
Bagi orang yang masih berpikiran waras, hidup sehat dan panjang umur adalah harapan yang paling lumrah. Kita ingin hidup nyaman—bukan semata untuk diri sendiri, tetapi agar hari-hari kita tetap bisa diisi dengan aktivitas yang bermanfaat bagi keluarga, orang lain, dan lingkungan.
Harapan itu juga yang sejak lama tergenggam di kedua tangan saya.
Masa kecil saya tidak sepenuhnya ramah. Saya tergolong anak yang ringkih, langganan asma, sering sesak nafas, dan mudah tumbang oleh penyakit. Namun, waktu ternyata memberi saya kesempatan menebus semua itu.
Tubuh yang kuat dan pola tidak ideal
Ketika beranjak dewasa, tubuh saya justru menjelma menjadi lebih kuat. Saya lolos seleksi ketat menjadi praja Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Nasional pada tahun 1989 (Sekarang: IPDN), lalu menjalani Sekolah Perwira Militer Wajib dan keluar dengan pangkat perwira pertama TNI Angkatan Darat, Letnan Dua Infanteri.
Pada titik itu, saya merasa: tubuh ini sudah “lulus ujian”.
Seiring bertambahnya usia, hidup pun berubah. Pola makan tak lagi ideal, ritme hidup semakin tak teratur. Kesibukan di dunia birokrasi—dengan segala suka dukanya—memaksa saya hidup dalam mode bertahan.
Yang penting bisa makan. Yang penting bisa hidup. Yang penting bisa tetap eksis. Soal kualitas makanan, keseimbangan nutrisi, dan istirahat sering kali saya tempatkan di urutan belakang.
Meski begitu, saya selalu merasa diri saya termasuk orang yang “cukup peduli” pada kesehatan. Saya berolahraga rutin. Tenis adalah kecintaan saya. Saya pemain kidal, cukup piawai melesakkan forehand heavy topspin.
Pukulan backhand saya hanya cuma slice, tetapi tajam dan kerap menyulitkan lawan. Lapangan tenis adalah tempat saya merasa hidup—tempat tubuh dan ego sama-sama bekerja.
Kata Angka, saya baik-baik saja
Tentu saja, tubuh ini tidak sepenuhnya tanpa cacat. Saya pernah dioperasi usus buntu. Pernah menjalani laparoskopi akibat colitis. Pernah pula menjalani MRI karena tulang ekor yang pecah.
Namun, semua itu saya anggap sebagai insiden kecil. Selebihnya, saya merasa aman. Saya rajin memeriksakan gula darah, kolesterol, dan tekanan darah lewat pemeriksaan laboratorium sederhana. Angkanya terlihat “masih masuk akal”. Saya pun tenang.
Pada fase itu, saya hidup dalam keyakinan yang sangat umum: bahwa kesehatan adalah soal angka-angka sesaat. Selama hasil laboratorium masih berada di kolom “normal”, saya merasa telah melakukan kewajiban sebagai manusia modern yang rasional.
Saya lupa—atau mungkin tak pernah benar-benar diajarkan—bahwa tubuh tidak bekerja seperti laporan triwulanan. Ia tidak menilai hidup dalam potongan waktu pendek, melainkan dalam akumulasi panjang yang sunyi.
Saya seperti banyak orang lain di usia produktif: percaya bahwa kelelahan adalah harga dari keberhasilan, stres adalah konsekuensi wajar dari tanggung jawab, dan kurang tidur adalah tanda dedikasi.
Kami bangga pada kemampuan bertahan. Kami memuja daya tahan, bukan keberlanjutan. Selama masih bisa berdiri, bekerja, dan berfungsi, kami menepuk dada dan menyebut diri “baik-baik saja”.
Padahal, tubuh kita bukan mesin
Padahal, jika jujur, tubuh saya sering memberi isyarat. Napas yang lebih pendek saat naik tangga. Detak jantung yang tak lagi ramah setelah aktivitas ringan. Rasa pegal yang tak kunjung pergi.
Tapi semua itu saya kategorikan sebagai “faktor usia”—sebuah istilah nyaman yang sering kita gunakan untuk menutupi kebiasaan buruk yang tak ingin kita ubah. Kita menyebutnya menua, padahal sering kali itu adalah hutang lama yang mulai jatuh tempo.
Budaya hidup kita hari ini memang tidak memberi ruang untuk mendengarkan tubuh. Kita diajarkan mengejar target, bukan ritme. Menghargai capaian, bukan keseimbangan. Kita merayakan orang yang sanggup bekerja tanpa jeda, bukan mereka yang tahu kapan harus berhenti.
Dalam dunia seperti itu, perhatian pada kesehatan sering dianggap kemewahan, bahkan kelemahan. Seolah-olah peduli pada tubuh berarti kurang ambisius.
Saya pun terjebak dalam logika itu. Saya merasa telah berbuat cukup: olahraga ada, cek lab ada, keluhan besar tidak ada. Maka selebihnya saya anggap sebagai bonus hidup—boleh dirusak sedikit, nanti bisa diperbaiki.
Saya lupa satu hal mendasar: tubuh bukan mesin yang bisa di-reset kapan saja. Ia lebih mirip arsip hidup yang menyimpan segala keputusan kita, baik yang kita sadari maupun yang kita anggap sepele. Ketika saya berkata “saya merasa aman”, sesungguhnya itu bukan penilaian tubuh saya—itu hanyalah perasaan saya sendiri.
Hingga saya memasuki usia 55 tahun
Penurunan kondisi fisik datang perlahan, tapi terasa nyata. Di lapangan tenis, saya tidak lagi kompetitif. Pukulan-pukulan saya tidak lagi mematikan. Bermain satu set saja bisa membuat saya kelelahan berlebihan—bahkan dampaknya terasa sampai keesokan hari.
Tubuh yang dulu patuh, kini mulai membangkang.
Saya kembali memeriksakan diri. Kolesterol, gula darah, trigliserida, tekanan darah. Kali ini hasilnya tidak lagi bersahabat. Kolesterol saya cukup tinggi. Saya menyampaikan keluhan ke fasilitas kesehatan, lalu dirujuk ke layanan tingkat lanjut.
Dari situlah semuanya bermula.
Saya menjalani EKG—pemeriksaan sederhana untuk membaca aktivitas listrik jantung. Hasilnya tidak sepenuhnya normal. Ada pola yang membuat dokter mengernyit.
Pemeriksaan darah lanjutan memperlihatkan fakta lain: kadar LDL saya—kolesterol yang dikenal sebagai “kolesterol jahat” karena berpotensi menyumbat pembuluh darah—jauh lebih tinggi dibandingkan HDL, kolesterol “baik” yang seharusnya membantu membersihkan pembuluh tersebut.
Saya lalu dirujuk ke Pusat Jantung Terpadu (PJT) Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar setelah rawat jalan selama 4 (empat) bulan karena keluhan tidak mereda.
Saya mengatur perjalanan dengan menyesuaikan jadwal dinas. Di sana, saya bertemu dokter spesialis jantung untuk pertama kalinya. Saya ceritakan semua riwayat dan keluhan. Saya diminta menjalani USG jantung, lalu pemeriksaan darah lanjutan.
Seminggu kemudian, saya kembali diminta menjalani CT scan. Di situ saya merasakan cairan hangat disuntikkan ke dalam tubuh lalu aktivitas jantung saya direkam. Setelah itu, saya kembali diminta menunggu satu minggu lagi untuk mendengar hasilnya.
Hari itu akhirnya tiba
Pukul empat pagi saya berangkat ke Makassar. Perjalanan terasa ganjil—seperti penuh jeda dan tanda. Anak bungsu saya menolak ikut, sehingga saya harus mengantarnya ke rumah neneknya. Kami kehilangan waktu 15 menit.
Di depan Islamic Center, saya baru sadar sepatu tertinggal. Kami kembali ke rumah. Hilang 15 menit lagi.
Saya melanjutkan perjalanan sambil berdoa agar selamat sampai tujuan. Tak lama kemudian, seorang pengendara motor tanpa lampu tiba-tiba melintas di depan saya.
Nyaris tertabrak.
Sepertinya seorang pria lanjut usia yang memburu shaf pertama di masjid. Jantung saya berdegup kencang—bukan karena penyakit, tapi karena sadar betapa rapuhnya hidup ini.
Beruntung saya berhasil tiba dengan selamat di PJT. Mendaftar. Antre. EKG. Lalu menunggu giliran di poli jantung.
Di ruang itulah hidup saya berubah arah.
Dokter membuka rekam medis, lalu memaparkan hasil pemeriksaan. Dan… boom. Dokter menyebut satu istilah yang sama sekali asing bagi saya: Coronary Artery Calcium (CAC). Sebuah skor yang mengukur jumlah kalsium yang mengendap di dinding pembuluh darah jantung.
Angka CAC saya berada di atas 120—bukan sekadar tinggi, tetapi cukup untuk menandakan bahwa proses penyempitan pembuluh darah jantung telah berlangsung lama dan serius. Risiko stroke dan serangan jantung terbuka lebar.
Artinya sederhana namun menggetarkan: saya telah masuk kategori pengidap penyakit jantung koroner—kondisi ketika pembuluh darah yang memberi makan jantung menyempit dan mengeras.
Seperti menuju tempat eksekusi
Penyakit ini bukan pembunuh yang datang tiba-tiba, melainkan pembunuh senyap yang bekerja pelan, bertahun-tahun, sering tanpa gejala, hingga suatu hari memukul tanpa aba-aba.
Saya tertegun. Rasanya seperti sedang berdiri di antrean menuju tempat eksekusi. Dalam benak saya selama ini, penyebab utama penyumbatan pembuluh darah hanyalah kolesterol. Dokter menjelaskan dengan tenang.
Kondisi ini disebut aterosklerosis—sebuah proses panjang di mana dinding pembuluh darah perlahan menebal dan menyempit akibat tumpukan lemak, peradangan, jaringan parut, dan akhirnya kalsium.
Proses ini tidak terjadi dalam hitungan bulan, melainkan puluhan tahun, tumbuh diam-diam bersamaan dengan gaya hidup yang kita anggap “biasa saja”.
Semakin tinggi kalsium, semakin besar kerusakan pembuluh darah. Ketika kalsium sudah mengendap, terbentuklah apa yang disebut plak keras—endapan yang membuat pembuluh darah kaku dan rapuh, seperti pipa tua yang dipenuhi kerak.
Obat tidak bisa menghilangkannya. Ia hanya bisa dipantau, dikendalikan, atau—jika sudah berbahaya—ditangani dengan tindakan medis.
Masalahnya, kata dokter, kita belum tahu di mana letak penyumbatan paling berbahaya. Karena itulah dokter menyarankan kateterisasi jantung—sebuah prosedur medis dengan memasukkan selang kecil melalui pembuluh darah menuju jantung, lalu menyuntikkan zat kontras agar jalur pembuluh darah bisa dipetakan secara detail lewat sinar-X.
Ternyata, prosedur inipun bukanlah untuk mengobati, melainkan untuk melihat: di mana penyempitan paling berbahaya berada, seberapa parah kondisinya, dan apakah masih memungkinkan ditangani tanpa operasi besar.
Itu bukan terapi, katanya, melainkan alat diagnosis, yang bisa saja berujung pada pemasangan stent… atau tidak.
Saya tersengal mendengarnya.
Dokter memanggil istri saya masuk. Menjelaskan risiko. Meminta persetujuan tindakan. Di atas kertas persetujuan tindakan, tertulis risiko yang paling menakutkan: henti jantung.
Kematian.
Titik balik melihat hidup
Saya melihat keraguan di mata istri saya ketika dia menatap tepat langsung ke dalam mata saya. Saya menyentuh tangannya. Dia balas menggenggam tangan saya dengan keras. Saya tahu, dia juga shock.
Meskipun secara statistik risikonya kecil, kata dokter, tetapi bagi orang yang menandatangani, angka statistik tidak lagi bermakna. Yang ada hanya satu pertanyaan sunyi: apakah saya akan pulang?
Aku termenung sesaat lalu sebuah kesadaran terlintas di benak saya. Bukankah kita semua kelak akan mati? Saya mengangguk kecil, mendorongnya untuk bertanda tangan. Saya lihat ia menggigit bibir lalu membubuhkan nama dan tanda tangan.
Di titik itu, saya tidak lagi merasa sebagai pejabat, atlet rekreasional, atau laki-laki yang selama ini merasa “cukup sehat”. Saya hanyalah seorang manusia berusia 55 tahun yang tiba-tiba dihadapkan pada konsekuensi dari pilihan-pilihannya sendiri.
Saya teringat masa lalu. Lebih dari 23 tahun merokok. Membanggakan diri karena “tidak punya pantangan makan”. Merasa kuat. Merasa kebal. Merasa masih punya waktu. Alangkah bodohnya saya. Tubuh ternyata mencatat semuanya. Diam-diam. Tanpa protes. Hingga suatu hari ia berhenti memberi toleransi.
Pengalaman itu membuat saya melihat hidup—dan tubuh saya—dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Selama ini, seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, saya merasa sehat hanya karena masih bisa bekerja, bergerak, dan tersenyum di depan orang lain.
Kita mengira kesehatan adalah soal hari ini: masih bisa bangun pagi, masih bisa menyelesaikan tugas, masih bisa tertawa. Padahal tubuh bekerja dengan logika yang jauh lebih panjang dari itu. Ia menabung diam-diam, mencatat semua yang kita lakukan—apa yang kita makan, apa yang kita hirup, apa yang kita abaikan.
Gaya hidup kita hari ini adalah gaya hidup yang menunda. Kita menunda makan sehat karena sibuk. Menunda olahraga karena lelah. Menunda berhenti merokok karena merasa “belum apa-apa”.
Kita menunda pemeriksaan karena takut pada hasil. Dan tanpa sadar, kita sedang mewariskan masa depan yang rapuh pada tubuh kita sendiri.
Saya pun bagian dari mereka. Saya hidup seolah-olah tubuh ini selalu siap berkompromi. Bahwa ia akan selalu memaafkan rokok, pola makan sembarangan, kurang tidur, dan stres berkepanjangan. Nyatanya, tubuh memang memaafkan—tetapi tidak pernah melupakan. Suatu saat, ia akan menagih semuanya sekaligus.
Mewariskan kesadaran: mari mencintai hidup
Hari ini, saya belajar bahwa menjaga kesehatan bukanlah tindakan heroik, melainkan keputusan sehari-hari yang sering tampak sepele. Memilih berhenti sebelum tubuh memaksa.
Memilih peduli sebelum terlambat. Memilih mendengarkan sinyal-sinyal kecil sebelum mereka berubah menjadi vonis. Jangan sampai kita tiba pada situasi tubuh sudah enggan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat terhadapnya.
Jika ada satu hal yang ingin saya wariskan dari pengalaman ini, maka itu adalah kesadaran: bahwa hidup panjang dan bermakna tidak dibangun saat kita sudah sakit, tetapi jauh sebelumnya—saat kita masih merasa baik-baik saja.
Semoga kisah ini menjadi pengingat, bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengajak. Karena perubahan paling penting sering kali dimulai bukan dari rasa takut akan kematian, melainkan dari keberanian untuk lebih mencintai hidup.














0 Comments