Di Balik Cahaya Biru Layar

by | May 5, 2026 | Literasi | 0 comments

Angin malam di kota berembus membawa hawa dingin yang mengigit kulit, menembus celah jendela kedai kopi yang mulai sepi. Di sudut ruangan, seorang pemuda duduk diam. Matanya terpaku pada layar pipih yang memancarkan pendar cahaya kebiruan ke wajahnya.

Jempolnya bergerak ritmis, menyapu layar ke atas, gerakan mekanis yang kita semua kenal tentunya. Di layar itu, dunia sedang merayakan segalanya.

Teman lama baru saja memposting kunci kendaraan pertamanya, rekan kerja mengunggah sertifikat kelulusan pascasarjana dengan predikat cum laude, dan sepasang kekasih membagikan momen lamaran dengan latar belakang monumen yang estetik.

Di dunia nyata, pemuda itu hanya ditemani secangkir kopi yang sudah mendingin. Namun di kepalanya, riuh rendah perayaan orang lain memicu resonansi emosional yang ganjil. Ada sepercik kekaguman, seiris rasa iri, dan pertanyaan yang mengendap bagai ampas kopi.

“Mengapa kita merasa perlu memajang tiap keping keberhasilan di etalase kaca layar sentuh? Dan mengapa, saat melihat pencapaian orang lain, yang tersisa di dada kita adalah rasa tidak cukup?”

Kegelisahan ini adalah potret zaman. Fenomena memamerkan pencapaian, yang dalam leksikon kiwari disebut flexing atau sharing achievement, telah berevolusi menjadi bahasa komunikasi default manusia modern.

Untuk memahami fenomena ini, kita harus menyelam lebih dalam, menguliti lapisan psikologis, sosiokultural, dan arsitektur teknologi yang menjahit perilaku ini menjadi kewajaran baru.

Dahaga Primal di Tengah Kelimpahan Informasi

Cerita tentang mengapa kita memamerkan diri pada dasarnya adalah cerita tentang sejarah evolusi manusia itu sendiri. Jauh sebelum Mark Zuckerberg menulis baris kode pertama untuk Facebook, manusia purba melukiskan keberhasilan perburuan mereka di dinding-dinding gua. Tujuannya untuk proklamasi eksistensi dan kompetensi.

Dalam kerangka psikologi modern, dahaga primal ini dipetakan oleh Abraham Maslow (1943) melalui hierarki kebutuhannya.

Setelah kebutuhan fisik dan rasa aman terpenuhi, manusia memiliki lapar yang tak kasatmata, yakni kebutuhan akan kasih sayang, penerimaan, dan penghargaan (esteem). Di sini media sosial masuk sebagai muara yang menjanjikan pelepas dahaga instan.

Namun, mari kita jujur pada realitas. Kerap apa yang tampak sebagai kepercayaan diri yang membelalak di media sosial adalah kompensasi dari rasa tidak aman (insecurity) yang tersembunyi rapat di dunia nyata.

Seidman (2013) dalam studinya mengenai presentasi diri di platform digital menemukan, bahwa individu dengan self-esteem yang rendah cenderung menggunakan media sosial sebagai ruang aman untuk memproyeksikan “diri ideal” mereka.

Ketika dunia nyata terasa terlalu keras dan pencapaian terasa lambat, maka unggahan tentang keberhasilan kecil yang dibanjiri ucapan selamat dapat menjadi obat penawar sementara bagi luka psikologis.

Ya, kita tidak sedang membagikan pencapaian, melainkan kita sedang berteriak ke dalam jurang digital, lalu bertanya. “Apakah aku terlihat? Apakah aku berharga?” Setiap tanda suka (like) dan komentar adalah gema yang menjawab, bahwa kita ada dan diakui.

Perangkap Cermin Kaca dan Ilusi Kesempurnaan

Jika kebutuhan psikologis adalah bahan bakarnya, maka teori perbandingan sosial adalah mesin yang menggerakkan kecemasan kita.

Pada tahun 1954, Leon Festinger merumuskan Social Comparison Theory yang menyatakan, bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya dengan orang lain (Festinger, 1954).

Di masa lalu, kita hanya membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah atau rekan satu ruang di kantor. Skalanya terbatas.

Hari ini, etalase pembanding itu seluas dunia. Saat kita membuka ponsel, kita tidak melihat kehidupan orang lain yang utuh, kita melihat highlight reel sebagai kumpulan momen terbaik, sudut pengambilan gambar paling presisi, dan keberhasilan yang sudah melewati proses kurasi berlapis.

Festinger tidak pernah membayangkan bagaimana teorinya beroperasi dalam skala tak terbatas (Vogel et al., 2014).

Ketegangan muncul ketika audiens mengonsumsi kurasi kesuksesan ini layaknya realitas sehari-hari. Chou dan Edge (2012) dalam penelitiannya menyimpulkan, bahwa pengguna kronis media sosial memiliki kecenderungan kuat untuk meyakini, bahwa “orang lain lebih bahagia dan memiliki kehidupan yang lebih baik daripada diri mereka sendiri”.

Dari sini lahir apa yang kita kenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Unggahan pencapaian seseorang, meski mungkin diunggah dengan niat altruistik untuk memotivasi, dapat memicu rentetan kecemasan pada audiensnya yang merasa terjebak dalam stagnasi hidup.

Arsitektur Tak Kasat Mata dan Sabuk Berjalan Dopamin

Adalah kenaifan jika kita menganggap perilaku berbagi pencapaian ini murni hasil dari kehendak bebas manusia. Ada “tangan tak kasat mata” yang mendesain agar kita terus mengunggah, mengecek, dan bereaksi. Tangan itu ialah arsitektur teknologi persuasif.

Mari kita bedah anatomi notifikasi. Ketika kita mengunggah foto penandatanganan kontrak kerja baru, platform tidak langsung memberikan semua “suka” secara serentak.

Mereka mengeluarkannya secara bertahap, tidak terprediksi. Dalam ilmu psikologi perilaku, ini disebut variable ratio reinforcement schedule, mekanisme yang sama persis dengan yang membuat orang kecanduan mesin slot di kasino (Skinner, 1953).

  • Tiap kali ponsel bergetar dan layar menyala menampilkan apresiasi dari kolega, otak melepaskan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan sistem penghargaan dan motivasi (Meshi et al., 2015).
  • Siklus ini menciptakan lingkaran umpan balik yang adiktif. Kita mengunggah untuk mencari reward, mendapatkan reward, merasa nyaman sejenak, lalu kadar dopamin turun, dan kita membutuhkan pencapaian baru untuk diunggah agar siklusnya kembali berputar.
  • Platform digital merancang ini dengan sengaja. Algoritma mereka dilatih untuk mendeteksi dan mempromosikan konten yang memicu emosi tinggi, termasuk kekaguman, inspirasi, hingga kecemburuan.
  • Unggahan kelulusan yang emosional akan dipompa visibilitasnya ke linimasa lebih banyak orang, karena platform tahu itu akan menahan pengguna lebih lama di dalam aplikasi mereka. Kita, pada akhirnya, bukan hanya pengguna, emosi dan validasi kita adalah komoditas yang diperdagangkan dalam ekonomi perhatian (attention economy).

Panggung Sandiwara dan Manajemen Kesan

Untuk memahami mengapa kita bersusah payah mengatur angle foto, memilih filter yang pas, dan merangkai takarir (caption) yang seolah merendah namun sebenarnya meninggikan pencapaian (humblebragging), kita harus mengundang sosiolog Erving Goffman ke dalam percakapan.

Dalam karyanya, The Presentation of Self in Everyday Life, Goffman (1959) memperkenalkan konsep Impression Management (manajemen kesan). Ia melihat interaksi sosial bagaikan pertunjukan teater.

Ada “panggung depan” tempat kita tampil dengan naskah terbaik, mengenakan topeng yang disesuaikan dengan ekspektasi sosial. Dan ada “panggung belakang” tempat kita melepas topeng, kelelahan, dan penuh dengan kekurangan yang manusiawi.

Media sosial adalah front stage paling masif yang pernah diciptakan peradaban. Ketika orang mengunggah pencapaiannya, ia sedang melakukan kerja kuratorial identitas. Di era di mana jejak digital menjadi layar pertama sebelum wawancara kerja yang sebenarnya, memamerkan kompetensi adalah strategi bertahanan hidup secara profesional.

Personal branding telah menjadi mata uang baru. Unggahan tentang keberhasilan menyelesaikan proyek sulit, sertifikasi keahlian, atau partisipasi dalam konferensi bergengsi adalah sinyal (social signaling) kepada pasar, bahwa kita relevan, kompeten, dan layak mendapatkan peluang.

Dalam konteks pragmatis ini, membagikan pencapaian bergeser fungsinya dari sekadar mencari tepuk tangan menjadi strategi pengumpulan modal sosial (Ellison et al., 2007). Kita mengunggah keberhasilan untuk membuka pintu kolaborasi yang pada gilirannya akan melahirkan pencapaian baru.

Beban Nama Baik di Pundak Individu

Pemandangan ini menjadi semakin kompleks jika kita menariknya ke dalam realitas budaya tempat pemuda di kedai kopi tadi berada. Di masyarakat dengan akar budaya kolektivistik yang kuat seperti Indonesia, keberhasilan individu tidak pernah benar-benar menjadi milik pribadi.

Dalam masyarakat individualis Barat, lulusan cumlaude merayakan pencapaiannya sebagai bukti kerja keras personal. Namun di Asia, pencapaian itu adalah manifestasi dari pengorbanan orang tua, dukungan keluarga besar, dan kebanggaan komunitas komunal (Hofstede, 2001).

Membagikan pencapaian di media sosial, karenanya, memiliki dimensi fungsional lain, yakni sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban moral dan sosial kepada entitas yang lebih besar.

Ada kepuasan tersendiri ketika tetangga kampung halaman atau kerabat jauh melihat unggahan kesuksesan kita. Ini adalah bentuk social proof.

Namun, tekanan budaya ini juga melahirkan paradoks. Tuntutan untuk “berhasil” secara sosial membuat individu rentan terhadap depresi jika gagal memenuhi standar pencapaian yang terus bergerak (moving target).

Di sini budaya humblebragging, pamer berbalut keluhan atau kerendahan hati palsu, tumbuh subur, sebagai cara untuk menavigasi norma budaya yang membenci kesombongan eksplisit, namun diam-diam menuntut bukti kesuksesan.

Merayakan Diri, Menjaga Kewarasan

Apakah ini berarti kita harus berhenti membagikan kebahagiaan dan pencapaian kita di ruang digital? Tentu tidak. Mematikan layar dan mengasingkan diri dari percakapan digital bukanlah solusi yang realistis di abad ke-21, di mana garis batas antara dunia fisik dan maya telah pudar.

Kunci dari penjernihan fenomena ini terletak pada kesadaran dan literasi digital yang kritis. Membagikan pencapaian menjadi toksik, ketika ia digerakkan semata-mata oleh kekosongan batin yang haus validasi eksternal, dan diukur keberhasilannya dari metrik kuantitatif layar sentuh (jumlah jempol dan emoji hati).

Sebaliknya, praktik ini dapat menjadi sangat konstruktif jika dikembalikan pada esensi awalnya, yakni sebagai digital diary, catatan perjalanan hidup, dan upaya tulus untuk menularkan inspirasi. Praktik berbagi pencapaian yang sehat bertumpu pada autentisitas.

Ini berarti memiliki keberanian untuk merayakan titik puncak, sekaligus tidak malu mengakui lembah kegagalan. Narasi kesuksesan yang jujur tidak menyembunyikan keringat, darah, dan air mata di balik panggung. Ia membumi, mengakui keberuntungan dan privilese, serta menyisakan ruang bagi audiens untuk belajar, bukan sekadar merasa inferior.

Selain itu, kesadaran audiens sama pentingnya dengan kesadaran kreator. Sebagai pembaca dan pengamat kehidupan digital, kita dituntut untuk melatih ketahanan psikologis.

Menyadari, bahwa apa yang terpampang di layar adalah representasi yang dikurasi secara ketat dapat membantu meredam alarm insecurity di kepala.

Seperti yang diingatkan oleh penelitian tentang kesejahteraan digital, pengguna yang berinteraksi secara aktif dan bertujuan di media sosial cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik daripada mereka yang hanya melakukan doomscrolling pasif (Burke et al., 2010).

Gema yang Kembali ke Dalam Diri

Pemuda di kedai kopi Bandung itu meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Kopi di cangkirnya telah tandas. Di luar, jalanan mulai lengang, menyisakan suara angin yang menyapu dedaunan.

Pada akhirnya, riuh rendah di media sosial adalah panggung sandiwara tempat kita semua menjadi aktor sekaligus penonton. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk dilihat, diapresiasi, dan dirayakan. Kita, betapapun canggihnya teknologi yang kita genggam, tetaplah makhluk sosial yang rindu akan tautan antarmanusia.

Namun, validasi paling sejati tidak pernah datang dari notifikasi yang menyala di layar kaca. Ia lahir di saat-saat sunyi, ketika tidak ada mata kamera yang merekam dan tidak ada audiens yang menanti update terbaru.

Ia lahir dari kedamaian saat kita mampu menatap pantulan diri kita di cermin nyata dan berkata, “Aku cukup”, tanpa perlu dibuktikan kepada siapa pun di belahan bumi maya.

Media sosial hanya etalase. Dan kita harus senantiasa ingat, sehebat apa pun barang yang dipajang di etalase, kehidupan yang sesungguhnya dengan segala tangis, tawa, kegagalan, dan kehangatannya, selalu terjadi di ruang belakang yang tak pernah terunggah.

0
0
Taufik Hidayat ▲ Active Writer

Taufik Hidayat ▲ Active Writer

Author

Memadukan logika teknik dan wawasan humaniora adalah inti profil profesional saya. Berlatar belakang pendidikan Teknik Elektro (UGM & PENS) serta pengalaman mengajar di pesantren, saya memiliki perspektif unik dalam memandang saintek. Setelah berkarier di sektor industri, kini saya mengabdi sebagai Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama di Dinas ESDM Jawa Barat. Peran ini saya perkaya dengan aktif menulis isu sains dan teknologi melalui kacamata sosial-humaniora, meyakini bahwa kemajuan teknis harus selalu selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post