Birokrasi sebagai Ekosistem, Mengapa Solusi Individu Selalu Gagal Memperbaiki Sistem

by | Aug 30, 2026 | Birokrasi Melayani, Resensi/Ulasan Buku dan Film | 0 comments

The Wire adalah serial drama yang menceritakan perseteruan abadi antara unit kepolisian dan kartel narkoba yang berlatarkan di Baltimore, Amerika Serikat. Alih-alih menjual drama action yang menegangkan di antara yang baik melawan yang jahat, serial ini akhirnya justru berhasil memvisualkan bagaimana institusi yang sistematis merusak manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Saat musim kedua dimulai, semua penonton dibuat kebingungan karena relasi narasi yang intim yang telah dibangun dengan karakter-karakter di musim pertama menjadi hilang, musim baru pivot untuk memperkenalkan wajah-wajah baru dari nol.

Sang protagonis, seorang polisi yang idealis, dipindah tugaskan dari tugas menangkap pelaku narkoba di jalanan Baltimore ke unit patroli pelabuhan yang sepi. Saat menyelesaikan musim kelimanya, kita baru akan tersadar alasan dibalik struktur cerita tersebut.

Perubahan drastis di setiap musim, yang bergeser dari dinamika kartel jalanan, serikat pekerja pelabuhan, politik di balai kota, disfungsionalitas sistem pendidikan, hingga industri media adalah pilihan-pilihan untuk menjelaskan kompleksitas masalah yang sistemis dari sudut pandang yang makro.

Sang kreator sengaja melakukan ini untuk menegaskan bahwa masalah besar seperti perang narkoba bukanlah sekedar masalah konflik moral. Tokoh-tokoh di dalamnya pada akhirnya hanyalah sekrup kecil yang bergerak mengikuti insentif dan tekanan dari ekosistem yang korup.

All in the game

Logika dari ekosistem The Wire ini akan terasa sangat familiar dengan realitas kantor pemerintahan yang ada di Indonesia. Selama ini jika terdapat keluhan mengenai produktivitas ASN, jeleknya pelayanan publik yang dikeluhkan warga, sampai masalah-masalah yang menjadi stereotipe ASN di Indonesia, refleks kita selalu sama yaitu menunjukkan kesalahan individu.

Kita sibuk mencari oknum pegawai yang salah, lalu dengan menghukum pegawai tersebut, dengan berharap masalah-masalah ini akan otomatis beres. Pendekatan yang instan ini hanyalah ilusi layaknya tambal ban.

Ketika pegawai yang bermasalah tersebut digantikan dengan pegawai yang baru, masalah akan tetap muncul, pegawai baru tersebut dihadapkan dengan realitas ekosistem yang sama, dan lambat laun pegawai tersebut akan bersifat apatis dan memilih sekedar bertahan tanpa mengakibatkan perubahan yang signifikan.

Akar masalah yang terjadi bukan hanya karena manusianya, buktinya perusahaan swasta atau korporasi multinasional menjalankan operasinya di Indonesia tetap memiliki sistem yang lebih efisien, padahal mereka tetap bisa menggunakan talenta-talenta lokal untuk menjalankan operasinya.

Hal ini di bukan dikarenakan karena manusianya lebih hebat, tetapi karena orientasi yang berbeda dari sistem birokrasi kita, dimana terdapat penitikberatan terhadap kerja nyata yang lebih substansial. Masalah pada kantor-kantor pemerintahan terjadi karena kejenuhan terhadap sistem yang terlalu menitikberatkan pada formalitas administratif.

Ada satu hal yang mendasar yang sering dilupakan, yaitu mengenai pemaknaan dari indikator kinerja. Ketika sebuah angka atau ukuran mulai dipatok menjadi sebagai target, ukuran tersebut seketika akan kehilangan fungsinya menjadi alat penilai yang jujur dan efektif.

Di kantor pemerintahan, ASN sering kali menghabiskan waktu bukan untuk memikirkan dampak yang nyata bagi masyarakat, tetapi menghabiskan waktu untuk pemenuhan dokumen demi menggugurkan kewajiban dari peraturan yang telah ada.

Semua komponen terjebak dalam hal-hal yang bersifat estetika seperti sibuk mengisi aplikasi kinerja agar tetap berprediket baik, membuat laporan-laporan dan sibuk memastikan bagaimana semua indikator yang ada tetap hijau diatas kertas. Peraturan-peraturan yang dibuat awalnya untuk menertibkan, berubah fungsi menjadi berhala baru yang membunuh substansi kerja itu sendiri.

Permasalahan mengenai hilangnya substansi ini digambarkan dalam salah satu musim The Wire. Elite-elite politik di balai kota Baltimore menekan pimpinan kepolisian untuk menurunkan angka kriminalitas demi kepentingan pemilu, dan yang terjadi selanjutnya dapat diprediksi, terjadinya manipulasi angka besar-besaran.

Angka kejahatan yang terjadi tidak benar-benar turun, yang terjadi adalah penangkapan pengedar narkoba kelas teri di jalanan untuk pemenuhan target tadi. Akar masalah menjadi tidak tersentuh, bandar tetap aman beroperasi sambil menunggu kesempatan untuk kembali memasifkan operasi mereka.

Target angka tercapai, laporan di balai kota terlihat indah, tetapi masalah narkoba di lapangan tidak pernah benar-benar selesai karena akarnya tidak pernah disentuh. Pola kejar setoran ini demi warna hijau di atas kertas ini sering tampak di Indonesia, apakah atas dasar desakan atasan, alasan politis serta hal-hal lainnya.

Demi target seperti penyerapan anggaran atau jumlah laporan, akhirnya sistem yang telah ada menghargai mereka yang pandai menata formalitas di atas kertas, sedangkan bisa jadi pegawai-pegawai yang berusaha menyentuh akar masalah di lapangan malah tidak kelihatan. Ketika semua ini terjadi, jangan heran jika akhirnya lingkungan kerja terjebak dalam sebuah mediokritas.

Kembali ke serial The Wire, walaupun serial ini tidak semegah Game of Thrones, atau penuh dengan twist seperti Breaking Bad, pada akhirnya serial ini masuk ke zeitgeist kesadaran para penonton yang tidak lekang oleh zaman.

Keberhasilan memotret realitas disfungsionalitas sistem yang ada, membuat banyak orang sepakat ini adalah salah satu serial terbaik sepanjang masa.

Dalam lingkungan birokrasi ASN pun sebenarnya kita tidak butuh gebrakan yang megah atau hanya bentuk perubahan kebijakan dan regulasi sebagai bentuk warisan dalam setiap periodenya, yang acapkali membingungkan semua orang di lapangan.

Yang dibutuhkan adalah keberanian melihat masalah dari hulu ke hilir. Pemimpin harus melihat realitas yang ada di lapangan.

Hanya dengan merombak arsitektur sistem dan perbaikan tata kelola yang komperehensif, kita bisa memastikan orang-orang yang kompeten dalam sebuah birokrasi bisa bekerja dengan optimal. Pada akhirnya, ruang untuk formalitas dan mediokritas bisa ditutup dengan rapat secara perlahan-lahan.

12
0
Ekavr ♥ Associate Writer

Ekavr ♥ Associate Writer

Author

ASDMA yang berminat mendalam pada manajemen organisasi, dan evaluasi kinerja sistemik.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post