Ini adalah cerita tentang suasana di suatu negeri. Bukan di sini, tapi.

Dunia saat ini dipenuhi oleh raja-raja dan ratu-ratu yang telah membutakan mata kita dan mencuri mimpi-mimpi kita” -Jerry D. Gray-

Dunia ini dipenuhi oleh kepalsuan. Kebanyakan dari para penguasa sejatinya adalah bandit yang sedang bersandiwara. Para bandit yang bertopengkan ksatria tiada henti mengumbar dusta. Aroma busuk bau anyir darah tercium dari mulut mereka yang menghitam. Perut mereka tak pernah kenyang meski setiap hari menenggak darah. Darah siapa? Tentu saja dari rakyat yang seharusnya dilindunginya, tapi faktanya sebaliknya.

Darah rakyat sudah hampir kering lantaran terlalu lama ditindas. Akan tetapi para penguasa zalim itu, mereka tidak pernah berhenti. Kata-kata manis dan beberapa konspirasi suap-menyuap membuat mereka langgeng berkuasa. Kini mereka duduk di singgasana emas dengan pedang-pedang yang menghunus amat tajam ke bawah tapi terlampau tumpul ke atas.

Tak ada lagi rasa malu apalagi ketakutan akan karma. Bagi mereka ini pesta, harus dinikmati selagi masih bisa. Aji mumpung digunakan di sana sini untuk dapat posisi dan upeti. Raja dan para petinggi negeri lihai bersandiwara, membuat rakyat terlelap dalam ilusi. Hanya sedikit yang berani menggugat, langsung diburu, ditusuk tombak panas lalu disuruh mengaku. Yang terpenting bagi raja dan kroninya hanyalah bagaimana cara mereka bisa berkuasa dan terus berkuasa.

Mati sudah para pendekar yang selama ini gagah berani melawan penindasan. Para pendekar kini tersudut, ruang gerak mereka diberangus, senjata mereka satu per satu dilucuti. Satu-satunya golongan pembela kebenaran ini dihabisi dari luar dan disusupi dari dalam. Cerita-cerita keberanian para pendekar menyeret para pejabat serakah sebentar lagi hanya akan menjadi sejarah.

Kini jangankan masuk dan menyentuh singgasana raja, sekedar mendobrak kandang kerbau saja mereka tidak bisa.

Rakyat bergulat dalam pertarungan yang menyedihkan. Mereka bertarung satu sama lain, saling bunuh hanya untuk sepiring nasi. Sementara di luar sana, di pelosok yang lain lagi di negeri itu, sawah-sawah subur dipanen dan dijual untuk mengisi lumbung raja dan kroninya.

Rakyat berjalan tertatih-tatih, dengan beban hidup dan biaya pajak yang beraneka rupa. Pajak yang tak bijak dikelola, bocor di sana sini. Manfaat dari pajak tak sepenuhnya kembali buat kesejahteraan rakyat, tetapi sebagian masuk ke kantong-kantong oknum kerajaan.

Tak jarang juga dana pajak digunakan untuk menalangi kewajiban perusahaan swasta milik kroni raja. Bahkan ada pula wacana untuk menggunakan uang pajak itu, untuk mengganti uang para pembesar yang raib dikorupsi oleh perusahaan asuransi. Rakyat tak bisa apa-apa, hanya bisa melihat saja. Tangis darah mengucur deras.

Dewa melihat negeri ini dengan menahan air mata. Ia tahu betapa keras rakyat bertarung demi hidupnya, sedang di sisi lain ia menyaksikan kerakusan raja dan para petinggi tiada habisnya. Hampir saja ia murka lalu menurunkan petaka, melumat negeri itu menjadi puing-puing.

Namun, ia tidak tega dengan rakyatnya, rakyat yang begitu ikhlas ditindas.

Sang Dewa pun bertekat akan mengirimkan seorang manusia ke negeri itu. Ia adalah seorang manusia pilihan Sang Dewa. Ia diciptakan dengan segala sifat yang diperlukan untuk menjadi raja. Ia seorang manusia yang jujur dan berani, yang kelak akan memimpin rakyat negeri itu untuk melawan angkara murka.

Ia kelak akan menghanguskan berhala-berhala yang dimiliki raja dan kroni-kroninya. Ia akan menjadi cahaya yang menyudahi gulita. Namun, sebelum waktu itu tiba, Dewa akan mengutus raja-raja palsu untuk mengingatkan mereka semua.

Raja-raja palsu akan membawakan dongeng kejayaan masa lalu, cerita tentang bukit-bukit emas dan hamparan permata. Dongeng-dongeng masa lalu itu sejatinya hanya pengingat agar sang raja kembali, agar ia sadar bahwasanya alasan kerajaan dan segala sesuatunya ada adalah untuk menyejahterakan rakyatnya, bukan untuk diri dan kroninya saja.

8
0

seorang penunggang motor tipe GL Max

error: