Menghidupkan Budaya Akademik di Organisasi Publik

Menghidupkan Budaya Akademik di Organisasi Publik

Banyak pertanyaan dari kolega terkait bagaimana menumbuhkan semangat menulis dan belajar di tengah padatnya agenda kerja. Pertanyaan lain juga muncul bagaimana mungkin di organisasi pemerintahan (organisasi publik) anda bisa bebas menulis dan tetap mengembangkan budaya kritis?

Berbagai pertanyaan di atas menjadi menarik dan sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Di negeri ini, budaya literasi sangat rendah. Bahkan hasil riset CSIS (2018), di hampir semua kalangan, terutama generasi milenial, budaya menulis sangat rendah.

Mendengar  pertanyaan dari para kolega dan dilatarbelakangi oleh konteks yang tepat, saya merasa terprovokasi untuk menulis artikel singkat ini. Tentu dengan sebuah pengharapan, semoga bermanfaat dan menambah semangat para jiwa yang tidak ingin dilupakan sejarah.

Sebuah Observasi

Tidak hanya di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur  (PKP2A) III LAN Samarinda saja budaya menulis dan baca begitu rendah. Dari total pegawai 49 orang, tidak sampai 10 persennya yang pergi ke perpustakaan setiap harinya untuk mencari literatur dan membacanya sebagai referensi untuk membaca fenomena sosial yang berkembang liar di Kalimantan maupun di Indonesia.

Jelas hal ini berpengaruh terhadap budaya menulis. Padahal, mimpi saya dengan menambah jumlah koleksi terbaru buku-buku berbobot, kegiatan membaca dan menulis menjadi habit.

Dengan demikian, sebagai lembaga kajian, sudah selayaknya personil PKP2A III LAN Samarinda aktif mengisi jurnal-jurnal terakreditasi baik nasional maupun internasional, dan setiap hari artikel pendek bisa menghiasi media cetak lokal maupun level nasional.

Tidak hanya di PKP2A III LAN Samarinda saja budaya literasi dan menulis rendah. Di level pemerintah daerah lebih parah. Wajar jika, untuk melaporkan kegiatan pemerintahan, pemerintah daerah harus membayar mahal jurnalis sekaligus membeli halaman media cetak untuk menyampaikan pesan.

Hasrat Menulis ASN

Padahal betapa pentingnya mengembangkan budaya menulis di kalangan birokrat. Tidak sekedar melaporkan kegiatan kepemerintahan, namun untuk berbagai tujuan penting lainnya seperti sosialisasi kebijakan, saran kebijakan, mencari terobosan atau solusi, dan tentu yang lebih penting dari itu adalah untuk memmengaruhi opini publik sekaligus sebagai wahana pencerahan.

Sulit dipungkiri, hasrat menulis sangat dipengaruhi oleh persepsi individual penulis. Khususnya di kalangan pegawai pemerintah, keinginan menulis lebih dilatarbelakangi oleh harapan dapat digunakan sebagai angka kredit atau kebutuhan administratif.

Terhadap fenomena seperti ini saya sangat paham dan tidak terlalu risau. Bagi saya ini adalah awal bagi terbukanya kesadaran baru menulis dan akan menstimulir keinginan pegawai untuk membaca dan terus membaca demi menggali lebih banyak ide.

Hal ini pun terjadi pada pejabat fungsional Widyaiswara dan Peneliti PKP2A III LAN. Pilihan tujuan administrasi dalam menulis tetap lebih baik daripada ini tidak sama sekali. Apresiasi pada kolega saya ini untuk terus menjaga konsistensi dalam menulis tetap harus dijaga dan dirawat.

Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi Almarhum Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA (Mantan Kepala LAN 2012-2015), selalu mengingatkan saya untuk terus memelihara budaya akademik.

“Sebagai lembaga think tank-nya pemerintah dalam bidang pembaharuan administrasi negara, LAN harus terus menjaga dan memelihara budaya akademik (academic culture). Dan saya merasa gagal melakukan reformasi LAN ini karena belum mampu menghadirkan budaya akademik”, tegas Pak Agus dalam sebuah forum diskusi di PKP2A III LAN Samarinda pada awal tahun 2015.

Budaya Akademik

David D. Dill, Profesor Emeritus Kebijakan Publik, Universitas North Carolina, dalam sebuah artikel yang berjudul “The Management of Academic Culture Revisited: Integrating Universities in Enterprenueral”, mengatakan bahwa secara umum budaya akademik tidak berbeda dengan budaya organisasi.

Kedua budaya tersebut memiliki fungsi sebagai identitas organisasi atau dimaksudkan untuk meningkatkan loyalitas dan produktivitas pegawai menghadapi tantangan perubahan yang semakin cepat.

David D. Dill dalam artikelnya menjelaskan bahwa budaya akademik dalam sebuah organisasi setidaknya meliputi budaya disiplin dan budaya profesi akademik.

Budaya disiplin/budaya tertib merupakan nilai dasar setiap orang, organisasi, dan juga bangsa. Bangsa yang menjadikan disiplin sebagai nilai utamanya akan lebih maju dalam segala hal.

Finlandia, Jepang dan Singapura adalah contoh negara-negara maju yang membangun negerinya dengan budaya disiplin yang sangat tinggi dan penuh dengan komitmen.

Pada lingkup organisasi publik, kedisiplinan berperan penting dalam proses mengelola kinerja organisasi. Tidak hanya soal kuantitas kinerja, tetapi juga kualitas, ketepatan waktu dan biaya. Kedisiplinan inilah yang melahirkan budaya atau budaya organisasi yang ideal.

Menurut pandangan Prof. Heru Nugroho, Guru Besar FISIP UGM, budaya profesi akademik ditandai oleh meningkatnya kualitas akademik dan komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para akademisi.

Para akademisi terlihat lebih mementingkan nilai-nilai pengetahuan bukan pragmatis, banyak melakukan penelitian yang hasilnya sangat dirasakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi.

Baik dalam pandangan Dill dan Nugroho, organisasi publik lebih prospektif dan berpeluang menghidupkan budaya akademik. Hal ini bisa dipahami karena karakteristiknya.

Di organisasi publik, dukungan sumber daya dan sarana dan prasarana, keluangan waktu untuk mengembangkan budaya akademik lebih besar jika dibandingkan dengan di sektor dunia usaha.

Di samping itu, organisasi publik memiliki tujuan yang ideal sebagai pelayanan masyarakat, di mana dalam proses pengembangan pelayanannya sangat didukung oleh program dan dukungan anggaran yang cukup. Sebagai contoh, pengembangan dapat kita lihat pada pengiriman ASN untuk sekolah, program benchmarking dan studi banding, dan lain sebagainya.

Sementara di sektor swasta, karena tujuan didirikannya adalah untuk mencari profit, segala aktivitasnya selalu terbatas apalagi dalam pengembangan budaya akademik.

Namun pertanyaannya adalah, kenapa Amazon dan Facebook dapat sukses menghidupkan budaya akademik?

Belajar dari Amazon dan Facebook

Dalam sebuah artikel yang berjudul “What My Time at Amazon Taught Me About Company Culture”, Pieter Kemps menguraikan pengalaman menariknya selama bekerja di Amazon Web Services (AWS).

Menurutnya, ada tiga budaya perusahaan yang Kemps amati selama di AWS, antara lain,  terciptanya prinsip kepemimpinan, merekrut karyawan dengan tepat, serta membangun ekosistem internal yang berkembang dengan cepat.

Keberhasilan Amazon, menurut Kemps, sebagian besar terletak pada “ritual” mereka dalam membimbing karyawan mereka sehari-hari dengan cara menyingkirkan proses dan menggantikannya dengan prinsip kepemimpinan yang disiplin.

Sementara, Facebook membangun budaya perusahaannya melalui pendirinya, Mark Zuckerberg, yang berani menjadikan dirinya sebagai role model dalam menumbuhkan budaya akademik.

Zuckerberg, meski telah mencapai puncak ketenaran dan menjadi the maker of history, meminjam istilah Bung Karno, tidak pernah menghentikan semangatnya untuk terus belajar. Dan ini menjadi prinsip hidupnya yang dapat mengubah dirinya dan dunia.

Mengutip HaloMoney.co.id dari berbagai sumber, dua kekuatan penting Zuckerberg dalam membangun budaya akademik, yakni, pertama, menjadikan membaca sebagai kebiasaan (make reading a habit).

Di tahun 2015, Zuckerberg menantang dirinya sendiri. Katanya, “Membaca sebuah buku baru setiap minggu dengan menekankan pembelajaran tentang ragam kebudayaan, kepercayaan, sejarah, dan teknologi.”

Dia melanjutkan, “Anda bisa mengeksplor sebuah topik dari buku-buku dan membenamkan diri Anda sendiri lebih dari media apa pun saat ini. Jika Anda belum menjadi pembaca yang konsisten, sebaiknya Anda memulainya hari ini.”

Kedua, belajar keterampilan baru (learn a new skill). Zuckerberg berani mengambil tantangan belajar bahasa Mandarin. Pidatonya mengejutkan dunia karena menggunakan bahasa mandarin dengan lancar dalam acara dengan sebuah grup mahasiswa di Beijing.

Kefasihannya dalam berbahasa Mandarin ini membuat Zuckerberg mampu mempengaruhi kalangan akademi Cina dan komunitas bisnis, termasuk regulator di China.

 

Tanggung Jawab Siapa

Menghidupkan budaya akademik di organisasi publik adalah sebuah keniscayaan. Saya, Anda, dan kita semua memiliki tanggung jawab itu, justru pada saat budaya literasi kita sangat rendah, dan saat di mana hari ini hasrat menulis berada di titik nyaris nol.

Pemerintah juga sudah seharusnya memberi ruang lebih banyak bagi terbangunnya budaya kritis dan mendorong budaya akademis. Sayang sekali. keberhasilan pemerintah yang seharusnya bisa disebarkan untuk mempengaruhi publik ternyata harus terparkir di ruang-ruang hampa arsip perkantoran.

Padahal, sebagaimana dilakukan Amazon dan Facebook, pemerintah bisa membuka ceruk potensi yang tak terlihat sebelumnya dengan terus mendorong semangat belajar warga dan membuka pikiran agar warga tetap kritis.

Sebab, daya kritis adalah bagian terpenting dari merawat negeri ini agar tidak diisi oleh pasukan “ABS” (Asal Bapak Senang) atau “Yes Man” yang pasti tidak akan merubah apa-apa.

Epilog

Budaya akademik akan membuka pikiran dan horizon masa depan. Tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk masa depan peradaban manusia dan bangsa. Bagi pemerintah, tentu budaya akademik sangat penting karena bisa membantu lahirnya berbagai terobosan penting yang mendukung ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge driven economy).

Menghidupkan budaya akademik berarti membuka ruang pegawai, warga bangsa dan seluruh insan cendekia untuk selalu membuka pikiran terhadap hal-hal baru yang belum diketahui.

Saya bersyukur meskipun dengan power coercive approach, yakni menjadikan artikel di media massa (elektronik/ cetak) dan jurnal terakreditasi sebagai salah target sasaran kinerja pegawai (SKP), seluruh pegawai PKP2A III LAN Samarinda kini mampu menulis.

Setidaknya kolega kami sering menyebut PKP2A III LAN Samarinda paling beda. Sebutan itu mungkin muncul karena hidupnya budaya akademik di sana.

 

 

Mungkinkah PNS Menulis di Tengah Kesibukan?

Mungkinkah PNS Menulis di Tengah Kesibukan?

Mengapa Anda masih mengalami kesulitan dalam menulis?

Ada dua penyebabnya, yaitu kurangnya kemampuan teknis penulisan dan ketiadaan waktu menulis Tulisan ini hendak membahas ke dua hal tersebut. Kemampuan teknik penulisan yang diperlukan adalah kemampuan menulis efektif dan kemampuan menghindari jebakan-jebakan yang ada pada saat menulis.

Menulis Efektif

Kemampuan menulis efektif pada dasarnya adalah kemampuan membuat tulisan yang variatif. Seseorang yang memiliki kemampuan ini, ia dapat meramu kalimat tunggal dengan kalimat majemuk, kalimat langsung dengan kalimat tak langsung, kalimat berita dengan kalimat tanya ataupun kalimat perintah, dan berbagai macam variasi lainnya. Kemampuan menulis efektif ini akan membuatnya menyukai kalimat-kalimat yang disusunnya sehingga ia akan termotivasi oleh tulisannya sendiri, atau self motivated.

Jika Anda seorang birokrat, Anda akan termotivasi menulis apabila Anda memiliki kemampuan menulis efektif, meskipun Anda disibukkan oleh pekerjaan. Namun demikian, Anda masih akan mengalami kesulitan menulis apabila Anda tak mampu menghindari jebakan-jebakan yang ada pada saat menulis.

Jebakan Yang Ada Pada Saat Menulis

Ada empat jebakan dalam menulis, yaitu: Jebakan Teko Kosong, Jebakan Peran Rangkap, Jebakan Jalan Tiada Ujung, dan Jebakan Parit.

  • Jebakan Teko Kosong

Menulis itu menyampaikan sesuatu yang Anda miliki, bisa berupa ide ataupun data. Jika tidak ada “sesuatu” dalam kepala Anda, maka tidak ada yang bisa Anda tulis. Ibarat teko kosong, Anda berusaha menuangkan isinya, tetapi hanya kehampaan yang Anda dapati, atau yang keluar hanya angin.

Banyak yang mengira dengan berpikir keras saat menulis ide akan berdatangan. Itulah yang dinamakan Jebakan Teko Kosong. Yang benar, Anda harus memiliki isi tekonya terlebih dahulu. Selanjutnya kapan pun Anda mau, Anda akan mampu menuangkannya dan memenuhi gelas yang Anda inginkan. Karena itu, saya heran kalau ada yang bertanya,”Pak Dedhi kok bisa menulis kapan saja dan di mana saja?” Sebab, bila Anda mempunyai sesuatu, maka waktu dan tempat sudah tidak lagi jadi faktor utama.

Karena itu, fokuslah pada isi kepala dan hati Anda. Pepatah Arab mengatakan “Al ilmu fis sudur laa fi suthur”. Ilmu itu apa yang ada dalam dada, bukan yang ada dalam buku. Perbanyaklah isi kepala dan hati Anda dengan pengalaman, membaca buku, ngegoogling, dan lainnya. Selamat mengisi teko Anda!

  • Jebakan Peran Rangkap

Dalam menulis ada dua peran yang perlu Anda perhatikan. Satu, peran sebagai penulis, dan kedua, peran sebagai editor. Kedua peran tersebut jangan dirangkap dalam waktu bersamaan. Kalau ini dilanggar, maka Anda akan terkena Jebakan Peran Rangkap.

Penulis itu berperan menulis, mengungkapkan isi kepala dan hati ke dalam tulisan. Anda tak perlu berpikir tentang PUEBI, atau pikiran-pikiran lainnya seperti  ingin membuat tulisan yang krispi, bergizi, dan terhidang menarik. Pikiran-pikiran itu adalah tugas editor yang berperan mengedit. Jadi, Anda harus memisahkan antara peran menulis dan peran mengedit.

Ketika Anda sedang menulis dan cenderung menghapus-hapus tulisan karena kurang puas, maka sebenarnya Jebakan Peran Rangkap telah terjadi. Maju-mundur, maju-mundur, tapi tidak cantik.

Bila hal itu terjadi di masa lalu, maka sang penulis akan dikelilingi oleh sampah kertas yang diremas-remas dan dibuang di lantai.  Bukan karya yang dihasilkan, tetapi waktu yang terbuang percuma. Seharusnya, menulis itu ya menulis saja. Jangan mikirin apa-apa kecuali menuangkan ide.

Kalau tidak boleh mengedit, bagaimana tulisan Anda bisa bagus? Ingat, bukan Anda tak boleh mengedit, tetapi jangan mengedit pada saat Anda menulis.

Untuk mengedit, ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan. Pertama, yang menulis Anda, dan yang mengedit orang lain. Ini pernah saya lakukan di buku saya kedua. Saya menulis, dan yang mengedit Karlina VOA yang tinggal di Washington DC. Kebetulan waktu saya ke negeri Paman Sam, saya bersedia menjadi narasumber yang diwawancarainya untuk VOA. Mungkin karena itu, ketika saya minta bantuan kepadanya untuk mengedit buku saya, ia bersedia dan free.

Kedua, Anda yang menulis dan Anda pula yang mengedit, tetapi Anda lakukan keduanya pada waktu yang berbeda. Saya melakukan cara kedua ini di buku-buku saya selain di buku kedua. Caranya, Anda menulis dulu sampai naskah selesai. Jangan terburu menghakimi tulisan Anda. Tulis saja apa adanya, dan  jangan mikirin ada apanya.

Setelah selesai, Anda bisa beralih menjadi editor dan harus menghakimi tulisan itu sebagai tulisan “orang lain”. Yang tidak pas dibuang, yang kurang pas diperbaiki, dan yang sudah pas dibiarkan. Di sinilah Anda berusaha keras agar tulisan yang Anda tulis harus ada apanya, krispi, bergizi, dan terhidang menarik.

Jebakan Teko Kosong dan Jebakan Peran Rangkap dapat terjadi pada jenis tulisan apa saja, baik tulisan panjang seperti skripsi, tesis, disertasi, dan novel, maupun tulisan pendek seperti artikel atau puisi. Khusus untuk tulisan panjang ada lainnya yang menanti, yaitu Jebakan Jalan Tiada Ujung dan Jebakan Parit.

Selanjutnya, saya akan menjelaskan kedua jenis jebakan tersebut.

  • Jebakan Jalan Tiada Ujung

Jebakan ini ada dalam menulis tulisan panjang seperti novel, skripsi, tesis, dan disertasi. Tanpa perencanaan matang, tulisan panjang bisa membuat Anda kehilangan arah. Bahkan, Anda bisa tersesat bagai memasuki sebuah labirin, sehingga tulisan Anda tidak kelar-kelar. Karena itu, Anda harus membagi-bagi tulisan dalam poin-poin besar dari awal hingga akhir.

Dalam dunia akademik, Jebakan Jalan Tiada Ujung sudah diberikan jalan keluarnya dengan membuat outline atau proposal sebelum menulis. Itulah arah jalan penulisan. Sepanjang mahasiswa dan dosen pembimbing mematuhi outline tersebut, maka skripsi, tesis, dan disertasi akan dapat dituntaskan.

Kalau Anda akan menulis nonakademik seperti novel, Anda perlu merancang outline juga agar tidak terjebak dalam Jebakan Jalan Tiada Ujung. Setidak-tidaknya plotnya sudah tergambar dengan jelas, bagaimana mengawali cerita, dan bagaimana mengakhiri cerita. Tentu saja plot ini fleksibel dengan perubahan minor, tetapi harus dicegah dari perubahan mayor. Jika terjadi perubahan mayor, itu tandanya Anda kurang matang dalam merencanakan penulisan. Maka, Anda harus berlatih merencanakan, karena gagal merencanakan itu berarti merencanakan kegagalan.

  • Jebakan Parit

Jebakan Parit juga terjadi dalam menulis tulisan panjang seperti novel, skripsi, tesis, dan disertasi yang biasanya ditulis dalam beberapa bab atau bagian. Setiap bab biasanya mempunyai satu tema tersendiri dan merupakan satu kesatuan utuh, meskipun bab itu merupakan bagian dari satu buku. Bab Pendahuluan akan berbeda dengan Bab Metodologi, dan seterusnya. Demikian juga dalam novel, suatu bab biasanya sudah dapat dinikmati secara utuh, meskipun ia menjadi bagian dari novel secara keseluruhan.

Karena itu ada jebakan saat Anda menyelesaikan satu bab seolah-olah Anda telah menyelesaikan semuanya. Inilah yang membuat Anda tidak mampu melanjutkan tulisan. Saat Anda berada di ujung bab, Anda jatuh dalam suatu parit yang dalam hingga membuat Anda susah keluar dari parit. Jadi, berhati-hatilah karena ada parit di antara bab yang satu dengan bab yang lain. Anda harus mampu menghindarinya.

Cara menghindari Jebakan Parit ada 2. Mari Anda bayangkan di depan Anda ada parit sedalam 3 meter yang tidak bisa Anda langkahi begitu saja. Tapi, Anda harus melompatinya, meskipun lebarnya satu meter lebih. Apa yang harus Anda lakukan?

Pertama, Anda harus ancang-ancang, berlari, dan hap, Anda melompati, menjauhi parit, dan selanjutnya Anda boleh berhenti untuk istirahat. Anda tidak bisa berhenti di pinggir parit yang dalam itu lalu berharap bisa melompatinya tanpa ancang-ancang.

Jadi cara menghindari Jebakan Parit dalam menulis adalah jangan pernah mengakhiri suatu bab lalu berhenti. Itu berarti Anda masuk ke dalam parit dan akan sulit bangkit. Kecuali, Anda sudah menjadi penulis hebat. Selesaikan bab itu, lalu tulislah bab berikutnya beberapa paragraf lalu silakan berhenti.

Cara kedua, bila Anda tidak memilik tenaga untuk berlari dan melompati parit, maka berhentilah beberapa meter sebelum bibir parit. Anda bisa beristirahat sebentar. Bila tenaga Anda sudah pulih, Anda bisa mengambil ancang-ancang, berlari, dan melewatinya.

Kalau tak cukup waktu untuk menulis hingga 2-3 paragraf bab berikutnya, berhentilah di 2-3 paragraf sebelum akhir dari bab yang sedang Anda tulis. Saat ada waktu, Anda dapat menuntaskan bab tersebut hingga berlanjut ke bab selanjutnya, minimal 2-3 paragraf. Dengan begitu, Anda terhindar dan selamat dari Jebakan Parit.

Menulis dalam Keterbatasan Waktu

Ketika Anda siap untuk memulai menulis, misalnya menulis sebuah novel, Anda perlu waktu untuk menuliskannya. Sayangnya tidak semua dari kita memiliki waktu untuk menulis, termasuk saya. Setiap pagi saya berangkat bekerja usai Subuh dan baru jam delapan malam saya sampai di rumah. Sementara itu, Sabtu-minggu adalah waktu untuk keluarga. Oleh karena itu, harus ada terobosan untuk memanfaatkan waktu yang tersedia.

Kebetulan, saya naik kereta api (commuter line) dari jam 6.00 wib hingga jam 7.30 wib. Saya manfaatkan waktu perjalanan itu untuk menulis novel. Di commuter line, saya tidak bisa membuka laptop karena jarang sekali mendapat tempat duduk, sehingga perlu media untuk menulis dalam keadaan berdiri. Saya pikir twitter dengan 140 karakternya dapat membantu saya.

Saya menulis novel menggunakan media twitter. Saya twit setiap hari (Senin-Jumat) sekitar 20 twit. Dengan menuliskan di media twitter, beberapa follower saya biasanya ikut menyimak. Sering mereka menyemangati saya untuk menulis bila saya sedang malas menulis. Hal itu menjadikan saya konsisten menulis setiap hari kerja.

Sisi lain dari keterbatasan 140 karakter twitter juga membantu saya untuk hanya menge-twit  hal-hal yang menarik saja. Ini membuat saya benar-benar harus memikirkan gagasan-gagasan terbaik dan menyajikan yang terbaik agar follower yang mengikuti twittwit  saya tetap tertarik untuk mengikutinya. Sisi lainnya lagi, dengan keterbatasan 140 karakter, saya harus berhemat kata. Di sinilah kemampuan menggunakan diksi menjadi sangat penting.

Setelah twit  terkumpul hingga 1.700 twit-2.000 twit, saya unduh ke laptop dan lalu saya edit. Saat mengedit inilah saya reka ulang lagi ceritanya. Kadang, untuk mengedit saya menggunakan waktu keluarga saya (Sabtu-Minggu). Tentu saja setelah saya minta ijin isteri. Bila dia berkenan saya mengedit, tetapi bila dia tidak berkenan maka saya mencari waktu lain. Seperti saat saya bertugas keluar kota, saya bisa mengedit tulisan di hotel atau saat di pesawat terbang.

Alhamdulillah, saya berhasil menulis novel di tengah keterbatasan waktu saya. Saat ini saya berhasil menyelesaikan tiga novel, yaitu Allah Itu Dekat, Cinta di Titik Nol, dan Pusaran Tawaf Cinta. Ingin rasanya saya membuat novel keempat dan seterusnya. Namun, saat ini saya harus fokus menyelesaikan disertasi saya. Mudah-mudahan disertasi saya kelar tahun ini dan di tahun 2019 saya bisa menulis novel kembali. Saya akan menerapkan teknik unik menulis di twitter saat berangkat kerja menggunakan commuter line sebagai cara saya menulis novel.

Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati masalah waktu. Anda bisa menggunakan apa saja yang penting Anda kreatif menemukan media yang membuat Anda bisa menulis di setiap tempat dan setiap waktu. Apalagi bila Anda memiliki waktu luang untuk menulis. Menulislah, karena menulis itu berarti membuat jejak sejarah.***

 

 

Torehkan Kisah Literasimu

Torehkan Kisah Literasimu

Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil antri makan, sambil makan, bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang. Kami mendesak diri melampaui limit normal untuk menemukan limit baru yang jauh lebih tinggi (Fuadi, 2009).

Kutipan di atas saya ambil dari novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi (2009). Novel penuh inspirasi ini kaya dengan penuturan dan gambaran Alif tentang bagaimana kegiatan membaca dan menulis berkelindan dengan indahnya dalam kesehariannya sebagai anak pesantren di Pondok Madani.

Kisah tentang bagaimana seseorang mulai belajar dan kemudian mencintai dunia buku dan tulisan semakin banyak kita jumpai di dunia maya. Mulai dari status update di media sosial sampai blog entry banyak bertebaran kisah tentang buku dan menulis dalam kehidupan penulisnya. Di blog saya ini bahkan saya mengkhususkan diri menulis tentang literasi, yakni dunia membaca dan menulis berbagai ragam teks.

Kata literasi memang tidak lagi asing. Bila beberapa tahun yang lalu orang masih bertanya apa itu literasi, sekarang ini bahkan ibu-ibu RT di tempat saya sudah bisa langsung menggunakan istilah Gerakan Literasi ketika saya mengajak ibu-ibu PKK untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat di RT kami. Saya cuma bilang, ‘ayo buat taman baca buat warga RT.’ Mereka merespon positif dan sudah langsung menggunakan frase ‘demi gerakan literasi.’ Tampaknya Gerakan Literasi Sekolah dalam bentuk kegiatan 15 menit membaca di sekolah anak-anak mereka sudah mulai membentuk pola pikir baru di antara para orang tua.

***

Karena kita sudah akrab dengan kisah-kisah tentang buku dan tulisan, mari kita mulai mengenal istilah akademiknya. Dalam berbagai kajian tentang Literacy Studies, kisah seperti ini disebut dengan Literacy Narrative. Apa ya terjemahannya dalam Bahasa Indonesia? Naratif Literasi? Kisah Literasi? Untuk sementara saya memilih menggunakan istilah Kisah Literasi. Rasanya terdengar lebih manis.

Kisah literasi biasanya ditulis oleh para penulis untuk memerikan perjalanan mereka mengenal tulisan, kapan mulai suka membaca buku, mulai menulis, tantangan yang dihadapi, cerita suka duka tentang membaca dan menulis. Kisah seperti ini membuat para pembaca lebih mengenal sosok penulis. Kisah literasi juga menjadi salah satu bentuk tugas menulis yang kerap diberikan di kelas-kelas Bahasa. Para siswa atau mahasiswa biasanya diminta menuliskan tentang pengalaman dan perasaan mereka tentang banyak hal yang terkait dengan buku dan tulisan.

Kisah literasi adalah kisah tentang buku dan tulisan yang kita tulis dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal ini, kita tidak hanya mengacu pada kegiatan membaca dan menulis sebagai keterampilan bahasa yang dapat diukur dengan berbagai standar penilaian. Kisah literasi adalah kisah perjalanan hidup seseorang yang menuliskannya, kisah tentang perubahan identitas di mana buku dan tulisan menjadi bagian penting. Kisah literasi dapat mengungkapkan bagaimana seseorang memosisikan dirinya dalam hal kelas sosial, status pendidikan, dan ekonomi. Kisah literasi juga dapat menjadi pembuktian bagaimana buku, tulisan, dan bahkan teks audiovisual dapat mengubah citra diri seseorang.

Konsep Figured World, Positional Identity, dan Figurative Identity yang diusung oleh Dorothy Holland dkk. dapat dengan cantik dikawinkan dengan dunia literasi. Riya Rizqi, salah seorang mahasiswa S2 Unesa bimbingan saya baru saja menyelesaikan tesis tentang Literacy Narratives and Students’ Identities. Dari kisah literasi yang ditulis dalam Bahasa Inggris sederhana oleh siswa SMP di Lamongan, Riya berargumen bahwa kehadiran buku, kegiatan membaca, dan gurunya sendiri membuat siswa mengubah cara pandang tentang diri mereka sendiri. Pada awalnya mereka memandang diri mereka sebagai ‘bad reader and bad writer.’ Setelah berproses dengan berbagai kegiatan di mana buku dan tulisan banyak dihadirkan, mereka mulai berani menilai diri sebagai ‘good reader and good writer.’

Sekali lagi, kisah literasi bukanlah kisah melulu tentang kesuksesan bergulat dengan teks yang mungkin diwakili oleh deretan angka. Kisah literasi yang membebaskan penulisnya untuk berekspresi akan menjadi kisah yang reflektif dan berperan membentuk atau mengembangkan karakter penulis dan juga pembacanya. Dalam hal ini, kisah literasi banyak bertebaran di karya sastra dan budaya populer seperti film. Novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri sarat dengan kisah kedekatan batin tokoh Ashoke dengan seorang pengarang besar dari Rusia, Nikolai Gogol, melalui koleksi cerpen yang dia punyai. Dengan latar belakang budaya masyarakat India diaspora, novel ini mengantarkan pembaca kepada perjalanan identitas hibrid dengan artifak literasi (buku, majalah, iklan, pendidikan tinggi di LN, dll.) sebagai katalisator perubahan identitas diri.

Berbicara tentang proyek menulis kisah literasi, saya ingin menyebutkan dua buku karya alumni Unesa sebagai proyek yang luar biasa. Pena Alumni (2013) dan Boom Literasi (2014) amat dinamis menampilkan kisah literasi para penulisnya yang berasal dari beragam latar belakang profesi. Dua buku ini bahkan terbit saat gempita literasi belum segempar sekarang ini. Seharusnya kedua buku ini layak cetak ulang.  Meski proyeknya nirlaba, alias tidak cari untung (bahkan urunan), kualitas tulisan-tulisannya patut diacungi jempol.

 

Buku terbaru yang saya tulis bersama mbak Sofie Dewayani, Suara dari Marjin (2017) juga diwarnai dengan kisah literasi. Dalam buku ini, kami menggunakan istilah Trajektori Literasi. Di bab 2 dan 3, secara terpisah mbak Sofie dan saya berkisah tentang bagaimana mulanya kami suka membaca dan menulis, dan bagaimana dunia literasi ini membawa kami pada minat mengkaji kisah literasi anak-anak jalanan dan buruh migran Indonesia di Hong Kong. Pendek kata, buku Suara dari Marjin adalah buku tentang kisah literasi, tidak hanya tentang komunitas anak jalanan dan BMI Hong Kong, namun juga kedua penulisnya.

***

 

Kisah literasi dapat diungkapkan oleh siapa saja, mulai siswa yang baru belajar mengarang dan mulai menyukai buku sampai penulis terkenal. Mulai dari mahasiswa anyar sampai para profesor. Bahkan para birokrat pun perlu menuliskan kisah literasi mereka.

Salah satu contoh birokrat yang menuliskan kisan literasinya adalah sahabat saya mas Billy Antoro. Mas Billy adalah salah satu staf di Setjen Dikdasmen. Sahabat saya ini juga diamanahi sebagai Sekretaris Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud, di mana saya juga tergabung di dalamnya. Mas Billy tertib mencatat dan merekam sepak terjang Satgas GLS sebagai tim. Bahkan dia juga meminta kami para anggota Satgas untuk ‘melaporkan’ kegiatan literasi di kampus dan komunitas yang kami lakukan di luar tugas bersama. Mas Billy sendiri juga rutin berbagi cerita kegiatan literasinya di rumah dan di komunitas. Sebagian besar catatan dan refleksi literasi ini telah dituliskan di buku Gerakan Literasi Sekolah dari Pucuk sampai Akar. Buku ini diterbitkan oleh Kemdikbud dan diluncurkan saat Festival Literasi Sekolah pada tanggal 27-29 Oktober 2017. Buku ini bisa diunduh di laman Kemdikbud.

Langkah mas Billy sebagai bagian dari dunia birokrasi menunjukkan bahwa mas Billy menulis tidak hanya sebagai bagian dari tugas birokrasinya. Lebih dari itu, mas Billy telah menjadi seorang sponsor literasi. Dengan kata lain, sebuah program dan pelaksanaan kebijakan akan terasa lebih membumi, bermakna, dan berdaya di tangan seorang staf (notabene juga birokrat) yang melakoni sendiri kebijakan yang dikawal. Sebagai seorang aktivis literasi, sosok staf seperti mas Billy jadi lebih paham tantangan yang dihadapi dan berbagai kesempatan yang tersedia di lapangan dalam implementasi kebijakan. Hal ini menjadi modal penting dalam proses monitoring, evaluasi dan tindak lanjut sebuah kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah.

Contoh lain dari birokrat yang menulis adalah Prof. Muchlas Samani, mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya. Pak Muchlas, begitu saya memanggil beliau,  rutin menulis di blog, http://muchlassamani.blogspot.co.id. Saya termasuk pembaca setia tulisan-tulisan beliau tentang dunia pendidikan. Sudah banyak buku yang beliau terbitkan, bahkan sejak beliau belum menjabat sebagai Direktur Ketenagaan Dikti dan kemudian menjadi Rektor Unesa ke-9 di periode 2010-2015.

Buku beliau yang terbaru kuat nafas literasinya, yakni literasi teknologi informasi. Judul bukunya juga provokatif, Semua Dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?. Buku yang maknyus ini, meskipun bukan murni kisah literasi, menegaskan bahwa dunia pendidikan abad ke 21 bukanlah hanya sekedar memanfaatkan teknologi digital, namun harus dibarengi dengan kompetensi akademik, sosial, dan kultural agar sekolah dapat menghasilkan pembelajar yang literat. Dengan kata lain, kisah literasi yang bermuatan kegelisahan dan alternatif solusi masalah akan bermakna lebih dari sekedar curhat dan kontemplasi diri. Buku ini diterbitkan oleh Unesa University Press dan bebas diunduh di sini.

Saya yakin masih banyak lagi birokrat atau pejabat struktural yang rajin dan tertib menulis. Yang perlu saya garis bawahi tentang kisah literasi adalah tulisan tentang bagaimana dunia literasi menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Kisah literasi berbeda dari tulisan tentang sebuah topik tertentu. Nah, kisah literasi, atau dalam bahasa aslinya, literacy narrative, dapat menjadi salah satu bidang garapan Gerakan Birokrat Menulis. Saya yakin apabila semakin banyak birokrat menuliskan kisah literasi mereka, saya yakin mereka akan lebih banyak melakukan refleksi diri dan tidak mudah mencari alasan atau pembenaran dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Yang lebih penting lagi, kisah literasi akan menjadi catatan abadi yang ditorehkan di tonggak peradaban bangsa kita sebagai bangsa literat. Tanpa ada kisah literasi, tidak akan ada kajian tentang kisah literasi. Sebaliknya, dengan semakin banyak kisah literasi, akan semakin beragam pula kajian tentang kisah-kisah tersebut dalam membentuk narasi besar gerakan literasi bangsa kita.

Maka dari itu, torehkan kisah literasimu!

(Surabaya, 21 November 2017)

 

Para Birokrat, Menulislah!

Para Birokrat, Menulislah!

Membaca buku Pramudya Ananta Toer pada generasi saya adalah ‘barang haram’. Sebab, walaupun lebih mendekati sosialisme (socialism), pada generasi saya pemikiran Pram lebih diidentikkan sebagai komunisme (communism). Sementara itu, bagi generasi saat ini, membaca buku Pram bukanlah barang haram. Kebanyakan mereka sudah terbiasa memperdebatkan isi buku-buku Pram di perkuliahan ataupun di warung kopi.

Setelah buku Pram boleh beredar, saya sempat membaca bukunya yang berjudul “Korupsi”. Dari buku ini, saya bisa memahami sejarah korupsi di birokrasi, yang sangat relevan dengan keseharian saya. Misalnya, saya dapat memahami kenapa generasi birokrat sebelum saya (walaupun masih berlanjut sampai saat ini) menganggap bahwa menerima komisi dari kontraktor atau supplier itu adalah hal yang sah-sah saja.

Pada buku itu, Pram menguraikan bagaimana powerful-nya kepala kantor pemerintahan di masa setelah kemerdekaan. Setelah kemerdekaan tahun 1945, kantor pemerintahan banyak diisi oleh mantan pejuang kemerdekaan. Mereka ditunjuk memimpin kantor pemerintahan umumnya sebagai kompensasi perjuangannya memerdekakan Indonesia dan melawan kolonialis, dan bukan karena hasil seleksi kompetensi (competency assessment), seperti kita kenal saat ini.

Kemudian, tanpa akuntabilitas yang jelas, mereka para kepala kantor ini boleh membelanjakan anggaran kantornya sesuka hatinya. Para kepala kantor ini juga dapat merekrut pegawai berdasarkan pertimbangan pribadinya. Pegawai kantor pemerintah ini kemudian dikenal sebagai pegawai ‘honorer’. Untuk membiayai pegawai honorer ini, kepala kantor mengumpulkan komisi dari para supplier. Karena itu, potongan komisi pada waktu itu adalah hal yang wajar dan ‘dikelola’ langsung oleh kepala kantor.

Dalam buku itu, Pram menceritakan kebiasaan seorang kepala kantor pemerintahan yang ‘kebablasan’.  Alih-alih untuk membiayai kepentingan kantor, ternyata uang hasil potongan komisi itu digunakan oleh kepala kantor untuk membiayai istri mudanya di daerah Bogor. Pada waktu itu, adalah lazim banyak pejabat pemerintahan menyimpan istri mudanya di daerah Bogor, karena lokasinya yang berjauhan dari pusat keramaian.

Kebiasaan ini berlanjut terus sampai menjelang berakhirnya Orde Baru, yang kemudian kita mengenal istilah ‘dana taktis’ atau ‘dana non-budgeter’. Dana ini awalnya dikelola untuk membiayai pengeluaran kantor yang tiba-tiba. Sebab, lokasi kantor pemerintahan banyak yang berjauhan dari kantor kas negara. Saat itu, transfer antar bank real-time tentu belum dikenal. Karenanya, untuk kepentingan darurat, setiap kantor mesti memiliki dana taktis.

Itulah sebabnya kemudian tidak aneh jika banyak kantor-kantor kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang mempunyai rekening bank tersendiri untuk mengelola dana taktis. Dana taktis ini dikelola bertahun-tahun dan ‘diserahterimakan’ ke pemimpin kantor berikutnya. Ketika diakumulasi jumlahnya, nilainya bisa miliaran rupiah untuk satu kantor saja.

Sampai kemudian, akhirnya pemerintah –  dengan para reformer-nya dari Kementerian Keuangan – mengusulkan konsep ‘single account’. Intinya, konsep ini mengarahkan berbagai organisasi publik di Indonesia hanya boleh memiliki rekening bank yang ‘terintegrasi’ dengan rekening Kementerian Keuangan sebagai bendahara umum negara (state treasury). Konsep ini pun kemudian menjadi euforia di lingkungan pemerintah daerah.

***

Itulah manfaat membaca buku Pram bagi saya. Membaca buku Pram membuka wawasan saya kenapa korupsi begitu kompleksnya di Indonesia. Dari buku Pram, kita sebagai birokrat bisa belajar mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini dengan pendekatan historis.

Di sisi lain, Pram juga mengingat kita untuk terus menulis. Nasehatnya berikut ini banyak menjadi figura di Internet:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Intinya Pram mengajak kita untuk terus menulis. Kita perlu menulis agar tidak hilang dari catatan sejarah. Baginya, menulis adalah bekerja untuk menuju keabadian. Terlalu naïve, memang. Namun, Pram juga mengingatkan:

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.

Peringatan Pram tersebut menjadi relevan, baik terhadap mereka yang merasa kaum intelektual (cerdik-pandai) maupun mereka yang merasa termarginalisasi karena menganggap dirinya sebagai orang bodoh atau kaum non-intelektual.

Menjadi penting untuk memperbincangkan, siapa sebenarnya kaum intelektual atau cerdik-pandai itu? Apakah mereka yang masih mahasiswa saja? Apakah mereka yang bisa menulis secara cerdas?

Bagaimana kemudian dengan mereka yang dulunya mahasiswa dan kini menjadi birokrat? Apakah mereka bukan lagi kaum cerdik-pandai?

Bagi saya, kaum intelektual itu tidak hanya mereka yang masih menjadi mahasiswa. Bukan juga orang seumuran saya yang kembali menjadi mahasiswa ini. Bagi saya, kaum intelektual adalah juga para birokrat yang mau terus mendorong perubahan.

Kita bisa melihat, misalnya, Budi Utomo itu dibentuk oleh profesional birokrasi. Mereka kebanyakan para dokter pribumi. Para profesional birokrasi ini membentuk pergerakan (movement)  untuk mendorong perubahan dan melawan ketidakadilan terhadap kolonialis. Karenanya, mereka adalah kaum intelektual pada masa itu.

Belakangan ini, para birokrat juga sering bersuara dalam mendorong good governance, baik yang menyandang posisi pejabat fungsional, pejabat struktural, atau pelaksana biasa di kantornya masing-masing. Melalui media sosial, mereka berani menyuarakan ketidakadilan dan diskriminasi.

Sebagai contoh, terdapat beberapa birokrat yang menulis tentang kebijakan mutasi di organisasinya yang tidak adil. Kemudian juga mereka memperdebatkan tentang apakah Ahok korupsi atau tidak dalam kasus Rumah Sakit Sumber Waras. Bahkan, mereka terlibat memperdebatkan soal penggerebekan pabrikan beras oleh kepala kepolisian dan seorang menteri!

Mereka itu berusaha memberikan tekanan demi perubahan melalui tulisannya, terlepas apakah kita memandang mereka melakukan itu karena afiliasi politik mereka atau karena isu-isu itu memancing kepedulian mereka.

Intinya, mereka ingin mendorong perubahan pada organisasi dan negaranya agar menjadi lebih baik.  Karenanya, mereka para birokrat ini juga kaum intelektual karena mereka berani terus mendorong perubahan melalui tulisan-tulisannya.

Karena itu, masihlah relevan memperhatikan peringatan Pram. Kita mestinya tidak ingin mengulangi kesalahan dengan memandang orang lain lebih pintar atau lebih bodoh dari kita.

Kita sebagai birokrat adalah juga kaum intelektual. Untuk itu, kita para birokrat harus terus menulis agar dapat mendorong perubahan dan tidak hilang dari catatan sejarah.

Selamat menulis di Pergerakan Birokrat Menulis!

 

 

Perlunya Penulisan Reflektif Bagi Birokrat

Perlunya Penulisan Reflektif Bagi Birokrat

Kemarin sore, Jum’at, 20 Januari 2017, saya tengah berada di ruang tunggu kantor Pusat Universitas Negeri Surabaya. Ada jadwal rapat yang akan saya ikuti, namun ruangan Wakil Rektor I masih dipakai untuk rapat kegiatan akademik yang lain. Di seberang sofa tempat saya duduk  saya ada segerombol mahasiswi yang sedang menunggu juga. Wajah mereka terlihat kusut dan galau. Tak lama kemudian bu Ratih, Kepala BAAKPSI keluar menemui mereka. Ternyata sekelompok mahasiswi ini tengah mengalami kesulitan mengurus syarat-syarat kelulusan. Saya nguping saja. Dari percakapan bu Ratih dengan para mahasiswi tersebut, saya menangkap kesan adanya perbedaan ketentuan yang berlaku di fakultas mereka dengan di pusat. Alhasil mereka belum memperoleh bukti kelulusan.

Ingatan kilat saya melayang ke para mahasiswa saya sendiri di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Saya cukup tahu syarat-syarat kelulusan, karena memang berkas mereka akan bermuara di meja saya untuk ditanda-tangani. Saya cukup lega karena fakultas di mana saya bernaung menggunakan syarat-syarat yang persis sama dengan yang di Pusat. Meski itu tidak berarti mahasiswa saya tidak galau. Proses mengejar tanda-tangan dosen penasehat akademik, pembimbing dan penguji skripsi, dan perjalanan bolak-balik ke kampus Ketintang dan kampus Lidah Wetan cukup menguras emosi. Kebetulan kantor pusat ada di Ketintang, sementara Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ada di kampus Lidah, yang berjarak sekitar 30 menit bila tidak macet.

Masalah layanan publik selalu menarik diperbincangkan. Dalam setiap urusan yang saya lakoni, praktis layanan publik ini menjadi trending topic untuk saya amati dan catat. Mulai mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor, SIM, layanan rumah sakit, layanan di supermarket, sampai servis mobil di bengkel resmi.

Saya banyak berpikir tentang gagasan-gagasan dan langkah-langkah yang telah, sedang, atau akan saya ambil dalam tugas saya sebagai dosen dengan tugas tambahan sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Harus saya akui bahwa cara pandang saya banyak sekali dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu, terutama saat berkesempatan studi lanjut di luar negeri. Pengalaman selama studi S2 di Texas dan S3 di Melbourne, Australia cukup banyak membentuk cara pandang saya tentang layanan publik. Layanan prima dan humanis seringkali bisa kita rasakan di banyak tempat di negara-negara maju. Setidaknya buat saya, layanan akademik dan nonakademik di kampus dan di ranah publik patut diacungi jempol.

Pengalaman-pengalaman menarik seperti ini sayang dilewatkan begitu saja. Dalam banyak catatan harian saya di blog pribadi saya, ternyata cukup banyak hal yang saya  tulis terkait layanan publik. Saya juga punya hobi mengumpulkan brosur-brosur terkait informasi prosedur layanan di berbagai tempat dan kepentingan. Saya pikir suatu saat akan ada gunanya.

Tentang orientasi layanan publik, saya punya kisah singkat. Ketika baru saja pelantikan menjadi Ketua Jurusan, saya menolak gagasan beberapa teman untuk memasang spanduk ucapan selamat untuk dipasang di depan kantor. Sebagai gantinya, saya menyarankan X-Banner dengan tagline “We’re Ready to Serve You.”  Dalam benak saya, para pengelola jurusan memang akan memberikan layanan kepada mahasiswa dan pihak lain yang memerlukan. Tagline ini ternyata ditanggapi berbeda oleh beberapa teman. ‘Saya nggak setuju bu Tiwik. Kita bukan pelayannya mahasiswa. Nanti mereka ngelunjak.” Nampaknya kata ‘melayani’ ini sendiri multiinterpretatif. Dalam perjalanan saya mengawal jurusan selama setahun ini, ternyata perbedaan persepsi tentang bagaimana memberikan layanan prima kepada banyak pihak (mahasiswa, dosen, pihak mitra) punya potensi besar dalam memperoleh apresiasi, membangun hubungan interpersonal yang lebih sehat, atau sebaliknya penyebab konflik personal.

Bagi saya pribadi, pernak-pernik dalam keseharian saya sebagai dosen dengan tugas tambahan Ketua Jurusan  adalah bagian dari dinamika sebuah institusi atau organisasi yang harus dikelola dengan baik. Itulah sebabnya catatan harian menjadi sentral fungsinya. Sebagai dosen sastra, menulis sudah menjadi kewajiban untuk dilakukan dan diajarkan ke mahasiswa. Tugas struktural seperti Ketua Jurusan otomatis menempatkan saya dalam lingkaran birokrasi. Dengan demikian birokrat memang harus menulis.

Bila Anda bertanya: “perlukah kita menulis tentang kegiatan sehari-hari, terutama yang terkait dengan pekerjaan atau profesi kita?” Jawabnya: MAHA PENTING. Banyak sekali waktu yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berpikir. Berpikir tentang apa yang orang lain katakan, apa yang kita baca, apa yang kita alami, apa yang kita pikirkan dan bagaimana pikiran kita berubah dari waktu ke waktu. Proses berpikir ini terjadi di kantor, kampus, sekolah, pasar, rumah, dan di mana saja. Proses berpikir ini tidak seharusnya hanya dibiarkan berkecamuk di benak kita saja. Refleksi terhadap apa yang kita alami dan lakukan diperlukan agar kita dapat lebih kritis terhadap diri sendiri. Dengan demikian langkah yang kita ambil memperoleh justifikasi yang bijak.

Dalam bahasa pembelajaran bahasa, tulisan semacam ini kita sebut sebagai tulisan reflektif. Kata refleksi sendiri pada dasarnya mengacu pada bentuk respon personal kita terhadap peristiwa, situasi, pengalaman atau informasi baru. Dalam proses reflektif ini proses berpikir bertemu dengan proses belajar. Dengan demikian tidak ada cara khusus yang dianggap benar atau salah dalam melakukan refleksi. Yang ada hanya pertanyaan-pertanyaan untuk dieksplorasi.

Diyakini bahwa proses berpikir meliputi berpikir reflektif dan kritis. Keduanya tidaklah terpisah, namun amat berkaitan satu sama lain. Model di bawah ini mungkin dapat menjelaskan proses berpikir reflektif.

Proses Berpikir (diadaptasi dari Mezirow 1990, Schon 1987, Brookfield 1987)

 

Gambar di atas menunjukkan bagaimana proses berpikir reflektif dimulai dari kita sendiri. Sebelum kita mulai menilai perkataan dan gagasan orang lain, kita perlu mengidentifikasi dan ‘mempertanyakan’ pikiran kita sendiri. Lalu bagaimana caranya?  Pengalaman di masa lalu dan pengetahuan kita tentang topik yang kita hadapi menjadi bagian penting. Kita harus menengok kembali keyakinan, nilai, sikap, dan asumsi kita, yang kesemuanya menjadi dasar pemahaman kita akan sesuatu.

Berpikir reflektif membutuhkan kemampuan untuk mengenali bagaimana pengetahuan yang kita punya selalu kita bawa dalam tiap pengalaman kita. Proses ini membantu kita melihat keterkaitan antara apa yang sudah kita ketahui dan apa yang sedang kita pelajari. Dengan kata lain, berpikir reflektif merupakan satu sarana untuk menjadi pembelajar yang aktif dan kritis.

Di sinilah diperlukan kebiasaan menulis. Tentang apa saja yang kita alami. Tidak ada yang tidak terlalu penting untuk ditulis. Sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa ketika ditulis. Sejauh yang saya tahu dan rasakan, tulisan reflektif—baik tulisan sendiri maupun orang lain—selalu dapat memberikan pencerahan karena memberikan kita kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan birokrat menulis? Dunia kita semakin penuh dengan informasi dari ratusan sumber. Sementara itu, dunia juga terasa berjalan lebih cepat. Tagihan tugas datang tanpa henti. Belum lagi friksi dengan teman kerja, atasan atau bawahan mewarnai dinamika kehidupan kita. Seringkali kita merasa kekurangan waktu untuk mengolah dan mengendapkan informasi yang kita dapatkan karena saking cepatnya dunia bergerak. Itulah sebabnya saya meyakini bahwa kegiatan menulis memberikan kesempatan pada saya untuk bergerak lebih lambat. Dengan demikian proses kontemplasi dapat terjadi.

Tulisan reflektif adalah respon kita terhadap apapun yang kita alami. Model tulisan seperti ini memberikan kita kesempatan untuk memahami diri sendiri, memaknai apa yang kita alami/pelajari, dan mengeksplorasi proses berpikir/belajar kita. Dengan demikian kita akan mampu memperoleh pemahaman tentang apa yang kita alami dan pelajari secara lebih gamblang dan mendalam.

Melihat tujuannya, maka tulisan reflektif tidak hanya sekedar menyampaikan infomasi, deskripsi, atau argumen tentang sesuatu. Tulisan reflektif juga bukan untuk memberikan penilaian benar salahnya sesuatu, atau memberikan penyelesaian sebuah masalah. Dengan demikian tidak ada bentuk tulisan reflektif yang standar.

Kalau begitu, apa yang dapat kita tulis dalam tulisan reflektif? Misalnya Anda sedang mengikuti workshop atau penyegaran yang terkait dengan pengembangan profesionalisme, maka Anda dapat menulis tentang hal-hal berikut:

  • Persepsi Anda tentang pelatihan dan materi yang Anda dapatkan.
  • Pengalaman, gagasan dan pengamatan yang Anda miliki sebelumnya, dan bagaimana hal-hal tersebut berkaitan dengan pelatihan dan topik yang dibahas.
  • Hal-hal yang menurut Anda membingungkan, menyulitkan, menarik, mencerahkan. Jelaskan mengapa Anda merasakan hal itu.
  • Pertanyaan-pertanyaan yang Anda miliki.
  • Bagaimana Anda memecahkan masalah, menarik simpulan, menemukan jawaban, dan/atau memperoleh sebuah pemahaman dalam proses pembelajaran di pelatihan tersebut.
  • Berbagai kemungkinan, spekulasi, hipotesis atau solusi yang muncul.
  • Interpretasi atau perspektif alternatif atau berbeda yang  sudah pernah Anda miliki atau baca dalam buku.
  • Perbandingan dan keterkaitan antara apa yang tengah Anda pelajari dengan pengalaman, pengetahuan, dan asumsi sebelumnya, berdasarkan pelatihan-pelatihan sebelumnya atau dari disiplin lain.
  • Bagaimana ide-ide baru yang Anda peroleh dalam pelatihan tersebut menantang atau mengubah hal-hal yang selama ini Anda ketahui.
  • Gagasan apa yang ingin Anda pikirkan lebih dalam sebagai langkah berikutnya.
  • Aksi apa yang ingin Anda ambil sebagai langkah berikutnya.

Mari kita berproses menjadi pembelajar yang aktif dan kritis dalam peran apapun yang kita lakoni. Mari menulis reflektif! (Surabaya, 21 Januari 2017).

 

 

Benarkah Birokrat Jarang Menulis?

Benarkah Birokrat Jarang Menulis?

Ada sebuah pertanyaan. Mengapa birokrat terlihat jarang menghasilkan tulisan yang dikonsumsi masyarakat? Pada level individu, ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, seperti kurang berminat, merasa kurang terampil, atau tidak punya waktu.

Pada level institusi, sebenarnya tulisan yang dihasilkan birokrasi sangat banyak. Ada kajian, forecast, nota keuangan, term of reference, rekomendasi, briefing note, proses bisnis, standard operating procedure, analisis, modul, naskah akademis, rencana anggaran, rencana kerja, naskah pidato, nota dinas, tanggapan, rancangan regulasi, ketetapan, laporan, keterangan dan berbagai dokumen dalam beragam bentuk dan tujuan. Semua ini adalah tulisan. Secara umum, tulisan-tulisan tersebut memiliki kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan artikel di blog. Hanya saja mungkin tidak menjadi konsumsi masyarakat luas karena sifatnya atau karena batas publikasinya.

Melihat banyaknya produk tertulis yang dihasilkan birokrasi, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa transparankah birokrasi mempublikasikan tulisan-tulisan yang dihasilkannya. Dokumen-dokumen tersebut akan menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan publik dibuat dan dilaksanakan. Lebih dari itu, tulisan-tulisan tersebut sedikit banyak mempengaruhi dan mengungkapkan seberapa baik pelayanan publik, penghormatan terhadap demokrasi, pemuliaan hak-hak asasi manusia, dan pelaksanaan konstitusi.

Ada satu lagi jawaban kenapa mungkin tidak terlihat banyak tulisan yang dihasilkan seorang birokrat. Tulisan bukanlah produk akhir pekerjaan birokrasi. Seorang birokrat dituntut untuk membuktikan dan merealisasikan apa yang ditulisnya menjadi kenyataan. Dan ini lebih menantang dibandingkan dengan menghasilkan sebuah tulisan. Di dunia riil, seorang birokrat akan berhadapan dengan kondisi yang lebih kompleks dibandingkan dengan sebuah dunia ideal yang ada di benak atau tulisannya. Birokrat tersebut akan menghadapi pergulatan ide, kompetisi sumber daya, persaingan ego sektoral, rumitnya peraturan, resistensi pemangku kepentingan, penyesuaian sistem, perubahan cara kerja, serta berbagai keterbatasan dan tantangan yang lebih pelik dibandingkan dengan menghasilkan sebuah tulisan. Alhasil, merealisasikan satu gagasan saja pada dunia nyata menjadi lebih sulit dibandingkan dengan menulis berlembar-lembar halaman.

Pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa untuk merealisasikan satu gagasan di pemerintahan bisa memakan waktu sampai dua tahun. Bahkan lebih. Bandingkan dengan menulis sebuah artikel di blog yang dapat dikerjakan dalam hitungan jam atau hari. Butuh stamina dan kreativitas yang lebih tinggi untuk merealisasikan sebuah gagasan dibandingkan dengan hanya menulis gagasan tersebut di atas kertas. Pada akhirnya, satu gagasan yang berhasil dilaksanakan dan dimanfaatkan oleh banyak orang akan lebih bermaslahat dari pada berlembar-lembar tulisan tapi tidak direalisasikan.

 

error: