
Kegagalan negosiasi AS-Iran di Islamabad bukan sekadar kebuntuan diplomatik telah terjadi dan diketahui secara luas. Perundingan gencatan senjata yang dilaksanakan pada Ahad, 12 April 2026, berakhir tanpa kesepakatan yang kemudian memunculkan ketidakpastian terhadap kelanjutan gencatan senjata sementara yang dijadwalkan berakhir pada 22 April.
Kegagalan ini bukan sekadar berita diplomatik biasa. Ini adalah tanda bahaya dan undangan terbuka menuju bencana yang lebih besar. Namun demikian, bagi para pemikir yang sudah lama mempelajari dinamika kekuatan di Timur Tengah, kegagagalan ini bukanlah kejutan.
Jauh sebelum perundingan Islamabad berlangsung, cendekiawan Palestina Edward W. Said sudah memperingatkan dunia tentang bahaya struktural dari negosiasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di satu sisi.
Dalam bukunya Peace and Its Discontents (1996), Said menegaskan bahwa proses perdamaian yang dimediasi atau dimotori Washington pada dasarnya dirancang bukan untuk memberikan keadilan kepada pihak lemah, melainkan untuk memberikan keamanan bagi Israel.
Ia bahkan menulis bahwa “keheningan dan pembunuhan sewenang-wenang atas bahasa yang tampak dalam frasa ‘proses perdamaian’ adalah inti dari proyek Israel dan Amerika.”
Lebih tajam lagi, dalam The Question of Palestine (1979), Said memperlihatkan bagaimana Amerika dan Israel secara sistematis bergerak bersama dalam satu poros kekuasaan.
Ia menulis bahwa rakyat Arab hari ini menghadapi serangan menyeluruh terhadap masa depan mereka oleh sebuah kekuatan imperial, Amerika, yang bertindak bersama Israel. Pandangan Said yang terasa terlalu keras di zamannya kini justru terasa seperti deskripsi akurat atas realitas yang masih dan sedang berlangsung.
Yang paling relevan dengan kebuntuan Islamabad adalah analisis Said tentang negosiasi itu sendiri. Menurutnya, setiap perundingan yang melibatkan Washington berisiko menjadi perangkap bagi pihak yang lemah karena pihak yang lebih kuat selalu hadir bukan untuk berbagi, melainkan untuk mengamankan kepentingannya sendiri.
Said berkeyakinan bahwa tujuan negosiasi perdamaian dalam skema AS-Israel adalah memberikan keamanan bagi Israel, bukan memberikan kedaulatan sejati bagi pihak lain.
Said melihat bahwa AS tidak pernah memperlakukan lawan bicaranya sebagai pihak yang setara, sebuah kegagalan yang bukan hanya soal moral, tetapi kecacatan diplomasi yang menutup kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Hari ini, Iran tengah merasakan betul apa yang Said teorisasikan.
Dua Dunia yang Tak Bertemu
Di permukaan, kegagalan ini tampak seperti masalah teknis, yakni perbedaan posisi soal nuklir dan Selat Hormuz. Namun demikian, bila ditelusuri lebih dalam, ini adalah cerminan dua visi dunia yang betul-betul tidak kompatibel.
- Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Iran tidak mau memberikan komitmen mendasar untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya untuk saat ini atau dua tahun ke depan, tetapi untuk jangka panjang. Ia pun menegaskan bahwa proposal AS dalam perundingan tersebut adalah tawaran final.
- Dari sisi Iran, narasi yang dibangun tidak kalah kerasnya. Sumber yang dekat dengan delegasi Iran menyatakan bahwa Teheran menolak tuntutan Washington yang dinilai berlebihan, dengan menegaskan bahwa AS menuntut segala sesuatu yang tidak berhasil mereka dapatkan selama perang.
Ini persis pola yang diperingatkan Said: pihak yang lebih kuat datang ke meja perundingan dengan daftar tuntutan yang disamarkan sebagai “fleksibilitas” dan “itikad baik,” sementara pihak yang lebih lemah diharapkan menyerahkan apa yang tidak berhasil direbut melalui perang.
Ketika masing-masing pihak sudah datang dengan posisi sekeras batu, meja perundingan bukan lagi ruang kompromi, melainkan panggung sandiwara.
Api yang Tak Kunjung Padam
Yang memperkeruh situasi adalah kenyataan pahit di luar ruang negosiasi. Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon, mengabaikan seruan internasional untuk menahan diri. Bagi Iran, ini bukan hanya soal solidaritas ideologis. Serangan ini menyentuh urat nadi eksistensi jaringan pengaruhnya di kawasan.
Pemerintah Teheran menyoroti kegagalan AS dalam menghentikan agresi militer yang masih berlangsung di Lebanon, dan Iran menuntut penghentian perang secara menyeluruh pada semua lini pertempuran sebagai syarat mutlak bagi keberlanjutan proses diplomasi internasional.
Said pernah berkata bahwa mustahil menuntut pihak Arab untuk bernegosiasi secara serius sementara bom Israel masih berjatuhan. Perang di Lebanon hari ini adalah bukti nyata dari paradoks itu: Iran diminta meneken perjanjian damai dengan AS, sementara sekutu terdekat AS sedang membombardir tetangganya.
Dalam upaya negosiasi ini, Pakistan layak mendapat kredit atas perannya. Islamabad berhasil memposisikan diri sebagai perantara yang kredibel di momen eskalasi akut, dengan memanfaatkan jalur keamanan dan diplomasi kepada AS sekaligus menjaga hubungan dengan Iran.
Ini bukan pekerjaan mudah bagi negara yang sendirinya tengah menghadapi berbagai tekanan internal. Namun begitu, mediator, sebagus apapun niatnya, hanya bisa membuka pintu. Yang harus melewatinya tetaplah pihak yang bersengketa.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menegaskan bahwa komunikasi antara kedua pihak akan tetap berlanjut dan Pakistan akan mempertahankan perannya sebagai mediator. Pernyataan yang terdengar lebih sebagai harapan ketimbang kepastian.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Yang paling mengkhawatirkan adalah nasib gencatan senjata sementara itu sendiri. Konflik ini telah berlangsung lebih dari enam minggu, dimulai sejak 28 Februari akibat serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, dan kegagalan perundingan semakin meningkatkan kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata dua pekan yang baru saja disepakati.
Dengan gencatan senjata yang berakhir pada 22 April dan belum ada tanda-tanda putaran negosiasi lanjutan yang disepakati, kawasan kini tengah berdiri di tepi jurang.
Kondisi ini menunjukkan kuatnya perbedaan posisi setelah konflik 40 hari yang menyebabkan kerusakan besar di Iran, mengguncang kawasan, serta berdampak pada ekonomi global.
Edward Said pernah menulis bahwa negosiasi yang tidak beranjak dari ketidaksetaraan struktural hanya akan menghasilkan perdamaian palsu, yakni sebuah perdamaian yang melayani kepentingan pihak kuat sambil mengunci pihak lemah dalam posisi yang semakin sulit ditinggalkan. Kegagalan Islamabad memperlihatkan kebenaran tesis itu dengan sangat telanjang.
AS datang dengan daftar tuntutan 15 poin yang komprehensif. Iran datang dengan keyakinan bahwa program nuklirnya adalah hak berdaulat yang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada yang datang dengan kesediaan untuk benar-benar berkorban demi perdamaian.
Sementara itu, Lebanon terus terbakar, rakyat sipil terus menjadi korban, dan dunia terus menunggu dua kekuatan besar bersikap dewasa.
Pertanyaannya bukan lagi apakah perang akan kembali meletus, tetapi seberapa lama gencatan senjata ini bisa bertahan sebelum kesabaran kedua belah pihak habis. Jawaban atas pertanyaan itu, sayangnya, tidak ada di meja perundingan Islamabad.
Ia ada di lapangan, di Hormuz dan di tanah Persia yang hari ini belum menunjukkan tanda-tanda yang menenangkan.














0 Comments