Siratan Perjalanan Luar Negeri Kepala Negara

by | Jun 6, 2026 | Birokrasi Akuntabel-Transparan, Birokrasi Berdaya | 0 comments

Pembahasan mengenai kunjungan luar negeri presiden RI tengah hangat diperbincangkan. Setidaknya topik ini masih dibicarakan di jagat maya hingga pekan pertama Juni 2026.

Sejumlah masyarakat membandingkan kuantitas kunjungan presiden RI sekarang dengan yang terdahulu. Tentu, dari situ mudah untuk menyimpulkan bahwa pimpinan tertinggi RI saat ini jauh lebih rajin dalam hal ‘kunjungan’.

Namun, hal itu tidak menjadikan presiden saat ini lebih baik atau pun lebih buruk. Benar adanya bahwa tiap presiden memiliki gaya diplomasi masing-masing, sehingga tren kunjungan luar negeri bisa jadi mengalami perubahan signifikan dari satu periode presiden ke presiden selanjutnya.

Akan tetapi, perubahan tren dimaksud ternyata tidak hanya; (1) terjadi di Indonesia dan (2) disebabkan oleh selera presiden semata, melainkan juga sebab logis lain.

Menurut artikel* yang diterbitkan melalui website University of Denver (McKee & Meisel, 2025), sejumlah piminan negara dari beberapa regio menunjukkan perubahan tren kunjungan luar negeri. Dalam artikel ini penulis mencoba membahas kemungkinan sebab yang memantiknya.

*Artikel: We tracked every overseas trip by world leaders since the end of the Cold War – here’s what we found

McKee dan Meisel menekankan dalam tulisannya bahwa analisis yang mereka sampaikan didasarkan pada lokus waktu 1990 s.d. 2024. Mereka berhasil mengumpulkan dan mengolah dataset yang disebut Country and Organization Leader Travel dataset (COLT).

Apa yang terkandung di dalamnya?

Pada prinsipnya, COLT menyediakan dua sudut pandang data. Pertama, jumlah kunjungan pimpinan masing-masing negara (di seluruh dunia) ke luar negeri. Kedua, jumlah kunjungan yang diterima pimpinan masing-masing negara.

Lantas, apa yang mereka dapatkan dari COLT?

Penulis menekankan net visit Amerika Serikat dan Kanada, misalnya. Selama 1990 hingga 2024, Amerika Serikat jauh lebih banyak menerima kunjungan daripada melakukan kunjungan luar negeri.

Menurut penulis, ini menunjukkan adanya ketergantungan banyak negara terhadap negeri ‘Paman Sam’. Bisa diartikan juga bahwa Amerika Serikat tidak benar-benar pernah membutuhkan negara lain. Di sisi lain sang negara tetangga, Kanada, memiliki net kunjungan yang jauh lebih berimbang.

Ibaratnya, Perdana Menteri Kanada melakukan kunjungan sebanyak 50 kali, dan menerima kunjungan yang jumlahnya kurang lebih sama. Ini bisa diartikan bahwa lebih sedikit negara yang bergantung ke Kanada.

Namun, net visit yang berimbang ini tidak berarti Kanada lebih buruk dari Amerika Serikat. Kondisi tersebut juga bisa menunjukkan bahwa diplomasi atau ‘transaksi’ luar negeri yang dilakukan Kanada lebih sehat.

Kanada menunjukkan bahwa suatu negara perlu menjalin hubungan baik dengan negara lain untuk terus berkembang, dan tidak hanya mengedepankan pemikiran, “yang penting kita kuat.”

Selain gambaran Amerika Serikat-Kanada, poin lain yang ditekankan penulis adalah perubahan kuantitas kunjungan kepala negara di sejumlah regio, baik naik maupun turun. Selain itu, tren kunjungan kepala negara mulai mengarah kepada penguatan diplomasi di wilayah regionya sendiri, contohnya di Asia.

Mengutip sajian dari artikel McKee dan Meisel, secara agregat jumlah kunjungan pimpinan negara di Asia mengalami penurunan.

  • Pada rentang 1990-1994, kunjungan mereka mencapai sekitar 25% dari keseluruhan perjalanan para kepala negara di dunia.
  • Sedangkan pada rentang 2020-2024, agregat kunjungan mereka turun di kisaran 17%.

Sejatinya penurunan ini bertolak belakang dengan narasi yang menyatakan bahwa Asia mulai bisa melawan hegemoni barat. Mungkin, lebih tepat jika saat ini dikatakan Tiongkok lah yang mulai bisa melawan hegemoni barat.

Sebab menurut COLT, jumlah kunjungan pimpinan negara asing ke Tiongkok meningkat dari 78 kunjungan pada periode 1990-2000 menjadi 133 kunjungan pada periode 2010-2020. Di sini juga perlu diingat, bahwa angka 133 dimungkinkan jauh lebih tinggi apabila COVID tidak melanda.

Artinya?

Tiongkok betul-betul kian menjadi raksasa, dalam hal ekonomi dan urusan politik lainnya. Semakin banyak negara yang bergantung kepada mereka. Bukan Asia yang bangkit, melainkan Tiongkok. Negara Asia lain mungkin akan menyusul, tetapi sekarang belum saatnya.

Dari sekilas informasi yang ada, rasanya peningkatan jumlah kunjungan presiden merupakan hal yang; lumrah, bisa disebabkan beberapa hal, dan tidak selalu berarti buruk (atau baik).

Bagaimana dengan Indonesia?

Mungkin sebagian orang tidak mengira, tetapi nyatanya jumlah kunjungan yang diterima oleh presiden RI selama kurun 1990 hingga 2024 masih lebih banyak daripada jumlah kunjungan luar negeri yang mereka lakukan.

Bila dipandang dari sudut pandang sederhana seperti Amerika Serikat yang kondisinya serupa, maka bisa dikatakan bahwa masih banyak negara yang ‘bergantung’ kepada Indonesia. Sebaliknya, dipandang dari sudut lain, mungkin diplomasi kita dengan negara luar masih kurang seimbang.

Barangkali, presiden RI saat ini tengah berupaya menyeimbangkan net visit luar negeri Indonesia. Sebelum kita menjustifikasi mutlak apakah perjalanan luar negeri Prabowo baik atau buruk, tidak ada salahnya kita menanti hasilnya.

Siapa tahu, penyampaian salah satu personil DPR yang menyatakan bahwa setiap presiden memiliki strateginya masing-masing adalah benar adanya.

0
0
Raihan Fadhila ◆ Active Writer

Raihan Fadhila ◆ Active Writer

Author

Seorang ASN di Instansi Pemerintah Pusat yang berperan sebagai auditor. Penulis merupakan alumni PKN STAN tahun 2021. Sejak masa sekolah menengah, penulis aktif berpartisipasi dalam kegiatan organisasi dan kepanitiaan mulai dari; menjabat sebagai Ketua OSIS, menjadi LO sejumlah musisi pada acara pensi, dan beberapa kegiatan lainnya.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post