Islam dan Barat: Oposisi Biner?

Islam dan Barat: Oposisi Biner?

Lintasan sejarah seringkali menjadi penting untuk memahami bagaimana sebuah tradisi dalam masyarakat bermula, agar kita menjadi masyarakat yang mampu meneruskan tradisi yang sudah baik tersebut. Pun dalam toleransi beragama, terkadang masyarakat kompleks saat ini dengan rezim kepentingannya cenderung melupakan tradisi yang akhirnya dapat berujung pada konflik identitas.

Tulisan berikut ini bukan hanya mengajak kita menengok bagaimana tradisi toleransi dulu bermula, namun juga mengajak kita untuk kembali merenungkan bahwa Islam dan Barat tidak selalu dihadapkan pada dua titik yang selalu berseberangan. Selalu ada ruang antara diantara keduanya  untuk sebuah peradaban yang lebih cair dan punya makna.

—-

Pada Hari Senin, 24 April 2017 kemarin, umat Islam merayakan Isra’ Mi’raj. Hari besar ini seringkali kita maknai sebagai sarana mengingatkan umat Muslim tentang sejarah turunnya perintah shalat lima waktu.

Namun bukan hikmah dari perjalanan Isra’ Mi’raj yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Saya akan mengulas bagaimana kisah Isra’ Mi’raj menjadi salah satu bukti bagaimana budaya Timur dan Barat di jaman Abad Pertengahan berkelindan secara dinamis dan saling memengaruhi.

Apabila Anda menelusuri sejarah peradaban Islam, akan diketahui betapa besar pengaruh Islam terhadap dunia Barat, dan begitu juga sebaliknya. Tercatat tiga tempat yang menjadi jembatan hubungan ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, dan agama antara Timur dan Barat, yakni Syria (Suriah), Spanyol (Andalusia), dan Sicilia. Syria (Suriah) dan Spanyol (Andalusia) merupakan tempat berinteraksinya peradaban Barat dan Islam, sedangkan Sicilia sempat menjadi kota Muslim di jaman kekhalifahan Fatimah sekitar tahun 948, dimana sedikitnya 3.000 mesjid berdiri di kota ini.

Peradaban Barat seringkali menjadi panutan dan tolok ukur dalam menilai berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia sastra. Namun tak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya peradaban Islam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sastra Barat. Salah satunya adalah pengaruh kisah Isra’ Mi’raj terhadap The Divine Comedy karya Dante.

Dante (1256-1321) adalah seorang penyair Italia dari abad ke-13. Dalam karyanya yang menjadi tonggak sastra Barat kanon (sastra yang sudah mapan dan menjadi tolok ukur kualitas sebuah tulisan), yakni  The Divine Comedy  (terdiri dari Inferno, Purgatorio, dan Paradiso), Dante mengisahkan tentang perjalanan imajiner dirinya melewati neraka, alam barzakh (purgatory), dan surga. Dengan ditemani oleh Virgil, penyair jaman Romawi, sebagai pembimbingnya, Dante bertemu dengan berbagai tokoh terkenal di dunia pada masa-masa sebelumnya. Di Inferno (Canto XXVIII.28-36), di neraka lapis bawah, Dante bertemu dengan Muhammad yang digambarkan sedang meratapi penderitaan karena siksaan yang diterimanya.

Muhammad dan Ali ditempatkan bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain yang menurut Dante memikul dosa sebagai pemecah belah masyarakat. Gambaran siksaan kepada Muhammad bisa dikatakan amat kejam dan mengerikan. Dengan tubuh yang terbelah menjadi dua, lalu utuh kembali, dan terbelah lagi, dan seterusnya,  Muhammad dianggap pantas menerima hukuman atas dosanya menjadi pemecah belah dunia dengan mendirikan agama baru. Kemungkinan besar Dante juga mengetahui sejarah Islam tentang pecahnya umat Islam menjadi Sunni dan Syiah, karena dia juga menempatkan Ali di lingkar yang sama. Dengan menghukum dua figur Islam yang paling berpengaruh di neraka lapis bawah, Dante telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam.

Namun sebenarnya Dante sedikit banyak menunjukkan simpatinya kepada Islam, khususnya dalam bidang filsafat dan kenegaraan. Di karya yang sama, Inferno, Dante menyebut tiga tokoh yang berpengaruh dari dunia Islam. Dalam catatan sejarah Islam, ketiga tokoh Muslim ini adalah Avicenna (Ibn Sina), filsuf dan ilmuwan dari Baghdad di abad ke-9 yang karya-karyanya menjadi acuan ilmu kedokteran di Timur dan Barat selama berabad-abad lamanya, Averroes (Ibn Rushd), filsuf Andalusia/Spanyol Muslim di abad ke-11 yang lebih dikenal di Barat sebagai komentator Aristoteles, dan Sultan Saladin dari Mesir yang berhasil merebut Jerusalem dari tangan penguasa Kristen. Ketiga tokoh ini ditempatkan di Limbo, tempat orang-orang baik dikumpulkan tetapi tidak ditempatkan di surga karena mereka tidak dibaptis. Dengan menempatkan ketiga tokoh ini di Limbo, berarti Dante membuka kesempatan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan (salvation).

Bagaimana kita sebagai masyarakat yang literat menyikapi karya sastra kanon seperti ini? The Divine Comedy  bisa saja dianggap sebagai karya kanon dalam artian bahwa karya ini digunakan di pendidikan Barat dalam pembelajaran Sastra. Meskipun begitu, karya yang sama bisa saja dianggap bukan kanon dalam hal sentimen agama yang disampaikan. Pandangan agama Dante cenderung menguatkan hegemoni budaya Barat, dan sah-sah saja dijadikan bahan kritik Kajian Budaya atau Poskolonial karena mengamini oposisi biner Islam/Barat.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa sepak terjang Dante juga menunjukkan sikap yang ambivalen–benci dan simpati–terhadap Islam. Dante memberi penghargaan tinggi kepada dua filsuf Muslim (Avicenna dan Averroes) yang juga adalah pakar ilmu Al-Qur’an. Dante juga menaruh hormat tinggi kepada Sultan Saladin, seorang negarawan yang menjadi simbol jihad melawan penguasa agama yang dianut Dante. Bukankah lebih masuk akal bila Dante memasukkan Saladin ke neraka? Bila kita telusuri sejarah perkembangan Islam pada masa itu, Saladin ternyata banyak disebut sebagai tauladan seorang ksatria dan negarawan sejati, yang memperlakukan musuhnya dengan cara-cara yang baik dan manusiawi. Ini sangat jauh berbeda dengan perlakuan para tentara Kristen yang secara membabi buta membunuh orang-orang tidak berdosa, terutama di Perang Salib ke-1.

Banyak sumber yang menyatakan bahwa Avicenna dan Averroes berupaya untuk menghadirkan harmoni antara filsafat Aristoteles dengan hikmah dalam Qur’an. Misalnya saja, Averroes berpandangan bahwa ayat-ayat di dalam Qur’an, bila ditafsirkan dengan tepat dan menggunakan akal, maka dapat digandengkan dengan filsafat. Filsafat agama seperti ini besar pengaruhnya terhadap munculnya Christian Scholasticism.

Averroes banyak memberikan pengaruh kepada perkembangan pemikiran di Barat pada abad ke-13. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga filsafat Aristoteles lebih mudah dipahami di dunia Barat. Dante sendiri bahkan dituduh sebagai pengikut Averroes dan dikucilkan dari kota kelahirannya, dan karya-karyanya dibakar oleh penguasa. Pandangan ini bisa menjadi penjelasan mengapa Dante menolak Islam sebagai sebuah keyakinan beragama (sebagaimana tercermin dalam gambarannya tentang Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali), namun mengagumi Islam sebagai sebuah filsafat.

Pengaruh Islam yang lebih mengejutkan lagi, terutama bagi dunia Barat adalah kritik terhadap keaslian The Divine Comedy. Karya besar yang menjadi bacaan “wajib” bagi mereka yang menekuni Sastra Barat di dunia Barat, ternyata banyak sekali kesamaannya dengan kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Adalah Miguel Asin Palacios, seorang pastur dari Spanyol, yang telah menghabiskan sekitar dua puluh lima tahun untuk menelusuri sumber-sumber yang memberikan inspirasi bagi Dante. Palacios menyatakan bahwa Dante mengambil kisah Isra’ Mi’raj dan berbagai tulisan dari dunia Islam. Dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Islam and The Divine Comedy  (1919), Palacios memberikan begitu banyak detil kesamaan dalam membandingkan keduanya, sehingga hampir mustahil kesamaan-kesamaan itu hanyalah kebetulan saja.

Penelitian Palacios patut diakui kebenarannya. Apabila kita betul-betul menelusuri episode-episode dalam The Divine Comedy  yang menggambarkan neraka, alam barzakh, dan surga. Kita bisa menemukan begitu banyak kemiripan dengan gambaran neraka dan siksaan-siksaan terhadap berbagai macam dosa di setiap lapis neraka, maka sebagaimana tertulis di Al-Qur’an dan Hadith. Ambil saja sedikit contoh: Baik kisah Isra’ Mi’raj (Sahih Bukhari, Kitab 23, no. 468) maupun The Inferno (Canto XII.46-8) menggambarkan siksaan yang sama kepada orang yang meribakan uang. Mereka ditenggelamkan ke dalam sungai darah, dan dilempari batu yang kemudian mereka telan.

Kemiripan yang patut disebut juga adalah bentuk siksaan yang terus menerus, misalnya kondisi fisik yang pulih dan utuh kembali untuk kemudian disiksa lagi. Dante memberikan gambaran di hampir seluruh bagian di Inferno. Sementara itu, umat Muslim sudah akrab dengan gambaran seperti ini, sebagaimana yang tersebut di Al-Qur’an  (QS An-Nisa: 56: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

Mungkinkah seorang Dante membaca Al-Qur’an dan/atau hadist secara langsung sebagai sumber inspirasinya? Isu tentang keaslian The Divine Comedy  ini cukup kontroversial. Untuk memberi jawaban yang singkat, penjelasan yang sementara ini dianggap paling memungkinkan adalah bahwa Dante terinspirasi oleh karya seorang Sufi dari Andalusia pada abad ke-13, Muhyiddin Ibn ‘Arabi. KaryanyaFutuhat Al Makkiyah, adalah kisah perjalanan mistis Ibn ‘Arabi, yang ditulis dengan menggunakan kisah Isra’ Mir’aj sebagai dasar.

Ada pula banyak bukti bahwa pada masa hidup Dante, kisah Isra’ Mi’raj dalam versi bahasa Latin cukup dikenal. Mentor Dante, Brunetto Latini, pernah bekerja untuk Raja Alfonso X di Toledo, Spanyol. Alfonso X memerintahkan penterjemahan banyak karya bahasa Arab ke bahasa Latin, dan salah satunya adalah kisah Isra’ Mi’raj. Kita bisa berspekulasi bahwa Dante juga mendapatkan sumber-sumber ini dari gurunya.

Apakah pesan penting dari uraian saya di atas? Melalui tulisan ini, saya berharap agar kita semua umat manusia untuk belajar menerima perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinan beragama kita masing-masing.

Kita semua sadar bahwa ketidaktahuan masyarakat awam non-Muslim tentang Islam adalah akar dari Islamophobia. Sama halnya umat Muslim yang awam tentang keyakinan lain bisa menjadi ladang subur tumbuhnya kebencian. Kita bertetangga dengan berbagai pemeluk agama, namun tahukah kita, atau pernahkah kita saling bertanya dengan tulus tentang makna peringatan hari raya agama lain?

Kita diharapkan untuk menunjukkan toleransi terhadap agama lain, namun apalah artinya toleransi bila tidak disertai dengan keterbukaan terhadap adanya perbedaan? Di jaman yang bersifat multikulturalis ini, perbedaan bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan demi sebuah keseragaman, karena pada dasarnya perbedaan membuat kita semakin kaya, tanpa harus kehilangan identitas agama dan budaya masing-masing.

Sudah banyak yang dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara Islam dan Barat, namun jalan yang harus ditempuh masihlah sangat panjang. Benturan peradaban masih campur aduk dengan konflik agama. Barangkali tak perlu diperdebatkan mana yang ayam, mana yang telur. Kita benar-benar membutuhkan upaya yang keras dan terus menerus untuk membuka mata dunia bahwa batas-batas dan dikotomi Timur/Barat, Superior/Subordinat, dan Modern/Tradisional sebenarnya hanyalah garis maya.

Satu-satunya cara untuk membangun kesepahaman adalah dengan mengupayakan keterbukaan terhadap satu sama lain dan kesungguhan untuk menghargai tradisi masing-masing. Bukankah Allah telah menciptakan dunia ini penuh dengan perbedaan agar manusia bisa mengenal satu sama lain. Allah berfirman dalam QS Al-Hujuraat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

 

*)  Tulisan ini disarikan secara singkat dari tesis MA saya berjudul The Representation of Islam in Medieval Literature (2004). Versi singkat dalam bahasa Indonesianya pernah saya sajikan dalam Pidato Ilmiah Lustrum ke-8 Unesa pada akhir tahun 2004.

Mengapa Menulis

Mengapa Menulis

“Wuih…rajin banget..”

Entah sudah berapa orang yang berkomentar melihat catatan rapat hari itu. Termasuk komplit. Bahkan sangat komplit. Bahkan ucapan yang mungkin kurang relevan pun ada dalam catatan saya.

Bukan tanpa alasan kalau saya memutuskan untuk mencatat semua ucapan kepala bidang saya, termasuk tanya jawab juga saya catat. Mungkin hanya beberapa yang mempercayai alasan saya ini. Tapi begitulah adanya.

Saya termasuk orang yang mudah sekali mengantuk saat di kelas. Sangat-sangat mudah. Kebiasaan saya ini sangat dihafal oleh rekan-rekan kuliah atau mereka yang pernah sekelas sewaktu diklat. Mata saya biasanya terbuka lebar lima menit pertama masuk dan lima menit sebelum kelas usai. Suara dosen ibarat dongeng yang mengantarkan saya ke alam mimpi.

Di sisi lain, saya tak pernah rela jika ada peserta diklat yang saya ajar mengantuk. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membangunkannya, diantaranya dengam menanyakan beberapa pertanyaan. Nggak adil ya?

Aktifitas mencatat ucapan dosen atau narasumber dalam seminar, workshop, diklat, atau rapat baru saya mulai sejak awal tahun 2008. Meski di pagi hari sudah menikmati secangkir kopi, rasa kantuk tak juga bisa saya usir.  Aktifitas ini cukup menyelamatkan saya dari rasa malu akibat ketahuan mengantuk di kelas.

Aktivitas catat mencatat ini sebenarnya terinspirasi dari teman sekelas saat mengambil program master delapan tahun silam. Waktu itu saya sangat heran mengapa teman-teman saya begitu rajin mencatat. Tak hanya satu orang. Tapi cukup banyak. Setiap kali saya menoleh ke kiri kanan melihat depan atau sekilas berbalik ke belakang mereka terlihat mencatat. Salah satu rekan dari Indonesia juga sempat berkomentar, orang-orang di sini rajin banget mencatat. Semua ucapan dosen dicatat.

Waktu itu saya belum tergerak untuk meniru. Cukuplah slide-slide dosen dan beberapa catatan penting saja. Apalagi, ada rekaman kuliahnya. Kalaupun ada yang kurang jelas bisalah didengarkan kembali rekamannya.

Pentingya mencatat baru saya sadari saat ujian tiba. Tepatnya sehari sebelum ujian. Ternyata slide-slide dan beberapa catatan kecil saya tidak cukup membantu mengangkap kembali apa yang telah disampaikan dosen. Alternatifnya, saya harus mengulang membaca artikel-artikel untuk mendapatkan pemahaman yang utuh. Atau, kembali ke rekaman. Sayangnya, kedua aktivitas ini memakan waktu. Yang jelas tidak cukuplah waktu sehari. Ya, andai saya mencatat, tentu tidak seperti itu. Cukup membuka catatan tidak lebih dari dua jam untuk memahami.

Setelah itu barulah tergerak untuk mencatat. Di saat yang sama baru saya sadari bahwa mencatat juga menjauhkan saya dari rasa kantuk. Hingga saat ini akitivitas tersebut masih saya jalankan.

Beberapa tahun lalu, saya mendapatkan inspirasi dari Joe Vitale dalam bukunya Hypnotic Writing (Alhamdulillah sudah ada soft copy-nya, silakan di google dengan kata kunci: Hypnotic Writing Joe Vitale). Dalam salah satu bab yang berjudul Imitation of Sugar is Sweet too! Joe Vitale menganjurkan kita untuk melakukan imitation, alias meng-imitasi. Dalam hal ini, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menghasilkan tulisan yang menghipnosis adalah dengan mengimitasi tulisan lain yang menghipnosis. Katanya, pilihlah satu tulisan yang menurut anda menghipnosis. Lalu, tulislah dengan tangan anda. Ya, menulis dengan tangan anda, bukan tangan orang lain, juga bukan keyboard. Persis sama dengan proses mencatat.

Joe katakan: By imitating great writing, you learn how to create great writing. It gives you something close to the same feelings the author probably had when he wrote the story. That’s powerful. Hal yang sama juga dilakukan Joe saat usianya menginjak 16 tahun. Ia menyalin tulisan Jack London dan William Saroyan sampai ia benar-benar memahami bagaimana mereka menulis sebuah adi karya.

Tambahnya lagi, membaca dan menyalin tulisan sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh seorang atlet ketika mereka melihat video atlit lain. Perenang melihat perenang lain, skier belajar dari ahli skier lain. Mereka ini belajar melatih fikirannya dan merekam pola-pola untuk meraih kesuksesan.

Bagi saya pribadi, mencatat atau menyalin atau meng-copy juga membantu dalam memahami suatu artikel. Jujur, daya hafal saya sangat sangat parah. Mudah sekali lupa. Aktivitas mencatat ini juga cukup efektif untuk melekatkan apa yang sudah saya pelajari.

Kalau selama ini saya rajin menulis bukan berarti saya ahli di bidang tersebut. Saya hanya berusaha agar apa yang say abaca tidak lenyap seketika ditelan waktu.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Jadi, mari kita ikat ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari dengan menuliskannya.

 

 

Bagaikan Pedang Bermata Dua

Bagaikan Pedang Bermata Dua

Saya seringkali menerima email yang tanpa isi. Saya menyebutnya email bodong. Biasanya pengirimnya adalah mahasiswa yang mengirimkan tugas esai untuk mata kuliah yang saya ampu. Pernah saya tanyakan ke beberapa kelas yang mahasiswanya melakukan praktik seperti ini. Jawabannya beragam, mulai “kami biasa begitu ke semua dosen, ma’am,” “takut dianggap cari perhatian sama dosen,” sampai “tidak tahu harus ngomong apa di email.”

Meski saya sempat jengkel saat harus mengunduh semua file agar tahu apa isi email para mahasiswa, saya memberitahu mereka bahwa etika menulis email itu sama halnya dengan menulis surat. Harus ada pengantar, isi, dan penutup. Sejak saat itu, email dari mahasiswa yang pernah saya beri briefing ini tidak lagi bodong. Walaupun masalah ini kemudian berpindah ke kelas-kelas lain yang nampaknya menunggu diberi briefing juga, hehe.

Di kesempatan yang berbeda, mahasiswa tingkat akhir di jurusan tempat saya mengajar mulai dilanda kecemasan. Kami memang mulai memberlakukan penggunaan Turnitin, software anti plagiasi berbayar yang dilanggan oleh kampus. Mereka yang akan maju ujian skripsi harus melampirkan laporan tingkat kesamaan dokumen. Dosen pembimbing diberi tugas mengunggah file skripsi mahasiswa untuk mengidentifikasi tingkat kesamaan. Hasilnya amat beragam. Mahasiswa yang memang menulis sendiri skripsinya sejak awal boleh berbangga dengan tingkat kemiripan di bawah 20%. Cukup banyak yang ‘sukses’ hanya terdeteksi di bawah 10%. Sementara itu, mereka yang skripsinya terdeteksi di atas 20% jadi kelabakan. Bahkan saya sendiri pernah menunda ujian skripsi seorang mahasiswa yang skripsinya terdeteksi sampai 46% kemiripannya.

Dampak penggunaan Turnitin ini mulai ‘menjangkiti’ para dosen. Sebagian malah menggunakannya sebagai saringan awal dalam menilai tugas-tugas UAS mahasiswa yang berbentuk esai. Saya termasuk di antaranya. Mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan modal sakat (salin lekat) dari makalah gratisan yang beredar tak terbatas di dunia maya bagaikan tertangkap basah. Bayangkan! Tingkat kemiripan sampai 98% dapat terdeteksi. Jangan harap bisa lulus mata kuliah bila begini caranya. Para dosen bersorak gembira. Para mahasiswa harus mikir seribu kali sebelum menyerahkan skripsi atau tugasnya.

digital-literacy

sumber: pomo.com.au

Sementara itu, di seberang dunia sana di Hong Kong, ribuan buruh migran Indonesia (BMI) tak ketinggalan exist di dunia maya. Di pojok-pojok warung internet, taman, dan perpustakaan Hong Kong, saya pernah menyaksikan puluhan saudari sebangsa dan setanah air sedang chatting. Penuturan sebagian blogger BMI mengungkapkan berbagai versi praktik romansa antar bangsa lewat dunia maya. Sebagian dari praktik ini bahkan berdampak pada upaya memeras isi rekening sebagian BMI atas nama cinta. Cerpen-cerpen yang ditulis BMI penulis cukup banyak mengungkap fenomena ini.

Di antara para BMI ini, ada puluhan yang aktif ngeblog dengan misi perjuangan. Mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menulis di ponsel sambil menunggu cucian berputar di dalam mesin cuci. Membuka laptop saat larut malam meski tubuh lelah tak terkira. Mencatat hasil pengamatan di kertas di balik daftar belanja. Mereka menulis tentang banyak hal. Tentang lika-liku kehidupan BMI. Tentang kegiatan komunitas di hari libur di sepanjang sudut Victoria Park. Dan lebih penting lagi, tentang hak-hak TKW dalam hukum perburuhan di Indonesia dan Hong Kong. Lewat jejaring dunia maya yang melibatkan penggunaan blog, Facebook dan Twitter, bahkan para BMI sukses menggerakkan dunia internasional dalam menuntaskan kasus Erwiana, seorang BMI asal Magetan yang disiksa dan dipulangkan tanpa gaji oleh majikannya. Singkat cerita, dalam kurun waktu 1 tahun sejak kasus terjadi di awal 2014, perhatian dunia internasional tertuju pada Erwiana. Sang majikan divonis 16 tahun oleh pengadilan Hong Kong. Dan Erwiana bertransformasi dari perempuan lugu yang tak berani bicara menjadi salah satu sosok paling berpengaruh di dunia versi majalah Time di tahun 2014.

Apa makna dari contoh-contoh yang saya paparkan di atas? Internet laksana pedang dengan dua mata. Di tangan seorang yang pintar tanpa hati cerdas, pedang dapat membunuh. Di tangan seorang bersahaja namun berhati mulia, pedang yang sama dapat menyelamatkan dunia. Dunia maya adalah pedang yang dapat membuat sosok calon ilmuwan seperti mahasiswa saya untuk berani melanggar etika akademik demi nilai tinggi. Dia juga mendorong sosok yang sering dianggap bodoh dan udik seperti para BMI menjadi pejuang kemanusiaan. Jadi sebenarnya internet hanyalah alat. Makna dan kebermanfaatannya bergantung pada siapa yang menggunakannya.

Email bodong dapat berubah menjadi email beretika berkat briefing. Esai dan skripsi berbau plagiasi dapat direvisi melalui pembelajaran ketrampilan menulis akademik. Para BMI mampu memanfaatkan dunia maya sebagai alat perjuangan karena mereka tahu dahsyatnya pengaruh internet. Ini semua berarti bahwa pemanfaatan internet sehat dapat dilatihkan dan diajarkan.

Tentu saja pembelajaran internet sehat adalah tanggung-jawab kita semua. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah bergulir di awal tahun 2016, dan digawangi Direktorat Jendral Dikdasmen Kemdikbud. Dalam Disain Induk dan Panduan GLS untuk setiap jenjang pendidikan disebutkan pentingnya literasi informasi. Literasi informasi itu sendiri dimaknai sebagai ketrampilan berpikir untuk memahami dan mengolah informasi dari berbagai sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Inilah literasi abad ke-21 sebagaimana ditetapkan oleh Unesco (2003).

Komponen literasi informasi meliputi literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Pemahaman dan pemanfaatan semua komponen ini secara holistik adalah tanggung jawab pendidikan formal, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian anak-anak kita dapat berkembang menjadi pembelajar sepanjang hayat yang dapat memberikan sumbangsih secara aktif sebagai warga negara global.

Misi ini pastinya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu perubahan paradigma di berbagai lapisan kepentingan. Orang tua yang khawatir akan pemanfaatan gadget untuk hal-hal yang tidak sehat perlu melek teknologi. Merek harus tahu aplikasi apa saja dan situs apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan yang ramah anak, menyenangkan dan menghibur. Guru dan dosen yang gemes dengan tingginya tingkat kecurangan akademik harus mendongkrak kemampuan mengajarnya dengan menggunakan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Ini berarti perlu adanya kerangka kompetensi literasi informasi yang dapat menetapkan indikator yang lebih terukur.

Jadi, sebaiknya kita berhenti terus berwacana atau bahkan memperdebatkan apakah internet itu membahayakan atau mendidik. Sudah waktunya kita menyatukan dan menetapkan langkah-langkah konkrit dan terukur. Saya membangun harapan agar kita semua para pendidik dan perencana di dunia pendidikan mulai berpikir untuk menyusun kerangka kompetensi literasi informasi yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa dan agama. Semoga ini dapat menjadi salah satu resolusi 2017 buat teman-teman Penggerak Literasi Unesa (PLU)

Dunia 3.0 sudah bergulir, jangan sampai kita tetap berada di dunia analog. Sebagaimana pernyataan Marc Prensky (2001), anak-kita kita adalah digital natives, alias penduduk asli di dunia digital. Sementara itu, mayoritas di antara kita para orang-tua dan guru atau dosen adalah penduduk pindahan alias imigran. Mari kita didik anak-anak kita dengan cara sesuai jamannya, namun tetap mempertahankan nilai-nilai yang mencerminkan identitas bangsa kita.

 

error: