Selain kelanjutan pertarungan Luffy melawan Big Mom di Wholecake Island, ada juga desas-desus kabar surat keputusan (baca: eska) mutasi tempat yang membuat jantung saya dag dig dug minggu-minggu ini.

Seperti halnya alur cerita dalam serial One Piece karangan Eiichiro Oda yang tak bisa ditebak, eska mutasi itu pun sama. Keduanya sama-sama mengejutkan. Jika serial One Piece selalu mampu menghibur, eska mutasi malah bisa membuat berlinang-linang air mata.

Padahal, ia hanyalah beberapa lembar kertas dengan bahasa yang kaku. Akan tetapi, ia memiliki kedigdayaan yang dapat membuat haru-biru melebihi drama Korea.

Suka atau tidak suka, mutasi tempat adalah sebuah keniscayaan yang akan dialami dan terus dialami oleh para birokrat. Sebab, wilayah Indonesia yang membentang luas adalah ‘medan perang’ bagi mereka yang mengecap diri sebagai abdi negara.

Karenanya, para birokrat yang dibesarkan dengan cara sipil harus mau menerima perintah mutasi tempat layaknya seorang tentara. Mereka mesti mau melangkah gagah menenteng koper, menempuh perjalanan baru, dan menyambut ketidakpastian dengan tangan terbuka.

Selamat tinggal kampung halaman. Bungkus air matamu di sini. Kampung halaman sudah ada dalam sanubari, tempat kenangan masa kecil dan barisan para mantan bersemayam.

Bagi birokrat yang sudah berkeluarga, pindah lokasi penugasan juga sudah seperti acara bedol desa. Kerepotan demi kerepotan harus mereka jalani dengan dada selapang-lapangnya.

Langkah awalnya, mereka harus menentukan barang apa yang perlu dibawa pindah, mana yang bisa dijual, mana yang harus dihibahkan, dan mana yang harus dibuang ke tempat sampah.

Memilah dan memilih barang ini tentu bukan pekerjaan singkat. Setelah beberapa tahun menetap, seminimalis apa pun tempat yang ditinggali mereka, tetap saja akan menyimpan bergudang barang.

Setelah teridentifikasi mana barang yang dibawa dan mana yang tidak, kini saatnya packing. Pertama, para birokrat harus merapat ke toko kelontong terdekat untuk membeli kardus ukuran raksasa.

Kardus (perusahaan) rokok adalah pilihan ideal. Selain ukurannya besar, kardus tersebut juga berbahan tebal. Jika ada kelonggaran budget, bolehlah mereka membeli ‘kontainer’ dari plastik agar lebih praktis dan ciamik.

Sambil mengepak barang ke dalam kardus yang telah tersedia, kini saatnya birokrat mencari jasa ekspedisi yang murah meriah sambil berburu tiket penerbangan atau kapal laut kelas ekonomi.

Meskipun para birokrat mendapatkan uang pindah dari negara, itu tak lantas bisa dipakai untuk foya-foya. Uang pindah harus dibelanjakan sebijak mungkin supaya ada sedikit tersisa untuk bekal mengontrak di tempat baru.

Segala kerepotan dengan tumpukan benda mati ternyata belum cukup. Jika sang birokrat memiliki buah hati yang sudah sekolah, maka pekerjaan bertambah lagi, yaitu mengurus kepindahan sekolah si buah hati.

Di negara yang segalanya serba administratif ini, mengurus pindah sekolah tentu bukan hal mudah. Perlu izin dan rekomendasi dari banyak pihak, perlu waktu, tenaga, dan biaya tentu saja.

Aneh memang, sekedar beda kabupaten, kota, atau provinsi saja, urusan  pindah sekolah bisa begitu ribet-nya. Padahal, daerah-daerah ini masih sama-sama Indonesia. Ya, mau bagaimana lagi, ribet ndak ribet harus tetap dilakoni. Toh demi masa depan.

Bagi birokrat jomblo, bujang lokal maupun antar kota dalam provinsi, pindah tugas secara teknis tidak terlalu merepotkan. Mereka tak punya pasangan dan anak-anak dengan segala urusan yang maha penting. Barang bawaan juga relatif lebih sedikit, satu dua koper juga sudah cukup.

Hanya saja, bagi jomblowan dan jomblowati yang sedang pedekate, pindah tugas tentu menjadi semacam kiamat kecil.  Perjuangan mereka mendekati ‘target’ selama berbulan-bulan yang telah menguras tabungan dan perasaan, tampaknya akan sia-sisa.

Jarak akan membuat usaha pendekatan semakin berat. Gimana nggak berat. Lha, wong ketemu muka saban hari saja doi belum tentu mau jadian. Apalagi ketemunya cuma via whatsapps atau bigo.

Gebetan yang sudah hampir tergenggam bisa hilang digondol maling. Jika sudah begitu, sang birokrat jomblo kemungkinan besar akan mengalami demam tinggi lantaran pusing beradaptasi di tempat baru, ditambah pusing ditinggal gebetan. Akhirnya puluhan butir paracetamol dan tisu jadi pelariannya.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, ya ndak semua birokrat jomblo setragis itu sih nasibnya. Ada juga beberapa dari mereka yang justru gembira mendapatkan eska mutasi layaknya anak-anak balita menyambut hari raya. Para birokrat jomblo yang bahagia ini kemungkinan ada dua jenis.

Pertama, jenis yang sudah mentok menjalin hubungan. Mereka sudah berusaha mati-matian membuat akun tinder, instal kamera 360, dan susah-susah kredit (sepeda motor) Ninja untuk mengerek penampilan, tetapi masih saja nihil hasilnya.

Mereka hampir putus asa berguru ke Nella Kharisma untuk belajar ajian Jaran Goyang, Semar Mesem, hingga Semar Mendhem. Mereka tak juga mendapat pasangan karena terjebak friedzone, timezone, dan zone-zone yang lain.

Bagi Birokrat jomblo jenis demikian, penempatan di tempat baru agaknya menjadi angin segar. Ya, siapa tahu di tempat baru ini ada manusia “khilaf” yang mau dijadikan pasangan.

Jenis yang kedua ialah para birokrat jomblo yang memiliki jiwa petualang. Mereka ini biasanya pede dengan slogan “My Eska, My Advanture”. Birokrat jomblo jenis ini adalah orang-orang yang berpikiran kelewat positif.

Mereka itu melihat kesulitan berpindah tugas ke tempat baru sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Penempatan di tempat baru ini akan membuat mereka bertemu dengan orang-orang baru dan gebetan baru.

Gebetan yang sudah ‘dikoleksi’ selama ini tentunya tetap mereka jaga, sedangkan di tempat baru itu mereka membuka radar lebar-lebar untuk mendapatkan gebetan tambahan.

Pepatah yang mereka pegang: “Di mana bumi dipijak, disitu benih ditanam.” Tidak salah memang jika mereka mencari gebetan sebanyak mungkin. Ini layaknya portofolio investasi “don’t put all of your eggs in one basket”. Artinya, jangan letakkan seluruh telurmu cintamu pada satu gebetan.

Di tempat lama mereka memiliki gebetan, di tempat baru pun demikian. Ajaran yang mereka pegang: Biarlah nanti waktu yang akan menjawab siapa gebetan yang pantas diboyong ke pelaminan.

Ini memang tampak kejam dan tidak adil. Namun, seperti kata Virus dalam film 3 Idiots besutan Rajkumar Hirani: “Everything is fair in love and war”. Bukan begitu, Mblo?

Terlepas dari status perjombloan dan hepi tidaknya di atas, eska mutasi harus tetap dijalani. Sebab, para birokrat sejak awal telah menyadari bahwa seluruh wilayah NKRI ini adalah sebuah rumah besar yang harus kita rawat dan jaga.

Di mana pun kita berada, di situ rumah kita. Siapa pun yang kita temui di sana, apa pun suku dan agama mereka, mereka semua adalah saudara kita.

Memang, terkadang sulit bertahan dengan penghasilan standar nasional, tetapi kita harus menanggung biaya hidup yang bervariasi di tiap daerah. Belum lagi urusan jarak mudik, asmara, dan kesulitan hidup lain, yang mungkin tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Tsaaah..

Terkadang, mungkin kita berpikir bahwa apa yang kita dapat tak sebanding dengan apa yang kita lakukan. Mungkin, kita berpikir kesusahan hidup di antah berantah sana tidak sepadan dengan penghasilan yang kita terima.

Mungkin semua pikiran itu benar. Mungkin memang benar adanya. Namun, bukankah itu arti dari sebuah pengabdian? Bukankah ketidaksebandingan itulah yang membedakan para birokrat dengan para pekerja biasa? Bukankah mengabdi itu memang berarti kita harus rela memberi lebih banyak daripada menerima?

Lagipula, pindah ke tempat baru, ke tempat jauh nan terpencil di sana tidaklah selalu buruk. Ya, seperti cara pandang birokrat jomblo jenis kedua tadi.

Pindah ke tempat yang terpencil bagi mereka akan memberikan jeda dari tempo kehidupan kota yang cepat. Hari-hari ini adalah di mana kita bisa menikmati berkendara di jalanan sepi tanpa mendengar bunyi klakson dan makian yang memanaskan telinga.

Hari-hari di saat kita bisa menatap bukit gunung hijau sambil menghirup udara segar bebas polusi. Hari-hari tatkala beban kerja tak seberat di kantor pusat. Hari-hari di mana akan ada banyak waktu untuk beribadah, mengecilkan perut, atau menggali bakat terpendam.

Saya akhirnya teringat tulisan Stephen R. Covey dalam The 8th Habit. Menurutnya, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Hal-hal yang terjadi dalam hidup kita mungkin memang berada di luar kemampuan kita, uncontrollabe.

Kita tak bisa menentukan dengan pasti apa yang akan terjadi esok atau hari ini. Akan tetapi, kita memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana menyikapi kejadian tersebut.

Sama halnya dengan eska mutasi tadi, kita mungkin tak mampu menentukan ke mana kita akan pindah, tetapi kita mempunyai pilihan bagaimana menyikapi kepindahan tersebut.

Seberat apa pun, kuatkan hati dan langkah! Anggap saja itu semua adalah pengalaman dan petualangan dalam hidup. Ingat, My Eska, My adventure. Bungkus air matamu!

Ingatlah juga senantiasa akan sumpah jabatan yang telah terucap di hadapan Tuhanmu. Ada tugas yang harus kita laksanakan. Ada bakti yang harus kita tunaikan. Ada orang-orang baru dan mungkin gebetan baru yang menunggu.

Pahitnya eska mutasi jangan sampai melalaikan kita dari rasa syukur. Sebab, bisa jadi kehidupan yang kita keluhkan setiap hari adalah kehidupan yang justru dimimpikan oleh banyak orang.

Begitu kan, Mblo?

***

 

 

Dedy Nurmawan Susilo ♥ Associate Writer

Auditor pada Deputi Bidang Investigasi BPKP yang berusaha mewujudkan Indonesia bersih dan sejahtera.

error: