Selamat Tinggal Kopi Susu Gula Aren

by | Apr 17, 2026 | Birokrasi Efektif-Efisien | 0 comments

Pagi di Kupang selalu datang dengan panas yang cepat. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udara sudah terasa kering. Saya masuk ke sebuah kedai kecil yang sudah cukup lama berdiri di jalan utama arah kantor.

Tempatnya tidak besar, tapi selalu ramai. Orang datang sebelum bekerja, duduk sebentar, pesan kopi, lalu bawa pergi. 

Minuman itu seperti kebiasaan, tidak perlu dipikirkan, apalagi kalau sudah langganan, tanpa pesan pun minuman disajikan.

“Satu kopi susu gula aren,” saya bilang ke kasir.

Barista muda di balik meja melihat ke arah rak di belakangnya. Ia berhenti sebentar, lalu menggeleng. “Maaf, kakak. Susunya kosong ee…”

Kalimat itu terdengar ringan, seolah tidak ada yang istimewa. Tapi justru karena diucapkan biasa, rasanya jadi sedikit aneh. Saya menoleh ke arah rak. Biasanya kotak susu tersusun rapi di sana. Hari itu, rak itu terlihat longgar. Ada ruang kosong, indikasi ada sesuatu yang hilang.

“Sudah lama?” saya tanya.

“Beberapa hari,” jawabnya.

“Kadang ada, kadang tidak. Sekarang lagi susah dapat.”

Saya akhirnya memesan kopi tubruk hitam. Bukan pilihan utama, tapi cukup untuk pagi itu. Di meja sebelah, seorang pelanggan lain tertawa kecil sambil mengangkat gelasnya.

“Balik ke kopi zaman dulu,” katanya.

Tidak ada keluhan panjang. Tidak ada kemarahan. Hanya penyesuaian kecil.

Pagi itu, saya minum kopi hitam pelan-pelan. Rasanya lebih pahit dari biasanya, tapi juga lebih jujur. Tidak ada susu yang melembutkan rasa, tidak ada gula yang menutupinya.

Hanya kopi, apa adanya. Dan dari perubahan kecil itu, saya mulai menyadari sesuatu:

Kadang-kadang, tanda pertama dari masalah besar bukanlah krisis yang dramatis, melainkan kebiasaan sederhana yang tiba-tiba tidak bisa dilakukan lagi.

____________

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya mulai memperhatikan sesuatu yang sebelumnya terasa biasa saja. Rak susu di minimarket tidak selalu kosong, tapi jarang penuh. Hanya ada beberapa kotak tersisa di sudut, merek lain yang harganya sedikit lebih mahal.

Bukan sapi, tapi susu nabati seperti mete, atau almon. Ada juga coconut milk di rak bumbu, siap dijadikan substitusi. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada tulisan “stok habis”.

Di Kupang, pola seperti ini bukan hal baru. Kota ini terbiasa menunggu kiriman barang dari luar. Sejak dulu, kehidupan di sini bergerak mengikuti jadwal kapal. Ketika kapal datang tepat waktu, semua terasa normal.

Ketika kapal terlambat, ritme kota ikut melambat. Baru kemarin kota ini pulih dari kelangkaan gas akibat kargo tenggelam.

Logistik dan ketahanan rantai pasok, menentukan apa yang bisa kita makan, minum, dan jual setiap hari. Susu adalah contoh yang paling mudah dilihat. Berbeda dengan sayur atau ikan yang masih bisa didapat dari sekitar kota, susu selalu datang dari pulau lain, bahkan dari negara lain.

Sapi diperah, diproses di pabrik, dikemas dalam karton, lalu dimuat ke dalam kontainer sebelum akhirnya menempuh perjalanan panjang lintas negara dan benua.

Selama rantai pasok berjalan lancar, semuanya terasa sederhana. Barang datang, toko menjual, pelanggan membeli. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Tapi ketika satu mata rantai terganggu—entah karena permintaan meningkat, distribusi tersendat, atau pasokan berkurang—efeknya bisa terasa sampai ke tempat paling kecil, seperti kedai kopi di sudut jalan. 

Ketergantungan pada pasokan luar sebenarnya bukan masalah. Defisit neraca perdagangan cukup bikin gubernur pusing, tapi sudah menjadi bagian dari sistem. Namun selama bertahun-tahun, sistem itu terlihat stabil. Barang selalu tersedia, harga relatif terkendali, dan konsumen jarang merasakan kekurangan.

Stabilitas itu membuat kita percaya bahwa semuanya aman. Padahal, yang terjadi mungkin bukan karena sistemnya kuat, melainkan karena belum pernah benar-benar diuji.

Ketika saya kembali lagi ke kedai kopi, susu sudah tersedia, tapi jumlahnya terbatas. “Baru datang kemarin, cuma pesan khusus agak mahal, di Surabaya juga mulai langka” katanya.

Wajar, mengingat beberapa waktu terakhir, berita tentang gizi dan pangan semakin sering muncul di televisi dan media sosial.

Pemerintah berbicara tentang pentingnya protein, tentang anak-anak yang harus tumbuh sehat, tentang kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi sejak dini. Di banyak tempat, program makanan mulai dijalankan dengan skala yang lebih besar dari sebelumnya.

Tujuannya jelas: memperbaiki kualitas hidup. Sulit untuk tidak setuju dengan niat seperti itu. Siapa pun ingin anak-anak tumbuh sehat. Siapa pun ingin masyarakat makan lebih baik.

Tapi, masalahnya bukan pada tujuan. Masalahnya ada pada kesiapan sistem.

Di sektor pangan, produksi tidak selalu bisa mengikuti keinginan dengan cepat. Ada proses yang tidak bisa dipercepat, bahkan oleh kebijakan yang paling ambisius sekalipun. Susu, misalnya, tidak muncul begitu saja karena permintaan meningkat.

Ketersediaannya bergantung pada hewan yang hidup, pada pakan yang harus tersedia setiap hari, pada waktu yang dibutuhkan untuk berkembang dan menghasilkan. Semua itu berjalan dengan ritme biologis.

Hitungan di atas kertas, peningkatan konsumsi itu sederhana. Tinggal tambah anggaran, perluas cakupan, dan pastikan program berjalan. Tapi di lapangan, setiap peningkatan permintaan berarti tekanan baru pada rantai pasok.

Jika kapasitas produksi tidak bertambah, hukum supply-demand berlaku, keseimbangan akan bergeser. Pelan-pelan harga naik. Stok berkurang, ditandai hilangnya kemewahan untuk memilih. Tidak langsung terasa seperti krisis. Lebih seperti ruang yang perlahan mengecil.

Ketika permintaan meningkat lebih cepat daripada kemampuan produksi, pelaku usaha kecil harus menyesuaikan diri lebih dulu. Mereka tidak punya gudang besar. Tidak punya kontrak pasokan jangka panjang. Mereka hanya punya stok harian yang harus cukup sampai esok.

Di kedai kopi, perubahan itu terlihat dalam bentuk yang sederhana. Barista mulai menghitung penggunaan susu dengan lebih hati-hati. Ia tidak lagi menuang dengan bebas. Setiap gelas diukur lebih presisi, seolah-olah bahan baku itu menjadi sesuatu yang harus dijaga.

“Susu sekarang cepat habis,” sambungnya. “Kalau tidak diatur, sore sudah kosong.”

Dalam situasi seperti itu, kebijakan yang baik bisa menghasilkan tekanan yang tidak direncanakan. Bukan karena kebijakan itu salah, tetapi karena sistem yang menopangnya belum siap.

Produksi membutuhkan waktu. Distribusi membutuhkan kepastian. Dan keseimbangan membutuhkan perencanaan yang matang. Tanpa itu, setiap dorongan untuk mempercepat konsumsi bisa terasa seperti menekan pedal gas pada kendaraan yang mesinnya belum panas.

Alpukat, Kopi Flores, dan Cara Kita Bertahan

Perlahan, menu di kedai kopi itu bergeser. Tidak drastis, tidak revolusioner. Hanya penyesuaian kecil yang muncul satu per satu, macam menggeser perabot di rumah agar tetap nyaman ditempati.

Di papan menu ada yang baru.

Kopi Flores hitam.

Jus alpukat.

Kopi alpukat.

Barista yang sama berdiri di balik meja, kali ini dengan ekspresi yang lebih santai. Rak di belakangnya masih menyimpan beberapa kotak susu, tapi jumlahnya tidak sebanyak dulu. Ia tidak lagi mengandalkan susu sebagai bahan utama. Ia mencari cara lain agar kedai tetap berjalan.

“Sekarang banyak yang pesan kopi alpukat,” katanya sambil memotong buah berwarna hijau tua itu. “Lebih gampang dapat.” Mitigasi sederhana, tapi di dalamnya ada logika yang kuat.

Alpukat tumbuh di kebun-kebun sekitar. Petani lokal panen, pedagang angkut ke pasar, dan dalam hitungan hari buah itu sudah sampai di tangan penjual minuman. Bahkan mungkin terkadang harus menunggu matang. Rantai pasoknya lebih pendek, risikonya lebih kecil.

Begitu juga dengan kopi Flores. Biji kopi itu tidak perlu menempuh perjalanan lintas negara sebelum sampai ke cangkir. Masih satu gugusan pulau, dari kebun-kebun yang bisa dijangkau dengan perjalanan darat dan laut dalam waktu yang relatif singkat.

Ketika bahan baku datang dari dekat, ketergantungan pada sistem yang jauh ikut berkurang. Bukan berarti masalah selesai. Bukan berarti risiko hilang. Tapi setidaknya, ada ruang untuk bernapas.

Di banyak tempat, pelaku usaha kecil memang terbiasa beradaptasi dengan cepat. Mereka tidak menunggu kebijakan baru atau bantuan besar. Mereka menyesuaikan diri dengan apa yang tersedia.

Jika satu bahan hilang, mereka mencari pengganti. Jika harga naik, mereka mengubah menu. Jika pasokan tersendat, mereka mengatur ulang cara bekerja. Fleksibilitas itu bukan strategi yang diajarkan di ruang rapat.

Pelanggan juga ikut fleksibel. Kali ini saya memesan kopi Flores, dengan gula semut dari Rote. Di meja sebelah, seorang pelanggan memesan jus alpukat. Gelasnya besar, warnanya hijau pekat, dan terlihat segar di tengah panas kota.

Kopinya terpisah, siap dituang pelan sesuai selera. Tidak ada yang mengeluh tentang susu. Tidak ada yang membicarakan kelangkaan. Semua orang menyesuaikan diri. Masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan, bahkan ketika sistem di sekitarnya penuh ketidakpastian.

Tapi satu pertanyaan tetap tinggal: apakah kita ingin terus beradaptasi terhadap ketidakpastian, atau mulai membangun sistem yang membuat ketidakpastian itu tidak selalu kembali?

0
0
Ditya Permana ◆ Expert Writer

Ditya Permana ◆ Expert Writer

Author

ASN provokatif jebolan Manajemen Kebijakan Publik Monash University yang sedang belajar untuk menulis lagi

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post