AI, Data Center, dan Air di Batam: Masalahnya Bukan Sekadar Edit Foto

by | Sep 21, 2026 | Birokrasi Efektif-Efisien, Literasi | 0 comments

immersion-cooling-data-center

Belum lama ini jagat maya dihebohkan dengan tren mengubah foto menjadi foto era 80-an dengan Kecardasan Buatan (AI) hingga akhirnya memicu salah satu komentar warga thread yang viral dengan nama pengguna zyziee_11:

“Stop paka Ai njirr,, Batam udh kekeringan air gara2 editan2 Ai lu itu,, lu bru tau kan mesinnya ada di Batam!! Stop deh,, gua td ga mandi gara2 mati air”

Kemudian muncul pertanyaan: Apakah benar AI bisa menghabiskan air, lalu apa hubungannya AI dengan Air?

Mungkin saat seseorang mengubah foto pada suatu chatbot AI dengan suatu prompt tertentu lalu hanya menunggu beberapa detik saja foto sudah berubah menjadi yang diinginkan. Tampak sangat sederhana dan mudah, namun di balik itu semua ternyata terdapat pusat data atau data center yang berisikan jutaan perangkat sedang bekerja.

Perangkat-perangkat tersebut bekerja sangat keras untuk memproses sebuah foto yang akan diubah, karena pembuatan satu gambar AI rata-rata membutuhkan energi sekitar 60 kali lebih besar dibanding satu permintaan berbasis teks.

Aktivitas inilah yang mengebabkan perangkat menghasilkan panas. Apabila panas perangkat tidak dikelola dengan baik maka perangkat akan mengalami gangguan dan kinerjanya menurun, bahkan dapat merusak perangkat pusat data. Di sinilah air digunakan sebagai bagian dari sistem pendingin pada pusat data.

Air yang digunakan untuk mendinginkan pusat data merupakan air bersih yang berasal dari aliran sungai, air tanah, atau air PDAM yang diproses. Air tersebut pada akhirnya akan dibuang ke aliran sungai atau ke tanah lagi, akan tetapi sebagian akan menguap karena proses pendinginan perangkat.

Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat ada 18 data center yang tengah berproses dengan 9 di antaranya berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP) Batam. Dari 18 pusat data, tidak semua pusat data menggunakan sistem pendingin air.

Ada yang menggunakan sistem pendingin udara maupun kombinasi sistem pendingin air dan udara. Salah satunya pusat data yang menggunakan sistem pendingin air adalah NeutraDC Nxera Batam.

Laporan resmi United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) yang dipublikasikan pada Juni 2026 menyebutkan bahwa:

  • Air yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu gambar AI sekitar dua sendok makan (29 ml),
  • Namun akan menjadi 4,1 liter untuk menghasilkan video yang kompleks, hampir setara dengan kebutuhan air minum satu orang selama dua hari
  • Jejak air pusat data AI bahkan diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter per tahun pada 2030.
  • Namun, belum ada angka pasti yang berlaku universal untuk berapa liter air yang digunakan setiap satu foto AI karena sistem dan pusat data memiliki konsumsi berbeda

Dalam benak seseorang mungkin air yang digunakan hanyalah sedikit, sekitar dua sendok makan saja. Akan tetapi, bagaimana jika yang terjadi ketika satu juta orang membuat atau mengubah foto mereka dalam waktu bersamaan karena mengikuti tren?

Akan dibutuhkan sekitar 29 ribu liter air untuk mendinginkan perangkat di pusat data yang nilainya setara dengan kebutuhan air minum untuk ribuan orang jika konsumsi air minum seseorang 2-3 liter per hari.

Di sisi lain, jika kita bandingkan dengan sektor lain Para ahli menegaskan bahwa konsumsi air data center secara keseluruhan sebenarnya masih jauh lebih kecil dibandingkan sektor pertanian dan industri manufaktur.

Lantas apakah tren foto era 80-an yang menyebabkan masyarakat Indonesia FOMO menjadi penyebab krisis air di Batam akhir-akhir ini? Jawabannya tidak sepenuhnya benar. Krisis air yang terjadi di Batam disebabkan karena musim kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan muka air Waduk Nongsa terus menyusut (baca: ini).

Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat elevasi waduk kini berada di 6,33 meter, atau turun 3,67 meter dari kondisi penuh pada elevasi 10 meter. Sedangkan seharusnya pusat data dibangun di lokasi dengan sumber daya air yang melimpah, karena air merupakan komponen krusial dalam sistem pendinginan.

Mengapa Pusat Data Banyak Dibangun di Batam?

Batam merupakan pulau kecil yang tidak memiliki sungai sebagai sumber air baku seperti wilayah lain di Indonesia. Kota ini hanya mengandalkan bendungan-bendungan yang dibangun melalui modifikasi kawasan muara dan teluk berair asin untuk menampung air hujan.

Lalu mengapa pusat data tetap dibangun di Batam?

Hal ini karena Batam adalah daerah yang paling dekat dengan pusat bisnis dunia yaitu Singapura. Banyak investor asing yang memilih untuk membangun pusat data di Batam, sebab membangun infrastruktur di Singapura tidak memungkinkan.

Selain itu Batam didukung oleh 14 infrastruktur kabel laut yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara sehingga menjadikannya lokasi strategis yang memudahkan pusat data untuk terkoneksi ke jaringan internet.

Lokasi Pusat Data perlu Diperhatikan

Apakah pemerintah daerah mengetahui dan memantau berapa banyak air yang dikonsumsi oleh pusat data di wilayahnya?

Berikut beberapa langkah yang layak dipertimbangkan oleh pemerintah:

  • Mewajibkan pelaporan penggunaan air, sumber air, air yang dikembalikan, dan air yang benar-benar dikonsumsi oleh pusat data secara aktual.
  • Menggunakan indikator efisiensi air seperti Water Usage Effectiveness (WUE) dengan metodologi yang terbuka dan dapat dibandingkan, untuk mengukur seberapa efisien sebuah pusat data dalam menggunakan air yang dikonsumsi oleh perangkat pusat data.
  • Memasukkan risiko stres air dalam proses perizinan, tata ruang, dan analisis dampak lingkungan.
  • Mendorong pemilik pusat data agar membangun instalasi penyulingan air laut mandiri atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai sistem pendinginnya apabila pusat data berada di daerah minim air seperti Batam, sebelum perizinan lokasi pusat data diberikan.
  • Mendorong pemanfaatan air daur ulang.
  • Membuka ruang konsultasi dengan masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.

Risiko Nyata

Krisis air karena AI bukan suatu kepastian yang tak terhindarkan. Namun, risiko tersebut juga bukan sekadar isu. AI membutuhkan pusat data, pusat data membutuhkan air sebagai media pendingin perangkat.

Ketika pertumbuhannya berlangsung cepat dan terkonsentrasi di wilayah yang rentan atau terbatas airnya, maka dampaknya dapat menjadi persoalan publik.

Teknologi yang baik bukan hanya bisa dengan cepat menjawab pertanyaan seseorang, tetapi teknologi yang tidak diam-diam memperbesar masalah dalam kehidupan manusia di kemudian hari.

0
0
Barri Royhanan ♥ Associate Writer

Barri Royhanan ♥ Associate Writer

Author

Pranata komputer ahli pertama pada Biro Organisasi dan Tata Laksana BPK RI.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post