Titah Jamuan di Negeri yang Dijanjikan Suci

by | May 19, 2026 | Refleksi Birokrasi | 0 comments

Di negeri Amarta, sebuah pendapa dibuka dengan perangkat gamelan yang tertata rapi.

Yudhistira bersabda,
“Negeri ini harus menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur negeri yang baik dan penuh ampunan. Tidak boleh ada rakyat yang lapar.”

Arjuna menunduk,
“Segala daya akan diarahkan ke jamuan ini.”

Bima menegaskan,
“Tidak boleh ada yang tertinggal.”

Namun sebelum pagelaran gamelan selesai, terdengar titah tambahan dari pendapa:

“Segala perbedaan dalam pelaksanaan jamuan tidak diperkenankan menjadi protes.
Yang tidak sejalan dipersilakan melepas diri dari barisan ksatria. Lebih baik bertani saja.”

Pendapa seketika hening.

Semar menunduk lebih dalam dari sebelumnya.

Jamuan Gizi mulai digelar.

Lumbung-lumbung diperbesar, kerbau ditambah, jalur distribusi diperluas.

Di sisi lain, kabar pelan menyebar di seluruh negeri Amarta.
Beberapa urusan di kerajaan mulai diperkecil, seolah ruangnya perlahan mengerut oleh keputusan yang tidak banyak dipertanyakan.

Yang paling terasa adalah Padepokan Kawruh.
Sanggar-sanggar yang dahulu ramai oleh suara cantrik kini mulai sepi. Para guru sepuh tidak lagi sesering dulu mengajarkan laku dan olah pikir. Ruang-ruang belajar yang dahulu hidup dengan tanya jawab kini hanya menyisakan jeda panjang, seakan menunggu sesuatu yang tidak kunjung kembali.

Arjuna berkata pelan,
“Ini prioritas utama kerajaan.”

Bima menatap tajam,
“Lalu kawruh?”

Arjuna tidak menjawab.

Karena jawaban sudah bergeser menjadi aturan: yang tidak sejalan tidak lagi perlu diajak berdialog.

Jamuan berjalan.

Rakyat menerima bagian berbeda ada yang cukup, ada yang kurang, ada yang tidak tercatat.

Di padepokan, cantrik mulai berkurang.
Bukan karena selesai belajar, tetapi karena ruangnya menyempit.

Semar berbisik kepada Bagong,
“Kalau perut dibesarkan, tapi kawruh dikecilkan, Gong… yang tumbuh nanti apa?”

Bagong menjawab polos,
“Yang lapar tetap ada, Pak… Tapi, yang tahu kenapa lapar, jadi semakin sedikit.”

Di tengah titah baru kerajaan, para pengajar kawruh di padepokan perlahan kehilangan panggonan. Para resi dan begawan tak lagi dipanggil mengalirkan piwulang, pangupa jiwa dari keraton pun diputus pelan seperti tali yang tak terdengar putusnya.

Hingga padepokan yang dulu hidup oleh wejangan kini meredup. Kawruh tidak hilang, hanya kehilangan ruang untuk hidup dari yang selama ini menghidupinya.

Karena satu titah terus diulang di pendapa:

“Yang tidak sepakat dipersilakan melepas diri dari barisan ksatria. Lebih baik bertani saja.”

Bagong kembali ke pendapa,
“Kalau semua yang tidak sepakat disuruh keluar, siapa yang akan mengingatkan jika ada yang keliru?”

Bima menjawab,
“Yang tersisa adalah mereka yang memahami arah kerajaan.”

Bagong menatap,
“Atau yang tidak sempat berbeda?”

Pendapa hening.

Perdebatan tidak menjadi perang, hanya menjadi ketegangan yang ditahan.

Bima berkata,
“Kritik harus ada, tapi tidak boleh mengganggu keselarasan.”

Arjuna menambahkan,
“Kesetiaan adalah bagian dari pengabdian.”

Semar akhirnya berkata pelan,
“Di Amarta, yang paling sunyi bukan perang… tapi ketika perbedaan tidak lagi punya tempat untuk tinggal.”

Tidak ada pedang diangkat.
Yang ada hanya jalan keluar yang diam-diam ditunjukkan sebagai pilihan.

Musyawarah ditutup.

“Program berhasil. Jamuan berjalan. Efisiensi tercapai. Negeri menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Gamelan kembali berbunyi.

Di luar, rakyat makan secukupnya, padepokan kawruh semakin lengang dan tidak lagi mampu menggaji para guru yang dahulu dihormati sebagai resi atau begawan, sementara ksatria yang tidak sejalan telah memilih keluar. Sebagian mulai bertani dan menggantungkan pedang demi menyelamatkan keluarganya.

Bagong bertanya pelan,
“Bapak Semar… kalau yang tidak sepakat harus keluar, apakah yang tersisa benar-benar setuju… atau hanya tidak punya pilihan lain?”

Semar menatap pendapa yang megah itu lama sekali.

“Di Amarta, Gong… kesepakatan kadang bukan lahir dari persetujuan,
tapi dari siapa yang masih boleh tinggal di dalam cerita.”

Gamelan terus berbunyi.

Para ksatria yang dahulu menghunus senjata di medan perang kini perlahan menurunkan derajatnya ke tanah, menjadi sudra yang menanam dan mengolah ladang. Bukan karena mereka lupa perang, melainkan agar tidak ikut kelaparan di tengah perjamuan yang tidak semua kursinya mampu mereka tempati.

0
0
M. Fajar Dermawan ♥ Active Writer

M. Fajar Dermawan ♥ Active Writer

Author

ASN biasa dengan keahlian “Seni mengelola yang tak terucap”. Spesifikasi khusus menerjemahkan kebisingan dunia menjadi sinyal yang bermakna.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post