asal goreng. Memang bawang goreng ibu renyah dan harum, meskipun disimpan beberapa hari, tidak akan layu.

Ba’da Ashar, semua bumbu sudah tertumbuk halus. Dengan air secukupnya, semua bahan dan bumbu yang sudah ditumbuk halus itu diaduk rata hingga menyerupai bubur. Entah bagaimana mengatur porsinya, hanya ibu yang tahu. Katanya hanya pakai feeling.

Ibu lalu menyiapkan sebuah wajan besar. Dengan menggunakan minyak goreng asli, bumbu yang menyerupai bubur itu ditumis sekaligus. Proses menumis ini sungguh tidak ringan. Karena jumlah bahan yang cukup banyak, maka dibutuhkan tenaga ekstra untuk mengaduk. Lagi-lagi kami bergantian mengaduk, agar bumbu tidak hangus dan matang secara merata.

Biasanya menjelang bedug maghrib, menumis bumbu yang melelahkan itu pun rampung. Tandanya, bau semerbak bumbu coto tercium dan menyebar ke seluruh ruangan dapur. Salah satu tanda kegiatan itu selesai ialah ketika kami semua sudah hampir kehabisan tenaga.

Kadang kami tergolek hampir tak berdaya.
Memang, puasa hari-hari terakhir itu biasanya selalu menjadi puasa yang terberat.

Tugas kami selanjutnya adalah mengiris daging dan jeroan dalam ukuran kecil, lalu disimpan pada wadah tersendiri. Sementara itu, ibu memasak kembali air kaldu yang sudah ditambahkan dengan air hingga mendidih. Lalu bumbu yang sudah di tumis tadi dimasukkan seluruhnya ke dalam panci, diaduk hingga tercampur dengan rata.

Sedangkan adik perempuanku biasanya menyiapkan daun bawang dan daun seledri untuk diiris tipis-tipis. Usai berbuka, kami sudah bisa beristirahat. Selesai mandi dan membersihkan diri, kami lalu menonton takbir keliling dan pesta kembang api.

Keesokan harinya, sesudah shalat Ied, kami buru-buru pulang. Tidak sabar menunggu untuk segera menata hidangan untuk menyambut tamu-tamu yang akan segera mampir. Lagi pula, kami sudah tidak sabar menyantap hidangan Coto Makassar yang mengundang selera. Lalu akhirnya, bersama-sama dengan mereka, kami ramai-ramai menyantap hidangan khas itu dengan lahap.

Itulah yang dulu selalu terjadi setiap tahun. Saat kakakku menikah dan bertugas di daerah lain, aku yang menggantikan tugasnya, dan adik bungsuku juga sudah bisa terlibat secara aktif. Namun akhir bulan haji tahun lalu, masa-masa penuh kenangan itu berakhir karena ibu mendadak dipanggil menghadap ilahi.

Ayah kemudian menikah kembali dengan seorang wanita yang berasal dari daerah lain. Orangnya baik dan ngemong, serta mengerti keberadaan kami. Kehidupan berjalan normal kembali. Seperti biasa, saat ibu masih berada di tengah-tengah kami, walau terkadang terasa ada kekosongan dalam hati kami.

Jelang lebaran, kerinduan pada almarhumah ibu kembali membuncah. Kesibukan rutin kami sehari sebelum lebaran sudah hilang dari tradisi keluarga kami. Ibu tiri yang baik hati itu datang dan membangun kebiasaan menyambut lebaran yang jauh berbeda. Memang persiapan menyambut lebaran tidak lagi melelahkan, namun keseruan yang menyertainya juga tidak lagi kami rasakan.

Pagi ini, sesudah pulang shalat Ied, kami sekeluarga berkumpul. Tidak ada lagi tamu dari famili dan kerabat dekat kami. Di hadapan kami terhidang berbagai jenis makanan khas lebaran yang lezat.

Tetapi bukan Coto Makassar yang sudah jadi tradisi dalam keluarga kami. Melainkan makanan yang bisa dijumpai di mana saja.

Setelah ayah memimpin do’a bersama, kami pun mulai makan. Kuperhatikan adik perempuan dan adik bungsuku menyuap makanannya lambat-lambat. Sesekali mereka saling bertukar pandang. Hanya ayah yang tampak makan dengan lahap. Ibu tiriku dengan ramah terus menawarkan berbagai makanan dan mendorong kami untuk makan, tapi kami hanya terus mengiyakan. Aku kehilangan selera makan.

Aku benar-benar merindukan ibu. Juga merindukan coto buatannya. Mataku mendadak kabur. Aku menundukkan pandangan sambil diam-diam mengusap air mata yang menggenang di kelopak mataku. Pada saat yang sama, pandanganku bertemu dengan adik perempuanku. Dari balik kaca mata minusnya, aku bisa melihat kalau matanya juga memerah karena menahan tangis.

Dadaku terasa sesak. Susah payah aku menelan makanan yang ada di piringku, sementara pikiranku mengembara ke tahun-tahun yang silam. Kupandangi ayah yang tampak makan dengan lahap. Diam-diam aku berpikir, rindukah dia kepada ibu?

Adik bungsuku tiba-tiba meletakkan sendok di piringnya dengan keras.
Suara dentingnya memecah kesunyian. Lalu dengan suara memelas ia bertanya,
“Ayah, mau coto.”

Aku menyikut pinggangnya. “Makanlah apa yang ada,” kataku setengah berbisik.

Adik perempuanku juga melotot, sementara ayah memandangnya dengan pandangan menegur.

“Tidak ada, nak.” Timpal ibu tiri kami. “Masakan ibu nggak enak, ya?”

Aku mengerti apa yang diinginkan adik bungsuku. Kami pun sebenarnya juga demikian, tapi kasihan ibu tiri kami yang sudah menyiapkan semua makanan lebaran ini dengan susah payah.

“Ayah, aku mau coto.” Kata adikku lagi.

“Sekarang mana ada warung coto yang buka,” kata ayah. “Nantilah kalau sudah ada baru kita beli.”

“Tapi aku inginnya sekarang, kayak lebaran dulu.”

Ayah terdiam, hanya sorot matanya yang memohon agar percakapan itu terhenti. Tapi dasar anak kecil, entah memang tidak paham isyarat itu, atau pura-pura tidak paham, ia terus saja merengek. Aku berusaha membujuknya, tapi rupanya gagal. Ia mulai menangis. Suasana makan menjadi tidak nyaman. Sepi mencekik.

Pintu depan tiba-tiba diketuk. Adik perempuanku segera bangkit membukakan pintu. Tak lama kemudian, kudengar suara riuh dua orang bocah yang menyerbu memasuki rumah. Lidahnya yang masih cadel melafalkan salam dengan keras. Itu keponakanku. Anak-anak kakakku yang sulung. Suasana sepi mendadak hingar bingar. Anak-anak itu mendatangi kami satu persatu dan menyalami kami di sekeliling meja.

Kakakku kemudian muncul bersama istrinya. Di tangan kakakku ada sebuah rantang besar. Sementara istrinya juga menenteng bungkusan. Mereka menuju ke dapur. Tak lama kemudian ibu tiri kami keluar dengan sebuah mangkuk besar. Aroma coto makassar seketika memenuhi ruangan. Adik bungsuku langsung berteriak kegirangan, begitu pula adik perempuanku. Kupandangi ayah yang tetap terdiam, tapi matanya berbinar antusias.

“Tadi ada yang mau coto,” kata ibu tiriku sambil tersenyum. “Do’anya makbul.”

“Maaf, datangnya terlambat.” Kata kakak sulungku.
“Tadi beberapa staf dari kantor langsung mampir di rumah.”
Ia lalu mengambil tempat di sampingku.

Meja makan kecil kami tiba-tiba penuh warna. Kami makan dengan gembira. Aroma dan cita rasa coto buatan ibu hadir kembali di meja makan kami. Suasana menjadi riuh, apalagi ditambah celoteh nakal keponakanku.

Diam-diam, aku bersyukur dan berterima kasih pada kakakku, berkat kemampuannya mewarisi keterampilan ibu, bisa membuat suasana lebaran kami tahun ini kembali berbinar. Sepertinya ibu kembali hadir bersama kami. Aku rindu padamu, Ibu.

4
0
Nakhoda Sekoci

Nakhoda Sekoci

Namanya Pak Imam. Anak-anaknya sudah besar. Dia sendiri sudah tidak bekerja sejak lima tahun lalu karena pernah jatuh akibat stroke. Sebenarnya sekarang sudah bisa beraktivitas kembali, hanya saja memang tidak setangguh dulu. Keluarganya berpikiran lebih baik Pak Imam istirahat di rumah saja. Ini bentuk kasih sayang dan penghormatan atas posisinya sebagai pemimpin rumah tangga.

Sebagai lelaki, harga dirinya tinggi. Namun, ia juga tak kuat memaksakan diri. Maka, jalan tengahnya adalah dia tidak mau merepotkan keluarganya. Pikiran waras hampir semua orang tua lurus.

Jika ditawari sesuatu, dia akan menolak. Jika dipaksa, maka pilihannya adalah baju putih. Maka, benda dan perkakas oleh-oleh yang dihadiahkan anak istrinya adalah baju putih. Setiap waktu, kapanpun itu.

Suatu ketika, dia meminta baju putih. Tidak seperti biasanya. Sebelumnya dia tidak pernah berinisiatif meminta, yang ada hanyalah menerima saja pemberian sanak keluarga.

“Besok belikan aku baju putih ya.”

***

Keputusan telah ditandatangangi. Tersurat jelas di sana. Dia harus berangkat ke Sibolga. Laiknya kawan-kawannya yang lain, itulah kewajiban yang harus dia tunaikan selepas tiga tahun menikmati hak belajar tanpa dipungut biaya. Perintah itu adalah perintah negara. Sebagaimana fasilitas negara yang telah ia nikmati selama masa pendidikan.

Sebenarnya dia mendambakan kuliah di kampus reguler saja. Bisa menengguk mata kuliah filsafat, beradu argumen dalam kegiatan mahasiswa, dan belajar demo yang sering diinisiasi organisasi ekstra kampus. Namun kemewahan itu haruslah ‘dibayar’ juga dengan biaya yang tidak sedikit. Padahal pas, seminggu sebelum kelulusan masa SMA-nya, bapaknya ambruk setelah seharian naik motor mudik ke luar kota dan minum secangkir kopi panas.

Maka, diputarlah otak. Tak bisa dia menggantungkan harapan pada orang tua untuk membiayai harapan sekolah pasca SMA-nya. Jalan satu-satunya adalah mencari pembiayaan lain. Dicarinya kampus yang memberikan pembiayaan penuh. Dan tepat sekali, otak encernya jadi senjata mengalahkan ribuan pesaing untuk menduduki kursi sekolah calon ambtenaar.

Tidak sesuai harapannya, tapi apa di kata, hidup memang kadang tidak selalu sesuai dengan apa yang dimau.

Di kampus plat merah ini, apa-apa dibatasi. Sama sekali berbeda dengan kampus plat kuning. Mulai dari pakaian yang harus dikenakan selama proses perdidikan, mata kuliah yang harus dikonsumsi, hingga ‘tata laku’ yang harus dijalani dan dipatuhi. Termasuk nilai yang harus dicapai dan masa studi yang harus ditempuh.

Berani melanggar? Pulang cepat taruhannya. Dipaksa balik kampung saat teman-teman yang lainnya masih harus lanjut belajar.

Tampak menyedihkan? Sebenarnya tidak juga.

Jika tahu euforia nama kita ada di senarai yang diterima masuk berkuliah, rasanya bagai orgasme di malam pertama: puas dan bikin wajah berseri-seri. Itu masih yang dirasakan si anak, belum orang tuanya.

Buat orang tua yang bersangkutan, berita itu semacam penganugerahan medali kampiun juara piala dunia. Bukan, itu terlalu berlebihan. Semacam tembus lotre togel yang dimenangkan para buruh dengan gaji di bawah UMR. Senang bukan kepalang. Sampai-sampai perlu menceritakan ke seluruh penduduk kampung di mana dia tinggal.

Bagaimana tidak? Belum mulai kuliah saja, pengumuman diterima di kampus plat merah itu sudah semacam kesuksesan orang tua dalam mendidik anak. Selain memang bukti kejeniusan si anak, bayangan beban berat menguliahkan anak tiba-tiba hilang begitu saja.

Buat seorang anak, dengan berhasil masuk di kampus plat merah ini saja, seperti tuntas sudah cita-cita mulia nan klise seorang anak pada umumnya: “Membahagiakan dan meringankan beban orang tua.”

Maka, sebelum keberangkatannya ke kampus untuk melaksanakan hari pertama perkuliahan, dia berpamitan pada bapaknya. Tampak haru dan bangga dari air muka bapaknya, meski hanya dengan duduk tanpa kuat mengantarkan hingga pintu depan menjelang masa perantauan panjang di tempat nun jauh di sana.

***

“Empat belas miliar ini angka besar. Harus ada tindakan penagihan. Jika ditelusuri, sudah nunggak selama dua tahun!”

“Tapi pak, prosedur sebelumnya apa sudah dilakukan?”

“Sudah. Surat teguran juga sudah dilayangkan.”

Suasana ruangan itu tiba-tiba hening. Seisi ruangan semacam sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya yang memang harus ditempuh, sekaligus paling berisiko.

“Mau tidak mau harus saya tugaskan pegawai kita untuk mengantar surat paksa penagihan. Nanti mohon ada yang mendampingi.” tutup Kepala Kantor.

***

“Enam puluh enam ribu rupiah.” terbilang angka di tiket yang kupegang sambil kubaca dengan kondisi agak goyang laut.

Perjalanan ini biasanya memakan waktu delapan sampai sepuluh jam. Berangkat dari Pelabuhan Sibolga dan berhenti di Pelabuhan Gunung Sitoli. Esok pagi jam tujuhan berlabuh, jika sesuai jadwal.

Kutengok penumpang yang lain, semua mulai terlelap tidur. Aku sendiri yang, entah mengapa, seperti tinggal sendiri yang terjaga.

Aku lihat di ujung kapal, sebuah sekoci berwarna oranye berayun-ayun mengikuti irama amplitudo riak. Sekoci itu memandangiku erat, seperti mengajak berkomunikasi tanpa bahasa. Aku lihat sekoci itu sendirian, padahal biasanya selalu ada banyak sekoci di sebuah kapal besar.

Apalagi kapal dengan banyak penumpang seperti ini. Bukankah fungsi sekoci itu sebagai alat pembatas hidup dan mati penumpang yang kapalnya karam? Apakah cuma beberapa penumpang saja yang berhak punya harapan hidup dari ratusan orang yang menumpang malam ini?

Byur!” Tiba-tiba sekoci itu melompat keluar kapal.

“Jangan! Gilak kamu!” suara dikepalaku mendengung tanpa bunyi.

Tapi jelas sekoci itu tak bisa diajak bicara. Aku lari mendekat ke pinggiran kapal. Kupandangi sekoci itu terayun-ayun semakin menjauh. Dalam kegelapan aku menerka-terka ke mana arahnya. Yang jelas, setelah hitungan banyak menit, sekoci itu semakin menjauh dari kapal. Semakin lama semakin menjauh ke arah datangnya sinar bulan.

Siluet ratusan burung menghiasi di atasnya. Tampak dari jauh, sepertinya tidak hanya ratusan, tapi ribuan burung. Hitam legam kontras dengan pendaran cahaya bulan di belakangnya. Pandanganku tak bisa memastikan burung apa itu, tapi suara dalam diriku meyakini itu burung gagak. Gagak hitam beterbangan di atas sekoci yang menjauh dariku.

Booong….booong!” Aku dikagetkan suara klakson kapal. Terpaksa terjaga dari lelap semalaman. Suara itu menandakan aku harus segera bersiap karena akan sampai tujuan. Matahari sudah cerah.

Aku ke kamar mandi. Kantong kemih yang sudah penuh semalaman ini mengucurkan air deras penuh tekan dari salurannya. Karena agak lama habisnya, mataku ke sana kemari hingga berhenti dan terbaca hasil vandal khas toilet, “Dipupusi na mate na mangolu.”

Pesingnya aroma dalam toilet ini ampun-ampunan membuat otak tiba-tiba beku, jadi enggan dipakai berpikir makna coretan tadi.

Jangkar ditambatkan dan roll-off diturunkan. Satu per satu penumpang turun, aku pun demikian. Berjalan melewati sekoci yang tampak tidak asing di samping jalan menuju sandaran.

Penjemputku sudah datang.

“Saya antar ke kantor dulu ya, Pak. Bapak bisa mandi-mandi dulu terus kita sarapan. Baru nanti kita berangkat ke kebun.”

***

Dua jam perjalanan dari kantor selepas sarapan. Kami sampai di sebuah gudang di tengah kebun karet. Ini adalah tempat di mana orang yang perlu kami temui.

“Selamat siang pak, kami dari kantor menyampaikan surat ini atas kewajiban tunggakan Bapak.”

Diterima surat tersebut, “Oh iya, silakan duduk dulu di sini ya. Saya masuk sebentar.”

Kami berdua duduk di tempat yang dimaksud. Aku memandang ke areal luas lahan karet. Pelan-pelan mengalihkan pandangan ke tanah di depanku. Lambat laun memandang gesper yang kupakai: gesper peninggalan bapak yang baru kumiliki empat puluh hari lalu.

“Pak!” Suara seseorang memanggil membuyarkan lamunanku.

Jleb!

Aku sempoyongan. Memandang orang yang memanggilku tadi dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Perutku nyeri betul. Kulihat di atas gesperku darah merah sudah bercucuran.

***

“Tuuut… Tuuut…”

“Tuuut… Tuuut…” Ponselku berbunyi. Kulihat nama ibuku di layar. Kuangkat.

“Halo, Bu?”

“Pulang ya Nak! Bapak sudah pulang.”

Itu telepon dari ibu yang Aku terima empat puluh hari sebelum aku ditusuk. Empat puluh hari setelah aku membelikan baju putih. (*)

*Cerpen ini terpilih sebagai Juara I dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Reuni Akbar IKANAS STAN 2019, secara ekslusif dikirimkan ke birokratmenulis.org untuk dapat dibaca secara daring setelah dicetak menjadi buku “Antologi Cerpen Ikanas STAN”.

8
0
Promosi Tidak Sekedar Menunggu Nomor Antri

Promosi Tidak Sekedar Menunggu Nomor Antri

Rotasi, mutasi dan promosi sesungguhnya menjadi satu kunci penggerak organisasi,
bukan hanya basa basi, sekedar unjuk gigi, atau sebatas menunggu nomor antri.

Rotasi, mutasi dan promosi akan menjadi bukti kesungguhan organisasi mengelola diri untuk terus berlari, atau tetap komit menutup diri.

Selanjutnya organisasi tentunya mengukur diri dalam melakukan proses ini.
Apakah basis evaluasi dan indikator sudah menjadi sebuah kata pasti?
Sehingga rotasi, mutasi, dan promosi tidak meninggalkan friksi dan indikasi?

Sejatinya “nomor punggung” yang sampai saat ini masih menjadi kata kunci evaluasi,  telah memberi gambaran utuh tentang kemampuan, kematangan, pengalaman, sampai kualitas diri.

Idealnya nomor punggung tidak hanya indikasi senioritas dalam organisasi.
Karena tua itu pasti, tetapi dewasa perlu diuji.

Belum terbantahkan sampai detik ini,
banyak bukti yang menunjukkan kalau nomor punggung baru sebatas menjadi nomor antri untuk menunggu jatah kursi.
Walau tidak sedikit kalau pemilik nomor punggung sudah teruji, serta memang layak dan sesuai porsi.

Lalu bagaimana selaiknya organisasi memposisikan diri?

Evaluasi tetap menjadi kunci dengan berbagai indikator yang semestinya diuji,
hingga menjadi sebuah produk yang tidak asal jadi.

Karena karir adalah muara dari semua proses mutasi, rotasi dan promosi.

2

0
Hitung Mundur

Hitung Mundur

Lima, empat, tiga, dua, satu tahun
Tak terasa
Waktu berlalu begitu cepat

Lima, empat, tiga, dua, satu bulan
Laju waktu tak tertahankan

Lima, empat, tiga, dua, satu minggu
Waktu yang ditakutkan atau dinantikan
Semakin mendekat

Lima, empat, tiga, dua, satu hari
Waktu itu datang tak terelakkan

Saatnya mengucapkan selamat tinggal
Kepada rutinitas lama

Lima, empat, tiga, dua, satu jam
Boom…
teneeng…
teneeeng…

Saatnya pamit pada teman-teman
Di detik-detik terakhir sebagai pekerja kantoran

Saat waktunya datang
Saat deg-degan
Saat-saat yang ditakutkan
Ataukah saat-saat yang dinantikan

Saat-saat yang ditakutkan
Apabila dihadapi tanpa persiapan
Kepada siapa urusan dapur hendak digantungkan

Saat-saat yang dinantikan
Saatnya menggunakan waktu
Bebas tanpa ikatan
Saatnya memulai petualangan baru

Anda pilih mana?
Saat-saat yang ditakutkan
Ataukah saat-saat yang dinantikan

Kalau saya
Saya ambil pilihan kedua

Jepang, Eropa Barat, atau Rusia
Destinasi wisata yang menggoda
Atau menjelajahi nusantara
Tak kalah menariknya buat honeymoon kedua

Pikiran melanglang buana
Sebelum fisik sampai ke sana
Hidup tanpa beban
Oohhh nikmatnya

Pergi kemana-mana
Tanpa perlu membuat laporan pertanggungjawaban
Tanpa perlu persetujuan atasan
Oohhh asyiknya

Semua akan mengalami
Soal bagaimana menghadapinya nanti
Pilihannya ditentukan sejak dini
Saat pertama kali bekerja
Bukan saat masa kerja tinggal beberapa tahun saja

Hitung mundur
Memulai dari akhir
Mudah untuk mengatakan
Berakhir indah jika dilaksanakan

8

1
Selamat Jalan Bapak Habibie

Selamat Jalan Bapak Habibie

Jalan sunyi yang kau pilih
Mengajarkan kami tentang makna hidup yang hakiki
Bukan sekedar mencintai negeri
Tapi mengabdi dalam cinta yang sejati

Jalan sepi yang kau lalui
Tak ada bingar yang mengisi hari
Hanya jiwa dan asamu yang kerap terpatri
Dalam karya dan karsa yang tak pernah mati

Bagimu merdeka adalah niscaya dalam kerja yang gempita
Bagimu cinta adalah setia sampai saat menutup mata

Engkaulah ksatria
Mahaputra bangsa yang tak kunjung lelah, menemukan jalan peradaban, menjadi purwa rupa negarawan yang tak akan sirna ditelan zaman…

Masamu akhirnya tiba untuk kembali, bersama jiwa terkasih yang telah lama menanti.

Tak akan terbendung lagi, hujan air mata dari pelosok negeri…

bersama doa tulus ikhlas yang melepas dirimu pergi

Selamat jalan, Pak Habibie

Jakarta, 11 September 2019

 

 

1

1
Bertumbuh Menjadi Kita

Bertumbuh Menjadi Kita

Tak lelah kau merawat kita

Seperti kebiasaanmu meruwat kata

Dalam puisi atau ceritera

Dalam warita seumpama nubuat

 

Kau ramu kita dengan racikan rasa

Kau dan aku menjelma harmoni

 

Tak letih kau menjaga kita

Umpama lakumu menaja rima

Dalam syair atau seloka

Dalam wiracarita semacam hikayat

 

Kau sigi kita dengan percik jiwa

Kau dan aku mewujud simponi

 

Meski kadang aku ngotot mengaku

Dan kau berkeras mendaku

Jemari tetap saling merangkul

Hati pun tak lelah bergumul

 

Sahabat katamu, bukan aku diimbuh kamu

Sahabat bagimu, saat kau dan aku bertumbuh menjadi kita

 

 

 

2

0
error: