Menjadi peneliti, atau memilih profesi menjadi seorang peneliti, adalah satu di antara sekian banyak hal yang tak pernah terbersit dalam rencana hidup saya di masa lalu. Meskipun harus diakui juga bahwa di masa lalu itu saya tidak benar-benar merencanakan cita-cita saya ingin jadi apa kelak jika sudah dewasa.

Kalaupun ada kilasan bayangan masa depan, yang saya inginkan ketika itu adalah menjadi seperti ayah saya, seorang anggota kepolisian. Begitu tak jelasnya rencana hidup saya di masa itu, bahkan saya bisa menggambarkannya melalui estafet tangga pendidikan yang saya pernah lalui berikut ini;

  • TK Bhayangkari,
  • lanjut SD negeri,
  • masuk SMP favorit berkat bakat sepak bola,
  • menyambung ke STM jurusan mesin produksi,
  • lalu merasa mendapat pencerahan dan ikut SPMB mengambil jurusan sosiologi.

 

Pencarian Jati Diri

Saat masa kuliah sebetulnya rancangan masa depan saya juga belum benar-benar tergambar. Saat itu kehidupan lebih saya jalani sebagai seorang yang berada dalam euforia ketercerahan, tetapi belum menemukan rumusan yang gamblang untuk bagaimana membuatnya menjadi kejelasan akan cita-cita di masa depan.

Saat itu saya mengisi hari-hari dengan berbagai kegiatan sporadis kemahasiswaan, yang belum pula saya kaitkan dengan perencanaan matang mengenai masa depan.

Sejenak saya sedikit menyesali akan dinamika pada masa-masa itu yang seolah tak serius memikirkan masa-masa kini. Pada akhirnya saya mencoba menginsafi diri. Mungkin itu adalah kisah klasik yang harus saya lalui sebelum akhirnya saya menemukan diri saya, hingga kemudian saya memiliki arah dan cita-cita hidup yang jelas terkait peran dan profesi apa yang akan saya pilih.

Semua butuh proses, begitu pula dengan ketercerahan yang juga ternyata memiliki tingkatan tahapan. Untuk itu saya bersyukur bahwa perjalanan masa lalu itu, meski terengah dan tak berpasti arah, akhirnya mengantarkan saya pada diri saat ini yang memiliki tekad dan komitmen untuk terus maju dan berubah menuju sebuah tujuan diri yang lebih baik.

Saya Menjadi Peneliti

Adalah menjadi seorang peneliti yang pada saat ini saya pilih untuk menjadi profesi. Perjalanan dalam menujunya bukanlah jalan yang terencana baik dan sistematik. Akan tetapi biarlah ia-nya menjadi semacam pit stop­ ­bagi seorang pembalap Formula 1 (F1) untuk mengisi bahan bakar dan mengganti komponen kendaraan yang tak lagi berperforma prima.

Karenanya saya merasa inilah saatnya bangkit dan memacu segala ketertinggalan di masa lalu. Inilah titik tolak untuk lompatan hidup yang lebih jauh; to become a researcher…

Semua bermula pada sekitar 3 bulan terakhir di tahun 2013, saat saya mendapatkan informasi mengenai seleksi nasional penerimaan PNS. Pada saat itu, saya betul-betul tidak berniat untuk mengikuti seleksi, hingga saya dipaksa oleh ibu saya untuk mendaftar.

Maka setelah melakukan sedikit riset pada jabatan maupun instansi yang akan dilamar, akhirnya saya memilih 2 opsi yang paling eligible untuk saya pilih. Yang pertama adalah formasi jabatan peneliti pada unit penelitian di sebuah kementerian, dan yang kedua sebuah jabatan yang saya terlupa namanya pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Setelah mengisi lengkap aplikasi via laman on line, lalu dilanjutkan dengan menyiapkan semua berkas fisik yang dibutuhkan, pada hari Jum’at 4 Oktober 2013, saya kirimkan aplikasi lamaran. Pengiriman lamaran ini terjadi saat momen jelang deadline-nya, yaitu hari Senin tanggal 7 Oktober 2013.

Kemudian cerita berlanjut dengan dua tahapan seleksi yang harus saya lewati untuk menjadi seorang peneliti. Pada ujian seleksi pertama bernama Tes Kemampuan Dasar (TKD).

Saya pastikan bahwa saya dapat mengerjakannya dengan cukup baik. Saya bersaing dengan sekitar 90-an orang pelamar lain yang memperebutkan satu formasi sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya (Puslitbangbud).

Selesai mengikuti TKD, berlalu beberapa masa yang saya terlupa durasinya. Namun jika dikira-kira mungkin hanya dalam berbilang pekan, saya mendapat berita pengumuman akan lolosnya nama saya untuk dapat mengikuti tes berikutnya, yakni Tes Kemampuan Bidang (TKB).

Tes kali ini mengambil tempat di gedung F lantai 5 kompleks sebuah kementerian di Senayan, Jakarta. Dari jumlah peserta tes pertama sekitar 90-an pesaing, pada tes kedua ini telah tersaring hingga hanya sekitar 10 hingga 15 orang. Dalam tes kedua ini lagi-lagi saya merasa cukup percaya diri bahwa saya dapat mengerjakannya dengan baik.

Setelah berlalu beberapa periode waktu, dimulai dari pengiriman dokumen lamaran pada tanggal 4 Oktober, lalu dua tahapan tes yang diselenggarakan sekitar bulan November dan Desember, tibalah masa pengumuman penerimaan.

Meski sempat tidak ada informasi yang jelas mengenai kapan pengumuman tersebut dirilis, akhirnya pada hari Rabu malam tanggal 26 Februari 2014, saat saya iseng membuka laman panitia seleksi nasional penerimaan PNS, saya dapatkan sebuah pengumuman hasil penerimaan yang menyertakan nama saya di dalamnya.

Sempat bergetar perasaan saya saat mendapati nama saya muncul pada lembar pengumuman tersebut, seolah seperti tak percaya bahwa saya akan diterima bekerja sebagai pegawai di salah satu institusi pemerintahan di negeri ini.

Selanjutnya, melalui kisah perjalanan yang unplanned seperti itu kemudian menjadi lah saya seorang peneliti. Pertanyaan yang harus dijawab berikutnya adalah, “Apakah menjadi peneliti nantinya akan menjadi sebuah keterpaksaan, atau justru menjadi sebuah passion baru yang digeluti dengan sungguh-sungguh?”

Jawaban atas pertanyaan ini begitu penting, mengingat perjalanan karir ke depan masih cukup panjang. Tak elok rasanya jika peran karir dijalankan dengan terpaksa. Dengan kata lain haruslah benar-benar dijalani dengan niat untuk melaksanakan tugas dengan baik, terlebih ekosistem yang dimasuki adalah dunia penelitian, sebuah dunia yang begitu menantang untuk dijelajahi.

Seni Menjadi Peneliti

Menjadi peneliti merupakan sebuah pilihan profesi yang harus dijalani dengan segenap kesadaran dan tekad. Di antara 140-an pilihan jabatan fungsional, peneliti adalah salah satunya.

Menjadi peneliti atau bergelut di dunia penelitian merupakan sebuah domain karir yang meniscayakan akan dinamika yang tinggi. Untuk bisa menjadi seorang peneliti dibutuhkan usaha yang tidak sederhana.

Andaipun telah menggapai status sebagai seorang yang menduduki jabatan fungsional peneliti, untuk tetap bertahan dalam memegang jabatannya pun dibutuhkan usaha yang penuh perjuangan.

Oleh karenanya dunia penelitian –sebagaimana saya sebut di atas- adalah sebuah dunia yang penuh tantangan untuk kita jelajahi. Ketika kita sudah memulainya, akan ada banyak hal baru yang menanti untuk kita nikmati sebagai seorang peneliti.

Seorang peneliti adalah sosok yang idealnya memiliki karakteristik positif yang khas yang mungkin tidak harus dimiliki oleh jenis profesi lainnya. Hal ini tercermin di antaranya dari sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan para peneliti;

“Seorang peneliti boleh salah, akan tetapi ia tidak boleh berbohong”.

Dalam ungkapan ini pula tersirat pesan bahwa peneliti harus selalu memiliki curiosity yang tinggi yang ia ejawantahkan dalam pekerjaannya.

Ia, peneliti, mesti selalu mencoba bertanya, mendalami, dan berusaha mendapatkan jawaban atas segala hal yang ia terima sebagai sesuatu yang dianggap taken for granted.

Dalam upaya menjawab rasa curiosity itulah mungkin seorang peneliti mendapatkan kesimpulan jawaban yang kurang tepat, yang karenanya ia harus memiliki sifat open mind untuk diberi masukan dan evaluasi oleh orang lain.

Sejalan dengan itu, upayanya untuk membuktikan kebenaran dan kebijaksanaan yang menjadi titik landasan melakukan penelitian, harus berjalan dengan salah satu asas karakter yakni kejujuran. Seorang peneliti harus menjunjung tinggi nilai kejujuran ini dalam menjalankan pekerjaannya.

Sebagai seorang yang memainkan peran sebagai “detektif kebenaran”, seorang peneliti memiliki otoritas untuk nantinya membuat “sabda kebenaran” yang akan diamini dan dijadikan pegangan oleh khalayak ramai.

Maka bagi seorang peneliti wajar jika dalam proses melaksanakan berbagai tahapan penelitiannya terjadi kesalahan. Hanya saja, sekali lagi, tetap saja ia tidak boleh berbohong dalam apapun bagian dari proses dan hasil penelitiannya. Haram hukumnya bagi seorang peneliti untuk berdusta atau memanipulasi data dan temuan penelitiannya.

Menjadi seorang peneliti membuat seseorang senantiasa hidup dalam orientasi kebaruan. Stagnasi bagi seorang peneliti berarti mati. Kematian yang bukan hanya berarti ketercerabutan ruh dari jasad, tapi juga pemberhentian status sebagai seorang peneliti. Kematian bagi peneliti berarti karya dan prestasi yang basi.

Maka seorang peneliti adalah sosok pribadi yang harusnya memiliki filosofi hidup bertumbuh. Ia tidak bisa melewatkan waktunya dengan berlalu begitu saja tanpa ada pengetahuan, keterampilan, atau juga sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang.

Epilog

Seorang peneliti menyadari bahwa ada langit di atas langit. Dengan kata lain, dalam menjalankan kariernya ia selalu merasa tidak cukup untuk menyatakan berhenti dalam menggapai langit demi langit di atasnya.

Oleh karenanya seorang peneliti tak boleh merasa puas dengan kualifikasi yang saat ini ia miliki. Terkhusus dalam dimensi kualifikasi pendidikan, seorang peneliti harus selalu memiliki gejolak untuk meraih tingkatan paling tinggi dalam pengetahuan.

Kalaupun di zaman ini manusia menjadikan capaian tingkat pendidikan sebagai suatu ukuran, maka seorang peneliti tak pantas jika hanya berpredikat sebagai sarjana. Ia harus terus menempuh berbagai program pendidikan yang memungkinkannya untuk meraih titel tertinggi dalam kualifikasi pendidikan.

Tak hanya itu, jika pun ia sukses menggapai kualifikasi tertinggi dalam tangga pendidikan formal, ia juga tak berhak untuk merasa cukup dalam menuntut ilmu. Ia harus tetap merasa ‘kurang’, sehingga masih harus terus belajar. Ia memiliki semboyan bahwa belajar adalah pekerjaan yang melekat seiring usia dan kesadaran sebagai anak manusia.

Seorang peneliti memiliki misi suci peradaban. Yakni bahwa ia harus memiliki suatu keyakinan bahwa peneliti adalah profesi pembuka jalan peradaban sebuah masyarakat. Maka seorang peneliti haruslah mereka yang memiliki mentalitas terdepan dalam menyongsong perubahan menuju kebaikan, baik bagi diri juga bagi seluruh umat manusia.

 

 

3
0

Staff at Center for Education and Cultural Policy Research, Research and Development Board, Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia

error: