Saya memilih meminang buku ini tentu karena termakan promosi bahwa ini adalah buku tentang tulis menulis. Jika Anda ingin bisa menulis maka buku ini layak disimak, begitu kira-kira bunyi iklannya. Dan tepat belaka, buku ini memang layak untuk dijadikan teman dan referensi di kala ingin menulis.

Catatan portofolio penulis buku ini cukup untuk menjadi alasan kuat mengapa kita harus menyimaknya. Otoritas penulisnya, Kang Maman, tidak diragukan lagi. Ia menjadi jurnalis sejak 1986 saat masih menjadi mahasiswa jurusan kriminolog Universitas Indonesia. Ia pun berkarir di kelompok Kompas Gramedia mulai 1988 hingga 2004 dengan posisi terakhir sebagai pemimpin redaksi. Ia sempat mencari pengalaman baru dengan berkarya di biro iklan/rumah produksi selama 8 tahun,  dan berhasil memproduksi 50 judul dan ribuan episode acara TV. Terkait tulis menulis buku, setidaknya sudah 24 buku terbit atas namanya sejak 2013.

Bisa saya katakan inilah catatan perjalanan kepenulisan Kang Maman mulai dari awal hingga saat ini. Hampir semua pengalamannya dalam dunia tulis menulis, dicuplik dalam buku ini untuk dijadikan pelajaran.

Mulai dari bagaimana dia dulu menyusun skripsi hasil reportase di dunia remang-remang Jakarta yang kemudian diubah dan diterbitkan menjadi sebuah novel, hingga saat Kang Maman harus menghadapi writer block atau saat mentok mau menuliskan apa padahal deadline sudah menunggu di depan mata.

Buku ini terdiri dari tujuh bab. Di bab I, yang diberi judul “Tulis Tulis Tulis”, kita ‘dipaksa’ untuk menuliskan apa saja yang ingin kita tulis dan yang terlintas di otak kita. Problem penulis pemula adalah terlalu banyak memikirkan apa yang akan dituliskan. Padahal (bahkan) kebingunannya itu juga sudah cukup untuk dijadikan bahan (belajar) menulis.

Kang Maman memberikan tip bahwa kita harus membedakan antara diri sebagai penulis dan diri sebagai editor. Saat memulai menulis, bebaskan diri sebagai penulis untuk mewujudkan gagasan di benak menjadi sebuah naskah tulisan.

Jangan biarkan diri sebagai editor menginterupsi atau mengganggu flow diri sebagai penulis. Saat semua gagasan telah terwujud menjadi tulisan, baru kita mengaktifkan diri sebagai editor untuk melakukan perbaikan seperlunya agar semakin bagus dan layak konsumsi oleh pembaca.

Maka, jargon tulis-tulis-tulis! ini jadi pembuka penyemangat untuk siapapun agar mulai menuliskan apapun.

Kang Maman mencontohkan saat pagi-pagi buta baru membuka mata dan di pikirannya terlintas sebuah ide menarik maka itu harus segera dituliskan. Tidak harus idealis menjadikannya satu artikel utuh, cukup dengan menuliskannya di sosial media terlebih dahulu (misalnya). Tulisan-tulisan singkat di sosial media ini yang kemudian bisa kita olah untuk menjadi tulisan yang lebih panjang dengan disertai data-data pendukung agar lebih menarik.

Pada Bab II, Kang Maman bercerita lebih teknis bagaimana proses kreatif para pengarang yang ia kenal betul selama karir kepenulisannya. Termasuk dari pembacaan-pembacaan literatur kepenulisan yang menarik perhatiannya.

Di dalamnya ada proses kreatif yang dilakukan Arswendo Atmowiloto, Pramudya Ananta Toer, Remy Silado, hingga sahabat duetnya menulis buku, yakni Gus Nadirsyah Hosen. Kang Maman bercerita secara lepas dalam bukunya ini tanpa terikat pakem-pakem penulisan buku panduan pada umumnya.

Jika harus memberikan level bobot isinya, buku ini cocok bagi yang benar-benar ingin memulai belajar menulis hingga level medium. Membaca buku ini seperti kita duduk di samping Kang Maman yang sedang bercerita pengalaman-pengalamannya tentang kepenulisan. Mulai dari yang remeh temeh menulis di sosial media, membuat notulensi dadakan atas suatu acara, membuat novel, hingga memproduksi laporan jurnalistik yang berbobot.

Cara menulis santai seperti ini memiliki kelebihan yakni terasa lebih ‘dekat’ dan nyata apa adanya, namun dalam beberapa titik jadi terjebak dalam cerita yang terlalu panjang bertele-tele.

Dalam bab yang agak serius, seperti di bab 4, Kang maman membahas tentang kepenulisan ala jurnalisme. Kang Maman mengutip pendapat Kovach & Rosenstiel terkait delapan aspek penting yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin menulis produk jurnalistik, yakni: otentikator, sense maker, investigator, witness bearer, pemberdaya, aggregator cerdas, penyedia forum, dan sebagai panutan. Kang Maman mendedah satu-persatu aspek tersebut dengan bahasanya sendiri disertai contoh-contoh yang pernah ia temukan selama berkarir di grup Kompas Gramedia.

Hampir semua jenis tulisan yang ada di media, dibahas dalam buku ini. Setidaknya pembahasan tentang cerpen, puisi, prosa, berita, diari, jurnal, hingga obituary, semua masuk dalam buku setebal 444 halaman ini. Yang tidak dibahas terlalu dalam hanya tulisan berbentuk karya ilmiah/akademik.

Dalam buku ini juga ditampilkan gagasan Kang Maman tentang 100 ide yang dapat kita gunakan untuk memproduksi sebuah tulisan. Ia menjabarkan secara kronologis sesuai dengan siklus harian kehidupan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Dalam kronologis harian ini, ia memberikan momen-momen yang dapat dijadikan pemantik ide sebuah tulisan. Dengan adanya ‘panduan’ ini, ia berharap pembaca bukunya sudah tidak beralasan lagi kehabisan ide.

Jika saya simpulkan, tujuan buku ini adalah mengajak para pembacanya untuk ‘ayo menulis dan belajar menulis’. Menulis apapun dan dengan cara apapun, karena (sesuai dengan judul bukunya) Aku Menulis maka Aku Ada. Dengan menulis, keberadaan kita di dunia dapat diabadikan dan dirasakan.

Buku ini kurang cocok untuk penulis yang sudah terlatih mencari ide, mengembangkan gagasan, dan menuliskannya. Jika Anda mencari teknik-teknik advance seperti bagaimana menghasilkan angle ide yang menarik, penyampaian powerfull, atau tips dan trik agar tulisan dimuat di media besar, maka tidak akan banyak ditemukan di buku ini.

Tapi jika kita mencari ‘teman duduk’ yang dapat memacu, memicu, dan mendorong kita untuk terus menulis, maka buku ini rasa-rasanya cocok untuk kita miliki.

Ilustrasi gambar: koleksi pribadi Trian Ferianto


Identitas Buku

  • Judul: Aku Menulis maka Aku Ada
  • Penulis: Kang Maman
  • Penerbit: DIVA Press
  • Jumlah halaman: 444
  • Terbit: Cetakan I, November 2020
  • ISBN: 978-623-293-126-8
  • Bonus: poster 100 ide menulis dalam 24 jam


3
0
Trian Ferianto ◆ Active Writer and ♥ Associate Poetry Writer

Trian Ferianto ◆ Active Writer and ♥ Associate Poetry Writer

Author

Auditor pada salah satu Instansi Pemerintah Pusat. Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Jenderal Soedirman. Pengembang aplikasi monitoring pengawasan MRRP COVID-19. Online and Digital Enthusiast. Penikmat Buku dan Kopi. Suka bersepeda. Professional blogger at PinterIM.com

2 Comments

    • Avatar

      Thanks atas ulasannya, Trian. Nolong banget karena susah dapet bukunya. Tulis, tulis tulis kata Kang Maman, tapi di layar pc kok juga cuma berjejer 3 kata itu. Padahal, banyak yang mau ditulis, tapi tetep aja trio kata2 itu yang ngeledek terus. Hehe,

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Diskusi Kelas Online

Popular Post

error: