Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIT ketika para pegawai di unit saya—yang kebanyakan produk generasi millennia—sudah merapikan berbagai berkas dan mematikan laptop mereka. Sebenarnya, pemandangan ini tidaklah aneh.

Pemandangan ini menjadi aneh ketika ternyata masih ada laporan yang harus mereka kirim ke kantor pusat sore itu, tetapi mereka sudah berbaris rapi mengantre di depan mesin kehadiran biometrik. Mereka sepertinya tidak begitu peduli dengan tenggat waktu laporan yang mesti dikirim ke kantor pusat.

Pada suatu kesempatan, saya pernah bertanya kepada mereka kenapa mereka begitu bersemangatnya antre di depan mesin tersebut tanpa peduli dengan tenggat waktu penyampaian laporan tersebut? Seorang di antara mereka menjawab: “Mau futsal, Pak.” “Mau senam Zumba, Pak,” kata yang lain. Ada juga yang menjawab, “Mau nonton ke Twenty One, Pak.

Jawaban mereka ini mencerminkan identitas para pegawai sektor publik produk generasi millenia. Mereka ini suka duduk berlama-lama di depan komputer laptop sambil ‘berselancar’ di dunia maya dan menikmati game online. Yang menjengkelkan, mereka sering melakukannya pada saat jam kerja.

Pada waktu yang lain, saya juga pernah menemui mereka pada hari libur masih berada di ruang kantor. Lagi-lagi, mereka asyik dengan laptopnya. ”Sedang browsing mencari beasiswa, Pak,” kata mereka ketika saya bertanya apa yang sedang mereka kerjakan.

Yang mengejutkan, pada suatu kesempatan lain, tanpa tedeng aling-aling ada di antara mereka yang mengajukan cuti selama tiga bulan. Alasan yang diajukan oleh pegawai ini adalah cuti tiga bulan akan membuatnya lebih dekat dengan keluarganya. Ternyata, usut punya usut, ia sedang menjajagi bekerja di tempat lain.

Dari segi kreativitas, mereka ini memang keren habis. Sebab, ketika pertama kali bertemu mereka, saya terpesona dengan pentas seni yang mereka tampilkan di suatu acara pisah-sambut.

Pentas seni ini luar biasa meriahnya. Penampilan mereka menunjukkan tingginya nilai seni yang mereka miliki. Saya sempat angkat topi terhadap kreativitas mereka ini.

Etos Kerja Para Millenia

Sebenarnya, tidak bijaksana membandingkan etos kerja mereka dengan para pegawai era tahun 1990-an. Pada era itu, ‘godaan’ teknologi informasi ketika bekerja di kantor tidaklah terlalu banyak.

Jaringan Internet pun belum secepat seperti sekarang ini. Aplikasi yang ada di laptop pun masih terbatas untuk kebutuhan kerja, seperti Wordstar 7 dan Lotus/Excel.

Ketika itu, kami tidak memiliki kesempatan nge-game seperti halnya para pegawai produk generasi millennia ini. Soalnya, saat itu kapasitas harddisk komputer kami hanya sekitar 250 Megabytes.

Karenanya, laptop pun hanya dapat kami gunakan untuk pekerjaan kantor dan sedikit untuk game standalone. Sekarang, laptop sudah sedemikian canggihnya dengan kapasitas harddisk yang besar. Karenanya, para pegawai produk generasi millenia bisa menggunakan laptop untuk bermain game Internet.

Saat bekerja pun para pegawai produk zaman now ini sudah memiliki smartphone dengan beragam aplikasi yang mudah diunduh. Bahkan, beberapa di antara mereka dapat melaksanakan pekerjaan kantor sambil menjalankan bisnis online mereka.

Ketika koneksi jaringan kantor ke Internet sedang lancar-lancarnya, mereka seperti terhipnotis ‘menundukkan’ kepalanya ke laptop dan–seperti Anda maklumi–ber-facebook ria.

Di sisi lain, teknologi informasi sangat mengganggu (distracted) mereka. Mereka ini sering bekerja ‘seadanya’. Bagi mereka, yang terpenting adalah pekerjaan selesai, tanpa peduli kualitasnya. Mereka ini  selalu ‘dihantui’ dunia maya.

Karena hantu dunia maya ini, mereka sangat individualis. Karenanya, mereka tidak mampu bekerja teamwork. Benarlah kata pameo, kecanggihan teknologi informasi saat ini telah membuat mereka semakin jauh dari lingkungan terdekatnya, tetapi mereka semakin dekat dengan lingkungan terjauhnya.

Sebagai contoh, mereka sering bertegur-sapa sambil tersenyum-senyum sendiri dengan teman-teman mereka di dunia maya, tetapi mereka jarang bertegur-sapa dengan teman-teman mereka yang duduk di dekat meja mereka.

Memahami Perbedaan Generasi

Prensky (2001) mengidentifikasi para pegawai produk generasi millenia ini sebagai ‘digital native’. Istilah ini mungkin cukup familiar jika Anda mengenal istilah ‘native speaker’ dalam bahasa Inggris.

Sebagaimana native speaker, yaitu orang-orang yang sangat lincah dan lancar berbahasa Inggris karena mereka lahir di negara yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris, digital native ini sangat lincah dan lancar dalam menggunakan teknologi informasi. Mereka ini seolah-olah dilahirkan dan dibesarkan oleh ‘ibu’ digital.

Sebaliknya, generasi tua sebelum generasi millenia disebut sebagai digital immigrant. Berbeda dengan generasi millenia yang telah menjadikan teknologi informasi sebagai bagian hidup mereka, generasi tua adalah ‘kaum pendatang’ atau ‘imigran’ teknologi informasi. Sebagai kaum pendatang, mereka membutuhkan kerja keras untuk sekedar bisa menggunakan teknologi informasi.

Berbeda dengan generasi tua, generasi millenia terbiasa membaca teks dan mengeditnya langsung di depan layar komputer. Sementara itu, generasi tua lebih terbiasa membaca hard-copy. Mereka ini suka mengedit tulisan di kertas.

Prensky mengatakan bahwa generasi tua sering memandang sinis gaya hidup generasi millenia. Dalam pandangan mereka, kebiasaan generasi millenia bekerja multi-tasking membuat mereka kurang fokus atas apa yang mereka kerjakan. Yang mengerikan, kurang fokusnya generasi millinea ini ternyata menjadi salah satu sebab menurunnya kualitas pendidikan di Amerika Serikat.

Generasi tua masih beranggapan bahwa cara ideal untuk belajar adalah dengan menggunakan metoda yang pernah mereka peroleh di masa lalu. Alhasil, generasi tua ini ngotot memaksakan metode pembelajaran yang mereka gunakan untuk mengajar generasi millenia. Akibatnya, tentu bisa ditebak, pola pengajaran generasi tua dianggap membosankan oleh generasi millenia.

Karenanya, sebagaimana pendapat Prensky, kita perlu memahami karakteristik antar generasi agar tujuan organisasi publik tercapai. Kita perlu memahami bahwa para pegawai produk generasi millenia memiliki karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan para pegawai produk generasi  tua seperti saya ini.

Ertas (2015) juga menyatakan bahwa kegagalan kita memahami para pegawai produk generasi millenia ini dapat memunculkan berbagai permasalahan di lingkungan kerja, seperti rendahnya tingkat kepuasan kerja dan tingkat produktivitas mereka.

Jika kepuasan dan produktivitas ini tidak kita perhatikan, organisasi sektor publik akan menanggung biaya besar. Sebagai contoh, organisasi publik akan mengeluarkan biaya rekrutmen yang besar karena banyak pegawai produk generasi millenia mengundurkan diri di tengah jalan.

Burstein (2013) mengingatkan bahwa  generasi millenia ini memiliki potensi luar biasa. Lihat saja, banyak di antara mereka yang mendirikan YouTube, Facebook, Twitter, Groupon, Foursquere, Instagram, dan Tumblr. Di Indonesia, kita juga melihat di antara mereka yang sukses. Mereka sangat kreatif dan potensial untuk membawa kemajuan.

Karenanya, kita perlu berpikir kembali bagaimana mengelola potensi para pegawai produk generasi millenia ini di organisasi sektor publik. Saratovsky dan Fieldmann (2015) menyarankan empat strategi mengelola mereka.

Pertama, kita mesti memberikan kesempatan kepada mereka untuk memimpin. Karenanya, jenjang karir profesional birokrasi tidak boleh kaku seperti saat ini.  Di lingkungan pemerintahan daerah, politisi juga mesti memerankan mereka.

Kedua, kita mesti menumbuhkan iklim transparansi dalam organisasi. Itulah sebabnya informasi di organisasi publik harus mudah diakses, seperti informasi anggaran, belanja, dan pengeluaran. Kemudian, para pegawai produk generasi millinia ini mesti dikenalkan dengan visi, misi, dan peran organisasi.

Ketiga, kita mesti membangun komunikasi yang efektif dengan baik, secara online maupun offline, yang mampu menguatkan interaksi sosial mereka. Pola komunikasi ini akan memperkuat modal sosial organisasi yang dalam banyak literatur dianggap sebagai faktor dalam meningkatkan kinerja organisasi.

Keempat, kita mesti memberikan kesempatan kepada para pegawai produk generasi millenia ini untuk turut serta dalam memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi organisasi. Keterlibatan ini dapat memunculkan rasa penghargaan dan pengakuan akan potensi mereka.

Epilog

Para pegawai sektor publik produk generasi millenia memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal ini merupakan fakta yang tidak bisa ditolak. Mereka hadir seiring dengan berjalannya waktu.

Kelak mereka ini akan mewarisi apa yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Merekalah yang nantinya akan duduk di jajaran pimpinan organisasi publik di negeri ini.

Yang kita butuhkan saat ini adalah strategi untuk menguatkan potensi mereka agar mereka dapat bermanfaat bagi organisasi publik, bukan memandang mereka dengan nada sinis.***

 

 

Agus Catur Hartanto ♥ Associate Writer

Kepala Bagian Tata Usaha di Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Selatan

error: