Cikini, terpilih sebagai tempat diskusi perdana Pergerakan Birokrat Menulis (BM) bukan tanpa alasan. Cikini, adalah sebuah kawasan tua di Jakarta yang menyimpan banyak sejarah dan makna yang jarang terekspos oleh berbagai media. Beberapa bangunan tua seperti Taman Ismail Marzuki, Kantor Pos Cikini, Toko Roti Tan Ek Tjoan, Istana Raden Saleh hingga Gedung Joeang 45 menjadi buktinya.

Gedung Joeang 45 menyimpan sejarah tersendiri. Gedung yang pernah dikuasai oleh kolonial Jepang saat itu, justru sering dimanfaatkan oleh para pemuda sebagai pusat pergerakan pendidikan politik untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Dahulu, di sepanjang jalan Cikini tak pernah sepi dari berbagai aktivitas mulai dari diskusi politik, olah raga, pertunjukan seni, hingga menonton film. Dengan demikian, tidak mengherankan jika di kawasan ini sampai sekarang banyak berjajar kafe dan restoran.

Kafe Tjikini Lima menjadi pilihan tempat yang pas bagi bertemunya para pegiat Pergerakan Birokrat Menulis yang berharap mampu mengulang kembali sejarah pergerakan yang dulu pernah diukir dari sebuah kawasan bernama Tjikini.

***

Sore itu, 23 Februari 2018, cuaca cerah mengiringi datangnya malam. Satu per satu peserta diskusi tiba di lokasi dengan wajah penuh suka cita dan harapan. Kelelahan akibat kesibukan seharian di kantor dan kampus, serasa tak mereka hiraukan. Bahkan, ada beberapa peserta yang datang dari luar kota. Mereka dipertemukan pertama kali setelah sekian lama hanya dapat berdiskusi lewat media sosial dan tulisan online, tanpa melihat wajah dan bersalaman secara langsung.

Berbagai buku telah dipajang di meja bulat menyambut para peserta diskusi dan juga pengunjung kafe. Buku-buku tersebut adalah hasil karya para pegiat Pergerakan BM, diantaranya adalah Adrinal Tanjung, Massaputro Delly, Dedhi Suharto, Nur Ana Sejati, Andi P. Rukka, Yudisrizal, dan tentu saja buku perdana Pergerakan BM yang berjudul ‘Bagaimana Saya Menulis’.

Setelah para narasumber datang secara lengkap dan sejenak beramah tamah dengan para peserta, acara inti dimulai pada pukul 19.30. Kegiatan dibuka dengan pemutaran sebuah video, hasil karya Kwaci Production, pemenang kompetisi video pendek dalam rangka haul pertama Pergerakan BM.

Video pendek ini menceritakan tentang refleksi personal akan inspirasinya terhadap tokoh guru Murdiyanto yang berjuang menghadapi pungli dan korupsi yang terjadi pada birokrasi pendidikan di Sukoharjo.

Diskusi sederhana dan informal mengalir secara apik dipimpin oleh Rudy M. Harahap, sebagai moderator. Diskusi bertujuan membahas buku perdana terbitan BM yang berjudul Bagaimana Saya Menulis (BSM), serta memperbincangkan kondisi birokrasi.

Beberapa peserta, yaitu Aisyah Mun’im, Dhedi Suharto, Massaputro Delly,  Sri Rahayu, dan dua orang CPNS dari STIA LAN menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan dan pergerakan, serta mengutarakan pendapat konstruktif yang bertujuan untuk perkembangan birokrasi.

Birokrasi yang Illiterate

Sesi diskusi dimulai dengan penuturan Rudy M. Harahap, yang juga sekaligus Editor in Chief pada Pergerakan BM. Dijelaskan oleh Rudy, bahwa Pergerakan BM merupakan sebuah gerakan kolaborasi dari berbagai unsur profesional birokrasi, baik pemerintah pusat maupun daerah.

Bergabung pula para akademisi, pengamat birokrasi, bahkan para mantan birokrat sebagai penulis maupun penikmat artikel dan diskusi.

Pergerakan BM, yang lahir di bulan Januari 2017 ini, adalah gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkan literasi di kalangan birokrasi. Literasi yang dimaksud bukan sekedar mampu menulis, seperti anggapan keliru banyak orang, tetapi sebuah kemampuan melalui pengetahuannya untuk dapat memahami fenomena yang ada di sekeliling birokrasi secara lebih jernih.

“Harus diakui bahwa birokrasi saat ini masih illiterate (belum ter-literasi), karena banyak para elit maupun profesional birokrasi yang masih belum mampu memahami peristiwa dengan kesadaran nalar yang dilandasi oleh pengetahuan.”

“Mereka masih terjebak dengan kenyamanan semu birokrasi dengan segenap aturan yang melenakan, sehingga sering lupa apa hakikat menjadi profesional birokrasi”, demikian dijelaskan oleh Rudy tentang kondisi birokrat terkait literasi.

Menurutnya, masih banyak profesional birokrasi yang hanya bisa mengeluh, bahkan nyinyir dengan situasi di sekitarnya. “Kami ingin mereka lebih dari itu, kami ingin melatih profesional birokrasi agar mampu menganalisis keadaan dengan argumen yang tepat dan kemudian berdaya serta bergerak melalui tulisannya”, tegasnya.

Dilanjutkan oleh Rudy, bahwa Pergerakan BM lebih senang menyebut kawan-kawan di birokrasi sebagai profesional birokrasi dari sekedar sebutan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataupun Aparat Sipil Negara (ASN).

Sebutan profesional birokrasi memiliki makna bahwa seseorang tidak hanya sebagai pegawai atau aparat yang selalu harus tunduk pada perintah senior/atasan, tetapi mampu berdaya dengan literasinya yang profesional. Mereka menjadi lebih mampu menghargai profesi dan fungsinya untuk berperan dalam tugas negara.

Beberapa artikel di laman birokratmenulis.org, dijelaskan oleh Rudy, memang terkesan tajam dalam mengingatkan akan kondisi birokrasi. “Kita menyebutnya bukan sebagai kritik, tetapi refleksi”, demikian ia menjelaskan.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa refleksi mempunyai maksud untuk menyadarkan pembaca akan sesuatu yang selama ini dianggap taken for granted (begitulah adanya), tetapi sebenarnya tidak demikian adanya.

Beberapa artikel seperti perlunya memperdebatkan orientasi rule based dengan performance based, tentang penyebab kriminalisasi, pemaknaan korupsi dan etika, dan juga menguak berbagai mitos dalam birokrasi, adalah contoh-contoh tema artikel yang bersifat reflektif.

Seribu Langkah Besar Dimulai Dari Sebuah Langkah Kecil

Sebagai narasumber pertama yang mendapat giliran berbicara, Ani Maharsi, seorang Direktur Membership Association Certified Fraud Examiner (ACFE) Indonesia, menyatakan apresiasinya kepada seluruh pihak yang aktif di BM.

Ia sangat mendukung komunitas (Pergerakan) BM dan berharap pergerakan mampu mendorong birokrat lain yang masih merasa tidak bisa menulis menjadi berani untuk menulis. Ia juga berharap, komunitas pergerakan ini semakin membesar agar manfaatnya semakin cepat dirasakan oleh birokrasi.

Ani Maharsi bercerita tentang pengalamannya bagaimana ia menulis. Baginya menulis adalah sebuah kegiatan yang tidak mudah, namun memiliki manfaat yang luar biasa. Pernah suatu ketika dia memiliki ide untuk membuat sebuah kompetisi penulisan makalah.

Tidak cukup sebagai pemilik ide, ia didorong oleh rekan-rekannya untuk juga mampu menulis. Akhirnya, pada suatu waktu ia pun memberanikan diri untuk menulis dan tulisannya mampu mendapatkan penghargaan dalam sebuah kompetisi bergengsi.

Begitupun pengalamannya dalam menyusun sebuah buku, diakui sebagai sebuah pengalaman yang unik. Diawali dari berbagai diskusi di media sosial tentang integritas, tercetuslah ide bahwa diskusi tersebut perlu didokumentasikan agar tidak terbuang dan lenyap begitu saja.

Melalui bantuan Sudirman Said, sebagai editor, maka lahirlah sebuah kumpulan tulisan dalam sebuah buku yang kemudian dirasakan manfaatnya oleh banyak pembaca. Buku itu berjudul “Sampai Kapan pun Kami Pilih Berintegritas”.

Menurutnya, berbagai macam cara unik dapat dikembangkan untuk membuat sebuah tulisan atau buku.

Terkesan dengan pemutaran video pendek di awal acara, ia mengingatkan bahwa media video perlu dan penting untuk dikembangkan dalam sebuah pergerakan. Karena selain menarik, makna dari video juga akan mudah ditangkap oleh para ‘pembaca’nya.

Mengenai komentar tentang buku BSM, menurutnya buku itu belum menyampaikan hal-hal tajam terkait birokrasi, tetapi baru mengajak birokrat lain untuk mau dan mampu menulis. Namun, hal ini dirasa sebagai awal dari tulisan-tulisan di buku selanjutnya. Buku selanjutnya diharapkan setajam artikel-artikel yang ada di laman birokratmenulis.org.

Dia pun mengutip sebuah pernyataan klasik tetapi selalu relevan, yaitu “seribu langkah besar ke depan dimulai dari satu langkah kecil”, untuk menggambarkan betapa pentingnya buku perdana BSM berikut Pergerakan BM untuk langkah besar selanjutnya.

“Saya yakin pergerakan seperti ini, yang anggotanya mempunyai visi dan semangat sama, akan mampu berkembang dan menginspirasi banyak pihak”, tutupnya.

Menjadi Critical Mass di Birokrasi

Dadang Trisasongko, Sekretaris Jenderal Transparency International (TI) Indonesia, mendapat giliran kedua sebagai narasumber. “Saya sangat senang bisa berada di tengah komunitas yang keren ini”, demikian kalimat pertama yang dinyatakan olehnya.

Keren yang ia maksud adalah komunitas BM ternyata berisi para birokrat yang berbeda dari biasanya.  Bukan birokrat yang sering ia saksikan sehari-hari, tetapi birokrat yang memiliki kemampuan dengan pikirannya dan bersedia meluangkan waktunya untuk menulis.

Dadang pun berharap banyak pada komunitas BM untuk terus menggaungkan gerakannya lebih besar lagi. Sebab, menurutnya gerakan BM mampu menjadi critical mass di birokrasi, yaitu sekumpulan orang yang mampu mengubah keadaan genting/kritis (di birokrasi) menjadi keadaan (birokrasi) yang lebih maju.

Ia pun membagi pengalamannya terkait dunia menulis, yang mirip dengan maksud berdirinya Pergerakan BM. Ia pernah membuat sekolah menulis untuk para aktivis di Non-Government Organisation (NGO), untuk membantu mereka agar dapat menuliskan pengalamannya ketika terjun langsung ke lapangan.

Kenapa itu penting, karena biasanya aktivis itu tidak bisa menulis. Mereka biasa berteriak tanpa argumen yang matang. Dengan menulis, mereka menjadi mampu berargumen dengan baik. Hasilnya, mereka mampu menghasilkan buku dan presentasi dalam Bahasa Inggris sehingga dapat ditampilkan pada konferensi-konferensi internasional.

Mengenai buku perdana BM, ia berkomentar bahwa buku tersebut sepertinya dapat menjadi satu modal besar untuk menyebarkan pesan bahwa literasi itu penting. Pesannya, “yang kami tunggu terhadap Pergerakan ini adalah bahwa BM dapat menulis banyak hal yang bersifat mengimbangi berita negatif yang saat ini semakin banyak berkembang.

Saya berharap tulisan pengalaman positif semakin banyak sehingga semakin banyak pula birokat yang merasa optimis dengan kondisi birokrasi ke depan.”

Selanjutnya, ia pun berharap dan mengajak Pergerakan BM untuk sering bertemu dengan teman-teman aktivis di NGO. Dadang berkeyakinan jika keduanya sering bertemu, maka akan dapat saling merapatkan barisan sekaligus menguatkan dalam memajukan birokrasi.

Mewarnai Birokrasi Yang Pucat Pasi

Malam semakin larut, tetapi energi diskusi seperti tak kunjung surut. Sebaliknya, semangat justru semakin menyala di saat narasumber ketiga menyampaikan materinya.

Tri Widodo Wahyu Utomo, seorang Deputi Inovasi Administrasi Negara dari Lembaga Administrasi Negara (LAN), tampil sebagai narasumber ketiga. Ia menyatakan menyesal karena tidak terlibat sebagai penulis dalam buku perdana BM.

Baginya, buku yang memuat kumpulan tulisan pendek dan ringan itu sangat inspiratif karena memberikan narasi pengalaman dan pembelajaran tentang bagaimana seseorang berusaha menulis.

Tulisan ringan seperti dalam buku itu maupun artikel di laman birokratmenulis.org, baginya lebih mengena bagi pembaca daripada membaca buku teks yang penuh dengan teori.

Menurut Tri Widodo, yang juga suka sekali menulis, menulis adalah sebuah kontruksi sejarah masa depan. Seseorang mampu membangun jembatan masa silam dengan masa depan. Menulis memiliki dimensi waktu ke belakang dan ke depan.  Apa yang kita tulis saat ini adalah refeksi keinginan kita di masa depan.

Baginya, buku perdana BM mempunyai dua fungsi, pertama merangsang otak birokrasi agar lebih aktif lagi, bukan sekedar target pada individu birokrat. Kedua, menjadi media sebuah gerakan moral untuk peduli terhadap problematika dalam birokrasi.

Dengan meminjam istilah Winston Churchill, “Pena lebih tajam dari sebuah pedang”,  menurutnya buku ini belumlah setajam pedang yang mampu mengajak pembaca untuk melakukan rekayasa sosial.

Namun, jika membaca tulisan-tulisan yang ada di laman BM, dia meyakini bahwa buku berikutnya akan mampu setajam pedang. Sarannya, buku berikutnya selain tajam juga bersifat tematik, seperti tema diskusi malam itu, yaitu “Birokrat, Bergeraklah!”.

Tentang tema diskusi yang diangkat malam itu, menurutnya sudah tepat sekali. Tepat karena kondisi saat ini berada di dunia yang serba paradoks. Para birokrat sendiri sebenarnya mengalami rasa benci tapi rindu dengan birokrasi.

Benci karena birokrasi yang lamban dan membelenggu, birokrasi yang tidak humanis, dan serba kaku. Namun demikian, kebanyakan birokrat tetap saja tidak bisa lepas dari situ, banyak birokrat yang masih merasa perlu dan bahkan menikmati kondisi birokrasi.

Kecintaannya bahkan membuatnya berada pada zona nyaman. Untuk itulah perlu sebuah pergerakan agar kecintaan yang dilandasi kebencian mampu membongkar selubungnya. Salah satunya melalui tulisan.

Birokrasi, diceritakan oleh Tri Widodo, awalnya justru diperlukan sebagai alat perubahan. Melalui hukum kontrak sosial saat itu, pemerintahan diberikan otorisasi untuk menjamin kesejahteraan, keamanan, dan keselamatan warga.

Untuk mendukungnya, otorisasi dilengkapi dengan struktur dan regulasi. Namun, lambat laun otoritas, struktur, dan regulasi kemudian membentuk sebuah zona nyaman yang luar biasa sehingga birokrasi terjebak dalam sebuah ruang yang membentuk dirinya lebih inward looking daripada outward looking.

Birokrasi kemudian mengalami pendangkalan makna, bahkan stagnasi. Birokrasi yang seharusnya melayani publik, akhirnya lebih sibuk melayani diri sendiri. Contoh nyata misalnya, reformasi birokrasi diwacanakan dengan dangkal sebagai sarana  untuk meningkatkan remunerasi.

Menurutnya, itulah peran penting BM untuk dapat mengingatkan (otokritik) kepada otak birokrasi. Meskipun belum begitu masif pengikutnya, namun BM diyakini mampu mewarnai birokrasi.

Birokrasi yang pucat pasi seperti susu, dapat diwarnai dengan setitik nila. Pergerakan BM diyakininya mampu menghidupkan kembali ruh birokrasi, menghangatkan kembali darah birokrasi.

“Berbagai tulisan yang provokatif tetapi inspiratif harus tetap hidup dan berlanjut. Tidak perlu takut ditolak saat ini, sebab suatu saat akan semakin banyak birokrat yang menyadarinya”, demikian serunya.

Pada akhir sesi, Tri Widodo menyeru dengan semangat menyala, “Inilah saat yang tepat sebagai sebuah momentum, untuk kita jadikan pertemuan ini sebagai era gerakan aufklarung atau pencerahan baru bagi kegelapan yang menyelimuti birokrasi.”

“Tidak perlu kita malu apalagi takut. Siapa lagi yang akan mengambil peran dan tanggung jawab itu kalau bukan kita. Saya menyarankan, kita tandai dimulainya era aufklarung birokrasi pada tanggal ini, 23 Februari 2018.”

***

Malam yang larut mengiringi perpisahan satu demi satu anggota pergerakan. Masing-masing memiliki harapan yang sama akan berwarnanya wajah birokrasi di negeri ini. Mereka bertekad akan terus menyalakan api diskusi dan menulis untuk perbaikan birokrasi, meneruskan perjuangan aufklarung birokrasi.

Tjikini, kembali menjadi saksi menyalanya semangat sebuah pergerakan untuk perubahan.

 

 

error: