Sejarah Tanpa Tulisan

Sejarah Tanpa Tulisan

Detik berlalu
Jam berlalu
Hari pun berlalu

Jari jemarimu
Tidak memegang kertas
Tidak memegang pena
Tidak memegang pensil

Tidak ada tulisan
Yang kau buat
Tidak ada peristiwa menarik
Yang kau catat

Tahun berlalu
Dari lahir ke dunia ini
Sampai umurmu sekarang
Tanpa sadar
Goresan sejarah hidupmu
Tercecer di mana-mana

Ada di ingatan tetangga
Ada di memori kawan sebaya
Ada di otak rekan kerja
Ada di mana-mana

Tanpa tulisan
Sejarah hidupmu sudah tercatat
Tanpa buku
Orang bisa membaca penggalan sejarah hidupmu

Saat kesulitan
Bukan tanpa alasan
Saudara memberikan bantuan
Bukan tanpa alasan pula
Teman menolak memberikan pertolongan

Sejarah hidup
Yang kau tulis
Yang menjadi pertimbangan

Pernah janji
Kamu sudah lupa
Yang dijanjikan masih ingat

Pernah mengecewakan
Kamu tidak merasa
Yang dikecewakan masih menyimpan luka

Sebaliknya pernah menolong
Kamu sudah lupa
Yang ditolong akan ingat seumur hidupnya

Sejarah hidup mana yang kau pilih
Jadi orang baik
Atau sebaliknya
Tanpa disadari
Sejarah hidupmu
Telah engkau tulis di mana-mana

9
0
Hitung Mundur

Hitung Mundur

Lima, empat, tiga, dua, satu tahun
Tak terasa
Waktu berlalu begitu cepat

Lima, empat, tiga, dua, satu bulan
Laju waktu tak tertahankan

Lima, empat, tiga, dua, satu minggu
Waktu yang ditakutkan atau dinantikan
Semakin mendekat

Lima, empat, tiga, dua, satu hari
Waktu itu datang tak terelakkan

Saatnya mengucapkan selamat tinggal
Kepada rutinitas lama

Lima, empat, tiga, dua, satu jam
Boom…
teneeng…
teneeeng…

Saatnya pamit pada teman-teman
Di detik-detik terakhir sebagai pekerja kantoran

Saat waktunya datang
Saat deg-degan
Saat-saat yang ditakutkan
Ataukah saat-saat yang dinantikan

Saat-saat yang ditakutkan
Apabila dihadapi tanpa persiapan
Kepada siapa urusan dapur hendak digantungkan

Saat-saat yang dinantikan
Saatnya menggunakan waktu
Bebas tanpa ikatan
Saatnya memulai petualangan baru

Anda pilih mana?
Saat-saat yang ditakutkan
Ataukah saat-saat yang dinantikan

Kalau saya
Saya ambil pilihan kedua

Jepang, Eropa Barat, atau Rusia
Destinasi wisata yang menggoda
Atau menjelajahi nusantara
Tak kalah menariknya buat honeymoon kedua

Pikiran melanglang buana
Sebelum fisik sampai ke sana
Hidup tanpa beban
Oohhh nikmatnya

Pergi kemana-mana
Tanpa perlu membuat laporan pertanggungjawaban
Tanpa perlu persetujuan atasan
Oohhh asyiknya

Semua akan mengalami
Soal bagaimana menghadapinya nanti
Pilihannya ditentukan sejak dini
Saat pertama kali bekerja
Bukan saat masa kerja tinggal beberapa tahun saja

Hitung mundur
Memulai dari akhir
Mudah untuk mengatakan
Berakhir indah jika dilaksanakan

8

1
Jalanku Bukan Jalanku Lagi

Jalanku Bukan Jalanku Lagi

Sesekali kesalahan terjadi
Itu mungkin suatu kebetulan
Beberapa kali kesalahan terjadi
Itu mungkin keteledoran
Sering kali kesalahan terjadi
Itu mungkin telah menjadi kebiasaan

Biasakan yang benar
Bukan benarkan yang biasa
Jargon bijak ini
Gaungnya hilang ditelan deru bunyi mesin kendaraan

Cobalah tengok di perempatan
Di jam-jam sibuk
Seringkali jalanku tidak lagi kelihatan
Ditutupi oleh tubuh kendaraan

Coba tengok di jalanan sepi
Begitu menyeberang
Aku diklaksoni
Seolah aku telah salah jalan

Jalanku seharusnya jalan aman
Karena dilindungi oleh peraturan
Jalanku pakai tanda pesan
Hati-hati ada penyeberang jalan
Namun sering kali diacuhkan

Cat putih di atas aspal hitam
Seharusnya tampak kentara
Tapi kita semua seolah telah sepakat

Sepakat untuk buta
Seolah tidak melihatnya

Sepakat untuk menafikkannya
Seolah aturan ini tidak ada gunanya

Sepakat untuk mengabaikannya
Seolah dilanggar pun tidak ada hukumannya

Mendekati zebra cross
Laju kendaraan bukannya melambat
Malah sebaliknya bertambah cepat

Ketika jalanku bukan jalanku lagi
Sebagai pejalan kaki
Aku harus makin ekstra hati-hati
Cedera ringan, sedang, berat bahkan nyawa melayang
Mengintai para pejalan kaki

Ketika jalanku bukan jalanku lagi
Menghadapi dunia nyata serasa mimpi

Ketika jalanku bukanlah jalanku lagi
Aku pun bermimpi
Kapan jalan itu kembali menjadi milikku lagi

 

 

46

0
Aku dan Dia

Aku dan Dia

Tahun lalu aku berkaca
Kukenali wajah yang ada di sana
Rupa kami tak beda
Bahkan jantung pun berdetak sama

Hari ini ku pandangi lagi kaca itu
Kaca sama yang kulihat tepat setahun lalu
Ada bayang di sana

Tapi itu bukan dia
Dia tak lagi sama
Bukan karena buramnya kaca
Atau karena bertambahnya usia
Aku tahu ada yang beda, tapi apa?

Aku lalu bertanya padanya,
“Ada apa, apa yang membuatmu berubah?”
Kemudian dia menjawab,
“Tanya saja pada dirimu”

Aku menunjuk
Dia pun memberi isyarat dengan jari telunjuk
Aku marah
Dia pun membalas marah
Aku teriak
Dia balas tak kalah galak

Aku mulai frustasi pada bayangan sendiri
“Kamu itu aku!” teriak ku
“Dan aku adalah kamu!” teriak ku lagi

Kali ini dia merespon tenang
Serupa isyarat damai yang memancing obrolan
Dia menyinggung soal harta yang jumlahnya sepadan
Menurutnya, dia sangat mudah membantu sesama
Sementara aku kerap berkata uang yang dipunya tidak seberapa

“Ah, padahal nominalnya sama,”
sindirnya lagi
Suaranya pelan nyaris seperti bisikan
Tapi membuat detak jantung tak karuan
Dan mukaku merah padam

Sekarang aku tahu apa yang membuat dia beda
Bukan soal usia atau buramnya kaca
Tapi ini soal berbagi harta
Tentang dia yang ringan tangan
Sementara aku selalu perhitungan

Aku ingin seperti dia
Aku ingin aku adalah dia
Seperti yang pernah aku lihat
Pada kaca setahun lalu

 

 

1

0
Kaya Ilusi

Kaya Ilusi

Inilah aku sang kaya raya

Bergelimang harta dalam impian

Inilah aku sang kaya raya

Hanya dalam ilusi, dalam mimpi

 

Kutengok investor saham yang sukses

Kesabarannya mengagumkan

Kehati-hatiannya menghasilkan

Dari saham Astra, Aqua, dan sebagainya

 

Sekali tanam dan menunggu dengan setia

Bertahun-tahun lamanya

Uang sebiji beranak pinak menjadi banyak

Berkali lipat menjadi puluhan, ratusan,

Bahkan ribuan,

Benar-benar menghasilkan

Atas nama kesabaran

 

Sungguh hebat luar biasa

Itulah kaya yang sebenarnya

Buah dari ketelitian dan keuletan

 

Bukan permainan jual dan beli saham seketika

Lalu putus asa begitu saja

Karena jauhnya fakta dan cita-cita

 

Dari mereka yang sungguh kaya

Aku belajar untuk legawa

Bahwa pada hakikatnya

Tak ada kaya yang tiba-tiba

Semua ada prosesnya

Semua ada waktunya

 

Kekayaan membutuhkan kesabaran

Keuletan ketelatenan

Bukan kaya secara instan

Bukan kaya jadi-jadian

Bukan sekedar dalam khayalan

 

 

0

0
error: