Sudah Rajin Salat Puasa Haji, tapi Masalah Tak Selesai. Apa yang Salah?

by | Aug 7, 2026 | Motivasi, Refleksi Birokrasi | 0 comments

Saya sering mendapati seorang kawan yang bercerita, meski dengan sedikit malu-malu, bahwa ia telah rutin menjalani syariat beribadah. Salat wajibnya tertata, dipadu dengan salat malam yang terjaga. Puasa sunnah Senin-Kamis dilakoni, zakat dan sedekah tak pernah luput.

Tak hanya itu, umrah dan haji pun dijalani demi satu tujuan: menyelesaikan masalah hidupnya yang sedang ruwet. Entah itu kondisi keluarga yang tidak harmonis, ekonomi yang awut-awutan, situasi kerja yang menekan, atau anak yang sulit diatur.

Ia, sebagaimana saya, sering kali terjebak pada pola pikir “cara beragama orang malas”: berharap permasalahan jasadiyah diselesaikan murni dengan solusi ruhaniah.

Kita patut memahami bahwa rasa lapar tidak akan sirna hanya dengan berdiri di atas sajadah saat salat malam. Esok hari selepas Subuh, kita tetap harus mengangkat cangkul dan menanam agar kelak ada buah yang bisa dimakan untuk mengusir lapar.

Kesalahan pola pikir inilah yang berakibat pada spiritual burnout—atau lebih tepatnya, membuat agama tampak menjadi tidak relevan. Pola pikir dan pola sikap seperti inilah yang menjadikan kaum beragama kerap gagap di dunia modern yang kini didominasi oleh narasi non-agama.

Kita terlalu sering menyalahkan mereka yang bersikap anti-agama, padahal sejatinya kitalah yang gagal menampilkan wajah agama yang rasional dan relevan di tengah masyarakat.

Fondasi Ketuhanan: Murni Sebelum Ritual

Mari kita dudukkan kekeliruan tabiat ini secara perlahan dalam bangunan narasi Islam.

Puncak dari spiritualitas Islam adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Makna pendeknya: tiada sesembahan yang patut disembah selain Allah.

Dalam pengertian yang lebih luas dan substansial, kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada hal lain yang dianggap penting, hakiki, dan bermakna—sehingga patut disembah, diupayakan, dan disungguh-sungguhi—selain Allah SWT. Sebuah entitas esensial dari Keberadaan yang Sejati.

Dalam hukum syariat, pemahaman ini mengejawantah menjadi syahadat: sebuah penyaksian jiwa dan raga bahwa memang hanya Dialah entitas tunggal yang patut dianggap ada. Ke sanalah segala daya, upaya, dan ibadah kita ditujukan. Setelah pemahaman atas Laa ilaaha illallah inilah kita baru sah dan berakar dalam melaksanakan salat, puasa, zakat, hingga haji.

Di sinilah letak problematikanya. Ruhani kita belum benar-benar menghayati Laa ilaaha illallah, tetapi kita sudah “berani” melaksanakan salat, puasa, zakat, dan haji secara mekanis. Efeknya, kita berharap aktivitas ritual itu secara ajaib menjadi pemecah masalah jasadiyah kita: melunasi utang, menyelesaikan konflik pasangan, menyembuhkan penyakit, atau membatalkan pengusiran rumah.

Jelas saja, ritual ibadah tidak diciptakan untuk membuat hukum gravitasi mendadak berhenti esok hari. Logika yang melompat inilah yang akhirnya membuat kita frustrasi, lantaran ritual ibadah kita tak kunjung berujung pada selesainya masalah hidup.

Saya memaklumi mengapa tabiat ini memasyarakat. Pengaruh sebagian pendakwah yang dengan “mudah” melakukan potong kompas—menyarankan penyelesaian utang-piutang cukup dengan memperbanyak salat malam dan istigfar—turut membentuk persepsi ini.

Imbauan tersebut tidak salah, namun sangat tidak lengkap. Implikasinya adalah lahirnya spiritual burnout dan citra agama yang tampil tidak relevan di dunia modern.

Memisahkan Sunnatullah dan Ma’rifatullah

Langkah pertama agar pola pikir kita kembali ke khittah-nya adalah dengan memisahkan domain Sunnatullah (bagaimana cara kerja dunia ini berdasarkan ketentuan Tuhan) dengan domain Spiritual (inti utama bagaimana kita mengenal Tuhan untuk selanjutnya membangun keterhubungan secara terus-menerus).

Kekurangtepatan pola pikir transaksional ini pernah diingatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari dalam kitab legendarisnya, Al-Hikam. Beliau menegaskan bahwa menuntut imbalan atas suatu amal adalah tanda bahwa seseorang belum benar-benar mengenal (ma’rifah) Allah. Redaksi indahnya menyatakan:

“Mencari balasan atas suatu amal adalah bukti bahwa engkau belum tulus (belum ma’rifah) dalam mengabdi kepada-Nya. Cukuplah balasan bagi orang yang taat adalah ridha dan kedekatan dengan-Nya.”

Jika ritual ibadah bukan alat pemecah masalah jasadiyah, lantas di mana letak penyelesaian masalah yang sesungguhnya?

Ketika kita memilih jalan agama (yang mengintegrasikan perkara jasadiyah dan ruhaniyah), kita diimbau untuk tunduk pada kalam hikmah dari Sang Pintu Gerbang Ilmu, Ali bin Abi Thalib RA: “Awwalud-diini ma’rifatullah”awal beragama adalah mengenal Allah.

Semua kewajiban “ritual ruhaniah” diawali dengan pengenalan atas Siapa yang Sejati melalui syahadat. Sebuah penyaksian yang bukan sekadar di bibir, melainkan penyerahan jiwa dan raga. Inilah awal mula semua ritual agam.

Dengan tataran makrifat ini, kita akan melihat secara jernih bahwa:

  • Salat adalah perkara keterhubungan murni dengan Yang Sejati.
  • Puasa adalah penafian atas segala godaan selain Yang Sejati.
  • Zakat adalah pelepasan atas keterikatan materi selain Yang Sejati.
  • Haji adalah puncak ikhtiar perjalanan diri menuju tempat tersuci sebagai representasi kepasrahan kepada Yang Sejati.

Dengan pemahaman ini, tidak mungkin kita “salah sasaran” dengan menjadikan salat, puasa, zakat, dan haji sebagai alat transaksional kepada Tuhan demi memecahkan masalah lahiriah kita.

Mengikis Ego, Menundukkan Jasad

Saat kita benar-benar mengenal Siapa Tuhan Yang Sejati, masalah-masalah duniawi itu tiba-tiba menjadi tidak relevan lagi untuk dipermasalahkan. Kita tidak lagi menuntut hasil, melainkan berserah pada Dialah Sang Pemegang Daya atas timbul dan tenggelamnya setiap ujian.

Sebab, masalah dan kesusahan pada hakikatnya dikirimkan agar manusia tunduk dan menyadari kefakiran dirinya di hadapan Tuhan (QS. Al-An’am: 42).

Namun, mengenal Tuhan mensyaratkan “kematian diri” terlebih dahulu. Sebuah kondisi yang dalam tradisi Jawa disebut mati sajroning urip—mati sebelum mati. Kondisi mati adalah kondisi final dalam meniadakan ego diri, yang setelahnya menyisakan kesadaran murni bahwa hanya Tuhan Yang Sejatilah yang benar-benar ada.

Tuhan tidak bisa ‘didekati’ dengan ego yang masih tebal. Al-Qur’an memberikan petunjuknya melalui kisah Nabi Musa AS dalam Surah Thaha ayat 12, di mana beliau diperintahkan untuk menanggalkan terompahnya saat hendak berhadapan dan bermakrifat dengan Tuhan di Lembah Tuwa. Para ahli esoteris Islam menafsirkan terompah ini sebagai ego nafsu diri.

Lantas, bagaimana kita menyelesaikan masalah sekaligus menata ulang cara beragama kita?

Kita harus menyadari bahwa diri ini terdiri dari dua entitas: ruh dan jasad. Ruh telah ada terlebih dahulu sebelum dilahirkan ke dunia dan menghuni wadah jasad. Keduanya berjalan berdasarkan hukum Tuhan (Sunnatullah) yang algoritmanya telah ditetapkan di Lauh Mahfuzh.

Memahami bahwa dua dimensi ini harus dirawat dengan caranya masing-masing adalah cara paling bijaksana dalam beragama.

  • Jika Anda kelaparan, maka makanlah.
  • Jika Anda memiliki utang, bekerjalah dan bayarlah.
  • Jika Anda ingin membuat karya monumental yang mengangkat martabat kemanian, tekunlah dalam meneliti.
  • Jika Anda sakit pinggang, pergilah ke dokter atau terapis, lalu minumlah obatnya.

Lakukan semua ikhtiar jasadiyah itu untuk menunjang ruhani Anda agar dapat terus mengesakan, terhubung, dan bersyukur kepada Tuhan Yang Sejati. Dan karena kita masih memiliki jasad, ajaklah jasad ini mengagungkan-Nya melalui salat, zakat, puasa, dan haji.

Namun, jangan pernah terkecoh bahwa ritual jasad itu adalah tujuan akhir. Yang terpenting adalah mengenal Siapa Tuhan Yang Sejati di balik ibadah itu sendiri.

Setelah saya merengung cukup lama dan bercermin, ternyata, teman yang saya nasehati itu adalah diri saya sendiri.

0
0
Trian Ferianto ◆ Professional Writer

Trian Ferianto ◆ Professional Writer

Author

Auditor pada salah satu Instansi Pemerintah Pusat. Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Jenderal Soedirman. Pengembang aplikasi monitoring pengawasan MRRP COVID-19. Online and Digital Enthusiast. Penikmat Buku dan Kopi. Suka bersepeda. Professional blogger at PinterIM.com

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post