Suatu pagi di hari Minggu, seorang pegawai senior di kantor mengirim pesan lewat aplikasi Whatsapp. Ia meminta saya mengerjakan sebuah tugas yang tidak sempat ia kerjakan karena harus berangkat umrah. Saya pertimbangkan mengerjakan tugas itu siang ini, meski hari Minggu.

Siang harinya, usai menyantap dua potong ayam di sebuah mall, saya mulai mengerjakannya. Namun, pikiran saya terganggu oleh sebuah tulisan yang beberapa hari ini selalu menggelitik nurani saya. Daripada saya tidak fokus mengerjakan tugas tersebut, akhirnya saya putuskan menulis artikel ini.

Disiplin, Kinerja, dan Etos Kerja

Saya adalah seorang PNS di salah satu instansi pemerintah. Bagi  seorang PNS kedisiplinan adalah hal yang sangat penting. PNS harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, seperti memakai baju yang rapi dan sopan, serta, yang paling penting, datang ke kantor dan pulang dari kantor tepat waktu. PNS yang terlambat atau pulang sebelum waktunya akan mengalami pemotongan tunjangan kinerja.

Yang menjadi pertanyaan saya, apakah kedisiplinan masuk kantor tersebut sangat berpengaruh dengan tingkat kinerja seseorang? Faktanya, ada PNS yang terlambat, pulang lebih cepat, atau tidak hadir di kantor, tetapi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dapat dikerjakannya dengan baik dan memuaskan. Namun, tunjangan kinerjanya dipotong.

Sebaliknya, ada PNS yang rajin berkantor setiap hari, tidak pernah datang terlambat, pulang tepat waktu, tetapi hasil pekerjaannya tidak memuaskan atau tidak selesai, malah pekerjaannya diselesaikan orang lain. Namun, tunjangan kinerjanya utuh. Adilkah itu?

Mungkin, kehadiran tepat waktu memang penting jika saya bekerja di instansi yang tugas pokoknya melayani masyarakat secara langsung. Akan tetapi, pekerjaan saya tidak mengharuskan saya untuk selalu standby melayani masyarakat di jam yang telah ditentukan. Saya bisa mengerjakan tugas saya sambil tiduran di kamar, atau—seperti saat menulis artikel ini—saya mengerjakannya di sebuah mall.

Memang, tingkat kedisiplinan bisa menjadi salah satu faktor penilaian bagi seorang PNS, yaitu terkait komitmennya dengan waktu. Saya termasuk orang yang sangat disiplin dengan waktu; terutama jika saya mempunyai janji atau ada deadline atas suatu pekerjaan. Saya akan sangat gelisah jika harus menunggu acara atau jika suatu pertemuan tidak dimulai tepat waktu.

Lagi pula, saya tetap santai saja ketika datang terlambat. Bahkan, kadang saya memutuskan untuk bolos atau tidak masuk kerja. Dalam pandangan saya, jika tunjangan kinerja saya memang harus dipotong, ya silahkan saja dipotong. Saya tidak akan mempermasalahkannya.

Mungkin, banyak senior dan atasan mengeluh atas sikap saya tersebut. Mereka beranggapan PNS generasi zaman now sangat cuek dan tidak disiplin. Akan tetapi, apakah hal semacam ini hanya dilakukan oleh generasi zaman now? Apakah generasi zaman old tidak pernah melakukan hal semacam ini?

Saya juga pernah bolos dan saya mengakuinya. Jujur saja, saya tidak hadir karena malas. Saat itu saya katakan ke atasan saya, “Ya, tulis aja saya alpa, Pak. Tidak apa-apa.” Toh, di kantor pun saya tidak memiliki pekerjaan yang harus saya tuntaskan. Pimpinan juga tidak akan mencari saya. Lagi pula, jika memang saat itu saya dibutuhkan, saya siap hadir sesegera mungkin.

Zaman ini bukan seperti zaman old, ketika teknologi tidak begitu canggih. Di zaman now ini, saya bisa dihubungi kapan pun karena handphone saya selalu on 24 jam sehari. Anehnya, sikap saya tersebut dianggap tidak beretika oleh generasi zaman old. Etos kerja saya kemudian diragukan. Bahkan, saya dianggap tidak memiliki etos kerja. Generasi saya dianggap hanya asyik dengan gadget dan berselancar di dunia maya.

Menurut dongeng, generasi zaman old ketika seusia kami memiliki etos kerja sangat tinggi. Mereka sibuk bekerja dan belajar. Mereka tidak seperti generasi kami yang hanya duduk dan asyik dengan dunianya sendiri.

Sayangnya, generasi zaman old tidak menyadari bahwa lingkungan sudah berubah. Wewenang, tugas, dan tanggung jawab instansi tempat saya bekerja bukan lagi seperti zaman old.

Dulunya, tugas dan tanggung jawab instansi saya begitu menggunung, tetapi sekarang sudah berkurang. Karenanya, waktu luang saya semakin banyak dan pola kerja kantor saya juga berubah.

Teknologi juga sudah berkembang dengan sangat pesat. Kini semuanya sudah dipermudah dengan adanya teknologi. Bahkan, kini hampir semua kegiatan dilakukan dengan teknologi. Hal ini tidak seperti zaman old yang semuanya pada waktu itu masih serba manual.

Parahnya, banyak generasi zaman old tidak mau belajar. Kemudian, kewajiban yang menjadi tanggung jawab mereka malah dilimpahkan ke generasi zaman now. Karena kini banyak aktivitas yang dikerjakan dengan teknologi, banyak generasi zaman old yang kesulitan untuk mengoperasikannya.

Akhirnya, generasi zaman now yang mengerjakannya hanya demi menuruti keinginan atasan. Padahal, pekerjaan ini bukan tanggung jawab mereka. Itulah kenyataan yang sering terjadi.

Lantas, layakkah generasi zaman old menilai generasi zaman now tidak mempunyai etos kerja? Jangan-jangan, semua ini terjadi karena generasi zaman old tidak bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Karenanya, siapakah yang lebih punya etos kerja lebih tinggi? Lalu, siapakah yang bertanggung jawab dengan semua ini?

Loyalitas atau Integritas?

Selain etos kerja, generasi zaman old juga sering membanggakan loyalitas. Mereka mengaku telah berkarya di instansi tercinta mereka selama puluhan tahun. Hati dan pikiran saya mulai ‘terkulik’ ketika saya mendengar komentar: “Si ini ngajuin cuti besar, kan mau nyoba cari kerja di luar.”

Ini adalah sebuah komentar yang dikeluarkan oleh salah satu pemimpin generasi zaman old. Tidak cuma sekali saya mendengarnya, tapi beberapa kali!

Kesan saya, seolah-olah tindakan generasi zaman now untuk mencari alternatif pekerjaan lain itu sangat hina sekali. Mereka ini kemudian dianggap tidak loyal terhadap organisasinya.

Namun, apakah loyalitas itu cukup dibuktikan hanya dengan bertahan di sebuah instansi pemerintah sampai usia pensiun menjelang?

Arti loyalitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘kepatuhan, kesetiaan’, sedangkan arti kesetiaan menurut KBBI adalah ‘keteguhan hati; ketaatan (dalam persahabatan, perhambaan, dan sebagainya); kepatuhan’.

Dengan demikian, loyalitas terhadap organisasi adalah kepatuhan dalam mengikuti prinsip organisasi. Salah satu prinsip organisasi itu adalah integritas. Oleh karena itu, loyalitas terhadap organisasi juga mengandung makna penegakan integritas. Loyalitas tidak akan menjadi loyalitas jika tanpa integritas.

Karenanya, ingatan saya menerawang ke beberapa tahun lalu saat idealisme saya diuji dan sedikit demi sedikit mulai bergeser. Waktu itu, anggaran uang perjalanan dinas tim kami cair. Saya kemudian dipercaya sebagai ‘kasir’ tim yang bertugas untuk mengelola uang operasional sampai dengan membagikan hak masing-masing anggota tim.

Salah satu atasan saya kemudian bertanya, “Bendaharanya nggak dikasih?” Dengan cueknya saya bilang, “Nggak, Pak. Itu kan sudah tugas mereka. Lagian, kan udah ada tunjangan khusus bendahara.”

Atasan saya tersebut terhenyak. Ia mungkin terheran-heran mendengar jawaban saya yang begitu ketusnya. Saat itu, kebetulan saya masih tergolong pegawai baru. Idealisme saya sebagai PNS masih sangat tinggi.

Cerita ini kemudian berlanjut ketika tim saya melakukan penugasan audit. Tidak dapat dipungkiri, ada saatnya auditee berusaha memberi kami uang gratifikasi. Beruntung, saat itu ketua tim kami tidak mau menerima uang gratifikasi ini sehingga saya dengan senang hati tidak menerimanya.

Sayang, saat itu ada tim audit lain yang melakukan audit di tempat yang sama. Mereka menerima uang gratifikasi tersebut. Tim tersebut juga menerima titipan uang gratifikasi untuk tim saya. Uang itu sudah terlanjur mereka terima.

Dilema kemudian muncul, yaitu menjadi ‘tidak etis’ jika uang gratifikasi itu dikembalikan, sementara ada tim lain yang menerima. Akhirnya, walaupun hati nurani saya masih ragu, tim kami memutuskan untuk menggunakan uang tersebut untuk membeli barang-barang yang akan kami sumbangkan ke sebuah panti asuhan.

Beruntunglah, setelah kejadian tersebut, saya tidak pernah lagi dipertemukan dengan kasus serupa. Memang, ada juga unit kerja lain yang lebih parah dalam menyikapi kejadian tersebut. Bahkan, mereka memberikan ‘upah’ kepada pihak yang berperan dalam memproses surat tugas dan mencairkan anggaran perjalanan dinas (SPD). Kelazimannya, upah semacam ini adalah untuk mempermulus seluruh proses. Padahal, menjalankan proses ini sudah menjadi tugas pokok mereka.

Meski demikian, harus diakui, tidak semua generasi zaman old melakukan tindakan yang tidak berintegritas. Suatu ketika, saya memiliki kepala kantor yang tidak mau menerima honor dari kegiatan pendampingan reviu laporan keuangan.

Karena nama beliau tercantum di surat tugas, mitra kerja kami memberikan uang honor narasumber kepadanya. Namun, ketika tim kami menyerahkan uang honor tersebut kepadanya, beliau berkata, “Tidak usah. Bagi saja buat tim. Saya kan tidak ngapa-ngapain.”

Detik itu juga saya mengakui bahwa beliau itulah yang akan menjadi panutan saya. Sebagai generasi zaman now, kini saya sangat memahami mana atasan yang memang bisa dijadikan panutan, mana atasan yang tidak. Mestinya, generasi zaman old dapat memahami mana bawahan yang mempunyai potensi dan mana yang tidak.

What Should We Do?

Dalam pandangan saya, ada baiknya generasi zaman old dan generasi zaman now duduk bersama. Mereka mesti menyisihkan waktu untuk mau saling bertukar pikiran dan menempatkan diri bahwa tidak ada senioritas dan batas-batas (gap) di antara kedua generasi.

Kami generasi zaman now akan berlapang dada menerima masukan yang baik dari generasi zaman old. Bagaimanapun, generasi zaman old memiliki pengalaman hidup lebih banyak. Karenanya, kami dapat belajar yang baik dari mereka. Apalagi, mereka seperti orang tua kami yang harus kami hormati dan hargai.

Kami berharap, generasi zaman old bersedia mendengar dan menghargai kami. Jangan lagi ada gap antara generasi zaman old dan generasi zaman now. Jadilah generasi zaman old yang berjiwa generasi zaman now.

Kita tidak akan dapat memberikan pelayanan ke masyarakat dengan baik jika selalu ada gap di antara kita. Marilah kita bersama-sama “berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah”. Marilah kita saling belajar, satu sama yang lain. Marilah belajar bersama-sama untuk membangun negeri ini.

Jadilah generasi zaman old yang menjadi panutan bagi kami untuk menegakkan integritas di negeri ini!

 

 

Poltergeist ♥ Associate Writer

Seorang adventurer dan pecinta novel detektif yang terkenal galak dan judes tapi easy going, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung karena suka makan dan jalan-jalan. Baginya kebahagiaan adalah tujuan hidup tanpa mengabaikan prinsip-prinsip yang dipegang.

error: