Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

Berangkat Ke Melbourne

Pada pertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN). Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship (AAS).

Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat. Seperti yang saya alami, seorang ASN yang mengambil CLTN tidak akan mendapatkan gaji, tunjangan, dan masa kerja selama CTLN tidak akan dihitung. Masa kerja saya yang seharusnya 21 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun, baru akan saya terima 3 tahun lagi. Yang paling berat, selama cuti, tidak ada SMS Cinta dari 3355 (bagi pengguna rekening Mandiri pasti tahu isinya).

Pada umumnya ASN mengambil CLTN karena mengikuti suami/istrinya yang kuliah di luar negeri. Namun, ada juga ASN yang mengambil cuti jenis ini karena ingin merawat orang tua atau  anak yang sedang sakit. Ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja di lembaga lain (umumnya  lembaga multinasional), memulai berbisnis, atau alasan lainnya sepanjang disetujui oleh instansi tempatnya bernaung.

Bagi ASN yang sudah menduduki jabatan, maka konsekuensi dari pengambilan CLTN adalah kehilangan jabatan. Padahal, saat itu saya sudah menduduki jabatan kepala kantor. Ketika kembali aktif maka akan memulai lagi dengan posisi pelaksana. Akankah bisa kembali ke jabatan semula? Saya berserah diri pada Allah SWT.

Prosedur pengajuan CLTN yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat surat permohonan cuti dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alasan CLTN yang saya ajukan adalah mengikuti suami yang studi di Victoria University, Melbourne. Dokumen yang saya sampaikan adalah surat bahwa dia diterima kuliah (Letter of Acceptance).
  2. Surat permohonan cuti diajukan ke pejabat yang menangani kepegawaian. Di lingkungan kerja saya pejabatnya adalah Sekretaris Badan.
  3. Surat ini kemudian disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Biro SDM kementerian.
  4. Surat CLTN diproses oleh BKN dan akhirnya nota persetujuan disampaikan kepada Kementerian Keuangan.
  5. Kementerian Keuangan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa saya sedang melaksanakan CLTN untuk periode tertentu (sesuai dengan masa studi suami).

Setelah izin cuti keluar, maka saya pun terbang ke Melbourne untuk menyusul suami yang sudah berangkat 4 bulan sebelumnya. Alhamdulillah, untuk keperluan pembuatan visa untuk masuk ke Australia ditangani langsung oleh perwakilan AAS di Jakarta.

Aktivitas Keseharian di Melbourne

Selama melaksanakan cuti, saya tinggal di Melbourne mengurus anak-anak dan suami selama 24 jam tanpa pembantu. Saya sangat menikmati cuti ini karena selama ini semua urusan anak-anak saya serahkan ke asisten rumah tangga. Jarang sekali saya ikut mempersiapkan sarapan dan bekal mereka ke sekolah.

Di Melbourne saya harus menyiapkan sarapan di pagi hari, bekal makan siang, dan juga makan malam untuk keluarga. Untunglah sekolah anak-anak dimulai jam 9 pagi sehingga saya masih bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak di sekolah.

Sampai 6 bulan, saya benar-benar menikmati suasana cuti. Saya mengantar anak ke sekolah di pagi hari, lanjut berbelanja ke pasar, berbenah rumah dan memasak makan siang, lalu kembali menjemput anak. Kadang setelah mengantar anak, berdua dengan suami, saya berjalan-jalan ke pantai atau hanya berkeliling di taman-taman sekitar rumah atau sekolah anak. Kadang kala kami berdua pergi ke tempat teman di suburb lain.

Kursus Bahasa Inggris

Namun, karena terbiasa dengan aktivitas di kantor seharian penuh, saya mulai kangen dengan beragam aktivitas dari pagi hingga sore. Saya pun mulai mengikuti kursus bahasa Inggris di VU English. Suami saya adalah penerima (awardee) beasiswa AAS (Australian Award Scholarship) sehingga spouse (pasangan awardee) berhak mengikuti perkuliahan bahasa Inggris selama 5 minggu penuh. Setelah selesai dengan kegiatan kursus bahasa Inggris  maka saya memberanikan diri untuk mengambil Certificate III in early childhood education.

Sebagai seorang temporary resident, saya harus membayar penuh biaya kursus ini yang mencapai A$750, terdiri atas tuition fee A$700 dan registrasi sebesar A$50. Bagi permanent resident, mereka hanya diharuskan membayar biaya registrasi $50, tetapi biaya kursus gratis ini hanya berlaku bagi kursus yang pertama. Jika permanent resident itu mengambil kursus yang kedua dan seterusnya, mereka juga harus  membayar penuh.

Kursus diikuti bersama para permanent resident yang berasal dari berbagai bangsa. Ada Divya yang orang India, Bouakham dari Laos, Skye yang orang asli Australia, Sarita yang baru migrasi dari Pakistan, dan Grace perempuan Filipina yang baru saja menikah dengan bule Australia. Rupanya keberagaman budaya peserta menjadikan kami diminta untuk mempertunjukkan di depan kelas atau membawa makanan khas dari negara masing-masing. Pada saat diminta mempertunjukkan lagu anak-anak Indonesia, saya membawakan lagu Pelangi karya AT Mahmud.

Enam bulan berlalu dan saya pun akhirnya mendapatkan sertifikat. Sebenarnya dengan sertifikat itu, saya bisa bekerja membuka bisnis daycare di rumah dan mendapatkan penghasilan yang melebihi jumlah uang beasiswa yang diterima suami saya. Namun karena sifat  bisnis ini yang full-day dan saya dalam mode liburan, maka saya tidak menggunakan kesempatan itu.

Bekerja di Vicmart

Untuk mengisi waktu, saya mencoba bekerja di Queen Victoria Market (Vicmart) sebagai penjaga toko. Saya bekerja 3  hari dalam seminggu dari jam 08.30-14.00. Bos saya adalah seorang perempuan Vietnam yang baik hati bernama Lily. Bagaimana ceritanya saya bisa bekerja di Pasar Vicmart? Tetangga saya dimintai tolong oleh Lily untuk mencarikan teman (Indonesia) yang bisa menjaga tokonya. Kenapa mesti orang Indonesia? Rupanya para pedagang di Vicmart sangat senang karakter orang Indonesia yang mereka percayai untuk menjaga tokonya.

Orang Indonesia dinilai bekerja dengan hati, rendah hati, dan jujur. Mereka membutuhkan tiga karakter ini karena penjaga toko akan memegang uang minimal $1.000 per hari. Para pemilik toko tidak pernah menghitung jumlah barang yang terjual untuk satu hari karena mereka percaya para pegawainya yang orang Indonesia tidak akan mengambil sedolar pun uang yang dipegang dari hasil aktivitas jual-beli. Karakter inilah yang harus terus dipertahankan oleh orang Indonesia jika ingin orang Indonesia berikutnya mudah mendapatkan kerja di pasar Vicmart.

Bekerja di Vicmart menambah pergaulan saya dengan para pemilik toko di sana. Ada yang berasal dari Thailand, Skotlandia, Italia, juga China. Mereka semua sangat baik dan ramah. Jika saya tidak jaga toko satu hari saja, mereka akan menanyakan kenapa kemarin nggak masuk. Bahkan, terkadang mereka membagi makanan yang dibawa. Biasanya berupa kue-kue.

Bisnis Tempe Kecil-Kecilan

Selain bekerja di pasar, saya juga membuat dan menjual tempe segar. Ada cerita ketidakpuasan yang menjadi alasan saya mempelajari cara pembuatan tempe dan setelah berhasil saya menjual tempe segar.

Setelah beberapa minggu hidup di Melbourne, saya kangen makan tempe. Atas informasi dari teman,  saya menemukan tempe beku (frozen) di toko vegetarian. Saya baca labelnya, tempe beku itu buatan Malaysia. Lalu saya memperkirakan bahwa tempe tersebut dibuat berbulan-bulan sebelum saya beli. Juga rasanya terbilang aneh, tidak seperti rasa tempe yang biasa kita beli di Indonesia.

Mulailah saya dan suami googling tentang pembuatan tempe. Beberapa kali mencoba, akhirnya tempe pun  jadi. Ragi pun kami impor dari Surabaya, sementara kedelainya kami pakai kedelai lokal Australia. Tempe percobaan pun jadilah. Kami kemudian meng-upload-nya di WAG. Tak disangka langsung banyak pesanan dari tetangga sekitar rumah. Dari mulut ke mulut akhirnya kemampuan saya membuat tempe segar didengar orang dan banyak teman dititipi oleh teman-temannya yang di luar wilayah saya. Akhirnya tempe segar ini bisa dinikmati oleh warga Melbourne karena saya posting di media sosial.

Sambutan orang-orang Indonesia dengan adanya tempe segar ini bermacam-macam. Ada yang bilang senang banget sampai ada yang menciumi tempe tersebut, sampai saya juga akhirnya mbrebes mili (terharu). Bahkan ada orang-orang Indonesia yang tinggalnya di luar kota Melbourne sampai memesan seminggu sebelumnya, supaya ketika mereka ke Melbourne, tempenya sudah jadi.

Selain menjual tempe segar, saya juga membuat tempe mendoan, dan kering tempe. Artinya, saya memikirkan diversifikasi produk untuk menambah nilai jual. Di situlah saya memahami bahwa untuk menambah nilai jual sebuah produk ada upaya pengolahan dan bahan baku lain yang menyertai. Upaya inilah yang akhirnya menyebabkan harga jual lebih tinggi dibandingkan masih berbentuk tempe.

Dari berjualan tempe akhirnya saya banyak mengenal warga Indonesia lainnya yang tinggal di  Melbourne. Sampai sekarang pun kami  masih kontak baik melalui WA ataupun medsos. Biasanya saya dan pembeli janjian bertemu di Melbourne Central Station pada jam tertentu. Untuk pembayaran, pembeli mentransfer uangnya ke rekening suami karena saya tidak punya rekening Australia.

Begitulah hari-hari saya di Melbourne, hingga tak terasa waktu 3 tahun pun berlalu dengan cepat. Sebuah pengalaman manis yang tak akan saya lupakan. Pertengahan 2017 saya kembali ke Jakarta, berdua saja dengan si bungsu. Sementara si sulung masih tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan kelas 7, menemani bapaknya yang studinya diperpanjang karena ketiadaan supervisor.***

 

 

Tips Buat PNS:  Menambah Penghasilan Rp50 Juta Dari Usaha Sampingan Bermodalkan Rp5 Juta

Tips Buat PNS: Menambah Penghasilan Rp50 Juta Dari Usaha Sampingan Bermodalkan Rp5 Juta

Bagi sebagian PNS yang sudah cukup mapan dengan penghasilan bulanan dari kantor barangkali tidak akan terpikir untuk memulai suatu usaha. Bahkan, mereka sudah cukup puas dengan menikmati hasil bunga simpanan dari gaji yang mereka sisihkan setiap bulannya. Namun, dengan bertambahnya usia, tidakkah mereka memikirkan dan berniat untuk mengembangkan sebuah usaha sampingan yang bisa menjadi bekal di saat pensiun kelak?

 

 

Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman dan tips tentang bagaimana menambah penghasilan yang halal dan barokah di bidang properti. Tentunya, usaha sampingan ini mesti kita lakukan di luar jam kerja kantor dan disesuaikan dengan kemampuan besaran modal yang kita miliki. Latar belakang pendidikan teknik sipil dan hukum, saya akui sangat membantu usaha sampingan ini.

Kelas Modal di Bawah Rp5 Juta

Tips ini lebih tepat bagi mereka yang mempunyai bakat berdagang atau marketing. Bagaimana mungkin dengan modal Rp5 juta kita dapat menekuni dan berhasil dalam bisnis ini? Menurut pengalaman saya selama ini, yang berhasil di kelas ini adalah jenis orang yang kepepet seperti terbelit hutang dan kebutuhan ekonomi. Berikut langkah-langkah yang telah saya lakukan.

Langkah pertama yang mesti Anda lakukan adalah membeli tanah. Dalam simulasi ini, pilihan lokasi tanah saya batasi hanya untuk peruntukan permukiman. Artinya, saya mencari lokasi tanah untuk dibangun sebuah tempat tinggal. Jangan sekali-kali keliru memilih lokasinya hanya karena tergiur harga yang murah.

Saya mencari lokasi tanah yang dijual dengan luas sekitar 80 m2 sampai 250 m2 dengan bentuk memanjang menghadap jalan untuk dibangun satu unit hunian rumah dengan luas antara 75 m2 sampai 100 m2. Alternatif lainnya adalah sebidang tanah dengan bentuk melebar menghadap jalan untuk dibangun dua sampai tiga unit hunian rumah dengan luasan per unit antara 75 m2 sampai 100 m2.

Tak lupa, saya memperhitungkan juga luasan efektif tanah terbangun setelah dipotong sempadan jalan dan/atau sempadan sungai sehingga ketika saya mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tidak akan terkendala norma peraturan daerah.

Akhirnya, saya pun mendapatkan tanah dengan luasan 150 m2 yang saya bagi menjadi dua kapling, masing-masing seluas 75 m2 dengan harga Rp500 ribu per m2. Total dana yang dibutuhkan untuk memperoleh tanah tersebut sebesar Rp81,25 juta dengan rincian sebagai berikut: harga tanah sebesar Rp75 juta, pajak BPHTB 5% sebesar Rp3,75 juta, biaya notaris sebesar Rp2 juta, dan biaya pengikatan sebesar Rp500 ribu.

Langkah kedua, saya menyiapkan modal Rp5 juta. Modal tersebut biasanya saya peroleh dengan cara berhutang, menggadai, atau menyisihkan tabungan emas atau gaji yang saya miliki.

Langkah ketiga, saya menentukan harga jual per unit hunian rumah untuk tipe bangunan dan tanah 29/75 m2 sebesar Rp140 juta.

Langkah keempat, saya memasang iklan untuk menemukan calon pembeli properti yang akan saya bangun. Setelah ada pembeli yang tertarik dengan iklan hunian rumah yang saya pasang, saya melakukan perjanjian tata cara pembayaran dengan pembeli. Jika dengan cara kredit, saya melibatkan bank. Jika dengan cara tunai saya meminta tanda jadi atau pembayaran uang muka sebesar 20% dari harga rumah, yaitu sebesar Rp28 juta.

Berikutnya, saya memercayakan transaksi tersebut dengan notaris termasuk proses pemecahan sertifikat yang biayanya sekitar Rp5 juta. Anda bisa membayangkan, di posisi ini saya telah mengeluarkan modal Rp5 juta, tetapi telah mendapatkan pembayaran Rp28 juta. Keuntungan sudah di depan mata, bukan?

Langkah kelima, saya menghubungi pemilik lahan dan melakukan negosiasi pembelian. Saya memperoleh harga negosiasi dengan pemilik tanah sebesar Rp500 ribu/m2. Selanjutnya, modal awal sebesar Rp5 juta tadi saya gunakan sebagai uang muka tanda jadi dan biaya pengikatan di notaris.

Dalam waktu yang bersamaan, carilah calon pemborong yang berminat untuk membangun rumah di lahan yang sudah tersedia dengan melakukan pelelangan harga bangunan kepada pemborong. Mengapa saya putuskan demikian? Saya tidak mau mengambil risiko. Selain itu, saya meniatkan hal ini sebagai bagian dari ibadah, membantu orang lain dengan berbagi rezeki dengan mereka.

Pada waktu itu, ada pemborong yang tertarik mengerjakan hunian rumah yang saya tawarkan dengan kesepakatan harga lelang sebesar Rp58 juta. Saya melakukan perjanjian terpisah dengan pemborong tentang tata cara pembayaran. Yaitu, pembayaran  sebesar 25% dari harga lelang atau sebesar Rp14,5 juta baru saya lakukan ketika kemajuan pembangunan sudah mencapai 50%. Selanjutnya, pada saat kemajuan pembangunan sudah 100%,  disepakati pembayaran sebesar 80% dari harga lelang atau sebesar Rp46,4 juta. Sedangkan sisa pembayaran sebesar 20% atau sebesar Rp11,6 juta baru akan saya bayar setelah masa pemeliharaan selama 6 bulan oleh pemborong berakhir.

Langkah keenam, saya memperoleh pembayaran Rp140 juta dari hasil penjualan satu unit hunian rumah. Saya juga menjual satu unit hunian rumah di lahan sebelahnya dengan cara yang sama. Nah, saya tidak lupa untuk memperhitungkan kewajiban pembayaran pajak penjualan sebesar 5% atau setara dengan Rp7 juta untuk dua  unit hunian rumah.

Langkah ketujuh, tak lupa, saya melunasi pembelian tanah sebesar Rp75 juta dari hasil penjualan unit hunian rumah.

Perhitungan keuntungan yang saya peroleh dari penjualan dua unit hunan rumah sebesar Rp280 juta dikurangi biaya pembelian tanah, biaya bangunan, biaya notaris, biaya BPN, pajak dan perizinan IMB sebesar Rp225 juta adalah sebesar Rp55 juta.

Dari simulasi di atas, ternyata dengan modal Rp5 juta, kita bisa mendapat keuntungan Rp50 juta sampai Rp55 juta. Usahakan modal yang didapat dengan nonriba, agar hasil yang diperoleh lebih berkah.

Kelas Modal Rp50 Juta

Keuntungan Rp50 juta yang saya peroleh dari cara pertama, saya putar kembali untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pada cara yang kedua ini, saya melatih diri saya dan berperan sebagai pelaksana pembangunan. Di sini dibutuhkan skill orang lapangan. Jika kita berperan sebagai pelaksana pembangunan hunian rumah itu sendiri, maka keuntungan yang saya peroleh akan lebih besar lagi. Simulasi berikut saya asumsikan sama dengan cara sebelumnya di atas. Berikut langkah-langkah yang telah saya lakukan.

Langkah kesatu, saya mencari lahan tanah seluas 150 m2 dengan harga tanah Rp75 juta, pajak BPHTB 5% sebesar Rp3,75 juta, biaya notaris sebesar Rp2 juta, dan biaya pengikatan sebesar Rp500 ribu.

Langkah kedua, saya menentukan harga jual unit hunian rumah dengan tipe  29/75 m2 sebesar Rp140 juta.

Langkah ketiga, saya memasang iklan untuk menemukan calon pembeli properti berupa hunian rumah yang saya tawarkan.

Langkah keempat, saya menghubungi pemilik lahan dan melakukan negosiasi pembelian. Dalam waktu yang bersamaan, carilah calon pembeli yang berminat dengan properti tersebut.

Dengan niat berbagi rezeki, saya memutuskan untuk mencari bas borong tenaga bangunan dan mencari toko bahan material yang lebih murah. Saya juga melakukan pelelangan harga borongan tenaga kepada bas borong. Saya lebih suka mempekerjakan mandor perempuan.

Menurut pengalaman saya, mempekerjakan mandor perempuan akan lebih efisien, dan lebih produktif dibandingkan mandor laki-laki. Entah mengapa, ketika tukang bekerja ditungguin mandor perempuan, mereka lebih semangat bekerja. Tentunya hal tersebut akan menambah nilai keuntungan.

Langkah kelima, saya mendapatkan pembayaran Rp140 juta dari hasil penjualan satu unit hunian rumah. Untuk satu unit lainnya saya melakukan cara yang sama sebagaimana saya jelaskan sebelumnya. Sekali lagi, saya tidak lupa memperhitungkan pembayaran pajak penjualan sebesar 2,5% atau sebesar Rp7 juta untuk dua unit hunian rumah.

Langkah keenam, saya melunasi pembelian tanah sebesar Rp75 juta dari hasil penjualan dua unit hunian rumah.

Keuntungan yang saya peroleh sebesar Rp65 juta, yang diperoleh dari selisih harga jual dua unit hunian rumah sebesar Rp280 juta dikurangi biaya pembelian tanah, biaya bangunan, biaya notaris, biaya BPN, dan pajak dan perizinan IMB sebesar Rp215 juta.

Simpulan

Tentu saja, pengalaman yang saya bagikan kepada Anda tersebut bisa saja hasilnya tidak persis, bisa lebih banyak atau sedikit dari yang saya peroleh. Waktu yang saya perlukan untuk keseluruhan proses tersebut berkisar antara tiga sampai enam bulan. Tentu saja, hal itu sangat tergantung dari kelihaian menjual dan bernegosiasi, strategis tidaknya lahan tanah, kelangkaan bahan material, permasalahan tenaga kerja, dan hubungan kerja antara mandor dan pekerja.

Lebih dari sekedar itu, sisi lainnya dari bisnis tersebut saya juga telah ikut berkontribusi pada penerimaan pendapatan negara di sektor pajak dan membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan niat beribadah, tentunya usaha tersebut layak Anda coba. Semoga membawa barokah dan rezeki yang halal bagi kita. Semoga pengalaman dan tips ini bermanfaat bagi Anda.***

 

Catatan:

Bas borong adalah kontraktor yang bergerak dalam penyediaan jasa mandor dan tukang, tidak termasuk menyediakan bahan material. Seorang mandor yang sudah memiliki cukup modal kadang ada yang merambah (extend) menjadi bas borong.

 

 

Memilih Mundur Dari PNS

Memilih Mundur Dari PNS

Cerita ini dikirim oleh salah satu birokrat yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari instansinya dan memilih untuk berkarya di tempat lain. Sebuah kisah yang tentunya tidak untuk menjadi inspirasi bagi birokrat lainya yang mengalami hal yang kurang lebih sama, karena untuk melakukannya perlu kesungguhan hati dan perhitungan yang matang.

Namun, kisah ini menggambarkan masih adanya birokrat kita yang belum mendapatkan perhatian, penghargaan, dan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan potensi dirinya. Kisah ini justru diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi para elite birokrasi untuk dapat lebih memperhatikan para pegawainya dengan cara lebih manusiawi dan mawas diri. Mereka perlu mawas diri terhadap rasionalitas birokrasi yang rawan terjadi diskriminasi yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasinya sendiri.

—-

 

Pagi itu, sekitar setahun yang lalu, saya terbangun dari tidur dengan perasaan ingin mengundurkan diri atau mundur dari kantor instansi tempat saya bekerja. Padahal, sebelum tidur saya tidak memikirkannya sama sekali. Saat itu saya lalu teringat dengan ucapan salah satu atasan saya, sehari sebelum saya mengajukan cuti untuk liburan. Beliau berkata, “Kamu mau ambil cuti? Nggak mau tugas aja? DL-mu (penugasan luar kota dengan mekanisme perjalanan dinas) baru 16 hari ya?”

Entah mengapa saat atasan saya mengatakan hal itu, hati saya terluka. Saya mengajukan cuti karena ingin liburan, bukan karena DL baru 16 hari selama 8 bulan terakhir. Bahkan, saya tidak tahu persis tepatnya berapa hari DL karena memang saya tidak menghitungnya dan tidak terlalu ambil pusing soal itu.

Keputusan Mundur Adalah Keputusan Yang Besar

Ya, keputusan mundur dari pegawai negeri sipil (PNS) adalah keputusan yang tidak mudah. Keputusan yang kadang menjadi sebuah dilema, mengingat PNS masih  tergolong sebagai profesi idaman bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Untuk menjadi PNS saja seseorang harus melewati seleksi yang lumayan ketat dan susah, belum lagi sebagian dari pendaftar pun ada yang rela membayar mahal untuk dapat menjadi PNS.

Saya menyampaikan keinginan saya tersebut kepada ibu saya. Saat itu ibu tidak mendukung dan menyarankan saya untuk mencari beasiswa S2 karena itu jalan keluar yang lebih baik jika memang saya merasa tidak betah dan tidak bahagia berada di perantauan.

Mungkin saya terlalu kekanak-kanakan ketika hanya karena perkataan atasan saya tersebut, saya lalu ingin mengundurkan diri dari instansi tempat saya bekerja. Sejujurnya, rasa sakit hati itu juga sudah menghilang beberapa saat setelahnya. Namun, bagaimanapun juga, hal itulah yang memang menjadi pemantik keinginan mundur saya di kemudian hari. Semakin hari keinginan itu justru semakin membesar, seperti bara api yang disiram bensin.

Namun, restu Ibu yang tak kunjung datang dan lebih mendukung saya untuk mencari beasiswa S2,  sempat menyurutkan rencana saya untuk mundur. Saya kembali belajar dan mencari tahu tentang berbagai kesempatan beasiswa S2 yang tercepat.

Perasaan Tak Kunjung Membaik.

Saat saya masih berusaha mencari kesempatan melanjutkan pendidikan S2, kondisi kantor dan lingkungan tempat saya tinggal (kos) semakin terasa tidak bersahabat. Saya hampir selalu bingung apa yang harus dan akan saya lakukan setiap saya tiba di kantor. Tidak adanya pekerjaan atau tanggung jawab spesifik yang dapat saya lakukan, membuat saya selalu bingung untuk berbuat apa.

Kegiatan membaca dan mempelajari peraturan pun sepertinya sia-sia bagi saya. Jika hanya membaca tanpa dipraktikkan, maka saya akan cepat merasa bosan, seperti hanya terlihat di mata tapi tidak lanjut ke otak. Saya sepenuhnya sadar bahwa itu adalah kelemahan saya. Saya adalah tipe pembelajar dengan sistem “learning by doing”.

Saya sudah mencoba untuk membuka-buka file peraturan, belajar aplikasi, atau bahkan belajar bahasa Inggris untuk mengisi kekosongan tersebut, hitung-hitung modal untuk mendapatkan beasiswa. Namun, saya cepat bosan, seperti tidak ada motivasi atau dorongan tanggung jawab.

Pada suatu titik saya merasa sangat useless, tidak ada perkembangan pengalaman dan pengetahuan. Saya pun juga merasa kemampuan dan potensi diri saya kurang dihargai. Saya merasa bisa melakukan sesuatu, tapi tidak ada yang mendayagunakan kemampuan saya.

Beberapa teman menyarankan saya untuk meminta mutasi ke bagian lain di kantor agar kemampuan saya lebih bermanfaat, tetapi saran tersebut tidak saya lakukan karena adanya banyak pertimbangan. Salah satunya adalah saya bukan tipe orang yang senang ‘meminta-minta’, untuk meminta penugasan pun tidak saya lakukan. I am not such a person.

Mempengaruhi Kondisi Mental dan Fisik

Waktu itu, kondisi semakin memburuk saat perasaan tidak bahagia itu mulai menyerang kesehatan mental dan fisik saya. Saya sepertinya pun belum bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Saya menjadi lebih emosional, mudah marah, mudah sedih dan menangis, lebih egois, pemalas, cuek, dan tidak peduli.

Saya sering kesulitan untuk tidur, sering sakit kepala dan selalu merasa lelah. Kehidupan yang saya jalani sehari-hari tidak berkualitas sama sekali. Saya merasa sakit. Saya merasa sangat tidak bahagia dan depresi. Saya mulai khawatir dengan diri saya sendiri. Saya takut jika saya benar-benar sakit.

Saat itu, saya pikir, semua itu memang berawal dari dalam diri saya yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Setelah browsing-browsing, saya memutuskan untuk mencoba ke hipnoterapis. Hasilnya? Awalnya saya merasa lebih baik, tapi seiring berjalannya waktu, perasaan saya kembali lagi.

Restu Ibu dan Pandangan Orang

Di akhir tahun 2017, saya mudik ke rumah cukup lama. Saya menceritakan tentang teman-teman yang sudah mundur dari pekerjaannya kepada ibu. Saya juga menyampaikan rencana saya untuk tidak mundur sebelum saya mendapat pekerjaan yang baru. Alhamdulillah, ibu mengerti dan merestui. Bagi saya, restu orang tua adalah restu Allah.

Sejak itu, saya mencoba mengirimkan aplikasi lamaran pekerjaan ke berbagai tempat. Ada semangat tersendiri dalam diri saya. Ada masa-masa di mana saya bersemangat, tapi ada masa-masa di mana saya sangat galau karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Putus asa pun pernah, tetapi tidak menyurutkan keinginan saya untuk mundur.

Terhadap keinginan saya untuk mundur, tanggapan beberapa teman pun beragam. Ada yang memberi pandangan lain dan berusaha mengubah keputusan saya karena menurutnya dengan pindah kerja dan pindah domisili tidak serta merta saya akan merasa bahagia.

Ada juga teman yang mengaatakan bahwa saya terlalu idealis. Dari sisi itu mungkin ada benarnya karena dalam beberapa aspek kadang saya mengeluhkan beberapa kebijakan instansi yang kurang sesuai dengan prinsip dan pendapat saya.

Ada juga yang mengatakan mungkin saya kurang bersyukur, menyarankan saya untuk belajar ikhlas dan legowo. Ada di suatu titik di mana saya tidak mengerti apa yang harus saya ikhlaskan dan legowokan. Saya tidak merasa marah, dendam, atau perasaan-perasaan lainnya terhadap kondisi yang ada saat itu. Saya hanya sedih dan merasa tidak bahagia.

Saya juga sudah berusaha memperbanyak ibadah, apalagi jika perasaan sedih yang berlebihan itu tiba-tiba datang dan menghampiri setiap malam. Setelah beribadah, perasaan saya memang jadi tenang, tapi tidak serta merta rasa sedih itu kemudian menghilang.

Kelegaan Luar Biasa

Pada bulan Mei 2018, tepatnya di pertengahan bulan Ramadhan, perjuangan dan doa-doa saya selama lima bulan terakhir pun diijabah oleh Allah. Saya diterima di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rasa syukur dan bahagia saat itu tidak bisa saya ucapkan dengan kata-kata.

Saat ini, sudah berjalan sebulan saya bekerja di kantor baru. Rasa galau, sedih, useless dan sebagainya sudah tidak ada lagi. Saya senang dengan ritme pekerjaan saya sekarang. Santai, tidak dituntut deadline dan target, tapi tetap masih ada tanggung jawab dan hal yang bisa saya kerjakan selama jam kantor.

Saat saya menulis tulisan ini, saya sedang berada di hotel dalam penugasan audit di mana atasan saya hanya mengantar dua hari lalu saya bekerja sendirian di obyek audit selama empat hari ke depan. Suatu hal yang tidak pernah terjadi di instansi saya sebelumnya.

Masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ saya saat ini adalah beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan dan pegawai kantor baru, tapi saya yakin seiring berjalannya waktu pasti saya bisa. Perasaan saya memang belum sepenuhnya bahagia, tapi setidaknya perasaan saya sekarang jauh lebih baik. Saya sudah bisa hidup teratur lagi, makan sehat, olah raga, tidur cukup dan tepat waktu.

Entah kenapa walau badan lelah, tapi rasanya tidak selelah sebelumnya. Ketika bisa tidur nyenyak adalah suatu kenikmatan yang jarang saya dapatkan ketika masih berada di kantor yang lama. Bahkan saya merasa sudah tidak perlu lagi untuk ke psikolog ataupun psikiater.

Mundur adalah Pilihan

Kebahagiaan yang saya cari dengan memutuskan mundur memang belum serta merta saya dapatkan. Saya sadar, masalah internal dalam diri saya belum dapat saya selesaikan. Namun, dengan adanya kesibukan ini bisa mengalihkan perhatian dan pikiran saya. Hal itu membuat perasaan saya menjadi jauh lebih baik. Setidaknya saya lebih merasa berguna dan dihargai.

Apakah saya impulsif mengenai keputusan saya ini? Saya rasa tidak. Sebelum saya memutuskan untuk mencari pekerjaan baru, saya sudah melakukan riset ke teman-teman dan senior yang sudah keluar dengan menanyakan suka dan duka mereka ketika mencari pekerjaan dan bekerja di tempat mereka baru. Bahkan, saya juga sempat meminta pendapat dari senior yang masih bertahan di kantor. Saya juga sudah memikirkan baik-baik tentang konsekuensi yang nantinya harus saya terima.

Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan mundur dari pekerjaan. Keluar dari zona nyaman atau mencari zona nyaman adalah juga pilihan. Sebagai catatan, saya merasa sangat tidak nyaman saat saya bekerja hanya seolah ‘makan gaji buta’.

Semoga pilihan dan keputusan saya ini adalah yang terbaik bagi saya dan menurut Allah. Aamiin.***

 

 

Membayangkan Transportasi Kita Layaknya di Melbourne

Membayangkan Transportasi Kita Layaknya di Melbourne

Pengantar

Transportasi publik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kesan ketidaknyamanan. Sebagai contoh, penuh sesak karena melebihi daya angkut, banyak pencopet, kumuh, bau, tidak tertib, kebut-kebutan, dan tidak dapat diandalkannya jadwal adalah sederet atribut yang sering kita dengar. Bahkan, kondisi transportasi publik seperti ini masih kita rasakan di Jakarta hampir setiap harinya.

Syukurnya, beberapa tahun belakangan ini transportasi publik di Jakarta sudah mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Perubahan ini diawali dengan keberadaan busway yang melayani penumpang dengan nyaman dan tertib.

Kemudian, kereta commuter line yang mengubah total cara kerjanya juga mulai terlihat hasilnya. Sebagai contoh, kereta ini sudah memberlakukan gate untuk tiket, pintu kereta selalu tertutup, serta tidak lagi ditemui penumpang yang duduk di atap kereta demi menghindari pemeriksaan karcis.

Tahapan perbaikan di bidang transportasi publik lainnya yang sedang berlangsung di Jakarta adalah pembangunan mass rapid transit (MRT) dan light rapid  transit (LRT) yang akan melayani penumpang dalam jumlah yang lebih banyak. Perubahan ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan penyediaan layanan transportasi publik di Jakarta dari kota-kota besar lainnya di dunia. Tentu saja, perubahan ini adalah kemajuan yang layak untuk diapresiasi.

Untuk menginspirasi lagi pengembangan transportasi di Indonesia agar lebih maju, kali ini saya ingin berbagi cerita bagaimana layanan transportasi publik di Melbourne, Australia, dijalankan. Soalnya, tiga tahun saya tinggal di Melbourne telah memberikan saya kesempatan untuk merasakan kenyamanan transportasi publik di sana.

Kualitas transportasi publik di Melbourne ini tidak bisa dilepaskan dari lima elemen utama, yaitu otoritas pengelolaan, moda transportasi, jaringan infrastruktur, akses terhadap penyandang disabilitas, dan perilaku pengguna.

Otoritas Pengelolaan

Otoritas pengelolaan transportasi publik di negara bagian Victoria dipegang oleh Public Transport Victoria (PTV).  Otoritas ini merupakan bagian dari pemerintah negara bagian yang memiliki tugas mengelola semua transportasi publik di negara bagian Victoria. Mereka sekaligus bertindak sebagai lembaga perlindungan konsumen di bidang transportasi.

PTV memiliki fungsi memperbaiki transportasi publik di Victoria. Cara yang mereka tempuh adalah dengan memperbaiki koordinasi antara moda-moda transportasi yang ada, membangun perluasan jaringan transportasi, dan mengaudit aset-aset transportasi publik. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab mempromosikan transportasi publik sebagai sebuah alternatif yang lebih baik dibandingkan bepergian dengan mobil pribadi.

Moda Transportasi yang Terintegrasi

Transportasi publik di Melbourne hampir sama dengan beberapa kota besar dunia lainnya, yaitu memiliki moda transportasi kereta api, bus, dan tram. Ketiga jenis moda transportasi ini terintegrasi satu sama lain, baik dalam hal penggunaan kartu maupun lokasinya. Sebagai contoh, pengguna transportasi publik di sana menggunakan kartu Myki yang dapat digunakan di ketiga jenis moda transportasi.

Integrasi ini juga dapat dilihat dari lokasi. Sebagai contoh, di sekitar stasiun kereta api tempat saya tinggal ada halte bus dan halte tram yang akan mengantarkan saya dari stasiun terdekat ke daerah-daerah sekitarnya. Dengan demikian, saya tidak perlu menggunakan mobil pribadi untuk tiba di rumah.

Kereta api yang melayani penduduk Melbourne dan sekitarnya ini dioperasikan oleh Metropolitan Trains (Metro Trains). Menurut data tahun 2016, panjang track kereta api di sana adalah 830 kilometer dengan 16 jurusan yang mengangkut penumpang sebanyak 235,4 juta orang dari 218 stasiun.

Namun, permasalahan yang kurang nyaman di Metro Trains adalah banyaknya perlintasan sebidang yang menimbulkan kemacetan lalu lintas dan juga risiko kecelakaan antara kereta dan mobil. Sisi baiknya, PTV terus berusaha mengurangi perlintasan sebidang ini dengan membangun underpass atau flyover.

Di Melbourne, bus digunakan oleh penduduk untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Bus ini dimiliki oleh 13 independent operator, 346 trayek yang menempuh jarak 114,3 kilometer, dan mengangkut 122,5 juta penumpang. Meskipun operator ini berbeda, pengendalian transportasi tetap berada di bawah PTV.

Kenyamanan moda transportasi jenis bus ini terlihat dari ukuran bus yang besar yang dilengkapi dengan mesin pendingin ruangan. Penumpang pun naik dan turun di halte yang dilengkapi dengan jadwal kedatangan dan rute. Tiket pun sudah terintegrasi dengan moda transportasi lainnya.

Jadwal kedatangan pun hampir selalu tepat sehingga kita bisa merencanakan kegiatan dengan tepat. Tak hanya itu, pengemudi juga sopan, tertib, dan sangat membantu penumpang, khususnya penumpang dengan disabilitas dan ibu-ibu yang membawa stroller ataupun troli belanja.

Pengelolaan tram di sana hanya dilakukan oleh 1 operator saja, yaitu Yarra Trams. Jumlah rute yang dijalani adalah 24 dengan panjang double track mencapai 250 km. Tram ini mengangkut 203,8 juta penumpang, dengan jumlah halte sebanyak 1.761 buah.

Di beberapa area, tram ini memiliki jalur tersendiri sehingga mobilitas pun lancar. Namun, banyak pula jalur tram memiliki jalur yang sama dengan jalan kendaraan lain sehingga sering menimbulkan kemacetan lalu lintas. Hal ini terjadi karena lebar jalan yang terbatas.

Jaringan Infrastruktur

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memiliki otoritas dalam penyediaan jaringan infrastruktur transportasi public di sana. Perbedaan peran keduanya terletak pada kemampuan menyediakan jaringan infrastruktur yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka mendanai pembangunan jaringan.

Jaringan infrastruktur transportasi publik sendiri di Victoria meliputi jalan untuk bus—termasuk bus jarak jauh dan bus regional—kereta, dan tram sepanjang 2.964,2 km. Panjang track kereta api adalah 830 kilometer yang terbentang ke seluruh penjuru Melbourne dan daerah penyangganya. Track kereta api di sana dibuat ke segala arah.

Titik utamanya adalah stasiun besar (Flinders Station) yang dipecah ke Barat (North Melbourne). Dari sini, track lalu dipecah lagi menjadi 2 jurusan ke Utara (Upfield) dan Barat (Footscray). Sesampai di Footscray, track tersebut dipecah lagi menjadi ke Barat (Newport) dan Utara (Sunshine). Dari Barat (Newport), jalur ini dipecah menjadi 2 arah, yaitu ke Selatan (Williamstown) dan Barat (Werribee).  Dengan demikian, seluruh area tercakup oleh pelayanan kereta (lihat Gambar).

Ramah kepada Penyandang Disabilitas

Satu hal yang menarik dari transportasi publik di Melbourne dan sekitarnya adalah besarnya perhatian terhadap para penyandang disabilitas karena pengelola transportasi publik sangat memperhatikan kebutuhan mereka. Lantai bus di sana bisa diturunkan sehingga para penyandang disabilitas yang menggunakan tongkat dapat naik dengan mudah.

Jika penumpang menggunakan kursi roda, supir bus akan turun dan membuka pelat penghubung antara bus dan lantai halte. Selanjutnya, pengguna kursi roda akan naik melalui jembatan penghubung. Di dalam bus, juga disediakan ruang yang cukup untuk kursi roda. Ruang ini terletak di belakang supir bus. Umumnya, ruang ini ditandai dengan kursi berwarna oranye dan gambar kursi roda.

Untuk kereta api, pengguna kursi roda dilayani di gerbong pertama. Masinis akan turun dan membuka jembatan penghubung antara lantai peron dan kereta. Area di dalam gerbong pertama itu ditandai dengan gambar kursi roda di lantainya. Ketika penumpang disabilitas hendak turun, masinis akan membuka kembali jembatan penghubung itu. Emplasemen untuk keluar dan masuk peron juga dibuat dalam bentuk ramp yang memudahkan mobilitas penyandang disabilitas.

Perilaku Pengguna

Selain infrastruktur, elemen lainnya terletak pada perilaku pengguna. Latar belakang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sejarah membentuk perilaku pengguna di kota tersebut.

Dalam hal kebersihan, ada aturan yang dibuat untuk memastikan tidak ada penumpang yang membuang sampah (littering). Jika ada pengguna yang melanggar, mereka akan dikenakan denda.

Menariknya, tidak ada petugas kebersihan yang stand by di jalur transportasi publik. Namun demikian, tindakan vandalisme sering juga dialami. Sebagai contoh, masih ada tangan-tangan jahil yang mencoret-coret bangku dan jendela media transportasi di sana.

Transportasi publik di Melbourne juga tidak bisa lepas dari masalah free-rider (alias penumpang gelap), terutama di tram dan bus di mana tidak ada gate yang harus dilalui penumpang, seperti halnya di stasiun kereta.

Untuk mencegahnya, masing-masing operator menyiapkan authorised officer yang memastikan setiap penumpang membayar pelayanan mereka. Mereka bisa melakukan inspeksi kapan pun dan di mana pun. Terkadang, para petugas ini memakai seragam formal, tetapi sering juga mereka berpakaian seperti penumpang lainnya.

Jika ada penumpang yang tertangkap karena tidak memiliki Myki atau menyalahgunakan Myki, mereka akan dikenakan denda yang lumayan besar, yaitu $238, atau sekitar Rp2.380.000. Biasanya yang mereka langgar adalah kartu concession.

Di sana, pemegang kartu concession berhak membayar 50% lebih murah dari tarif yang seharusnya. Menurut peraturan, kartu concession ini hanya berlaku bagi pencari suaka, anak-anak, siswa sekolah, mahasiswa S-1, pemegang health care card, pensiunan, pemegang senior card, penduduk usia di bawah 60 tahun dan memegang pension card dengan kode DSP atau CAR, dan veteran perang atau janda veteran perang. Namun, banyak juga mereka yang tidak berhak malah menggunakan kartu concession ini.

Pelanggaran lain adalah penumpang tidak tap in pada saat mereka naik bus atau tram. Ketika mereka tidak tap in di mesin yang ada di setiap bus dan tram, mereka menggunakan fasilitas ini tanpa  membayar. Tindakan ini jelas merugikan operator bus dan tram karena pembayaran yang mereka terima dari PTV berdasarkan jumlah penumpang yang tap in di mesin.

Penutup

Biaya transportasi publik di Melbourne memang lumayan mahal. Jika perjalanan memakan waktu kurang dari 2 jam, ongkosnya bisa mencapai $4.3 (atau Rp43.000). Kalau sudah lebih dari 2 jam, maka ongkosnya menjadi $8.6 (bagi yang tidak berlangganan). Namun, bagi penumpang yang berlangganan selama sebulan atau seminggu, tarif per hari menjadi lebih murah.

Saya dan suami menyiasati persoalan tarif transportasi yang mahal ini dengan menggunakan 1 kartu Myki secara bersama. Saya menggunakan kartu Myki di pagi hari untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Sore hari, kartu itu dipakai oleh suami saya untuk kuliah karena kebetulan jadwal kuliahnya sore sampai malam. Dengan demikian, kami bisa menghemat biaya perjalanan per hari sebesar $8.6 untuk 2 orang.

Walaupun ongkos ini lumayan mahal untuk ukuran saya, keberadaan transportasi publik di Melbourne telah membantu mobilitas saya dari rumah ke Queen Victoria Market sebagai sales promotion girl (SPG) kaos souvenir.

Transportasi publik ini juga ramah untuk kantong seorang istri mahasiswa seperti saya ketika mengantarkan saya ke Direct Factory Outlet (DFO) berburu barang diskonan dan ke Melbourne Central Station mengirim tempe pesanan teman-teman seantero Melbourne.***

 

 

Melintas Benua Berkat Membaca dan Menulis Karya Ilmiah

Melintas Benua Berkat Membaca dan Menulis Karya Ilmiah

Pengantar

Ada banyak cara untuk tiba di benua biru, Eropa. Mulai dari menang undian, dibayarin teman, menjadi orang kaya berlimpah harta, atau dengan cara mendapatkan sponsor untuk pergi. Kalau saya, semuanya diawali dengan membaca, lalu menulis.

Sudah tentu di balik itu semua ada ikhtiar tanpa putus asa dan doa yang senantiasa dipanjatkan, dan ketentuan dari Yang Maha Baik yang mengizinkan saya bisa berkelana belasan ribu kilometer jauhnya.

Belum Suka Membaca

Jika diingat-ingat sepak terjang saya menulis, terutama tulisan ilmiah, tidak mengesankan sama sekali. Saat masih bersekolah di diploma 3 (D3) saya mengakhirinya dengan menulis karya tulis ala kadarnya. Paling-paling yang masih terus eksis adalah hobi menulis saya yang tidak ilmiah semacam status Facebook, diary, atau cerpen yang sejak kecil sudah menjadi hobi. Itupun kadang saya lakukan, kadang tidak.

Kalau membaca? Duh, saya baru membaca sebuah buku hanya jika kakak atau suami bisa meyakinkan saya bahwa buku itu bagus sekali. Selain itu, jika ada tugas kuliah atau ujian yang memaksa, saya baru membaca materi.

Pembimbing yang Menginspirasi

Kebiasaan itu sedikit berubah ketika saya mulai menulis skripsi di jenjang sekolah diploma 4 (D4). Seorang pembimbing yang tidak pernah saya incar karena belum pernah diajar oleh beliau, telah menginspirasi saya.

Sang pembimbing itu adalah hasil rekomendasi oleh beberapa dosen, entah apa alasannya. Mungkin karena mereka sudah mempunyai feel bahwa saya akan cocok dengan beliau. Bersama Ayu, si gadis Bali, kami akhirnya menjadi bimbingan beliau.

Proses penulisan skripsi hingga sidang di bawah bimbingan beliau diwarnai dengan fluktuasi semangat mengingat beberapa minggu menjelang sidang, saya melahirkan anak kedua kami, Adnan. Ada kalanya saya berkonsultasi kepada beliau dengan membawa anak saya, bahkan didampingi orang tua dan suami di kampus Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) di Purnawarman. Benar, itu pengalaman saya yang tak akan terlupa.

Pembimbing saya waktu itu menyayangkan jika saya berhenti belajar sampai D4 saja. Pesannya, saya harus sekolah tinggi-tinggi, tak peduli saya seorang wanita. Bahkan, katanya, anak-anak akan bangga mempunyai ibu yang cerdas dan berwawasan luas.

Yang mengejutkan, suatu ketika beliau meminta saya mengikuti sebuah konferensi ilmiah internasional di Malang, sebagai salah satu pemateri. Beliau mendaftarkan materi skripsi saya yang dirangkum menjadi makalah.

Setahun lebih sejak kembali bekerja pasca D4, keinginan saya untuk kuliah lagi menjadi menggebu-gebu. Itu terjadi secara bersamaaan pada saat suami lulus S2 dan banyak teman seangkatan D4 yang sudah berangkat ke Inggris dengan beasiswa S2.

Namun, saya harus mencari kampus di dalam negeri karena kondisi anak-anak yang belum bisa ditinggalkan. Pada saat itu, skema kuliah yang paling masuk akal adalah melalui beasiswa LPDP meski saya sempat pesimis bisa diterima.

Pada kesempatan pertama saya gagal melalui sebuah interview yang dipenuhi dengan kegalauan tentang target masa depan saya selanjutnya. Kegagalan itu membuat saya sempat down selama beberapa hari.

Namun, saya bangkit lagi untuk mendaftar kembali di kesempatan berikutnya. Dengan persiapan yang lebih matang, alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2016 saya resmi menjadi awardee LPDP untuk tingkat S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).

O iya, peristiwa itu terjadi pada hampir dua tahun sejak saya lulus D4, saat telah lahir anak kami yang ketiga, Maryam. Percaya atau tidak, selain ingin belajar lagi, motivasi saya meneruskan sekolah lagi adalah demi untuk merawat anak-anak yang semuanya sedang memasuki masa balita. Tiga orang balita dengan selisih usia masing-masing 15 bulan.

Mulai Nikmat Membaca

Menjadi mahasiswa S2 di UI memaksa saya untuk benar-benar banyak membaca. Salah satu mata kuliah tentang penulisan ilmiah bahkan mensyaratkan jurnal-jurnal level peraih nobel sebagai acuan dalam menulis kerangka ilmiah makalah. Padahal, bahasanya tingkat “dewa”.

Perlahan tapi pasti, saya pun terbiasa membaca ilmiah hingga pada suatu ketika kepala program studi di kampus meminta saya menulis makalah untuk sebuah konferensi ilmiah di Malaysia. Wah, ini akan jadi pengalaman pertama kali saya “dilepas” tanpa pembimbing.

Tentu saja ada sedikit bumbu drama dalam penulisan makalah untuk konferensi di Malaysia ini karena saya menyusunnya bersama 2 orang teman kuliah yang punya sudut pandang dan cara bekerja yang berbeda.

Alhamdulilah, satu lagi pengalaman berharga saya peroleh. Di konferensi ilmiah itu, saya bisa bergabung dengan para profesor, mahasiswa doktoral, peneliti, dan kadang-kadang masih ada juga mahasiswa S2 atau S1 yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Yang jelas semuanya punya semangat yang sama untuk membangun networking akademis.

Dan tentu saja, saya harus berbicara mempresentasikan makalah saya dalam bahasa Inggris. Begitu pun ketika kami bergaul. Ada semacam perasaan rindu untuk melakukan daily conversation berbahasa Inggris yang terlampiaskan di forum itu.

Di sekolah saya sebelumnya tidak pernah sekalipun dikondisikan untuk bercakap-cakap secara rutin dengan bahasa Inggris, bahkan ketika S2 di UI saat itu. Semua ini ternyata membuat saya ketagihan untuk selalu mengikuti konferensi.

Tak lama setelah konferensi di Malaysia, saya didaulat lagi untuk mengikuti konferensi internasional di kampus sendiri, dimana mayoritas pesertanya mahasiswa S2 UI yang sudah menyelesaikan tesisnya. Ternyata, justru di event ini untuk pertama kalinya saya ditempa dengan kritik dari reviewer yang cukup pedas  tentang masih kacaunya metodologi analisis saya.

Para reviewer ini adalah para pengajar di UI. Mungkin karena didasari oleh tingginya sense of belonging terhadap kualitas karya ilmiah mahasiswanya. Yang jelas, kritik yang membangunlah yang mereka sampaikan.

Kemudian, proses penulisan tesis yang benar-benar “project” saya sendiri pun dimulai. Lelah tubuh karena harus kesana kemari mencari bahan dan data sambil menggendong anak. Sesekali airmata pun menetes mewarnai pengumpulan data, review jurnal, dan mencermati isi buku. Hingga pada akhirnya saya berhasil menulis sesuatu. Bagaimanapun saya menikmatinya.

Pergi Ke Eropa

Tulisan itu saya kirimkan ke sebuah lembaga riset bergengsi, Eurasia Business and Economic Society (EBES), yang berkantor di Istanbul, Turki. Accepted! Saya mendapat undangan resmi untuk presentasi di acara mereka yang selalu keliling dunia setiap tahunnya. Kali ini acaranya berlangusng di ibukota Jerman, Berlin.

Dengan LPDP sebagai sponsornya, meskipun tidak semua biaya bisa dicover, saya bersemangat untuk berangkat. Saya yakin kesempatan tak akan datang dua kali. Ditambah lagi sang suami mengizinkan saya pergi dengan senang hati. Bahkan, dia rela kerepotan merawat anak-anak selama saya pergi.

Sponsor lain yang sebenarnya menjadi sponsor utama kali ini adalah ibu saya, Bu guru Dra. Suparti. Beliau adalah seorang guru SD yang sejak kecil tak pernah berhenti menanamkan harapan pada saya. Ibu, doa ibu hanya bisa saya balas dengan doa seorang anak untuk ibunya, dan tentu saja memenuhi harapannya.

Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 2018 untuk pertama kalinya saya menghirup udara Eropa, menginjakkan kaki di Bandara Schiphol, Amsterdam. Dalam banyak hal saya akui kita kalah banyak dari mereka, dan karena itu kita harus melupakan dendam masa lalu dan banyak belajar dari mereka.

Pada tanggal 22 Mei 2018, setelah transit di Belanda, saya akhirnya tiba di acara utama petualangan di Eropa ini, yaitu EBES Conference di Berlin. Baru kali ini konferensi yang saya ikuti dimana mayoritas pesertanya berwajah asing, sebut saja bule. Mereka datang dari Amerika, Polandia, Turki, Jerman, Cekoslowakia, Jepang, Korea, Inggris, Spanyol, Romania, dan lain-lain.

Kendati saya merasa senang berada di antara mereka, challenging lebih tepatnya, ternyata tak bisa dielakkan lagi bahwa secara psikologis saya tetap merasa nyaman berada di antara sesama orang Indonesia, para profesor dan doktor dari Jawa, dari Solo tepatnya. Lalu, obrolan pun mendadak menjadi berbahasa Jawa.

Sudah jauh-jauh ke Jerman, ngobrolnya tetap memakai bahasa ibu. Bahkan, ketika diumumkan paper terbaik dalam konferensi itu, mengejutkan dan membanggakan sekali adalah karya orang Jawa (eh, Indonesia). Beliau seorang dosen ITB yang sedang studi S3 di Belgia dan senior di LPDP juga. Wow!

Tibalah saatnya tanggal 24 Mei 2018, hari dimana saya mendapat jadwal presentasi. Hanya seorang teman yang jadi co-author saya yang berwajah familiar di situ. Sisanya, bule! Berkat sifat deadliner yang kambuhan, kali ini saya baru menyelesaikan bahan presentasi 1 jam sebelum “show time”.

Satu jam sisanya saya pakai buat mandi, sibuk memilih baju dan perjalanan naik kereta bawah tanah dari hostel tempat saya menginap ke lokasi konferensi di FOM University of Applied Science, Berlin. Simulasi presentasi, yang selalu saya lakukan pada konferensi-konferansi sebelumnya, tidak sempat saya lakukan.

Namun, alhamdulilah, penjelasan saya cukup bisa diterima. Audiens bertepuk tangan ketika saya akhiri presentasi, setelah dua orang bertanya tentang latar belakang dan metode ekonometrik yang saya gunakan. Setidaknya, kali ini saya merasa pantas membawa pulang sertifikat dari penyelenggara.

Penutup

Serangkaian proses ini pada hakikatnya berkaitan satu sama lain, kompleks, dan terstruktur. Satu hal penting yang menjadi syarat utama adalah: membaca!

Petualangan di benua Eropa takkan terjadi jika saya tidak mau membaca, yaitu membaca kesempatan, membaca suasana, membaca papan petunjuk peta, membaca isi pikiran orang lain, membaca bahasa tubuh, dan tentu saja membaca jurnal-jurnal. Apa yang telah saya baca tidak pernah saya sia-siakan untuk tidak menulisnya. Membaca dan menuliskannya menjadi satu paket kegiatan ‘gila’ saya selanjutnya dan untuk seterusnya.

Jadi, pilih yang mana, jalan-jalan ke Eropa setelah jadi orang kaya atau seperti saya: karena membaca?

 

 

My “Eska”, My Adventure: Bungkus Airmatamu!

My “Eska”, My Adventure: Bungkus Airmatamu!

Selain kelanjutan pertarungan Luffy melawan Big Mom di Wholecake Island, ada juga desas-desus kabar surat keputusan (baca: eska) mutasi tempat yang membuat jantung saya dag dig dug minggu-minggu ini.

Seperti halnya alur cerita dalam serial One Piece karangan Eiichiro Oda yang tak bisa ditebak, eska mutasi itu pun sama. Keduanya sama-sama mengejutkan. Jika serial One Piece selalu mampu menghibur, eska mutasi malah bisa membuat berlinang-linang air mata.

Padahal, ia hanyalah beberapa lembar kertas dengan bahasa yang kaku. Akan tetapi, ia memiliki kedigdayaan yang dapat membuat haru-biru melebihi drama Korea.

Suka atau tidak suka, mutasi tempat adalah sebuah keniscayaan yang akan dialami dan terus dialami oleh para birokrat. Sebab, wilayah Indonesia yang membentang luas adalah ‘medan perang’ bagi mereka yang mengecap diri sebagai abdi negara.

Karenanya, para birokrat yang dibesarkan dengan cara sipil harus mau menerima perintah mutasi tempat layaknya seorang tentara. Mereka mesti mau melangkah gagah menenteng koper, menempuh perjalanan baru, dan menyambut ketidakpastian dengan tangan terbuka.

Selamat tinggal kampung halaman. Bungkus air matamu di sini. Kampung halaman sudah ada dalam sanubari, tempat kenangan masa kecil dan barisan para mantan bersemayam.

Bagi birokrat yang sudah berkeluarga, pindah lokasi penugasan juga sudah seperti acara bedol desa. Kerepotan demi kerepotan harus mereka jalani dengan dada selapang-lapangnya.

Langkah awalnya, mereka harus menentukan barang apa yang perlu dibawa pindah, mana yang bisa dijual, mana yang harus dihibahkan, dan mana yang harus dibuang ke tempat sampah.

Memilah dan memilih barang ini tentu bukan pekerjaan singkat. Setelah beberapa tahun menetap, seminimalis apa pun tempat yang ditinggali mereka, tetap saja akan menyimpan bergudang barang.

Setelah teridentifikasi mana barang yang dibawa dan mana yang tidak, kini saatnya packing. Pertama, para birokrat harus merapat ke toko kelontong terdekat untuk membeli kardus ukuran raksasa.

Kardus (perusahaan) rokok adalah pilihan ideal. Selain ukurannya besar, kardus tersebut juga berbahan tebal. Jika ada kelonggaran budget, bolehlah mereka membeli ‘kontainer’ dari plastik agar lebih praktis dan ciamik.

Sambil mengepak barang ke dalam kardus yang telah tersedia, kini saatnya birokrat mencari jasa ekspedisi yang murah meriah sambil berburu tiket penerbangan atau kapal laut kelas ekonomi.

Meskipun para birokrat mendapatkan uang pindah dari negara, itu tak lantas bisa dipakai untuk foya-foya. Uang pindah harus dibelanjakan sebijak mungkin supaya ada sedikit tersisa untuk bekal mengontrak di tempat baru.

Segala kerepotan dengan tumpukan benda mati ternyata belum cukup. Jika sang birokrat memiliki buah hati yang sudah sekolah, maka pekerjaan bertambah lagi, yaitu mengurus kepindahan sekolah si buah hati.

Di negara yang segalanya serba administratif ini, mengurus pindah sekolah tentu bukan hal mudah. Perlu izin dan rekomendasi dari banyak pihak, perlu waktu, tenaga, dan biaya tentu saja.

Aneh memang, sekedar beda kabupaten, kota, atau provinsi saja, urusan  pindah sekolah bisa begitu ribet-nya. Padahal, daerah-daerah ini masih sama-sama Indonesia. Ya, mau bagaimana lagi, ribet ndak ribet harus tetap dilakoni. Toh demi masa depan.

Bagi birokrat jomblo, bujang lokal maupun antar kota dalam provinsi, pindah tugas secara teknis tidak terlalu merepotkan. Mereka tak punya pasangan dan anak-anak dengan segala urusan yang maha penting. Barang bawaan juga relatif lebih sedikit, satu dua koper juga sudah cukup.

Hanya saja, bagi jomblowan dan jomblowati yang sedang pedekate, pindah tugas tentu menjadi semacam kiamat kecil.  Perjuangan mereka mendekati ‘target’ selama berbulan-bulan yang telah menguras tabungan dan perasaan, tampaknya akan sia-sisa.

Jarak akan membuat usaha pendekatan semakin berat. Gimana nggak berat. Lha, wong ketemu muka saban hari saja doi belum tentu mau jadian. Apalagi ketemunya cuma via whatsapps atau bigo.

Gebetan yang sudah hampir tergenggam bisa hilang digondol maling. Jika sudah begitu, sang birokrat jomblo kemungkinan besar akan mengalami demam tinggi lantaran pusing beradaptasi di tempat baru, ditambah pusing ditinggal gebetan. Akhirnya puluhan butir paracetamol dan tisu jadi pelariannya.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, ya ndak semua birokrat jomblo setragis itu sih nasibnya. Ada juga beberapa dari mereka yang justru gembira mendapatkan eska mutasi layaknya anak-anak balita menyambut hari raya. Para birokrat jomblo yang bahagia ini kemungkinan ada dua jenis.

Pertama, jenis yang sudah mentok menjalin hubungan. Mereka sudah berusaha mati-matian membuat akun tinder, instal kamera 360, dan susah-susah kredit (sepeda motor) Ninja untuk mengerek penampilan, tetapi masih saja nihil hasilnya.

Mereka hampir putus asa berguru ke Nella Kharisma untuk belajar ajian Jaran Goyang, Semar Mesem, hingga Semar Mendhem. Mereka tak juga mendapat pasangan karena terjebak friedzone, timezone, dan zone-zone yang lain.

Bagi Birokrat jomblo jenis demikian, penempatan di tempat baru agaknya menjadi angin segar. Ya, siapa tahu di tempat baru ini ada manusia “khilaf” yang mau dijadikan pasangan.

Jenis yang kedua ialah para birokrat jomblo yang memiliki jiwa petualang. Mereka ini biasanya pede dengan slogan “My Eska, My Advanture”. Birokrat jomblo jenis ini adalah orang-orang yang berpikiran kelewat positif.

Mereka itu melihat kesulitan berpindah tugas ke tempat baru sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Penempatan di tempat baru ini akan membuat mereka bertemu dengan orang-orang baru dan gebetan baru.

Gebetan yang sudah ‘dikoleksi’ selama ini tentunya tetap mereka jaga, sedangkan di tempat baru itu mereka membuka radar lebar-lebar untuk mendapatkan gebetan tambahan.

Pepatah yang mereka pegang: “Di mana bumi dipijak, disitu benih ditanam.” Tidak salah memang jika mereka mencari gebetan sebanyak mungkin. Ini layaknya portofolio investasi “don’t put all of your eggs in one basket”. Artinya, jangan letakkan seluruh telurmu cintamu pada satu gebetan.

Di tempat lama mereka memiliki gebetan, di tempat baru pun demikian. Ajaran yang mereka pegang: Biarlah nanti waktu yang akan menjawab siapa gebetan yang pantas diboyong ke pelaminan.

Ini memang tampak kejam dan tidak adil. Namun, seperti kata Virus dalam film 3 Idiots besutan Rajkumar Hirani: “Everything is fair in love and war”. Bukan begitu, Mblo?

Terlepas dari status perjombloan dan hepi tidaknya di atas, eska mutasi harus tetap dijalani. Sebab, para birokrat sejak awal telah menyadari bahwa seluruh wilayah NKRI ini adalah sebuah rumah besar yang harus kita rawat dan jaga.

Di mana pun kita berada, di situ rumah kita. Siapa pun yang kita temui di sana, apa pun suku dan agama mereka, mereka semua adalah saudara kita.

Memang, terkadang sulit bertahan dengan penghasilan standar nasional, tetapi kita harus menanggung biaya hidup yang bervariasi di tiap daerah. Belum lagi urusan jarak mudik, asmara, dan kesulitan hidup lain, yang mungkin tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Tsaaah..

Terkadang, mungkin kita berpikir bahwa apa yang kita dapat tak sebanding dengan apa yang kita lakukan. Mungkin, kita berpikir kesusahan hidup di antah berantah sana tidak sepadan dengan penghasilan yang kita terima.

Mungkin semua pikiran itu benar. Mungkin memang benar adanya. Namun, bukankah itu arti dari sebuah pengabdian? Bukankah ketidaksebandingan itulah yang membedakan para birokrat dengan para pekerja biasa? Bukankah mengabdi itu memang berarti kita harus rela memberi lebih banyak daripada menerima?

Lagipula, pindah ke tempat baru, ke tempat jauh nan terpencil di sana tidaklah selalu buruk. Ya, seperti cara pandang birokrat jomblo jenis kedua tadi.

Pindah ke tempat yang terpencil bagi mereka akan memberikan jeda dari tempo kehidupan kota yang cepat. Hari-hari ini adalah di mana kita bisa menikmati berkendara di jalanan sepi tanpa mendengar bunyi klakson dan makian yang memanaskan telinga.

Hari-hari di saat kita bisa menatap bukit gunung hijau sambil menghirup udara segar bebas polusi. Hari-hari tatkala beban kerja tak seberat di kantor pusat. Hari-hari di mana akan ada banyak waktu untuk beribadah, mengecilkan perut, atau menggali bakat terpendam.

Saya akhirnya teringat tulisan Stephen R. Covey dalam The 8th Habit. Menurutnya, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Hal-hal yang terjadi dalam hidup kita mungkin memang berada di luar kemampuan kita, uncontrollabe.

Kita tak bisa menentukan dengan pasti apa yang akan terjadi esok atau hari ini. Akan tetapi, kita memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana menyikapi kejadian tersebut.

Sama halnya dengan eska mutasi tadi, kita mungkin tak mampu menentukan ke mana kita akan pindah, tetapi kita mempunyai pilihan bagaimana menyikapi kepindahan tersebut.

Seberat apa pun, kuatkan hati dan langkah! Anggap saja itu semua adalah pengalaman dan petualangan dalam hidup. Ingat, My Eska, My adventure. Bungkus air matamu!

Ingatlah juga senantiasa akan sumpah jabatan yang telah terucap di hadapan Tuhanmu. Ada tugas yang harus kita laksanakan. Ada bakti yang harus kita tunaikan. Ada orang-orang baru dan mungkin gebetan baru yang menunggu.

Pahitnya eska mutasi jangan sampai melalaikan kita dari rasa syukur. Sebab, bisa jadi kehidupan yang kita keluhkan setiap hari adalah kehidupan yang justru dimimpikan oleh banyak orang.

Begitu kan, Mblo?

***

 

 

error: