Bisa jadi, tahun 2020 ini adalah tahun ujian terberat bagi semua umat manusia. Wabah virus corona yang disebut juga COVID-19 sedang melanda seluruh dunia, tidak terkecuali di tanah air tercinta Indonesia, dengan kasus pertama awal bulan Maret 2020. Dalam sambutannya pada rapat kabinet paripurna secara virtual di bulan Mei 2020, Presiden menyatakan:

”Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai, sesuai target yang kita berikan. Yaitu, kurvanya harus turun, dan masuk pada posisi sedang di bulan Juni. Bulan Juli masuk pada posisi ringan. Dengan cara apapun! Dan itu dilakukan tidak hanya dengan Gugus Tugas COVID-19, tapi seluruh elemen bangsa.”

Banyak yang bertanya-tanya, termasuk saya, apakah pernyataan target Presiden tersebut dapat kita wujudkan bersama – mengingat obat atau vaksin belum diproduksi secara besar-besaran? Lalu, bagaimana kita semua seluruh elemen masyarakat Indonesia dapat mewujudkannya?

Saat ini, Pengobatan COVID-19 Belum Terbukti

Selain hanya mengandalkan imunitas tubuh manusia itu sendiri, belum ditemukan pengobatan yang terbukti dapat menyembuhkan pasien terdampak COVID-19. Lalu, bagaimana jika orang yang mempunyai penyakit penyerta kemudian terpapar COVID-19? Bukankah menurut jubir pemerintah, umumnya pasien yang meninggal dunia karena sudah ada penyakit bawaan seperti TBC, diabetes, hipertensi, dan infeksi lainnya.

Adapun pada tenaga medis yang telah menjadi korban keganasan COVID-19, penyebab meninggalnya ditengarai yaitu kelelahan, kecemasan, dan kurang standarnya alat pengaman diri (APD) yang dikenakan saat melaksanakan tugasnya. Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam surat terbuka dari Perhimpunan Dokter Umum Indonesia yang sempat viral beberapa waktu yang lalu.

Produksi APD dan alat kesehatan lainnya yang dibutuhkan di Indonesia masih mengimpor dari negara lain dan itupun terbatas jumlahnya. Belum banyak perusahaan di negeri ini yang dapat memproduksi sendiri APD dan alat kesehatan lainnya secara masif.

Selain itu, masih banyak SDM tenaga medis yang belum mempunyai kemampuan dalam menggunakan alat tes kesehatan untuk mendeteksi orang-orang yang terkena COVID-19 meskipun pemerintah sudah banyak mengimpor alat-alat tersebut dari luar negeri.

Apakah karena kompetensi SDM yang terbatas atau peranan leadership pemerintah yang belum fokus terhadap masalah ini?

Banyak pertanyaan yang timbul dan bagaimana semestinya kita semua menyikapi ini. Perlu konsentrasi yang penuh dalam memikirkan “Pekerjaan Rumah (PR)” ini. Sebab, ketidakfokusan suatu negara dalam mencari solusi akan menjadi percuma atau sia-sia.

Selain itu, perlu adanya kekompakan antara pemerintah dengan para ilmuwan dengan menyingkirkan semua kepentingan pribadi, golongan, maupun politik lainnya demi bersatu melawan wabah COVID -19.

Menunggu Obat atau Vaksin

Selanjutnya bagaimana? Apakah kita akan menunggu obat atau vaksin dulu dalam mengatasi COVID -19? Banyak ilmuwan/peneliti di luar negeri sudah melakukan ujicoba untuk obat maupun vaksin sebagai solusi tercepat dalam penyembuhan di negaranya. Namun belum kita dengar hasil yang menggembirakan.

WHO sampai saat ini juga belum mengumumkan obat ataupun vaksin yang tepat untuk diberikan kepada negara-negara yang terdampak pandemi ini. Mau sampai kapan wabah ini berlangsung? Sedangkan, di Indonesia sudah banyak pasien yang terpapar virus ini, bahkan sampai meninggal.

Dalam hemat saya, apabila pemerintah tidak fokus menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat, justru akan menjadi beban terberat bagi pemerintah karena dapat melebar menjadi krisis kesehatan, ekonomi, sosial, keamanan, dan sebagainya. Indonesia akan menjadi negara yang semakin terpuruk seperti negara lainnya yang belum selesai dengan COVID-19.

Hal inilah yang ditakutkan oleh semua negara. Akan tetapi, kita masih punya kesempatan untuk belajar dari beberapa negara yang sudah bangkit dari keterpurukannya; misalnya Cina, Korea Selatan, dan Jerman.

Sesuai dengan salah satu dari 5 (lima) visi Presiden Jokowi Tahun 2019-2024 terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), sudah saatnya para ilmuwan di Indonesia kompak mengambil bagian dalam solusi ini. Ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berkualitas, khususnya di penelitian bidang farmasi atau lainnya, sudah saatnya saling bekerjasama dan bahu membahu dalam misi kemanusiaan ini.

Kita harus cepat, karena kita berlomba dengan waktu. Jangan sampai Indonesia terseok-seok oleh pandemi ini. Kinerja SDM di Indonesia yang lambat dalam memproduksi secara masif obat atau vaksin yang telah ditemukan oleh para ilmuwan saat ini, mengakibatkan ribuan korban yang meninggal akibat pandemi. Mengingat hal ini, kami masyarakat Indonesia, hanya berdoa kepada Tuhan YME agar masalah ini cepat terselesaikan.

Sinergi Para Ilmuwan dan Pemerintah

Beberapa waktu yang lalu telah ramai diberitakan penemuan penangkal virus Corona oleh ilmuwan di Indonesia, tetapi saat ini tidak begitu terdengar kelanjutannya. Apakah karena para ilmuwan berusaha berlomba-lomba untuk menemukan sendiri penemuannya dalam situasi pandemi ini hanya demi “sebuah nama besar atau komersialisasi?” 

Mengapa mereka tidak menyatukan penemuannya secara bersinergi, sehingga apabila ada kekurangan di dalam satu penelitian dapat dibantu oleh penelitian yang lainnya yang juga sedang berlangsung? Maka, hal ini diperlukan suatu sinergitas antar ilmuwan dari berbagai bidang dalam menemukan solusi untuk pandemi COVID-19.

Lupakan dulu masalah kurangnya anggaran ataupun hak paten. Sadarlah ini untuk misi kemanusiaan. Tuhan memberikan ujian ini kepada seluruh dunia, agar kita bersatu bukan egois hanya untuk sebuah nama besar dan komersialisasi.

Perlu adanya kesamaan persepsi SDM khususnya para asosiasi peneliti/ilmuwan dan tenaga medis untuk bergotong royong dalam memproduksi obat dan vaksin secara masif sampai ke seluruh daerah terpencil di Indonesia. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas SDM di Indonesia meningkat.

Apabila fokus kualitas SDM dalam menyelesaikan pandemi ini dapat memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia, merupakan suatu “kabar baik” bagi segala aspek, baik nasional maupun internasional. Keyakinan SDM di Indonesia tidak kalah dibandingkan negara lain, yang merupakan suatu pembuktian dan pencapaian yang luar biasa di dunia internasional.

Bukankah Pemerintah Indonesia, saat ini, juga berani menggelontorkan sejumlah anggarannya untuk penelitian pandemi COVID-19. Jangan berlama-lama wahai para ilmuwan di seluruh Indonesia, berikan pengetahuanmu sebagai “tongkat estafet” kepada pemerintah dalam membuat kebijakan selanjutnya, serta lakukan kaderisasi terhadap para ilmuwan lainnya untuk bersama menyelesaikan bencana yang besar ini.

Sehingga, semua tenaga medis di seluruh Indonesia dapat mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan semua orang yang terdampak wabah yang berkepanjangan ini dengan SOP yang sudah mumpuni. Kami masyarakat Indonesia sesuai anjuran pemerintah,

menunggu di rumah saja, menjaga jarak, dan memakai masker untuk sementara waktu.”

Namun begitu, wahai para ilmuwan, kami juga menunggu kinerja dan keahlianmu dalam memproduksi secara besar-besaran obat maupun vaksin yang benar-benar mampu menghentikan wabah ini. Sebuah harapan yang dapat membuat seluruh masyarakat Indonesia menjadi lebih tenang.

Epilog

Dengan semua penemuan yang ada saat ini, apakah hanya tinggal utopia saja, yang pada akhirnya berujung pada ketakutan dan ketidakpercayaan diri masyarakat terhadap penelitian di Indonesia? Sehingga menimbulkan paranoid bagi semua orang, karena nyatanya belum ada sistem kesehatan yang cukup memadai dan bersinergi.

Pada akhirnya, perlu ditingkatkan kualitas penelitian melalui invention dan innovation oleh para ilmuwan Indonesia, kelompok yang paling diharapkan dalam sekian banyak struktur SDM di negara kita. Tak lupa, pendanaan penelitian juga sangat dibutuhkan, sehingga tidak menjadi kendala dalam mendukung target Presiden. Semoga Indonesia bisa, bersama-sama menanggulangi bencana virus Corona.

#Indonesia perlu bangkit dan mandiri#

0
0

Analis Kebijakan pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN/RB). Berlatar belakang pendidikan sarjana hukum dari Universitas Lampung, magister hukum dari Universitas Indonesia dan master of public administration dari Western Michigan University, Amerika Serikat.

error: