
Menjelang hari perayaan Idul Adha di tahun 2026 ini pemandangan berulang tiap tahun di setiap sudut kota jakarta, ada daya tersendiri yang menggugah untuk kita telaah lebih dalam. Ibu-ibu menyuapi anak di pinggir jalan kompleks sambil menunjuk deretan kambing dan sapi di trotoar.
Memang sebuah peristiwa harian biasa, namun sebenarnya ada yang bisa kita coba untuk bedah. Ada kegembiraan sederhana di sana. Namun, beberapa meter darinya, kita mendapati sebuah ironi.
Bau kotoran yang menyengat yang tidak biasa dicium oleh hidung orang kita, saluran air yang tersumbat karena jerami yang terbawa aliran, dan ruang publik yang berubah fungsi menjadi pasar hewan ternak dadakan.
Di tengah kepadatan penduduk Jakarta yang sudah tidak masuk akal ini, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, Apakah cara kita merayakan tradisi ini sudah selaras dengan ruang hidup yang kita huni?
Sepertinya sudah saatnya kita berani menata ulang budaya di sekitar dua hari raya kita. Bukan untuk menyentuh ranah syariat, karena ini merupakan hal yang tidak boleh diganggu gugat, melainkan merapikan praktik budayanya agar lebih kontekstual, efisien, dan adil secara sosial.
Iduladha menjadi pintu masuk tulisan ini karena gejalanya paling kasatmata di ruang kota: hewan kurban, pasar dadakan, bau, limbah, dan distribusi daging. Kebetulan, dalam hitungan hari kita juga sedang menyambut hari raya ini.
Namun, jika ditarik lebih jauh, persoalan yang sama juga muncul pada Idulfitri, meskipun dalam bentuk berbeda: mobilitas mudik, tuntutan kehadiran fisik, dan budaya meminta maaf yang sering kali lebih bersifat seremonial daripada substansial.
Karena itu, pembahasan ini tidak hanya menyasar satu hari raya, melainkan cara kita memaknai dua momen besar tersebut agar tetap membawa maslahat.
Mengapa Dua Hari Raya Kita Begitu Kolosal?
Jika kita menengok ke tanah kelahiran Islam di tanah Arab Saudi, perayaan hari raya cenderung lebih tenang dan privat.
Layar kaca siaran langsung dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menggambarkan bahwa setelah perayaan Idul Adha maupun Idul Fitri, kehidupan berjalan normal kembali tanpa ada kegiatan yang cukup menguras tenaga dan finansial, setidaknya bagi orang Arab.
Lalu, mengapa di Asia Tenggara (khususnya Indonesia), perayaan ini berubah menjadi ledakan mobilitas massa yang kolosal?
Jawabannya ada pada akar masyarakat agraris. Kita memiliki ikatan batin yang sangat kuat pada tanah kelahiran. “Pulang” adalah ritual komunal kembali ke akar, pepatah jawa banyak mengarah ke topik ini.
”Kacang ora ninggal lanjaran” (kacang panjang tidak akan meninggalkan bentuk aslinya, meski sudah dipotong, namanya tetap kacang panjang).
”Mangan ora mangan asal kumpul” (kaya atau miskin, berkumpul dengan keluarga itu penting).
Berbeda dengan akar masyarakat Arab yang secara historis nomaden, bagi mereka, silaturahmi adalah tentang pertemuan garis keturunan yang bisa dilakukan di mana saja, bukan soal koordinat geografi.
Apalagi dengan kemajuan teknologi yang pesat seperti sekarang, bahkan seorang pengembala domba di tengah gurun Arab kini bisa mengakses satelit untuk memberi kabar.
Hal ini membuktikan bahwa silaturahmi tak lagi tersandera jarak geografis, dengan menggunakan starlink, yang dapat memberikan informasi kepada saudara mereka jika ingin mengadakan pertemuan baik virtual maupun fisik.
Di negara kita, hari raya juga telah menjadi instrumen rekonsiliasi sosial melalui budaya seperti sungkeman atau halalbihalal, sebuah akulturasi lokal yang tidak ditemukan dalam teks asli di Arab.
Budaya ini mewajibkan kehadiran fisik, yang akhirnya menciptakan beban logistik nasional yang luar biasa setiap tahunnya, momen 2 hari raya memberikan tekanan yang luar biasa baik secara mikro maupun makro ekonomi.
Tulisan ini tidak sedang ingin menyeragamkan budaya, kita memang tidak harus selalu sama dengan arab. Sebagai agama yang Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam) Islam memiliki kelenturan untuk mengolah beragam warna lokal tanpa menghilangkan jati diri sucinya.
Islam di Nusantara tumbuh dengan menyerap kearifan agraris kita, sehingga muncul tradisi seperti mudik dan halalbihalal yang penuh kehangatan sosial.
Namun, semangat Rahmatan lil ‘Alamin itu pula yang seharusnya menuntun kita untuk selalu bertanya dengan logika yang terang benderang, Apakah budaya yang kita jalankan saat ini masih membawa rahmat bagi lingkungan sekitar, atau justru mulai membawa mudarat karena ketidakteraturan?
Menata ulang budaya hari raya bukanlah upaya untuk “meng-Arab-kan” Indonesia, melainkan upaya untuk memastikan bahwa napas Rahmatan lil ‘Alamin itu tetap terjaga di tengah realitas urban yang kian sesak. Kita merapikan tradisi agar tidak menjadi beban bagi sesama, melainkan tetap menjadi oase keberkahan yang efisien, tepat sasaran, dan menyejukkan.
Idulfitri: Rekonsiliasi di Ruang Sosial
Selama ini, Idulfitri identik dengan mudik. Kita mengejar maaf ke kampung halaman, menempuh ratusan kilometer demi satu jabat tangan. Namun, mari kita boleh bertanya,
Di manakah kita paling banyak berinteraksi, dimanakah kita bersenggolan, di manakah kita banyak menyakiti hati lewat tingkah dan ucapan? dan karenanya, paling berpotensi melukai?
Bagi masyarakat kota, jawabannya bukan di kampung, melainkan di sini, di kantor yang penuh tekanan, di obrolan teman yang menyinggung atau menggunjing, di jalanan yang macet, atau di lingkungan apartemen/klaster yang individualis.
Ada ironi ketika kita pulang jauh untuk meminta maaf kepada mereka yang jarang kita temui, sementara hubungan yang setiap hari kita jalani, yang mungkin justru penuh gesekan, sering kali tak terasa dengan kesungguhan yang sama.
Yang ”berdosa” fisik, meminta maafnya online melalui pesan whatsapp, sedangkan yang ”berdosa” virtual malah dimintakan maaf secara fisik.
Menata ulang budaya ini berarti menyadari bahwa maaf yang paling mendesak dan harus dilakukan dengan benar, adalah untuk mereka yang ruang hidupnya bersinggungan langsung dengan kita di kota.
Iduladha: Menggerakkan Manfaat
Sebaliknya, Iduladha membawa permasalahan distribusi yang mirip, bukan tentang kembali, melainkan memberi.
Di kota, daging adalah barang yang mudah diakses. Namun di pelosok desa, ia masih menjadi kemewahan musiman. Memaksakan kurban menumpuk di trotoar kota hanya menambah beban sanitasi dan limbah urban.
Memindahkan titik kurban ke desa adalah pilihan yang lebih “progresif”. Distribusi lebih tepat sasaran, tekanan lingkungan di kota berkurang, tak ada bau kotoran hewan menyengat, dan manfaat ekonomi langsung mengalir ke peternak di daerah.
Secara sederhana, cukup manfaatnya yang bergerak, bukan bau kotoran dan limbahnya. Inilah bentuk ihsan modern, memastikan pengorbanan kita berdampak maksimal tanpa membebani ekosistem tempat kita tinggal.
Penyesuaian, Bukan Penyimpangan
Penataan praktik ini adalah keniscayaan. Secara agama, tidak ada kewajiban bahwa maaf harus di kampung atau kurban harus di depan teras rumah kota.
Yang ada adalah prinsip, silaturahmi, keikhlasan, dan kemaslahatan. Dan apabila alasannya adalah ingin melihat dan mencicipi hewan kurban yang dikeluarkan, kenapa tradisi mudik dilakukan di Idul Adha.
Barangkali, sudah saatnya kita melihat ulang arah langkah kita.
- Idulfitri tidak harus selalu dimaknai sebagai perjalanan pulang yang jauh, jika ternyata yang lebih dekat justru sangat membutuhkan kehadiran dan maaf kita.
- Iduladha tidak harus selalu dirayakan di pusat keramaian kota, jika ternyata yang di pelosok justru lebih membutuhkan keberkahan.
Ibadah bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tapi tentang di mana dan kepada siapa ia menjadi paling bermakna. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya, berani menata ulang kebiasaan demi kebaikan yang lebih luas.
Namun tentunya, mengubah budaya yang telah mengurat dan mengakar, bahkan telah menguras perhatian pemerintah ini juga tidak mudah, butuh kesadaran kolektif dan kemauan untuk berdialektika tanpa rasa egois.














0 Comments