Singaraja Suatu Pagi

by | Nov 26, 2020 | Sastra | 0 comments

Menjelang subuh aku terbangun sendiri
Kuraba jeding bersumber dari sungai
Tak ada pancuran wudhu di sini
Hanya gayung dengan air segar dingin sekali

“Mas, ini sajadahnya buat besok. Kucari-cari ternyata masih ada di dasar lemari,
-Kemarin sebelum tidur, tuan rumah menitipkan pesan begini:-
Sisa milik ibu yg sudah lama tak dipakai.”

Kugelar sajadah itu selepas wudhu sendiri
Sujud dan bertafakur melihat ke diri
Di tengah desa yg baru pertama kali ku hampiri

Tak ada suara azan di sini
Gantinya adalah sayup-sayup mantra silih berganti
Aku tak tahu artinya apa, yang jelas daya magisnya sampai ke hati
Mantra itu mengikutiku di belakang saat sujud di atas bumi
Alunan ritmisnya berdesakan dengan wirdul latif
Tak pernah terbayangkan bisa menyatu, tapi jelas keduanya untuk Tuhan sawiji


Matahari semakin menerangi bumi
Ayam berkokok memulai pagi
Ini bukan gambaran artifisial elegi
Tapi memang inilah desa sejati

Aku benar duluan menyambut pagi
Tapi mereka gesit juga seperti mau lari
Para tuan rumah yang baik hati
Memulai hari dengan jampi

Dupa dinyalakan menggunakan api
Diantarkan bareng dengan sesaji
Khidmat khusuk mengunjungi diri
Yang sedang berhadapan dengan Hyang Widhi

Kucium aroma dupa yang wangi
Menyatu dengan dinginnya pagi
Dan suasana magis yg menyelimuti
Mulainya denyut desa ini

Kulongok keluar suasana sunyi
Setiap rumah sudah tampak gerak-gerik penghuni
Rumah yg taat Asta Kosala Kosali
Dan penghuni yg taat darma bhakti

Kutanya pada tuan rumah selepas bhakti
Apakah di sini semua begini setiap hari?
Dia jawab ya begitulah di sini setiap hari
Tanpa jeda sampai mati

Sang ibu pemilik sajadah datang menghampiri
Sambil membawa nampan berisi
Dua gelas bening setengah terisi
Teh sajian wedang di pagi hari

Aku ucapkan terima kasih
Ibu itu tersenyum sambil permisi
Tak lupa ucapkan selamat menikmati
Pada diriku dan anaknya yang lelaki

Ada satu yg masih mengganjal di hati
Kutahan-tahan sejak semalam sampai ganti hari
Ku beranikan tanya mengkonfirmasi
Kisah apakah yang sebenarnya terjadi?

“Bli, kok bisa di rumah ini ada sajadah buat saya salat tadi pagi? “
“Oh iya itu pernah dipakai Ibu dulu sekali.”
“Kenapa sekarang sudah tak dipakai lagi?”
“Ya karena sudah ganti pergi ke padmasari.”

Aduh aduh.. Panas sekali teh sajian ini…

~ Medio 2008

2
0
Trian Ferianto ◆ Professional Writer

Trian Ferianto ◆ Professional Writer

Author

Auditor pada salah satu Instansi Pemerintah Pusat. Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Jenderal Soedirman. Pengembang aplikasi monitoring pengawasan MRRP COVID-19. Online and Digital Enthusiast. Penikmat Buku dan Kopi. Suka bersepeda. Professional blogger at PinterIM.com

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post

error: