Tulisan ini merupakan resensi dari buku yang berjudul “Kasmaran Berilmu Pengetahuan yang ditulis oleh Iwan Pranoto dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, pada tahun 2019.

Budaya bernalar adalah budaya yang menempatkan dan menghargai akal sedemikian rupa sehingga pembelajar memiliki kemerdekaan untuk mengembangkan akalnya. Dalam sistem pendidikan kita, penerapan budaya ini dinilai masih jauh dari seharusnya. Diperlukan usaha, kerelaan, dan niat bersama untuk mengembangkannya.

Upaya bersama itu dibutuhkan terutama karena pendidikan menyangkut berbagai hal mendasar dalam kebudayaan. Pendidikan adalah oksigen yang dibutuhkan oleh kebudayaan.

Pun sebaliknya, kebudayaan mewarnai pendidikan dalam berbagai aspeknya. Pendidikan menyediakan perangkat pemahaman untuk mendisiplinkan peserta didik sesuai dengan nilai dan norma yang menjadi panduan.

Namun, perangkat canggih yang disesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan perkembangan tersebut akan kehilangan daya dukung terbesarnya jika tidak ada ekosistem budaya yang menopangnya.

Nilai strategis pendidikan dan daya dukung  krusial pendidikan adalah kesatuan yang saling mendukung. Keduanya direkatkan oleh pentingnya hal mendasar, yakni  kebernalaran.

Buku ini mengajak pembaca dan semua pihak untuk merayakan dan “menjuarakan”, demikian istilah yang dipakai penulis buku ini, kemampuan bernalar sebagai esensi dan daya gerak hakiki pendidikan.

Kemerdekaan bernalar menempati posisi yang sangat  penting dalam keseluruhan makna buku ini. Kemerdekaan bernalar pada anak akan ikut menentukan wujud masa depan bangsa ini bergerak.

Kemerdekaan ini mendesak untuk diwujudkan dalam lingkungan belajar. Saat ini informasi dan perkembangan kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya HOTS (high order thinking skills) sudah jamak diketahui. Berbagai langkah penguatan dan penguasaan HOTS juga dilakukan pemerintah.

Dinamika ini selaras dengan tuntutan perkembangan yang menuntut siswa mampu berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif.  Namun demikian, dibutuhkan strategi agar lingkungan merdeka dapat terwujud dalam pengajaran.

Berbagai dokumen dan regulasi standar pengajaran sudah ada, tetapi ini masih berfokus pada prosedur administrasi mengajar, hingga guru kerap merasa tersandera dengan dokumen dan administrasi. Kondisi ini menjauhkan siswa dari inti pembelajaran, yakni dalam merawat kemerdekaan berpikir.

Dalam kaitan ini, penulis buku mengangkat pengalaman Kiran Bir Sethi di India dengan metode Design Thinkingnya. Anak, bagi Kiran, harus selalu hidup dengan mimpi dan angannya, anak tidak boleh mengimani kecil hati dan ketidakpercayaan diri.

Kiran dan buku ini menyebutnya ketidakbecusan. Maka, Kiran menekankan pentingnya semangat “aku becus”, yakni sebuah semangat yang menekankan pentingnya kepercayaan diri pada anak untuk menyelesaikan masalah dengan pemikirannya sendiri.

“Aku becus” ditempuh dengan, pertama, kelompok anak menentukan masalah di lingkungannya yang mereka rasa perlu untuk diselesaikan. Seterusnya, mereka diberi keleluasaan untuk mengkhayalkan kemungkinan jawaban untuk permasalahan tersebut.

Sesudah dirasa matang, mereka mewujudkan khayalan tadi dalam serangkaian uji coba. Cerita usaha anak-anak hingga hasil yang dicapai mereka ini dipersilahkan untuk dibagikan ke media oleh mereka sendiri.

Ide deliberatif seperti ini dalam beberapa hal sejalan dengan semangat ‘Merdeka Belajar’ yang digaungkan sejauh ini oleh pemerintah.

Dikedepankannya proses asesmen berdasar sistem penilaian  yang lebih utuh dan personal pada siswa, peringkasan 20 hal Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjadi 1 halaman, dan upaya penguatan fleksibilitas zonasi adalah bagian dari upaya untuk memperbaiki sistem yang sudah ada.

Dengan sistem penilaian yang yang lebih personal dan utuh, evaluasi terhadap capaian siswa bisa lebih mendasarkan diri pada realitas yang ada. Inilah peluang baik untuk menjalankan pendekatan budaya bernalar.

Melalui budaya tersebut, di satu sisi, siswa diberi keleluasaan untuk mengekspresikan personalitasnya. Sedangkan di sisi lain,  lembaga pendidikan diberi kewenangan yang maksimal dalam menjalankan fungsi dan perannya dalam memberi bimbingan dan pengajaran kepada siswa.    

Ditulis oleh Guru Besar Matematika di ITB (Institut Teknologi Bandung), buku ini tidak lantas kehilangan fokus dan perspektif utuh tentang pendidikan. Mengawali buku dengan pertanyaan seputar perspektif eksakta, buku ini membawa  dan mengalirkan persoalan-persoalan pendidikan hingga menyentuh berbagai hal.

Pendidikan, misalnya, dianggap gagal dalam membangun perspektif makna kejuangan yang hakiki dan toleran dalam arti sebenarnya (hal. 28), contohnya dalam pendidikan sejarah.

Dalam pelajaran sejarah, siswa dari dini dijejali pemahaman yang monolitik bahwa “kami benar mutlak, liyan salah mutlak”, secara sistematis dan formal. Pemahaman siswa tentang patriotisme akhirnya tumbuh dalam daya benci, kejuangan hasil indoktrinasi, bukan hasil proses bernalar.

Pelajaran sejarah tidak memberi ruang yang cukup untuk membangkitkan daya kritis siswa, hingga informasi dan pengetahuan yang tidak tunggal dan monolitik itu tidak tersampaikan.

Kisah Rahmat Shigeru Ono, tentara  Jepang yang membelot ke Indonesia hingga akhir hayatnya tahun kemarin, tidak menjadi bahan kajian di kelas. Padahal, kisah semacam ini bisa menjadi bahan menarik untuk diskusi yang mengedepankan nalar kritis dan sudut beragam.   

Penulis buku ini memberi banyak contoh dalam berbagai mata pelajaran lain yang tidak memberi peluang kebernalaran siswa. Pada akhirnya, buku ini melihat sudah saatnya pendidikan sebaiknya menjadi lahan subur bagi segala kebaikan bertumbuh dalam kelas.

Budaya bernalar dengan bersikap kritis, meragukan dan mengajukan pertanyaan kritis, dan mendialogkan apa yang dipahami, perlu diberikan ruang lebih luas. 

3
0

ASN pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Juga seorang analis data dan penulis lepas sejak tahun 1999.

error: