Saya bukanlah dokter kesehatan atau ahli epidemiologi, bukan juga ahli virus (virolog), tapi hanya seorang awam yang merasa gundah melihat kekisruhan yang terjadi di tengah wabah COVID-19 yang tengah melanda dunia – termasuk negeri kita tercinta.

Akibat pesatnya kemajuan teknologi, di mana informasi begitu mudah didapat, justru terkadang membuat kita menjadi gamang dan galau atas berita atau artikel yang kita terima. Kepanikan kita terjadi tidak sekedar karena ganasnya virus yang mematikan, tetapi juga kekhawatiran akibat informasi yang saling tumpang tindih dan kadang saling kontradiktif.

Belum lagi, banyak muncul sikap ketidakpercayaan atas kebijakan pemerintah dalam mengatasi wabah virus ini. Virus yang secara tiba-tiba menyerang orang di lingkungan kita, yang kita kenal, juga yang kita sayangi.

Prediksi Penyebaran Virus

Membaca lansiran berita dari berbagai media, kita mengetahui bahwa merebaknya wabah COVID-19 berawal pada tanggal 2 Maret 2020. Pada hari itu ketika Presiden Joko Widodo memberikan maklumat tentang adanya dua kasus warga Indonesia terkena virus corona.

Penderita COVID-19 yang pertama diketahui ini tinggal di Depok, diduga tertular dari warga negara asing Jepang yang terbang dari Malaysia ke Jakarta. Selanjutnya, terungkap bahwa wabah semakin pesat menyebar, terutama di sekitar Ibukota Jakarta.

Dalam artikelnya, Iqbal Elyazar dan koleganya, seorang peneliti dari Eijkman Institute, memprediksi apabila pemerintah tidak melakukan intervensi, penyebaran virus corona yang terus meningkat berdasarkan deret ukur ini, akan menjangkiti hingga 71.000 orang Indonesia pada akhir April 2020.

Wabah COVID-19 akan semakin merebak dengan cepat menjalar ke seluruh pelosok negeri apabila pemerintah Indonesia tidak menerapkan kebijakan dengan tepat. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah, selain belajar dari kasus di beberapa negara yang juga terjangkit virus, juga harus memerhatikan beberapa faktor penting.

Faktor penting tersebut di antaranya ialah kualitas fasilitas kesehatan, faktor luas wilayah dan jumlah penduduk, serta faktor budaya berupa momen atau acara besar yang dapat memicu sebaran wabah semakin luas.

Faktor Kualitas Kesehatan

Dalam hal faktor kualitas kesehatan, yang perlu diperhatikan adalah tentang kualitas tenaga kesehatan, kualitas peralatan, dan juga perlengkapan. Adapun indikator penting yang biasa digunakan untuk melihat seberapa jauh kemampuan pemerintah dalam penanganan pasien terkait dengan wabah penyakit adalah indikator CFR (Case Fatality Rate).

Indikator yang juga disebut sebagai tingkat fatalitas tersebut menghitung persentase jumlah pasien/kasus yang meninggal akibat terjangkit virus dibandingkan dengan jumlah pasien/kasus yang terkonfirmasi terkena virus secara positif. Semakin rendah rasio CFR, menandakan kualitas manajemen kesehatan telah memenuhi standar kesehatan yang baik.

Indikator tersebut seolah menjadi indikator utama dalam penanganan wabah virus COVID-19 karena selalu menjadi fokus bagi masyarakat dan dunia. Setiap hari rasio tingkat fatalitas selalu dimutakhirkan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization). Di Indonesia, rasio tersebut juga dimutakhirkan setiap hari oleh Satuan Tugas COVID-19 Nasional dan diumumkan oleh juru bicaranya.

Faktor Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk

Faktor kedua ini terkait dengan mobilitas atau pergerakan penduduk yang dapat membantu mengidentifikasi sebaran virus. Seperti yang kita ketahui bahwa COVID-19 ini berbeda dengan virus corona pada awal ditemukan. Akibat mutasi genetik, virus ini tidak lagi ditularkan dari binatang kelelawar kepada manusia, melainkan menular antar manusia.

Dengan demikian pemerintah perlu memperhatikan pergerakan penduduk, terutama penduduk yang disinyalir terjangkit virus atau penduduk yang sehat tetapi bertindak sebagai pembawa virus (carrier). Mereka, disebut juga sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG), justru berpotensi menularkan kepada penduduk yang sehat lainnya.

Sedangkan dalam kaitannya dengan mobilitas ini, perlu juga diperhatikan luas wilayah dan jumlah penduduk yang terjangkit virus, serta kemungkinan mereka melakukan pergerakan. Semakin kecil wilayah tersebut maka semakin besar peluang penyebaran virus di antara para penduduk.

Oleh karena itu, dalam dunia epidemiologi, untuk mengamati penyebaran wabah tidak hanya harus diamati dari tingkat kematian fatal atau Case Fatality Rate (CFR). Akan tetapi, kita perlu juga memperhatikan angka kematian kasar yang dikenal dengan istilah Case Mortality Rate (CMR). 

Angka kematiaan kasar ini adalah sebuah indikator yang menghitung persentase penduduk yang meninggal karena terjangkit virus dibandingkan dengan jumlah populasi di wilayah tersebut.

Adanya indikator CMR ini dapat digunakan untuk secara lebih objektif menganalisis mengapa negara Italia atau Spanyol mengalami serangan wabah begitu cepat dan meningkat dengan drastis?

Hal ini disebabkan oleh luas wilayah dan padatnya jumlah penduduk di negara tersebut. Berarti bisa dibayangkan dengan adanya pergerakan atau mobilitas penduduk, terutama yang terjangkit virus – baik itu yang menunjukkan gejala ataupun OTG, akan makin besar peluang menularkan kepada penduduk yang sehat.

Negara Italia dan Spanyol merupakan negara di Eropa yang memiliki tingkat fatalitas cukup  tinggi. Beruntungnya, negara-negara tersebut juga memiliki standar fasilitas kesehatan yang sangat baik sehingga tingkat kesembuhan penduduknya juga cukup tinggi.

Untuk Indonesia, beberapa wilayah yang perlu dikhawatirkan ialah provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Di antaranya provinsi yang berada di Pulau Jawa. Penduduk di pulau tersebut sangat rentan terkena wabah COVID-19, terutama Provinsi DKI Jakarta sebagai provinsi terpadat di Indonesia.

Oleh karena itu berdasarkan data penyebaran wabah, logis jika Provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah episentrum COVID-19 di Indonesia. Selain Provinsi DKI ini, provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa juga memberikan kontribusi terbesar terhadap data wabah secara nasional – baik karena jumlah penduduk yang terkonfirmasi positif menderita virus maupun yang meninggal. Porsinya berkisar hingga 60%.

Faktor Budaya

Salah satu faktor yang juga penting diperhatikan dalam penanganan wabah ini adalah faktor budaya. Dalam budaya, dikenal adanya momen atau acara kegiatan besar yang terjadi di masyarakat. Adanya suatu hari perayaan atau kegiatan besar menimbulkan kerumunan manusia yang saling bersinggungan, yang dapat memicu sebaran virus yang semakin meningkat.

Sebagaimana kita ketahui, China merupakan negeri yang pertama kali mengalami serangan corona. Wabah itupun menular dengan begitu pesat, karena pada saat itu di bulan Januari – Februari sedang terjadi perayaan besar. Banyak masyarakat yang berkumpul untuk merayakan Tahun Baru Masehi dan Hari Raya Tahun Baru China.

Demikian halnya di Indonesia, mengingat penduduk Indonesia sebagian besar beragama Islam, maka bulan April – Mei 2020 diperkirakan menjadi momentum banyaknya pertemuan masyarakat.  Akan terjadi perayaan besar dengan tibanya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idhul Fitri. Akan terjadi pergerakan antarwilayah dan pertemuan-pertemuan.

Pada bulan Ramadhan masyarakat muslim akan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di siang hari. Malam harinya, ibadah sholat tarawih berjamaah diadakan di masjid-masjid atau mushola di seluruh pelosok negeri.

Ketika usai berpuasa di siang hari, maka pada sore hari akan banyak bermunculan pasar-pasar yang menyediakan makanan untuk berbuka puasa. Kerumunan penduduk akan terjadi di sepanjang jalan dalam rangka transaksi makanan di pasar-pasar dadakan tersebut. Dengan demikian akan terjadi pergerakan penduduk yang saling bersentuhan secara besar-besaran pada saat itu.

Demikian pula sebagai puncak acara, pasca sebulan penuh berkegiatan Ramadhan, maka akan diakhiri dengan perayaan Idhul Fitri atau Lebaran. Pada umumnya umat muslim bersama seluruh anggota keluarganya akan berkumpul di lapangan, di banyak tempat, untuk mengadakan Sholat Idhul Fitri Bersama.

Seusai sholat Idhul Fitri tersebut mereka akan berjabat tangan, saling bermaaf-maafan. Dengan demikian, lagi-lagi pergerakan penduduk dan kesengajaan untuk saling bersentuhan satu sama lain terjadi pada saat itu. Mengingat sudah melekatnya tradisi ala Ramadhan dan Idul Fithri ini, rasanya sulit untuk melakukan social disctancing.

Satu hal lagi yang patut diperhatikan, menjelang Hari Raya Idhul Fitri, sesuai tradisi masyarakat akan terjadi eksodus besar-besaran penduduk kota menuju daerah-daerah. Kepulangan ke kampung halaman yang disebut sebagai mudik ini dimotivasi untuk berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara.

Seperti kita ketahui, wilayah kota terutama di Pulau Jawa merupakan daerah episentrum penduduk yang terjangkit atau pembawa virus COVID-19. Dengan adanya mudik dan belajar dari China, bisa dibayangkan betapa mengkhawatirkannya potensi penularan virus corona di Indonesia pada periode April – Mei itu. Sangat bisa tak terkendali dalam hal kecepatan dan jumlah kasusnya.

Epilog

Saat ini, kebijakan pemerintah di Indonesia tampaknya telah memperhatikan ketiga faktor penting tersebut. Hanya saja, indikator yang setiap hari disebut selalu pada masalah angka fatalitas, tanpa menyebut angka kematian kasar yang mempertimbangkan jumlah penduduk dan luasan wilayah.

Bagi penulis, hal itu menimbulkan kekhawatiran karena menambah kepanikan di masyarakat. Semestinya, informasi pun perlu lebih berimbang. Alangkah baiknya jika informasi diimbangi dengan indikator lain yang memperhitungkan luas wilayah dan jumlah penduduk, sehingga masyarakat dapat berlaku tetap waspada dan justru semakin sadar untuk tetap menerapkan physical distancing tanpa merasa panik.

1
0

Kabag Tata Usaha Perwakilan BPKP Provinsi DKI Jakarta. Lebih dikenal dengan panggilan akrab Cakbro. Hobi menulis secara otodidak mengenai permasalahan organisasi tentang SDM, audit, pengawasan, dan korupsi. Pernah menerbitkan buku koleksi pribadi "Artikel ringan Cakbro: Sekitar Tata Kelola Organisasi" dan "Bunga Rampai SPIP".
Email: [email protected] Blogger: Cakbro. Blogspot.com

error: