“Suatu hari saya bangun dan memberi alasan pada diri sendiri. Anda bisa kalah, tapi hanya untuk belajar bagaimana menang” -Romelu Lukaku-

Sumber: www.skysports.com

Prolog

Kita harus belajar tentang makna kalah dari Romelu Lukaku untuk kemudian menata diri, sebagaimana pengakuannya tentang rasa bersalah pada La Gazetta Dello Sport (detik.com, 24/9/20). Menurutnya, kalah adalah kalah itu sendiri, bukan ilusi menang, bukan pula menghibur diri dengan merasa menang. Namun, lebih dari itu, kalah bukan untuk ditangisi dan rubuh karenanya.

Lukaku merasakan betul pedih kekalahan dan rasa bersalah saat final Liga Eropa pada penghujung Agustus tahun ini melawan Sevilla. Pertandingan itu sendiri sejatinya menyajikan permainan yang seru dengan jumlah gol yang signifikan: 3-2 untuk kemenangan Sevilla.

Dilangsungkan di Rhein Energie Stadion di Cologne, Jerman, pertandingan masih berimbang 2-2 sampai menit ke-73. Dua gol Inter disarangkan oleh pinalti Lukaku dan sundulan Diego Godin. Sementara, Luuk De Jong membuat brace bagi Sevilla dengan sundulannya.

Petaka untuk Inter terjadi pada menit 74. Tendangan akrobatik Diego Carlos membobol gawang Samir Handanovic setelah sebelumnya mengenai kaki Lukaku. Andai saja bola tidak mengenai Lukaku, rasanya bola akan menuju sisi kiri luar gawang Handanovic, dan hasil akhir bisa saja berbicara lain.

Tentu saja, berandai-andai dan membayangkan bola tidak jadi masuk gawang Handanovic sangatlah mudah. Tapi tidak untuk Lukaku dan Inter Milan. Gol Diego Carlos menyegel kemenangan Sevilla, yang kemudian tentu saja berhak mengangkat trofi Liga Eropa untuk kelima kali sekaligus menegaskan dominasi dan hegemoni mereka di liga antarklub kasta kedua di benua biru ini.

Bagi Inter Milan, kegagalan ini menandai puasa mereka mengangkat trofi semenjak terakhir memiliki Coppa Italia pada musim 2010/2011. Bagi klub sebesar Inter, puasa ini terhitung lama. Tidak mengherankan, persiapan dan ambisi entrenador Antonio Conte dan publik Giuseppe Meazza demikian besar untuk memenangkan piala ini.

Penyesalan Bukan Tanpa Akhir

Sementara itu, kepedihan yang lebih dalam tentu saja dialami Lukaku. Uniknya,  rentang waktu kegagalan mengangkat trofi Liga Eropa yang dialaminya ternyata sama dengan apa yang terjadi pada Inter Milan. Terhitung sudah sekitar 10 tahun Lukaku tidak mengangkat trofi semenjak terakhir melakukannya di Anderlect, klub lamanya di Belgia.

Tapi, pedih secara personal itu tidak lebih besar dari penyesalannya karena merasa sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya gol kekalahan Inter Milan. Pada penyerahan medali juara ke-2, Lukaku menghilang entah ke mana. Pada pengakuannya, Lukaku menyebut tak mampu menanggung beban rasa bersalah itu, hingga ia tidak perlu menampakkan diri pada penyerahan medali.

Seolah tak cukup, Lukaku bukan saja tidak ikut menerima medali, dia bahkan menghilang dari sorotan publik selama 4 (empat) hari setelah final itu dilangsungkan. Jujur, rasanya agak mengherankan melihat kedirian Lukaku dengan pilihan sikapnya yang mellow ini. Tinggi, kekar, dan berperawakan sangar, Lukaku ternyata tak cukup kuat menahan terpaan sedih dan rasa bersalah.

Padahal, Conte selaku manajer tak sepatah katapun menyalahkannya. Conte dan para pemerhati olah raga ini faham, kerap ada kejutan dan kejadian yang tidak terduga dalam permainan sepak bola. Yang tak terduga itu malah kadang menjadi penentu hasil pertandingan. Dan nyatanya, tepat seperti itulah yang menimpa Lukaku cum Internazionale Milan.   

Tapi begitulah, lakon dan drama perasaan yang dialami saat sedih, kecewa, dan merasa bersalah sangat tidak mudah digambarkan. Pada Lukaku, butuh beberapa hari untuk menenangkan diri sampai kemudian dia menyatakan kalimat “suatu hari saya bangun dan memberi alasan pada diri sendiri. Anda bisa kalah, tapi hanya untuk belajar bagaimana menang”. Bagi saya, ini kalimat ajaib banget.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Setidaknya ada dua hal penting dari quote Lukaku tersebut. Pertama, kesediaan untuk menerima dan berdialog dengan diri sendiri. Sedih yang menimpanya, gloomy yang ditanggungnya, selayaknya tidur yang melenakan kesadaran diri. 4 (empat) hari tapa bratanya dari keinginan untuk menyapa dunia diakhiri dengan menasihati diri sendiri dalam sebentuk alasan untuk menerima kenyataan.

Kalah, rasa sakit itu, tidak pada tempatnya untuk diingkari. Menang dan kalah adalah bagian yang menyatu dalam sebuah pertandingan. Menang adalah sesuatu yang diinginkan sesama kontestan, namun sayangnya pertandingan hanya menyediakan satu tempat saja sebagai pemilik kemenangan. Jika kalah, mau tidak mau harus berbesar hati menerimanya.   

Memberi kesadaran akan kekalahan ini, bagi Lukaku, seperti dialog yang menggerakkan ke arah pengembangan diri yang lebih baik.  Sebuah kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, bisik aforisme klasik itu, dan ini mendasari hal penting kedua.

Pada Lukaku, setelah proses penyadaran diri selama 4 harinya, kekalahan harus diterima sebagai sportivitas dan menjadikannya sebagai sarana belajar untuk kemenangan pada pertandingan berikutnya. Dalam makna yang lebih luas, Romelu Lukaku, eks Manchester United itu, barangkali tengah mencoba menafsir bahagia di tengah kenyataan pahit kekalahan atas Sevilla.

Epilog

Boleh saja orang terpukul atas kenyataan pahit yang dihadapi, Lukaku memilih untuk bangkit dari keterpurukan. Romelu Lukaku menunjukkan pada kita perlunya untuk tetap terus tegak dan menghadapi apapun hasil dan risiko jalan kehidupan yang telah ditempuh.

Jikapun harus jatuh, kalah, dan tidak berhasil, adalah hak dan kewajiban personal kita untuk bangkit kembali dan belajar dari pengalaman masa lalu. Pun dengan semua kesulitan di tengah kondisi pandemik seperti saat ini.

Itu semua menunjukkan kenyataan dan realitas pahit yang terjadi dan harus dihadapi. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama agar mampu bangkit dan keluar dari krisis ini. Wallahu a’lam.

***

3
0

ASN pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Juga seorang analis data dan penulis lepas sejak tahun 1999.

error: