Hingga saat ini penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia masih menyisakan berbagai tantangan. Dirjen Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Achmad Yurianto, menyatakan setidaknya terdapat enam tantangan dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Salah satunya adalah munculnya ketakutan, penolakan, dan stigma dari masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini ke fasilitas pelayanan kesehatan bila bergejala.

Di tengah semakin meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 belakangan ini, ternyata jumlah pasien yang sembuh juga semakin meningkat. Meskipun total kasus positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 271.399 kasus, namun jumlah pasien yang sembuh sebanyak 199.403 orang (data per tanggal 26 September 2020, kawalcovid19.id).

Stigmatisasi Pasien Covid-19 di Masyarakat

Semakin membaiknya tingkat kesembuhan pasien Covid-19 tidak menjadikan permasalahan selesai begitu saja, khususnya bagi para pasien dan keluarganya. Selain berjuang melawan keganasan Covid-19 yang tengah bersarang di tubuh, pasien acapkali juga harus menanggung beban ganda yaitu berjuang melawan stigma negatif dari masyarakat.

Tidak jarang pasien Covid-19 dan keluarganya harus mendapat perlakuan yang diskriminatif dari masyarakat. Meski tidak semua pasien mengalami diskriminasi, tetapi masyarakat umumnya melihat pasien Covid-19 dan keluarganya secara negatif.

Dalam beberapa kasus, para pasien Covid-19 dan keluarganya mendapatkan perlakuan seperti dihindari bahkan sampai dikucilkan. Covid-19 oleh sebagian besar masyarakat masih dipandang sebagai sebuah aib.

Apa yang dialami seorang pasien Covid-19 di salah satu wilayah di Jawa Timur menjadi pelajaran berharga betapa dampak stigma tersebut tidak kalah mengerikan dibanding Covid-19 itu sendiri. Saya mendengarkan penuturan langsung hal tersebut dari teman saya yang menjadi pasien karena virus ini.

Meskipun pasien tersebut sudah menjalani perawatan di salah satu fasilitas kesehatan pemerintah dan dinyatakan sembuh, tetapi dia tetap tidak diterima oleh lingkungannya. Masyarakat di lingkungannya cenderung menghindarinya, bahkan cenderung mengucilkan. Padahal sebelumnya dia merupakan salah satu warga yang sangat dikenal baik oleh warga.

Kondisi yang demikian menjadikannya semakin tertekan hingga memutuskan untuk pindah ke daerah lain. Bahkan ketika ada seseorang yang hendak membeli rumah tinggalnya yang lama, warga sekitar malah cenderung memberikan informasi kepada calon pembeli bahwa pemilik rumah tersebut pernah menjadi pasien Covid-19.

Tidak dapat kita bayangkan jika pasien Covid-19 yang mengalami stigma negatif adalah salah satu warga negara yang kurang beruntung. Seperti mereka yang menggantungkan hidup pada sektor informal dengan besaran pendapatan yang sangat bergantung pada transaksi dengan masyarakat sekitarnya.

Stock of Knowledge Masyarakat dan Stigmatisasi

Stigmatisasi yang terjadi pada pasien Covid-19 tentu tidak serta merta menjadikan masyarakat sebagai pihak yang disalahkan. Sebagaimana diketahui bersama, Covid-19 menjadi sebuah hal baru yang sampai saat ini terus dipelajari oleh banyak pihak dan banyak negara. Sebagai sebuah hal yang baru, maka masyarakat masih belum memiliki stock of knowledge yang memadai untuk bereaksi terhadap Covid-19.

Minimnya stock of knowledge yang dimiliki masyarakat saat ini menjadikan stigma negatif mudah terkonstruksi. Beragamnya tingkat pengetahuan dan lingkup interaksi sosial yang ada di masyarakat menjadikan stigmatisasi terhadap pasien Covid-19 semakin tumbuh subur. Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya informasi yang benar dan valid yang beredar di masyarakat mengenai Covid-19.

Memperbesar kapasitas stock of knowledge masyarakat dengan demikian sangat diperlukan guna mencegah dan menangani stigmatisasi terhadap pasien Covid-19. Berbagai informasi yang benar berkaitan dengan Covid-19 harus tersampaikan kepada masyarakat secara masif dan proporsional.

Hingga saat ini, informasi yang paling sering disampaikan kepada masyarakat adalah yang berkaitan dengan upaya pencegahan maupun penanganan Covid-19. Padahal terdapat salah satu aspek yang tidak kalah penting adalah informasi bahwa pasien yang telah menjalani perawatan dan telah dinyatakan sembuh, tidak berbahaya sepanjang tidak tertular kembali.

Memperhatikan data pasien sembuh yang semakin meningkat, maka permasalahan terkait dengan penerimaan masyarakat terhadap mereka menjadi sangat penting juga.

Manakala stigma negatif terhadap pasien Covid-19 –khususnya yang telah menjalani perawatan dan dinyatakan sembuh– masih melekat kuat di masyarakat, maka seiring dengan jumlah pasien sembuh yang semakin banyak maka tidak menutup kemungkinan permasalahan sosial akan muncul.

Kolaborasi Pemerintah dan Penyintas Covid-19

Pemerintah memiliki peran sangat penting guna memperbesar kapasitas stock of knowledge masyarakat tentang Covid-19. Tidak hanya berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanganan saja, tetapi juga stigmatisasi terhadap pasien Covid-19 yang telah menjalani perawatan dan dinyatakan sembuh.

Harapannya masyarakat memiliki pengetahuan yang benar mengenai Covid-19 dan penderitanya. Dengan demikian masyarakat tidak hanya dapat hidup berdampingan dengan Covid-19, tetapi juga dapat menghilangkan kerenggangan sosial akibat stigmatisasi.

Upaya tersebut tentu akan menemui banyak tantangan manakala dilakukan oleh pemerintah sendirian. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu menggandeng berbagai pihak guna memenuhi harapan tersebut. Salah satu pihak yang perlu diajak berkolaborasi adalah para penyintas Covid-19 yaitu mereka yang pernah terpapar Covid-19 dan telah dinyatakan sembuh.

Setidaknya, terdapat dua keuntungan yang diperoleh manakala penyintas Covid-19 dilibatkan dapat upaya memperbesar kapasitas stock of knowledge masyarakat.

Pertama, para penyintas Covid-19 tentu mempunyai stock of knowledge yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan Covid-19 sekaligus stigmatisasi yang menerpanya. Pengalaman inilah yang penting untuk dibagikan kepada masyarakat.

Kedua, dengan melibatkan para penyintas Covid-19 dalam mengedukasi masyarakat, secara tidak langsung menghapus stigma yang sempat melekat. Mereka yang sebelumnya merasakan diskriminasi di masyarakat, ketika berbagi pengalaman dengan masyarakat maka akan merasa kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Epilog

Permasalahan pandemi Covid-19 ternyata tidak berhenti ketika pasien yang terpapar telah dinyatakan sembuh. Stigmatisasi masyarakat terhadap pasien Covid-19 tidak hanya melekat ketika mereka terpapar, ataupun ketika telah dinyatakan sembuh.

Semua pihak perlu bergandengan tangan untuk menghilangkan stigmatisasi terhadap pasien Covid-19 maupun keluarganya. Pemerintah perlu mengambil peran dengan memfasilitasi para penyintas Covid-19 untuk dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Covid-19 kepada masyarakat. Dengan demikian stigmatisasi terhadap pasien Covid-19 sedikit demi sedikit dapat terkikis.

4
0

Merupakan ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Saat ini penulis tercatat sebagai Peneliti Muda pada Bappeda Kabupaten Sidoarjo.

error: