Flight of The Treasurer: Merantau Karena SK – Pulang Karena Cinta

Flight of The Treasurer: Merantau Karena SK – Pulang Karena Cinta

Kutuliskan kisah ini bukan untuk ditiru!

Tulisan ini sekedar menggambarkan bagaimana ketika rindu berkumpul dengan keluarga mengalahkan perhitungan lainnya. Tulisan ini merupakan  pengembangan dari status pada akun facebook saya pada tanggal 12 November 2018 ketika kami, para treasurer, masih dalam suasana berduka atas kepergian rekan sejawat yang menjadi penumpang penerbangan pesawat dari maskapai Lion Air JT-610 tanggal 29 Oktober 2018.

Saya bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), yang mempunyai unit vertikal tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebanyak 34 kantor wilayah plus 183 kantor pelayanan, yang tersebar di seluruh ibukota provinsi dan kota/kabupaten, membuat DJPb menjadi salah satu unit eselon 1 terbesar di Kementerian Keuangan.

Hal itu berarti bahwa pegawai DJPb, kita sebut saja treasurer, tersebar di seluruh wilayah NKRI, yang berarti pula bahwa sebagian besar dari mereka merantau untuk melaksanakan tugas. Di antara yang merantau tersebut (mayoritas pria) sebagiannya tidak membawa serta keluarga dengan berbagai pertimbangan.

Berjauhan secara fisik dengan keluarga tentu saja mempunyai dinamika tersendiri, terutama dalam hal komunikasi sampai menjaga komitmen. Tentu saja yang tidak kalah penting adalah waktu untuk pulang mengunjungi keluarga yang harus diatur jadwalnya secara baik.

Wahana transportasi yang digunakan untuk perjalanan pun menjadi beragam. Sebagian cukup menggunakan wahana transportasi darat, mulai dari sepeda motor, mobil, bus, dan kereta api.

Sebagian lagi dipadukan dengan wahana transportasi laut, ataupun wahana transportasi udara. Bagi yang melaksanakan tugas di unit yang sangat jauh, yang untuk pulang-pergi harus menggunakan pesawat udara, tentu tidak setiap waktu dapat mengunjungi keluarga tercinta.

Selain jadwal penerbangan dan biayanya, masa hak cuti yang dimiliki juga sangat menentukan waktu kepulangan. Cuti bersama, dan hari libur nasional yang berdampingan dengan hari libur pekanan adalah salah satu waktu favorit untuk bisa pulang menemui keluarga.

Dan inilah salah satu kisah seorang treasurer ketika pulang mengunjungi keluarga.

Kala itu, hari Jum’at di bulan Mei tahun 2012, dikeluarkan pengumuman bahwa hari Senin, 3 hari berikutnya, dinyatakan sebagai hari cuti bersama karena hari Selasa merupakan hari libur nasional keagamaan. Terbayang sudah “libur panjang” bagi kami selama 4 hari.

Alangkah bahagia jika bisa berkumpul dengan keluarga di kampung (homebase) bukan di kota tempat bertugas seorang diri. Malamnya saya menghubungi istri, menyampaikan bahwa saya ingin pulang saja agar bisa berkumpul dengan dia dan anak-anak tercinta.

Saat itu seorang teman juga berencana libur di kota lain dan akan naik pesawat paling pagi esok harinya, Sabtu. Akhirnya saya berencana ikut mengantar sekaligus mencoba mencari tiket dadakan (go show, istilahnya). Kalau dapat ya syukur, tidak dapat, ya nasib.

Sabtu pagi subuh kami berangkat ke bandara. Berbekal uang di dompet sebanyak 700 ribu rupiah, tidak bertambah karena ketika mampir di anjungan tunai mandiri (ATM) sepanjang perjalanan ternyata tidak berfungsi, saya bertekad (lebih tepatnya nekad) ingin pulang.

Tiba di bandara, saya mencoba melihat situasi bagaimana agar bisa berkomunikasi dengan petugas bagian penjualan tiket. Akhirnya melalui loket kecil saya menanyakan, apakah masih tersedia tiket penerbangan (kursi kosong)? Petugas menanyakan nama dan nomor handphone, dan berjanji  akan menghubungi saya dalam beberapa menit kemudian.

Sementara itu, teman yang saya antar sudah melakukan check-in dan menuju ruang tunggu. Saya sempat berpesan kepadanya sekiranya nanti uang yang saya pegang tidak mencukupi maka saya minta padanya dipinjami uang untuk tambahan pembayaran tiket.

Dengan H2C (bukan rumus kimia, tetapi kependekan dari harap-harap cemas) saya menantikan panggilan telepon sambil menunggu di pelataran bandara. Tak lama kemudian panggilan telepon masuk. Saya angkat telepon itu dengan segera. Ternyata dari petugas tiket yang memberitahukan bahwa hanya ada satu tiket tersisa seharga Rp 1.500.000,00.

Saya pikir tinggi sekali harganya. Saya mencoba menawar dan akhirnya sepakat dengan harga Rp 1.000.000,00. Segera mungkin saya menghubungi teman yang sudah di ruang tunggu dan berhasil mendapatkan pinjaman Rp 300.000,00 untuk melengkapi kekurangannya.

Saya kemudian segera menghubungi petugas tiket. Yang bersangkutan minta berjumpa di ruangan lain bukan di ruang tiket. Uang saya serahkan dan saya hanya mendapatkan secarik kertas boarding pass. Tidak kurang tidak lebih.

Maka saya sangat terkejut ketika ternyata pada kertas tersebut yang tertulis bukan nama saya, melainkan nama seorang wanita. Tertera juga harga tiket yang sebenarnya Rp 800.000,00.

Lebih mengejutkan lagi beberapa saat kemudian saya diminta mengikutinya masuk ke ruang tunggu lalu langsung diantarkan menuju pesawat dan kursi yang harus saya duduki. Setelah itu petugas tiket tadi berbincang sejenak dengan pramugari.

Saya sempat berpikir ajaib sekali kejadian ini. Sementara penumpang lain masih di ruang tunggu dan menantikan pemberitahuan untuk boarding, saya malah diperlakukan seperti penumpang istimewa.

Beberapa menit kemudian penumpang lain berdatangan naik ke pesawat dan duduk di kursi masing-masing, sampai akhirnya pesawat bersiap lepas landas menuju bandara pertama untuk transit. Saya hanya duduk terdiam sambil berpikir bagaimana proses boarding nanti di bandara transit?

Boarding pass saya yang berbeda dengan kartu identitas diri, bisa menimbulkan masalah. Akhirnya saya hanya bisa berdoa dan berharap  semoga penerbangan ini aman dan selamat tanpa kendala.

Pesawat pun lepas landas (take-off). Penerbangan yang mendebarkan itu dimulai. Semakin tinggi pesawat ini terbang, semakin dag-dig-dug (berdebar) jantung ini rasanya. Bermunculan berbagai pertanyaan dalam benak saya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan berbagai bayangan buruk atas penerbangan ini. Nama saya tidak tercatat sebagai penumpangnya.

Bagaimana mungkin, saya yang sejak bertugas tahun 1994 di perantauan – dan jika pulang menggunakan wahana transportasi darat yaitu bus antar-kota antar-provinsi (sebelum masa low cost carrier dalam dunia penerbangan komersil) – selalu mencantumkan nama sesuai KTP karena untuk mengantisipasi risiko yang kemungkinan terjadi.

Akan tetapi hari itu saya menggunakan wahana transportasi yang mempunyai risiko tinggi sebagai seorang penumpang gelap. Sebuah kegilaan yang baru pertama kali saya lakukan dalam hidup saya. Alasan dari itu semua adalah karena kerinduan berkumpul dengan keluarga. Dalam suasana yang semacam itu, yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan memohon keselamatan kepada Tuhan.

Pesawat telah stabil pada posisi ketinggian 33.000 kaki atau sekitar 11.000 meter di udara. Sudah menjadi rutinitas maka pramugari membagikan konsumsi berupa makanan ringan, dan disusul dengan penawaran produk-produk yang sebagian berlabel nama maskapai penerbangan. Biasanya saya membeli satu produk yang harganya masih terjangkau sebagai buah tangan untuk keluarga.

Namun saat itu, jangankan membeli produk tersebut, selembar uang pecahan senilai 1.000 rupiah saja saya tidak punya. Entah karena hal apa, ternyata pramugari justru menawarkan kepada saya untuk membeli parfum yang harganya 400.000 rupiah. Dia mengatakan bahwa harga tersebut sudah sangat rendah dibandingkan harga aslinya.

Bayangkan saja, bagaimana saya harus berulang kali menolak penawaran tersebut karena selain tidak ada lagi uang saya, parfum semahal itu bukanlah produk yang selama ini saya nikmati. Terlalu mewah bagi saya. Dalam benak saya seakan berkata, “Ah, lo kagak tau aje berapa si dompet gue sekarang.

Setelah hampir 1 jam penerbangan maka pesawat akan mendarat di bandara transit. Debaran jantung saya terasa lebih keras bukan karena prosesi pendaratan (landing) namun karena membayangkan bagaimana proses keluar dan masuk kembali ke dalam pesawat. Selama ini penumpang transit selalu harus menunjukkan KTP dan Kertas boarding pass.

Apa yang akan terjadi jika pihak keamanan bandara (AVSEC) mengetahui ada penumpang tidak terdaftar dalam penerbangan ini? Kembali, doa dan doa yang saya mohonkan kepada Allah semoga semua berjalan lancar.

Pesawat sudah berada pada posisi sempurna terparkir di appron, artinya prosesi penumpang untuk keluar dan masuk pesawat akan dimulai. Kembali H2C melanda diri ini. Pramugari memberitahukan prosedurnya.

”… Bagi penumpang yang akan melanjutkan penerbangan dengan pesawat ini menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, kami mohon untuk tetap berada dalam pesawat…,” sebuah kalimat yang terdengar sangat menyejukkan hati saya yang sedang gundah.

Kalimat-kalimat lain pun seakan tidak lagi terdengar. Hanya ucapan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha-Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang terucap diiringi dengan rasa menurunnya debaran jantung ke dalam degupan yang normal. Alhamdulillah.

Prosesi keluar dan masuk penumpang berlangsung lancar dan akhirnya pesawat kembali mengudara menuju kampung halaman tercinta. Tanpa diduga ternyata masih ada “teror kecil” yang terjadi, yaitu pramugari kembali berkali-kali menawarkan produk parfum yang sangat tinggi harganya bagi saya. Astaghfirullah.

 

 

1
3
Imaji Istanbul: Antara Islam dan Politik

Imaji Istanbul: Antara Islam dan Politik

Sebuah pepatah klasik Eropa mengatakan,
“if you want riches, go to India. If you want learning, go to Europe. But if you want imperial splendour, come to the Ottoman Empire and its capital, Istanbul”.

Pepatah tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya kemegahan Imperium Ottoman dan pesona ibukotanya, Istanbul. Istanbul benar-benar kota yang eksotis dan menyihir. Eksotisme dan sihir Istanbul sebagai bekas ibukota dua negara adidaya dunia sekaligus, Byzantium (Romawi Timur) dan Ottoman (Turki Usmani), masih terus terpancar hingga sekarang.


 

Kaisar Legendaris Perancis, Napoleon Bonaparte, bahkan pernah berujar tentang kemegahan Istanbul, “Jika dunia ini adalah satu negara, maka Istanbul yang paling pantas untuk menjadi ibukotanya”.

 

 

Terletak di tepian Selat Bosphorus yang membelah Eropa dan Asia, Istanbul pun menjadi satu-satunya kota di dunia yang berdiri mengangkangi dua benua sekaligus. Di sinilah tempat bertemunya Timur dan Barat, kota tua pusat dunia yang terkenal di masa lalu maupun di masa sekarang.

Saya dan istri berkesempatan mengunjungi Istanbul pada awal bulan November 2018 yang lalu, dalam sebuah misi perjalanan kebudayaan, pendidikan, sejarah, dan cinta tentunya. Bertolak dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, kami tiba di Bandara Internasional Sabiha Gokcen Istanbul sekitar pukul 7 malam.

Sebelumya kami sempat berkeliling Ibukota Qatar, Doha, untuk menghabiskan waktu transit seharian penuh. Bandara Sabiha Gokcen sendiri merupakan bandara internasional kedua di kota Istanbul, yang terletak di wilayah pinggiran Istanbul bagian tenggara.

Sabiha Gokcen adalah nama wanita pertama Turki yang menjadi pilot sepanjang sejarah negara itu. Sabiha Gokcen tercatat sebagai salah satu anak asuh Bapak Turki Modern Mustafa Kemal Ataturk. Sabiha Gokcen juga dikenang sebagai salah satu ikon tonggak sejarah kemodernan dan kemajuan perempuan Turki.

Setelah melewati prosesi imigrasi yang sangat mudah, kami pun keluar bandara. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Istanbul, kami tak terlalu menemukan imaji Turki yang islami sebagaimana dibayangkan pengagum Recep Teyyip Erdogan dan Adalet ve Kalknma Partisi (AKP) di Indonesia.

Kami juga tak banyak menemukan kemurungan yang berulang kali dibicarakan Orhan Pamuk (Novelis Turki Penerima Nobel Sastra 2006) sebagai jiwa Istanbul. Mungkin kami salah memilih tempat, namun di seputar hotel tempat kami menginap di dekat dermaga Eminonu, hedonisme sangat mudah terlihat.

 

 

Di Jembatan Galata, tempat di mana kami sering makan malam, berjejer restoran-restoran mewah yang dipenuhi lampu remang-remang. Tempat ini dipadati pengunjung berpakaian dandy, yang kecemerlangannya tak kalah dari orang-orang Eropa di London, Madrid, Berlin atau Paris.

Tentu gampang menemukan perempuan berhijab, tetapi jumlahnya tidak mencolok untuk ukuran negara dengan partai penguasa berbasiskan agama, yang di Indonesia banyak dianggap sebagai representasi pemerintahan Islam yang pantas diteladani.

Beberapa orang terlihat mengenakan kopiah khas Turki, fez, tetapi rasa-rasanya kebanyakan orang-orang tua yang mengenakan. Jarang anak muda yang mengenakan fez di kepalanya. Pemuda pemudi Turki lebih senang memakai pakaian modern ala Eropa.

Saat menelusuri beberapa tempat di Istanbul, bukan hal aneh melihat apa yang terjadi di mobil-mobil berkap terbuka. Public display of affection, dari sekadar berangkulan sampai berciuman, sering kali kami lihat.

Saat hangout di Jalan Istiqlal yang menjadi kawasan turis Istanbul, suasana peringatan Republic Day masih sangat terasa (peringatan Cumhuriyet Bayram atau Republic Day, 29 Oktober, untuk mengenang berdirinya Turki menjadi republik). Suara knalpot mobil, ditingkahi teriakan yang tak kami mengerti, memecah dentuman suara musik dari klub-klub malam.

 

Dari salah satu mobil dengan kap yang terbuka, sepasang anak muda mengibarkan bendera Turki sembari berciuman mesra. Tak sulit juga mencari “kehangatan” lain. Tak jauh dari kawasan bersejarah Istana Topkapi, di belakang Mesjid Biru yang indah itu, beberapa hotel memancarkan kemesuman yang tak ditutup-tutupi.

Turki adalah negara yang resminya berstatus sekuler, jadi wajar jika imaji kehidupan sekuler mudah terlihat. Tapi tak berarti suasana religius absen. Di beberapa titik sangat mudah terasa suasana tersebut. Saat waktu shalat tiba, persis seperti di Indonesia, suara azan segera menghampiri telinga di manapun kami berada.

Pada malam berikutnya, ketika kehidupan malam di seputaran Distrik Besiktas mulai berdenyut, suara azan isya terdengar di sela-sela musik yang berdentam, sesuatu yang juga akan ditemukan jika nongkrong sampai subuh di berbagai tempat hiburan malam di Indonesia.

Pada salah satu senja, kami menyambangi Uskudar, sebuah pantai yang letaknya di sisi Istanbul Asia. Sembari menikmati kesejukan udara Selat Bosphorus dan Laut Marmara, saya menyesap segelas kopi Turki yang terkenal itu. Kopi ini dijual oleh seorang bocah yang berjalan menenteng termos, hampir mirip dengan para penjual kopi di sekitar Monas.

Di sepanjang Pantai Uskudar ini, “kebeningan” wanita-wanita Turki juga sangat terasa. Sambil menunggu sang mentari terbenam, mereka duduk menikmati angin laut berdua-duan dengan pasangannya masing-masing.

 

 

Berbicara tentang korelasi sejarah Republik Turki dan Republik Indonesia, tentu tidak sulit dicarikan titik temunya. Walaupun polemik masing-masing negara berangkat dari titik pijak yang berbeda, tapi polemik itu memperlihatkan dengan baik bagaimana Turki memberikan sentuhan khas kepada kebangkitan nasionalisme Indonesia.

Turki bahkan sudah lama menjadi bahan perbincangan para aktivis pergerakan nusantara jauh sebelum era perjuangan 1940an itu. Bersama kebangkitan nasional Mesir dan kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang tahun 1905, keberhasilan Kelompok Turki Muda membebaskan Bangsa Turki dari pendudukan Sekutu menjadi dian yang ikut menyalakan semangat para aktivis pergerakan Indonesia.

Hampir semua diktat pelajaran sejarah di sekolah, dalam bagian tentang zaman pergerakan, selalu menyebut “Turki Muda” sebagai salah satu elemen penting yang ikut menyumbangkan peran dalam kebangkitan nasional Indonesia.

Saat ini, selain irisan persamaan politik dengan Partai AKP, kesukaan pada pan-islamisme ala Erdogan agaknya dipicu oleh imaji tentang semangat menghidupkan lagi kejayaan Islam dengan cara-cara modern, yang mengesankan akan kesanggupan berhadapan dengan Barat secara berani.

Ditatap dari jauh, sangat mungkin imaji tentang Erdogan dan AKP memang mewakili “semangat muda” – artinya kehendak untuk maju – Islam politik yang sedang berderap-berbaris, berbareng-bergerak.

Ia (Erdogan) bukan hanya terjepit di antara Timur dan Barat, sebagaimana semua Sultan Turki Ottoman di masa silam. Berhadapan dengan Eropa yang menekankan standar tertentu jika Turki ingin diterima Uni Eropa, dikepung persoalan Timur Tengah yang pelik dan super ribet, Erdogan dan AKP mampu terus bertahan sejak berkuasa pada awal milenium ketiga.

Saat wajah Islam di beberapa negara Timur Tengah diselimuti kemuraman, ketika intrik politik di negara-negara Arab mengemuka dan kabar hedonisme para pangeran Arab tak dapat dicegah peredarannya, Erdogan menjadi pilihan paling masuk akal bagi mereka yang rindu menyaksikan Islam (politik) berkibar dengan terhormat.

Ingatlah kata-kata Napoleon yang terkenal itu: “A leader is a dealer in hope”. Pemimpin itu adalah yang mampu memberikan harapan untuk rakyatnya, bukan yang menyatakan bangsanya akan hancur suatu hari nanti.

 

 

 

2
0
Banggai Bikin Bangga

Banggai Bikin Bangga

 

Sambil memandang ke Selat Peleng, persis di depan hotel tempat saya menginap, saya merasa bersyukur masih diberi kesehatan dan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal baik.

Saya sering merasa terharu atas apresiasi yang begitu tinggi terhadap kedatangan saya di banyak tempat. Berkali-kali mereka, orang-orang yang saya kunjungi, mengatakan bahwa tidak banyak birokrat seperti saya. Saya adalah birokrat yang tak suka menyulitkan, berpengetahuan luas, tetapi tetap rendah hati. Padahal, bagi saya itu sesuatu yang biasa saja, sudah menjadi karakter yang ditanamkan orang tua sejak kanak-kanak.

Saya seringkali salah tingkah jika dipuji setinggi langit. Apalagi ketika pujian itu dikatakan di depan saya dan banyak orang. Padahal, saya merasa masih banyak hal yang belum saya lakukan. Saya memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Selain itu, masih ada orang-orang yang tidak menyukai saya. Mereka bahkan membenci dan kadang menyebarkan fitnah. Untuk yang terakhir ini, saya belajar untuk tidak peduli.

Adapun di kelas-kelas workshop dan bimtek (bimbingan teknis) yang saya hadiri, sering saya perhatikan wajah-wajah puas dan bersahabat setelah kegiatan berlangsung. Para peserta tak segan-segan mengatakan agar saya tidak kapok jika diundang datang lagi. Ucapan itu menguatkan saya. Saya pun mensyukurinya. Wajah dan perkataan mereka terlihat tulus. Saya merasakan getaran positifnya.

Semangat Menuju Banggai

Pagi ini, saat saya berada di Banggai, saya merasa harus menuliskan banyak hal terkait kekaguman saya kepada kabupaten satu ini. Hal-hal itu membuat saya senang tak terkira. Mulai dari Kota Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai yang eksotis, adanya komitmen Bupati dan Wakil Bupati yang luar biasa dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, dan juga tak lupa para pegawai negeri sipil (PNS) yang punya semangat tinggi untuk terus melakukan perubahan.

Ya, saya senang sekali bisa datang ke Kabupaten Banggai.

Gelombang unjuk rasa pascapenetapan hasil Pilpres (pemilihan presiden) di hari Selasa dan Rabu lalu di Jakarta hampir saja membatalkan keberangkatan saya ke Kota Luwuk yang sungguh mempesona ini.

Namun, tekad dan semangat untuk berbagi membuat saya membulatkan hati berangkat dini hari di tengah kelelahan yang tinggi. Padahal, istri sempat mengkhawatirkan saya berangkat di hari Rabu malam tersebut.

Bersyukur, akhirnya saya bisa sampai di Kabupaten Banggai nan indah ini. Subuh di saat sahur hari pertama di Banggai, saya kembali dibuat kagum akan indahnya Kota Luwuk. Menikmati pemandangan dari hotel tempat saya menginap yang langsung menghadap ke laut menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga. Sungguh pemandangan itu luar biasa indahnya.

Indahnya Banggai, indahnya Indonesiaku.
Belum pernah saya menemukan tempat yang memiliki keindahan alam seindah ini, bahkan di beberapa negara yang telah saya kunjungi.

Pagi ini saya diajak berkeliling kota sambil mendiskusikan beberapa hal dengan staf pemerintah daerah, sebelum siang harinya menghadiri acara bimbingan teknis tentang proses bisnis. Perbincangan kami seputar komitmen Bupati yang tinggi untuk memajukan Kabupaten Banggai. Program ini dimulai dengan membangun tata pemerintahan yang baik untuk peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ada juga komitmen untuk pelaksanaan reformasi birokrasi. Tak segan-segan Bupati turun langsung untuk memonitor bagaimana upaya dan capaian terkait reformasi birokrasi ini.

Bimtek Proses Bisnis

Saat kegiatan dimulai, saya pun semakin semangat dibuatnya. Awalnya saya mengira kegiatan ini dilaksanakan setelah bulan Ramadhan. Hal ini mengingat pertimbangan jika dilaksanakan di bulan Ramadhan pelaksanaan kegiatan kurang maksimal. Namun ternyata perkiraan saya meleset. Kegiatan selama tiga hari tersebut berjalan penuh semangat. Para peserta aktif dan antusias selama bimtek.

Malahan jam istirahat tidak lama karena tidak ada makan siang. Kegiatan pun berlangsung hingga buka puasa. Sungguh luar biasa semangat para peserta. Hal ini membuat saya merasa senang tak terkira. Di sambutan pembuka saya sampaikan pentingnya konsensus dan komitmen agar peta proses bisnis bisa segera rampung.

Jika dalam perjalanan ada hal-hal yang harus disesuaikan dan disempurnakan, maka bisa segera diperbaiki. Peta proses bisnis bukan kitab suci, alias bisa mengalami perubahan. Namun, jika segera disusun, dibahas, lalu disepakati kemudian disahkan, maka bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan.

Dengan demikian jika penyusunan peta proses melalui langkah-langkah yang benar maka hasilnya bisa menjadi panduan atau kitab suci. Inilah yang sering saya katakan berulang-ulang tentang hakikat dari peta proses bisnis bagi institusi pemerintah.

Selain tentang materi bimtek, ada saatnya Wakil Bupati Banggai memberikan pidato yang mengapresiasi buku-buku karya saya. Bahkan, tak segan-segan beliau berpesan agar buku yang saya tulis harus dimiliki oleh para PNS di pemerintah daerah Kabupaten Banggai. Tentu saja hal itu membuat saya merasa bangga dan bersyukur.

Baru kali ini ada seorang pejabat yang dengan terang benderang mengungkapkan hal tersebut. Sudah semestinya suatu karya diberi tempat yang luas agar semakin berkembang dan dinikmati banyak orang. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang.

Sharing Saat Usai

Baru saja saya kembali dari Bukit Keles, sebuah kawasan yang sejuk dan indah, berada tidak jauh dari Kota Luwuk. Di sana saya berdiam sejenak sekadar menikmati indahnya pemandangan sembari mengungkapkan rasa syukur dalam hati memiliki kesempatan menikmati perjalanan ini.

@Willy_photograp/Instagram

Ditemani dua orang staf Pemda Kabupaten Banggai, saya mendiskusikan banyak hal di sepanjang perjalanan. Kami juga mengulas pidato Wakil Bupati pada saat pembukaan acara Bimbingan Teknis Proses Bisnis dan Standard Operating Procedure (SOP).  Tak ketinggalan juga kami berbagi cerita tentang hal-hal lain terkait pengalaman hidup masing-masing.

Diskusi dengan dua orang calon pegawai negeri sipil (CPNS) di sepanjang perjalanan tersebut juga terkait dengan perjuangan mereka bisa diterima sebagai CPNS.  Saya katakan bahwa untuk berprestasi dan dikenal dalam lingkungan birokrasi, seseorang harus menciptakan perbedaan. Maknanya adalah melakukan sesuatu yang dibutuhkan banyak orang sehingga kehadiran kita menjadi bermakna.

Dalam obrolan tersebut saya sampaikan bagaimana pengalaman saya bekerja di pemerintahan yang kadang tidak mudah. Untuk menghadapi berbagai tipe manusia, kita harus mampu bersikap dengan baik. Saya punya rekan kerja yang ketika diajak bekerja sama sulitnya minta ampun.

Pekerjaannya lebih banyak mengkritik dan sering menganggap remeh orang lain. Dia merasa paling hebat, tapi saat diberi tugas dan tanggung jawab lebih banyak tak mampu diselesaikannya dengan baik. Menghadapi rekan dengan tipe seperti ini, saya pun berpesan agar berhati-hati.

Orang itu di depan kita suka berbaik-baik, akan tapi di belakang kita akan sangat tajam membahas kekurangan kita. Tak segan-segan ia akan menjatuhkan bahkan menfitnah kita. Apakah perlu membalas kejahatannya dengan kejahatan yang sama, agar dia sadar bahwa tak mungkin dia memperlakukan orang sesuka hatinya?

Untuk kasus seperti ini tiap orang tentu punya pilihan yang berbeda dalam menyikapinya. Ada yang secara frontal dan berhadap-hadapan dengan tipe manusia seperti ini. Dengan sikap itu, maka keributan pun tak terelakkan.

Namun, ada juga jenis manusia yang tidak ingin ribut, justru mendiamkan manusia jenis ini. Memilih yang mana, itu tergantung pilihan kedua pemuda tadi. Saya hanya sekedar sharing dengan mereka berdua agar kelak mereka siap dengan kondisi–kondisi seperti itu.

 

Bersyukur, Menulis, dan Bahagia

“Bukannya bahagia yang membuat kita bisa bersyukur, tetapi sikap mampu bersyukur yang membuat kita bahagia”, begitulah ungkapan Bruder David Steindl Rast, yang selalu saya camkan baik-baik dalam benak saya.

Betapa banyak kejadian di keseharian yang membuat kita kecewa. Di  banyak keadaan, betapa diskriminasi sering tak dapat dielakkan. Menghadapi hal tersebut tak ada jalan lain untuk kita pahami kemudian bersyukur.

Bekerja di birokrasi pemerintahan selama 22 tahun  mengajarkan saya pada banyak hal. Dengan rasa syukur tak ada rasa kecewa yang tersisa. Perjalanan dinas ke Kabupaten Banggai beberapa hari yang lalu telah membuktikan hal tersebut. Maka, belakangan ini saya belajar untuk menikmati apa yang ada lalu banyak bersyukur. Ujungnya kebahagiaan mudah diperoleh, yakni hati menjadi lapang dan inspirasi selalu hadir.

Pada setiap perjalanan saya pun menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Sebagai birokrat yang cukup sibuk, waktu begitu penting. Tak ada waktu yang terbuang percuma bagi saya. Selalu saja ada hal yang saya lakukan di sela waktu senggang. Paling tidak, yang saya lakukan adalah membaca buku.

Saya sering ditanya rekan dan sahabat mengapa di setiap perjalanan dinas, tas saya selalu penuh buku. Selain perlengkapan dan pakaian yang saya bawa, buku-buku menjadi sahabat perjalanan yang membuat saya bahagia. Maka apapun yang saya alami, solusinya selalu ada di dalam buku yang saya baca.

Kepulangan yang Mengaduk Emosi

Sambil memperhatikan ke kaca jendela, saya memandang Pantai Losari dengan rasa syukur. Sebentar lagi saya siap siap ke bandara kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung. Ini adalah perjalanan pulang saya dari Banggai.

Indahnya pagi ini dan saya menikmati dengan rasa syukur. Saya telah melakukan banyak hal hingga sejauh ini untuk terus berkarya dan tetap mengabdi kepada negara sebagai birokrat.

Saya tak mengira jika Kota Luwuk begitu indah dan mempesona. Dikelilingi pantai yang eksotis dan teluk yang tenang membuat bahagia tak terkira selama tiga hari saya di sana. Siang menjelang sore kemaren, saya sempat terdiam sambil duduk di pintu masuk keberangkatan Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk. Semilir angin membuat saya malas kembali ke Jakarta. Tapi tentu saja saya harus kembali.

Meskipun tak jauh dari hotel tempat saya menginap, saya hanya bisa melemparkan pandangan ke arah pantai sore itu dari dalam kendaraan menuju bandara. Warna air pantai hijau membiru sungguh mendamaikan hati. Perjalanan menuju hotel yang tak lebih 15 menit terasa sangat singkat.

Pulau Peleng tampak dari kejauhan, dulu merupakan bagian dari Kabupaten Banggai. Saat ini pulau itu menjadi Kabupaten tersendiri, Banggai Kepulauan. Saya berharap suatu waktu saya bisa kesana. Saya yakin pasti tak kalah indahnya dengan Banggai yang sedang saya kunjungi.

Perjalanan dinas kali ini sungguh mengaduk-aduk emosi saya. Sebelum pulang saya diantar ke Bandara Syukuran Aminudin Amir oleh beberapa rekan dari Pemda. Saya sempat katakan harusnya saya bisa menginap satu malam lagi di Kota Luwuk, melanjutkan tulisan ini sambil berdiskusi terkait dukungan banyak orang kepada saya.

Paling tidak 10 orang sudah memesan buku Birokrat Menulis 2 untuk segera dikirim. Tadi disampaikan pasti akan banyak lagi yang menyusul untuk memesan buku terbaru saya karena tulisannya yang ringan dan menggugah. Lagi-lagi saya kembali harus bersyukur. Semua upaya yang saya lakukan sebentar lagi akan mencapai titik klimaksnya.

Epilog

Ya, saya bersyukur lalu menulis dan akhirnya saya menemukan rasa bahagia. Jadi, ada pengembangan dari apa yang dikatakan oleh Bruder David Steindl Rast di atas. Untuk mendapatkan kebahagiaan harus diawali dengan rasa syukur.

Bagi saya, bahagia bisa dilakukan dengan bersyukur kemudian menulis. Jika ada tambahan lain untuk menjadi bahagia adalah jadilah pribadi yang rendah hati.

Banggai membuat saya bangga, terhadap alamnya yang indah dan orang-orangnya yang ramah dan bersahabat. Ini perjalanan yang penuh makna di penghujung bulan suci Ramadhan. Terima kasih, Banggai.

 

 

 

6
0
Segarkan Pikiran dengan Menjelajah ke Wae Rebo

Segarkan Pikiran dengan Menjelajah ke Wae Rebo

Birokrat pun butuh piknik, begitu yang saya yakini.
Mengapa tidak?
Bukankah dengan melepaskan diri sejenak dari kesibukan di kantor,
ide-ide segar justru akan deras mengalir ketika kita kembali bekerja?

Tulisan berikut adalah kisah pengalaman saya menjelajah Wae Rebo, sebuah desa nan eksotik di Flores,
Nusa Tenggara Timur.


Perjalanan Menuju Wae Rebo, Desa di Atas Awan

Wae Rebo ialah salah satu negeri di atas awan, selain Lolai Toraja dan Dieng yang sudah sangat familiar. Desa yang terletak di Kabupaten Manggarai Raya atau Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur ini mendapat penghargaan tertinggi untuk kategori warisan budaya Asia-Pasifik loh dari UNESCO. Keren kan?

Wae Rebo dapat ditempuh dari berbagai rute. Dalam cerita ini, saya melewati Labuan Bajo. Ada berbagai alternatif pilihan perjalanan ke sana sesuai budget masing-masing traveler. Kalau tidak  terbiasa me-arrange perjalanan, ada pilihan privat dan open trip. Kita tinggal terima jadi urusan rute, transportasi, akomodasi, dan dokumentasi sesuai instruksi tour guide. Namun kalau mau lebih hemat, bisa backpackeran.

Tempat Makan di Pinggir Sawah (Desa Denge)

Pengalaman kesana ikut privat trip 2d 1n (dua hari satu malam) membutuhkan biaya Rp 2,5 juta per peserta dengan jadwal sesuai request kita. Sementara itu, open trip biasanya butuh Rp 1,5-1,7 juta per peserta. Kita hanya bisa mengikuti jadwal yang sudah ada. Bahkan ada pula backpacker yang hanya butuh Rp 1,4 juta untuk 2 org, tetapi mereka mengendarai motor  dan menginap di rumah warga. Jauh lebih hemat kan?

Perjalanan private trip dimulai dari penjemputan dari hotel jam 5 subuh. Terlalu pagi? Sengaja, biar ketika kita mendakinya nanti tidak kemalaman. Perjalanan darat membutuhkan durasi selama 6 jam ke Desa Denge, kemudian kita istirahat makan siang. Nah, ada tempat makan siang yang menarik di tepi sawah di sini. Menikmati makan siang ini sembari menikmati pemandangan yang sangat bagus terasa sangat menyenangkan.

Pulau Mules atau Moles

Di perjalanan Labuan Bajo ke Desa Dintor, kita akan dapat melihat Pulau Mules atau Moles yang artinya pulau cantik. Dinamakan demikian karena memang bentuk pulaunya seperti seorang putri yang sedang tidur dengan posisi menghadap ke langit.

Di sepanjang perjalanan juga kita akan berpapasan dengan kendaraan penumpang lokal, yakni truk yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kendaraan penumpang. Truk ini diberi papan untuk tempat duduk penumpang sekaligus pembatas.

Bagian bawah papan tempat duduk akan digunakan untuk tempat bahan bangunan atau belanjaan penumpang. Sayangnya kemarin saya tidak berfoto, padahal menurut saya modifikasi kendaraan ini menjadi sesuatu yang menarik.

Batas yang bisa dilalui mobil adalah Desa Denge. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan menaiki ojek sekitar 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Pendakian Wae Rebo. Sekedar info untuk yang berencana backpacker, tarif ojeknya 50 ribu untuk sekali jalan. Di batas pemberhentian ojek, akan ada penyewaan tongkat bagi yang kakinya kurang kuat. Kalau tidak salah, tarifnya Rp10.000. Tongkat ini harus dikembalikan ketika kita turun nanti.

Pos 1. Wae Lomba

Di Pos 1, tertera pesan masyarakat lokal Wae Rebo sebagai tips bagi  para pengunjung. Beberapa di antaranya berisi himbauan untuk mengelola sampah, menghormati alam, melindungi satwa liar dan habitatnya, menjaga keselamatan, berhati-hati, berjalan, dan menghormati warga lokal. Oh ya, setiap tulisan termasuk Buku Pengenalan Wae Rebo telah dibuat dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Hal ini mengingat banyak pengunjung dari mancanegara.

Perjalanan trekking menuju Desa Wae Rebo sejauh 7 km rata-rata dapat ditempuh dalam 2-4 jam, tergantung kecepatan berjalan masing-masing orang. Perjalanan trekking kami, saya dan grup, dimulai dari Pos 1 dengan waktu tempuh ke Pos 2 sekitar 1-1,5 jam. Selama perjalanan ini saya sempat minta beberapa kali berhenti untuk istirahat. Maklum, saya bukan pendaki gunung. Hehe.

 

Keramahan Masyarakat Wae Rebo

Rute trekking yang kita lalui ini juga adalah rute yang dilalui masyarakat desa, sehingga tidak jarang dalam perjalanan kami akan berpapasan dengan masyarakat asli Wae Rebo. Jalur mereka memang hanya rute tersebut. Mereka membawa belanja, hasil pertanian, dan segala macamnya dengan cara dipikul. Termasuk solar untuk bahan bakar genset juga dipikul. Wae Rebo memang belum dialiri listrik.  Saya salut dan terkesan dengan penduduk asli desa. Semua yang berpapasan dengan kami akan menyapa “Selamat sore,Pak,Bu..” dengan senyum. Tidak jarang pula mereka bertanya, “Dari mana, Pak/Bu?”

Kemudian terbersit pertanyaan, kenapa Dana Desa di sini tidak digunakan untuk memperbaiki jalan supaya bisa dilalui kendaraan ya. Rasa penasaran itu sedikit pudar tatkala guide saya menjelaskan bahwa hal ini disengaja untuk menjaga keaslian tatanan fisik desa.


Pos 2.  Poco Roko

Sampai di Pos 2, seakan setengah perjalanan sudah terlewati. Di Pos 2 kami sudah bisa melihat awan di bawah kami. Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 dapat kami tempuh sekitar 1-2 jam. Memang, sesuatu yang indah dan berharga biasanya membutuhkan perjuangan lebih, iya kan. Please, dijawab saja iya. Haha.

 

Kearifan Lokal dalam Mendukung Pariwisata

Pos 3. Nampe Bakok (Rumah Kasih Ibu)

Seperti kata pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” di Pos 3 terdapat Pesan dari Masyarakat Kampung Wae Rebo yang berisi  rule atau aturan bagi pengunjung.

Salah satu yang menarik adalah “Bantu mendidik anak kami dengan tidak memberikan sesuatu (permen,uang, mainan, atau kue) tanpa seijin orang tua mereka.”

Menurut saya, pesan ini sangat bagus untuk membentuk mental dan mengajarkan anak tidak pamrih ketika memberikan bantuan kepada wisatawan. Hal ini merupakan salah satu tantangan tempat wisata di Indonesia yang terkadang membuat wisatawan kurang nyaman.

Jarak dari Pos 3 ke Kampung Wae Rebo hanya 5 menit. Ketika hendak melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Kampung, kami terlebih dahulu membunyikan alat tabuh bamboo yang disediakan di Rumah Kasih Ibu. Hal ini menjadi penanda datangnya tamu.

Rumah Gendang

Setiap pengunjung yang baru tiba di Kampung Wae Rebo harus terlebih dahulu menuju rumah Gendang untuk mengikuti Upacara penghormatan leluhur (Waelu’u). Setelah ikut upacara, pengunjung baru diperkenankan beraktivitas di kampung. Upacara ini menjadi penanda bahwa pengunjung sudah diperkenalkan dan telah diterima. Sehingga, masyarakat tidak akan lagi bertanya siapa ketika berpapasan dengan pengunjung.

Upacara ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan pengunjung bagi para leluhur Wae Rebo. Ketika upacara berlangsung, tidak diperkenankan adanya dokumentasi. Konon pernah ada kejadian wisatawan asing yang sembunyi-sembunyi mengambil dokumentasi. Setelah kameranya dicek keesokan harinya, seluruh gambar dan video upacara hilang alias tidak ada. Hiii.

Setelah dari Rumah Gendang kami diarahkan ke Niang, rumah kerucut lainnya, sekaligus tempat beristirahat. Di sini kami langsung disuguhi kopi khas Flores. Bagi yang tidak kuat minum banyak, jangan sampai ketagihan ya!

 

Suguhan Kopi Flores

Tempat Tidur Pengunjung

Nikmati Keindahan Alam tanpa Gadget

Di Kampung Wae Rebo, wisawatan akan tidur di suatu tempat beristirahat yang disebut dengan Niang. Masing-masing orang diberi selimut, bantal dan kasur tipis yang sudah terpasang di bawah karpet masing-masing. Penasaran bentuknya? Begini tampilannya.

Kegiatan makan di Wae Rebo dilakukan bersama-sama. Tradisi ini menciptakan keakraban di antara wisatawan, sesuai dengan budaya Indonesia pada umumnya.

Pengunjung Makan Malam Bersama

Di Wae Rebo kami hanya bisa menggunakan gadget atau handphone untuk foto. Di sana tidak ada sinyal telekomunikasi, sehingga otomatis tidak ada jaringan telepon dan internet.

Karena keterbatasan sumber energi yang hanya mengandalkan genset, kami hanya bisa mengisi daya gadget dari sore hingga malam hari.

Pemandangan Wae Rebo malam hari

Oleh karena itu, wisatawan lebih memilih untuk saling bercengkrama, berbagi cerita, melihat keindahan dan budaya kampung.

 

Ternyata cukup seru ketika kami tidak sibuk dengan gadget masing-masing tetapi justru berbicara satu sama lain.

Saya tiba di Kampung Wae Rebo ketika hari sudah sore, sehingga hanya sempat mengambil foto malam hari sesaat sebelum tidur. Kebetulan bulan sedang tampak dan banyak bintang bertaburan, menambah indah pandangan malam.

Saat subuh, para wisatawan bangun dan segera untuk berburu sunrise. Bagaimana hasilnya? This is it.

Kampung Wae Rebo di pagi hari


Keren?!
 Perjuangan pendakian sebelumnya terbayarkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata ini. Inilah dia, Kampung Wae Rebo yang hanya terdiri dari 7 Niang atau rumah kerucut. Orang juga sering menyebut kampung ini sebagai Mbaru Niang.

Setelah puas berfoto, wisatawan akan dipanggil untuk sarapan bersama dan berkemas untuk pulang.

Jika perjalanan menuju Wae Rebo kami tempuh dalam 2 jam, perjalanan pulang lebih cepat. Kami turun hanya dalam waktu 1 jam 5 menit!!

Spider Rice Field, Pesona Sawah nan Indah

Spider Rice Field

Dari Pos 1 kemudian kami lanjut naik ojek menuju parkiran mobil seperti saat berangkat. Karena paket trip yang saya ambil sudah include dengan Spider Rice Field, maka kami lanjut perjalanan kesana. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan mobil sampai di Desa Cancar, kemudian trekking kurang lebih 10 menit dengan alur yang agak menanjak.

Sawah di Desa Cancar ini sengaja dipetak-petak seperti dalam gambar untuk menjadi daya tarik wisata. Pemberian namanya juga sesuai dengan bentuknya, menyerupai jaring laba-laba.
Setelah sejenak dari Cancar, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Di jalan kami sempat mampir ke Le Cecile yang menjual Nasi Kolo khas Labuan Bajo. Sebenarnya pemberhentian ini di luar trip, tapi pantas dicoba untuk menghapus penasaran akan kuliner lokal. Le Cecile menjadi tempat yang bagus juga untuk melihat sunset. Nasi Kolo di sana dijual dengan harga Rp 100 ribu. Nasinya dibakar di daun kemudian dimasukkan ke dalam bambu, lalu disajikan dengan aneka lauk. Kalau di tempat saya cara masaknya mirip lemang, tetapi di sini ketannya diganti nasi.

  
Sunset di Le Cecile dan Nasi Loko

Pemandangannya ciamik bukan?

Setelah puas menikmati sunset dan makan di Le Cecile, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke hotel. Trip ke Wae Rebo pun berakhir.

 

Tips Perjalanan

Oh ya, sebagai tips bagi yang berminat mengunjungi Wae Rebo, perhatikan baik-baik jadwal keberangkatan. Karena trip ke Wae Rebo biasa dimulai dari jam 5 pagi. Jadi, sebaiknya pengunjung dari luar kota mengambil penerbangan pada hari sebelumnya.

 

 

 

3
0
Membantah Keraguan tentang  Ketiadaan Transparansi dan Akuntabilitas  Pada Seleksi CPNS 2018

Membantah Keraguan tentang Ketiadaan Transparansi dan Akuntabilitas Pada Seleksi CPNS 2018

Prolog

Di awal September 2018, desas-desus pembukaan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2018 mulai beredar di hampir seluruh media sosial. Saat itu saya masih bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Kali ini, saya berniat untuk mengikuti seleksi CPNS dan berharap lulus.

Tahapan yang Melelahkan

Tekad saya begitu besar untuk mendaftar setelah saya pernah gagal pada tahun 2014 dan tidak memiliki kesempatan pada tahun-tahun berikutnya karena lokasi kerja. Untuk maksud itu, saya mengajukan izin kepada atasan untuk mengikuti seleksi tersebut. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, permohonan saya dikabulkan oleh atasan.

Memasuki akhir September 2019, situs pendaftaran seleksi CPNS pun akhirnya dibuka. Seperti kita ketahui bersama animo masyarakat menyambut seleksi CPNS kali ini begitu besarnya.

Tak jarang situs tersebut kemudian menjadi down. Bahkan, sampai tak dapat diakses selama beberapa waktu. Pengalaman saya sendiri, saya harus bersabar untuk mencoba men-submit pendaftaran sampai dengan puluhan bahkan ratusan kali hingga akhirnya saya berhasil didaftar.

Tak cukup di situ, menurut saya proses seleksi ini memang sebuah tahapan panjang dan sangat melelahkan. Saya katakan sebagai “tahapan panjang” karena jeda waktu di tiap tahapan seleksi begitu lama dan tidak jarang mengalami penundaan hasil seleksi.

Saya katakan “melelahkan” karena kata inilah yang sangat dirasakan oleh para aparatur negara yang terlibat, baik panitia seleksi pada instansi maupun panitia seleksi nasional.

Perlu diketahui, tahapan seleksi CPNS meliputi pendaftaran – seleksi administrasi – seleksi kemampuan dasar (dengan sistem komputerisasi) – seleksi kemampuan bidang (ini beragam dan berbeda untuk setiap instansi) – integrasi nilai SKB dan SKD – pemberkasan – pemanggilan.

Nah, selama berlangsungnya tahapan-tahapan tersebut banyak sekali pro dan kontra dari para peserta seleksi. Misalkan, soal passing grade yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan banyak yang tidak mampu mencapainya.

Akhirnya, diterbitkanlah Permenpan nomor 38 tahun 2018 yang isinya memberikan kelonggaran bagi peserta yang tidak mencapai passing grade dengan sistem ranking. Hal ini dilakukan untuk menghindari gap yang terlalu besar antara jumlah formasi dengan jumlah peserta yang mencapai passing grade.

Tak hanya sampai di situ. Pro dan kontra tetap bergaung setelah tahapan akhir seleksi. Banyak peserta yang merasa dirugikan. Yang awalnya sudah mampu mencapai passing grade, tetapi akhirnya harus kalah dalam seleksi kemampuan bidang dengan peserta lain yang awalnya tidak memenuhi passing grade. Mereka merasa dirugikan dengan hadirnya Permenpan nomor 38 tahun 2018.

Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi selama proses tahapan seleksi CPNS tahun 2018, saya adalah peserta yang berhasil mencapai passing grade dan sampai pada akhir tahapan seleksi saya dinyatakan lulus sebagai CPNS.

Eits, tunggu dulu, masih belum selesai, ternyata masih ada proses lainnya yang menunggu yaitu pemberkasan dan pemanggilan. Dan akhirnya, eng-ing-eng, alhamdulillah akhirnya saya mendapat informasi berupa surat mengenai kapan saya mulai bekerja pada instansi yang saya pilih. Bahasa kerennya TMT (Terhitung Mulai Tanggal), begitu kira-kira yang saya denger dari beberapa rekan PNS.

Membantah Keraguan

Kemudian, apa korelasi antara judul tulisan saya dengan cerita pribadi saya? Pertanyaan ini sangat menarik bagi saya dan tentunya bagi sebagian besar orang di luar sana, baik yang sudah pernah mengikuti tahapan seleksi CPNS maupun yang baru akan mencoba mengikuti tahapan seleksi CPNS.

Lets we start! Transparansi atau keterbukaan menjadi sangat penting di tengah berkurangnya trust masyarakat pada setiap proses seleksi CPNS dari tahun ke tahun.

Contohnya, masih saja ada isu-isu di tengah masyarakat bahwa tanpa memiliki keluarga dekat, mustahil seseorang akan bisa bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Atau, soal berapa besaran uang yang harus dikeluarkan ketika akan masuk di sebuah instansi.

Hal-hal yang masih menjadi isu di tengah masyarakat di atas, sebaiknya segera dibuang jauh-jauh. Mengapa? Menurut saya, seleksi CPNS yang saya ikuti sudah sangat transparan. Tidak ada lagi yang disembunyikan, disisipkan, atau bahkan dititipkan. Semua proses telah diinfokan dan dilaporkan secara online.

Pada seleksi administrasi misalnya, bukan hanya nama-nama peserta yang lulus seleksi administrasi saja yang ditampilkan, tetapi juga seluruh nama peserta yang tidak lulus pun juga ditampilkan, dan disertai alasannya.

Maju ke tahap selanjutnya, yaitu seleksi kemampuan dasar, melalui sistem komputerisasi yang diberi nama CAT, setiap peserta seleksi diberikan kemudahan mengakses hasil seleksinya secara real time setelah mengerjakan tes.

Bahkan, peserta juga bisa melihat hasil seleksi peserta lainnya secara real time. Artinya, hasil seleksi peserta tidak mungkin akan dengan mudah bisa dimanipulasi.

Di tahapan berikutnya, yaitu seleksi kemampuan bidang, memang terdapat perbedaan dari masing-masing instansi terkait materi yang akan menjadi bahan seleksi.

Namun, setelah tahapan ini masih ada tahapan integrasi nilai Seleksi Kemampuan Dasar dan Seleksi Kemampuan Bidang yang dilaksanakan oleh instansi terkait besama dengan Badan Kepagawaian Negara, yang tentu saja akan menampilkan hasil akhir yang transparan dan akuntabel.

Simpulan

Dari cerita pengalaman saya di atas, saya ingin menjadikan diri saya sebagai saksi hidup bagaimana proses seleksi CPNS di negeri kita tercinta ini sudah sangat transparan dan akuntabel.

Tak ada lagi sanak keluarga pejabat yang dititipkan maupun sejumlah uang yang harus dibayarkan. Seluruh proses mulai dari pendaftaran sampai dengan pertama kali anda menginjakan kaki di instansi yang kita pilih adalah gratis!

Peluang bagi kita semua sama besarnya untuk dapat menjadi seorang abdi negara.

Untuk itu saya mengajak kawan-kawan milenial untuk jangan ragu ketika memutuskan bercita-cita menjadi seorang ASN karena sistem seleksi sudah transparan dan akuntabel.

Bagi saya pribadi, menjadi seorang ASN bukan lagi tentang mengejar materi semata, tetapi bagaimana menjadikan pekerjaan ini sebagai ladang pahala bagi modal kita menuju akhirat kelak.***

 

 

4
0
Perjalanan Birokrat Menulis Buku

Perjalanan Birokrat Menulis Buku

Bagi seorang pegawai negeri, masa cuti seringkali menjadi saat yang dinanti-nanti. Begitu pun bagi saya. Pada hari cuti, jika kebanyakan orang sudah menyusun rencana acara selama cuti untuk bersenang-senang ke berbagai obyek wisata, maka saya memilih cuti untuk bisa berdiam diri.

Di masa cuti saya berdiam diri sejenak menciptakan keheningan dari rutinitas yang terbiasa mengepung sepanjang hari. Hidup memang perlu sejenak berhenti, melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Maka inilah cerita saya tentang refleksi diri atas capaian sejauh ini sebagai buah dari perjuangaan tanpa henti.

Pengalaman Mengabdi di Birokrasi

Setelah bekerja selama hampir 22 tahun di birokrasi pemerintahan, saya mendapat banyak pengalaman dengan segala dinamikanya. Salah satu di antaranya adalah tentang ketidaknyamanan. Namun, di balik semua ketidaknyamanan tersebut tetap banyak kebaikan yang saya dapatkan.

Karir sebagai birokrat diawali dengan tugas sebagai auditor pemerintah di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Penempatan pertama  saya adalah di Provinsi Sulawesi Utara, Negeri Nyiur Melambai, dan saya jalani selama hampir tiga tahun. Usai bertugas di sana, saya menjadi peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengawasan (Puslitbangwas) BPKP di Jakarta. Belum genap tiga tahun kemudian, saya dimutasi menjadi staf bagian hubungan masyarakat (Humas) pada institusi pengawasan internal pemerintah itu.

Perpindahan di antara tiga unit kerja yang berbeda-beda dalam waktu yang tidak terlalu lama membuat saya terlatih dengan berbagai hal baru yang jauh lebih beragam daripada pengetahuan saya sebelumnya. Khususnya, ketika menjadi bagian dari Humas saya belajar tentang jurnalistik dan pemberitaan.

Usai berpindah-pindah di antara tiga unit kerja di BPKP tersebut, dalam empat belas tahun berikutnya hingga hari ini, saya berganti institusi tempat mengabdi. Institusi itu adalah sebuah kementerian yang mempunyai tugas utama mendorong implementasi reformasi birokrasi di Indonesia.

Dalam tiga tahun pertama, selain melaksanakan tugas di bidang ketatalaksanaan, saya diberi peran tambahan untuk mengelola penerbitan majalah internal instansi. Mengurusi majalah ini merupakan sebuah pengalaman baru yang menantang, tetapi saya nikmati dengan sepenuh hati.

Di sana saya menemukan banyak hal baru termasuk di antaranya mengenalkan saya pada banyak kepala daerah di beberapa provinsi di Indonesia. Sebuah pengalaman yang tak akan saya dapatkan jika saya tak mengambil hikmah dari penugasan yang sungguh di luar perkiraan, sekaligus karena senantiasa belajar dari ketidaknyamanan.

Perjalanan Awal Menulis Buku

Pengalaman berpindah-pindah posisi dan penugasan dalam birokrasi tersebut saya rangkai menjadi sebuah buku motivasi saya yang pertama, dengan judul Anything is Possible. Buku ini terbit pada bulan Mei 2012, berisi kumpulan cerita yang saya tulis tentang pengalaman bagaimana mengelola sebuah penerbitan majalah, termasuk bagaimana cara menemukan kunci sukses para kepala daerah selama membangun daerahnya.

Pengalaman bertungkus lumus menerbitkan buku juga saya singgung di buku ini. Tak pernah saya duga sebelumnya, buku ini cukup mendapat tempat di hati para pembaca. Berkat bantuan salah seorang pejabat pemerintah daerah di salah satu kabupaten di Sumatera Barat kala itu, saya bahkan pernah diwawancarai oleh sebuah harian lokal yang cukup dikenal di Sumatera Barat. Isinya terkait pengalaman menulis dan mengupas isi buku Anything is Possible ini.

Pelajaran yang saya petik adalah, hendaknya kita senantiasa mensyukuri setiap kejadian yang pada awalnya tampak tak sesuai harapan. Meski muncul rasa tidak nyaman, tapi sebisa mungkin kondisi itu kita ubah menjadi  sebuah peluang, sehingga kita dapat mengambil manfaat atas kejadian atau ketidaknyamanan tersebut.

Setelah buku ‘Anything is Possible’ kemudian terbitlah lagi buku ‘Birokrat Move On’ pada akhir tahun 2013. Buku ini merupakan kumpulan tulisan saya di waktu senggang, misalnya saat perjalanan dinas dan di antara keseharian. Buku tersebut memuat catatan tentang bagaimana saya melihat berbagai fenomena hidup dan kehidupan.

Boleh dikatakan pula bahwa buku ini adalah kumpulan ketidaknyamanan dan tantangan yang saya ubah menjadi tulisan-tulisan. Buku berwarna merah putih ini juga pernah dibedah di Kementerian PAN & RB dan disambut dengan antusias di kalangan birokrasi pemerintahan.

Belum puas dengan ‘Birokrat Move On’, saya menulis lagi Buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’, yang kemudian diterbitkan pada bulan April 2015. Buku ini pernah diulas dalam bentuk talk show di Kementerian PAN & RB di bulan Mei 2015, dengan menghadirkan Hilbram Dunar, sang presenter program TV Mario Teguh yang sangat terkenal kala itu, sebagai host-nya.

Terbitnya buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’ makin membuat saya bersemangat. Beberapa kali saya diundang di beberapa tempat untuk menjadi narasumber acara tentang kepenulisan. Beberapa di antaranya bisa saya penuhi, tetapi tidak seluruhnya. Sebab, tugas sebagai birokrat di sebuah institusi pemerintahan tetap menjadi prioritas utama.

Tema Birokrat Dalam Buku

Tentu saja yang paling menyita perhatian adalah terbitnya buku berjudul ‘Birokrat Menulis’ pada awal Desember 2016. Sebelum terbit secara luas, soft launching buku ini diadakan pada tanggal 1 September 2016. Dalam acara itu, hadirlah beberapa tokoh pemerintahan, di antaranya Prof Dr Irwan Prajitno, MSc., Gubernur Sumatera Barat 2010-2015 dan 2015-2020; dan Dr Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas RI 2014-2015 yang saat ini menjabat Komisaris Utama Bank BRI.

Selain dua nama tersebut, hadir pula Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian PAN dan RB, Ibu Rini Widyantini SH, MPM, serta Deputi SDM Aparatur Kementerian PAN dan RB, Bapak Dr Ir Setiawan Wangsaatmadja. Di penghujung acara juga hadir Bapak Dwi Wahyu Atmaji, Sesmen PAN dan RB serta beberapa orang pejabat eselon 2,3, dan 4 lainnya dari Kementerian PAN dan RB, BPKP, dan LAN RI. Bagi saya, adalah sebuah kebanggan tersendiri karena soft launching buku Birokrat Menulis tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting dan mendapat apresiasi yang luar biasa.

Sebagai kelanjutan dari buku berjudul Birokrat Menulis yang sangat nge-hits, buku bertajuk ‘Birokrat Menulis 2’ telah dapat dinikmati oleh para pembaca pada awal Januari 2019 lalu. Peluncurannya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri karena sempat beberapa kali tertunda dengan alasan teknis dan nonteknis. ‘Birokrat Menulis 2, Merangkai Kata dengan Cinta’ adalah buku terbaru yang saya harapkan bisa lebih diminati daripada buku-buku saya terdahulu.

Buku itu mengulas banyak hal tentang persahabatan, kesabaran, keikhlasan, dan harapan dikaitkan dengan pengalaman saya selama mengabdi di birokrasi dan kepenulisan. Beberapa ulasan terkait reformasi birokrasi juga diulas dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Buku ini makin melengkapi saripati dan dinamika perjalanan saya di birokrasi pemerintahan selama beberapa tahun terakhir, yang rasa-rasanya kian lama kian menantang.

Persembahan Untuk Instansi

Saya terus berjalan lurus dan juga fokus bekerja di instansi yang selama ini banyak memberi pengalaman dalam berbagai hal terutama reformasi birokrasi. Tanpa perlu mengindahkan pandangan orang lain, saya tetap fokus dan terus belajar dari pengalaman untuk menghasilkan tulisan. Selain itu, berdiskusi dengan banyak orang membuat kemampuan saya meramu kata menjadi makin meningkat.

Di sisi lain, kecintaan saya pada institusi yang telah membesarkan saya selama ini pulalah yang mendorong saya untuk menulis buku terkait standar operasional prosedur (SOP) administrasi pemerintahan dan proses bisnis instansi pemerintah.

Keduanya adalah buku yang sangat dibutuhkan oleh aparatur pemerintah dalam memahami pentingnya SOP dan proses bisnis dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedua buku ini masih berada dalam tahap revisi untuk cetakan terbaru, dengan harapan setelahnya akan makin banyak orang yang mendapat manfaat dari buku tersebut.

Epilog

Sebagaimana saya tuliskan pada bagian awal, pengalaman hidup saya dalam berkarir adalah bahan untuk belajar yang membuat saya tidak bergantung pada makhluk dan menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, maka kita dapat menjalani hidup ini menjadi lebih mudah.

Pada akhirnya, jika ada orang yang tidak senang dengan karya dan prestasi kita, biarkan saja tidak perlu diambil pusing. Kita harus yakin bahwa hal itu justru membuat kita terus berupaya mencari solusi agar hidup ini terus bermakna.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah buku “Balas Dendam yang Sangat Manis” karya A.K. Dikatakan di dalamnya:

“Dalam hidup ini, mungkin kau akan dipertemukan dengan orang-orang yang jahat, orang-orang yang memanfaatkanmu, orang orang yang memanipulasimu, orang-orang yang tidak menghormatimu, dan orang-orang yang menyakitimu. Untuk apa? Karena orang-orang itulah yang kau butuhkan untuk menjadi lebih dewasa, untuk menjadi lebih kuat, dan untuk menjadi lebih beriman. Orang-orang yang datang menyakitimu adalah orang-orang yang sebenarnya kau butuhkan agar kau menjadi pribadi yang lebih hebat.”

Saya kian sepakat dengan pernyataan itu. Saya telah membuktikannya sendiri.

Tak mudah bagi seorang birokrat untuk terus berkarya di tengah deraan pekerjaan tiada henti. Namun kebulatan hati serta tekad dan semangat membuat saya bisa bertahan sejauh ini. Teruslah melangkah, lawan ketidaknyamanan dengan karya. Tetaplah menulis dan berkontribusi untuk negeri dengan melakukan hal terbaik sesuai bidang masing-masing. Selamat berkarya, menulislah!

 

 

30
0
error: