Suatu ketika saya pernah meragukan bahwa aktivitas bekerja mampu saya jalani bersamaan dengan pelibatan keluarga di dalamnya. Semenjak saya berkeluarga, saya selalu berusaha memisahkan secara tegas urusan berkenaan dengan tugas-tugas saya di kantor dengan tanggung jawab saya sebagai orang tua di rumah.

Saya memang begitu fokus bekerja ketika berada di kantor, tapi saya pun akan memberikan totalitas hidup saya bagi keluarga saya selepas jam bekerja usai. Namun, satu bulan yang lalu, tepatnya sejak pertengahan Maret 2020, ritme kehidupan saya berubah total.

Aktivitas bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) membuat saya harus sepenuhnya mampu menjalankan kedua peran yang saya miliki secara bersamaan, pada waktu yang batasan antara keduanya, nyaris hilang.

WFH pada akhirnya tidak sekadar mengubah keseharian saya dalam beraktivitas, namun juga mengonstruksi ulang pandangan saya tentang apa itu bekerja.

Suasana Rumah

Jika sebagian orang mampu bekerja di rumah dengan waktu-waktu yang terjadwal oleh karena suasana keluarga yang relatif kondusif, maka “kemewahan” tersebut tidak sepenuhnya bisa saya dapatkan di awal saya menjalani aktivitas bekerja saya di rumah.

Bagaimana tidak, saya adalah ibu dengan dua anak laki-laki yang sedang bertumbuh aktif dengan segala problematikanya. Anak tertua saya, adalah bocah 7 tahun yang juga memiliki kewajiban belajar di rumah (School From Home/SFH). Sedangkan adiknya, balita yang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi banyak hal.

Suami saya, seorang tenaga kesehatan yang di masa pandemi ini, jauh dari kenyamanan layaknya kaum pekerja lain yang dapat bekerja di rumah dengan gawai dan perangkat digital mereka. Ia tetap harus bertugas di tempat kerjanya selama 6 hari dalam satu minggu. Terbayangkan bagaimana kepadatan hari-hari saya di rumah sejak aktivitas WFH resmi diberlakukan.

Dengan demikian, saya harus mampu membagi waktu yang saya miliki, untuk menjalankan semua peran secara bersamaan, yakni sebagai wanita bekerja, ibu yang mendampingi anak-anak saya belajar, dan juga istri bagi suami saya.

Waktu pagi saya banyak tersita untuk menyiapkan segala keperluan rumah layaknya sarapan, makan siang, menyiapkan anak-anak, membersihkan rumah serta berbagai aktivitas rumah tangga lainnya. Menjelang siang, saya baru dapat mengerjakan tugas-tugas kantor sambil mendampingi anak tertua saya belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Sedangkan anak kedua saya, biasanya mulai bermain dengan pengasuhnya, walau tidak menjamin suasana bekerja saya menjadi benar-benar kondusif. Seringkali ia merengek ikut masuk ke dalam ruang kerja saya, bertengkar dengan kakaknya, atau memaksa ikut mendengarkan rapat-rapat online yang saya lakukan. Anak-anak yang dalam masa di mana rasa ingin tahu akan banyak hal, menjadi bagian dari kesehariannya.

Catatan Reflektif

Setelah menjalani dua minggu bekerja di rumah, saya dilanda kelelahan hebat dan merasa jenuh menjalaninya. Saya merasa seolah tak mampu melakukan semuanya sekaligus setiap hari. Mungkin itu bagian dari kebiasaan saya yang selama ini selalu ingin memisahkan dua hal tadi, dengan tujuan agar fokus pada masing-masing kegiatannya.

Namun perlahan, setelah melewati masa dua minggu, saya mulai menemukan pola bekerja menyenangkan, yang justru mengubah pandangan saya tentang apa itu bekerja.

Saya semakin menikmati rutinitas dan kepadatan hidup saya dari hari ke hari, dengan keluarga, rumah, dan tugas-tugas kantor yang tidak juga berkurang. Saya merasa perlu untuk selalu bersikap dan berpikir positif dalam segala hal.

Mungkin itu pula yang membuat semakin hari, rutinitas hidup saya terasa semakin menyenangkan, dan membuat saya lebih banyak bersyukur mampu menjalaninya. Saya pun membuat catatan reflektif dari aktivitas keseharian saya selama satu bulan ini.

Pertama, jika di banyak diskusi yang saya ikuti menyimpulkan bahwa aktivitas belajar dari rumah (School From Home/SFH) yang dijalankan di masa pandemi ini dalam praktiknya justru membuka segala permasalahan dan kekurangan dari kesiapan sistem pendidikan kita saat ini.

Hal serupa juga berlaku pada aktivitas bekerja saya di rumah. WFH membuka banyak kekurangan saya sebagai orang tua, sekaligus perempuan pekerja. Saya berefleksi terhadap peran saya selama ini dan menyadarkan saya tentang bagaimana seharusnya saya menyeimbangkan urusan keluarga dan kepentingan saya bekerja.

Melalui WFH, saya semakin mampu memahami karakteristik kedua anak saya, suami saya, memahami kondisi rumah saya, dan juga menyadari kekurangan saya selaku pegawai selama saya beraktivitas di kantor.

Dari sana, saya mampu mengelola berbagai kekurangan tersebut secara bertahap, demi memastikan semua hal dapat tetap berjalan sesuai dengan yang seharusnya. WFH benar-benar membuat saya mampu berefleksi.

Kedua, WFH mengajarkan saya konsep merdeka bekerja yang sesungguhnya. Saya diberikan fleksibilitas pola dan pendekatan bekerja untuk tetap berorientasi pada tujuan bekerja itu sendiri.

Saya terlatih untuk mengelola emosi, konsentrasi, dan juga mengoordinasikan waktu yang saya miliki dengan menakar kebutuhan dan kapabilitas pribadi saya, dengan tetap berorientasi pada pencapaian hasil kerja yang harus tertuntaskan pada setiap harinya. Otonomi dan kepercayaan penuh yang diberikan kepada saya dalam bekerja membuat saya kreatif memanfaatkan berbagai perangkat dan pendekatan dalam bekerja.

Ketiga, WFH mengubah rutinitas bekerja saya yang tadinya mekanistik menjadi lebih humanis. Sebelum WFH diterapkan, setiap harinya, lebih dari 12 jam saya habiskan waktu saya di luar rumah, tentu saja 4 jam di antaranya adalah perjalanan pergi dan pulang dari rumah dan kantor. 

Hal itu yang kemudian menjadikan aktivitas bekerja saya bersifat mekanistik, berulang setiap hari layaknya mesin yang mengerjakan rutinitas yang sama sepanjang waktu. Namun, WFH ini mengubah segala keseharian saya tidak lagi menjadi rutinitas yang sama setiap harinya.

Saya bisa saja bekerja mengurus rumah dan keluarga hingga menjelang siang dan baru mampu bekerja selepas makan siang hingga sore, tetapi juga seringkali bekerja di pagi hari dan baru akan mengurus hal-hal di luar tugas kantor di siang hari atau menjelang malam.

Saya terbiasa bekerja sambil mendampingi belajar anak-anak saya, membantu menyelesaikan tugas sekolah, atau sekadar menemani mereka bersepeda di luar rumah. Banyak fleksibilitas yang membuat saya semakin humanis dan melupakan sejenak pola-pola mekanistis saya dalam bekerja selama ini.

Keempat, WFH justru memberikan banyak peluang bagi saya untuk mencari dan memanfaatkan sumber belajar lain, serta bertemu lebih banyak orang di luar aktivitas bekerja saya di kantor. Saya berkesempatan mengikuti beberapa diskusi online, bedah buku, diskusi-diskusi terbatas atau sekadar mengakses berbagai buku dan bahan bacaan yang tersedia cuma-cuma di banyak media.

Jika dulu saya hanya mampu membaca buku di sela-sela perjalanan saya dari dan menuju kantor di dalam kendaraan umum yang saya naiki, maka kali ini, saya dapat bebas memilih kapan saya perlu dan mau membaca.

Hal yang sama juga dengan menulis. Menulis menjadi bagian terpenting dari waktu-waktu saya bekerja, karena memberikan banyak hal baik bagi diri saya selepasnya.

Epilog

Bekerja di rumah seringkali memang terasa melelahkan dan memangkas banyak konsentrasi kita tentang banyak hal. Saya sempat merasa tidak produktif ketika saya bekerja di rumah.

Namun, satu hal yang saya syukuri atas aktivitas bekerja satu bulan belakangan ini adalah bahwa bekerja di rumah membuat saya semakin mampu bersikap reflektif dan positif. Begitu pula seharusnya dengan banyak orang di luar sana.

4
0

Penulis adalah Analis Data pada Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Anggota Forum Diskusi Kamisan.

error: