Membantah Keraguan tentang  Ketiadaan Transparansi dan Akuntabilitas  Pada Seleksi CPNS 2018

Membantah Keraguan tentang Ketiadaan Transparansi dan Akuntabilitas Pada Seleksi CPNS 2018

Prolog

Di awal September 2018, desas-desus pembukaan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2018 mulai beredar di hampir seluruh media sosial. Saat itu saya masih bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Kali ini, saya berniat untuk mengikuti seleksi CPNS dan berharap lulus.

Tahapan yang Melelahkan

Tekad saya begitu besar untuk mendaftar setelah saya pernah gagal pada tahun 2014 dan tidak memiliki kesempatan pada tahun-tahun berikutnya karena lokasi kerja. Untuk maksud itu, saya mengajukan izin kepada atasan untuk mengikuti seleksi tersebut. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, permohonan saya dikabulkan oleh atasan.

Memasuki akhir September 2019, situs pendaftaran seleksi CPNS pun akhirnya dibuka. Seperti kita ketahui bersama animo masyarakat menyambut seleksi CPNS kali ini begitu besarnya.

Tak jarang situs tersebut kemudian menjadi down. Bahkan, sampai tak dapat diakses selama beberapa waktu. Pengalaman saya sendiri, saya harus bersabar untuk mencoba men-submit pendaftaran sampai dengan puluhan bahkan ratusan kali hingga akhirnya saya berhasil didaftar.

Tak cukup di situ, menurut saya proses seleksi ini memang sebuah tahapan panjang dan sangat melelahkan. Saya katakan sebagai “tahapan panjang” karena jeda waktu di tiap tahapan seleksi begitu lama dan tidak jarang mengalami penundaan hasil seleksi.

Saya katakan “melelahkan” karena kata inilah yang sangat dirasakan oleh para aparatur negara yang terlibat, baik panitia seleksi pada instansi maupun panitia seleksi nasional.

Perlu diketahui, tahapan seleksi CPNS meliputi pendaftaran – seleksi administrasi – seleksi kemampuan dasar (dengan sistem komputerisasi) – seleksi kemampuan bidang (ini beragam dan berbeda untuk setiap instansi) – integrasi nilai SKB dan SKD – pemberkasan – pemanggilan.

Nah, selama berlangsungnya tahapan-tahapan tersebut banyak sekali pro dan kontra dari para peserta seleksi. Misalkan, soal passing grade yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan banyak yang tidak mampu mencapainya.

Akhirnya, diterbitkanlah Permenpan nomor 38 tahun 2018 yang isinya memberikan kelonggaran bagi peserta yang tidak mencapai passing grade dengan sistem ranking. Hal ini dilakukan untuk menghindari gap yang terlalu besar antara jumlah formasi dengan jumlah peserta yang mencapai passing grade.

Tak hanya sampai di situ. Pro dan kontra tetap bergaung setelah tahapan akhir seleksi. Banyak peserta yang merasa dirugikan. Yang awalnya sudah mampu mencapai passing grade, tetapi akhirnya harus kalah dalam seleksi kemampuan bidang dengan peserta lain yang awalnya tidak memenuhi passing grade. Mereka merasa dirugikan dengan hadirnya Permenpan nomor 38 tahun 2018.

Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi selama proses tahapan seleksi CPNS tahun 2018, saya adalah peserta yang berhasil mencapai passing grade dan sampai pada akhir tahapan seleksi saya dinyatakan lulus sebagai CPNS.

Eits, tunggu dulu, masih belum selesai, ternyata masih ada proses lainnya yang menunggu yaitu pemberkasan dan pemanggilan. Dan akhirnya, eng-ing-eng, alhamdulillah akhirnya saya mendapat informasi berupa surat mengenai kapan saya mulai bekerja pada instansi yang saya pilih. Bahasa kerennya TMT (Terhitung Mulai Tanggal), begitu kira-kira yang saya denger dari beberapa rekan PNS.

Membantah Keraguan

Kemudian, apa korelasi antara judul tulisan saya dengan cerita pribadi saya? Pertanyaan ini sangat menarik bagi saya dan tentunya bagi sebagian besar orang di luar sana, baik yang sudah pernah mengikuti tahapan seleksi CPNS maupun yang baru akan mencoba mengikuti tahapan seleksi CPNS.

Lets we start! Transparansi atau keterbukaan menjadi sangat penting di tengah berkurangnya trust masyarakat pada setiap proses seleksi CPNS dari tahun ke tahun.

Contohnya, masih saja ada isu-isu di tengah masyarakat bahwa tanpa memiliki keluarga dekat, mustahil seseorang akan bisa bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Atau, soal berapa besaran uang yang harus dikeluarkan ketika akan masuk di sebuah instansi.

Hal-hal yang masih menjadi isu di tengah masyarakat di atas, sebaiknya segera dibuang jauh-jauh. Mengapa? Menurut saya, seleksi CPNS yang saya ikuti sudah sangat transparan. Tidak ada lagi yang disembunyikan, disisipkan, atau bahkan dititipkan. Semua proses telah diinfokan dan dilaporkan secara online.

Pada seleksi administrasi misalnya, bukan hanya nama-nama peserta yang lulus seleksi administrasi saja yang ditampilkan, tetapi juga seluruh nama peserta yang tidak lulus pun juga ditampilkan, dan disertai alasannya.

Maju ke tahap selanjutnya, yaitu seleksi kemampuan dasar, melalui sistem komputerisasi yang diberi nama CAT, setiap peserta seleksi diberikan kemudahan mengakses hasil seleksinya secara real time setelah mengerjakan tes.

Bahkan, peserta juga bisa melihat hasil seleksi peserta lainnya secara real time. Artinya, hasil seleksi peserta tidak mungkin akan dengan mudah bisa dimanipulasi.

Di tahapan berikutnya, yaitu seleksi kemampuan bidang, memang terdapat perbedaan dari masing-masing instansi terkait materi yang akan menjadi bahan seleksi.

Namun, setelah tahapan ini masih ada tahapan integrasi nilai Seleksi Kemampuan Dasar dan Seleksi Kemampuan Bidang yang dilaksanakan oleh instansi terkait besama dengan Badan Kepagawaian Negara, yang tentu saja akan menampilkan hasil akhir yang transparan dan akuntabel.

Simpulan

Dari cerita pengalaman saya di atas, saya ingin menjadikan diri saya sebagai saksi hidup bagaimana proses seleksi CPNS di negeri kita tercinta ini sudah sangat transparan dan akuntabel.

Tak ada lagi sanak keluarga pejabat yang dititipkan maupun sejumlah uang yang harus dibayarkan. Seluruh proses mulai dari pendaftaran sampai dengan pertama kali anda menginjakan kaki di instansi yang kita pilih adalah gratis!

Peluang bagi kita semua sama besarnya untuk dapat menjadi seorang abdi negara.

Untuk itu saya mengajak kawan-kawan milenial untuk jangan ragu ketika memutuskan bercita-cita menjadi seorang ASN karena sistem seleksi sudah transparan dan akuntabel.

Bagi saya pribadi, menjadi seorang ASN bukan lagi tentang mengejar materi semata, tetapi bagaimana menjadikan pekerjaan ini sebagai ladang pahala bagi modal kita menuju akhirat kelak.***

 

 

3
0
Perjalanan Birokrat Menulis Buku

Perjalanan Birokrat Menulis Buku

Bagi seorang pegawai negeri, masa cuti seringkali menjadi saat yang dinanti-nanti. Begitu pun bagi saya. Pada hari cuti, jika kebanyakan orang sudah menyusun rencana acara selama cuti untuk bersenang-senang ke berbagai obyek wisata, maka saya memilih cuti untuk bisa berdiam diri.

Di masa cuti saya berdiam diri sejenak menciptakan keheningan dari rutinitas yang terbiasa mengepung sepanjang hari. Hidup memang perlu sejenak berhenti, melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Maka inilah cerita saya tentang refleksi diri atas capaian sejauh ini sebagai buah dari perjuangaan tanpa henti.

Pengalaman Mengabdi di Birokrasi

Setelah bekerja selama hampir 22 tahun di birokrasi pemerintahan, saya mendapat banyak pengalaman dengan segala dinamikanya. Salah satu di antaranya adalah tentang ketidaknyamanan. Namun, di balik semua ketidaknyamanan tersebut tetap banyak kebaikan yang saya dapatkan.

Karir sebagai birokrat diawali dengan tugas sebagai auditor pemerintah di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Penempatan pertama  saya adalah di Provinsi Sulawesi Utara, Negeri Nyiur Melambai, dan saya jalani selama hampir tiga tahun. Usai bertugas di sana, saya menjadi peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengawasan (Puslitbangwas) BPKP di Jakarta. Belum genap tiga tahun kemudian, saya dimutasi menjadi staf bagian hubungan masyarakat (Humas) pada institusi pengawasan internal pemerintah itu.

Perpindahan di antara tiga unit kerja yang berbeda-beda dalam waktu yang tidak terlalu lama membuat saya terlatih dengan berbagai hal baru yang jauh lebih beragam daripada pengetahuan saya sebelumnya. Khususnya, ketika menjadi bagian dari Humas saya belajar tentang jurnalistik dan pemberitaan.

Usai berpindah-pindah di antara tiga unit kerja di BPKP tersebut, dalam empat belas tahun berikutnya hingga hari ini, saya berganti institusi tempat mengabdi. Institusi itu adalah sebuah kementerian yang mempunyai tugas utama mendorong implementasi reformasi birokrasi di Indonesia.

Dalam tiga tahun pertama, selain melaksanakan tugas di bidang ketatalaksanaan, saya diberi peran tambahan untuk mengelola penerbitan majalah internal instansi. Mengurusi majalah ini merupakan sebuah pengalaman baru yang menantang, tetapi saya nikmati dengan sepenuh hati.

Di sana saya menemukan banyak hal baru termasuk di antaranya mengenalkan saya pada banyak kepala daerah di beberapa provinsi di Indonesia. Sebuah pengalaman yang tak akan saya dapatkan jika saya tak mengambil hikmah dari penugasan yang sungguh di luar perkiraan, sekaligus karena senantiasa belajar dari ketidaknyamanan.

Perjalanan Awal Menulis Buku

Pengalaman berpindah-pindah posisi dan penugasan dalam birokrasi tersebut saya rangkai menjadi sebuah buku motivasi saya yang pertama, dengan judul Anything is Possible. Buku ini terbit pada bulan Mei 2012, berisi kumpulan cerita yang saya tulis tentang pengalaman bagaimana mengelola sebuah penerbitan majalah, termasuk bagaimana cara menemukan kunci sukses para kepala daerah selama membangun daerahnya.

Pengalaman bertungkus lumus menerbitkan buku juga saya singgung di buku ini. Tak pernah saya duga sebelumnya, buku ini cukup mendapat tempat di hati para pembaca. Berkat bantuan salah seorang pejabat pemerintah daerah di salah satu kabupaten di Sumatera Barat kala itu, saya bahkan pernah diwawancarai oleh sebuah harian lokal yang cukup dikenal di Sumatera Barat. Isinya terkait pengalaman menulis dan mengupas isi buku Anything is Possible ini.

Pelajaran yang saya petik adalah, hendaknya kita senantiasa mensyukuri setiap kejadian yang pada awalnya tampak tak sesuai harapan. Meski muncul rasa tidak nyaman, tapi sebisa mungkin kondisi itu kita ubah menjadi  sebuah peluang, sehingga kita dapat mengambil manfaat atas kejadian atau ketidaknyamanan tersebut.

Setelah buku ‘Anything is Possible’ kemudian terbitlah lagi buku ‘Birokrat Move On’ pada akhir tahun 2013. Buku ini merupakan kumpulan tulisan saya di waktu senggang, misalnya saat perjalanan dinas dan di antara keseharian. Buku tersebut memuat catatan tentang bagaimana saya melihat berbagai fenomena hidup dan kehidupan.

Boleh dikatakan pula bahwa buku ini adalah kumpulan ketidaknyamanan dan tantangan yang saya ubah menjadi tulisan-tulisan. Buku berwarna merah putih ini juga pernah dibedah di Kementerian PAN & RB dan disambut dengan antusias di kalangan birokrasi pemerintahan.

Belum puas dengan ‘Birokrat Move On’, saya menulis lagi Buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’, yang kemudian diterbitkan pada bulan April 2015. Buku ini pernah diulas dalam bentuk talk show di Kementerian PAN & RB di bulan Mei 2015, dengan menghadirkan Hilbram Dunar, sang presenter program TV Mario Teguh yang sangat terkenal kala itu, sebagai host-nya.

Terbitnya buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’ makin membuat saya bersemangat. Beberapa kali saya diundang di beberapa tempat untuk menjadi narasumber acara tentang kepenulisan. Beberapa di antaranya bisa saya penuhi, tetapi tidak seluruhnya. Sebab, tugas sebagai birokrat di sebuah institusi pemerintahan tetap menjadi prioritas utama.

Tema Birokrat Dalam Buku

Tentu saja yang paling menyita perhatian adalah terbitnya buku berjudul ‘Birokrat Menulis’ pada awal Desember 2016. Sebelum terbit secara luas, soft launching buku ini diadakan pada tanggal 1 September 2016. Dalam acara itu, hadirlah beberapa tokoh pemerintahan, di antaranya Prof Dr Irwan Prajitno, MSc., Gubernur Sumatera Barat 2010-2015 dan 2015-2020; dan Dr Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas RI 2014-2015 yang saat ini menjabat Komisaris Utama Bank BRI.

Selain dua nama tersebut, hadir pula Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian PAN dan RB, Ibu Rini Widyantini SH, MPM, serta Deputi SDM Aparatur Kementerian PAN dan RB, Bapak Dr Ir Setiawan Wangsaatmadja. Di penghujung acara juga hadir Bapak Dwi Wahyu Atmaji, Sesmen PAN dan RB serta beberapa orang pejabat eselon 2,3, dan 4 lainnya dari Kementerian PAN dan RB, BPKP, dan LAN RI. Bagi saya, adalah sebuah kebanggan tersendiri karena soft launching buku Birokrat Menulis tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting dan mendapat apresiasi yang luar biasa.

Sebagai kelanjutan dari buku berjudul Birokrat Menulis yang sangat nge-hits, buku bertajuk ‘Birokrat Menulis 2’ telah dapat dinikmati oleh para pembaca pada awal Januari 2019 lalu. Peluncurannya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri karena sempat beberapa kali tertunda dengan alasan teknis dan nonteknis. ‘Birokrat Menulis 2, Merangkai Kata dengan Cinta’ adalah buku terbaru yang saya harapkan bisa lebih diminati daripada buku-buku saya terdahulu.

Buku itu mengulas banyak hal tentang persahabatan, kesabaran, keikhlasan, dan harapan dikaitkan dengan pengalaman saya selama mengabdi di birokrasi dan kepenulisan. Beberapa ulasan terkait reformasi birokrasi juga diulas dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Buku ini makin melengkapi saripati dan dinamika perjalanan saya di birokrasi pemerintahan selama beberapa tahun terakhir, yang rasa-rasanya kian lama kian menantang.

Persembahan Untuk Instansi

Saya terus berjalan lurus dan juga fokus bekerja di instansi yang selama ini banyak memberi pengalaman dalam berbagai hal terutama reformasi birokrasi. Tanpa perlu mengindahkan pandangan orang lain, saya tetap fokus dan terus belajar dari pengalaman untuk menghasilkan tulisan. Selain itu, berdiskusi dengan banyak orang membuat kemampuan saya meramu kata menjadi makin meningkat.

Di sisi lain, kecintaan saya pada institusi yang telah membesarkan saya selama ini pulalah yang mendorong saya untuk menulis buku terkait standar operasional prosedur (SOP) administrasi pemerintahan dan proses bisnis instansi pemerintah.

Keduanya adalah buku yang sangat dibutuhkan oleh aparatur pemerintah dalam memahami pentingnya SOP dan proses bisnis dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedua buku ini masih berada dalam tahap revisi untuk cetakan terbaru, dengan harapan setelahnya akan makin banyak orang yang mendapat manfaat dari buku tersebut.

Epilog

Sebagaimana saya tuliskan pada bagian awal, pengalaman hidup saya dalam berkarir adalah bahan untuk belajar yang membuat saya tidak bergantung pada makhluk dan menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, maka kita dapat menjalani hidup ini menjadi lebih mudah.

Pada akhirnya, jika ada orang yang tidak senang dengan karya dan prestasi kita, biarkan saja tidak perlu diambil pusing. Kita harus yakin bahwa hal itu justru membuat kita terus berupaya mencari solusi agar hidup ini terus bermakna.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah buku “Balas Dendam yang Sangat Manis” karya A.K. Dikatakan di dalamnya:

“Dalam hidup ini, mungkin kau akan dipertemukan dengan orang-orang yang jahat, orang-orang yang memanfaatkanmu, orang orang yang memanipulasimu, orang-orang yang tidak menghormatimu, dan orang-orang yang menyakitimu. Untuk apa? Karena orang-orang itulah yang kau butuhkan untuk menjadi lebih dewasa, untuk menjadi lebih kuat, dan untuk menjadi lebih beriman. Orang-orang yang datang menyakitimu adalah orang-orang yang sebenarnya kau butuhkan agar kau menjadi pribadi yang lebih hebat.”

Saya kian sepakat dengan pernyataan itu. Saya telah membuktikannya sendiri.

Tak mudah bagi seorang birokrat untuk terus berkarya di tengah deraan pekerjaan tiada henti. Namun kebulatan hati serta tekad dan semangat membuat saya bisa bertahan sejauh ini. Teruslah melangkah, lawan ketidaknyamanan dengan karya. Tetaplah menulis dan berkontribusi untuk negeri dengan melakukan hal terbaik sesuai bidang masing-masing. Selamat berkarya, menulislah!

 

 

29
0
Menyelamatkan Pengetahuan Lokal, Melestarikan Alam:  Kisah Blusukan di ‘Ubud Writer and Reader Festival’

Menyelamatkan Pengetahuan Lokal, Melestarikan Alam: Kisah Blusukan di ‘Ubud Writer and Reader Festival’

Hasrat njajah deso milangkori saya sebenarnya sudah jauh turun dibandingkan dua puluh tahun lalu. Karena itulah terkadang saya merasa cukup berdiam diri di kamar kos di hari Sabtu dan Minggu. Dulu saya suka blusukan tanpa arah. Satu hal yang paling saya sukai dari aktivitas tersebut adalah ketika saya tersesat. Lucu dan tidak terlupakan.

Pertengahan Okteber lalu, tanpa sengaja saya membaca status teman yang ingin datang di Ubud Writer and Reader Festival  (UWRF). Segeralah saya bertanya ke mbah Google. Mata saya langsung berbinar karena acara tersebut diselenggarakan pada saat yang sama dengan penugasan saya ke Denpasar. Sebagaimana kalimat pertama dalam tulisan ini, banyak sekali godaan yang mengendurkan niat tersebut,. Saya pun ragu, ya atau tidak, ya atau tidak.

Keraguan yang Meyakinkan

Ada banyak pertimbangan yang membuat saya ‘maju mundur’. Ubud, lokasinya bukan di kota Denpasar, tapi di Gianyar. Saya cek di aplikasi penyedia layanan transportasi tarifnya mencapai 100 ribuan dari hotel yang saya tinggali. Harga tersebut tentu juga mencerminkan jarak yang lumayan jauh nan ngaluk-aluk.

Di sisi lain, entah bisikan dari mana, ada keyakinan bahwa saya harus ke sana. Sayang dilewatkan, begitu pikir saya. Belum tentu (atau sudah pasti, ya) tahun-tahun ke depan saya bisa mengunjungi karena jaraknya jauh dari Jakarta maupun Makassar. Sementara, ini momennya pas, pas saya ada di Denpasar.

Alasan yang cukup kuat bukan? Ternyata tidak juga, karena langsung dibantah bisikan lain, ah, di Makassar juga sering diselenggarakan “Makassar Writer Festival,” untuk apa ke Ubud.

Pertarungan bisikan itu akhirnya berakhir dengan, “Yo wis lah tak mrono” (Ya sudahlah saya kesana- red). Ubud memiliki karakter daerah yang berbeda dengan Makassar. Jadi, festival yang diselenggarakan di Ubud dan di Makassar tentu berbeda.

Niat itu ternyata masih diuji. Dini hari jelang ke Ubud, sekitar jam 03.30, betis saya terasa kram. Tidak lama, paling sekitar tiga puluh detik, tapi sempat membuat saya meringis kesakitan. Sewaktu saya coba jalan, rasa bekas-bekas kram masih ada. Wah, jangan-jangan ini isyarat supaya saya jangan ke Ubud. Setelah satu jam, rasa sakit itu pun pergi.

Jadilah pagi itu saya mbolang (menyerupai bocah petualang-red) sendiri. Niatnya, mengulang keter-blasuk-blasukan saya sekian tahun silam. Sebenarnya saya ingin naik angkutan umum, seperti bis atau angkutan kota. Sayangnya, moda transportasi ini sudah sulit ditemuan di Bali. Masyarakat lebih suka mengendarai motor untuk bepergian. Selain menghemat, banyak hal menarik yang bisa ditangkap ketika saya memakai bis atau angkutan kota.

Diskusi Lokal Rasa Internasional

Sekitar pukul 10.30 sampailah saya di lokasi. Masih sepi. Hanya beberapa orang berlalu lalang.  Saat itu sedang berlangsung program utama yang mengupas tentang local wisdom. Sekitar dua ratusan orang asyik menyimak paparan aktivis lingkungan tentang bagamana seharusnya mengelola alam.

Sebagaimana prediksi saya, kebanyakan yang hadir adalah ‘orang Inggris’, sebutan bule oleh anak saya saat ia berusia delapan tahun. Dari beberapa yang menyimak acara tersebut, hanya beberapa yang saya dapati berambut hitam seperti saya. Ini lah yang sepertinya membuat Ubud Writer and Reader Festival berbeda dengan yang diselenggarakan di Makassar.

Tentu, ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa orang Indonesia tidak memiliki minat terhadap festival tersebut. Faktor lokasilah yang menurut saya menjadi pengaruh yang cukup signifikan. Andai Festival tersebut di selenggarakan di Denpasar, saya yakin akan banyak orang Indonesia yang mengunjungi. Meski saya belum pernah datang di Writer Festival di Makassar, dari hasil ‘googlingan’ terlihat banyaknya orang Indonesia yang hadir.

Lha Ubud sendiri kan memang penduduk bule-nya banyak. Belum lagi, tidak ada bis atau angkutan umum murah meriah menuju lokasi. Jadi sangatlah wajar kalau yang datang pun kebanyakan orang asing yang tidak asing dengan Ubud. Kebalikan dengan saya, bukan orang asing yang asing dengan Ubud.

Langsung saya mengambil tempat duduk, lalu menyimak diskusi. Dari menit pertama persimakan, saya sudah dibuat bergumam, “Aha, impas sudah mbolang saya.” Para pembicara yang sedang membahas tentang local wisdom ini menyuarakan bagaimana menjaga bahasa lokal, kisah dan pengetahuan, serta memberdayakan komunitas di Indonesia. Pemahaman akan kearifan lokal diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pentignya Pengetahuan Lokal

Dalam banyak hal, masyarakat lokal memiliki pengetahuan untuk untuk mengelola alam dan sekitarnya. Sayangnya, dalam penyusunan kebijakan, pengetahuan-pengetahuan tersebut sering diabaikan. Misalnya, sebelum terjadi gempa di Palu, tanda-tanda alam seperti perubahan perilaku hewan sudah terlihat.

Leluhur memiliki pengetahuan lokal akan hal ini. Mereka juga memahami mana area-area bumi yang dapat dimanfaatkan dan mana yang dilarang. Hal ini disampaikan oleh Rukmini Toheke pendiri Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro yang bergerak dalam upaya untuk mendukung dan menguatkan peran perempuan. Rukmini juga mendorong agar pengetahuan-pengetahuan lokal untuk menjaga bumi tetap terpelihara melalui penddikan kepada generasi-generasi muda.

Pentingnya pengetahuan lokal ini juga terlihat ketika terjadi tsunami di Aceh. Saat itu ada suatu area yang jumlah korbannya sangat sedikit. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah karena masyarakat di daerah tersebut mampu mendengarkan suara alam yang merupakan pengetahuan lokal yang diturunkan antar generasi.

Menariknya, pengetahuan lokal ini justru banyak dimiliki oleh para wanita, para ibu.  Salah satu pembicara saat itu adalah Sanne Van Oort, pendiri Mother Jungle yang mendukung para ibu pada masyarakat adat untuk melestarikan pengetahuan melalui tradisi bercerita sebagai bagian dari budaya dan konservasi lingkungan.

Mother Jungle menawarkan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan baik untuk individu ataupun kelompok untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru guna membangun dunia yang lebih berkesinambungan untuk generasi masa depan.

Menurut Sanne, perempuan adat memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi agen perubahan. Mereka berhasil hidup bertahun-tahun di hutan. Dari merekalah kita dapat belajar bagaimana memanfaatkan hutan tanpa merusaknya.

Kita juga bisa belajar bagaimana mereka mengajarkan pengetahuan-pengetahuan tersebut kepada anak-anaknya secara turun temurun. Sayangnya, dalam banyak hal, tanah mereka diambil dan hak-hak dasar mereka tidak dihormati. Karena itulah, menurut Sanne, Mother Jungle mengambil peran untuk mendorong para perempuan untuk bersuara.

Menarik bukan?

Melestarikan Pengetahuan

Bagi saya yang dua hari sebelumnya baru saja mengikuti FGD tentang knowledge management systems (KMS), duduk bersama dan mendengarkan para aktivis lingkungan ini jelas memperkaya materi yang saya dapatkan. Setidaknya, pertama, saya semakin memahami mengapa kita harus melestarikan knowledge.

Kedua, sosok Sanne Van Oort menjadi menarik karena ia, yang bukan asli Indonesia, begitu termotivasi untuk mengumpulkan knowledge masyarakat adat di Indonesia. Tentu, ini menjadi refleksi tersendiri bahwa terkadang hal-hal semacam ini sering terabaikan.

Ketiga, meng-capture knowledge itu memang tidak mudah, meski juga tidak berarti tidak mungkin. Menggali informasi dari para perempuan adat tentu tidak semudah mencari jawab dari para public figure.

Dalam banyak hal, struktur masyarakat kita belum memberikan kesempatan pada perempuan untuk bersuara. Karena itulah, tantangan yang dihadapi oleh para aktivis ini adalah bagaimana melakukan pendekatan baik kepada para perempuan tersebut agar memeliki keberanian untuk berbicara.

Hal yang sama juga terjadi dalam proses ketika kita ingin meng-capture knowledge dalam suatu organisasi. Berbeda dengan konteks masyarakat adat, anggota organisasi butuh insentif lain agar mau berbagi tacit knowledge-nya untuk organisasi.

Sebagaimana juga knowledge komunitas adat yang bisa hilang jika tidak dilestarikan, knowledge organisasi juga bisa musnah seiring dengan kepergian para anggotanya baik karena pindah, pensiun, atau meninggal.

Epilog

Kembali kepada penjajahan deso milangkori saya, usai diskusi para peserta dipersilakan foto dan chitchat-an atau mengobrol dengan pembicara. Saya tetap duduk di kursi sembari berfikir untuk menanyakan sesuatu kepada pembicara. Kalaupun bertanya, saya pun belum tau apa yang yang mesti saya tanyakan. Di sisi lain, sayang kalau saya melewatkan kesempatan mengobrol dengan pembicara.

Setelah beberapa menit, saya pun maju menghampiri pembicara. Masih ada beberapa orang yang mengantri untuk berbicara dengan mereka. Saya masih belum terfikir secara jelas apa yang akan saya tanyakan. Beberapa menit pun berlalu hingga…aha… saya merasa bahwa saya harus berbicara dengannya, harus!

Tiba giliran, saya  pun memperkenalkan diri pada Sanne. Saya sampaikan bahwa saya adalah government official dan baru saja mengikuti FGD tentang KMS. Saya katakan pula bahwa apa yang dia sampaikan sangat bermanfaat sekali buat saya.

Dia sangat antusias saat saya katakan bahwa saya dari government karena hal-hal seperti apa yang dia sampaikan perlu diketahui oleh pemerintah. Tentu, agar kebijakan yang diambil juga turut mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan lokal masyarakat setempat.

Di akhir pembicaraan, saya tanyakan apakah dia bersedia diundang ke kantor suatu saat. Sure, begitu jawabnya. Yang pasti, tak lupa saya pun berselfie dengannya sebelum kami bertukar nomor handphone.

Begitulah ending kisah blusukan yang menarik dan tidak saya sangka. Hal-hal indah seperti itulah yang selalu saya percayai ketika saya ingin njajah deso milangkori, selalu ada yang baru dan menyegarkan dalam setiap kisah petualangan.***

 

 

0
0
Kemenkeu Mengajar: Menebar Inspirasi Memupuk Cinta Pada Negeri

Kemenkeu Mengajar: Menebar Inspirasi Memupuk Cinta Pada Negeri

Pagi ini aktivitas yang kulalui terasa sangat nyaman. Suara mesin yang kudengar berbeda dengan suara mesin di hari biasanya. Sesama pengendara lebih bersahabat, melambaikan tangan saling sapa, tidak ada “perang klakson”, dan tidak terdengar pula umpatan “sampah” di antara mereka.

Ya….pagi ini kulalui perjalanan dengan kapal menuju Pulau Tidung, salah satu pulau di Kepulauan Seribu untuk melaksanakan tugas sebagai relawan Kemenkeu Mengajar (KM).

Sesampai di tujuan, penduduk setempat menyambut hangat dan membantu menyandarkan kapal yang kami tumpangi. Kami pun segera turun dan bergegas ke sekolah tempat di mana kami akan mengajar.

Sekilas Tentang Kemenkeu Mengajar

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), institusi yang sarat akan prestasi dan selalu mendorong pegawainya untuk tulus mengabdi, memiliki Program Kemenkeu Mengajar yang dilaksanakan selama satu hari di sekolah dasar.

Dalam program ini relawan akan mengajarkan tentang peran dan upaya Kemenkeu dalam menjaga ekonomi negeri dan mengenalkan profesi yang ada di Kemenkeu. Relawan juga akan mengajarkan nilai-nilai dan semangat yang dibawa oleh Kemenkeu.

Kegiatan ini mengusung semangat kesukarelaan. Panitia tidak memungut biaya apa pun pada sekolah dan pegawai yang mengikuti. Relawan KM juga tidak akan mendapatkan pembayaran, baik honor maupun SPD. Biaya yang ditimbulkan atas penyelenggaraan kegiatan ini tidak dibebankan pada APBN (Non-APBN).

Program KM sudah berjalan selama tiga tahun dan dilakukan secara serentak di seluruh pelosok negeri. Minat pegawai Kemenkeu untuk menjadi relawan KM sangat tinggi. Oleh karena itu, proses rekrutmen calon relawan pun dilakukan beberapa bulan sebelum program KM dilaksanakan.

Di unit kami Program KM adalah program yang ditunggu-tunggu, termasuk saya. Pada saat apply ke sistem rekrutmen KM masing-masing calon relawan harus memiliki bahan ajar dan strategi mengajar yang menarik agar dapat terpilih sebagai relawan pengajar.

Pelaksanaan Kemenkeu Mengajar

Setelah terpilih, relawan KM kemudian dibagi dalam beberapa kelompok. Kami dikumpulkan untuk mendapat briefing dari para praktisi pendidikan termasuk dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar proses belajar-mengajar berjalan profesional dan sesuai etika yang berlaku.

Pertemuan berikutnya diserahkan kepada masing-masing kelompok yang dikoordinir oleh seorang pegawai yang ditunjuk sebagai fasilitator kelompok. Pertemuan kelompok ini dilakukan beberapa kali di luar jam kantor untuk membahas bahan ajar, pembagian kelas, sharing pengalaman dengan relawan KM tahun sebelumnya, dan berapa besarnya iuran oleh masing-masing relawan.

Iuran ini digunakan untuk pembuatan spanduk, plakat, topi lingkar, name tag, kaos, konsumsi, transportasi dan sebagainya. Fasilitator juga bertugas melakukan koordinasi dengan pihak sekolah agar kegiatan KM tidak mengganggu agenda sekolah.

Hari Senin, 22 Oktober 2018 adalah hari kami bertugas mengajar. Kegiatan dimulai dengan mengikuti upacara bendera, lalu dilanjutkan dengan bermain bersama di lapangan upacara. Selanjutnya kami memasuki kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Menurut jadwal, saya mengajar dari pagi sampai siang di kelas 1, kelas 2, dan terakhir kelas 3. Sesi pertama dimulai dengan mengenalkan diri dan membagikan topi lingkar dengan nama sebagai tanda pengenal mereka. Sebelum memulai belajar, kami pun berdoa bersama. Tak lupa saya ajak ketua kelas untuk memimpin doa yang ditujukan untuk teman kelasnya yang tidak hadir karena sakit.

Sebelum memasuki sesi berikutnya, saya berikan ice breaking sederhana. Hal ini merupakan salah satu strategi efektif untuk mengembalikan suasana belajar yang diinginkan, ketika suasana bermain di antara mereka sudah melewati dari yang seharusnya.

Satu hal yang menjadi perhatian kami adalah bahwa mengajar bukan ajang menunjukkan kehebatan kita, tetapi bagaimana membuat pembelajar menjadi hebat. Mengajar dengan cara yang menyenangkan itu baik, tetapi mengajar tidak hanya bersenang-senang.

Sesi utama yang saya sampaikan adalah pengenalan institusi Kemenkeu, khususnya bagaimana unit-unit kerja yang ada di kemenkeu dalam menjalankan tugas dan fungsinya bersinergi mengelola APBN.

Termasuk dalam hal ini sinergi dalam mengumpulkan pajak sebagai sumber penerimaan negara dan juga sinergi dalam mengatur pengeluaran/belanja negara secara efisien dan efektif dengan tetap memperhatikan sisi akuntabilitasnya.

Saya juga mengenalkan nilai-nilai Kemenkeu, bagaimana refleksi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan dapat diterapkan oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja penyampaian semua materi di atas saya kemas sesuai dengan tingkatan kelas dan umur mereka agar tujuan pembelajaran tercapai dan menciptakan suasana gembira karena diselingi permainan.

Menumbuhkan Mimpi, Membangun Kejujuran

Satu hal lagi yang cukup menarik ketika saya mencoba menggali mimpi dan cita-cita mereka serta berusaha memotivasi mereka agar dapat meraih mimpi itu. Cita-cita mereka pada umumnya sama seperti anak sebaya lainnya, yaitu dokter, polisi, tentara, pemain sepakbola dan lainnya.

Saya mencoba menjelaskan bahwa pada dasarnya cita-cita kita tak boleh dibatasi oleh keadaan. Semua Cita-cita mereka adalah baik dan dapat diraih dengan cara belajar yang tekun, berdo’a, taat kepada orang tua dan guru, selalu berbuat baik dan tidak sombong.

Kemudian saya sampaikan juga hal-hal terkait profesi yang ada di sekitar kita. Saya juga menekankan bahwa semua profesi itu baik selama dilaksanakan dengan jujur, tidak korupsi, serta selalu memberikan yang terbaik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai penutup adalah atraksi kimia laboratorium Bea dan Cukai yang dilaksanakan di halaman sekolah, penyampaian plakat/sertifikat penghargaan kepada sekolah atas partisipasinya, dan salam perpisahan.

Demikian dari kami untuk negeri.

 

 

0
0
Menyadari Keterbatasan Energi:  Kisah Perjalanan Dinas Lapangan Pertama

Menyadari Keterbatasan Energi: Kisah Perjalanan Dinas Lapangan Pertama

Pengantar

Tulisan ini saya buat bukan untuk membanggakan 12 jam perjalanan saya, bukan pula untuk menyombongkan kesempatan yang saya lalui, apalagi  untuk menampilkan ego sektoral tempat saya mengabdi.

Bukan juga untuk menggurui Anda, para pembaca, karena saya tahu bahwa ilmu saya jauh lebih cetek dari Anda. Pengalaman saya juga tidak ada seujung kuku pun dari Anda. Jadi, tulisan ini lebih kepada untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Ada hikmah yang saya rasakan saat perjalanan dinas pertama saya yang ingin saya bagi sebagai pengingat untuk saya sendiri di kemudian hari, ataupun sekedar penambah referensi dan pandangan Anda.

 Perjalanan Dinas Lapangan Pertama

Tahun 2015 adalah awal saya menjalani bakti sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di kementerian yang mengurusi bidang energi. Sebagai pegawai yang belum lama menggeluti bidang ini, ada hal menarik yang ingin saya bagi kepada Anda, ketika saya ditugaskan melakukan perjalanan dinas pertama ke lapangan.

Saya ditugasi pimpinan untuk melakukan inventarisasi  dan pemeriksaan fisik barang milik negara (BMN) di empat kabupaten di Provinsi Bengkulu. Salah satu aset BMN yang menjadi tanggung jawab tim saya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 15 kWp yang dibangun di Desa Sinar Pagi, Kecamatan Seluma Utara, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Perjalanan Menuju Desa-Desa di Seluma Utara

Desa Sinar Pagi terletak di salah satu bukit di deretan Bukit Barisan nan perkasa yang menopang Pulau Sumatera di Lempeng Eurosia. Bukit tersebut berada di perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Selatan. Desa Sinar Pagi berpenduduk sekitar 800 jiwa.

Untuk mencapai desa tersebut sangat tidak mudah. Sebelum berangkat ke lokasi, tim saya mesti menempuh waktu 90 menit dari Kota Bengkulu menuju pusat perkantoran Kabupaten Seluma, Pematang Aur untuk berkoordinasi dengan dinas terkait sebelum ke lokasi. Dari kantor dinas tersebut, kami baru bergerak menuju ke lokasi PLTS Terpusat yang dibangun menggunakan dana APBN.

Tiga puluh menit pertama perjalanan, jalan yang kami lalui masih bagus nan mulus. Sepertinya jalan tersebut adalah jalan provinsi. Selepas waktu tersebut, mulai dari ujung aspal  jalan provinsi itu hingga satu setengah jam perjalanan kemudian, jalan yang kami lalui adalah jalan berlubang dan berbatu.

Beberapa kali mobil yang kami tumpangi tidak kuat menanjak di jalan berkontur kasar tersebut sehingga kami pun harus turun dari mobil agar pengemudi dapat melewati rintangannya.

Tiba di Desa Talang Empat, bapak pengemudi menyerah untuk melanjutkan perjalanan sampai pada titik yang lebih jauh karena pertimbangan faktor keselamatan mobil serta penumpang.

Diputuskan bahwa ketua tim saya, perwakilan dari dinas daerah, dan saya sendiri yang melanjutkan perjalanan ke atas hingga ke lokasi PLTS. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan motor modifikasi kepunyaan warga setempat yang telah hafal dengan medan jalan yang mesti dilalui.

Setelah 45 menit berboncengan naik motor modifikasi di jalanan yang semakin memprihatinkan, kami diminta turun ketika melewati sebuah jembatan gantung yang dibuat dari kabel baja. Jembatan tersebut menghubungkan dua bukit yang terbelah oleh sungai. Punggung  bukit seberang jembatan adalah lokasi modul surya tersebut dibangun.

Perjalanan dari seberang sungai hingga ke Desa Sinar Pagi kami tempuh selama hampir 1 jam dengan menggunakan motor yang telah bertransformasi. Namun, saya lebih banyak berjalan mendaki bukit ketimbang menaikinya karena jalan setapak yang sangat kecil dan curam. Energi yang dibutuhkan untuk tracking tersebut rasanya sama dengan half marathon yang saya ikuti di bulan sebelumnya.

PLTS Sebagai Solusi Terbaik

Sesampainya kami di lokasi semua rasa lelah terasa hilang tak bersisa setelah mengetahui bahwa PLTS Terpusat masih dalam kondisi terawat baik dan dimanfaatkan dengan tepat oleh penduduk Desa Sinar Pagi. Mereka merasa sangat terbantu dan bersyukur atas bantuan yang memang mereka butuhkan itu.

Beberapa desa di punggung bukit hanya dihuni oleh kurang lebih 125 kepala keluarga. Secara ekonomis, sepertinya Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak bersedia membangun fasilitas listrik di desa yang dipimpin oleh seorang ibu ini. PLTS Terpusat ini lah yang saat ini menjadi solusi terbaik, meskipun seharusnya bukan menjadi solusi permanen.

PLTS ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa. Setiap kepala keluarga membayar iuran Rp20.000,00 tiap bulan untuk mendanai biaya operasional pembangkit listrik cahaya matahari ini. Salah seorang di antara mereka telah dilatih dan dididik untuk merawat dan mengoperasikan PLTS Terpusat dengan 78 battery ini. Bang Asti namanya.

Sebagai informasi, penduduk Desa Sinar Pagi rata-rata mencari nafkah dengan berkebun kopi dan tanaman produktif lainnya di sekitaran bukit tempat mereka bermukim. Ketika beristirahat di salah satu rumah penduduk, kami disuguhi kopi yang mereka petik dari kebun sendiri dan ditumbuk sendiri hingga menjadi bubuk kopi yang siap seduh.

Kemudian, kopi tersebut dihidangkan dengan air matang yang direbus dengan menggunakan kayu bakar dan sedikit gula. Menyeruput kopi sembari memandang matahari yang mulai tenggelam di balik kebun milik masyarakat, membuat saya sempat terpikir kenapa mereka tidak pindah saja ke desa yang lebih mudah diakses dengan fasilitas yang lengkap.

Bijaksana dalam Keterbatasan

Masyarakat Desa Sinar Pagi, yang saya amati, pendidikannya tidak lebih tinggi dari kita semua, tetapi telah menyadari arti penting dari energi listrik sehingga mereka menggunakannya dengan sangat bijak dan teliti dengan mengamalkan prinsip-prinsip penghematan energi.

Keterbatasan energi listrik yang mereka dapatkan, membuat mereka memilih menggunakannya pada hal-hal penting dan bermanfaat. Lampu penerangan di malam hari digunakan untuk belajar anak-anak mereka atau untuk mengisi kembali daya pada  alat komunikasi mereka.

Semua mereka lakukan dengan perhitungan dan pertimbangan yang bijak pada daya yang dapat dihasilkan oleh PLTS dan dapat mereka gunakan pada hari itu.

Saya yakin, ketika mereka mampu, mereka tidak akan tidur dengan AC yang diatur pada suhu 22 derajat celcius, tetapi lebih memilih memakai selimut tebal atau double. Mereka tidak akan lupa mematikan lampu kamar mandi ketika tidak dipakai. Mereka tidak akan lupa mematikan kulkas ketika tidak ada isinya. Ya, mereka telah terbiasa dengan kehidupan dengan supply energi listrik yang terbatas.

Epilog

Lalu, bagaimana dengan kita, termasuk saya? Apakah kita terlena dengan ketersediaan energi listrik yang melimpah dan jarang terjadi gangguan seperti yang kita rasakan? Faktanya, kondisi sebenarnya tidaklah seindah yang selama ini kita pahami. Negara kita akan kehabisan sumber energi primer untuk pembangkit listrik hanya dalam beberapa puluh tahun lagi.

Kita perlu menyadari bahwa hidup hemat energi dan efisien dalam pengunaan energi listrik adalah hal yang dapat, bahkan wajib kita lakukan bersama, dalam rangka menyelamatkan kita dari krisis energi suatu saat nanti. Walaupun mungkin hanya dapat menunda krisis beberapa puluh tahun, tetapi itu pasti sangat membantu kehidupan kita hari ini.

Hidup hemat energi itu gampang dan tidak susah dipraktikkan. Saudara sebangsa dari rekan-rekan yang hidup di Desa Sinar Pagi, Seluma, Bengkulu telah membuktikannya. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan rasa keterpaksaan untuk berhemat pada diri sendiri.

Kisah yang sederhana ini mungkin dapat  mengubah cara pandang kita tentang pentingnya memanfaatkan energi bagi kehidupan kita.

Salam.

 

 

0
0
Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

Berangkat Ke Melbourne

Pada pertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN). Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship (AAS).

Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat. Seperti yang saya alami, seorang ASN yang mengambil CLTN tidak akan mendapatkan gaji, tunjangan, dan masa kerja selama CTLN tidak akan dihitung. Masa kerja saya yang seharusnya 21 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun, baru akan saya terima 3 tahun lagi. Yang paling berat, selama cuti, tidak ada SMS Cinta dari 3355 (bagi pengguna rekening Mandiri pasti tahu isinya).

Pada umumnya ASN mengambil CLTN karena mengikuti suami/istrinya yang kuliah di luar negeri. Namun, ada juga ASN yang mengambil cuti jenis ini karena ingin merawat orang tua atau  anak yang sedang sakit. Ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja di lembaga lain (umumnya  lembaga multinasional), memulai berbisnis, atau alasan lainnya sepanjang disetujui oleh instansi tempatnya bernaung.

Bagi ASN yang sudah menduduki jabatan, maka konsekuensi dari pengambilan CLTN adalah kehilangan jabatan. Padahal, saat itu saya sudah menduduki jabatan kepala kantor. Ketika kembali aktif maka akan memulai lagi dengan posisi pelaksana. Akankah bisa kembali ke jabatan semula? Saya berserah diri pada Allah SWT.

Prosedur pengajuan CLTN yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat surat permohonan cuti dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alasan CLTN yang saya ajukan adalah mengikuti suami yang studi di Victoria University, Melbourne. Dokumen yang saya sampaikan adalah surat bahwa dia diterima kuliah (Letter of Acceptance).
  2. Surat permohonan cuti diajukan ke pejabat yang menangani kepegawaian. Di lingkungan kerja saya pejabatnya adalah Sekretaris Badan.
  3. Surat ini kemudian disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Biro SDM kementerian.
  4. Surat CLTN diproses oleh BKN dan akhirnya nota persetujuan disampaikan kepada Kementerian Keuangan.
  5. Kementerian Keuangan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa saya sedang melaksanakan CLTN untuk periode tertentu (sesuai dengan masa studi suami).

Setelah izin cuti keluar, maka saya pun terbang ke Melbourne untuk menyusul suami yang sudah berangkat 4 bulan sebelumnya. Alhamdulillah, untuk keperluan pembuatan visa untuk masuk ke Australia ditangani langsung oleh perwakilan AAS di Jakarta.

Aktivitas Keseharian di Melbourne

Selama melaksanakan cuti, saya tinggal di Melbourne mengurus anak-anak dan suami selama 24 jam tanpa pembantu. Saya sangat menikmati cuti ini karena selama ini semua urusan anak-anak saya serahkan ke asisten rumah tangga. Jarang sekali saya ikut mempersiapkan sarapan dan bekal mereka ke sekolah.

Di Melbourne saya harus menyiapkan sarapan di pagi hari, bekal makan siang, dan juga makan malam untuk keluarga. Untunglah sekolah anak-anak dimulai jam 9 pagi sehingga saya masih bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak di sekolah.

Sampai 6 bulan, saya benar-benar menikmati suasana cuti. Saya mengantar anak ke sekolah di pagi hari, lanjut berbelanja ke pasar, berbenah rumah dan memasak makan siang, lalu kembali menjemput anak. Kadang setelah mengantar anak, berdua dengan suami, saya berjalan-jalan ke pantai atau hanya berkeliling di taman-taman sekitar rumah atau sekolah anak. Kadang kala kami berdua pergi ke tempat teman di suburb lain.

Kursus Bahasa Inggris

Namun, karena terbiasa dengan aktivitas di kantor seharian penuh, saya mulai kangen dengan beragam aktivitas dari pagi hingga sore. Saya pun mulai mengikuti kursus bahasa Inggris di VU English. Suami saya adalah penerima (awardee) beasiswa AAS (Australian Award Scholarship) sehingga spouse (pasangan awardee) berhak mengikuti perkuliahan bahasa Inggris selama 5 minggu penuh. Setelah selesai dengan kegiatan kursus bahasa Inggris  maka saya memberanikan diri untuk mengambil Certificate III in early childhood education.

Sebagai seorang temporary resident, saya harus membayar penuh biaya kursus ini yang mencapai A$750, terdiri atas tuition fee A$700 dan registrasi sebesar A$50. Bagi permanent resident, mereka hanya diharuskan membayar biaya registrasi $50, tetapi biaya kursus gratis ini hanya berlaku bagi kursus yang pertama. Jika permanent resident itu mengambil kursus yang kedua dan seterusnya, mereka juga harus  membayar penuh.

Kursus diikuti bersama para permanent resident yang berasal dari berbagai bangsa. Ada Divya yang orang India, Bouakham dari Laos, Skye yang orang asli Australia, Sarita yang baru migrasi dari Pakistan, dan Grace perempuan Filipina yang baru saja menikah dengan bule Australia. Rupanya keberagaman budaya peserta menjadikan kami diminta untuk mempertunjukkan di depan kelas atau membawa makanan khas dari negara masing-masing. Pada saat diminta mempertunjukkan lagu anak-anak Indonesia, saya membawakan lagu Pelangi karya AT Mahmud.

Enam bulan berlalu dan saya pun akhirnya mendapatkan sertifikat. Sebenarnya dengan sertifikat itu, saya bisa bekerja membuka bisnis daycare di rumah dan mendapatkan penghasilan yang melebihi jumlah uang beasiswa yang diterima suami saya. Namun karena sifat  bisnis ini yang full-day dan saya dalam mode liburan, maka saya tidak menggunakan kesempatan itu.

Bekerja di Vicmart

Untuk mengisi waktu, saya mencoba bekerja di Queen Victoria Market (Vicmart) sebagai penjaga toko. Saya bekerja 3  hari dalam seminggu dari jam 08.30-14.00. Bos saya adalah seorang perempuan Vietnam yang baik hati bernama Lily. Bagaimana ceritanya saya bisa bekerja di Pasar Vicmart? Tetangga saya dimintai tolong oleh Lily untuk mencarikan teman (Indonesia) yang bisa menjaga tokonya. Kenapa mesti orang Indonesia? Rupanya para pedagang di Vicmart sangat senang karakter orang Indonesia yang mereka percayai untuk menjaga tokonya.

Orang Indonesia dinilai bekerja dengan hati, rendah hati, dan jujur. Mereka membutuhkan tiga karakter ini karena penjaga toko akan memegang uang minimal $1.000 per hari. Para pemilik toko tidak pernah menghitung jumlah barang yang terjual untuk satu hari karena mereka percaya para pegawainya yang orang Indonesia tidak akan mengambil sedolar pun uang yang dipegang dari hasil aktivitas jual-beli. Karakter inilah yang harus terus dipertahankan oleh orang Indonesia jika ingin orang Indonesia berikutnya mudah mendapatkan kerja di pasar Vicmart.

Bekerja di Vicmart menambah pergaulan saya dengan para pemilik toko di sana. Ada yang berasal dari Thailand, Skotlandia, Italia, juga China. Mereka semua sangat baik dan ramah. Jika saya tidak jaga toko satu hari saja, mereka akan menanyakan kenapa kemarin nggak masuk. Bahkan, terkadang mereka membagi makanan yang dibawa. Biasanya berupa kue-kue.

Bisnis Tempe Kecil-Kecilan

Selain bekerja di pasar, saya juga membuat dan menjual tempe segar. Ada cerita ketidakpuasan yang menjadi alasan saya mempelajari cara pembuatan tempe dan setelah berhasil saya menjual tempe segar.

Setelah beberapa minggu hidup di Melbourne, saya kangen makan tempe. Atas informasi dari teman,  saya menemukan tempe beku (frozen) di toko vegetarian. Saya baca labelnya, tempe beku itu buatan Malaysia. Lalu saya memperkirakan bahwa tempe tersebut dibuat berbulan-bulan sebelum saya beli. Juga rasanya terbilang aneh, tidak seperti rasa tempe yang biasa kita beli di Indonesia.

Mulailah saya dan suami googling tentang pembuatan tempe. Beberapa kali mencoba, akhirnya tempe pun  jadi. Ragi pun kami impor dari Surabaya, sementara kedelainya kami pakai kedelai lokal Australia. Tempe percobaan pun jadilah. Kami kemudian meng-upload-nya di WAG. Tak disangka langsung banyak pesanan dari tetangga sekitar rumah. Dari mulut ke mulut akhirnya kemampuan saya membuat tempe segar didengar orang dan banyak teman dititipi oleh teman-temannya yang di luar wilayah saya. Akhirnya tempe segar ini bisa dinikmati oleh warga Melbourne karena saya posting di media sosial.

Sambutan orang-orang Indonesia dengan adanya tempe segar ini bermacam-macam. Ada yang bilang senang banget sampai ada yang menciumi tempe tersebut, sampai saya juga akhirnya mbrebes mili (terharu). Bahkan ada orang-orang Indonesia yang tinggalnya di luar kota Melbourne sampai memesan seminggu sebelumnya, supaya ketika mereka ke Melbourne, tempenya sudah jadi.

Selain menjual tempe segar, saya juga membuat tempe mendoan, dan kering tempe. Artinya, saya memikirkan diversifikasi produk untuk menambah nilai jual. Di situlah saya memahami bahwa untuk menambah nilai jual sebuah produk ada upaya pengolahan dan bahan baku lain yang menyertai. Upaya inilah yang akhirnya menyebabkan harga jual lebih tinggi dibandingkan masih berbentuk tempe.

Dari berjualan tempe akhirnya saya banyak mengenal warga Indonesia lainnya yang tinggal di  Melbourne. Sampai sekarang pun kami  masih kontak baik melalui WA ataupun medsos. Biasanya saya dan pembeli janjian bertemu di Melbourne Central Station pada jam tertentu. Untuk pembayaran, pembeli mentransfer uangnya ke rekening suami karena saya tidak punya rekening Australia.

Begitulah hari-hari saya di Melbourne, hingga tak terasa waktu 3 tahun pun berlalu dengan cepat. Sebuah pengalaman manis yang tak akan saya lupakan. Pertengahan 2017 saya kembali ke Jakarta, berdua saja dengan si bungsu. Sementara si sulung masih tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan kelas 7, menemani bapaknya yang studinya diperpanjang karena ketiadaan supervisor.***

 

 

1
0
error: