Hasrat njajah deso milangkori saya sebenarnya sudah jauh turun dibandingkan dua puluh tahun lalu. Karena itulah terkadang saya merasa cukup berdiam diri di kamar kos di hari Sabtu dan Minggu. Dulu saya suka blusukan tanpa arah. Satu hal yang paling saya sukai dari aktivitas tersebut adalah ketika saya tersesat. Lucu dan tidak terlupakan.

Pertengahan Okteber lalu, tanpa sengaja saya membaca status teman yang ingin datang di Ubud Writer and Reader Festival  (UWRF). Segeralah saya bertanya ke mbah Google. Mata saya langsung berbinar karena acara tersebut diselenggarakan pada saat yang sama dengan penugasan saya ke Denpasar. Sebagaimana kalimat pertama dalam tulisan ini, banyak sekali godaan yang mengendurkan niat tersebut,. Saya pun ragu, ya atau tidak, ya atau tidak.

Keraguan yang Meyakinkan

Ada banyak pertimbangan yang membuat saya ‘maju mundur’. Ubud, lokasinya bukan di kota Denpasar, tapi di Gianyar. Saya cek di aplikasi penyedia layanan transportasi tarifnya mencapai 100 ribuan dari hotel yang saya tinggali. Harga tersebut tentu juga mencerminkan jarak yang lumayan jauh nan ngaluk-aluk.

Di sisi lain, entah bisikan dari mana, ada keyakinan bahwa saya harus ke sana. Sayang dilewatkan, begitu pikir saya. Belum tentu (atau sudah pasti, ya) tahun-tahun ke depan saya bisa mengunjungi karena jaraknya jauh dari Jakarta maupun Makassar. Sementara, ini momennya pas, pas saya ada di Denpasar.

Alasan yang cukup kuat bukan? Ternyata tidak juga, karena langsung dibantah bisikan lain, ah, di Makassar juga sering diselenggarakan “Makassar Writer Festival,” untuk apa ke Ubud.

Pertarungan bisikan itu akhirnya berakhir dengan, “Yo wis lah tak mrono” (Ya sudahlah saya kesana- red). Ubud memiliki karakter daerah yang berbeda dengan Makassar. Jadi, festival yang diselenggarakan di Ubud dan di Makassar tentu berbeda.

Niat itu ternyata masih diuji. Dini hari jelang ke Ubud, sekitar jam 03.30, betis saya terasa kram. Tidak lama, paling sekitar tiga puluh detik, tapi sempat membuat saya meringis kesakitan. Sewaktu saya coba jalan, rasa bekas-bekas kram masih ada. Wah, jangan-jangan ini isyarat supaya saya jangan ke Ubud. Setelah satu jam, rasa sakit itu pun pergi.

Jadilah pagi itu saya mbolang (menyerupai bocah petualang-red) sendiri. Niatnya, mengulang keter-blasuk-blasukan saya sekian tahun silam. Sebenarnya saya ingin naik angkutan umum, seperti bis atau angkutan kota. Sayangnya, moda transportasi ini sudah sulit ditemuan di Bali. Masyarakat lebih suka mengendarai motor untuk bepergian. Selain menghemat, banyak hal menarik yang bisa ditangkap ketika saya memakai bis atau angkutan kota.

Diskusi Lokal Rasa Internasional

Sekitar pukul 10.30 sampailah saya di lokasi. Masih sepi. Hanya beberapa orang berlalu lalang.  Saat itu sedang berlangsung program utama yang mengupas tentang local wisdom. Sekitar dua ratusan orang asyik menyimak paparan aktivis lingkungan tentang bagamana seharusnya mengelola alam.

Sebagaimana prediksi saya, kebanyakan yang hadir adalah ‘orang Inggris’, sebutan bule oleh anak saya saat ia berusia delapan tahun. Dari beberapa yang menyimak acara tersebut, hanya beberapa yang saya dapati berambut hitam seperti saya. Ini lah yang sepertinya membuat Ubud Writer and Reader Festival berbeda dengan yang diselenggarakan di Makassar.

Tentu, ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa orang Indonesia tidak memiliki minat terhadap festival tersebut. Faktor lokasilah yang menurut saya menjadi pengaruh yang cukup signifikan. Andai Festival tersebut di selenggarakan di Denpasar, saya yakin akan banyak orang Indonesia yang mengunjungi. Meski saya belum pernah datang di Writer Festival di Makassar, dari hasil ‘googlingan’ terlihat banyaknya orang Indonesia yang hadir.

Lha Ubud sendiri kan memang penduduk bule-nya banyak. Belum lagi, tidak ada bis atau angkutan umum murah meriah menuju lokasi. Jadi sangatlah wajar kalau yang datang pun kebanyakan orang asing yang tidak asing dengan Ubud. Kebalikan dengan saya, bukan orang asing yang asing dengan Ubud.

Langsung saya mengambil tempat duduk, lalu menyimak diskusi. Dari menit pertama persimakan, saya sudah dibuat bergumam, “Aha, impas sudah mbolang saya.” Para pembicara yang sedang membahas tentang local wisdom ini menyuarakan bagaimana menjaga bahasa lokal, kisah dan pengetahuan, serta memberdayakan komunitas di Indonesia. Pemahaman akan kearifan lokal diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pentignya Pengetahuan Lokal

Dalam banyak hal, masyarakat lokal memiliki pengetahuan untuk untuk mengelola alam dan sekitarnya. Sayangnya, dalam penyusunan kebijakan, pengetahuan-pengetahuan tersebut sering diabaikan. Misalnya, sebelum terjadi gempa di Palu, tanda-tanda alam seperti perubahan perilaku hewan sudah terlihat.

Leluhur memiliki pengetahuan lokal akan hal ini. Mereka juga memahami mana area-area bumi yang dapat dimanfaatkan dan mana yang dilarang. Hal ini disampaikan oleh Rukmini Toheke pendiri Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro yang bergerak dalam upaya untuk mendukung dan menguatkan peran perempuan. Rukmini juga mendorong agar pengetahuan-pengetahuan lokal untuk menjaga bumi tetap terpelihara melalui penddikan kepada generasi-generasi muda.

Pentingnya pengetahuan lokal ini juga terlihat ketika terjadi tsunami di Aceh. Saat itu ada suatu area yang jumlah korbannya sangat sedikit. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah karena masyarakat di daerah tersebut mampu mendengarkan suara alam yang merupakan pengetahuan lokal yang diturunkan antar generasi.

Menariknya, pengetahuan lokal ini justru banyak dimiliki oleh para wanita, para ibu.  Salah satu pembicara saat itu adalah Sanne Van Oort, pendiri Mother Jungle yang mendukung para ibu pada masyarakat adat untuk melestarikan pengetahuan melalui tradisi bercerita sebagai bagian dari budaya dan konservasi lingkungan.

Mother Jungle menawarkan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan baik untuk individu ataupun kelompok untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru guna membangun dunia yang lebih berkesinambungan untuk generasi masa depan.

Menurut Sanne, perempuan adat memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi agen perubahan. Mereka berhasil hidup bertahun-tahun di hutan. Dari merekalah kita dapat belajar bagaimana memanfaatkan hutan tanpa merusaknya.

Kita juga bisa belajar bagaimana mereka mengajarkan pengetahuan-pengetahuan tersebut kepada anak-anaknya secara turun temurun. Sayangnya, dalam banyak hal, tanah mereka diambil dan hak-hak dasar mereka tidak dihormati. Karena itulah, menurut Sanne, Mother Jungle mengambil peran untuk mendorong para perempuan untuk bersuara.

Menarik bukan?

Melestarikan Pengetahuan

Bagi saya yang dua hari sebelumnya baru saja mengikuti FGD tentang knowledge management systems (KMS), duduk bersama dan mendengarkan para aktivis lingkungan ini jelas memperkaya materi yang saya dapatkan. Setidaknya, pertama, saya semakin memahami mengapa kita harus melestarikan knowledge.

Kedua, sosok Sanne Van Oort menjadi menarik karena ia, yang bukan asli Indonesia, begitu termotivasi untuk mengumpulkan knowledge masyarakat adat di Indonesia. Tentu, ini menjadi refleksi tersendiri bahwa terkadang hal-hal semacam ini sering terabaikan.

Ketiga, meng-capture knowledge itu memang tidak mudah, meski juga tidak berarti tidak mungkin. Menggali informasi dari para perempuan adat tentu tidak semudah mencari jawab dari para public figure.

Dalam banyak hal, struktur masyarakat kita belum memberikan kesempatan pada perempuan untuk bersuara. Karena itulah, tantangan yang dihadapi oleh para aktivis ini adalah bagaimana melakukan pendekatan baik kepada para perempuan tersebut agar memeliki keberanian untuk berbicara.

Hal yang sama juga terjadi dalam proses ketika kita ingin meng-capture knowledge dalam suatu organisasi. Berbeda dengan konteks masyarakat adat, anggota organisasi butuh insentif lain agar mau berbagi tacit knowledge-nya untuk organisasi.

Sebagaimana juga knowledge komunitas adat yang bisa hilang jika tidak dilestarikan, knowledge organisasi juga bisa musnah seiring dengan kepergian para anggotanya baik karena pindah, pensiun, atau meninggal.

Epilog

Kembali kepada penjajahan deso milangkori saya, usai diskusi para peserta dipersilakan foto dan chitchat-an atau mengobrol dengan pembicara. Saya tetap duduk di kursi sembari berfikir untuk menanyakan sesuatu kepada pembicara. Kalaupun bertanya, saya pun belum tau apa yang yang mesti saya tanyakan. Di sisi lain, sayang kalau saya melewatkan kesempatan mengobrol dengan pembicara.

Setelah beberapa menit, saya pun maju menghampiri pembicara. Masih ada beberapa orang yang mengantri untuk berbicara dengan mereka. Saya masih belum terfikir secara jelas apa yang akan saya tanyakan. Beberapa menit pun berlalu hingga…aha… saya merasa bahwa saya harus berbicara dengannya, harus!

Tiba giliran, saya  pun memperkenalkan diri pada Sanne. Saya sampaikan bahwa saya adalah government official dan baru saja mengikuti FGD tentang KMS. Saya katakan pula bahwa apa yang dia sampaikan sangat bermanfaat sekali buat saya.

Dia sangat antusias saat saya katakan bahwa saya dari government karena hal-hal seperti apa yang dia sampaikan perlu diketahui oleh pemerintah. Tentu, agar kebijakan yang diambil juga turut mempertimbangkan pengetahuan-pengetahuan lokal masyarakat setempat.

Di akhir pembicaraan, saya tanyakan apakah dia bersedia diundang ke kantor suatu saat. Sure, begitu jawabnya. Yang pasti, tak lupa saya pun berselfie dengannya sebelum kami bertukar nomor handphone.

Begitulah ending kisah blusukan yang menarik dan tidak saya sangka. Hal-hal indah seperti itulah yang selalu saya percayai ketika saya ingin njajah deso milangkori, selalu ada yang baru dan menyegarkan dalam setiap kisah petualangan.***

 

 

0
0

ASN Instansi Pemerintah Pusat yang saat ini sedang menjalani tugas belajar pada Program PhD of Accounting di Victoria University, Melbourne-Australia. Penulis yang satu ini memiliki gaya yang khas pada tulisannya yaitu “bersemangat” dan menginspirasi. Ana termasuk penulis aktif. Salah satu penggagas gerakan Birokrat Menulis

error: