Banyak masyarakat beranggapan sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi, beban kepala sekolah dan guru menjadi jauh berkurang. Seolah-olah lebih santai karena perannya dialihkan kepada orang tua siswa. Bahkan, masyarakat awam menilai kepala sekolah ‘hanya’ tinggal memberi perintah (instruksi) kepada guru, guru tinggal memberi penugasan kepasa siswa secara daring.

Anggapan itu seratus persen tidak benar, berdasarkan diskusi tentang  Peran Kepemimpinan Instruksional Kepsek pada masa Pandemi, tanggal  8 September 2020 bersama Kepala SMAN 26 Jakarta, SMAN 33 Jakarta, Wakasek SMAN 7 Kota Tangerang, Kepala SMAN 1 Gunung Kencana Kab. Lebak, dan Kepala SMAN 1 Ulususua Kab. Nias Selatan (dua SMA terakhir melalui virtual).

Berbagai Kendala dalam Belajar secara Daring

Kegiatan belajar dan mengajar (KBM) pada masa pandemi sangat jauh berbeda dengan belajar mengajar di masa normal, biasanya dari konvensional/tatap muka beralih melalui virtual (online). Implementasi pembelajaran pun tidak luput dari berbagai kendala:

  • jaringan terkadang kurang bagus bahkan akses internet yang sulit
  • mahalnya biaya paket kuota – sebelum ada kebijakan kuota gratis dari pemerintah
  • siswa yang tidak mampu membeli gawai (HP)
  • banyak orang tua yang tidak dapat membantu anaknya belajar karena tidak memahami IT
  • tidak sedikit guru kurang mampu mengoperasikan IT dalam mengajar
  • ada kekhawatiran siswa tidak mendapatkan hasil pembelajaran secara maksimal, baik dari materi pelajaran maupun penugasan-penugasan yang diberikan oleh guru.

Pada era digital, pembelajaran online sangat bergantung pada keberadaan akses jaringan atau internet. Warga belajar dapat mudah mengakses berbagai sumber informasi, membangun komunikasi individu maupun massa secara langsung tanpa terbatas ruang dan waktu.

Namun, bukan berarti dalam pelaksanaannya tanpa kendala, terlebih dirasa SMA dari pelosok daerah seperti di SMAN 1 Gunung Kencana Lebak,  dan cerita yang disampaikan Bapak Perhatikan Giwai, kepala SMAN 1 Ulususua yang lokasinya di daerah terpencil di pulau Nias Selatan, yang paling terdampak jika bicara jaringan karena kawasan berbukit di Gunung Sitoli.

Selain jaringan kurang bagus dan kuota internet terbatas, kemampuan antara guru dalam penguasan IT tidak sama – tidak heran ada guru yang belum terbiasa menggunakan internet, cerita pak Giwai dari Nias Selatan.

Masalah kurikulum, setidaknya sekolah bisa berlega sejak pemerintah menerbitkan Kepmendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum dalam Kondisi Khusus. Kurikulum darurat merupakan penyederhanaan kompetensi dasar yang mengacu pada Kurikulum 2013 (K-13) yaitu adanya pengurangan kompetensi dasar (KD) setiap mapel, fokus pada kompetensi esensial. Sekolah diberi kewenangan sepenuhnya tetap menggunakan K-13, kurikulum darurat, atau menggunakan kurikulum yang disederhanakan secara mandiri sesuai kebutuhan pembelajaran siswa.

Di awal perubahan, siap tidak siap – waktu yang tidak mudah sekolah untuk beradaptasi, terlebih kehadiran siswa baru di kelas 10, sejak awal belajar hanya bisa dilihat melalui virtual. Sekolah kesulitan menentukan alokasi waktu untuk setiap mapel, menentukan perangkat pembelajaran yang cocok dengan kondisi siswa, sarpras yang belum mendukung, serta kemampuan guru dalam menentukan rencana pembelajaran, PR yang bukan sederhana bagi kepsek dan guru.

“Ada juga guru yang tergolong senior terkadang mendapatkan kesulitan untuk menguasai Learning Management System atau Sistem Manajemen Pembelajaran yang dipilih. Kesulitan juga pada materi yang memerlukan praktik di laboratorium untuk Fisika, Kimia, dan Biologi tidak dapat diberikan pada pembelajaran daring.

Selain itu, guru harus bisa bagaimana caranya memilih metode pembelajaran yang bervariasi, sehingga tidak menimbulkan kebosanan siswa dalam pembelajaran daring,” cerita ibu Emma, wakasek SMAN 7 Tangerang.

Guru Ditantang Kreatif

Melatarbelakangi diskusi dengan Kepala SMA antara lain, pada pembelajaran di SMA kebanyakan orang tua siswa tidak bisa lagi dapat membantu anaknya belajar di rumah karena materi pembelajaran di SMA lebih khusus dan mendalam.

Lalu, bagaimana sekolah mengatur pola pembelajaran dengan lebih mendalam sesuai dengan kemauan siswa pada materi pembelajaran di SMA yang lebih spesifik?

Berdasarkan survei UNICEF pada awal Juni 2020 terhadap 4.016 responden dari 34 provinsi dengan rentang usia 14-24 tahun, bahwa  69 persen peserta didik merasa bosan belajar dari rumah/BDR. Hal ini menjadi tantangan bagi sekolah menciptakan pembelajaran yang tidak membosankan. Penerapan pembelajaran online juga membuat kepsek dan guru berpikir keras dalam mencari dan memilih model dan metode pembelajaran yang akan digunakan.

Pola komunikasi dan hubungan profesional antara kepala sekolah dan guru juga memberikan dampak pada mutu pendidikan yang dihasilkan di sekolah. Kerja sama antara kepala sekolah dan guru dengan didukung pola komunikasi yang baik, berdampak pada perkembangan sekolah dan hasil belajar siswa yang memuaskan (Firmaningsih, 2015). Salah satu kegagalan kepala sekolah disebabkan oleh rendahnya keterampilan kepala sekolah dalam mengelola organisasi dan sumber daya di dalamnya (Davis: 1998 dalam Lovely: 2004:19).

Kepala SMA memiliki tanggung jawab dan dituntut tidak hanya sebagai educator dan administrator, namun juga berperan manajer dan supervisor yang harus mampu menerapkan manajemen bermutu. Indikasinya adalah iklim kerja dan proses pembelajaran yang konstruktif, berkreasi serta berprestasi, karena dari sini kepsek dapat diukur keberhasilannya.

Kami punya keyakinan, kepsek tetap ingin berupaya sekolah sebagai tempat manusia berubah, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak berpengalaman menjadi berpengalaman, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Jadi, sekolah berandil kuat pada pembentukan kualitas manusia.

Ada sisi Positif

Selama belajar masa pandemi, Purwanto, salah seorang guru mapel bahasa Indonesia SMAN 33 Jakarta mengatakan meski terjadi pengurangan jam pelajaran dari @45 menit/jam pelajaran  menjadi @30 menit/jam pelajaran, jadwal KBM PJJ hanya sampai pukul 12.00. Akan tetapi guru harus menyusun silabus yang esensial, membuat RPP yang disesuaikan dengan kondisi pandemi, bahkan mengisi agenda harian Googleform, karena sekolah juga memantau para guru melalui aplikasi aplikasi Microsoft.

Jangan kaget, kepala SMA jadi “rajin” masuk WAG grup kelas, karena memantau proses pembelajaran yag dilakukan para guru.  Parenting daring dengan wali murid dan siswa pun dilakukan, cerita ibu Novriola, kepala SMAN 33 Jakarta. Menariknya, tidak segan-segan kepsek memantau kinerja gurunya berdasarkan laporan WA siswa untuk memastikan peran guru optimalkah dalam pembelajaran.

“Dengan belajar pandemi, kami mengambil sisi positifnya. Kemampuan SDM sekolah yang kurang, kami beri motivasi guru untuk meningkatkan dan mengembangkan diri seiring dengan tuntutan jaman, maka para guru belajar mandiri. Guru akhirnya melalui tutorial yang disediakan oleh sekolah bekerja sama dengan guru IT. Mereka mau  memperdalam IT nya”, cerita ibu Sri Sariwarni, Kepala SMAN 26 Jakarta.

“Selain itu, guru juga menjadi kreatif dalam memodifikasi teknik dan materi ajar dalam pembelajaran daring,” pak Dadang Suryaman kepala SMAN 1 Gunung Kencana Lebak, menambahkan.

Dengan perubahan belajar secara daring, para kepala SMA sepakat – ada sisi positif, guru mau belajar bahkan berbagi kepada guru lainnya terutama terkait aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran, terlebih jelang era belajar digital nanti. Guru mulai mengenal dan menerapkan aplikasi daring seperti zoom, google classroom, google meet, whatss up, dan email.

Di sisi lain, banyak guru yang kreatif menggunakan pengembangan berbagai aplikasi misalnya Schoology, Webex, Microsoft 365 untuk Edukasi, Aplikasi Telegram, Moodle, e-Sekolahku, Edmodo, LMS, Quipper, Kahoot, Quipper, Simak Sipintar, aplikasi SiGUM (Sistem Informasi Guru Mengajar), bahkan sekolah kreatif membuat apliaksi sendiri. Untuk materi praktik diupayakan tidak membebani siswa, dan tidak berkelompok. Materi dikembangkan secara virtual, guru mengembangkan ke dalam channel Youtube pribadi guru atau berupa PPT dan praktik sederhana dibuat menyenangkan dan bermakna bagi siswa.

Pemberlakuan Kurikulum Darurat (Khusus)

Perberlakuan kurikulum darurat, kepala SMA menyatakan, sekolah melakukan penyesuaian dan pengembangan yang disederhanakan. Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi sekolah.

SMAN 1 Gunung Kencana, yang berada di ujung barat pulau Jawa, masih mengacu pada kurikulum 2013 yang disesuaikan kondisi. Sebaliknya, SMAN 33 Jakarta membuat perencanaan pembelajaran dengan mengacu pada kurikulum darurat (kondisi khusus).

“Sekolah membuat perencanaan program pembelajaran yang meliputi silabus, RPP, materi ajar, dan media pembelajaran daring dengan mengacu pada kurikulum darurat. Silabus yang dikembangkan namun lebih disederhanakan tetap mengacu standar nasional dengan memilih KD yang esensial disesuaikan kondisi peserta didik dan guru,” terang bu Ola.

SMAN 26 mengacu pada Kurikulum 13 yang direvisi serta dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa. Pengembangkan materi ajar dan silabus disederhanakan sesuai dengan SE Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang penyederhanaan RPP dan buku saku.

Standar penilaian tidak mengacu pada mastery learning, melainkan pada praktik baik siswa, seperti implementasi nilai nilai kepedulian siswa pada masyarakat yang terimbas secara sosial dan ekonomi di era pandemi atau PSBB awal.

SMAN 7 Kota Tangerang mengembangkan silabus dengan memilih KD-KD yang essensial dan memungkinkan dilaksanakan dengan kondisi dan waktu yang tersedia. Sekolah mengembangkan RPP yang disederhanakan (RPP 1 halaman) yang mengandung minimal 3 hal yaitu tujuan pembelajaran, langkah kegiatan, dan penilaian.

Dalam diskusi, disampaikan upaya mengatasi kendala perencanaan pembelajaran, sekolah menyesuaikan materi dengan kondisi siswa, memilih materi essensial (KI dan KD) atau pokok dalam kurikulum, dan mengaktifkan MGMP sekolah. Sekolah juga menyiapkan materi ajar seperti buku paket/modul, menyediakan wifi gratis, memberikan bantuan paket internet pada guru dan siswa, dan pelatihan PJJ untuk guru.

Dalam membagi alokasi waktu, kepsek meminta guru untuk menyesuaikan dengan kedalaman dan keluasan materi pokok, mengembangkan perangkat, menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa dan kemampuan sekolah, serta berdiskusi sesama guru. Terkait dengan banyaknya siswanya tidak punya HP, SMAN 1 Gunung Kencana mampu memberikan peminjaman laptop/tablet dan buku-buku pelajaran bagi siswa.

Secara bertahap, kepsek mengatasi kendala dengan menyiapkan sarpras dari dana BOS dan BOP, memberikan pelatihan dan pendampingan guru, meminta bantuan tenaga IT yang tersedia di sekolah menyiapkan, memanfaatkan internet, menggunakan perangkat pembelajaran, dan kolaborasi dengan guru SMA lain. Kepsek juga membantu guru  dengan memotivasi bahkan memberikan reward berupa pujian dengan memposting praktik baik yang guru lakukan di kelas virtual, untuk dapat ditiru dan menjadi penyemangat guru yang bersangkutan dan guru lainnya.

Evaluasi Pembelajaran/Penilaian

Penilaian hasil belajar adalah sebagai bentuk akuntabilitas program pembelajaran yang diselenggarakan sekolah kepada pemangku kepentingan pendidikan (seperti orang tua siswa dan pemerintah). Hasil penilaian dapat juga memberi gambaran tingkat keberhasilan pendidikan pada satuan pendidikan.

Kepala SMA sepakat penilaian  atau pengisian angka rapor pada masa pandemi menjadi bahasan yang cukup serius pada internal sekolah, selain kegiatan masalah pembelajaran itu sendiri. Karena hal ini menyangkut prinsip keadilan (equity) dan inklusivitas (inclusivity).

Ada sekolah dalam menilai kemajuan dan hasil belajar dengan melakukan evaluasi kualitatif, ada juga yang melakukan supervisi pembelajaran, diskusi dengan guru, menilai hasil laporan kegiatan, menilai RPP, memberikan ujian atau tes kepada siswa.

Guru menyiapkan perangkat penilaian hasil belajar. Bentuk penilaian hasil belajar yang digunakan adalah berupa tugas proyek, soal esai, dan tes pilihan ganda. Tindak lanjut yang dilakukan setelah penilaian adalah memberikan umpan balik (kepada guru, siswa, orang tua) dan melakukan remedial.

Sedangkan untuk kendala pemahaman AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dan survei sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) yang akan dimulai pada tahun 2021, ada sekolah yang berencana memberikan pelatihan pemahaman.  AKM adalah (AKM) dan survei karakter yang ditetapkan sebagai pengganti Ujian Nasional (UN). 

Epilog: Simpulan

Ending-nya, dapat disimpulkan bahwa di masa pandemi ternyata sekolah (Kepala Sekolah dan para guru) tidak sekedar leha-leha. Bagaimanapun kepsek bertanggung jawab atas jalannya sekolah, karena kepsek berada di garda terdepan dalam capaian pendidikan anak didiknya.

Edgar Dale (1900-1985), yang pernah menjadi guru dan pengawas sekolah menengah di North Dakota USA, berujar pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sadar oleh keluarga, masyarakat atau pemerintah melalui bimbingan, pengajaran, pembelajaran dan pelatihan yang berlangsung, baik dilakukan disekolah maupun di luar sekolah sepanjang hidup, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat menjalankan perannya dalam lingkungan untuk masa yang akan datang.

Kita dapat menyimpulkan apapun yang telah diupayakan sekolah, intinya tetap berupaya menjunjung tinggi semangat pembelajaran dengan membuat suasana belajar yang menyenangkan pada masa pandemi. Dalam kondisi apapun pembelajaran harus terus berjalan karena ilmu pengetahuan itu ada di mana saja, tidak selalu ada di sekolah.

Asalkan kita peka dan mau melihat sekitar kita, maka kita bisa mempelajari segala hal baru yang belum pernah kita temukan.

Terima kasih kepada Tim diskusi: Nurberlian Venus Ali, Idris HM. Noor, Herlinawati, Asri Joko, dan Mega Birli Adhitia

3
0

Peneliti Muda pada Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud
Gedung E Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270
Telp/WA: 081519986789
Email: [email protected]

error: