Pakta Pertahanan Mekah dan Beragam Ketegangan di Baliknya

by | Sep 6, 2026 | Politik | 0 comments

Ketegangan politik dan militer di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ditandai dengan maju-mundurnya itikad dan realisasi damai para pihak yang bertikai.

Amerika bahkan menggunakan cara membabi buta dengan memakai cara blokade terhadap Iran tanpa batas waktu yang ditentukan, ancaman sanksi yang dinamai D-Day Economy (kiamat ekonomi), hingga lontaran wacana yang mendaku Selat Hormuz sebagai teritori Amerika.

Gertakan atau bukan, tindakan ini mencerminkan langkah sewenang-wenang Amerika yang tidak menghormati batas kedaulatan negara lain. 

Di lain pihak, Iran berupaya mempertahankan diri dari gempuran Amerika dengan bersikukuh pada prinsip tidak mau tunduk pada kemauan Amerika. Lebih dari itu, Iran bahkan melebarkan pengaruh militernya dengan menguatkan milisi pro Iran di Irak dan Suriah, diplomasi halus ke Oman, dan wilayah lain.

Langkah ini dimengerti sebagai upaya menguatkan pengaruh dan tekanan militer langsung ke Arab Saudi dan Israel dan berpotensi menyeret keterlibatan negara teluk lainnya ke dalam konflik militer. 

Sementara itu, Turkiye tengah memainkan peran barunya dengan mengumumkan langkah tegas kepada Israel. Selepas menandatangani Pakta Pertahanan Mekah bersama Arab Saudi dan Pakistan (7/8/2026), Turkiye berupaya mendorong terbitnya Red Notice oleh Interpol bagi Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.

Turkiye mendasarkan upaya tersebut pada tuduhan ke Israel di bawah pemerintahan Netanyahu yang menormalisasi genosida atas rakyat Palestina, termasuk serangan terhadap kapal relawan Global Freedom Flotilla yang berlayar untuk mengirimkan bantuan ke Gaza.

Red Notice ini tidak bisa dilihat sebagai gertakan semata karena Turkiye telah menjadi bagian Pakta Pertahanan Mekah dan fakta bahwa Amerika telah menggunakan berbagai cara agar normalisasi hubungan Israel-Arab Saudi terwujud dengan berkali menekankan realisasi Abraham Accord bagi keduanya.

Amerika tahu, Arab Saudi, dengan segala pro-kontranya, adalah episentrum Islam di dunia dan merebut pengaruhnya dalam normalisasi hubungan dengan Israel akan menjadi keuntungan besar bagi kampanye mereka sebagai polisi dunia.

Akan halnya Pakistan, Pakta Pertahanan Mekah memberikan kesempatan bagi Islamabad untuk mempererat hubungan dengan Arab Saudi, memperkuat kehadirannya di kawasan Teluk, serta memperluas kerja sama pertahanan tanpa mengabaikan prioritas keamanan utamanya di Asia.

Pakistan juga aktor penting dalam proses dialog dan perdamaian Iran dan Amerika. Dalam relasi internasional, Pakistan, pada keikutsertaannya dalam Pakta Pertahanan Mekah, seperti memainkan peran dan situasi entente dan détente sekaligus. 

Sejarah traumatik

Dari kaca mata ini, Pakta Pertahanan Mekah dapat dipahami sebagai cara cerdas Arab Saudi untuk mengajak kekuatan di luar dirinya dan di luar kawasan Teluk untuk menekan atau paling tidak menjembatani beragam kepentingan yang melingkari.

Pakta Pertahanan Mekah sendiri juga dapat dilihat sebagai upaya Saudi untuk melepaskan diri dari trauma politik yang menghinggapi benak dan cara pandang generasi elite kerajaan Saudi hingga saat ini. 

Sejarawan terkemuka Andrew Scott Cooper dalam buku The Oil Kings: How the U.S., Iran, and Saudi Arabia Changed the Balance of Power in the Middle East (2011), jauh hari telah memprediksi hal ini.

Ia mengingatkan bagaimana kebijakan harga minyak yang didorong kepentingan domestik Amerika ikut menyumbang pada jatuhnya Shah Reza Pahlevi dan lahirnya rezim di Teheran yang jauh lebih memusuhi kepentingan Barat, pada gilirannya menjadi ancaman keamanan bagi  negara tetangganya, Arab Saudi. 

Dalam konteks hubungan ini, Pakta Pertahanan Mekah tidak menjamin kondisi akan membaik dengan hadirnya kesepakatan pertahanan tersebut, sebagaimana harapan kerja sama Arab Saudi-Iran kandas tiga tahun lalu.

Untuk itu semua, Cooper mengingatkan, Amerika-Iran-Arab Saudi pada mulanya adalah sekutu yang saling menguntungkan dan “mengasihi”. Apa boleh dikata, lima dekade kemudian persekutuan itu berubah menjadi konflik militer dan baku bunuh di kedua belah pihak.

Dalam lingkar masalah seperti itu, pilihan keras Amerika pada Iran lewat tekanan militer dan ekonominya patut dilihat lebih lanjut dengan hati-hati. Amerika seperti mengulang cara pandang Henry Kissinger di Timur Tengah yang dianggap gagal oleh Cooper.

Pertanyaan kritis muncul sama seperti dulu saat rezim Shah Reza Pahlevi jatuh, yakni apakah strategi serangan militer dan blokade total benar-benar memperhitungkan konsekuensi jangka panjangnya terhadap sekutu-sekutu regional, atau lagi-lagi berputar di sekitar kalkulasi kepentingan Amerika saja?

Serangan Amerika-Israel terhadap kepemimpinan Iran pada Februari 2026 tampak seperti kemenangan instan. Akan tetapi, sejarah Revolusi Iran pada 1979 memberi pelajaran sangat berharga bahwa jatuhnya rezim tidak lantas secara otomatis melahirkan stabilitas.

Perubahan “seolah-olah” yang diinisiasi dari kekuatan eksternal, di antaranya dengan menghadirkan pemerintahan boneka, dapat melahirkan dinamika revolusioner atau suksesi yang berakibat jauh lebih kompleks dan sulit dikendalikan. Di titik ini, sebagai tetangga terdekat, Saudi termasuk menjadi negara yang paling rentan terhadap efek domino perubahan yang dimaksud.

Dengan menggandeng Turki dan Pakistan, dua negara yang relatif berada di luar “radar” langsung Amerika, Arab Saudi sesungguhnya sedang melakukan eksperimen yang tidak sempat dilakukan pada era 1970-an.

Arab Saudf ingin pada dasarnya berkeinginan membangun jaring pengaman yang independen. Apakah langkah ini akan cukup untuk menghindari pengulangan tragedi yang terekam dalam konstelasi sejarah, waktu yang akan membuktikan. 

Jika ada satu hal yang bisa dipetik dari relasi politik ini adalah berupa peringatan bahwa kawasan ini tidak boleh lupa bagaimana rasanya menjadi instrumen dari kepentingan yang bukan lahir dari diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, ujian sesungguhnya bagi Kesepakatan Mekah tidak terletak pada kekuatan deklarasi yang dikeluarkan di Mekah, melainkan pada kemampuan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan untuk mengubah sikap hati-hati menjadi kredibilitas yang kemudian menjadi daya tangkal, lalu daya tangkal yang memungkinkan terbangunnya stabilitas Kawasan secara ajeg.

Jika ditelisik lebih dalam, apa yang dijalankan Arab Saudi dengan Pakta Pertahanan Mekah dan dinamika Iran ini juga memberi pelajaran lainnya bagi berbagai pihak yang ingin membaca gejolak di Timur Tengah secara jernih di tengah sengkarut yang terjadi, termasuk Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dengan kepentingan yang juga tidak kecil di kawasan ini. 

Pelajaran tersebut adalah bahwa blok aliansi tidak selalu identik dengan kesetiaan jangka panjang. Sebuah negara bisa berperang bersama satu kekuatan hari ini namun secara bersamaan membangun jaring pengaman terhadap kekuatan yang sama untuk skenario esok hari.

Ini tidak bisa dilihat sebagai inkonsistensi komitmen, melainkan tata kelola risiko khas kawasan yang sudah terlalu sering menyaksikan sekutu hari ini menjadi musuh bebuyutan sendiri pada esok hari.

0
0
Saiful Maarif ♣️ Distinguished Writer

Saiful Maarif ♣️ Distinguished Writer

Author

ASN pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Juga seorang analis data dan penulis lepas sejak tahun 1999.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post