Torehkan Kisah Literasimu

Torehkan Kisah Literasimu

Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil antri makan, sambil makan, bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang. Kami mendesak diri melampaui limit normal untuk menemukan limit baru yang jauh lebih tinggi (Fuadi, 2009).

Kutipan di atas saya ambil dari novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi (2009). Novel penuh inspirasi ini kaya dengan penuturan dan gambaran Alif tentang bagaimana kegiatan membaca dan menulis berkelindan dengan indahnya dalam kesehariannya sebagai anak pesantren di Pondok Madani.

Kisah tentang bagaimana seseorang mulai belajar dan kemudian mencintai dunia buku dan tulisan semakin banyak kita jumpai di dunia maya. Mulai dari status update di media sosial sampai blog entry banyak bertebaran kisah tentang buku dan menulis dalam kehidupan penulisnya. Di blog saya ini bahkan saya mengkhususkan diri menulis tentang literasi, yakni dunia membaca dan menulis berbagai ragam teks.

Kata literasi memang tidak lagi asing. Bila beberapa tahun yang lalu orang masih bertanya apa itu literasi, sekarang ini bahkan ibu-ibu RT di tempat saya sudah bisa langsung menggunakan istilah Gerakan Literasi ketika saya mengajak ibu-ibu PKK untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat di RT kami. Saya cuma bilang, ‘ayo buat taman baca buat warga RT.’ Mereka merespon positif dan sudah langsung menggunakan frase ‘demi gerakan literasi.’ Tampaknya Gerakan Literasi Sekolah dalam bentuk kegiatan 15 menit membaca di sekolah anak-anak mereka sudah mulai membentuk pola pikir baru di antara para orang tua.

***

Karena kita sudah akrab dengan kisah-kisah tentang buku dan tulisan, mari kita mulai mengenal istilah akademiknya. Dalam berbagai kajian tentang Literacy Studies, kisah seperti ini disebut dengan Literacy Narrative. Apa ya terjemahannya dalam Bahasa Indonesia? Naratif Literasi? Kisah Literasi? Untuk sementara saya memilih menggunakan istilah Kisah Literasi. Rasanya terdengar lebih manis.

Kisah literasi biasanya ditulis oleh para penulis untuk memerikan perjalanan mereka mengenal tulisan, kapan mulai suka membaca buku, mulai menulis, tantangan yang dihadapi, cerita suka duka tentang membaca dan menulis. Kisah seperti ini membuat para pembaca lebih mengenal sosok penulis. Kisah literasi juga menjadi salah satu bentuk tugas menulis yang kerap diberikan di kelas-kelas Bahasa. Para siswa atau mahasiswa biasanya diminta menuliskan tentang pengalaman dan perasaan mereka tentang banyak hal yang terkait dengan buku dan tulisan.

Kisah literasi adalah kisah tentang buku dan tulisan yang kita tulis dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal ini, kita tidak hanya mengacu pada kegiatan membaca dan menulis sebagai keterampilan bahasa yang dapat diukur dengan berbagai standar penilaian. Kisah literasi adalah kisah perjalanan hidup seseorang yang menuliskannya, kisah tentang perubahan identitas di mana buku dan tulisan menjadi bagian penting. Kisah literasi dapat mengungkapkan bagaimana seseorang memosisikan dirinya dalam hal kelas sosial, status pendidikan, dan ekonomi. Kisah literasi juga dapat menjadi pembuktian bagaimana buku, tulisan, dan bahkan teks audiovisual dapat mengubah citra diri seseorang.

Konsep Figured World, Positional Identity, dan Figurative Identity yang diusung oleh Dorothy Holland dkk. dapat dengan cantik dikawinkan dengan dunia literasi. Riya Rizqi, salah seorang mahasiswa S2 Unesa bimbingan saya baru saja menyelesaikan tesis tentang Literacy Narratives and Students’ Identities. Dari kisah literasi yang ditulis dalam Bahasa Inggris sederhana oleh siswa SMP di Lamongan, Riya berargumen bahwa kehadiran buku, kegiatan membaca, dan gurunya sendiri membuat siswa mengubah cara pandang tentang diri mereka sendiri. Pada awalnya mereka memandang diri mereka sebagai ‘bad reader and bad writer.’ Setelah berproses dengan berbagai kegiatan di mana buku dan tulisan banyak dihadirkan, mereka mulai berani menilai diri sebagai ‘good reader and good writer.’

Sekali lagi, kisah literasi bukanlah kisah melulu tentang kesuksesan bergulat dengan teks yang mungkin diwakili oleh deretan angka. Kisah literasi yang membebaskan penulisnya untuk berekspresi akan menjadi kisah yang reflektif dan berperan membentuk atau mengembangkan karakter penulis dan juga pembacanya. Dalam hal ini, kisah literasi banyak bertebaran di karya sastra dan budaya populer seperti film. Novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri sarat dengan kisah kedekatan batin tokoh Ashoke dengan seorang pengarang besar dari Rusia, Nikolai Gogol, melalui koleksi cerpen yang dia punyai. Dengan latar belakang budaya masyarakat India diaspora, novel ini mengantarkan pembaca kepada perjalanan identitas hibrid dengan artifak literasi (buku, majalah, iklan, pendidikan tinggi di LN, dll.) sebagai katalisator perubahan identitas diri.

Berbicara tentang proyek menulis kisah literasi, saya ingin menyebutkan dua buku karya alumni Unesa sebagai proyek yang luar biasa. Pena Alumni (2013) dan Boom Literasi (2014) amat dinamis menampilkan kisah literasi para penulisnya yang berasal dari beragam latar belakang profesi. Dua buku ini bahkan terbit saat gempita literasi belum segempar sekarang ini. Seharusnya kedua buku ini layak cetak ulang.  Meski proyeknya nirlaba, alias tidak cari untung (bahkan urunan), kualitas tulisan-tulisannya patut diacungi jempol.

 

Buku terbaru yang saya tulis bersama mbak Sofie Dewayani, Suara dari Marjin (2017) juga diwarnai dengan kisah literasi. Dalam buku ini, kami menggunakan istilah Trajektori Literasi. Di bab 2 dan 3, secara terpisah mbak Sofie dan saya berkisah tentang bagaimana mulanya kami suka membaca dan menulis, dan bagaimana dunia literasi ini membawa kami pada minat mengkaji kisah literasi anak-anak jalanan dan buruh migran Indonesia di Hong Kong. Pendek kata, buku Suara dari Marjin adalah buku tentang kisah literasi, tidak hanya tentang komunitas anak jalanan dan BMI Hong Kong, namun juga kedua penulisnya.

***

 

Kisah literasi dapat diungkapkan oleh siapa saja, mulai siswa yang baru belajar mengarang dan mulai menyukai buku sampai penulis terkenal. Mulai dari mahasiswa anyar sampai para profesor. Bahkan para birokrat pun perlu menuliskan kisah literasi mereka.

Salah satu contoh birokrat yang menuliskan kisan literasinya adalah sahabat saya mas Billy Antoro. Mas Billy adalah salah satu staf di Setjen Dikdasmen. Sahabat saya ini juga diamanahi sebagai Sekretaris Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud, di mana saya juga tergabung di dalamnya. Mas Billy tertib mencatat dan merekam sepak terjang Satgas GLS sebagai tim. Bahkan dia juga meminta kami para anggota Satgas untuk ‘melaporkan’ kegiatan literasi di kampus dan komunitas yang kami lakukan di luar tugas bersama. Mas Billy sendiri juga rutin berbagi cerita kegiatan literasinya di rumah dan di komunitas. Sebagian besar catatan dan refleksi literasi ini telah dituliskan di buku Gerakan Literasi Sekolah dari Pucuk sampai Akar. Buku ini diterbitkan oleh Kemdikbud dan diluncurkan saat Festival Literasi Sekolah pada tanggal 27-29 Oktober 2017. Buku ini bisa diunduh di laman Kemdikbud.

Langkah mas Billy sebagai bagian dari dunia birokrasi menunjukkan bahwa mas Billy menulis tidak hanya sebagai bagian dari tugas birokrasinya. Lebih dari itu, mas Billy telah menjadi seorang sponsor literasi. Dengan kata lain, sebuah program dan pelaksanaan kebijakan akan terasa lebih membumi, bermakna, dan berdaya di tangan seorang staf (notabene juga birokrat) yang melakoni sendiri kebijakan yang dikawal. Sebagai seorang aktivis literasi, sosok staf seperti mas Billy jadi lebih paham tantangan yang dihadapi dan berbagai kesempatan yang tersedia di lapangan dalam implementasi kebijakan. Hal ini menjadi modal penting dalam proses monitoring, evaluasi dan tindak lanjut sebuah kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah.

Contoh lain dari birokrat yang menulis adalah Prof. Muchlas Samani, mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya. Pak Muchlas, begitu saya memanggil beliau,  rutin menulis di blog, http://muchlassamani.blogspot.co.id. Saya termasuk pembaca setia tulisan-tulisan beliau tentang dunia pendidikan. Sudah banyak buku yang beliau terbitkan, bahkan sejak beliau belum menjabat sebagai Direktur Ketenagaan Dikti dan kemudian menjadi Rektor Unesa ke-9 di periode 2010-2015.

Buku beliau yang terbaru kuat nafas literasinya, yakni literasi teknologi informasi. Judul bukunya juga provokatif, Semua Dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?. Buku yang maknyus ini, meskipun bukan murni kisah literasi, menegaskan bahwa dunia pendidikan abad ke 21 bukanlah hanya sekedar memanfaatkan teknologi digital, namun harus dibarengi dengan kompetensi akademik, sosial, dan kultural agar sekolah dapat menghasilkan pembelajar yang literat. Dengan kata lain, kisah literasi yang bermuatan kegelisahan dan alternatif solusi masalah akan bermakna lebih dari sekedar curhat dan kontemplasi diri. Buku ini diterbitkan oleh Unesa University Press dan bebas diunduh di sini.

Saya yakin masih banyak lagi birokrat atau pejabat struktural yang rajin dan tertib menulis. Yang perlu saya garis bawahi tentang kisah literasi adalah tulisan tentang bagaimana dunia literasi menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Kisah literasi berbeda dari tulisan tentang sebuah topik tertentu. Nah, kisah literasi, atau dalam bahasa aslinya, literacy narrative, dapat menjadi salah satu bidang garapan Gerakan Birokrat Menulis. Saya yakin apabila semakin banyak birokrat menuliskan kisah literasi mereka, saya yakin mereka akan lebih banyak melakukan refleksi diri dan tidak mudah mencari alasan atau pembenaran dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Yang lebih penting lagi, kisah literasi akan menjadi catatan abadi yang ditorehkan di tonggak peradaban bangsa kita sebagai bangsa literat. Tanpa ada kisah literasi, tidak akan ada kajian tentang kisah literasi. Sebaliknya, dengan semakin banyak kisah literasi, akan semakin beragam pula kajian tentang kisah-kisah tersebut dalam membentuk narasi besar gerakan literasi bangsa kita.

Maka dari itu, torehkan kisah literasimu!

(Surabaya, 21 November 2017)

 

Para Birokrat, Menulislah!

Para Birokrat, Menulislah!

Membaca buku Pramudya Ananta Toer pada generasi saya adalah ‘barang haram’. Sebab, walaupun lebih mendekati sosialisme (socialism), pada generasi saya pemikiran Pram lebih diidentikkan sebagai komunisme (communism). Sementara itu, bagi generasi saat ini, membaca buku Pram bukanlah barang haram. Kebanyakan mereka sudah terbiasa memperdebatkan isi buku-buku Pram di perkuliahan ataupun di warung kopi.

Setelah buku Pram boleh beredar, saya sempat membaca bukunya yang berjudul “Korupsi”. Dari buku ini, saya bisa memahami sejarah korupsi di birokrasi, yang sangat relevan dengan keseharian saya. Misalnya, saya dapat memahami kenapa generasi birokrat sebelum saya (walaupun masih berlanjut sampai saat ini) menganggap bahwa menerima komisi dari kontraktor atau supplier itu adalah hal yang sah-sah saja.

Pada buku itu, Pram menguraikan bagaimana powerful-nya kepala kantor pemerintahan di masa setelah kemerdekaan. Setelah kemerdekaan tahun 1945, kantor pemerintahan banyak diisi oleh mantan pejuang kemerdekaan. Mereka ditunjuk memimpin kantor pemerintahan umumnya sebagai kompensasi perjuangannya memerdekakan Indonesia dan melawan kolonialis, dan bukan karena hasil seleksi kompetensi (competency assessment), seperti kita kenal saat ini.

Kemudian, tanpa akuntabilitas yang jelas, mereka para kepala kantor ini boleh membelanjakan anggaran kantornya sesuka hatinya. Para kepala kantor ini juga dapat merekrut pegawai berdasarkan pertimbangan pribadinya. Pegawai kantor pemerintah ini kemudian dikenal sebagai pegawai ‘honorer’. Untuk membiayai pegawai honorer ini, kepala kantor mengumpulkan komisi dari para supplier. Karena itu, potongan komisi pada waktu itu adalah hal yang wajar dan ‘dikelola’ langsung oleh kepala kantor.

Dalam buku itu, Pram menceritakan kebiasaan seorang kepala kantor pemerintahan yang ‘kebablasan’.  Alih-alih untuk membiayai kepentingan kantor, ternyata uang hasil potongan komisi itu digunakan oleh kepala kantor untuk membiayai istri mudanya di daerah Bogor. Pada waktu itu, adalah lazim banyak pejabat pemerintahan menyimpan istri mudanya di daerah Bogor, karena lokasinya yang berjauhan dari pusat keramaian.

Kebiasaan ini berlanjut terus sampai menjelang berakhirnya Orde Baru, yang kemudian kita mengenal istilah ‘dana taktis’ atau ‘dana non-budgeter’. Dana ini awalnya dikelola untuk membiayai pengeluaran kantor yang tiba-tiba. Sebab, lokasi kantor pemerintahan banyak yang berjauhan dari kantor kas negara. Saat itu, transfer antar bank real-time tentu belum dikenal. Karenanya, untuk kepentingan darurat, setiap kantor mesti memiliki dana taktis.

Itulah sebabnya kemudian tidak aneh jika banyak kantor-kantor kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang mempunyai rekening bank tersendiri untuk mengelola dana taktis. Dana taktis ini dikelola bertahun-tahun dan ‘diserahterimakan’ ke pemimpin kantor berikutnya. Ketika diakumulasi jumlahnya, nilainya bisa miliaran rupiah untuk satu kantor saja.

Sampai kemudian, akhirnya pemerintah –  dengan para reformer-nya dari Kementerian Keuangan – mengusulkan konsep ‘single account’. Intinya, konsep ini mengarahkan berbagai organisasi publik di Indonesia hanya boleh memiliki rekening bank yang ‘terintegrasi’ dengan rekening Kementerian Keuangan sebagai bendahara umum negara (state treasury). Konsep ini pun kemudian menjadi euforia di lingkungan pemerintah daerah.

***

Itulah manfaat membaca buku Pram bagi saya. Membaca buku Pram membuka wawasan saya kenapa korupsi begitu kompleksnya di Indonesia. Dari buku Pram, kita sebagai birokrat bisa belajar mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini dengan pendekatan historis.

Di sisi lain, Pram juga mengingat kita untuk terus menulis. Nasehatnya berikut ini banyak menjadi figura di Internet:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Intinya Pram mengajak kita untuk terus menulis. Kita perlu menulis agar tidak hilang dari catatan sejarah. Baginya, menulis adalah bekerja untuk menuju keabadian. Terlalu naïve, memang. Namun, Pram juga mengingatkan:

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.

Peringatan Pram tersebut menjadi relevan, baik terhadap mereka yang merasa kaum intelektual (cerdik-pandai) maupun mereka yang merasa termarginalisasi karena menganggap dirinya sebagai orang bodoh atau kaum non-intelektual.

Menjadi penting untuk memperbincangkan, siapa sebenarnya kaum intelektual atau cerdik-pandai itu? Apakah mereka yang masih mahasiswa saja? Apakah mereka yang bisa menulis secara cerdas?

Bagaimana kemudian dengan mereka yang dulunya mahasiswa dan kini menjadi birokrat? Apakah mereka bukan lagi kaum cerdik-pandai?

Bagi saya, kaum intelektual itu tidak hanya mereka yang masih menjadi mahasiswa. Bukan juga orang seumuran saya yang kembali menjadi mahasiswa ini. Bagi saya, kaum intelektual adalah juga para birokrat yang mau terus mendorong perubahan.

Kita bisa melihat, misalnya, Budi Utomo itu dibentuk oleh profesional birokrasi. Mereka kebanyakan para dokter pribumi. Para profesional birokrasi ini membentuk pergerakan (movement)  untuk mendorong perubahan dan melawan ketidakadilan terhadap kolonialis. Karenanya, mereka adalah kaum intelektual pada masa itu.

Belakangan ini, para birokrat juga sering bersuara dalam mendorong good governance, baik yang menyandang posisi pejabat fungsional, pejabat struktural, atau pelaksana biasa di kantornya masing-masing. Melalui media sosial, mereka berani menyuarakan ketidakadilan dan diskriminasi.

Sebagai contoh, terdapat beberapa birokrat yang menulis tentang kebijakan mutasi di organisasinya yang tidak adil. Kemudian juga mereka memperdebatkan tentang apakah Ahok korupsi atau tidak dalam kasus Rumah Sakit Sumber Waras. Bahkan, mereka terlibat memperdebatkan soal penggerebekan pabrikan beras oleh kepala kepolisian dan seorang menteri!

Mereka itu berusaha memberikan tekanan demi perubahan melalui tulisannya, terlepas apakah kita memandang mereka melakukan itu karena afiliasi politik mereka atau karena isu-isu itu memancing kepedulian mereka.

Intinya, mereka ingin mendorong perubahan pada organisasi dan negaranya agar menjadi lebih baik.  Karenanya, mereka para birokrat ini juga kaum intelektual karena mereka berani terus mendorong perubahan melalui tulisan-tulisannya.

Karena itu, masihlah relevan memperhatikan peringatan Pram. Kita mestinya tidak ingin mengulangi kesalahan dengan memandang orang lain lebih pintar atau lebih bodoh dari kita.

Kita sebagai birokrat adalah juga kaum intelektual. Untuk itu, kita para birokrat harus terus menulis agar dapat mendorong perubahan dan tidak hilang dari catatan sejarah.

Selamat menulis di Pergerakan Birokrat Menulis!

 

 

Perlunya Penulisan Reflektif Bagi Birokrat

Perlunya Penulisan Reflektif Bagi Birokrat

Kemarin sore, Jum’at, 20 Januari 2017, saya tengah berada di ruang tunggu kantor Pusat Universitas Negeri Surabaya. Ada jadwal rapat yang akan saya ikuti, namun ruangan Wakil Rektor I masih dipakai untuk rapat kegiatan akademik yang lain. Di seberang sofa tempat saya duduk  saya ada segerombol mahasiswi yang sedang menunggu juga. Wajah mereka terlihat kusut dan galau. Tak lama kemudian bu Ratih, Kepala BAAKPSI keluar menemui mereka. Ternyata sekelompok mahasiswi ini tengah mengalami kesulitan mengurus syarat-syarat kelulusan. Saya nguping saja. Dari percakapan bu Ratih dengan para mahasiswi tersebut, saya menangkap kesan adanya perbedaan ketentuan yang berlaku di fakultas mereka dengan di pusat. Alhasil mereka belum memperoleh bukti kelulusan.

Ingatan kilat saya melayang ke para mahasiswa saya sendiri di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Saya cukup tahu syarat-syarat kelulusan, karena memang berkas mereka akan bermuara di meja saya untuk ditanda-tangani. Saya cukup lega karena fakultas di mana saya bernaung menggunakan syarat-syarat yang persis sama dengan yang di Pusat. Meski itu tidak berarti mahasiswa saya tidak galau. Proses mengejar tanda-tangan dosen penasehat akademik, pembimbing dan penguji skripsi, dan perjalanan bolak-balik ke kampus Ketintang dan kampus Lidah Wetan cukup menguras emosi. Kebetulan kantor pusat ada di Ketintang, sementara Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ada di kampus Lidah, yang berjarak sekitar 30 menit bila tidak macet.

Masalah layanan publik selalu menarik diperbincangkan. Dalam setiap urusan yang saya lakoni, praktis layanan publik ini menjadi trending topic untuk saya amati dan catat. Mulai mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor, SIM, layanan rumah sakit, layanan di supermarket, sampai servis mobil di bengkel resmi.

Saya banyak berpikir tentang gagasan-gagasan dan langkah-langkah yang telah, sedang, atau akan saya ambil dalam tugas saya sebagai dosen dengan tugas tambahan sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Harus saya akui bahwa cara pandang saya banyak sekali dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu, terutama saat berkesempatan studi lanjut di luar negeri. Pengalaman selama studi S2 di Texas dan S3 di Melbourne, Australia cukup banyak membentuk cara pandang saya tentang layanan publik. Layanan prima dan humanis seringkali bisa kita rasakan di banyak tempat di negara-negara maju. Setidaknya buat saya, layanan akademik dan nonakademik di kampus dan di ranah publik patut diacungi jempol.

Pengalaman-pengalaman menarik seperti ini sayang dilewatkan begitu saja. Dalam banyak catatan harian saya di blog pribadi saya, ternyata cukup banyak hal yang saya  tulis terkait layanan publik. Saya juga punya hobi mengumpulkan brosur-brosur terkait informasi prosedur layanan di berbagai tempat dan kepentingan. Saya pikir suatu saat akan ada gunanya.

Tentang orientasi layanan publik, saya punya kisah singkat. Ketika baru saja pelantikan menjadi Ketua Jurusan, saya menolak gagasan beberapa teman untuk memasang spanduk ucapan selamat untuk dipasang di depan kantor. Sebagai gantinya, saya menyarankan X-Banner dengan tagline “We’re Ready to Serve You.”  Dalam benak saya, para pengelola jurusan memang akan memberikan layanan kepada mahasiswa dan pihak lain yang memerlukan. Tagline ini ternyata ditanggapi berbeda oleh beberapa teman. ‘Saya nggak setuju bu Tiwik. Kita bukan pelayannya mahasiswa. Nanti mereka ngelunjak.” Nampaknya kata ‘melayani’ ini sendiri multiinterpretatif. Dalam perjalanan saya mengawal jurusan selama setahun ini, ternyata perbedaan persepsi tentang bagaimana memberikan layanan prima kepada banyak pihak (mahasiswa, dosen, pihak mitra) punya potensi besar dalam memperoleh apresiasi, membangun hubungan interpersonal yang lebih sehat, atau sebaliknya penyebab konflik personal.

Bagi saya pribadi, pernak-pernik dalam keseharian saya sebagai dosen dengan tugas tambahan Ketua Jurusan  adalah bagian dari dinamika sebuah institusi atau organisasi yang harus dikelola dengan baik. Itulah sebabnya catatan harian menjadi sentral fungsinya. Sebagai dosen sastra, menulis sudah menjadi kewajiban untuk dilakukan dan diajarkan ke mahasiswa. Tugas struktural seperti Ketua Jurusan otomatis menempatkan saya dalam lingkaran birokrasi. Dengan demikian birokrat memang harus menulis.

Bila Anda bertanya: “perlukah kita menulis tentang kegiatan sehari-hari, terutama yang terkait dengan pekerjaan atau profesi kita?” Jawabnya: MAHA PENTING. Banyak sekali waktu yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berpikir. Berpikir tentang apa yang orang lain katakan, apa yang kita baca, apa yang kita alami, apa yang kita pikirkan dan bagaimana pikiran kita berubah dari waktu ke waktu. Proses berpikir ini terjadi di kantor, kampus, sekolah, pasar, rumah, dan di mana saja. Proses berpikir ini tidak seharusnya hanya dibiarkan berkecamuk di benak kita saja. Refleksi terhadap apa yang kita alami dan lakukan diperlukan agar kita dapat lebih kritis terhadap diri sendiri. Dengan demikian langkah yang kita ambil memperoleh justifikasi yang bijak.

Dalam bahasa pembelajaran bahasa, tulisan semacam ini kita sebut sebagai tulisan reflektif. Kata refleksi sendiri pada dasarnya mengacu pada bentuk respon personal kita terhadap peristiwa, situasi, pengalaman atau informasi baru. Dalam proses reflektif ini proses berpikir bertemu dengan proses belajar. Dengan demikian tidak ada cara khusus yang dianggap benar atau salah dalam melakukan refleksi. Yang ada hanya pertanyaan-pertanyaan untuk dieksplorasi.

Diyakini bahwa proses berpikir meliputi berpikir reflektif dan kritis. Keduanya tidaklah terpisah, namun amat berkaitan satu sama lain. Model di bawah ini mungkin dapat menjelaskan proses berpikir reflektif.

Proses Berpikir (diadaptasi dari Mezirow 1990, Schon 1987, Brookfield 1987)

 

Gambar di atas menunjukkan bagaimana proses berpikir reflektif dimulai dari kita sendiri. Sebelum kita mulai menilai perkataan dan gagasan orang lain, kita perlu mengidentifikasi dan ‘mempertanyakan’ pikiran kita sendiri. Lalu bagaimana caranya?  Pengalaman di masa lalu dan pengetahuan kita tentang topik yang kita hadapi menjadi bagian penting. Kita harus menengok kembali keyakinan, nilai, sikap, dan asumsi kita, yang kesemuanya menjadi dasar pemahaman kita akan sesuatu.

Berpikir reflektif membutuhkan kemampuan untuk mengenali bagaimana pengetahuan yang kita punya selalu kita bawa dalam tiap pengalaman kita. Proses ini membantu kita melihat keterkaitan antara apa yang sudah kita ketahui dan apa yang sedang kita pelajari. Dengan kata lain, berpikir reflektif merupakan satu sarana untuk menjadi pembelajar yang aktif dan kritis.

Di sinilah diperlukan kebiasaan menulis. Tentang apa saja yang kita alami. Tidak ada yang tidak terlalu penting untuk ditulis. Sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa ketika ditulis. Sejauh yang saya tahu dan rasakan, tulisan reflektif—baik tulisan sendiri maupun orang lain—selalu dapat memberikan pencerahan karena memberikan kita kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan birokrat menulis? Dunia kita semakin penuh dengan informasi dari ratusan sumber. Sementara itu, dunia juga terasa berjalan lebih cepat. Tagihan tugas datang tanpa henti. Belum lagi friksi dengan teman kerja, atasan atau bawahan mewarnai dinamika kehidupan kita. Seringkali kita merasa kekurangan waktu untuk mengolah dan mengendapkan informasi yang kita dapatkan karena saking cepatnya dunia bergerak. Itulah sebabnya saya meyakini bahwa kegiatan menulis memberikan kesempatan pada saya untuk bergerak lebih lambat. Dengan demikian proses kontemplasi dapat terjadi.

Tulisan reflektif adalah respon kita terhadap apapun yang kita alami. Model tulisan seperti ini memberikan kita kesempatan untuk memahami diri sendiri, memaknai apa yang kita alami/pelajari, dan mengeksplorasi proses berpikir/belajar kita. Dengan demikian kita akan mampu memperoleh pemahaman tentang apa yang kita alami dan pelajari secara lebih gamblang dan mendalam.

Melihat tujuannya, maka tulisan reflektif tidak hanya sekedar menyampaikan infomasi, deskripsi, atau argumen tentang sesuatu. Tulisan reflektif juga bukan untuk memberikan penilaian benar salahnya sesuatu, atau memberikan penyelesaian sebuah masalah. Dengan demikian tidak ada bentuk tulisan reflektif yang standar.

Kalau begitu, apa yang dapat kita tulis dalam tulisan reflektif? Misalnya Anda sedang mengikuti workshop atau penyegaran yang terkait dengan pengembangan profesionalisme, maka Anda dapat menulis tentang hal-hal berikut:

  • Persepsi Anda tentang pelatihan dan materi yang Anda dapatkan.
  • Pengalaman, gagasan dan pengamatan yang Anda miliki sebelumnya, dan bagaimana hal-hal tersebut berkaitan dengan pelatihan dan topik yang dibahas.
  • Hal-hal yang menurut Anda membingungkan, menyulitkan, menarik, mencerahkan. Jelaskan mengapa Anda merasakan hal itu.
  • Pertanyaan-pertanyaan yang Anda miliki.
  • Bagaimana Anda memecahkan masalah, menarik simpulan, menemukan jawaban, dan/atau memperoleh sebuah pemahaman dalam proses pembelajaran di pelatihan tersebut.
  • Berbagai kemungkinan, spekulasi, hipotesis atau solusi yang muncul.
  • Interpretasi atau perspektif alternatif atau berbeda yang  sudah pernah Anda miliki atau baca dalam buku.
  • Perbandingan dan keterkaitan antara apa yang tengah Anda pelajari dengan pengalaman, pengetahuan, dan asumsi sebelumnya, berdasarkan pelatihan-pelatihan sebelumnya atau dari disiplin lain.
  • Bagaimana ide-ide baru yang Anda peroleh dalam pelatihan tersebut menantang atau mengubah hal-hal yang selama ini Anda ketahui.
  • Gagasan apa yang ingin Anda pikirkan lebih dalam sebagai langkah berikutnya.
  • Aksi apa yang ingin Anda ambil sebagai langkah berikutnya.

Mari kita berproses menjadi pembelajar yang aktif dan kritis dalam peran apapun yang kita lakoni. Mari menulis reflektif! (Surabaya, 21 Januari 2017).

 

 

Benarkah Birokrat Jarang Menulis?

Benarkah Birokrat Jarang Menulis?

Ada sebuah pertanyaan. Mengapa birokrat terlihat jarang menghasilkan tulisan yang dikonsumsi masyarakat? Pada level individu, ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, seperti kurang berminat, merasa kurang terampil, atau tidak punya waktu.

Pada level institusi, sebenarnya tulisan yang dihasilkan birokrasi sangat banyak. Ada kajian, forecast, nota keuangan, term of reference, rekomendasi, briefing note, proses bisnis, standard operating procedure, analisis, modul, naskah akademis, rencana anggaran, rencana kerja, naskah pidato, nota dinas, tanggapan, rancangan regulasi, ketetapan, laporan, keterangan dan berbagai dokumen dalam beragam bentuk dan tujuan. Semua ini adalah tulisan. Secara umum, tulisan-tulisan tersebut memiliki kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan artikel di blog. Hanya saja mungkin tidak menjadi konsumsi masyarakat luas karena sifatnya atau karena batas publikasinya.

Melihat banyaknya produk tertulis yang dihasilkan birokrasi, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa transparankah birokrasi mempublikasikan tulisan-tulisan yang dihasilkannya. Dokumen-dokumen tersebut akan menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan publik dibuat dan dilaksanakan. Lebih dari itu, tulisan-tulisan tersebut sedikit banyak mempengaruhi dan mengungkapkan seberapa baik pelayanan publik, penghormatan terhadap demokrasi, pemuliaan hak-hak asasi manusia, dan pelaksanaan konstitusi.

Ada satu lagi jawaban kenapa mungkin tidak terlihat banyak tulisan yang dihasilkan seorang birokrat. Tulisan bukanlah produk akhir pekerjaan birokrasi. Seorang birokrat dituntut untuk membuktikan dan merealisasikan apa yang ditulisnya menjadi kenyataan. Dan ini lebih menantang dibandingkan dengan menghasilkan sebuah tulisan. Di dunia riil, seorang birokrat akan berhadapan dengan kondisi yang lebih kompleks dibandingkan dengan sebuah dunia ideal yang ada di benak atau tulisannya. Birokrat tersebut akan menghadapi pergulatan ide, kompetisi sumber daya, persaingan ego sektoral, rumitnya peraturan, resistensi pemangku kepentingan, penyesuaian sistem, perubahan cara kerja, serta berbagai keterbatasan dan tantangan yang lebih pelik dibandingkan dengan menghasilkan sebuah tulisan. Alhasil, merealisasikan satu gagasan saja pada dunia nyata menjadi lebih sulit dibandingkan dengan menulis berlembar-lembar halaman.

Pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa untuk merealisasikan satu gagasan di pemerintahan bisa memakan waktu sampai dua tahun. Bahkan lebih. Bandingkan dengan menulis sebuah artikel di blog yang dapat dikerjakan dalam hitungan jam atau hari. Butuh stamina dan kreativitas yang lebih tinggi untuk merealisasikan sebuah gagasan dibandingkan dengan hanya menulis gagasan tersebut di atas kertas. Pada akhirnya, satu gagasan yang berhasil dilaksanakan dan dimanfaatkan oleh banyak orang akan lebih bermaslahat dari pada berlembar-lembar tulisan tapi tidak direalisasikan.

 

Bagaimana Islam Mendorong Critical Thinking?

Bagaimana Islam Mendorong Critical Thinking?

Ternyata bersikap kritis itu ada dalilnya dalam Al Qur’an. Beberapa bulan lalu saya sempat mendapati kutipan yang sangat menarik dari sebuah jurnal terkait manajemen kinerja. Jurnal itu ditulis oleh Bernard Marr, expert dari Italia. Dalam artikelnya yang berjudul Key Performance Questions, Bernard mengawali tulisannya dengan kutipan yang sangat memikat:

The French philosopher Voltaire once advised to “judge of a man by his questions rather than by his answers‟. Artinya, kalau anda ingin menilai seseorang, lihatlah bagaimana ia menanyakan sesuatu, bukan dari jawaban-jawabannya. Kutipan yang sangat mempesona, bukan?

Pada intinya, dalam artikel tersebut Bernard menekankan perlunya membangun organisasi yang mendorong sikap kritis dengan bertanya dan mempertanyakan. Dalam kaitannya dengan pengukuran kinerja, ia menyatakan bahwa: yang terpenting bukan indikator kinerja kunci, atau key performance indicators, tapi justru key performance questions. Pertanyaan-pertanyaan terkait kinerja inilah yang justru lebih penting untuk digali sebelum akhirnya berujung pada formulasi alat ukur apa yang akan dipakai.

Pada bagian lain dalam artikel tersebut, Bernard Marr juga mengutip pendapat Michael Marquardt, professor dari George Washington University States yang menyatakan bahwa organisasi yang tidak menumbuhkan iklim bertanya biasanya didera penyakit rendahnya moral/etika anggota organisasi, lemahnya teamwork, serta lemahnya kepemimpinan. Seiring berjalannya waktu, organisasi semacam ini lambat laun akan menjelma menjadi fosil hingga akhirnya akan mati perlahan-lahan. Bernard Marr juga mengutip pendapat Profesor Sydney Finkelstein yang juga sependapat dengan pernyataan Marquardt, bahwa organisasi yang tidak mampu menumbuhkan budaya bertanya diibaratkan dengan “zombie company”.

Artikel Bernard Marr tersebut mengingatkan saya pada salah satu khutbah Nouman Ali Khan yang berjudul ‘Ask with Humility’, beberapa bulan sebelumnya. Di awal khutbah, Nouman mengutip QS Yusuf ayat 7 yang berarti: Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. Ya,…”bagi orang-orang yang bertanya”.

Dalam banyak hal Allah SWT sering memberikan penghargaan bagi orang yang bertakwa, orang selalu beramal salih, atau orang-orang selalu berdzikir untuk mengingat-Nya. Surat Yusuf ayat 7, Allah SWT memberikan penghargaan bukan bagi orang-orang yang sering disebut-Nya. Tapi, bagi orang-orang yang bertanya.

Kalau Anda perhatikan, dalam Alqur’an juga  banyak kita dapati ayat-ayat dalam bentuk pertanyaan. Dalam khotbah tersebut, Nouman mengutip QS Al Baqarah 219. Ketika Allah SWT hendak menjelaskan tentang alasan pelarangan khamr dan judi, Allah tidak langsung menjelaskan alasannya. Coba kita cermati ayatnya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”

Lihatlah, ayat tersebut menyatakan: “mereka bertanya kepadamu”. Jika ditelusur ayat-ayat sebelum dan sesudahnya ternyata juga memakai kalimat yang senada.

Di ayat berikutnya juga sama, “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, “Yang lebih dari keperluan” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berfikir, tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, “mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kalian bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudara kalian; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan….”

Dalam tafsir ibnu katsir dinyatakan bahwa ketika turunnya ayat tentang pengharaman khamr Umar berkata, “Ya Allah, berilah kami penjelasan mengenai khamr ini dengan penjelasan yang memuaskan.” Jadi, ada proses bertanya sebelum akhirnya Allah memberikan jawaban atas penyebab diharamkannya khamr.

Nouman Ali Khan menyatakan bahwa dalam memahami Islam kita perlu bersikap kritis, bertanya dan mencari jawaban sehingga kita merasa yakin akan apa yang kita yakini dan kita jalankan. Demikian halnya ketika para sahabat bertanya tentang sesuatu hal kepada Rasulullh, Allah SWT tidak melarang, tidak mencela dan tidak mengkritik perbuatan tersebut. Justru didorong dengan mengabadikan proses bertanya tersebut dalam ayat Al Qur’an.

Sebagaimana dalam tulisan sebelumnya tentang kisah Nabi Musa (lihat link: https://anasejati.wordpress.com/2016/12/16/belajar-dari-kisah-pertemuan-nabi-musa-dengan-allah-swt/), setiap ayat dalam Al Qur’an memiliki maksud atau tujuan, bahkan dalam hal penempatan “Hai, Musa” di depan atau di akhir kalimat. Demikian halnya dengan ayat-ayat yang menyatakan pertanyaan. Dalam hal ini Nouman mengatakan:  every word in the quran is divinely revealed a strategic, it has a purpose, nothing is extra, nothing can be taken away, nothing can be added on. So everything is exactly in the amount and in the qadr that it is supposed to be. Setiap kata dalam Al Qur’an memiliki tujuan, tidak ada kata yang lebih, tidak yang kurang, tidak ada yang terlewat, atau ada yang tidak perlu penambahan kata. Ayat-ayat tersebut sangat sempurna dari sisi penggunaan kata-katanya. Pas, tepat, dan sempurna.

Dalam hal pengharaman khamr, mengapa Allah tidak secara langsung menjelaskan alasan pelarangan khamr? Mengapa Allah perlu menyatakan dalam Al Quran fakta bahwa “mereka menanyakan kepadamu (Muhammad)”? Nouman Ali Khan mengatakan bahwa hal ini menunjukkan betapa Allah mengakui serta menghargai orang-orang yang datang kepada Rasulullah dan bertanya. Hal ini juga hendak menyatakan bahwa dalam Islam pertanyaan adalah sesuatu yang sangat dihargai. Dalam hal ini Nouman Ali Khan mengatakan bahwa “questions are actually a noble thing in this religion”.

Kisah penciptaan manusia pun ternyata juga memperlihatkan penghargaan Allah terhadap malaikat yang mempertanyakan alasan penciptaan. Hal ini tercatat dalam QS Al Baqarah 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Sebagaimana diketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang selalu taat kepada Allah dan melaksanakan segala yang diperintahkan. Mengapa dalam ayat di atas Allah memandang perlu menceritakan kisah penciptaan Manusia dengan menyertakan pertanyaan malaikat?

Senada dengan Nouman Ali Khan, Tariq Ramadhan dalam video yang berjudul the importance of critical thinking for muslim societies both in the west and east juga menyatakan hal yang senada. Dalam video tersebut Tariq Ramadan mengutip kisah Hubab bin Mundhir, sahabat yang memiliki kecerdasan dalam strategi perang. Kisah lengkap silakan dilihat di https://blogkisahislami.wordpress.com/2010/10/04/rasulullah-saw-mendengar-usul-sahabatnya/.

Suatu ketika sebelum perang Badar, Rasulullah dan pasukannya hendak membuat base camp sebagai benterng pertahanan dan membuat dapur umum. Setelah mendekati mata air Rasulullah SAW berhenti. Hubab bin Mundhir pun bertanya ““Ya Rasulullah apa pendapat anda berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu dari Allah kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri sebagai suatu taktik perang belaka?” Rasulullah pun menjawab: “yang saya lakukan sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,” jawab Rasulullah. Hubab bin Mundhir r.a  berkata lagi “Ya Rasulullah kalau begitu tidak tepat kita berhenti di tempat ini.

Dalam kisah Hubab tersebut terlihat bagaimana sahabat mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Hubab menanyakan apakah strategi yang diambil Rasulullah merupakan ketetapan dari Allah, ataukah pendapat pribadi Rasulullah. Jika ketetapan dari Allah SAW maka sebagaimana pernyataan Hubab: takkan maju atau mundur. Sebaliknya, jika strategi tersebut datangnya dari Rasulullah, maka alangkah baiknya jika strategi tersebut dirubah.

Dari kisah tersebut Tariq Ramadan menarik tiga hal: Source atau sumber, understanding atau pemahaman, dan terakhir question atau pertanyaan. Terkait dengan sumber, kita harus bisa membedakan, apakah suatu pernyataan itu datang dari Allah, atau sekedar pendapat seseorang? Jika itu wahyu dari Allah maka wajib ditaati. Sebaliknya jika hal tersebut datang dari manusia maka pernyataan seseorang tersebut dapat dipertanyakan. Dalam hal ini Tariq mengatakan “we cannot idealize the past and sacralised human opinions”.

Satu hal yang menarik terkait hubungan antara bertanya dan tingkat keimanan, Tariq  Ramadan mengatakan “It is not because I am questioning that I have less faith than you. The quality of your faith does not depend and the fact that you accept without questioning. In fact deep questions could help us to have deep faith. There is no contradiction between questioning and believing”.

Keimanan yang mendalam justru bisa diperoleh dari serangkaian pertanyaan yang mendalam yang pada akhirnya justru dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebenaran. Bukan sekedar menerima tanpa mempertanyakan.

Kembali pada tulisan Bernard Marr tentang pentingnya merumuskan suatu Key Performance Questions (KPQ), ia memberikan contoh bagaimana kekuatan KPQ sebagai kunci keberhasilan Google. Sang CEO, Eric Scmidt menyatakan:

“We run the company by questions, not by answers. So in the strategy process we’ve so far formulated 30 questions that we have to answer […] You ask it as a question, rather than a pithy answer, and that stimulates conversation. Out of the conversation comes innovation. Innovation is not something that I just wake up one day and say ‘I want to innovate.’ I think you get a better innovative culture if you ask it as a question.”

Jadi?

 

Islam dan Barat: Oposisi Biner?

Islam dan Barat: Oposisi Biner?

Lintasan sejarah seringkali menjadi penting untuk memahami bagaimana sebuah tradisi dalam masyarakat bermula, agar kita menjadi masyarakat yang mampu meneruskan tradisi yang sudah baik tersebut. Pun dalam toleransi beragama, terkadang masyarakat kompleks saat ini dengan rezim kepentingannya cenderung melupakan tradisi yang akhirnya dapat berujung pada konflik identitas.

Tulisan berikut ini bukan hanya mengajak kita menengok bagaimana tradisi toleransi dulu bermula, namun juga mengajak kita untuk kembali merenungkan bahwa Islam dan Barat tidak selalu dihadapkan pada dua titik yang selalu berseberangan. Selalu ada ruang antara diantara keduanya  untuk sebuah peradaban yang lebih cair dan punya makna.

—-

Pada Hari Senin, 24 April 2017 kemarin, umat Islam merayakan Isra’ Mi’raj. Hari besar ini seringkali kita maknai sebagai sarana mengingatkan umat Muslim tentang sejarah turunnya perintah shalat lima waktu.

Namun bukan hikmah dari perjalanan Isra’ Mi’raj yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Saya akan mengulas bagaimana kisah Isra’ Mi’raj menjadi salah satu bukti bagaimana budaya Timur dan Barat di jaman Abad Pertengahan berkelindan secara dinamis dan saling memengaruhi.

Apabila Anda menelusuri sejarah peradaban Islam, akan diketahui betapa besar pengaruh Islam terhadap dunia Barat, dan begitu juga sebaliknya. Tercatat tiga tempat yang menjadi jembatan hubungan ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, dan agama antara Timur dan Barat, yakni Syria (Suriah), Spanyol (Andalusia), dan Sicilia. Syria (Suriah) dan Spanyol (Andalusia) merupakan tempat berinteraksinya peradaban Barat dan Islam, sedangkan Sicilia sempat menjadi kota Muslim di jaman kekhalifahan Fatimah sekitar tahun 948, dimana sedikitnya 3.000 mesjid berdiri di kota ini.

Peradaban Barat seringkali menjadi panutan dan tolok ukur dalam menilai berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia sastra. Namun tak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya peradaban Islam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sastra Barat. Salah satunya adalah pengaruh kisah Isra’ Mi’raj terhadap The Divine Comedy karya Dante.

Dante (1256-1321) adalah seorang penyair Italia dari abad ke-13. Dalam karyanya yang menjadi tonggak sastra Barat kanon (sastra yang sudah mapan dan menjadi tolok ukur kualitas sebuah tulisan), yakni  The Divine Comedy  (terdiri dari Inferno, Purgatorio, dan Paradiso), Dante mengisahkan tentang perjalanan imajiner dirinya melewati neraka, alam barzakh (purgatory), dan surga. Dengan ditemani oleh Virgil, penyair jaman Romawi, sebagai pembimbingnya, Dante bertemu dengan berbagai tokoh terkenal di dunia pada masa-masa sebelumnya. Di Inferno (Canto XXVIII.28-36), di neraka lapis bawah, Dante bertemu dengan Muhammad yang digambarkan sedang meratapi penderitaan karena siksaan yang diterimanya.

Muhammad dan Ali ditempatkan bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain yang menurut Dante memikul dosa sebagai pemecah belah masyarakat. Gambaran siksaan kepada Muhammad bisa dikatakan amat kejam dan mengerikan. Dengan tubuh yang terbelah menjadi dua, lalu utuh kembali, dan terbelah lagi, dan seterusnya,  Muhammad dianggap pantas menerima hukuman atas dosanya menjadi pemecah belah dunia dengan mendirikan agama baru. Kemungkinan besar Dante juga mengetahui sejarah Islam tentang pecahnya umat Islam menjadi Sunni dan Syiah, karena dia juga menempatkan Ali di lingkar yang sama. Dengan menghukum dua figur Islam yang paling berpengaruh di neraka lapis bawah, Dante telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam.

Namun sebenarnya Dante sedikit banyak menunjukkan simpatinya kepada Islam, khususnya dalam bidang filsafat dan kenegaraan. Di karya yang sama, Inferno, Dante menyebut tiga tokoh yang berpengaruh dari dunia Islam. Dalam catatan sejarah Islam, ketiga tokoh Muslim ini adalah Avicenna (Ibn Sina), filsuf dan ilmuwan dari Baghdad di abad ke-9 yang karya-karyanya menjadi acuan ilmu kedokteran di Timur dan Barat selama berabad-abad lamanya, Averroes (Ibn Rushd), filsuf Andalusia/Spanyol Muslim di abad ke-11 yang lebih dikenal di Barat sebagai komentator Aristoteles, dan Sultan Saladin dari Mesir yang berhasil merebut Jerusalem dari tangan penguasa Kristen. Ketiga tokoh ini ditempatkan di Limbo, tempat orang-orang baik dikumpulkan tetapi tidak ditempatkan di surga karena mereka tidak dibaptis. Dengan menempatkan ketiga tokoh ini di Limbo, berarti Dante membuka kesempatan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan (salvation).

Bagaimana kita sebagai masyarakat yang literat menyikapi karya sastra kanon seperti ini? The Divine Comedy  bisa saja dianggap sebagai karya kanon dalam artian bahwa karya ini digunakan di pendidikan Barat dalam pembelajaran Sastra. Meskipun begitu, karya yang sama bisa saja dianggap bukan kanon dalam hal sentimen agama yang disampaikan. Pandangan agama Dante cenderung menguatkan hegemoni budaya Barat, dan sah-sah saja dijadikan bahan kritik Kajian Budaya atau Poskolonial karena mengamini oposisi biner Islam/Barat.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa sepak terjang Dante juga menunjukkan sikap yang ambivalen–benci dan simpati–terhadap Islam. Dante memberi penghargaan tinggi kepada dua filsuf Muslim (Avicenna dan Averroes) yang juga adalah pakar ilmu Al-Qur’an. Dante juga menaruh hormat tinggi kepada Sultan Saladin, seorang negarawan yang menjadi simbol jihad melawan penguasa agama yang dianut Dante. Bukankah lebih masuk akal bila Dante memasukkan Saladin ke neraka? Bila kita telusuri sejarah perkembangan Islam pada masa itu, Saladin ternyata banyak disebut sebagai tauladan seorang ksatria dan negarawan sejati, yang memperlakukan musuhnya dengan cara-cara yang baik dan manusiawi. Ini sangat jauh berbeda dengan perlakuan para tentara Kristen yang secara membabi buta membunuh orang-orang tidak berdosa, terutama di Perang Salib ke-1.

Banyak sumber yang menyatakan bahwa Avicenna dan Averroes berupaya untuk menghadirkan harmoni antara filsafat Aristoteles dengan hikmah dalam Qur’an. Misalnya saja, Averroes berpandangan bahwa ayat-ayat di dalam Qur’an, bila ditafsirkan dengan tepat dan menggunakan akal, maka dapat digandengkan dengan filsafat. Filsafat agama seperti ini besar pengaruhnya terhadap munculnya Christian Scholasticism.

Averroes banyak memberikan pengaruh kepada perkembangan pemikiran di Barat pada abad ke-13. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga filsafat Aristoteles lebih mudah dipahami di dunia Barat. Dante sendiri bahkan dituduh sebagai pengikut Averroes dan dikucilkan dari kota kelahirannya, dan karya-karyanya dibakar oleh penguasa. Pandangan ini bisa menjadi penjelasan mengapa Dante menolak Islam sebagai sebuah keyakinan beragama (sebagaimana tercermin dalam gambarannya tentang Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali), namun mengagumi Islam sebagai sebuah filsafat.

Pengaruh Islam yang lebih mengejutkan lagi, terutama bagi dunia Barat adalah kritik terhadap keaslian The Divine Comedy. Karya besar yang menjadi bacaan “wajib” bagi mereka yang menekuni Sastra Barat di dunia Barat, ternyata banyak sekali kesamaannya dengan kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Adalah Miguel Asin Palacios, seorang pastur dari Spanyol, yang telah menghabiskan sekitar dua puluh lima tahun untuk menelusuri sumber-sumber yang memberikan inspirasi bagi Dante. Palacios menyatakan bahwa Dante mengambil kisah Isra’ Mi’raj dan berbagai tulisan dari dunia Islam. Dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Islam and The Divine Comedy  (1919), Palacios memberikan begitu banyak detil kesamaan dalam membandingkan keduanya, sehingga hampir mustahil kesamaan-kesamaan itu hanyalah kebetulan saja.

Penelitian Palacios patut diakui kebenarannya. Apabila kita betul-betul menelusuri episode-episode dalam The Divine Comedy  yang menggambarkan neraka, alam barzakh, dan surga. Kita bisa menemukan begitu banyak kemiripan dengan gambaran neraka dan siksaan-siksaan terhadap berbagai macam dosa di setiap lapis neraka, maka sebagaimana tertulis di Al-Qur’an dan Hadith. Ambil saja sedikit contoh: Baik kisah Isra’ Mi’raj (Sahih Bukhari, Kitab 23, no. 468) maupun The Inferno (Canto XII.46-8) menggambarkan siksaan yang sama kepada orang yang meribakan uang. Mereka ditenggelamkan ke dalam sungai darah, dan dilempari batu yang kemudian mereka telan.

Kemiripan yang patut disebut juga adalah bentuk siksaan yang terus menerus, misalnya kondisi fisik yang pulih dan utuh kembali untuk kemudian disiksa lagi. Dante memberikan gambaran di hampir seluruh bagian di Inferno. Sementara itu, umat Muslim sudah akrab dengan gambaran seperti ini, sebagaimana yang tersebut di Al-Qur’an  (QS An-Nisa: 56: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

Mungkinkah seorang Dante membaca Al-Qur’an dan/atau hadist secara langsung sebagai sumber inspirasinya? Isu tentang keaslian The Divine Comedy  ini cukup kontroversial. Untuk memberi jawaban yang singkat, penjelasan yang sementara ini dianggap paling memungkinkan adalah bahwa Dante terinspirasi oleh karya seorang Sufi dari Andalusia pada abad ke-13, Muhyiddin Ibn ‘Arabi. KaryanyaFutuhat Al Makkiyah, adalah kisah perjalanan mistis Ibn ‘Arabi, yang ditulis dengan menggunakan kisah Isra’ Mir’aj sebagai dasar.

Ada pula banyak bukti bahwa pada masa hidup Dante, kisah Isra’ Mi’raj dalam versi bahasa Latin cukup dikenal. Mentor Dante, Brunetto Latini, pernah bekerja untuk Raja Alfonso X di Toledo, Spanyol. Alfonso X memerintahkan penterjemahan banyak karya bahasa Arab ke bahasa Latin, dan salah satunya adalah kisah Isra’ Mi’raj. Kita bisa berspekulasi bahwa Dante juga mendapatkan sumber-sumber ini dari gurunya.

Apakah pesan penting dari uraian saya di atas? Melalui tulisan ini, saya berharap agar kita semua umat manusia untuk belajar menerima perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinan beragama kita masing-masing.

Kita semua sadar bahwa ketidaktahuan masyarakat awam non-Muslim tentang Islam adalah akar dari Islamophobia. Sama halnya umat Muslim yang awam tentang keyakinan lain bisa menjadi ladang subur tumbuhnya kebencian. Kita bertetangga dengan berbagai pemeluk agama, namun tahukah kita, atau pernahkah kita saling bertanya dengan tulus tentang makna peringatan hari raya agama lain?

Kita diharapkan untuk menunjukkan toleransi terhadap agama lain, namun apalah artinya toleransi bila tidak disertai dengan keterbukaan terhadap adanya perbedaan? Di jaman yang bersifat multikulturalis ini, perbedaan bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan demi sebuah keseragaman, karena pada dasarnya perbedaan membuat kita semakin kaya, tanpa harus kehilangan identitas agama dan budaya masing-masing.

Sudah banyak yang dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara Islam dan Barat, namun jalan yang harus ditempuh masihlah sangat panjang. Benturan peradaban masih campur aduk dengan konflik agama. Barangkali tak perlu diperdebatkan mana yang ayam, mana yang telur. Kita benar-benar membutuhkan upaya yang keras dan terus menerus untuk membuka mata dunia bahwa batas-batas dan dikotomi Timur/Barat, Superior/Subordinat, dan Modern/Tradisional sebenarnya hanyalah garis maya.

Satu-satunya cara untuk membangun kesepahaman adalah dengan mengupayakan keterbukaan terhadap satu sama lain dan kesungguhan untuk menghargai tradisi masing-masing. Bukankah Allah telah menciptakan dunia ini penuh dengan perbedaan agar manusia bisa mengenal satu sama lain. Allah berfirman dalam QS Al-Hujuraat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

 

*)  Tulisan ini disarikan secara singkat dari tesis MA saya berjudul The Representation of Islam in Medieval Literature (2004). Versi singkat dalam bahasa Indonesianya pernah saya sajikan dalam Pidato Ilmiah Lustrum ke-8 Unesa pada akhir tahun 2004.

12
error: