Birokrat pun butuh piknik, begitu yang saya yakini.
Mengapa tidak?
Bukankah dengan melepaskan diri sejenak dari kesibukan di kantor,
ide-ide segar justru akan deras mengalir ketika kita kembali bekerja?

Tulisan berikut adalah kisah pengalaman saya menjelajah Wae Rebo, sebuah desa nan eksotik di Flores,
Nusa Tenggara Timur.


Perjalanan Menuju Wae Rebo, Desa di Atas Awan

Wae Rebo ialah salah satu negeri di atas awan, selain Lolai Toraja dan Dieng yang sudah sangat familiar. Desa yang terletak di Kabupaten Manggarai Raya atau Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur ini mendapat penghargaan tertinggi untuk kategori warisan budaya Asia-Pasifik loh dari UNESCO. Keren kan?

Wae Rebo dapat ditempuh dari berbagai rute. Dalam cerita ini, saya melewati Labuan Bajo. Ada berbagai alternatif pilihan perjalanan ke sana sesuai budget masing-masing traveler. Kalau tidak  terbiasa me-arrange perjalanan, ada pilihan privat dan open trip. Kita tinggal terima jadi urusan rute, transportasi, akomodasi, dan dokumentasi sesuai instruksi tour guide. Namun kalau mau lebih hemat, bisa backpackeran.

Tempat Makan di Pinggir Sawah (Desa Denge)

Pengalaman kesana ikut privat trip 2d 1n (dua hari satu malam) membutuhkan biaya Rp 2,5 juta per peserta dengan jadwal sesuai request kita. Sementara itu, open trip biasanya butuh Rp 1,5-1,7 juta per peserta. Kita hanya bisa mengikuti jadwal yang sudah ada. Bahkan ada pula backpacker yang hanya butuh Rp 1,4 juta untuk 2 org, tetapi mereka mengendarai motor  dan menginap di rumah warga. Jauh lebih hemat kan?

Perjalanan private trip dimulai dari penjemputan dari hotel jam 5 subuh. Terlalu pagi? Sengaja, biar ketika kita mendakinya nanti tidak kemalaman. Perjalanan darat membutuhkan durasi selama 6 jam ke Desa Denge, kemudian kita istirahat makan siang. Nah, ada tempat makan siang yang menarik di tepi sawah di sini. Menikmati makan siang ini sembari menikmati pemandangan yang sangat bagus terasa sangat menyenangkan.

Pulau Mules atau Moles

Di perjalanan Labuan Bajo ke Desa Dintor, kita akan dapat melihat Pulau Mules atau Moles yang artinya pulau cantik. Dinamakan demikian karena memang bentuk pulaunya seperti seorang putri yang sedang tidur dengan posisi menghadap ke langit.

Di sepanjang perjalanan juga kita akan berpapasan dengan kendaraan penumpang lokal, yakni truk yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi kendaraan penumpang. Truk ini diberi papan untuk tempat duduk penumpang sekaligus pembatas.

Bagian bawah papan tempat duduk akan digunakan untuk tempat bahan bangunan atau belanjaan penumpang. Sayangnya kemarin saya tidak berfoto, padahal menurut saya modifikasi kendaraan ini menjadi sesuatu yang menarik.

Batas yang bisa dilalui mobil adalah Desa Denge. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan menaiki ojek sekitar 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Pendakian Wae Rebo. Sekedar info untuk yang berencana backpacker, tarif ojeknya 50 ribu untuk sekali jalan. Di batas pemberhentian ojek, akan ada penyewaan tongkat bagi yang kakinya kurang kuat. Kalau tidak salah, tarifnya Rp10.000. Tongkat ini harus dikembalikan ketika kita turun nanti.

Pos 1. Wae Lomba

Di Pos 1, tertera pesan masyarakat lokal Wae Rebo sebagai tips bagi  para pengunjung. Beberapa di antaranya berisi himbauan untuk mengelola sampah, menghormati alam, melindungi satwa liar dan habitatnya, menjaga keselamatan, berhati-hati, berjalan, dan menghormati warga lokal. Oh ya, setiap tulisan termasuk Buku Pengenalan Wae Rebo telah dibuat dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Hal ini mengingat banyak pengunjung dari mancanegara.

Perjalanan trekking menuju Desa Wae Rebo sejauh 7 km rata-rata dapat ditempuh dalam 2-4 jam, tergantung kecepatan berjalan masing-masing orang. Perjalanan trekking kami, saya dan grup, dimulai dari Pos 1 dengan waktu tempuh ke Pos 2 sekitar 1-1,5 jam. Selama perjalanan ini saya sempat minta beberapa kali berhenti untuk istirahat. Maklum, saya bukan pendaki gunung. Hehe.

 

Keramahan Masyarakat Wae Rebo

Rute trekking yang kita lalui ini juga adalah rute yang dilalui masyarakat desa, sehingga tidak jarang dalam perjalanan kami akan berpapasan dengan masyarakat asli Wae Rebo. Jalur mereka memang hanya rute tersebut. Mereka membawa belanja, hasil pertanian, dan segala macamnya dengan cara dipikul. Termasuk solar untuk bahan bakar genset juga dipikul. Wae Rebo memang belum dialiri listrik.  Saya salut dan terkesan dengan penduduk asli desa. Semua yang berpapasan dengan kami akan menyapa “Selamat sore,Pak,Bu..” dengan senyum. Tidak jarang pula mereka bertanya, “Dari mana, Pak/Bu?”

Kemudian terbersit pertanyaan, kenapa Dana Desa di sini tidak digunakan untuk memperbaiki jalan supaya bisa dilalui kendaraan ya. Rasa penasaran itu sedikit pudar tatkala guide saya menjelaskan bahwa hal ini disengaja untuk menjaga keaslian tatanan fisik desa.


Pos 2.  Poco Roko

Sampai di Pos 2, seakan setengah perjalanan sudah terlewati. Di Pos 2 kami sudah bisa melihat awan di bawah kami. Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 dapat kami tempuh sekitar 1-2 jam. Memang, sesuatu yang indah dan berharga biasanya membutuhkan perjuangan lebih, iya kan. Please, dijawab saja iya. Haha.

 

Kearifan Lokal dalam Mendukung Pariwisata

Pos 3. Nampe Bakok (Rumah Kasih Ibu)

Seperti kata pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” di Pos 3 terdapat Pesan dari Masyarakat Kampung Wae Rebo yang berisi  rule atau aturan bagi pengunjung.

Salah satu yang menarik adalah “Bantu mendidik anak kami dengan tidak memberikan sesuatu (permen,uang, mainan, atau kue) tanpa seijin orang tua mereka.”

Menurut saya, pesan ini sangat bagus untuk membentuk mental dan mengajarkan anak tidak pamrih ketika memberikan bantuan kepada wisatawan. Hal ini merupakan salah satu tantangan tempat wisata di Indonesia yang terkadang membuat wisatawan kurang nyaman.

Jarak dari Pos 3 ke Kampung Wae Rebo hanya 5 menit. Ketika hendak melanjutkan perjalanan dari Pos 3 ke Kampung, kami terlebih dahulu membunyikan alat tabuh bamboo yang disediakan di Rumah Kasih Ibu. Hal ini menjadi penanda datangnya tamu.

Rumah Gendang

Setiap pengunjung yang baru tiba di Kampung Wae Rebo harus terlebih dahulu menuju rumah Gendang untuk mengikuti Upacara penghormatan leluhur (Waelu’u). Setelah ikut upacara, pengunjung baru diperkenankan beraktivitas di kampung. Upacara ini menjadi penanda bahwa pengunjung sudah diperkenalkan dan telah diterima. Sehingga, masyarakat tidak akan lagi bertanya siapa ketika berpapasan dengan pengunjung.

Upacara ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan pengunjung bagi para leluhur Wae Rebo. Ketika upacara berlangsung, tidak diperkenankan adanya dokumentasi. Konon pernah ada kejadian wisatawan asing yang sembunyi-sembunyi mengambil dokumentasi. Setelah kameranya dicek keesokan harinya, seluruh gambar dan video upacara hilang alias tidak ada. Hiii.

Setelah dari Rumah Gendang kami diarahkan ke Niang, rumah kerucut lainnya, sekaligus tempat beristirahat. Di sini kami langsung disuguhi kopi khas Flores. Bagi yang tidak kuat minum banyak, jangan sampai ketagihan ya!

 

Suguhan Kopi Flores

Tempat Tidur Pengunjung

Nikmati Keindahan Alam tanpa Gadget

Di Kampung Wae Rebo, wisawatan akan tidur di suatu tempat beristirahat yang disebut dengan Niang. Masing-masing orang diberi selimut, bantal dan kasur tipis yang sudah terpasang di bawah karpet masing-masing. Penasaran bentuknya? Begini tampilannya.

Kegiatan makan di Wae Rebo dilakukan bersama-sama. Tradisi ini menciptakan keakraban di antara wisatawan, sesuai dengan budaya Indonesia pada umumnya.

Pengunjung Makan Malam Bersama

Di Wae Rebo kami hanya bisa menggunakan gadget atau handphone untuk foto. Di sana tidak ada sinyal telekomunikasi, sehingga otomatis tidak ada jaringan telepon dan internet.

Karena keterbatasan sumber energi yang hanya mengandalkan genset, kami hanya bisa mengisi daya gadget dari sore hingga malam hari.

Pemandangan Wae Rebo malam hari

Oleh karena itu, wisatawan lebih memilih untuk saling bercengkrama, berbagi cerita, melihat keindahan dan budaya kampung.

 

Ternyata cukup seru ketika kami tidak sibuk dengan gadget masing-masing tetapi justru berbicara satu sama lain.

Saya tiba di Kampung Wae Rebo ketika hari sudah sore, sehingga hanya sempat mengambil foto malam hari sesaat sebelum tidur. Kebetulan bulan sedang tampak dan banyak bintang bertaburan, menambah indah pandangan malam.

Saat subuh, para wisatawan bangun dan segera untuk berburu sunrise. Bagaimana hasilnya? This is it.

Kampung Wae Rebo di pagi hari


Keren?!
 Perjuangan pendakian sebelumnya terbayarkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata ini. Inilah dia, Kampung Wae Rebo yang hanya terdiri dari 7 Niang atau rumah kerucut. Orang juga sering menyebut kampung ini sebagai Mbaru Niang.

Setelah puas berfoto, wisatawan akan dipanggil untuk sarapan bersama dan berkemas untuk pulang.

Jika perjalanan menuju Wae Rebo kami tempuh dalam 2 jam, perjalanan pulang lebih cepat. Kami turun hanya dalam waktu 1 jam 5 menit!!

Spider Rice Field, Pesona Sawah nan Indah

Spider Rice Field

Dari Pos 1 kemudian kami lanjut naik ojek menuju parkiran mobil seperti saat berangkat. Karena paket trip yang saya ambil sudah include dengan Spider Rice Field, maka kami lanjut perjalanan kesana. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan mobil sampai di Desa Cancar, kemudian trekking kurang lebih 10 menit dengan alur yang agak menanjak.

Sawah di Desa Cancar ini sengaja dipetak-petak seperti dalam gambar untuk menjadi daya tarik wisata. Pemberian namanya juga sesuai dengan bentuknya, menyerupai jaring laba-laba.
Setelah sejenak dari Cancar, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Di jalan kami sempat mampir ke Le Cecile yang menjual Nasi Kolo khas Labuan Bajo. Sebenarnya pemberhentian ini di luar trip, tapi pantas dicoba untuk menghapus penasaran akan kuliner lokal. Le Cecile menjadi tempat yang bagus juga untuk melihat sunset. Nasi Kolo di sana dijual dengan harga Rp 100 ribu. Nasinya dibakar di daun kemudian dimasukkan ke dalam bambu, lalu disajikan dengan aneka lauk. Kalau di tempat saya cara masaknya mirip lemang, tetapi di sini ketannya diganti nasi.

  
Sunset di Le Cecile dan Nasi Loko

Pemandangannya ciamik bukan?

Setelah puas menikmati sunset dan makan di Le Cecile, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke hotel. Trip ke Wae Rebo pun berakhir.

 

Tips Perjalanan

Oh ya, sebagai tips bagi yang berminat mengunjungi Wae Rebo, perhatikan baik-baik jadwal keberangkatan. Karena trip ke Wae Rebo biasa dimulai dari jam 5 pagi. Jadi, sebaiknya pengunjung dari luar kota mengambil penerbangan pada hari sebelumnya.

 

 

 

2
0

Auditor pada Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki hobi traveling dan selalu berusaha menikmati setiap perjalanan

error: