Inspirasi dari Gitanjali Rao

by | Dec 17, 2020 | Sosok | 1 comment

Sumber: republicworld.com

Awal Desember ini, Gitanjali Rao menyedot pemberitaan Amerika dan dunia.

Keterpilihannya sebagai Kid of the Year 2020 versi majalah Times menandai hal baru dari model keterpilihan figur yang diselenggarakan oleh majalah bergengsi ini.

Tahun sebelumnya, aktivis lingkungan Greta Thurnberg  menerima anugerah Person of the Year.

Dengan demikian, dalam dua tahun belakangan Time memberikan apresiasi yang khusus ditujukan pada anak, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. 

Keterpilihan Rao tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Secara teknis, dia mengungguli 5000 ribu anak lain se-Amerika yang lolos seleksi. Portofolionya juga meyakinkan sebagai anak yang sangat berbakat dalam bidang sains dengan kontribusi sosial yang tinggi, terukur, dan diakui.  

Secara konseptual, Time selayaknya ingin mengingatkan bahwa anak adalah aset terbesar untuk masa depan, dan menyiapkan mereka untuk memasuki masa itu merupakan tugas mulia yang harus dikerjakan bersama. 

Tentu saja, penghargaan ini bukanlah pengakuan bahwa hanya semacam Rao dan selevelnya yang paling siap menerima masa depan. Di luar sana, banyak, tak terhitung malah, anak-anak yang juga punya peran dan kontribusi luar biasa pada bidang masing-masing bagi kemanusiaan dan peradaban dunia. 

Penghargaan Kid of the Year tersebut mengingatkan bahwa anak patut menerima dukungan seoptimal mungkin untuk berkembang menuju tantangan di depan. Rao adalah contoh terbaik untuk itu.

Ekosistem dukungan orang tua

Besar di daerah Colorado, Rao tumbuh di bawah asuhan orang tuanya yang memberi dukungan dan kesempatan luas baginya untuk belajar dan beraktivitas di bidang sains. Dukungan orang tua tersebut memberinya kesempatan untuk bergabung dengan kepanduan yang mendukung STEM (science, technology, engineering, mathematics) di Highland Ranch School, hingga mempelajari genetika dan epidemiologi di Massachusetts Institute of Technology (MIT). 

Dukungan dan aktivitas positif Rao mengganjarnya penghargaan sebagai Ilmuwan Muda 3M tahun 2017 atas temuannya dalam bentuk perangkat Tethys. Tethys adalah perangkat untuk mendeteksi kualitas senyawa timbal dalam air menggunakan nano karbon yang terhubung dengan smartphone

Perhatian dan dukungan positif orang tua juga yang mendorongnya menerima penghargaan Kid of the Year dari Time atas sumbangsihnya dalam bidang sains. Rao dinilai mampu menginspirasi anak di Amerika dan seluruh dunia dengan temuannya terhadap status kecanduan manusia atas opioid. 

Opioid dipilih banyak orang, terutama di India, untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri. Padahal, setelahnya orang akan cenderung dibuat tergantung pada jenis obat ini. Dengan temuannya, Rao mengingatkan bahwa penggunaan opioid tanpa kontrol yang ketat dari institusi kesehatan hanya akan merusak struktur kesehatan masyarakat itu sendiri.     

Ekosistem dukungan terhadap anak memang penting untuk diberikan. Dalam salah satu pernyataannya, Rao mengatakan bahwa anak-anak di dunia telah lahir dan berkembang dengan  menanggung kesalahan peradaban yang tidak ikut mereka ciptakan. 

Rao mengatakan hal tersebut dengan merujuk pada betapa riuhnya dunia diisi dengan banjir informasi dan meleburnya batas informasi dan sampah informasi semenjak internet dan media sosial berkembang. 

Orang dewasa, yang sedang memegang peran penting peradaban saat ini, memang menciptakan banyak perkembangan peradaban yang demikian maju. Namun, di balik itu, mereka juga memberikan persoalan-persoalan pelik yang harus ditanggung anak-anak dalam bentuk berbagai sampah peradaban, salah satunya adalah budaya cyberbullying

Pernyataan Rao seperti “menampar” orang-orang yang lahir terlebih dulu dari dia dan seusianya. Meski benar dalam beberapa hal dengan pernyataannya tersebut, Rao lebih memilih untuk membuat karya saintifik dan membantu teman sebayanya dengan membuat aplikasi Kindly. 

Kindly adalah aplikasi berbasis Artificial Intelligence berekstensi perambah Chrome yang mampu mendeteksi cyberbullying pada anak-anak.  Dengan Kindly, Rao mengajak anak-anak sebayanya untuk bersikap bijak dan hati-hati sejak dini terhadap perkembangan teknologi informasi yang kerap bermata dua. 

Rao dan Antitesis VUCA

Saat ini nyaris semua hal diwarnai atau terkait dengan digital. Secara sosial-budaya, era ini setidaknya ditandai dengan realitas untuk menghadapi kondisi VUCA: Vitality (dinamis dan cepat berubah), Uncertainty (sulit diprediksi), Complexity (rumit), dan Ambiguity (membingungkan penuh paradoks). Menghadapi hal seperti ini, dan jika ingin sukses melampauinya, bagi Rao, diperlukan adanya fokus dalam satu hal yang ditekuni. 

Pesan Rao bagi teman-temannya tersebut terasa penting mengingat remaja adalah mereka yang kadang masih sangat ingin “menguasai” semuanya. Dengan keinginan dan semangat seperti ini, bisa jadi justru bukan semuanya yang bisa dikuasai, melainkan semuanya malah tidak tergapai. Dalam perspektif generation theory, David dan Jonah Stillman (2018) menggambarkan dengan baik kecenderungan seperti ini.   

Dalam perspektif mereka, generasi milenial dan alpha memang cenderung memiliki rasa keingintahuan yang besar dan mudah tertantang dengan perkembangan yang ada. Dalam konteks seperti ini, peran orang tua dan keluarga sangat penting untuk memberi dukungan dan koridor yang tepat bagi perkembangan anak. Rao dan orang tuanya telah memberi contoh yang baik mengenai hal ini. 

Di penghujung tahun, keterpilihan Rao sebagai Kid of the Year bukan hanya merupakan sebuah penghargaan prestisius, tapi juga seperti sebuah puncak dan inti kaleidoskop tentang pentingnya penghargaan terhadap anak. 

Di berbagai belahan dunia lain, dalam setahun ini, anak bukan hanya menjadi salah satu pihak yang paling rentan dalam menghadapi risiko pandemi Covid-19. Lebih dari itu, anak-anak juga masih menghadapi berbagai resiko sulitnya pendidikan, kelaparan, berbagai problem kesehatan dan stunting, korban cyberbullying, human trafficking, bahkan penyintas perang.  

Rao, dengan demikian, adalah sebuah ikon yang semoga dengannya mampu menyalakan api kepedulian bersama untuk tetap berpikir dan memperjuangkan hak anak. Semoga keteladanan Rao ini menjadi contoh yang dapat diteladani oleh lebih banyak anak-anak di dunia, termasuk di Indonesia.

3
0
Saiful Maarif ◆ Professional Writer

Saiful Maarif ◆ Professional Writer

Author

ASN pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Juga seorang analis data dan penulis lepas sejak tahun 1999.

1 Comment

  1. Avatar

    Pokoknya tulisan mas Saiful the best banget 👍👍👍

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Diskusi Kelas Online

Popular Post

error: