Every lie we tell incurs a debt to the truth (Valery Legasov)

Kualitas seorang pemimpin yang sebenarnya akan tampak ketika mereka menghadapi krisis. Salah satu krisis yang dapat menjadi indikator kualitas kepemimpinan tersebut adalah adanya pandemi Covid-19. Di era pandemik ini, bagaimana kualitas pemimpin di berbagai negara yang sesungguhnya akan terlihat. Keputusan yang mereka buat akan menunjukkan bagaimanakah kualitas mereka, sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah dan menjadi legacy bagi dunia.

Dengan demikian, sebuah refleksi tentang bagaimanakah kualitas kepemimpinan yang ditunjukkan oleh para pemimpin negara-negara di dunia dalam menghadapi Covid-19 itu memang diperlukan. Mari kita ambil sosok-sosok berikut, mulai dari Angela Merkel, Jacinda Ardern, hingga Donald Trump.

Leadership yang mereka tunjukkan dalam menghadapi pandemi ini dapat menjadi referensi bagi generasi mendatang, tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pimpinan negara, ketika krisis yang sama terulang kembali suatu hari nanti.

Leadership is about inspiring people to do things they never thought they could (Steve Jobs).

Nugroho (2017) mengemukakan bahwa terdapat lima dimensi seorang pemimpin yang unggul. Kelima dimensi tersebut antara lain karakter, kredibilitas, memberikan value, keteladanan, dan memberikan harapan. Bagaimana implementasi kelima dimensi kepemimpinan tersebut di dalam memimpin perang melawan pandemi Covid-19? Mari kita bahas satu-persatu.

1) Karakter

Karakter adalah sifat, kepribadian dan sikap yang ada dalam diri seseorang. Para pemimpin negara yang sukses menghadapi krisis akibat pandemi Covid-19 harus merupakan sosok-sosok yang jujur dan memiliki integritas.

Mereka berani melakukan hal yang benar meskipun menghadapi konflik dan tekanan dari pihak lain dengan kepentingan pribadi, yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat umum. Selain itu, mereka harus memiliki sifat percaya diri, humanis, bersedia menerima pendapat pihak lain, dan tidak arogan.

Dalam hal ini, sikap arogan Trump yang sering menyalahkan Tiongkok atau membanding-bandingkan bagaimana pemerintahannya melakukan penanganan Covid-19 dengan bagaimana penanganan Swine Flu oleh pendahulunya, Barack Obama, merupakan contoh karakter yang buruk.

Hal tersebut justru membawa Amerika Serikat ke jurang fragmentasi yang lebih dalam ketika menghadapi pandemi. Padahal, penanganan Covid-19 membutuhkan sebuah masyarakat yang dapat bersatu padu melawan pandemi ini, baik di tingkat negara maupun di tingkat dunia.

Lebih lanjut, pemimpin seperti Trump yang menjabat sebagai POTUS di West Wing dengan kepribadian narsistik, impulsif, merasa paling berkuasa (omnipotent), dan tidak bersedia mendengar masukan bawahannya dan ahli kesehatan yang kompeten akan sangat menghambat penanganan Covid-19 di Negeri Paman Sam. Tidak jarang Trump justru menyerang Gubernur Negara Bagian di Amerika Serikat yang merupakan musuh politiknya di dalam penanganan Covid-19.          

Penanganan Covid-19 yang dipimpin oleh sosok dengan kepribadian seperti Trump menghasilkan kebijakan publik dengan arah yang tidak jelas. Kondisi tersebut membingungkan bawahannya dan dunia internasional. Menurut saya, dari sisi karakter dapat disimpulkan bahwa US Administration dipimpin oleh sosok yang tidak ideal untuk menghadapi pandemik ini.

2) Kredibilitas

Dua unsur utama kredibilitas adalah karakter, sebagaimana telah dijelaskan di atas, dan kompetensi. Kredibilitas seorang pemimpin akan menentukan apakah masyarakat bersedia mempercayai dan mematuhi perintah pemimpinnya atau tidak.

Pemimpin yang kredibel akan mampu memperoleh kepercayaan dari masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena masyarakat mengetahui bahwa pemimpinnya memang bertindak untuk keselamatan dan kepentingan rakyatnya.

Dalam rangka memperoleh kredibilitas di tengah pandemi, seorang pemimpin harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi Covid-19. Kompetensi tersebut harus diwujudkan dalam bentuk penyusunan pedoman yang komprehensif tentang bagaimana cara yang efektif untuk mengatasi pandemi dan dampaknya.

Pedoman yang dimaksud harus disusun dengan melibatkan saran dari ahli kesehatan, ahli ekonomi, dan lain-lain. Dalam hal ini, Merkel merupakan sosok pemimpin negara yang percaya pada para ilmuwan dalam menentukan kebijakan menghadapi Covid-19.

Selain itu, pemimpin negara harus memberikan respons yang cepat dan berani (tidak gamang). Hal ini telah ditunjukkan oleh Ardern yang telah melarang warga Cina masuk ke Selandia Baru sejak Februari 2020.

Keputusan tersebut merupakan keputusan yang berani karena seberapa besar ancaman yang ditimbulkan akibat pandemi ini belum diketahui sepenuhnya pada saat itu. Meskipun demikian, dirinya berani membuat kebijakan tersebut dengan berbagai konsekuensi politik yang akan diterimanya.

Satu hal yang harus dipertimbangkan dalam memperoleh kredibilitas masyarakat adalah tentang bagaimana membangun komunikasi publik dengan jujur dan transparan. Dalam hal ini, pemimpin harus mampu menjadi komunikator yang ulung tentang apa saja tindakan yang harus dilakukan masyarakat dan kebijakan apa yang akan dibuat Pemerintah dalam menghadapi Covid-19 dan apakah alasan di balik tindakan-tindakan tersebut.

Seorang pemimpin negara harus mampu memimpin bawahannya di tingkat pusat dan daerah di tengah krisis untuk menunjukkan kejelasan, keselarasan, dan konsistensi satu sama lain ketika berkomunikasi dengan publik, sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Melalui komunikasi tersebut, masyarakat akan mengetahui bahwa kebijakan yang dibuat pemerintah –seperti lockdown, pembatasan wilayah, isolasi mandiri, pengujian dan tracing, adalah memang ditujukan untuk kebaikan masyarakat meskipun menyakitkan bagi mereka.

Kembali ke Benua Biru, kita mengetahui Merkel pernah mengemukakan opini ke publik bahwa 70% warga Deutschland dapat terpapar Covid-19. Melalui opini tersebut, akan terbangun kesadaran dalam diri masyarakat Jerman bahwa itulah yang dapat terjadi apabila mereka tidak melakukan protokol kesehatan dan tidak mengikuti prosedur pengujian yang diperlukan.

Di sisi lain, kredibilitas seorang pemimpin akan hancur ketika pemimpin tidak melakukan komunikasi publik yang baik, atau bahkan melakukan kebohongan publik dalam rangka memberikan rasa aman palsu (false sense of security) kepada masyarakat.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh Trump yang justru berusaha memberikan informasi mengenai Covid-19 yang tidak benar di awal munculnya pandemi. Ketika itu, Trump berusaha memperkecil ancaman yang ditimbulkan pandemi ini sehingga justru membahayakan rakyat Amerika Serikat. Ironisnya, hal tersebut masih terjadi hingga saat ini.

Pemimpin negara harus mampu meyakinkan warganya bahwa anggaran negara memang digunakan untuk penanganan Covid-19, bukan sebagai ajang korupsi yang akan semakin menggerus kredibilitas pemerintah. Di sinilah pentingnya keberadaan lembaga pengawasan yang efektif.

Lembaga pengawasan harus dapat melakukan audit dan berbagai kegiatan pengawasan untuk memastikan akuntabilitas penggunaan anggaran untuk penanganan Covid-19. Untuk itu, pemimpin negara harus memastikan bahwa lembaga pengawasan internal dan eksternal mampu melaksanakan tugasnya dengan baik di dalam mengawal penggunaan anggaran untuk penanganan Covid-19.

3) Value giving

Pemimpin harus dapat memberikan nilai tertentu yang dapat digunakan masyarakat untuk menghadapi krisis. Di sini, Ardern berhasil menunjukkan sebuah kepemimpinan empatik (empathetic leadership). Kepemimpinan empatik adalah tentang bagaimana memahami kebutuhan masyarakat dan apa yang mereka rasakan.

Sebagaimana kita ketahui, lockdown dan pembatasan wilayah adalah sesuatu yang berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Meskipun demikian, kedua hal tersebut adalah kunci keberhasilan utama dalam penanganan pandemi ini. Oleh karena itu, keberadaan seorang pemimpin yang memiliki empati terhadap keluh kesah masyarakat adalah diperlukan.

Kepemimpinan empatik yang telah dijelaskan di atas akan dapat menciptakan ikatan antara pemimpin dengan mereka yang dipimpin. Melalui kepemimpinan empatik maka masyarakat yang menghadapi lockdown akan merasa diperhatikan oleh pemimpinnya.

Salah satu contohnya adalah bagaimana Ardern sering kali berkomunikasi dengan rakyatnya melalui media sosial secara interaktif untuk mengetahui bagaimanakah perasaan rakyatnya yang menjalani lockdown.

4) Keteladanan

Sebagaimana dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, kepemimpinan adalah tentang memberi contoh, menginspirasi, dan mendorong. Dalam menghadapi krisis, seorang pemimpin negara tidak cukup hanya dengan memberikan kebijakan dan instruksi formal semata kepada masyarakat.

Masyarakat perlu merasa bahwa Pemerintah menganggap mereka sebagai subyek dari sebuah kebijakan publik, bukan hanya sebagai obyek kebijakan publik semata. Khususnya dalam situasi krisis menghadapi pandemi.

Masyarakat membutuhkan pemimpin yang “ada” di tengah-tengah mereka sebagai teladan dan inspirator, baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi informal melalui media sosial, sebagaimana dilakukan oleh Perdana Menteri Selandia Baru, dapat menjadi sarana bagi seorang pemimpin untuk menginspirasi dan mendorong masyarakat melakukan protokol kesehatan secara konsisten.

5) Harapan

Pemimpin harus dapat memberikan harapan kepada rakyatnya di tengah pandemi yang terjadi. Harapan adalah semangat bagi masyarakat agar bersedia menderita saat ini untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Harapan yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang didasarkan pada masukan dari para ilmuwan, bukan asa yang tidak berdasarkan fakta ilmiah.

Kita bisa lihat bagaimana Trump menyarankan ide kepada publik tentang injeksi desinfektan ke dalam tubuh untuk melawan Covid-19. Hal ini berujung pada banyak orang Amerika menjadi keracunan desinfektan, karena mereka berharap dengan menginjeksi desinfektan akan dapat menghilangkan virus dari dalam tubuh.

Sebagai pemimpin di Negeri Kiwi, Ardern berhasil menjadi komunikator yang efektif dan dapat memberikan pesan yang menenangkan (soothing message) kepada rakyatnya. Beliau mengemukakan kalimat berikut di bulan Maret 2020: “please be strong, be kind and unite against Covid-19.”

Kalimat ini adalah sebuah kalimat sederhana namun mengena ke dalam hati sanubari masyarakat. Di sinilah peranan seorang pemimpin, yaitu untuk memberikan harapan kepada masyarakatnya bahwa mereka akan sanggup menghadapi Covid-19.

Epilog

Pandemi Covid-19 telah memberikan informasi kepada umat manusia tentang seperti apakah kualitas kepemimpinan para pemimpin negara di berbagai belahan dunia. Terdapat kepemimpinan yang efektif sebagimana ditunjukkan oleh Ardern dan Merkel, dengan kepemimpinan empatik dan common sense dalam menghadapi Covid-19. Di sisi lain terdapat kepemimpinan yang tidak efektif dalam menghadapi pandemik ini, sebagaimana ditunjukkan oleh Trump dengan berbagai kebohongan dan kebijakan yang impulsif.

Untuk mengetahui kualitas kepemimpinan tersebut, kita dapat melihat pada dimensi karakter, kredibilitas, value apa yang diberikan kepada masyarakat, keteladanan, dan kemampuan memberikan harapan kepada masyarakat atau tidak. Harapannya, kepemimpinan yang ditunjukkan oleh para pemimpin negara-negara tersebut dapat menjadi refleksi dan bahan pembelajaran bagi generasi yang akan datang.

Daftar Pustaka

Asawin Suebsaeng, E. B. (2020, March 12). Trump’s Coronavirus Speech Sparks ‘Total Chaos’ in His Own Administration. https://www.thedailybeast.com/trump-coronavirus-oval-office-speech-on-europe-travel-ban-sparks-total-chaos-in-his-own-administration

Board, T. E. (2020, April 30). In a Crisis, True Leaders Stand Out. https://www.nytimes.com/2020/04/30/opinion/coronavirus-leadership.html

Friedman, U. (2020, June 15). New Zealand’s Prime Minister May Be the Most Effective Leader on the Planet. https://www.theatlantic.com/politics/archive/2020/04/jacinda-ardern-new-zealand-leadership-coronavirus/610237/

Nugroho, Riant. (2017). Public Policy. Jakarta: Elex Media Komputindo.

0
0

Auditor pada Inspektorat Kabupaten Sleman. Kecintaannya pada menulis diwujudkannya dengan menulis buku-buku yang sudah banyak dia terbitkan.

error: