Banyak perpustakaan sekolah belum memperoleh tempat terhormat di lingkungannya, biasanya tersembunyi di belakang, pojokan, dan kurang strategis.  Belum lagi koleksi buku yang terbatas menyebabkan siswa enggan untuk menghabiskan waktu membaca, serta  koleksi buku yang kurang menarik.

Padahal, kehadiran perpustakaan sekolah diharapkan mampu meningkatkan literasi atau minat baca dari warga sekolah. Perpustakaan yang dimaksud ialah tempat yang layak untuk membaca, nyaman, serta mampu melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk membangkitkan potensi disesuaikan dengan kegemaran, hobi, kesenangan, dan kebiasaan dari buku bacaan.

Charles W. Elliot, seorang tokoh pendidikan AS (1834-1926), mengatakan: “Mau tahu siapa teman paling setia, tidak cerewet, gampang ditemui, sekaligus guru nan bijak dan sabar? Dialah buku.”

Menjadi pengalaman tersendiri di akhir tahun 2019 lalu saya mengunjungi salah satu SMP di tengah pedalaman perut pulau Kalimantan. Saya cukup antusias ketika mendapat kesempatan untuk berkenjung ke daerah yang mendapat julukan Bumi Senetang ini. Selain belum sekalipun ke Sintang, sebagai peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud ada rasa keingintahuan mengenai potret pendidikan di daerah terpencil.

Dari bibir dermaga sungai Melawi yang bermuara ke sungai Kapuas di Kota Sintang, sebuah sampan atau disebut perahu klotok, pak Yohanes selaku Kepala SMPN 8 Satu Atap (SATAP) Sintang siap menemani menuju desa Mungguk Bantok Kecamatan Sintang.

Dibutuhkan waktu tempuh perjalanan sungai sekitar 1 jam 20 menit menuju SMP yang dituju. Ketika saya bertanya, mengapa tidak dengan motor saja? Jujur, bagi saya menjadi ‘kengerian’ tersendiri mengarungi perahu klotok dengan sungai yang lebar ini.

Menurut pak Yohanes, jauhnya jarak   tempuh dari pusat kota menuju sekolah kurang lebih 30 kilometer, infrastruktur jalan tanah yang rusak parah terlebih jika musim hujan sulit untuk lewat jalur darat. Jangankan roda empat, roda dua saja tidak memungkinkan. Selain jalan yang rusak juga harus membelah beberapa jalur sungai yang tidak ada jembatan.

Masalah Klasik Pendidikan di Daerah Terpencil

Sehari sebelumnya saya bertemu dengan ibu Ernawati selaku Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sintang. Beliau menceritakan, ada banyak permasalahan yang dihadapi dalam rangka pemerataan  pendidikan di Kabupaten Sintang, selain keadaan geografis yang sulit dijangkau.

Sedangkan permasalahan lainnya antara lain motivasi masyarakat mengikuti  pendidikan  yang  belum  maksimal,  kualifikasi  guru  yang  belum  sesuai,  sarpras sekolah, pendistribusian  guru  yang  belum merata,  dan  pendanaan pendidikan yang  belum  memadai.  

“Kebanyakan anak-anak di daerah terpencil lebih senang membantu orang tuanya di ladang dibandingkan untuk melanjutkan pendidikannya. Dan itu menjadi tugas dan tantangan kami,” ungkap bu Ernawati.

Profil SMPN 8 SATAP

SMPN 8 SATAP Sintang merupakan salah satu potret sekolah di daerah 3-T (Terluar, Tertinggal, dan Terdepan) yang saya kunjungi. Upaya pemerintah mendirikan sekolah satu atap (SATAP) merupakan solusi bagi pendidikan di daerah kepulauan atau daerah 3-T.

Jenis sekolah ini juga memudahkan masyarakat mendapatkan layanan pendidikan dasar dan menengah. SMPN 8 SATAP memiliki 7 tenaga pengajar yang mengayomi sekitar 70 siswa terbagi dalam 3 rombongan belajar (rombel) tersebar dari kelas 7 hingga kelas 9, serta memiliki 1 ruang perpustakaan.

Mewujudkan Literasi Sekolah

Ketika melihat suasana dan situasi pembelajaran di sekolah, pengamatan saya tertarik kepada sebuah ruangan kelas yang disulap sebagai ruang perpustakaan. Jika bicara tahapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), jangan dulu bicara tahap pembelajaran dan pengembangan di sini, dengan keterbatasan sarana baca seperti buku dan bacaan yang memadai.

Artinya, melaksanakan tahap pembiasaan saja sudah sangat bagus. Seperti yang disampaikan pak Kepsek, “Kami belum mengarah ke tahap pengembangan, melakukan tahap pembiasaan literasi saja sudah bagus.”

GLS merupakan usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali).

Sebagai gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen, upaya yang ditempuh misalnya pembiasaan membaca peserta didik, seperti kegiatan 15 menit membaca. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran

Seakan tidak mau pasrah dengan keadaan, pak Yohanes menceritakan ada keinginan mengembangkan perpustakaan sekolah, meski sulitnya akses internet dan ketersediaan buku-buku bacaan pengayaan atau non teks pelajaran menjadi kendala bagi sekolah untuk mewujudkan literasi di sekolah.

“Terkadang kepsek dan guru ada yang menitip buku bacaan baik buku murah jika ada teman yang pergi ke Pontianak,” kenang pak Kepsek. Harapannya tidak hanya dimanfaatkan warga sekolah tapi bisa dimanfaatkan sebagai bahan bacaan oleh masyarakat sekitar.

Selain lokasinya di daerah terpencil dan sulitnya akses internet, saya menyimpulkan untuk mewujudkan harapan tersebut, keberadaan bahan bacaan penunjang dan pengayaan sangat dibutuhkan oleh sekolah. Jika diamati, dengan koleksi terbatas, selama ini pemanfaatan perpustakaan sekolah hanya tempat penyimpanan buku teks pelajaran. Siswa datang, pinjam, dan mengembalikan pada jam pelajaran.  

Kehadiran perpustakaan memang diharapkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Padahal, dengan banyak membaca buku non pelajaran, selain buku teks utama di sekolah, diharapkan siswa dapat memiliki pola pikir dan wawasan yang lebih luas.

Bedanya buku teks dengan buku penunjang /pengayaan, buku teks adalah buku yang disusun berdasarkan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah. Materinya yang disajikan di dalamnya adalah materi pembelajaran di kelas, bisa juga dilengkapi dengan soal-soal. Jadi, buku pendidikan jenis ini berisi materi-materi yang dominan untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik secara akademis atau lebih ke buku pelajaran.

Sedangkan buku pengayaan biasanya diterbitkan dalam bentuk buku-buku motivasi, ensiklopedia, buku keterampilan prosedural, atau buku dengan materi pengetahuan, teknologi, dan seni. Materi buku pengayaan lebih beragam dibandingkan buku teks.

Buku pengayaan umumnya tidak disusun berdasarkan kurikulum yang ada, namun isi buku pengayaan menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan pendidikan. Sebagai buku penunjang atau pelengkap, biasanya digunakan oleh siswa sebagai buku tambahan materi untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Materinya  menggunakan bahasa yang sederhana dan menarik, disajikan dalam bentuk deskripsi, ilustrasi, dan gambar-gambar kreatif. Bentuk buku pengayaan misalnya bacaan umum: komik, cerpen, majalah, novel; buku motivasi seperti biografi, kesejarahan; buku keterampilan misalnya cara merajut, beternak, menjahit dan lain-lain; dan buku pengetahuan misalnya pelajaran atau buku trik-trik belajar.

Perpustakaan Ideal

Idealnya, perpustakaan mampu menyediakan tempat yang nyaman, suasana yang menyenangkan bagi pengunjung atau warga sekolah. Suasana yang menyenangkan dapat menarik minat kita yang pada awalnya ‘ogah’ datang ke perpustakaan menjadi suka datang ke perpustakaan.

Bisa saja, sebagai langkah awal, terlebih dahulu perpustakaan harus mampu menyodorkan daya tarik bagi pengunjung. Sebagai misalnya melengkapi koleksi buku dari berbagai jenis dengan beragam bentuk, seperti buku, jurnal, hasil penelitian, skripsi, tesis, koran, majalah dan sebagainya.

Sesuai dengan fungsi perpustakaan sebagai penyedia dan sebagai sumber belajar, sebuah perpustakaan yang dikelola dengan manajemen yang baik, di lingkungan yang mendukung akan mampu menciptakan suasana dan kondisi yang nyaman untuk belajar. Atau dengan kata lain, sebuah perpustakaan yang ideal akan mampu menumbuhkan minat baca bagi para pengunjung atau orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.

Mungkin tidak hanya di SMPN SATAP 8 juga di sekolah lain,  banyak koleksi buku ‘cuma’ berisi buku-buku teks pelajaran. Namun untuk menambah koleksi juga bukan merupakan hal yang mudah. Salah satu kelemahan utama perpustakaan adalah masalah pengelolaan dan minimnya pengadaan bahan bacaan  karena hal ini terkait pendanaan.

Saat ini pemerintah telah melakukan kebijakan misalnya melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). BOS merupakan program pemerintah pusat untuk membantu pendanaan biaya operasional sekolah yang bisa digunakan untuk administrasi kegiatan sekolah, penyediaan alat-alat pembelajaran, pembayaran honor, pengembangan perpustakaan, pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dan lain-lain.

Saat ini pembelian buku teks dan buku nonteks telah diatur dan dapat dilakukan maksimal 20 persen dari dana BOS regular yang diterima sekolah. Jadi, sekolah tidak lagi fokus menyiapkan infrastruktur sekolah karena ada yang lain dapat dibeli seperti buku.

Misalnya, besaran dana BOS reguler tahun 2020, untuk siswa SMP/MTs Rp.1,1 juta/tahun/ siswa. Sederhananya, jumlah total siswa di SMP terdapat 70 siswa x Rp. 1,1 juta = Rp.77 juta x 20%, berarti sekolah dapat menggunakan sekitar Rp.15,4 juta untuk pengadaan dan pembelian buku.

Sebagai fasilitas pendidikan, perpustakaan merupakan salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian oleh pengelola pendidikan. Sarana pendidikan mencakup semua fasilitas yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, seperti: gedung, ruangan belajar atau kelas, alat-alat atau media pendidikan, meja, kursi, dan sebagainya.

Sedangkan fasilitas/prasarana adalah yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti: halaman, kebun atau taman sekolah, maupun jalan menuju ke sekolah.

Agar semua fasilitas tersebut memberikan kontribusi yang baik bagi jalannya proses pendidikan, perlu pengelolaan manajemen sekolah yang baik pula. Di antaranya perencanaan, pengadaan, inventarisasi, penyimpanan, penataan, penggunaan, dan yang tidak kalah penting pemeliharaan.

Epilog: Alternatif Perbaikan

Untuk tercapainya tujuan tersebut, diperlukan banyak pihak yang saling mendukung dan melengkapi baik pemerintah daerah, masyarakat, serta warga belajar, sehingga harapan memperoleh sebuah perpustakaan yang diimpikan dapat tercapai.

Diperlukan ”political will” dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarkat sehingga terpenuhi dari segi anggaran maupun manajemen pengelolaan yang baik di sekolah untuk mewujudkan perpustakaan yang memiliki ruang menarik, layanan yang baik, dan koleksi yang variatif, yang menjadi sebuah nilai lebih bagi sebuah perpustakaan.

Ada beberapa hal yang dapat disiasati untuk mendukung hal tersebut, misalnya;

  • pembelian buku-buku murah saat pameran, atau bekerjasama dengan penerbit lokal agar mendapat diskon sebagai harga promosi, tidak hanya menguntungkan bagi perpustakaan sekolah namun juga menguntungkan pihak penerbit karena semakin dikenal,
  • setiap kegiatan siswa sekolah yang menghasilkan karya berupa buku, majalah, maupun karya-karya lain yang berupa tulisan dapat disimpan atau dipajang di perpustaan atau di ruang-ruang sekolah karena hal ini juga bagian dari literasi,
  • Sesuai dengan kewenangan pengelolaan satuan pendidikan atau pengelolan sekolah yang dibawah pemerintah daerah (dinas pendidikan) maka Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan dapat memaksimalkan perpustakaan daerah misalnya pelatihan manajemen bagi pengelolaan perpustakaan sekolah, pengadaan pameran buku murah dan lain-lain.

Dengan demikian mewujudkan impian sebuah perpustakaan sekolah yang ideal tentunya tidak hanya dambaan teman-teman di SMPN 8 SATAP Sintang, namun tentunya semua siswa di Indonesia.

Bagi pembaca Birokrat Menulis yang memiliki kelebihan koleksi buku bacaan dan berhasrat menyumbangkan buku buku bacaan bagi anak-anak SMP di daerah tertinggal dan terpencil ini ke SMPN 8 Satu Atap Desa Mungguk Bantok Kec. Sintang, Kab. Sintang Prov. Kalbar., Silakan menghubungi penulis via alamat email dan WA yang tersedia.

0
0

Peneliti Muda pada Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud
Gedung E Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
Telp/WA: 081519986789
Email: [email protected]

error: