
Tiap hari ada aja kelakukan Bang Juned yang bikin kesel. Pulang kerja bukannya gantiin ngasuh anak, ini malah keenakan rebahan main game online. Tadinya sih pingin banget aku guyur pake kuah seblak, tapi takut dilaporin ke Pak RT dengan tuduhan KDRT.
Sabar, Ijah! Aku mengusap dada nguatin diri sendiri. Orang sabar pasti kesel! Eh, salah. Orang sabar disayang Tuhan.
“Bang, nitip Adek, ya. Aku lagi manggang bolu. Takut gosong.”
“Taroh aja si Adek. Kasih mainan biar anteng,” jawab Bang Juned tanpa memalingkan mata dari layar HP. “Lagian ngapain sih bikin bolu segala. Kayak ada yang ulang tahun aja.”
Darahku mendidih seketika. Dia bahkan lupa hari ini ada momen apa.
“Abang lupa ini tanggal berapa?”
“Tanggal dua Mei. Hardiknas. Mana mungkin Abang lupa. Nanti malem Abang ikut turnamen game online. Kamu jangan lupa sediain kopi. Hidup Juned, si Gamer Santai Pecinta Keluarga!” teriaknya lagi seraya berjalan meninggalkan kamar, dan lanjut main game di sofa.
Gagal sudah merayakan momen ulang tahun pernikahan penuh cinta. Bolu yang sudah kuhias dengan nuansa merah jambu itu akhirnya kubagikan tetangga. Suamiku tercinta sibuk dengan turnamen game dengan teman online-nya, memakai headset, teriak kayak orang gila sambil terus minta aku bikin kopi kayak sama asisten rumah tangga.
Anak-anak sudah tidur semua. Lebih baik aku menghibur diri dengan scroll sosmed. Ngecek yang lagi viral. Ampun dah isinya orang joged semua! Sampai ada tokoh aneh lewat beranda. Toko Tukar Tambah Pasangan. PROMO LELANG TUKAR TAMBAH SUAMI: DAPATKAN PASANGAN IMPIANMU!
Aku ingin tertawa sekaligus heran. Algoritma Toktok selalu tahu apa yang kita mau. Tak ada salahnya aku coba. Mungkin yang punya toko juga iseng, aku tak peduli, sambil setengah kesal, aku klik toko Tukar Tambah Pasangan. Siapa tahu aku bisa dapat suami ganteng, romantis, penuh perhatian, dan bisa service pipa mampet tanpa harus manggil tukang.
Sederhana saja cara ikut programnya. Tinggal isi link data diri, upload foto Bang Juned, kasih keterangan, dan berikan harapan suami baru impian. Setelah itu tinggal nunggu undangan mengikuti bursa lelang tukar tambah pasangan.
Aku menunggu undangan yang katanya akan dikirim via whatsapp dengan was-was, sebaliknya setiap hari aku semakin tidak peduli dengan kelakuan Bang Juned. Pokoknya terserah! Toh nanti aku bakal dapat suami baru yang lebih baik.
Aku gak peduli suamiku itu mau main game, mau bau ketek, mau pecicilan, pokoknya aku tak peduli. Yang kupedulikan hanya jawaban dari toko Tukar Tambah Pasangan. Semoga dapat Lee Min-ho versi ikhwan.
Seminggu kemudian, akhirnya aku datang memenuhi undangan acara yang katanya “Bursa Tukar Tambah Pasangan”. Lokasinya masuk ke sebuah gang di antara pertokoan Jalan Protokol. Seingatku tak pernah ada tempat seantik itu.
Tapi sudahlah namanya juga iseng.
Sudah kadung aku datang. Tempatnya absurd: aula kecil, ornamen warna-warni, AC-nya panas, tapi spanduknya semangat banget : “BERSAMA KITA CARI YANG LEBIH BAIK!”
Di dalam, suasananya kayak gabungan bazar UMKM dan stand up comedy. Tiap meja terdapat istri yang memasang poster suaminya. Ada yang tulis: “Bisa mijit, tapi hobi ngorok kayak mesin gergaji.” Ada yang jujur banget: “Gaji pas-pasan, tapi iman kuat.” Di sudut kanan tertulis poster: “Bucin. Suka ngatur. Senang selfie sehari tiga puluh kali dan demam tren para influencer.”
Aku juga ikut pasang: Juned, 42 tahun. Kelebihan: Setia, pecicilan, jago bikin mie instan 3 varian. Minus: Gamer aktif, kadang lupa istri bukan anak tiri.
Di tengah aula, ada panggung kecil, dengan seorang perempuan-mungkin pemilik toko-bergaun merah menyala memakai topi beludru emas berdiri di depan mic, memimpin acara. Bibirnya juga merah tak kalah menyala. Layar lebar di belakangnya menunjukkan para lelaki yang akan dia lelang seperti barang bekas.
Layar menunjukkan wajah pria berkulit pucat, memakai sarung dan kaos singlet, dengan mata cekung yang sedang menyalakan sebatang rokok.
“Yang ini harganya murah meriah. Sepuluh ribu saja!”
Kata pembukaannya yang energik membuat kedua bola mataku hampir loncat. Sepuluh ribu? Murah amat! Masih di bawah harga beras dan minyak goreng.
“Dia ini kekurangannya satu,” lanjut MC meyakinkan. “Gak punya kelebihan! Males kerja. Sukanya minta duit sama bini buat beli rokok dan kuota. Main hape seharian. Anak istri jadi urusan nomor sekian.”
Ini sih lebih parah dari Bang Juned. Ogah gueh!
“Kalau ada yang tertarik silakan ajukan pembelian dengan cara transfer ditambah nomor unik urutan tampil. Siapa cepat dia dapat,” lanjut si Bibir Merah.
Layar berganti. Kali ini tampilan foto di layar lebih dekil, rambut gondrong, kayak residivis gak mandi satu bulan.
“Yang ini diobral murah. Cukup bayar goceng sudah bisa dibawa pulang!”
Apalagi ini? Lima ribu doang. Lebih murah dari yang tadi. Cuma seharga seikat bayam.
“Setia gak suka main cewek, tapi sukanya main judol dan jadi buronan banyak pinjol….”
Amit-amit dah dikasih gratis juga ogah!
Layar berganti lagi. Para mata sontak terbuai kaget. Muka oriental ala oppa Korea. Bersih dan necis, kayak wajah para influencer.
“Yang ini bolehlah satu juta.”
Ibu-ibu sudah siap membuka aplikasi e-money mereka.
“Ganteng, menarik, good looking dan good rekening, alias tajir melintir….” Suara si Baju Merah makin bikin penasaran. Harga yang affordable, ramah di kantong sekaligus di mata.
“Tapi siap-siap punya hati seluas gurun Sahara, sedalam samudera Antartika, dan setinggi Gunung Himalaya. Kekurangannya suka main cewek, selingkuhannya ada di setiap gang dan belokan.”
Aku kembali mengurungkan niat. Bisa-bisa maag-ku kumat punya suami doyan selingkuh. Perempuan di sampingku sepertinya tak peduli, ia segera bertransaksi melakukan pembayaran.
“Yang penting kaya, Mak! Biarin dah kelakuan dia gimana,” ucapnya sambil menunjukkan foto suaminya di kertas A4 yang sudah dilaminating. Tertulis di sana: Gak pernah ngasih nafkah, tapi doyan minta jatah.
Layar kembali berganti. Kali ini tampilannya lebih ngademi. Wajah kalemnya bisa meredam panasnya cuaca. Berpakaian ala santri sedang mengaji. Duhai istri mana yang mau melepas pria sebaik ini?
“Lelaki ini punya kerjaan mapan. Baik. Setia. Bisa gantian jaga anak. Siap antar jaga.”
Idaman istri dan mertua! Semua tak sabar menerka harganya.
“Harga berbanding kualitas. Tiga Milyar saja!”
Tiga milyar? Ruangan riuh seketika. Aku jual rumah sekaligus penghuninya juga gak ada satu milyar.
“Lebih murah napa, Mak?” protes salah satu peserta.
“Mau diskon? Syaratnya: Harus pintar masak, hobi beres-beres. Wangi dan cantik sepanjang hari. Anti marah-marah dan cemberut. Pintar atur uang. Di kasih berapa pun tidak ngeluh dan harus cukup sampai akhir bulan. Siap begadang sampai pagi ngurus anak. Akan selalu setia walau harus jatuh sakit dan miskin. Satu lagi, nggak suka upload foto apalagi curhat masalah rumah tangga di medsos.”
Makjleb banget. Aku ngimpi kali ye. Masih suka ngambek, tukang ngeluh, dan suka bau bawang ini mau dapat kayak Lee Min-ho versi sholeh.
Dipikir-pikir Bang Juned masih mending dibanding lelaki yang dilelang sebelumnya. Bang Juned orangnya setia, suka bawain martabak kalau pulang kerja, gajinya gak terlalu besar tapi tanggung jawab ngasih nafkah. Yah mendingan main game dan lupa ulang tahun, dibanding lupa jalan pulang dan abisin duit buat judol.
Aku akhirnya keluar dari aula tempat lelang suami. Segera ku-remove foto Bang Juned dari list suami yang dilelang. Sempat kulirik harga yang diberikan owner toko: 250 juta. Mayan juga harga Bang Juned, kalau laku bisa buat beli mobil Avanza.
Hari hampir sore saat aku pulang. Bang Juned dan keempat bocil sudah menunggu di teras rumah. Kelimanya cengengesan melihatku datang.
Si Ganteng Sulung pakai kaos merah celana kuning, si Ganteng yang kedua pakai kaos yang sudah pantas jadi lap dapur, si Ganteng ketiga pakai kaos kedodoran punya kakaknya, sedangkan putri bungsu pakai baju terbalik, depan jadi belakang dan sebaliknya. Itulah hasil karya suamiku kalau dandanin generasi penerusnya.
“Mamah lama amat sih? Kita kan mau rayain ulang tahun pernikahan. Di dalam sudah ada kue dari Halalan Bakery.”
“Ulang tahun pernikahan? Bukannya seminggu lalu? Abang ngelindur?”
“Yah apa bedanya emang? Kan yang dulu kondangan sama kita juga ada yang seminggu kemudian,” jawab Bang Juned sambil nyerahin bungkusan warna merah.
“Ini buat kamu, Mah. Hari ini baru beli. Seminggu lalu belum bisa ngasih, uangnya baru dapet dari hadiah ketiga juara turnamen game online,” jelasnya dengan cengiran bangga.
Mendadak hatiku meleleh. Aku tidak lagi tertarik menukarnya dengan suami baru atau pun Avanza.
Kalau ada pasangan yang rusak atau retak, jangan dulu dilelang. Benerin aja dulu bareng-bareng. Pake lem yang kuat atau lakban kalau perlu. Karena ternyata, pasangan itu bukan soal siapa yang paling baru atau paling mulus. Kadang, yang lama cuma butuh diservis, disayang, dan diingatkan tanggal-tanggal penting.
Di kamar kubuka kado yang diberikan Bang Juned. Sepasang sandal yang indah. Aku ingin tersenyum sekaligus menahan tangis saat melihatnya. Mendadak terbayang kembali mobil Avanza.
“Woyy Abang … kakiku ukuran 37, kenapa ini nomornya 39!”














0 Comments