“Nyari rejeki halal sekarang susah, karena yang haram lebih mudah”
Betulkah demikian?

 

Namanya Barok. Mungkin saat lahir orang tuanya ingin kehidupan anaknya menjadi barokah alias penuh kebaikan, baik dalam segala hal termasuk rezeki. Bicara soal rezeki, banyak orang bijak menyebut dua kriteria untuk rezeki yang baik, yaitu halal dan thoyyib. Halal itu mengenai proses memperoleh rezeki, sedangkan thoyyib ialah seberapa banyak rezeki itu bermanfaat.

Tahun 2005, Barok menjadi pegawai honorer di suatu instansi pemerintah. Berbekal ijazah sekolah menengah atas (SMA), tugas pertamanya ialah menjadi penjaga keamanan gedung. Tugas itu ia lalui selama 5 tahun. Di sela-sela tugas ia menyempatkan diri kuliah di sebuah universitas.

Tahun 2010 Barok diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) melalui jalur honorer dan ditugaskan sebagai penjaga garasi kendaraan dinas sebuah instansi. Demi menambah pendapatan, dia memanfaatkan waktu luang untuk berjualan makanan ringan di sebuah taman yang ramai dikunjungi orang.

Usahanya terus berkembang. Dari yang awalnya hanya berjualan snack ringan di pinggir jalan hingga membuat kios snack di beberapa tempat. Alhasil, dari usahanya itu ia mendapatkan pemasukan tambahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tahun 2015 Barok pindah ke kantor pusat  di bagian program dan anggaran. Tak sulit bagi nya menjalani tugas di kantor baru itu, berbekal pengalaman selama menjalankan usaha, ia hanya perlu adaptasi dan sedikit belajar perundang-undangan, ia sudah bisa bekerja dengan baik.

Keuletan dan kerja keras Barok membawanya pada tugas-tugas strategis yang mestinya tidak ditangani oleh seorang staf selevel dia. Pimpinan instansi mempercaykanhal teknis penganggaran hingga proses pengawalan anggaran kepadanya.

Di sini ia sering melihat banyak praktik manipulasi anggaran dan upaya pengawalan anggaran dengan berbagai cara. Banyak hal baru yang dialaminya, yang di kemudian hari ia anggap sebagai sebuah hal yang bertentangan dengan hati nurani.

Waktu terus berjalan, Barok tidak merasa asing lagi dengan praktik perjalanan dinas fiktif; misalnya berangkat 2 hari tapi dalam surat pertanggungjawaban (SPJ) menjadi 4 hari, rekayasa nota, sampai mengirim “paket” ke pihak tertentu supaya anggaran instansinya disetujui.

Di mata pimpinan, Barok sangat dipercaya dan memuaskan dalam menjalankan tugasnya. Sudah tidak terhitung berapa rupiah tambahan penghasilan yang dia dapatkan dari pekerjaan tugas “khusus” itu.

Dia terus menjalani tugas-tugas itu dengan baik sembari mengurus beberapa bisnis kios snack-nya. Hingga suatu saat ia mengalami beberapa kejadian yang nantinya mengubah total jalan hidupnya.

Beberapa tahun menjalankan bisnis muncul permasalahan besar, mulai dari masalah karyawan hingga salah urus bisnis yang mengakibatkan kerugian besar. Kehidupan keluarga juga dilanda masalah. Istrinya mengalami keguguran setelah mengandung 6 bulan. Sebuah kesedihan mendalam bagi keluarganya yang telah lama menanti sang buah hati.

Bertubi-tubi masalah datang kepadanya menjadi pengingat dan mengubah pandangan hidupnya, terutama soal rezeki. Barok memaknai masalah yang menimpanya sebagai sebuah teguran dari Tuhan.

Ia lantas berpikir ulang mengenai semua rezeki yang ia peroleh, bagaimana proses mendapatkannya dan bagaimana pemanfaatannya. Ia merenungi proses usaha yang dijalaninya, pekerjaannya di instansi pemerintah dan lain sebagainya. Kesimpulanya, Barok merasa telah berada di jalan yang salah. Ia harus kembali dari awal, atau keluar dari jalur yang ia tempuh selama ini.

Bukan perkara mudah untuk memaknai kejadian yang dialaminya. Barok bergelut dengan tekanan dan berbagai pemikiran, selain tentunya berbagai masukan dari orang terdekatnya. Barok pun sempat ragu dalam mengambil keputusan, banyak pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Dari waktu ke waktu ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Kadang berdamai, kadang berkecamuk. Hal itu terjadi terus-menerus seperti itu.

“Kegagalan itu biasa. Semua orang sukses pernah mengalami kegagalan. Bukan faktor dari mana rezeki itu berasal,” pikir Barok.

Di sisi lain ia juga berpikir, “Rezeki adalah pokok masalah. Memiliki rezeki yang banyak dapat menafkahi keluarga dengan layak dan membuat hidup lebih baik di mata masyarakat. Tetapi jika rezeki itu berasal dari hal yang kurang baik, maka akan membuat hidup mejadi tidak baik”.

Akhirnya Barok mengambil keputusan untuk berhenti sebagai aparat sipil negara (ASN), memulai lagi perjalanan hidupnya dengan menjalani bisnis kecil-kecilan di Yogyakarta. Ia merintis kembali bisnis dari nol dan menata kembali kehidupannya.

Kisah Barok tentu bukan satu-satunya yang terjadi di dunia birokrasi. Ada ratusan orang yang memilih jalan seperti Barok, tetapi masih banyak pula para birokrat yang sedang gelisah dengan lingkungannya. Saat Barok memutuskan keluar dan beritanya menjadi viral,  banyak birokrat dan polisi yang mengirim direct message  ke akun media soial miliknya untuk bercerita tentang hal yang sama.

Keresahan para birokrat seperti yang dialami Barok bisa terjadi di mana saja, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah desa. Semua ASN mulai dari jabatan tertinggi sampai terendah pasti memahami permasalahan ini. Namun, responnya berbeda-beda. Ada yang menganggap wajar, ada yang gelisah tapi berdamai, dan ada yang berontak.

Keputusan Barok menuai banyak respon. Banyak orang yang mendukung tapi tidak sedikit yang menyayangkan, bahkan ada yang sampai menuduhya sebagai kelompok Islam Radikal. Menanggapi berbagai respon, Barok hanya tersenyum dan bersabar.Toh keputusan sudah diambil dan dia sendiri yang menjalani konsekuensinya.

Bagi sebagian orang – atau bisa juga dikatakan kebanyakan orang, menjadi ASN itu enak. Gaji tetap bulanan, tunjangan profesi, pensiunan, perjalanan dinas, tunjangan kinerja, dan tambahan penghasilan lainnya adalah jenis-jenis penghasilan yang akan mereka terima.

Ya, semua itu betul banget. Masalahnya, ada sebagian ASN menjadikan kegiatan yang dibiayai negara itu sebagai sumber tambahan pendapatan, menganggap sebagai hak yang harus ia peroleh, dan terkadang dengan alasan yang dibuat-buat.

Perjalanan dinas, misalnya. Setiap ASN yang diberikan tugas ke luar kota akan mendapatkan uang perjalanan dinas. Jumlahnya bervariasi di tiap daerah atau instansi. Umumnya para ASN dijatah mendapatkan perjalanan dinas setiap bulannya. Sebagai hak tambahan bagi semua ASN, terkadang ada ASN yang sebenarnya tidak kompeten dipaksakan untuk melakukan perjalanan dinas.

Perjalanan dinas terkadang dimanipulasi melalui jumlah hari di surat tugas dengan realisasi yang berbeda. Tidak sedikit yang berangkat hanya 2 hari, tetapi mendapatkan uang perjalanan dinas 4 hari.

Masih banyak lagi praktik-praktik tidak legal seperti itu, yang hampir semuanya menjadi sebab banyak orang memberi stigma negatif kepada ASN dan birokrasi. Apakah semua ASN seperti itu? Apakah dunia birokrasi seburuk itu? Jawabanya tentu tidak. Sekali lagi tidak!

Masih banyak para ASN yang menjunjung tinggi moral dan integritas. Mereka bekerja dengan prinsip pengabdian kepada negara. Niat mereka tulus melayani masyarakat. Mereka bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal dan barokah. Sering juga kita mendengar ASN di desa terpencil yang harus berjuang untuk melayani masyarakat.

Rezeki sudah diatur Tuhan. Besar kecilnya tidak tergantung dengan seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi seberapa halal cara mendapatkan dan bagaimana memanfaatkan.

Apa yang dibanggakan oleh ASN yang melancong ke daerah pariwisata dengan dalih rapat koordinasi kantor dengan dibiayai uang rakyat? Sementara hasil rapat hanya berakhir sebagai tumpukan laporan bulanan. Apakah patut berbangga bisa naik pesawat, tidur di hotel dan makan di restoran, tetapi uangnya bersumber dari uang rakyat?

Bagaimana jika ada ASN yang menolak atau melawan praktik-praktik semacam itu? Pertama, dia akan merasa terkucil. Kedua, dia akan menjadi bahan omongan. Dan ketiga, mungkin dia dipindah ke tempat yang lebih “sepi”.

Beruntunglah bagi ASN yang resah seperti Barok. Dia akan kembali merenung dan berpikir mengenai prinsip rezeki. ASN yang resah akan mereposisi perannya sebagai abdi negara. Keresehan akan membawanya ke jalan yang penuh berkah.

Tapi, jika keresahan terus diabaikan hingga akhirnya berdamai dengan praktik buruk yang selalu diwariskan dalam birokrasi, maka ia akan hilang tergantikan oleh paradigma materialis, dan akan terus-menerus mencari pembenaran bagi praktik tersebut.

Mengapa demikian? Yah, begitulah. Sekarang ini mencari rezeki yang halal saja susah, karena lebih mudah mencari yang haram.

Setuju?

 

 

 

2
0

ASN di Inspektorat Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2011. Sejak mahasiswa aktif di organisasi ekstra kampus. Dengan bekal ini Penulis masih menyimpan api idealisme dalam menjalankan tugasnya sebagai ASN. jalan birokrasi adalah jalan perjuangan.

error: