Menulis buku itu gampang-gampang susah. Menjualnya lebih susah lagi. Yudisrizal, penulis buku “Pelajaran Sederhana Luar Biasa”, yang bukunya diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama, akan membagikan pengalaman serunya menjual buku. Kuncinya: putus urat malu!

Mempunyai sebuah buku, yang merupakan karangan sendiri lalu terbit dan beredar ke seluruh penjuru negeri, adalah cita-cita sebagian orang termasuk saya. Maka, berawal dari coretan pendek di sebuah grup WhatsApp alumni SMA, yang kemudian terkumpul jadi banyak cerita, timbullah ide untuk menjadikannya buku dan menerbitkannya.

Lazimnya, ada dua cara yang biasa dilakukan untuk menerbitkan buku. Pertama melalui self/indie publishing, kedua melalui major publishing.

Self/indie publishing adalah menerbitkan sendiri atau menggunakan penerbit indie. Cara penerbitan ini sangat mudah dan praktis. Jenis penerbitan ini tidak memerlukan proses seleksi, namun akan ada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan dari kantong penulis, khususnya biaya cetak.

Sementara major publishing menerapkan proses yang lebih rumit untuk menerbitkan sebuah buku. Itu karena mereka menggunakan sistem seleksi dan melakukan riset naskah. Apabila naskah dinilai layak cetak, akan ada serangkaian proses editing, layouting, hingga strategi marketing yang harus dijalani agar buku laku.

Rumit dan sulit adalah dua kata yang melekat. Namun jika buku berhasil diterbitkan major publishing, maka mutu sebuah buku biasanya akan lebih diakui karena berbagai proses, terutama  editing,  dikerjakan oleh orang-orang yang profesional dan berpengalaman di bidangnya.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya pun memilih major publishing. Saat itu hanya ada satu penerbit yang terbesit dalam pikiran yaitu sebuah penerbit ternama dengan jaringan toko buku terbesar di negeri ini.

Ambisi saya, buku saya itu akan beredar ke seluruh Indonesia. Buku itu kemudian diberi judul PELAJARAN SEDERHANA LUAR BIASA (PSLB). Sebuah buku perdana yang lahir dari penulis yang belum punya nama.

Buku yang lahir di semester kedua tahun 2017, selain telah memenuhi etalase toko buku beken di seluruh Indonesia itu, juga memenuhi sebagian ruang di rumah tinggal saya. Bagaimana tidak, saat itu saya nekat mencetak ulang, bahkan sebelum cetakan pertama resmi beredar di toko buku.

Menurut pihak penerbit, belum ada penulis senekat saya yang meminta cetak ulang dua ribu buku sebelum cetakan pertama beredar di pasaran. Tetapi mereka tidak tahu bahwa saya, Yudisrizal, seorang yang punya pengalaman berjualan sejak duduk di Sekolah Dasar, punya trik jitu menjual buku.

Berikut adalah delapan trik saya menjual buku:

Satu, Promosi Sebelum Buku Terbit

Jangan menunggu buku terbit untuk melakukan promosi. Namun, promosi bisa dilakukan saat buku baru akan terbit beberapa bulan lagi. Kabari saudara, kerabat, dan juga rekan sejawat perihal buku yang akan terbit. Ceritakan sedikit tentang buku itu, dan jangan lupa disertai gimmick bonus tanda tangan. Dijamin, mereka akan penasaran dan bertanya, “kapan bukunya terbit?”

Dua, Gunakan Teknik Provokasi

Menjual buku ke teman kantor adalah cara seru berikutnya. Namun, dengan jumlah pegawai yang tidak mencapai angka seribu dan asumsi kurang dari separuh yang minat membeli buku, bisa dipastikan, buku-buku saya tidak akan laku semua. Tetapi saya selalu punya cara jitu agar buku saya laku sebanyak jumlah pegawai di kantor. Caranya adalah menolak.

Menolak bila ada pejabat level kepala divisi yang hanya membeli satu buah buku. Saya provokasi mereka untuk membeli minimal dua buku. Atau kalau perlu, semua staf yang berada di bawah kepala divisi ditraktir buku. Cara ini ternyata sangat berhasil karena mereka memborong buku saya sebanyak dua puluh bahkan lima puluh buku.

Tiga, Berdayakan Jaringan yang Ada

Saya yang dulu kurang pergaulan (kuper) kini mulai mampu membuka diri. Grup WhatsApp alumni yang awalnya hanya satu, kini berkembang menjadi tiga karena saya tambahkan juga grup alumni Sekolah Menengah Pertama dan kuliah. Di ketiga grup tersebut saya gencar melakukan promosi.

Hasilnya, seribu ekslempar buku yang ada di tangan menjadi tidak cukup lagi. Belum juga buku cetakan pertama beredar di pasaran, saya meminta pihak penerbit untuk membuat buku cetakan kedua. Dua ribu eksemplar buku baru ada di tangan. Kakak saya sempat mengingatkan agar saya tidak terlalu agresif. Tetapi hal itu dapat dimaklumi karena sang kakak tidak tahu jika saya masih menyimpan lima strategi seru lagi dalam menjual buku.

Empat, Manfaatkan Potensi Keluarga dan Saudara

Istri yang bekerja sebagai pegawai negeri punya pangsa pasar tersendiri yang dapat dimanfaatkan. Pada awalnya sang istri enggan untuk membantu saya karena  kurang percaya diri ada teman yang akan membeli buku PSLB. Setelah saya berhasil merayunya dengan jurus maut, dia pun mulai mempromosikan buku melalui grup WhatsApp yang dia punya.

Seminggu berlalu, tidak satu pun pesanan yang masuk. Respon yang ada berupa emoji satu dua jempol saja membuat istri frustrasi dan merasa jualan memang bukan bidangnya.

“Tolong japri (jalur pribadi) semua anggota grup, kalau tidak ada tanggapan jangan kecewa. Percaya deh, pasti hasilnya akan berbeda,” bujuk saya lagi. Saya mengambil keputusan itu, karena saya percaya sentuhan personal pasti akan mendatangkan hasil yang lebih baik.

Dengan sikap enggan, istri menuruti saran saya. Satu persatu teman di-japrinya. Tak lama, wajahnya semringah. Muncul senyum cerah. Istri menjadi bersemangat. Tidak tanggung-tanggung pesanan buku datang  bertubi-tubi dari berbagai kota dan provinsi.

Istri sudah, saatnya mengajarkan anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) untuk berdagang. Jurusnya sama yaitu japri semua guru. Hasilnya dapat pesanan delapan belas buku. Sang anak diberi hadiah (baca: upah) lima puluh ribu. Penghasilan perdana sang anak dari jualan buku. Penjualan buku dari anak yang kuliah ada satu dua. Lengkap sudah semua anggota keluarga inti berpartisipasi.

Selanjutnya meminta pertolongan dari kakak dan adik untuk memanfaatkan jaringan yang mereka punya. Hasilnya luar biasa! Kembali didapatkan sejumlah penjualan tambahan.

Lima,  Free Ongkir Seluruh Indonesia

Ongkos kirim (ongkir) adalah salah satu beban yang mesti ditanggung oleh para pembeli barang apa pun saat mereka memesan sebuah barang yang berada jauh dari wilayah domisilinya. Beban tersebut dapat menjadi sebuah kendala saat mereka memutuskan akan membeli atau tidak sebuah barang.

Jika barang tersebut memang telah menjadi idaman hati, tentu ongkir tidak menjadi masalah. Namun jika barang tersebut dipesannya dengan cara mencoba-coba karena belum tahu betul mutu barang, maka bisa jadi hal itu memberatkan pemesan.

Saya mengambil keputusan untuk meringankan beban mereka dengan cara memberikan fasilitas istimewa bebas ongkir kepada pemesan di seluruh Indonesia. Sebuah pengalaman unik terjadi, saat ada seorang pemesan buku dari Papua, ongkirnya adalah sebesar Rp87.000. Sementara, harga satu buku hanya Rp78.000. Karena sudah komitmen free ongkir, maka satu buku pun tetap saya kirimkan ke Papua. Nyesel? Enggak kok. Justru pada titik itu pembelajaran saya menjual buku meningkat, selain itu jurus baru pun bertambah.

Enam, Berani Bertindak Spekulatif

Belajar dari kasus Papua, saat ada pesanan sebuah buku dari Mamuju Sulawesi Barat, otak saya mulai menghitung untung/rugi penjualan buku dengan beban ongkir yang harus ditanggung. Berat buku adalah 220 gram, artinya ongkir satu buku akan sama dengan ongkir empat buku. Maka kiriman ke Mamuju yang seharusnya hanya satu buku saya tambahkan menjadi empat.

“Tolong carikan peminat untuk yang tiga buku,” pesan saya waktu itu. Agar tidak menjadi beban, segera saya berpesan kembali, “Jika tiga buku itu tidak kunjung laku dalam waktu tiga bulan, silakan sumbangkan untuk sekolah terutama Sekolah Menengah Umum (SMU) di sana.”

Beruntungnya saya, buku belum saya kirim dana pembelian empat buku telah masuk ke rekening saya. Sebuah hal yang tentu saja mengejutkan saya. Strategi ini kemudian diterapkan ke banyak pembeli. Ada yang berhasil namun lebih banyak yang gagal. Namun, saya tetap melihatnya sebagai sebuah keberhasilan karena buku bisa tersebar ke berbagai penjuru kota di Indonesia.

Tujuh, Titip Jual

Strategi ini berupa cara menitipkan buku untuk dijual oleh seseorang, semacam reseller, begitulah. Salah seorang pengajar di Ternate, Maluku Utara bersedia menjual sebanyak 20 buku. Saat itu juga, beliau sekaligus meminta nomor rekening saya untuk melakukan pembayaran. Namun, saya mengatakan untuk melakukan pembayaran jika buku-buku tersebut telah berhasil terjual semua. Saya memang orang yang cukup spekulatif, tetapi jika melihat orang lain tertular sikap saya tersebut, tidak sampai hati juga jika yang bersangkutan justru merasakan pahitnya kerugian gara-gara buku saya.

Lama tidak ada berita, tiba-tiba sebulan kemudian beliau menghubungi saya dan menanyakan nomor rekening untuk keperluan transfer. Awalnya saya tidak mau memberitahu. Tetapi beliau bilang semua buku sudah laku. Ternate memang luar biasa. Selain cerita tersebut, dua belas buku yang saya titipkan ke teman kuliah yang bekerja di Maluku Utara pun ludes semua.

Lain kota lain cerita. Strategi titip jual tidak selamanya berhasil. Untuk yang gagal, buku tidak perlu dikembalikan. Cukup sumbangkan saja ke SMP atau SMU di sana. Saya lebih menginginkan buku PSLB dapat tersebar ke segala penjuru dan memiliki manfaat, daripada buku teronggok di sudut ruangan tempat tinggal teman-teman saya.

Delapan, Hadiah Buat Peserta Training

Strategi ini menurut saya juga cukup unik. Seorang teman yang memiliki usaha pelatihan berkenan ikut membantu mengedarkan bahkan membeli buku. Pada berbagai acara pelatihan yang diadakannya, saya tawarkan agar peserta diberikan bonus buku PSLB jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Teman saya ini cukup membayar 70 ribu setiap buku. Pelatihan teman berlangsung sukses, saya pun kebagian untung.

Penutup

Meskipun uraian saya di atas terkesan seperti mengajarkan trik jitu menjual buku, tetapi ada satu hal yang tidak pernah lepas dari nurani saya. Hal itu adalah niatan berbagi pengalaman dan cerita kepada siapa saja melalui buku. Dengan begitu, meskipun buku tidak terjual sesuai harapan, selalu ada kepuasan lain yang menghampiri kita sebagai penulis buku.

Saya tidak memiliki catatan berapa jumlah buku yang terjual dan berapa yang dibagikan secara gratis. Semuanya saya anggap terjadi begitu saja karena pada dasarnya saya menyukai hal-hal yang seru. Yang terpenting, saya mendapat pengalaman baru dan buku saya dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Pernah saya ditanya oleh seorang rekan, “Kamu ini penulis buku atau penjual buku?” saya langsung menjawabnya, “Dua-duanya dong, dan tidak banyak yang bisa berbuat demikian.”

Dari kegiatan menulis, akhirnya saya mendapatkan kesempatan diundang oleh beberapa sekolah dan kampus di Sumatera Barat untuk menggelar acara bedah buku. Dari situ saya mampu mendapatkan kepuasan batin yang ternyata tidak kalah serunya dibanding dengan keberhasilan menjual buku.

Sekali lagi, menulis buku adalah suatu keterampilan yang mengasyikkan, tetapi memasarkan buku adalah ketrampilan yang lebih mengasyikkan lagi. Saya yakin kedua keterampilan tersebut dapat dipelajari oleh siapa saja sepanjang orang tersebut mau melakukannya, termasuk jika harus putus ‘urat malu’.

 

 

 

Yudisrizal ◆ Associate Writer and ◆ Professional Poetry Writer

Penulis buku Pelajaran Sederhana Luar Biasa. Saat ini bekerja di SKK MIGAS

error: