Banggai Bikin Bangga

Banggai Bikin Bangga

 

Sambil memandang ke Selat Peleng, persis di depan hotel tempat saya menginap, saya merasa bersyukur masih diberi kesehatan dan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal baik.

Saya sering merasa terharu atas apresiasi yang begitu tinggi terhadap kedatangan saya di banyak tempat. Berkali-kali mereka, orang-orang yang saya kunjungi, mengatakan bahwa tidak banyak birokrat seperti saya. Saya adalah birokrat yang tak suka menyulitkan, berpengetahuan luas, tetapi tetap rendah hati. Padahal, bagi saya itu sesuatu yang biasa saja, sudah menjadi karakter yang ditanamkan orang tua sejak kanak-kanak.

Saya seringkali salah tingkah jika dipuji setinggi langit. Apalagi ketika pujian itu dikatakan di depan saya dan banyak orang. Padahal, saya merasa masih banyak hal yang belum saya lakukan. Saya memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Selain itu, masih ada orang-orang yang tidak menyukai saya. Mereka bahkan membenci dan kadang menyebarkan fitnah. Untuk yang terakhir ini, saya belajar untuk tidak peduli.

Adapun di kelas-kelas workshop dan bimtek (bimbingan teknis) yang saya hadiri, sering saya perhatikan wajah-wajah puas dan bersahabat setelah kegiatan berlangsung. Para peserta tak segan-segan mengatakan agar saya tidak kapok jika diundang datang lagi. Ucapan itu menguatkan saya. Saya pun mensyukurinya. Wajah dan perkataan mereka terlihat tulus. Saya merasakan getaran positifnya.

Semangat Menuju Banggai

Pagi ini, saat saya berada di Banggai, saya merasa harus menuliskan banyak hal terkait kekaguman saya kepada kabupaten satu ini. Hal-hal itu membuat saya senang tak terkira. Mulai dari Kota Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai yang eksotis, adanya komitmen Bupati dan Wakil Bupati yang luar biasa dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, dan juga tak lupa para pegawai negeri sipil (PNS) yang punya semangat tinggi untuk terus melakukan perubahan.

Ya, saya senang sekali bisa datang ke Kabupaten Banggai.

Gelombang unjuk rasa pascapenetapan hasil Pilpres (pemilihan presiden) di hari Selasa dan Rabu lalu di Jakarta hampir saja membatalkan keberangkatan saya ke Kota Luwuk yang sungguh mempesona ini.

Namun, tekad dan semangat untuk berbagi membuat saya membulatkan hati berangkat dini hari di tengah kelelahan yang tinggi. Padahal, istri sempat mengkhawatirkan saya berangkat di hari Rabu malam tersebut.

Bersyukur, akhirnya saya bisa sampai di Kabupaten Banggai nan indah ini. Subuh di saat sahur hari pertama di Banggai, saya kembali dibuat kagum akan indahnya Kota Luwuk. Menikmati pemandangan dari hotel tempat saya menginap yang langsung menghadap ke laut menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga. Sungguh pemandangan itu luar biasa indahnya.

Indahnya Banggai, indahnya Indonesiaku.
Belum pernah saya menemukan tempat yang memiliki keindahan alam seindah ini, bahkan di beberapa negara yang telah saya kunjungi.

Pagi ini saya diajak berkeliling kota sambil mendiskusikan beberapa hal dengan staf pemerintah daerah, sebelum siang harinya menghadiri acara bimbingan teknis tentang proses bisnis. Perbincangan kami seputar komitmen Bupati yang tinggi untuk memajukan Kabupaten Banggai. Program ini dimulai dengan membangun tata pemerintahan yang baik untuk peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ada juga komitmen untuk pelaksanaan reformasi birokrasi. Tak segan-segan Bupati turun langsung untuk memonitor bagaimana upaya dan capaian terkait reformasi birokrasi ini.

Bimtek Proses Bisnis

Saat kegiatan dimulai, saya pun semakin semangat dibuatnya. Awalnya saya mengira kegiatan ini dilaksanakan setelah bulan Ramadhan. Hal ini mengingat pertimbangan jika dilaksanakan di bulan Ramadhan pelaksanaan kegiatan kurang maksimal. Namun ternyata perkiraan saya meleset. Kegiatan selama tiga hari tersebut berjalan penuh semangat. Para peserta aktif dan antusias selama bimtek.

Malahan jam istirahat tidak lama karena tidak ada makan siang. Kegiatan pun berlangsung hingga buka puasa. Sungguh luar biasa semangat para peserta. Hal ini membuat saya merasa senang tak terkira. Di sambutan pembuka saya sampaikan pentingnya konsensus dan komitmen agar peta proses bisnis bisa segera rampung.

Jika dalam perjalanan ada hal-hal yang harus disesuaikan dan disempurnakan, maka bisa segera diperbaiki. Peta proses bisnis bukan kitab suci, alias bisa mengalami perubahan. Namun, jika segera disusun, dibahas, lalu disepakati kemudian disahkan, maka bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan.

Dengan demikian jika penyusunan peta proses melalui langkah-langkah yang benar maka hasilnya bisa menjadi panduan atau kitab suci. Inilah yang sering saya katakan berulang-ulang tentang hakikat dari peta proses bisnis bagi institusi pemerintah.

Selain tentang materi bimtek, ada saatnya Wakil Bupati Banggai memberikan pidato yang mengapresiasi buku-buku karya saya. Bahkan, tak segan-segan beliau berpesan agar buku yang saya tulis harus dimiliki oleh para PNS di pemerintah daerah Kabupaten Banggai. Tentu saja hal itu membuat saya merasa bangga dan bersyukur.

Baru kali ini ada seorang pejabat yang dengan terang benderang mengungkapkan hal tersebut. Sudah semestinya suatu karya diberi tempat yang luas agar semakin berkembang dan dinikmati banyak orang. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang.

Sharing Saat Usai

Baru saja saya kembali dari Bukit Keles, sebuah kawasan yang sejuk dan indah, berada tidak jauh dari Kota Luwuk. Di sana saya berdiam sejenak sekadar menikmati indahnya pemandangan sembari mengungkapkan rasa syukur dalam hati memiliki kesempatan menikmati perjalanan ini.

@Willy_photograp/Instagram

Ditemani dua orang staf Pemda Kabupaten Banggai, saya mendiskusikan banyak hal di sepanjang perjalanan. Kami juga mengulas pidato Wakil Bupati pada saat pembukaan acara Bimbingan Teknis Proses Bisnis dan Standard Operating Procedure (SOP).  Tak ketinggalan juga kami berbagi cerita tentang hal-hal lain terkait pengalaman hidup masing-masing.

Diskusi dengan dua orang calon pegawai negeri sipil (CPNS) di sepanjang perjalanan tersebut juga terkait dengan perjuangan mereka bisa diterima sebagai CPNS.  Saya katakan bahwa untuk berprestasi dan dikenal dalam lingkungan birokrasi, seseorang harus menciptakan perbedaan. Maknanya adalah melakukan sesuatu yang dibutuhkan banyak orang sehingga kehadiran kita menjadi bermakna.

Dalam obrolan tersebut saya sampaikan bagaimana pengalaman saya bekerja di pemerintahan yang kadang tidak mudah. Untuk menghadapi berbagai tipe manusia, kita harus mampu bersikap dengan baik. Saya punya rekan kerja yang ketika diajak bekerja sama sulitnya minta ampun.

Pekerjaannya lebih banyak mengkritik dan sering menganggap remeh orang lain. Dia merasa paling hebat, tapi saat diberi tugas dan tanggung jawab lebih banyak tak mampu diselesaikannya dengan baik. Menghadapi rekan dengan tipe seperti ini, saya pun berpesan agar berhati-hati.

Orang itu di depan kita suka berbaik-baik, akan tapi di belakang kita akan sangat tajam membahas kekurangan kita. Tak segan-segan ia akan menjatuhkan bahkan menfitnah kita. Apakah perlu membalas kejahatannya dengan kejahatan yang sama, agar dia sadar bahwa tak mungkin dia memperlakukan orang sesuka hatinya?

Untuk kasus seperti ini tiap orang tentu punya pilihan yang berbeda dalam menyikapinya. Ada yang secara frontal dan berhadap-hadapan dengan tipe manusia seperti ini. Dengan sikap itu, maka keributan pun tak terelakkan.

Namun, ada juga jenis manusia yang tidak ingin ribut, justru mendiamkan manusia jenis ini. Memilih yang mana, itu tergantung pilihan kedua pemuda tadi. Saya hanya sekedar sharing dengan mereka berdua agar kelak mereka siap dengan kondisi–kondisi seperti itu.

 

Bersyukur, Menulis, dan Bahagia

“Bukannya bahagia yang membuat kita bisa bersyukur, tetapi sikap mampu bersyukur yang membuat kita bahagia”, begitulah ungkapan Bruder David Steindl Rast, yang selalu saya camkan baik-baik dalam benak saya.

Betapa banyak kejadian di keseharian yang membuat kita kecewa. Di  banyak keadaan, betapa diskriminasi sering tak dapat dielakkan. Menghadapi hal tersebut tak ada jalan lain untuk kita pahami kemudian bersyukur.

Bekerja di birokrasi pemerintahan selama 22 tahun  mengajarkan saya pada banyak hal. Dengan rasa syukur tak ada rasa kecewa yang tersisa. Perjalanan dinas ke Kabupaten Banggai beberapa hari yang lalu telah membuktikan hal tersebut. Maka, belakangan ini saya belajar untuk menikmati apa yang ada lalu banyak bersyukur. Ujungnya kebahagiaan mudah diperoleh, yakni hati menjadi lapang dan inspirasi selalu hadir.

Pada setiap perjalanan saya pun menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Sebagai birokrat yang cukup sibuk, waktu begitu penting. Tak ada waktu yang terbuang percuma bagi saya. Selalu saja ada hal yang saya lakukan di sela waktu senggang. Paling tidak, yang saya lakukan adalah membaca buku.

Saya sering ditanya rekan dan sahabat mengapa di setiap perjalanan dinas, tas saya selalu penuh buku. Selain perlengkapan dan pakaian yang saya bawa, buku-buku menjadi sahabat perjalanan yang membuat saya bahagia. Maka apapun yang saya alami, solusinya selalu ada di dalam buku yang saya baca.

Kepulangan yang Mengaduk Emosi

Sambil memperhatikan ke kaca jendela, saya memandang Pantai Losari dengan rasa syukur. Sebentar lagi saya siap siap ke bandara kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung. Ini adalah perjalanan pulang saya dari Banggai.

Indahnya pagi ini dan saya menikmati dengan rasa syukur. Saya telah melakukan banyak hal hingga sejauh ini untuk terus berkarya dan tetap mengabdi kepada negara sebagai birokrat.

Saya tak mengira jika Kota Luwuk begitu indah dan mempesona. Dikelilingi pantai yang eksotis dan teluk yang tenang membuat bahagia tak terkira selama tiga hari saya di sana. Siang menjelang sore kemaren, saya sempat terdiam sambil duduk di pintu masuk keberangkatan Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk. Semilir angin membuat saya malas kembali ke Jakarta. Tapi tentu saja saya harus kembali.

Meskipun tak jauh dari hotel tempat saya menginap, saya hanya bisa melemparkan pandangan ke arah pantai sore itu dari dalam kendaraan menuju bandara. Warna air pantai hijau membiru sungguh mendamaikan hati. Perjalanan menuju hotel yang tak lebih 15 menit terasa sangat singkat.

Pulau Peleng tampak dari kejauhan, dulu merupakan bagian dari Kabupaten Banggai. Saat ini pulau itu menjadi Kabupaten tersendiri, Banggai Kepulauan. Saya berharap suatu waktu saya bisa kesana. Saya yakin pasti tak kalah indahnya dengan Banggai yang sedang saya kunjungi.

Perjalanan dinas kali ini sungguh mengaduk-aduk emosi saya. Sebelum pulang saya diantar ke Bandara Syukuran Aminudin Amir oleh beberapa rekan dari Pemda. Saya sempat katakan harusnya saya bisa menginap satu malam lagi di Kota Luwuk, melanjutkan tulisan ini sambil berdiskusi terkait dukungan banyak orang kepada saya.

Paling tidak 10 orang sudah memesan buku Birokrat Menulis 2 untuk segera dikirim. Tadi disampaikan pasti akan banyak lagi yang menyusul untuk memesan buku terbaru saya karena tulisannya yang ringan dan menggugah. Lagi-lagi saya kembali harus bersyukur. Semua upaya yang saya lakukan sebentar lagi akan mencapai titik klimaksnya.

Epilog

Ya, saya bersyukur lalu menulis dan akhirnya saya menemukan rasa bahagia. Jadi, ada pengembangan dari apa yang dikatakan oleh Bruder David Steindl Rast di atas. Untuk mendapatkan kebahagiaan harus diawali dengan rasa syukur.

Bagi saya, bahagia bisa dilakukan dengan bersyukur kemudian menulis. Jika ada tambahan lain untuk menjadi bahagia adalah jadilah pribadi yang rendah hati.

Banggai membuat saya bangga, terhadap alamnya yang indah dan orang-orangnya yang ramah dan bersahabat. Ini perjalanan yang penuh makna di penghujung bulan suci Ramadhan. Terima kasih, Banggai.

 

 

 

6
0
Segarkan Pikiran dengan Menjelajah ke Wae Rebo

Segarkan Pikiran dengan Menjelajah ke Wae Rebo

Birokrat pun butuh piknik, begitu yang saya yakini.
Mengapa tidak?
Bukankah dengan melepaskan diri sejenak dari kesibukan di kantor,
ide-ide segar justru akan deras mengalir ketika kita kembali bekerja?

Tulisan berikut adalah kisah pengalaman saya menjelajah Wae Rebo, sebuah desa nan eksotik di Flores,
Nusa Tenggara Timur.


Perjalanan Menuju Wae Rebo, Desa di Atas Awan

Wae Rebo ialah salah satu negeri di atas awan, selain Lolai Toraja dan Dieng yang sudah sangat familiar. Desa yang terletak di Kabupaten Manggarai Raya atau Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur ini mendapat penghargaan tertinggi untuk kategori warisan budaya Asia-Pasifik loh dari UNESCO. Keren kan?

Wae Rebo dapat ditempuh dari berbagai rute. Dalam cerita ini, saya melewati Labuan Bajo. Ada berbagai alternatif pilihan perjalanan ke sana sesuai budget masing-masing traveler. Kalau tidak  terbiasa me-arrange perjalanan, ada pilihan privat dan open trip. Kita tinggal terima jadi urusan rute, transportasi, akomodasi, dan dokumentasi sesuai instruksi tour guide. Namun kalau mau lebih hemat, bisa backpackeran.

Tempat Makan di Pinggir Sawah (Desa Denge)

Pengalaman kesana ikut privat trip 2d 1n (dua hari satu malam) membutuhkan biaya Rp 2,5 juta per peserta dengan jadwal sesuai request kita. Sementara itu, open trip biasanya butuh Rp 1,5-1,7 juta per peserta. Kita hanya bisa mengikuti jadwal yang sudah ada. Bahkan ada pula backpacker yang hanya butuh Rp 1,4 juta untuk 2 org, tetapi mereka mengendarai motor  dan menginap di rumah warga. Jauh lebih hemat kan?

Perjalanan private trip dimulai dari penjemputan dari hotel jam 5 subuh. Terlalu pagi? Sengaja, biar ketika kita mendakinya nanti tidak kemalaman. Perjalanan darat membutuhkan durasi selama 6 jam ke Desa Denge, kemudian kita istirahat makan siang. Nah, ada tempat makan siang yang menarik di tepi sawah di sini. Menikmati makan siang ini sembari menikmati pemandangan yang sangat bagus terasa sangat menyenangkan.

Pulau Mules atau Moles

Di perjalanan Labuan Bajo ke Desa Dintor, kita akan dapat melihat Pulau Mules atau Moles yang artinya pulau cantik. Dinamakan demikian karena memang bentuk pulaunya seperti seorang putri yang sedang tidur dengan posisi menghadap ke langit.

Di sepanjang perjalanan juga kita akan berpapasan dengan kendaraan penumpang lokal, yakni truk yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kendaraan penumpang. Truk ini diberi papan untuk tempat duduk penumpang sekaligus pembatas.

Bagian bawah papan tempat duduk akan digunakan untuk tempat bahan bangunan atau belanjaan penumpang. Sayangnya kemarin saya tidak berfoto, padahal menurut saya modifikasi kendaraan ini menjadi sesuatu yang menarik.

Batas yang bisa dilalui mobil adalah Desa Denge. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan menaiki ojek sekitar 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Pendakian Wae Rebo. Sekedar info untuk yang berencana backpacker, tarif ojeknya 50 ribu untuk sekali jalan. Di batas pemberhentian ojek, akan ada penyewaan tongkat bagi yang kakinya kurang kuat. Kalau tidak salah, tarifnya Rp10.000. Tongkat ini harus dikembalikan ketika kita turun nanti.

Pos 1. Wae Lomba

Di Pos 1, tertera pesan masyarakat lokal Wae Rebo sebagai tips bagi  para pengunjung. Beberapa di antaranya berisi himbauan untuk mengelola sampah, menghormati alam, melindungi satwa liar dan habitatnya, menjaga keselamatan, berhati-hati, berjalan, dan menghormati warga lokal. Oh ya, setiap tulisan termasuk Buku Pengenalan Wae Rebo telah dibuat dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Hal ini mengingat banyak pengunjung dari mancanegara.

Perjalanan trekking menuju Desa Wae Rebo sejauh 7 km rata-rata dapat ditempuh dalam 2-4 jam, tergantung kecepatan berjalan masing-masing orang. Perjalanan trekking kami, saya dan grup, dimulai dari Pos 1 dengan waktu tempuh ke Pos 2 sekitar 1-1,5 jam. Selama perjalanan ini saya sempat minta beberapa kali berhenti untuk istirahat. Maklum, saya bukan pendaki gunung. Hehe.

 

Keramahan Masyarakat Wae Rebo

Rute trekking yang kita lalui ini juga adalah rute yang dilalui masyarakat desa, sehingga tidak jarang dalam perjalanan kami akan berpapasan dengan masyarakat asli Wae Rebo. Jalur mereka memang hanya rute tersebut. Mereka membawa belanja, hasil pertanian, dan segala macamnya dengan cara dipikul. Termasuk solar untuk bahan bakar genset juga dipikul. Wae Rebo memang belum dialiri listrik.  Saya salut dan terkesan dengan penduduk asli desa. Semua yang berpapasan dengan kami akan menyapa “Selamat sore,Pak,Bu..” dengan senyum. Tidak jarang pula mereka bertanya, “Dari mana, Pak/Bu?”

Kemudian terbersit pertanyaan, kenapa Dana Desa di sini tidak digunakan untuk memperbaiki jalan supaya bisa dilalui kendaraan ya. Rasa penasaran itu sedikit pudar tatkala guide saya menjelaskan bahwa hal ini disengaja untuk menjaga keaslian tatanan fisik desa.


Pos 2.  Poco Roko

Sampai di Pos 2, seakan setengah perjalanan sudah terlewati. Di Pos 2 kami sudah bisa melihat awan di bawah kami. Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 dapat kami tempuh sekitar 1-2 jam. Memang, sesuatu yang indah dan berharga biasanya membutuhkan perjuangan lebih, iya kan. Please, dijawab saja iya. Haha.

 

Kearifan Lokal dalam Mendukung Pariwisata

Pos 3. Nampe Bakok (Rumah Kasih Ibu)

Seperti kata pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” di Pos 3 terdapat Pesan dari Masyarakat Kampung Wae Rebo yang berisi  rule atau aturan bagi pengunjung.

Salah satu yang menarik adalah “Bantu mendidik anak kami dengan tidak memberikan sesuatu (permen,uang, mainan, atau kue) tanpa seijin orang tua mereka.”

Menurut saya, pesan ini sangat bagus untuk membentuk mental dan mengajarkan anak tidak pamrih ketika memberikan bantuan kepada wisatawan. Hal ini merupakan salah satu tantangan tempat wisata di Indonesia yang terkadang membuat wisatawan kurang nyaman.

Jarak dari Pos 3 ke Kampung Wae Rebo hanya 5 menit. Ketika hendak melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Kampung, kami terlebih dahulu membunyikan alat tabuh bamboo yang disediakan di Rumah Kasih Ibu. Hal ini menjadi penanda datangnya tamu.

Rumah Gendang

Setiap pengunjung yang baru tiba di Kampung Wae Rebo harus terlebih dahulu menuju rumah Gendang untuk mengikuti Upacara penghormatan leluhur (Waelu’u). Setelah ikut upacara, pengunjung baru diperkenankan beraktivitas di kampung. Upacara ini menjadi penanda bahwa pengunjung sudah diperkenalkan dan telah diterima. Sehingga, masyarakat tidak akan lagi bertanya siapa ketika berpapasan dengan pengunjung.

Upacara ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan pengunjung bagi para leluhur Wae Rebo. Ketika upacara berlangsung, tidak diperkenankan adanya dokumentasi. Konon pernah ada kejadian wisatawan asing yang sembunyi-sembunyi mengambil dokumentasi. Setelah kameranya dicek keesokan harinya, seluruh gambar dan video upacara hilang alias tidak ada. Hiii.

Setelah dari Rumah Gendang kami diarahkan ke Niang, rumah kerucut lainnya, sekaligus tempat beristirahat. Di sini kami langsung disuguhi kopi khas Flores. Bagi yang tidak kuat minum banyak, jangan sampai ketagihan ya!

 

Suguhan Kopi Flores

Tempat Tidur Pengunjung

Nikmati Keindahan Alam tanpa Gadget

Di Kampung Wae Rebo, wisawatan akan tidur di suatu tempat beristirahat yang disebut dengan Niang. Masing-masing orang diberi selimut, bantal dan kasur tipis yang sudah terpasang di bawah karpet masing-masing. Penasaran bentuknya? Begini tampilannya.

Kegiatan makan di Wae Rebo dilakukan bersama-sama. Tradisi ini menciptakan keakraban di antara wisatawan, sesuai dengan budaya Indonesia pada umumnya.

Pengunjung Makan Malam Bersama

Di Wae Rebo kami hanya bisa menggunakan gadget atau handphone untuk foto. Di sana tidak ada sinyal telekomunikasi, sehingga otomatis tidak ada jaringan telepon dan internet.

Karena keterbatasan sumber energi yang hanya mengandalkan genset, kami hanya bisa mengisi daya gadget dari sore hingga malam hari.

Pemandangan Wae Rebo malam hari

Oleh karena itu, wisatawan lebih memilih untuk saling bercengkrama, berbagi cerita, melihat keindahan dan budaya kampung.

 

Ternyata cukup seru ketika kami tidak sibuk dengan gadget masing-masing tetapi justru berbicara satu sama lain.

Saya tiba di Kampung Wae Rebo ketika hari sudah sore, sehingga hanya sempat mengambil foto malam hari sesaat sebelum tidur. Kebetulan bulan sedang tampak dan banyak bintang bertaburan, menambah indah pandangan malam.

Saat subuh, para wisatawan bangun dan segera untuk berburu sunrise. Bagaimana hasilnya? This is it.

Kampung Wae Rebo di pagi hari


Keren?!
 Perjuangan pendakian sebelumnya terbayarkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata ini. Inilah dia, Kampung Wae Rebo yang hanya terdiri dari 7 Niang atau rumah kerucut. Orang juga sering menyebut kampung ini sebagai Mbaru Niang.

Setelah puas berfoto, wisatawan akan dipanggil untuk sarapan bersama dan berkemas untuk pulang.

Jika perjalanan menuju Wae Rebo kami tempuh dalam 2 jam, perjalanan pulang lebih cepat. Kami turun hanya dalam waktu 1 jam 5 menit!!

Spider Rice Field, Pesona Sawah nan Indah

Spider Rice Field

Dari Pos 1 kemudian kami lanjut naik ojek menuju parkiran mobil seperti saat berangkat. Karena paket trip yang saya ambil sudah include dengan Spider Rice Field, maka kami lanjut perjalanan kesana. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan mobil sampai di Desa Cancar, kemudian trekking kurang lebih 10 menit dengan alur yang agak menanjak.

Sawah di Desa Cancar ini sengaja dipetak-petak seperti dalam gambar untuk menjadi daya tarik wisata. Pemberian namanya juga sesuai dengan bentuknya, menyerupai jaring laba-laba.
Setelah sejenak dari Cancar, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Di jalan kami sempat mampir ke Le Cecile yang menjual Nasi Kolo khas Labuan Bajo. Sebenarnya pemberhentian ini di luar trip, tapi pantas dicoba untuk menghapus penasaran akan kuliner lokal. Le Cecile menjadi tempat yang bagus juga untuk melihat sunset. Nasi Kolo di sana dijual dengan harga Rp 100 ribu. Nasinya dibakar di daun kemudian dimasukkan ke dalam bambu, lalu disajikan dengan aneka lauk. Kalau di tempat saya cara masaknya mirip lemang, tetapi di sini ketannya diganti nasi.

  
Sunset di Le Cecile dan Nasi Loko

Pemandangannya ciamik bukan?

Setelah puas menikmati sunset dan makan di Le Cecile, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke hotel. Trip ke Wae Rebo pun berakhir.

 

Tips Perjalanan

Oh ya, sebagai tips bagi yang berminat mengunjungi Wae Rebo, perhatikan baik-baik jadwal keberangkatan. Karena trip ke Wae Rebo biasa dimulai dari jam 5 pagi. Jadi, sebaiknya pengunjung dari luar kota mengambil penerbangan pada hari sebelumnya.

 

 

 

2
0
Membantah Keraguan tentang  Ketiadaan Transparansi dan Akuntabilitas  Pada Seleksi CPNS 2018

Membantah Keraguan tentang Ketiadaan Transparansi dan Akuntabilitas Pada Seleksi CPNS 2018

Prolog

Di awal September 2018, desas-desus pembukaan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2018 mulai beredar di hampir seluruh media sosial. Saat itu saya masih bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Kali ini, saya berniat untuk mengikuti seleksi CPNS dan berharap lulus.

Tahapan yang Melelahkan

Tekad saya begitu besar untuk mendaftar setelah saya pernah gagal pada tahun 2014 dan tidak memiliki kesempatan pada tahun-tahun berikutnya karena lokasi kerja. Untuk maksud itu, saya mengajukan izin kepada atasan untuk mengikuti seleksi tersebut. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, permohonan saya dikabulkan oleh atasan.

Memasuki akhir September 2019, situs pendaftaran seleksi CPNS pun akhirnya dibuka. Seperti kita ketahui bersama animo masyarakat menyambut seleksi CPNS kali ini begitu besarnya.

Tak jarang situs tersebut kemudian menjadi down. Bahkan, sampai tak dapat diakses selama beberapa waktu. Pengalaman saya sendiri, saya harus bersabar untuk mencoba men-submit pendaftaran sampai dengan puluhan bahkan ratusan kali hingga akhirnya saya berhasil didaftar.

Tak cukup di situ, menurut saya proses seleksi ini memang sebuah tahapan panjang dan sangat melelahkan. Saya katakan sebagai “tahapan panjang” karena jeda waktu di tiap tahapan seleksi begitu lama dan tidak jarang mengalami penundaan hasil seleksi.

Saya katakan “melelahkan” karena kata inilah yang sangat dirasakan oleh para aparatur negara yang terlibat, baik panitia seleksi pada instansi maupun panitia seleksi nasional.

Perlu diketahui, tahapan seleksi CPNS meliputi pendaftaran – seleksi administrasi – seleksi kemampuan dasar (dengan sistem komputerisasi) – seleksi kemampuan bidang (ini beragam dan berbeda untuk setiap instansi) – integrasi nilai SKB dan SKD – pemberkasan – pemanggilan.

Nah, selama berlangsungnya tahapan-tahapan tersebut banyak sekali pro dan kontra dari para peserta seleksi. Misalkan, soal passing grade yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan banyak yang tidak mampu mencapainya.

Akhirnya, diterbitkanlah Permenpan nomor 38 tahun 2018 yang isinya memberikan kelonggaran bagi peserta yang tidak mencapai passing grade dengan sistem ranking. Hal ini dilakukan untuk menghindari gap yang terlalu besar antara jumlah formasi dengan jumlah peserta yang mencapai passing grade.

Tak hanya sampai di situ. Pro dan kontra tetap bergaung setelah tahapan akhir seleksi. Banyak peserta yang merasa dirugikan. Yang awalnya sudah mampu mencapai passing grade, tetapi akhirnya harus kalah dalam seleksi kemampuan bidang dengan peserta lain yang awalnya tidak memenuhi passing grade. Mereka merasa dirugikan dengan hadirnya Permenpan nomor 38 tahun 2018.

Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi selama proses tahapan seleksi CPNS tahun 2018, saya adalah peserta yang berhasil mencapai passing grade dan sampai pada akhir tahapan seleksi saya dinyatakan lulus sebagai CPNS.

Eits, tunggu dulu, masih belum selesai, ternyata masih ada proses lainnya yang menunggu yaitu pemberkasan dan pemanggilan. Dan akhirnya, eng-ing-eng, alhamdulillah akhirnya saya mendapat informasi berupa surat mengenai kapan saya mulai bekerja pada instansi yang saya pilih. Bahasa kerennya TMT (Terhitung Mulai Tanggal), begitu kira-kira yang saya denger dari beberapa rekan PNS.

Membantah Keraguan

Kemudian, apa korelasi antara judul tulisan saya dengan cerita pribadi saya? Pertanyaan ini sangat menarik bagi saya dan tentunya bagi sebagian besar orang di luar sana, baik yang sudah pernah mengikuti tahapan seleksi CPNS maupun yang baru akan mencoba mengikuti tahapan seleksi CPNS.

Lets we start! Transparansi atau keterbukaan menjadi sangat penting di tengah berkurangnya trust masyarakat pada setiap proses seleksi CPNS dari tahun ke tahun.

Contohnya, masih saja ada isu-isu di tengah masyarakat bahwa tanpa memiliki keluarga dekat, mustahil seseorang akan bisa bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Atau, soal berapa besaran uang yang harus dikeluarkan ketika akan masuk di sebuah instansi.

Hal-hal yang masih menjadi isu di tengah masyarakat di atas, sebaiknya segera dibuang jauh-jauh. Mengapa? Menurut saya, seleksi CPNS yang saya ikuti sudah sangat transparan. Tidak ada lagi yang disembunyikan, disisipkan, atau bahkan dititipkan. Semua proses telah diinfokan dan dilaporkan secara online.

Pada seleksi administrasi misalnya, bukan hanya nama-nama peserta yang lulus seleksi administrasi saja yang ditampilkan, tetapi juga seluruh nama peserta yang tidak lulus pun juga ditampilkan, dan disertai alasannya.

Maju ke tahap selanjutnya, yaitu seleksi kemampuan dasar, melalui sistem komputerisasi yang diberi nama CAT, setiap peserta seleksi diberikan kemudahan mengakses hasil seleksinya secara real time setelah mengerjakan tes.

Bahkan, peserta juga bisa melihat hasil seleksi peserta lainnya secara real time. Artinya, hasil seleksi peserta tidak mungkin akan dengan mudah bisa dimanipulasi.

Di tahapan berikutnya, yaitu seleksi kemampuan bidang, memang terdapat perbedaan dari masing-masing instansi terkait materi yang akan menjadi bahan seleksi.

Namun, setelah tahapan ini masih ada tahapan integrasi nilai Seleksi Kemampuan Dasar dan Seleksi Kemampuan Bidang yang dilaksanakan oleh instansi terkait besama dengan Badan Kepagawaian Negara, yang tentu saja akan menampilkan hasil akhir yang transparan dan akuntabel.

Simpulan

Dari cerita pengalaman saya di atas, saya ingin menjadikan diri saya sebagai saksi hidup bagaimana proses seleksi CPNS di negeri kita tercinta ini sudah sangat transparan dan akuntabel.

Tak ada lagi sanak keluarga pejabat yang dititipkan maupun sejumlah uang yang harus dibayarkan. Seluruh proses mulai dari pendaftaran sampai dengan pertama kali anda menginjakan kaki di instansi yang kita pilih adalah gratis!

Peluang bagi kita semua sama besarnya untuk dapat menjadi seorang abdi negara.

Untuk itu saya mengajak kawan-kawan milenial untuk jangan ragu ketika memutuskan bercita-cita menjadi seorang ASN karena sistem seleksi sudah transparan dan akuntabel.

Bagi saya pribadi, menjadi seorang ASN bukan lagi tentang mengejar materi semata, tetapi bagaimana menjadikan pekerjaan ini sebagai ladang pahala bagi modal kita menuju akhirat kelak.***

 

 

4
0
Perjalanan Birokrat Menulis Buku

Perjalanan Birokrat Menulis Buku

Bagi seorang pegawai negeri, masa cuti seringkali menjadi saat yang dinanti-nanti. Begitu pun bagi saya. Pada hari cuti, jika kebanyakan orang sudah menyusun rencana acara selama cuti untuk bersenang-senang ke berbagai obyek wisata, maka saya memilih cuti untuk bisa berdiam diri.

Di masa cuti saya berdiam diri sejenak menciptakan keheningan dari rutinitas yang terbiasa mengepung sepanjang hari. Hidup memang perlu sejenak berhenti, melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Maka inilah cerita saya tentang refleksi diri atas capaian sejauh ini sebagai buah dari perjuangaan tanpa henti.

Pengalaman Mengabdi di Birokrasi

Setelah bekerja selama hampir 22 tahun di birokrasi pemerintahan, saya mendapat banyak pengalaman dengan segala dinamikanya. Salah satu di antaranya adalah tentang ketidaknyamanan. Namun, di balik semua ketidaknyamanan tersebut tetap banyak kebaikan yang saya dapatkan.

Karir sebagai birokrat diawali dengan tugas sebagai auditor pemerintah di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Penempatan pertama  saya adalah di Provinsi Sulawesi Utara, Negeri Nyiur Melambai, dan saya jalani selama hampir tiga tahun. Usai bertugas di sana, saya menjadi peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengawasan (Puslitbangwas) BPKP di Jakarta. Belum genap tiga tahun kemudian, saya dimutasi menjadi staf bagian hubungan masyarakat (Humas) pada institusi pengawasan internal pemerintah itu.

Perpindahan di antara tiga unit kerja yang berbeda-beda dalam waktu yang tidak terlalu lama membuat saya terlatih dengan berbagai hal baru yang jauh lebih beragam daripada pengetahuan saya sebelumnya. Khususnya, ketika menjadi bagian dari Humas saya belajar tentang jurnalistik dan pemberitaan.

Usai berpindah-pindah di antara tiga unit kerja di BPKP tersebut, dalam empat belas tahun berikutnya hingga hari ini, saya berganti institusi tempat mengabdi. Institusi itu adalah sebuah kementerian yang mempunyai tugas utama mendorong implementasi reformasi birokrasi di Indonesia.

Dalam tiga tahun pertama, selain melaksanakan tugas di bidang ketatalaksanaan, saya diberi peran tambahan untuk mengelola penerbitan majalah internal instansi. Mengurusi majalah ini merupakan sebuah pengalaman baru yang menantang, tetapi saya nikmati dengan sepenuh hati.

Di sana saya menemukan banyak hal baru termasuk di antaranya mengenalkan saya pada banyak kepala daerah di beberapa provinsi di Indonesia. Sebuah pengalaman yang tak akan saya dapatkan jika saya tak mengambil hikmah dari penugasan yang sungguh di luar perkiraan, sekaligus karena senantiasa belajar dari ketidaknyamanan.

Perjalanan Awal Menulis Buku

Pengalaman berpindah-pindah posisi dan penugasan dalam birokrasi tersebut saya rangkai menjadi sebuah buku motivasi saya yang pertama, dengan judul Anything is Possible. Buku ini terbit pada bulan Mei 2012, berisi kumpulan cerita yang saya tulis tentang pengalaman bagaimana mengelola sebuah penerbitan majalah, termasuk bagaimana cara menemukan kunci sukses para kepala daerah selama membangun daerahnya.

Pengalaman bertungkus lumus menerbitkan buku juga saya singgung di buku ini. Tak pernah saya duga sebelumnya, buku ini cukup mendapat tempat di hati para pembaca. Berkat bantuan salah seorang pejabat pemerintah daerah di salah satu kabupaten di Sumatera Barat kala itu, saya bahkan pernah diwawancarai oleh sebuah harian lokal yang cukup dikenal di Sumatera Barat. Isinya terkait pengalaman menulis dan mengupas isi buku Anything is Possible ini.

Pelajaran yang saya petik adalah, hendaknya kita senantiasa mensyukuri setiap kejadian yang pada awalnya tampak tak sesuai harapan. Meski muncul rasa tidak nyaman, tapi sebisa mungkin kondisi itu kita ubah menjadi  sebuah peluang, sehingga kita dapat mengambil manfaat atas kejadian atau ketidaknyamanan tersebut.

Setelah buku ‘Anything is Possible’ kemudian terbitlah lagi buku ‘Birokrat Move On’ pada akhir tahun 2013. Buku ini merupakan kumpulan tulisan saya di waktu senggang, misalnya saat perjalanan dinas dan di antara keseharian. Buku tersebut memuat catatan tentang bagaimana saya melihat berbagai fenomena hidup dan kehidupan.

Boleh dikatakan pula bahwa buku ini adalah kumpulan ketidaknyamanan dan tantangan yang saya ubah menjadi tulisan-tulisan. Buku berwarna merah putih ini juga pernah dibedah di Kementerian PAN & RB dan disambut dengan antusias di kalangan birokrasi pemerintahan.

Belum puas dengan ‘Birokrat Move On’, saya menulis lagi Buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’, yang kemudian diterbitkan pada bulan April 2015. Buku ini pernah diulas dalam bentuk talk show di Kementerian PAN & RB di bulan Mei 2015, dengan menghadirkan Hilbram Dunar, sang presenter program TV Mario Teguh yang sangat terkenal kala itu, sebagai host-nya.

Terbitnya buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’ makin membuat saya bersemangat. Beberapa kali saya diundang di beberapa tempat untuk menjadi narasumber acara tentang kepenulisan. Beberapa di antaranya bisa saya penuhi, tetapi tidak seluruhnya. Sebab, tugas sebagai birokrat di sebuah institusi pemerintahan tetap menjadi prioritas utama.

Tema Birokrat Dalam Buku

Tentu saja yang paling menyita perhatian adalah terbitnya buku berjudul ‘Birokrat Menulis’ pada awal Desember 2016. Sebelum terbit secara luas, soft launching buku ini diadakan pada tanggal 1 September 2016. Dalam acara itu, hadirlah beberapa tokoh pemerintahan, di antaranya Prof Dr Irwan Prajitno, MSc., Gubernur Sumatera Barat 2010-2015 dan 2015-2020; dan Dr Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas RI 2014-2015 yang saat ini menjabat Komisaris Utama Bank BRI.

Selain dua nama tersebut, hadir pula Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian PAN dan RB, Ibu Rini Widyantini SH, MPM, serta Deputi SDM Aparatur Kementerian PAN dan RB, Bapak Dr Ir Setiawan Wangsaatmadja. Di penghujung acara juga hadir Bapak Dwi Wahyu Atmaji, Sesmen PAN dan RB serta beberapa orang pejabat eselon 2,3, dan 4 lainnya dari Kementerian PAN dan RB, BPKP, dan LAN RI. Bagi saya, adalah sebuah kebanggan tersendiri karena soft launching buku Birokrat Menulis tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting dan mendapat apresiasi yang luar biasa.

Sebagai kelanjutan dari buku berjudul Birokrat Menulis yang sangat nge-hits, buku bertajuk ‘Birokrat Menulis 2’ telah dapat dinikmati oleh para pembaca pada awal Januari 2019 lalu. Peluncurannya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri karena sempat beberapa kali tertunda dengan alasan teknis dan nonteknis. ‘Birokrat Menulis 2, Merangkai Kata dengan Cinta’ adalah buku terbaru yang saya harapkan bisa lebih diminati daripada buku-buku saya terdahulu.

Buku itu mengulas banyak hal tentang persahabatan, kesabaran, keikhlasan, dan harapan dikaitkan dengan pengalaman saya selama mengabdi di birokrasi dan kepenulisan. Beberapa ulasan terkait reformasi birokrasi juga diulas dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Buku ini makin melengkapi saripati dan dinamika perjalanan saya di birokrasi pemerintahan selama beberapa tahun terakhir, yang rasa-rasanya kian lama kian menantang.

Persembahan Untuk Instansi

Saya terus berjalan lurus dan juga fokus bekerja di instansi yang selama ini banyak memberi pengalaman dalam berbagai hal terutama reformasi birokrasi. Tanpa perlu mengindahkan pandangan orang lain, saya tetap fokus dan terus belajar dari pengalaman untuk menghasilkan tulisan. Selain itu, berdiskusi dengan banyak orang membuat kemampuan saya meramu kata menjadi makin meningkat.

Di sisi lain, kecintaan saya pada institusi yang telah membesarkan saya selama ini pulalah yang mendorong saya untuk menulis buku terkait standar operasional prosedur (SOP) administrasi pemerintahan dan proses bisnis instansi pemerintah.

Keduanya adalah buku yang sangat dibutuhkan oleh aparatur pemerintah dalam memahami pentingnya SOP dan proses bisnis dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedua buku ini masih berada dalam tahap revisi untuk cetakan terbaru, dengan harapan setelahnya akan makin banyak orang yang mendapat manfaat dari buku tersebut.

Epilog

Sebagaimana saya tuliskan pada bagian awal, pengalaman hidup saya dalam berkarir adalah bahan untuk belajar yang membuat saya tidak bergantung pada makhluk dan menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, maka kita dapat menjalani hidup ini menjadi lebih mudah.

Pada akhirnya, jika ada orang yang tidak senang dengan karya dan prestasi kita, biarkan saja tidak perlu diambil pusing. Kita harus yakin bahwa hal itu justru membuat kita terus berupaya mencari solusi agar hidup ini terus bermakna.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah buku “Balas Dendam yang Sangat Manis” karya A.K. Dikatakan di dalamnya:

“Dalam hidup ini, mungkin kau akan dipertemukan dengan orang-orang yang jahat, orang-orang yang memanfaatkanmu, orang orang yang memanipulasimu, orang-orang yang tidak menghormatimu, dan orang-orang yang menyakitimu. Untuk apa? Karena orang-orang itulah yang kau butuhkan untuk menjadi lebih dewasa, untuk menjadi lebih kuat, dan untuk menjadi lebih beriman. Orang-orang yang datang menyakitimu adalah orang-orang yang sebenarnya kau butuhkan agar kau menjadi pribadi yang lebih hebat.”

Saya kian sepakat dengan pernyataan itu. Saya telah membuktikannya sendiri.

Tak mudah bagi seorang birokrat untuk terus berkarya di tengah deraan pekerjaan tiada henti. Namun kebulatan hati serta tekad dan semangat membuat saya bisa bertahan sejauh ini. Teruslah melangkah, lawan ketidaknyamanan dengan karya. Tetaplah menulis dan berkontribusi untuk negeri dengan melakukan hal terbaik sesuai bidang masing-masing. Selamat berkarya, menulislah!

 

 

30
0
Menyelamatkan Pengetahuan Lokal, Melestarikan Alam:  Kisah Blusukan di ‘Ubud Writer and Reader Festival’

Menyelamatkan Pengetahuan Lokal, Melestarikan Alam: Kisah Blusukan di ‘Ubud Writer and Reader Festival’

Hasrat njajah deso milangkori saya sebenarnya sudah jauh turun dibandingkan dua puluh tahun lalu. Karena itulah terkadang saya merasa cukup berdiam diri di kamar kos di hari Sabtu dan Minggu. Dulu saya suka blusukan tanpa arah. Satu hal yang paling saya sukai dari aktivitas tersebut adalah ketika saya tersesat. Lucu dan tidak terlupakan.

Pertengahan Okteber lalu, tanpa sengaja saya membaca status teman yang ingin datang di Ubud Writer and Reader Festival  (UWRF). Segeralah saya bertanya ke mbah Google. Mata saya langsung berbinar karena acara tersebut diselenggarakan pada saat yang sama dengan penugasan saya ke Denpasar. Sebagaimana kalimat pertama dalam tulisan ini, banyak sekali godaan yang mengendurkan niat tersebut,. Saya pun ragu, ya atau tidak, ya atau tidak.

Keraguan yang Meyakinkan

Ada banyak pertimbangan yang membuat saya ‘maju mundur’. Ubud, lokasinya bukan di kota Denpasar, tapi di Gianyar. Saya cek di aplikasi penyedia layanan transportasi tarifnya mencapai 100 ribuan dari hotel yang saya tinggali. Harga tersebut tentu juga mencerminkan jarak yang lumayan jauh nan ngaluk-aluk.

Di sisi lain, entah bisikan dari mana, ada keyakinan bahwa saya harus ke sana. Sayang dilewatkan, begitu pikir saya. Belum tentu (atau sudah pasti, ya) tahun-tahun ke depan saya bisa mengunjungi karena jaraknya jauh dari Jakarta maupun Makassar. Sementara, ini momennya pas, pas saya ada di Denpasar.

Alasan yang cukup kuat bukan? Ternyata tidak juga, karena langsung dibantah bisikan lain, ah, di Makassar juga sering diselenggarakan “Makassar Writer Festival,” untuk apa ke Ubud.

Pertarungan bisikan itu akhirnya berakhir dengan, “Yo wis lah tak mrono” (Ya sudahlah saya kesana- red). Ubud memiliki karakter daerah yang berbeda dengan Makassar. Jadi, festival yang diselenggarakan di Ubud dan di Makassar tentu berbeda.

Niat itu ternyata masih diuji. Dini hari jelang ke Ubud, sekitar jam 03.30, betis saya terasa kram. Tidak lama, paling sekitar tiga puluh detik, tapi sempat membuat saya meringis kesakitan. Sewaktu saya coba jalan, rasa bekas-bekas kram masih ada. Wah, jangan-jangan ini isyarat supaya saya jangan ke Ubud. Setelah satu jam, rasa sakit itu pun pergi.

Jadilah pagi itu saya mbolang (menyerupai bocah petualang-red) sendiri. Niatnya, mengulang keter-blasuk-blasukan saya sekian tahun silam. Sebenarnya saya ingin naik angkutan umum, seperti bis atau angkutan kota. Sayangnya, moda transportasi ini sudah sulit ditemuan di Bali. Masyarakat lebih suka mengendarai motor untuk bepergian. Selain menghemat, banyak hal menarik yang bisa ditangkap ketika saya memakai bis atau angkutan kota.

Diskusi Lokal Rasa Internasional

Sekitar pukul 10.30 sampailah saya di lokasi. Masih sepi. Hanya beberapa orang berlalu lalang.  Saat itu sedang berlangsung program utama yang mengupas tentang local wisdom. Sekitar dua ratusan orang asyik menyimak paparan aktivis lingkungan tentang bagamana seharusnya mengelola alam.

Sebagaimana prediksi saya, kebanyakan yang hadir adalah ‘orang Inggris’, sebutan bule oleh anak saya saat ia berusia delapan tahun. Dari beberapa yang menyimak acara tersebut, hanya beberapa yang saya dapati berambut hitam seperti saya. Ini lah yang sepertinya membuat Ubud Writer and Reader Festival berbeda dengan yang diselenggarakan di Makassar.

Tentu, ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa orang Indonesia tidak memiliki minat terhadap festival tersebut. Faktor lokasilah yang menurut saya menjadi pengaruh yang cukup signifikan. Andai Festival tersebut di selenggarakan di Denpasar, saya yakin akan banyak orang Indonesia yang mengunjungi. Meski saya belum pernah datang di Writer Festival di Makassar, dari hasil ‘googlingan’ terlihat banyaknya orang Indonesia yang hadir.

Lha Ubud sendiri kan memang penduduk bule-nya banyak. Belum lagi, tidak ada bis atau angkutan umum murah meriah menuju lokasi. Jadi sangatlah wajar kalau yang datang pun kebanyakan orang asing yang tidak asing dengan Ubud. Kebalikan dengan saya, bukan orang asing yang asing dengan Ubud.

Langsung saya mengambil tempat duduk, lalu menyimak diskusi. Dari menit pertama persimakan, saya sudah dibuat bergumam, “Aha, impas sudah mbolang saya.” Para pembicara yang sedang membahas tentang local wisdom ini menyuarakan bagaimana menjaga bahasa lokal, kisah dan pengetahuan, serta memberdayakan komunitas di Indonesia. Pemahaman akan kearifan lokal diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pentignya Pengetahuan Lokal

Dalam banyak hal, masyarakat lokal memiliki pengetahuan untuk untuk mengelola alam dan sekitarnya. Sayangnya, dalam penyusunan kebijakan, pengetahuan-pengetahuan tersebut sering diabaikan. Misalnya, sebelum terjadi gempa di Palu, tanda-tanda alam seperti perubahan perilaku hewan sudah terlihat.

Leluhur memiliki pengetahuan lokal akan hal ini. Mereka juga memahami mana area-area bumi yang dapat dimanfaatkan dan mana yang dilarang. Hal ini disampaikan oleh Rukmini Toheke pendiri Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro yang bergerak dalam upaya untuk mendukung dan menguatkan peran perempuan. Rukmini juga mendorong agar pengetahuan-pengetahuan lokal untuk menjaga bumi tetap terpelihara melalui penddikan kepada generasi-generasi muda.

Pentingnya pengetahuan lokal ini juga terlihat ketika terjadi tsunami di Aceh. Saat itu ada suatu area yang jumlah korbannya sangat sedikit. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah karena masyarakat di daerah tersebut mampu mendengarkan suara alam yang merupakan pengetahuan lokal yang diturunkan antar generasi.

Menariknya, pengetahuan lokal ini justru banyak dimiliki oleh para wanita, para ibu.  Salah satu pembicara saat itu adalah Sanne Van Oort, pendiri Mother Jungle yang mendukung para ibu pada masyarakat adat untuk melestarikan pengetahuan melalui tradisi bercerita sebagai bagian dari budaya dan konservasi lingkungan.

Mother Jungle menawarkan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan baik untuk individu ataupun kelompok untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru guna membangun dunia yang lebih berkesinambungan untuk generasi masa depan.

Menurut Sanne, perempuan adat memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi agen perubahan. Mereka berhasil hidup bertahun-tahun di hutan. Dari merekalah kita dapat belajar bagaimana memanfaatkan hutan tanpa merusaknya.

Kita juga bisa belajar bagaimana mereka mengajarkan pengetahuan-pengetahuan tersebut kepada anak-anaknya secara turun temurun. Sayangnya, dalam banyak hal, tanah mereka diambil dan hak-hak dasar mereka tidak dihormati. Karena itulah, menurut Sanne, Mother Jungle mengambil peran untuk mendorong para perempuan untuk bersuara.

Menarik bukan?

Melestarikan Pengetahuan

Bagi saya yang dua hari sebelumnya baru saja mengikuti FGD tentang knowledge management systems (KMS), duduk bersama dan mendengarkan para aktivis lingkungan ini jelas memperkaya materi yang saya dapatkan. Setidaknya, pertama, saya semakin memahami mengapa kita harus melestarikan knowledge.

Kedua, sosok Sanne Van Oort menjadi menarik karena ia, yang bukan asli Indonesia, begitu termotivasi untuk mengumpulkan knowledge masyarakat adat di Indonesia. Tentu, ini menjadi refleksi tersendiri bahwa terkadang hal-hal semacam ini sering terabaikan.

Ketiga, meng-capture knowledge itu memang tidak mudah, meski juga tidak berarti tidak mungkin. Menggali informasi dari para perempuan adat tentu tidak semudah mencari jawab dari para public figure.

Dalam banyak hal, struktur masyarakat kita belum memberikan kesempatan pada perempuan untuk bersuara. Karena itulah, tantangan yang dihadapi oleh para aktivis ini adalah bagaimana melakukan pendekatan baik kepada para perempuan tersebut agar memeliki keberanian untuk berbicara.

Hal yang sama juga terjadi dalam proses ketika kita ingin meng-capture knowledge dalam suatu organisasi. Berbeda dengan konteks masyarakat adat, anggota organisasi butuh insentif lain agar mau berbagi tacit knowledge-nya untuk organisasi.

Sebagaimana juga knowledge komunitas adat yang bisa hilang jika tidak dilestarikan, knowledge organisasi juga bisa musnah seiring dengan kepergian para anggotanya baik karena pindah, pensiun, atau meninggal.

Epilog

Kembali kepada penjajahan deso milangkori saya, usai diskusi para peserta dipersilakan foto dan chitchat-an atau mengobrol dengan pembicara. Saya tetap duduk di kursi sembari berfikir untuk menanyakan sesuatu kepada pembicara. Kalaupun bertanya, saya pun belum tau apa yang yang mesti saya tanyakan. Di sisi lain, sayang kalau saya melewatkan kesempatan mengobrol dengan pembicara.

Setelah beberapa menit, saya pun maju menghampiri pembicara. Masih ada beberapa orang yang mengantri untuk berbicara dengan mereka. Saya masih belum terfikir secara jelas apa yang akan saya tanyakan. Beberapa menit pun berlalu hingga…aha… saya merasa bahwa saya harus berbicara dengannya, harus!

Tiba giliran, saya  pun memperkenalkan diri pada Sanne. Saya sampaikan bahwa saya adalah government official dan baru saja mengikuti FGD tentang KMS. Saya katakan pula bahwa apa yang dia sampaikan sangat bermanfaat sekali buat saya.

Dia sangat antusias saat saya katakan bahwa saya dari government karena hal-hal seperti apa yang dia sampaikan perlu diketahui oleh pemerintah. Tentu, agar kebijakan yang diambil juga turut mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan lokal masyarakat setempat.

Di akhir pembicaraan, saya tanyakan apakah dia bersedia diundang ke kantor suatu saat. Sure, begitu jawabnya. Yang pasti, tak lupa saya pun berselfie dengannya sebelum kami bertukar nomor handphone.

Begitulah ending kisah blusukan yang menarik dan tidak saya sangka. Hal-hal indah seperti itulah yang selalu saya percayai ketika saya ingin njajah deso milangkori, selalu ada yang baru dan menyegarkan dalam setiap kisah petualangan.***

 

 

0
0
Kemenkeu Mengajar: Menebar Inspirasi Memupuk Cinta Pada Negeri

Kemenkeu Mengajar: Menebar Inspirasi Memupuk Cinta Pada Negeri

Pagi ini aktivitas yang kulalui terasa sangat nyaman. Suara mesin yang kudengar berbeda dengan suara mesin di hari biasanya. Sesama pengendara lebih bersahabat, melambaikan tangan saling sapa, tidak ada “perang klakson”, dan tidak terdengar pula umpatan “sampah” di antara mereka.

Ya….pagi ini kulalui perjalanan dengan kapal menuju Pulau Tidung, salah satu pulau di Kepulauan Seribu untuk melaksanakan tugas sebagai relawan Kemenkeu Mengajar (KM).

Sesampai di tujuan, penduduk setempat menyambut hangat dan membantu menyandarkan kapal yang kami tumpangi. Kami pun segera turun dan bergegas ke sekolah tempat di mana kami akan mengajar.

Sekilas Tentang Kemenkeu Mengajar

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), institusi yang sarat akan prestasi dan selalu mendorong pegawainya untuk tulus mengabdi, memiliki Program Kemenkeu Mengajar yang dilaksanakan selama satu hari di sekolah dasar.

Dalam program ini relawan akan mengajarkan tentang peran dan upaya Kemenkeu dalam menjaga ekonomi negeri dan mengenalkan profesi yang ada di Kemenkeu. Relawan juga akan mengajarkan nilai-nilai dan semangat yang dibawa oleh Kemenkeu.

Kegiatan ini mengusung semangat kesukarelaan. Panitia tidak memungut biaya apa pun pada sekolah dan pegawai yang mengikuti. Relawan KM juga tidak akan mendapatkan pembayaran, baik honor maupun SPD. Biaya yang ditimbulkan atas penyelenggaraan kegiatan ini tidak dibebankan pada APBN (Non-APBN).

Program KM sudah berjalan selama tiga tahun dan dilakukan secara serentak di seluruh pelosok negeri. Minat pegawai Kemenkeu untuk menjadi relawan KM sangat tinggi. Oleh karena itu, proses rekrutmen calon relawan pun dilakukan beberapa bulan sebelum program KM dilaksanakan.

Di unit kami Program KM adalah program yang ditunggu-tunggu, termasuk saya. Pada saat apply ke sistem rekrutmen KM masing-masing calon relawan harus memiliki bahan ajar dan strategi mengajar yang menarik agar dapat terpilih sebagai relawan pengajar.

Pelaksanaan Kemenkeu Mengajar

Setelah terpilih, relawan KM kemudian dibagi dalam beberapa kelompok. Kami dikumpulkan untuk mendapat briefing dari para praktisi pendidikan termasuk dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar proses belajar-mengajar berjalan profesional dan sesuai etika yang berlaku.

Pertemuan berikutnya diserahkan kepada masing-masing kelompok yang dikoordinir oleh seorang pegawai yang ditunjuk sebagai fasilitator kelompok. Pertemuan kelompok ini dilakukan beberapa kali di luar jam kantor untuk membahas bahan ajar, pembagian kelas, sharing pengalaman dengan relawan KM tahun sebelumnya, dan berapa besarnya iuran oleh masing-masing relawan.

Iuran ini digunakan untuk pembuatan spanduk, plakat, topi lingkar, name tag, kaos, konsumsi, transportasi dan sebagainya. Fasilitator juga bertugas melakukan koordinasi dengan pihak sekolah agar kegiatan KM tidak mengganggu agenda sekolah.

Hari Senin, 22 Oktober 2018 adalah hari kami bertugas mengajar. Kegiatan dimulai dengan mengikuti upacara bendera, lalu dilanjutkan dengan bermain bersama di lapangan upacara. Selanjutnya kami memasuki kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Menurut jadwal, saya mengajar dari pagi sampai siang di kelas 1, kelas 2, dan terakhir kelas 3. Sesi pertama dimulai dengan mengenalkan diri dan membagikan topi lingkar dengan nama sebagai tanda pengenal mereka. Sebelum memulai belajar, kami pun berdoa bersama. Tak lupa saya ajak ketua kelas untuk memimpin doa yang ditujukan untuk teman kelasnya yang tidak hadir karena sakit.

Sebelum memasuki sesi berikutnya, saya berikan ice breaking sederhana. Hal ini merupakan salah satu strategi efektif untuk mengembalikan suasana belajar yang diinginkan, ketika suasana bermain di antara mereka sudah melewati dari yang seharusnya.

Satu hal yang menjadi perhatian kami adalah bahwa mengajar bukan ajang menunjukkan kehebatan kita, tetapi bagaimana membuat pembelajar menjadi hebat. Mengajar dengan cara yang menyenangkan itu baik, tetapi mengajar tidak hanya bersenang-senang.

Sesi utama yang saya sampaikan adalah pengenalan institusi Kemenkeu, khususnya bagaimana unit-unit kerja yang ada di kemenkeu dalam menjalankan tugas dan fungsinya bersinergi mengelola APBN.

Termasuk dalam hal ini sinergi dalam mengumpulkan pajak sebagai sumber penerimaan negara dan juga sinergi dalam mengatur pengeluaran/belanja negara secara efisien dan efektif dengan tetap memperhatikan sisi akuntabilitasnya.

Saya juga mengenalkan nilai-nilai Kemenkeu, bagaimana refleksi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan dapat diterapkan oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja penyampaian semua materi di atas saya kemas sesuai dengan tingkatan kelas dan umur mereka agar tujuan pembelajaran tercapai dan menciptakan suasana gembira karena diselingi permainan.

Menumbuhkan Mimpi, Membangun Kejujuran

Satu hal lagi yang cukup menarik ketika saya mencoba menggali mimpi dan cita-cita mereka serta berusaha memotivasi mereka agar dapat meraih mimpi itu. Cita-cita mereka pada umumnya sama seperti anak sebaya lainnya, yaitu dokter, polisi, tentara, pemain sepakbola dan lainnya.

Saya mencoba menjelaskan bahwa pada dasarnya cita-cita kita tak boleh dibatasi oleh keadaan. Semua Cita-cita mereka adalah baik dan dapat diraih dengan cara belajar yang tekun, berdo’a, taat kepada orang tua dan guru, selalu berbuat baik dan tidak sombong.

Kemudian saya sampaikan juga hal-hal terkait profesi yang ada di sekitar kita. Saya juga menekankan bahwa semua profesi itu baik selama dilaksanakan dengan jujur, tidak korupsi, serta selalu memberikan yang terbaik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai penutup adalah atraksi kimia laboratorium Bea dan Cukai yang dilaksanakan di halaman sekolah, penyampaian plakat/sertifikat penghargaan kepada sekolah atas partisipasinya, dan salam perpisahan.

Demikian dari kami untuk negeri.

 

 

0
0
error: