Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita, tentang bagaimana kejamnya ibukota Jakarta. Pada suatu pagi di awal tahun 2015, kedua mata saya berkaca-kaca lalu meneteslah air mata sebagai manifestasi atas sebuah kekecewaan pada keadaan. Lokasi drama ini adalah halte busway Manggarai.

Kejamnya Ibukota Jakarta

Pagi itu, sebagai seorang pegawai rendahan sekaligus seorang ibu muda dengan dua anak yang masih balita, saya punya sebuah misi untuk tiba di kantor tepat pada waktunya, yaitu sebelum jam di alat finger print kantor saya melewati 08.00 WIB. Jelas sekali, menjalani kedua peran itu bersama-sama membutuhkan perjuangan.

Ternyata, dua tahun vakum dari rutinitas ngantor karena tugas belajar membuat saya sedikit jet lag. Akibatnya, perjalanan dari rumah di BSD–Bintaro Sonoan Dikit– menuju kantor di bilangan Jakarta Timur harus saya tempuh dalam waktu dua jam. Padahal, orang lain bisa menjalaninya kurang dari sejam.

Itupun dengan perjuangan yang tidak biasa, gencet-gencetan dengan sesama penumpang kereta rel listrik (KRL), berpacu dengan waktu dan crowded-nya suasanya pergantian jalur di stasiun Tanahabang, serta lari-larian yang melelahkan di antara Stasiun dan halte busway Manggarai.

Pada akhirnya, saya tetap terlambat. Maka dalam tangisan itu batin saya berbisik, “Gini amat ya cari uang di Jakarta”.

Mencoba berkompromi dengan kondisi

Perlahan-lahan, saya mulai berkompromi dengan keadaan. Hari demi hari, setiap pagi saya awali dengan rencana memperbaiki catatan presensi yang saya buat pada hari sebelumnya. Oleh sebab itu, otak saya terus berputar dan mencoba beberapa cara. Satu hal yang pasti, saya tetap harus mengawali perjalanan saya dengan naik KRL dari stasiun Sudimara di Tangerang Selatan.

Mengapa tidak motor sepenuhnya? Karena terlalu jauh jarak antara kantor dengan rumah, sementara ada beberapa titik macet yang menyedihkan. Mengapa tidak menggunakan mobil? Karena selain lebih lama dan melelahkan, perbandingan biaya antara menggunakan mobil pribadi dan naik kendaraan umum bisa mencapai 1:8.

Fantastis bukan? Maka tentu saja, mau tidak mau saya harus naik kereta. Bolehlah sedikit drama di dalamnya, asal tak perlu merogoh kocek terlalu dalam dan tidak terlalu lama menderita. Sah-sah saja. Toh pada akhirnya masih ada cara untuk tetap eksis dan menciptakan ‘kenyamanan’. Salah satunya, dengan menjadi orang yang tidak mudah baper alias terbawa perasaan.

Lalu apa saja alternatif setelah KRL yang pernah saya coba?
Pertama, saya menempatkan sepeda motor di tempat parkir dekat dengan stasiun Palmerah untuk meningkatkan efisiensi waktu. Adalah berlangganan parkir di halaman kantor sebuah kementerian, lalu sebuah areal parkir komersil dengan harga miring, hingga mencari parkir gratisan di kantor teman, menjadi 3 jenis eksperimen saya waktu itu.

Ketiganya kandas ketika suatu hari saya mengalami kecelakaan ringan bersama motor saya di sekitar Senayan. Keesokan harinya, terbit larangan bersepeda motor dari atasan saya di rumah, suami. Hahaha. Untunglah, dua minggu kemudian ternyata saya dinyatakan mengandung anak ketiga. Artinya, lebih aman jika menghindari resiko kecelakaan serupa.

Menemukan Komunitas Roker Jelita

Tak butuh waktu lama, pada akhirnya saya menemukan sebuah komunitas informal yang dibentuk di kantor saya. Namanya adalah Roker Jelita, singkatan dari rombongan kereta jelang lima puluh tahun. Ya, sesuai dengan namanya, grup ini mayoritas beranggotakan ibu-ibu pegawai yang mengandalkan layanan kereta KRL untuk wara-wiri setiap hari.

Usia mereka tak lagi muda, kebanyakan sudah senior secara umur dan jenjang karir. Salah satu di antaranya bahkan menjabat sebagai eselon II di kantor kami. Akan tetapi, kebersamaan menjalani rute dari wilayah urban ke pusat kota membuat kami menjadi sangat akrab layaknya keluarga. Ternyata, untuk menjadi tangguh dalam tekanan kejamnya ibukota dibutuhkan tenaga. Sumbernya, tentu saja dari komunitas semacam Roker Jelita.

Ketangguhan dan kecerdikan Roker Jelita

Awalnya saya meragukan ketangguhan mereka sebagai pengguna kereta. Bukankah fisik mereka tak lagi prima? Tapi, keraguan itu terbantahkan ketika kedua mata saya menyaksikan sendiri betapa lincah dan cekatan ibu-ibu itu menentukan posisi, berpindah jalur di stasiun dengan tangga yang naik turun, bahkan berlari mencari angkutan tercepat dari kantor ke stasiun. Dalam hitungan detik, wanita-wanita tangguh ini telah berhasil menempuh jarak puluhan meter demi sebuah misi: tidak ketinggalan kereta.

Para suhu Roker Jelita mengajari saya beberapa trik untuk memenangkan kompetisi dengan waktu. Misalnya, pada gerbong dan pintu ke berapa saya harus berdiri supaya tepat posisi turun atau naik KRL di stasiun Manggarai, Sudirman, dan Tanahabang. Dengan begitu, transit antar jalur akan lebih cepat dan meminimalisir drama tergencet ataupun terluka dalam himpitan menaiki tangga dan eskalator yang seringkali terasa tak manusiawi.

Selain itu, kami terbiasa berkelompok di pagi hari, menentukan rombongan dan memesan taksi di stasiun sudirman. Pastinya, taksi lebih aman tetapi tetap murah biayanya karena terjadi mekanisme cost sharing dalam rombongan. Setelah itu, kami hafal betul rute mana yang paling cepat dan aman untuk mengantarkan kami ke tujuan, kantor.

Kami adalah keluarga

Bertemu dengan para ibu yang tergabung di Roker Jelita sejujurnya memberi saya semangat tambahan. Bahwa ternyata kami berjuang bersama-sama dan saling menguatkan. Di pagi hari, kami berusaha datang pagi dan bersiap menjalani hari sebagai abdi negara yang profesional. Di sore hari, kami pun bergegas pulang demi sebuah transformasi kembali pada kodrat: mengurusi anak dan suami.

Canda tawa di dunia maya, di gerbong kereta, taksi, hingga sarapan pagi bersama-sama telah menjadi momen yang penting untuk mempererat solidaritas kami sebagai sebuah komunitas. Kami adalah keluarga, tak peduli usia, senioritas di tempat kerja atau bahkan latar belakang keluarga. Obrolan kami biasanya (selain tentang kereta, tentu saja) berkisar pada cerita tentang anak yang masih balita, yang hendak kuliah, hendak menikah, atau bahkan sekali dua berdiskusi tentang current issue di Indonesia.

Sesekali, ketika terjadi gangguan pada sistem kereta, grup komunikasi kami menjadi sarana yang sangat dapat diandalkan. Cepat, tepat, dan solutif adalah motto yang diam-diam kami pegang. Seperti sore itu, suatu hari di Bulan Maret 2019, ketika korsleting mengganggu jadwal perjalanan KRL rute Tanahabang-Serpong.

Mau tidak mau, kami harus menggunakan sarana transportasi lain seperti Moda Raya Terpadu (MRT), bus Transjakarta, atau taksi. Pastinya, menjalani perjalanan pulang dengan alat transportasi yang berbeda dari biasanya terasa lebih nyaman ketika dijalani bersama-sama.

Berjiwa muda, tak terkalahkan oleh kejamnya ibukota

Sungguh, bagi saya Roker Jelita bukan lagi kumpulan ibu-ibu biasa. Akan tetapi ia telah menjelma menjadi sebuah keluarga, di mana para anggotanya selalu berjiwa muda. Mereka di dalamnya adalah para wanita tangguh yang berusaha tiba dan pulang dari tempat kerjanya ke rumah di pinggiran Jakarta, tanpa air mata karena terkalahkan oleh kejamnya ibukota.

Dan inilah cerita mereka, kisah di balik kekuatan dan kelincahan yang tak lekang -dihimpit gencetan, eh zaman:

“Yang kamu bilang perjuangan naik KRL zaman sekarang ini Sof, ndak ada apa-apanya dibandingkan belasan tahun yang lalu ketika kami masih muda. Kalau sekarang kereta melintas setiap 10 menit dan waktu tempuh secepat itu, maka dulu hanya ada satu pada jam-jam tertentu. Itu pun harus di sambungan gerbong naiknya, ditiup-tiup dengan semilir angin dan pemandangan pembangunan Jakarta.

Kaki tangan yang memar itu sudah biasa, karena seringkali tak ada peron yang tersedia dengan selayaknya. Melompat dari satu pintu kereta ke pintu rangkaian kereta di jalur yang lain lagi, sudah biasa meskipun kami adalah wanita.

Mau bagaimana? Ya sudah nikmati saja.

Untungnya, di sela-sela kesulitan masuk keluar gerbong lewat jendela saking padatnya –serta sekali dua terinjak-injak penumpang yang berjejal keluar masuk berebutan- masih ada sisi baiknya: bisa membeli rupa-rupa makanan dengan harga yang murah meriah.

Jadi, pada intinya, yang kalian keluhkan tentang sulitnya menjadi Roker masa kini itu, dibandingkan zaman muda kami, tak ada apa-apanya!”

Terima kasih, Roker Jelita!

 

 

 

8
0

Seorang PNS muda bergelar Master of Economics dari Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FEUI. Ibu muda beranak tiga dan istri dari seorang lelaki bersahaja. Di tengah batasan dalam ruang geraknya, tetap percaya bahwa cita-cita harus dikejar. Semangat belajar dan saling memotivasi adalah kekuatan yang dia percaya bisa menjadi penggerak kemajuan Indonesia. Saya muda, saya berkarya, saya bercita-cita!

error: